24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Corona atau Pandemi Ketakutan?

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
March 21, 2020
in Opini
Corona atau Pandemi Ketakutan?

Ilustrasi oleh Nana Partha

Beberapa hari setelah pengumuman penutupan tempat saya bekerja untuk sementara waktu, salah satu kolega – emak-emak rempong beranak empat curhat bahwa betapa ia sangat khawatir dengan perkembangan dunia akhir-akhir ini yang disebabkan semakin meluasnya wabah virus Corona. Bahkan, Badan Kesehatan Dunia, WHO memutuskan kejadian ini sebagai pandemi global, yang artinya membutuhkan perhatian dan penanganan serius negara-negara di seluruh dunia untuk ikut serta memerangi penyebaran virus.

Dengan bahasa yang agak serius namun tetap dibumbui melodrama khas emak-emak ketika akan gibah orang, yang bersangkutan mengakui dirinya tidak bisa tidur nyenyak seperti biasanya lantaran memikirkan tentang apa yang akan terjadi pada keluarganya kelak jika wabah ini benar-benar melumpuhkan sendi kehidupan sehingga lockdown bisa jadi pilihan rasional pemerintah sebagaimana yang sudah diberlakukan di Prancis dan Italia. Ia berbicara seakan mentari tidak bersinar lagi esok. Untuk mencairkan ketegangan, dengan nada sedikit bercanda, saya katakan “mami, kalau keadaan makin gawat, saya bersedia kok menjadi relawan, mumpung jomblo, dan tidak ada yang diajak tidur”. Namun. lacur, gatot alias gagal total. Candaan saya tidak sedikitpun membuatnya bergeming, alih-alih tertawa. Pandangannya nanar dan kosong. Tubuhnya mungkin di sini, tetapi raganya mengembara entah kemana.

Tulisan ini merupakan refleksi sosial berdasarkan amatan terhadap perkembangan masyarakat, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Selain itu, tulisan ini diinisiasi dari hasil obrolan saya dengan teman sekantor di atas. Ia merupakan salah satu prototipe dari sekian banyak emak-emak di mana rasa kediriannya lebih banyak dibentuk oleh budaya tontonan cum konsumsi pemberitaan negatif dari sosial media. Sebagian dari kita atau lebih banyak lagi, mungkin saja suka membaca berita tentang orang yang terinfeksi yang jumlahnya terus meningkat tiap waktu akibat penyebarannya yang sangat eksplosif, lalu meninggal dengan atau tanpa karantina ketimbang jumlah orang yang terinfeksi namun berhasil sembuh. Atau mungkin saja lebih suka membaca komentar-komentar pesimistik warganet ketimbang pemberitaan positif yang menguatkan seperti upaya-upaya pemerintah dan dunia untuk mengurangi dampak wabah.

Konsumsi berita-berita negatif di atas pada kenyataannya cenderung membuat hati kita tidak pernah merasa damai, selalu resah, gelisah, takut dan ingin lari dari masalah. Akan menjadi sangat berbahaya bila kemudian berita negatif itu tidak sesuai dengan kenyataan lapangan. Budiman Sudjatmiko, Rocky Gerung dan Rhenald Kasali misalnya dalam beberapa kesempatan debat yang saya sempat tonton di TV One berujar bahwa berita bohong atau hoaks adalah industri pikiran yang menggiurkan di era Revolusi 4.0. Ia digerakkan oleh algoritma yang tidak memiliki hati dan jiwa. Semua golongan, kaum dungu bahkan intelek sekalipun tidak luput dari sergapannya. Menurut Rocky dan Budiman, semua berakar dari kemampuan hoaks sebagai sebuah industri pikiran telah mampu memetakan otak reptil manusia.

Namun yang lebih menakutkan, hoaks sebagai dusta sosial telah berbasis data saintifik yang akurat, yang memiliki preferensi di dalam otak reptil manusia. Otak reptil manusia itu kecenderungan menyukai kebohongan, sensasi, intrik, kebencian, rasa jijik, dan nikmat terhadap rasa takut kepada yang berbeda. Bak gayung bersambut, algoritmatisasi yang bekerja pada kecerdasan buatan yang diciptakan manusia mampu mendiseminasikan kebutuhan otak jenis ini secara presisi, sehingga sadar atau tidak, kita telah berada pada sebuah ruang yang disebut Umberto Eco, novelis sekaligus filsuf kenamaan Italia sebagai The Art of Decimation (seni penyusutan). Untuk menurunkan kadar reptilian di dalam otak manusia, maka digit kecerdasan perlu ditingkatkan melalui budaya literasi yang baik. Sampai pada tahap ini, saya mengambil kesimpulan sementara bahwa penyakit mematikan yang membunuh masyarakat secara perlahan itu bukan Covid-19, melainkan virus ketakutan yang diframing secara megalomania oleh media sosial.  

