23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Corona atau Pandemi Ketakutan?

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
March 21, 2020
in Opini
Corona atau Pandemi Ketakutan?

Ilustrasi oleh Nana Partha

Beberapa hari setelah pengumuman penutupan tempat saya bekerja untuk sementara waktu, salah satu kolega – emak-emak rempong beranak empat curhat bahwa betapa ia sangat khawatir dengan perkembangan dunia akhir-akhir ini yang disebabkan semakin meluasnya wabah virus Corona. Bahkan, Badan Kesehatan Dunia, WHO memutuskan kejadian ini sebagai pandemi global, yang artinya membutuhkan perhatian dan penanganan serius negara-negara di seluruh dunia untuk ikut serta memerangi penyebaran virus.

Dengan bahasa yang agak serius namun tetap dibumbui melodrama khas emak-emak ketika akan gibah orang, yang bersangkutan mengakui dirinya tidak bisa tidur nyenyak seperti biasanya lantaran memikirkan tentang apa yang akan terjadi pada keluarganya kelak jika wabah ini benar-benar melumpuhkan sendi kehidupan sehingga lockdown bisa jadi pilihan rasional pemerintah sebagaimana yang sudah diberlakukan di Prancis dan Italia. Ia berbicara seakan mentari tidak bersinar lagi esok. Untuk mencairkan ketegangan, dengan nada sedikit bercanda, saya katakan “mami, kalau keadaan makin gawat, saya bersedia kok menjadi relawan, mumpung jomblo, dan tidak ada yang diajak tidur”. Namun. lacur, gatot alias gagal total. Candaan saya tidak sedikitpun membuatnya bergeming, alih-alih tertawa. Pandangannya nanar dan kosong. Tubuhnya mungkin di sini, tetapi raganya mengembara entah kemana.

Tulisan ini merupakan refleksi sosial berdasarkan amatan terhadap perkembangan masyarakat, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Selain itu, tulisan ini diinisiasi dari hasil obrolan saya dengan teman sekantor di atas. Ia merupakan salah satu prototipe dari sekian banyak emak-emak di mana rasa kediriannya lebih banyak dibentuk oleh budaya tontonan cum konsumsi pemberitaan negatif dari sosial media. Sebagian dari kita atau lebih banyak lagi, mungkin saja suka membaca berita tentang orang yang terinfeksi yang jumlahnya terus meningkat tiap waktu akibat penyebarannya yang sangat eksplosif, lalu meninggal dengan atau tanpa karantina ketimbang jumlah orang yang terinfeksi namun berhasil sembuh. Atau mungkin saja lebih suka membaca komentar-komentar pesimistik warganet ketimbang pemberitaan positif yang menguatkan seperti upaya-upaya pemerintah dan dunia untuk mengurangi dampak wabah.

Konsumsi berita-berita negatif di atas pada kenyataannya cenderung membuat hati kita tidak pernah merasa damai, selalu resah, gelisah, takut dan ingin lari dari masalah. Akan menjadi sangat berbahaya bila kemudian berita negatif itu tidak sesuai dengan kenyataan lapangan. Budiman Sudjatmiko, Rocky Gerung dan Rhenald Kasali misalnya dalam beberapa kesempatan debat yang saya sempat tonton di TV One berujar bahwa berita bohong atau hoaks adalah industri pikiran yang menggiurkan di era Revolusi 4.0. Ia digerakkan oleh algoritma yang tidak memiliki hati dan jiwa. Semua golongan, kaum dungu bahkan intelek sekalipun tidak luput dari sergapannya. Menurut Rocky dan Budiman, semua berakar dari kemampuan hoaks sebagai sebuah industri pikiran telah mampu memetakan otak reptil manusia.

Namun yang lebih menakutkan, hoaks sebagai dusta sosial telah berbasis data saintifik yang akurat, yang memiliki preferensi di dalam otak reptil manusia. Otak reptil manusia itu kecenderungan menyukai kebohongan, sensasi, intrik, kebencian, rasa jijik, dan nikmat terhadap rasa takut kepada yang berbeda. Bak gayung bersambut, algoritmatisasi yang bekerja pada kecerdasan buatan yang diciptakan manusia mampu mendiseminasikan kebutuhan otak jenis ini secara presisi, sehingga sadar atau tidak, kita telah berada pada sebuah ruang yang disebut Umberto Eco, novelis sekaligus filsuf kenamaan Italia sebagai The Art of Decimation (seni penyusutan). Untuk menurunkan kadar reptilian di dalam otak manusia, maka digit kecerdasan perlu ditingkatkan melalui budaya literasi yang baik. Sampai pada tahap ini, saya mengambil kesimpulan sementara bahwa penyakit mematikan yang membunuh masyarakat secara perlahan itu bukan Covid-19, melainkan virus ketakutan yang diframing secara megalomania oleh media sosial.  