Keriuhan terhadap pandemi global saat ini telah mampu dimanfaatkan dengan sangat baik oleh media sosial. One Clickbait yang lahir dari rahim seni penyusutan telah menghasilkan banyak uang. Ia lalu dipadu dengan judul-judul bombastis yang mampu membius dan menjamah rasa ketakutan kita. Apalagi jika itu berkaitan dengan masa depan yang tidak pasti. Di tengah situasi yang gawat, ada baiknya setiap informasi yang dibaca, kita saring agar tidak meracuni pikiran.        

Virus ketakutan, yang telah meracuni pikiran sebagian besar orang di tengah pandemi global, saya lihat begitu agresif membagikan tulisan-tulisan intimidatif di media sosial. Merekalah yang aktif memprovokasi warganet lainnya untuk mendukung anjuran kepada pemerintah agar segera memberlakukan lockdown, sebagaimana yang telah dilakukan Cina terhadap Wuhan, Italia, Prancis, dan terbaru Malaysia. Mereka secara berantai membagikan konten-konten yang mengandung anjuran dan ajakan kepada masyarakat Indonesia bahwa jika tidak segera dilakukan lockdown, negara ini akan menuju kehancuran yang lebih parah. Istilah outbreak kadangdigunakan untuk menggambarkan situasi yag berkembang saat ini.

Bukan hanya itu, daripada mengikuti anjuran pemerintah untuk social distancing sehingga mampu mereaktualisasi hubungan dengan penghuni rumah lain, jemari mereka dengan atau tanpa sadar menyebarkan persoalan-persoalan yang justru menambah kepanikan lain seperti nilai tukar rupiah anjlok, pemerintah kurang sigap dan hanya mementingkan investasi. Khusus konten anjloknya nilai tukar rupiah yang saat tulisan ini dibuat sudah mendekati 16 ribuan per Dollar Amerika, beberapa narasi mengaitkan dengan kondisi sosial ketika tumbangnya Orde Baru, yang salah satu sebabnya krisis ekonomi. Amatan saya terhadap pihak-pihak yang menganjurkan lockdown itu, sampai pada kesimpulan bahwa mereka adalah golongan kelas menengah di mana sense of self (rasa kedirian) nya pada momen ini dibentuk oleh rezim medis politis, lalu diframing dengan virus ketakutan melalui clickbait media sosial.

Rezim medis yang saya maksud merujuk kepada pemikiran Michele Foucault tentang relasi kuasa di dalam dunia medis melalui salah satu karyanya The Birth of Clinic : An Archeology of Medical Perception (1963). Foucault, begitu dia disapa mendedah bahwa medis tidak bisa lepas dari relasi kekuasaan. Ia tidak sepenuhnya mengabdi kepada kemanusian, melainkan kecenderungan pada kekuasaan. Ketika itu terjadi, kebenaran dari medis tidak ditentukan dari kompetensi. Artinya sesuatu dikatakan benar jika ia berkuasa.

Kasus ini bisa kita temukan pada peristiwa misalnya anjloknya harga kopra Indonesia yang pernah mendunia di tahun 1920-an. Oleh karena peneliti Amerika menyatakan minyak kelapa (lengis tandusan) yang dihasilkan kopra Indonesia adalah sumber penyakit jantung dan beberapa penyakit degeneratif lainnya, masyarakat dunia dihimbau menjauhinyaa dan beralih mengkonsumsi minyak jagung yang ternyata diproduksi Barat sendiri. Selain produk kopra Indonesia yang mereka jatuhkan melalui rezim medis, ada juga produk kretek sebagai rokok khas Indonesia mengalami nasib yang sama. Akibatnya produk rokok yang mendominasi pasar dunia dan bahkan Indonesia bukan rokok kretek sebagai produk lokal, melainkan rokok Barat.

Radikalisasi teori Foucault di atas kadang digunakan pula oleh penganut teori konspirasi untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa global. Misalnya, pandemi virus yang berskala global seperti MERS, SARS dan terbaru CoV-19, akan dengan mudah disimpulkan bahwa kehadiran mereka adalah noctural bukan natural. Maksudnya, ada campur tangan manusia di dalamnya. Oleh karenanya, virus adalah bisnis yang menggiurkan, yang memberi keuntungan berlimpah bagi industri farmasi yang didominasi oleh negara-negara maju. Melalui jalan inilah mereka mampu menghadirkan hegemoni di hadapan negara-negara miskin dan berkembang. Wacana yang terjadi terhadap kehadiran virus, berlaku pula pada agenda perang.  Perang Dunia Pertama dan Kedua, bahkan mungkin nanti yang Ketiga misalnya bukanlah terjadi secara kebetulan melainkan ada actor intelektual yang disebut oleh Adam Smith sebagai the invisible hands yang bekerja. Dengan demikian, kehadiran perang akan sangat menguntungkan bagi keberlanjutan industri senjata.  

Pertanyaan berikutnya, siapakah golongan kelas menengah yang saya sebut di atas? Terlepas dari pembelahan ideologis pasca pilpres. Weber dalam magnus opumnya yang termashur “Ethic Protestant and The Spirit of Europe Capitalism” mengkategorisasi golongan kelas menengah ini sebagai bangsawan, bankir, pedagang kaya sekelas taoke atau taipan. Jika di-Indonesiakan, merekalah yang disebut Geertz sebagai priyayi lokal. Di era kontemporer seperti saat ini, mereka mewujud dalam diri OKB (orang kaya baru). Gramsci  meradikalisasi pandangan Weber dengan istilah baru yang bernuansa kebudayaan sebagai intelektual organik. Pemuka agama, ASN, dosen, guru, dokter, perawat, dan birokrat adalah sebagian kecil dari kategorisasi yang disebut Gramsci barusan.

Sebagai wabah, penyebaran virus ini harus diakui sangat cepat. Bahkan saat dihitung dengan rumus eksponensial didapati hasil bahwa satu orang positif virus bisa menulari ribuan lainnya dalam waktu yang cepat. Kondisi ini juga didorong oleh dimensi sosial manusia yang suka berinteraksi dengan manusia lainnya.. saling bertemu, saling menyapa yang merupakan salah satu medium penularan virus. Orang yang tertular, biasanya disebut carrier yang menularkan wabah ke orang lain. Yang menjadi masalah adalah, ciri-ciri orang terkena virus ini bukan lagi yang sepertinya terlihat sakit dengan cirri-ciri yang telah viral di sosial media, bahkan yang nampak sehat setelah di tes bisa jadi positif.

Tetapi kita tidak perlu bersikap panik berlebihan. Faktanya, secara statistik, ketika pertama kali virus ini viral di Wuhan Cina, dari 11 juta penduduk Wuhan hanya 85 ribu yang terpapar atau  0,7 persen. Dari 0,7 persen yang terpapar, fatality rate nya mencapai 2,7 persen. Artinya jumlah yang sembuh lebih banyak dari jumlah yang meninggal. Kondisi yang paling serius melanda warga berusia di atas 60 tahun yang rentan terinfeksi sekaligus berpotensi mengalami kematian.

Dengan melihat kondisi di atas, daripada bersikap panik berlebihan, tetapi bukan berarti menganggap remeh, saya menganjurkan untuk berdamai dengan keadaan. Saya pikir, ini adalah pilihan yag paling rasional yang bisa dilakukan di samping juga untuk membantu pemerintah yang telah mengeluarkan anjuran dan himbauan social distancing. Hal yang bisa kita lakukan ketika berdamai dengan diri sendiri itu adalah menjaga diri jangan sampai tertular, menjaga kesehatan, terpenting mengurangi interaksi dengan melakukan self lockdown. Usaha berdamai dengan diri ini menjadi sangat penting, mengingat sebelum ditemukan vaksin yang memerlukan penelitian dan produksi massal dalam jangka waktu lama, obat yang paling mujarab yang kita miliki saat ini adalah sistem imun. Faktanya, orang yang positif Covid19 lalu dikarantina dan sembuh, bukan disebabkan oleh pengobatan khusus, melainkan karena daya tahan tubuhnya yang terus meningkat. [T]

Tags: covid 19virus corona
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

Apakah Bali Kebal Wabah Covid-19?

Next Post

Surat Kecil Pekerja Kapal Pesiar dari Tengah Laut: Kemungkinan-kemungkinan Nasib yang Kami Terima

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post
Surat Kecil Pekerja Kapal Pesiar dari Tengah Laut: Kemungkinan-kemungkinan Nasib yang Kami Terima

Surat Kecil Pekerja Kapal Pesiar dari Tengah Laut: Kemungkinan-kemungkinan Nasib yang Kami Terima

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co