Keriuhan terhadap pandemi global saat ini telah mampu dimanfaatkan dengan sangat baik oleh media sosial. One Clickbait yang lahir dari rahim seni penyusutan telah menghasilkan banyak uang. Ia lalu dipadu dengan judul-judul bombastis yang mampu membius dan menjamah rasa ketakutan kita. Apalagi jika itu berkaitan dengan masa depan yang tidak pasti. Di tengah situasi yang gawat, ada baiknya setiap informasi yang dibaca, kita saring agar tidak meracuni pikiran.        

Virus ketakutan, yang telah meracuni pikiran sebagian besar orang di tengah pandemi global, saya lihat begitu agresif membagikan tulisan-tulisan intimidatif di media sosial. Merekalah yang aktif memprovokasi warganet lainnya untuk mendukung anjuran kepada pemerintah agar segera memberlakukan lockdown, sebagaimana yang telah dilakukan Cina terhadap Wuhan, Italia, Prancis, dan terbaru Malaysia. Mereka secara berantai membagikan konten-konten yang mengandung anjuran dan ajakan kepada masyarakat Indonesia bahwa jika tidak segera dilakukan lockdown, negara ini akan menuju kehancuran yang lebih parah. Istilah outbreak kadangdigunakan untuk menggambarkan situasi yag berkembang saat ini.

Bukan hanya itu, daripada mengikuti anjuran pemerintah untuk social distancing sehingga mampu mereaktualisasi hubungan dengan penghuni rumah lain, jemari mereka dengan atau tanpa sadar menyebarkan persoalan-persoalan yang justru menambah kepanikan lain seperti nilai tukar rupiah anjlok, pemerintah kurang sigap dan hanya mementingkan investasi. Khusus konten anjloknya nilai tukar rupiah yang saat tulisan ini dibuat sudah mendekati 16 ribuan per Dollar Amerika, beberapa narasi mengaitkan dengan kondisi sosial ketika tumbangnya Orde Baru, yang salah satu sebabnya krisis ekonomi. Amatan saya terhadap pihak-pihak yang menganjurkan lockdown itu, sampai pada kesimpulan bahwa mereka adalah golongan kelas menengah di mana sense of self (rasa kedirian) nya pada momen ini dibentuk oleh rezim medis politis, lalu diframing dengan virus ketakutan melalui clickbait media sosial.

Rezim medis yang saya maksud merujuk kepada pemikiran Michele Foucault tentang relasi kuasa di dalam dunia medis melalui salah satu karyanya The Birth of Clinic : An Archeology of Medical Perception (1963). Foucault, begitu dia disapa mendedah bahwa medis tidak bisa lepas dari relasi kekuasaan. Ia tidak sepenuhnya mengabdi kepada kemanusian, melainkan kecenderungan pada kekuasaan. Ketika itu terjadi, kebenaran dari medis tidak ditentukan dari kompetensi. Artinya sesuatu dikatakan benar jika ia berkuasa.

Kasus ini bisa kita temukan pada peristiwa misalnya anjloknya harga kopra Indonesia yang pernah mendunia di tahun 1920-an. Oleh karena peneliti Amerika menyatakan minyak kelapa (lengis tandusan) yang dihasilkan kopra Indonesia adalah sumber penyakit jantung dan beberapa penyakit degeneratif lainnya, masyarakat dunia dihimbau menjauhinyaa dan beralih mengkonsumsi minyak jagung yang ternyata diproduksi Barat sendiri. Selain produk kopra Indonesia yang mereka jatuhkan melalui rezim medis, ada juga produk kretek sebagai rokok khas Indonesia mengalami nasib yang sama. Akibatnya produk rokok yang mendominasi pasar dunia dan bahkan Indonesia bukan rokok kretek sebagai produk lokal, melainkan rokok Barat.

Radikalisasi teori Foucault di atas kadang digunakan pula oleh penganut teori konspirasi untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa global. Misalnya, pandemi virus yang berskala global seperti MERS, SARS dan terbaru CoV-19, akan dengan mudah disimpulkan bahwa kehadiran mereka adalah noctural bukan natural. Maksudnya, ada campur tangan manusia di dalamnya. Oleh karenanya, virus adalah bisnis yang menggiurkan, yang memberi keuntungan berlimpah bagi industri farmasi yang didominasi oleh negara-negara maju. Melalui jalan inilah mereka mampu menghadirkan hegemoni di hadapan negara-negara miskin dan berkembang. Wacana yang terjadi terhadap kehadiran virus, berlaku pula pada agenda perang.  Perang Dunia Pertama dan Kedua, bahkan mungkin nanti yang Ketiga misalnya bukanlah terjadi secara kebetulan melainkan ada actor intelektual yang disebut oleh Adam Smith sebagai the invisible hands yang bekerja. Dengan demikian, kehadiran perang akan sangat menguntungkan bagi keberlanjutan industri senjata.  

Pertanyaan berikutnya, siapakah golongan kelas menengah yang saya sebut di atas? Terlepas dari pembelahan ideologis pasca pilpres. Weber dalam magnus opumnya yang termashur “Ethic Protestant and The Spirit of Europe Capitalism” mengkategorisasi golongan kelas menengah ini sebagai bangsawan, bankir, pedagang kaya sekelas taoke atau taipan. Jika di-Indonesiakan, merekalah yang disebut Geertz sebagai priyayi lokal. Di era kontemporer seperti saat ini, mereka mewujud dalam diri OKB (orang kaya baru). Gramsci  meradikalisasi pandangan Weber dengan istilah baru yang bernuansa kebudayaan sebagai intelektual organik. Pemuka agama, ASN, dosen, guru, dokter, perawat, dan birokrat adalah sebagian kecil dari kategorisasi yang disebut Gramsci barusan.

Sebagai wabah, penyebaran virus ini harus diakui sangat cepat. Bahkan saat dihitung dengan rumus eksponensial didapati hasil bahwa satu orang positif virus bisa menulari ribuan lainnya dalam waktu yang cepat. Kondisi ini juga didorong oleh dimensi sosial manusia yang suka berinteraksi dengan manusia lainnya.. saling bertemu, saling menyapa yang merupakan salah satu medium penularan virus. Orang yang tertular, biasanya disebut carrier yang menularkan wabah ke orang lain. Yang menjadi masalah adalah, ciri-ciri orang terkena virus ini bukan lagi yang sepertinya terlihat sakit dengan cirri-ciri yang telah viral di sosial media, bahkan yang nampak sehat setelah di tes bisa jadi positif.

Tetapi kita tidak perlu bersikap panik berlebihan. Faktanya, secara statistik, ketika pertama kali virus ini viral di Wuhan Cina, dari 11 juta penduduk Wuhan hanya 85 ribu yang terpapar atau  0,7 persen. Dari 0,7 persen yang terpapar, fatality rate nya mencapai 2,7 persen. Artinya jumlah yang sembuh lebih banyak dari jumlah yang meninggal. Kondisi yang paling serius melanda warga berusia di atas 60 tahun yang rentan terinfeksi sekaligus berpotensi mengalami kematian.

Dengan melihat kondisi di atas, daripada bersikap panik berlebihan, tetapi bukan berarti menganggap remeh, saya menganjurkan untuk berdamai dengan keadaan. Saya pikir, ini adalah pilihan yag paling rasional yang bisa dilakukan di samping juga untuk membantu pemerintah yang telah mengeluarkan anjuran dan himbauan social distancing. Hal yang bisa kita lakukan ketika berdamai dengan diri sendiri itu adalah menjaga diri jangan sampai tertular, menjaga kesehatan, terpenting mengurangi interaksi dengan melakukan self lockdown. Usaha berdamai dengan diri ini menjadi sangat penting, mengingat sebelum ditemukan vaksin yang memerlukan penelitian dan produksi massal dalam jangka waktu lama, obat yang paling mujarab yang kita miliki saat ini adalah sistem imun. Faktanya, orang yang positif Covid19 lalu dikarantina dan sembuh, bukan disebabkan oleh pengobatan khusus, melainkan karena daya tahan tubuhnya yang terus meningkat. [T]

Tags: covid 19virus corona
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

Apakah Bali Kebal Wabah Covid-19?

Next Post

Surat Kecil Pekerja Kapal Pesiar dari Tengah Laut: Kemungkinan-kemungkinan Nasib yang Kami Terima

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails
Next Post
Surat Kecil Pekerja Kapal Pesiar dari Tengah Laut: Kemungkinan-kemungkinan Nasib yang Kami Terima

Surat Kecil Pekerja Kapal Pesiar dari Tengah Laut: Kemungkinan-kemungkinan Nasib yang Kami Terima

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co