24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Corona atau Pandemi Ketakutan?

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
March 21, 2020
in Opini
Corona atau Pandemi Ketakutan?

Ilustrasi oleh Nana Partha

Beberapa hari setelah pengumuman penutupan tempat saya bekerja untuk sementara waktu, salah satu kolega – emak-emak rempong beranak empat curhat bahwa betapa ia sangat khawatir dengan perkembangan dunia akhir-akhir ini yang disebabkan semakin meluasnya wabah virus Corona. Bahkan, Badan Kesehatan Dunia, WHO memutuskan kejadian ini sebagai pandemi global, yang artinya membutuhkan perhatian dan penanganan serius negara-negara di seluruh dunia untuk ikut serta memerangi penyebaran virus.

Dengan bahasa yang agak serius namun tetap dibumbui melodrama khas emak-emak ketika akan gibah orang, yang bersangkutan mengakui dirinya tidak bisa tidur nyenyak seperti biasanya lantaran memikirkan tentang apa yang akan terjadi pada keluarganya kelak jika wabah ini benar-benar melumpuhkan sendi kehidupan sehingga lockdown bisa jadi pilihan rasional pemerintah sebagaimana yang sudah diberlakukan di Prancis dan Italia. Ia berbicara seakan mentari tidak bersinar lagi esok. Untuk mencairkan ketegangan, dengan nada sedikit bercanda, saya katakan “mami, kalau keadaan makin gawat, saya bersedia kok menjadi relawan, mumpung jomblo, dan tidak ada yang diajak tidur”. Namun. lacur, gatot alias gagal total. Candaan saya tidak sedikitpun membuatnya bergeming, alih-alih tertawa. Pandangannya nanar dan kosong. Tubuhnya mungkin di sini, tetapi raganya mengembara entah kemana.

Tulisan ini merupakan refleksi sosial berdasarkan amatan terhadap perkembangan masyarakat, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Selain itu, tulisan ini diinisiasi dari hasil obrolan saya dengan teman sekantor di atas. Ia merupakan salah satu prototipe dari sekian banyak emak-emak di mana rasa kediriannya lebih banyak dibentuk oleh budaya tontonan cum konsumsi pemberitaan negatif dari sosial media. Sebagian dari kita atau lebih banyak lagi, mungkin saja suka membaca berita tentang orang yang terinfeksi yang jumlahnya terus meningkat tiap waktu akibat penyebarannya yang sangat eksplosif, lalu meninggal dengan atau tanpa karantina ketimbang jumlah orang yang terinfeksi namun berhasil sembuh. Atau mungkin saja lebih suka membaca komentar-komentar pesimistik warganet ketimbang pemberitaan positif yang menguatkan seperti upaya-upaya pemerintah dan dunia untuk mengurangi dampak wabah.

Konsumsi berita-berita negatif di atas pada kenyataannya cenderung membuat hati kita tidak pernah merasa damai, selalu resah, gelisah, takut dan ingin lari dari masalah. Akan menjadi sangat berbahaya bila kemudian berita negatif itu tidak sesuai dengan kenyataan lapangan. Budiman Sudjatmiko, Rocky Gerung dan Rhenald Kasali misalnya dalam beberapa kesempatan debat yang saya sempat tonton di TV One berujar bahwa berita bohong atau hoaks adalah industri pikiran yang menggiurkan di era Revolusi 4.0. Ia digerakkan oleh algoritma yang tidak memiliki hati dan jiwa. Semua golongan, kaum dungu bahkan intelek sekalipun tidak luput dari sergapannya. Menurut Rocky dan Budiman, semua berakar dari kemampuan hoaks sebagai sebuah industri pikiran telah mampu memetakan otak reptil manusia.

Namun yang lebih menakutkan, hoaks sebagai dusta sosial telah berbasis data saintifik yang akurat, yang memiliki preferensi di dalam otak reptil manusia. Otak reptil manusia itu kecenderungan menyukai kebohongan, sensasi, intrik, kebencian, rasa jijik, dan nikmat terhadap rasa takut kepada yang berbeda. Bak gayung bersambut, algoritmatisasi yang bekerja pada kecerdasan buatan yang diciptakan manusia mampu mendiseminasikan kebutuhan otak jenis ini secara presisi, sehingga sadar atau tidak, kita telah berada pada sebuah ruang yang disebut Umberto Eco, novelis sekaligus filsuf kenamaan Italia sebagai The Art of Decimation (seni penyusutan). Untuk menurunkan kadar reptilian di dalam otak manusia, maka digit kecerdasan perlu ditingkatkan melalui budaya literasi yang baik. Sampai pada tahap ini, saya mengambil kesimpulan sementara bahwa penyakit mematikan yang membunuh masyarakat secara perlahan itu bukan Covid-19, melainkan virus ketakutan yang diframing secara megalomania oleh media sosial.  

Keriuhan terhadap pandemi global saat ini telah mampu dimanfaatkan dengan sangat baik oleh media sosial. One Clickbait yang lahir dari rahim seni penyusutan telah menghasilkan banyak uang. Ia lalu dipadu dengan judul-judul bombastis yang mampu membius dan menjamah rasa ketakutan kita. Apalagi jika itu berkaitan dengan masa depan yang tidak pasti. Di tengah situasi yang gawat, ada baiknya setiap informasi yang dibaca, kita saring agar tidak meracuni pikiran.        

Virus ketakutan, yang telah meracuni pikiran sebagian besar orang di tengah pandemi global, saya lihat begitu agresif membagikan tulisan-tulisan intimidatif di media sosial. Merekalah yang aktif memprovokasi warganet lainnya untuk mendukung anjuran kepada pemerintah agar segera memberlakukan lockdown, sebagaimana yang telah dilakukan Cina terhadap Wuhan, Italia, Prancis, dan terbaru Malaysia. Mereka secara berantai membagikan konten-konten yang mengandung anjuran dan ajakan kepada masyarakat Indonesia bahwa jika tidak segera dilakukan lockdown, negara ini akan menuju kehancuran yang lebih parah. Istilah outbreak kadangdigunakan untuk menggambarkan situasi yag berkembang saat ini.

Bukan hanya itu, daripada mengikuti anjuran pemerintah untuk social distancing sehingga mampu mereaktualisasi hubungan dengan penghuni rumah lain, jemari mereka dengan atau tanpa sadar menyebarkan persoalan-persoalan yang justru menambah kepanikan lain seperti nilai tukar rupiah anjlok, pemerintah kurang sigap dan hanya mementingkan investasi. Khusus konten anjloknya nilai tukar rupiah yang saat tulisan ini dibuat sudah mendekati 16 ribuan per Dollar Amerika, beberapa narasi mengaitkan dengan kondisi sosial ketika tumbangnya Orde Baru, yang salah satu sebabnya krisis ekonomi. Amatan saya terhadap pihak-pihak yang menganjurkan lockdown itu, sampai pada kesimpulan bahwa mereka adalah golongan kelas menengah di mana sense of self (rasa kedirian) nya pada momen ini dibentuk oleh rezim medis politis, lalu diframing dengan virus ketakutan melalui clickbait media sosial.

Rezim medis yang saya maksud merujuk kepada pemikiran Michele Foucault tentang relasi kuasa di dalam dunia medis melalui salah satu karyanya The Birth of Clinic : An Archeology of Medical Perception (1963). Foucault, begitu dia disapa mendedah bahwa medis tidak bisa lepas dari relasi kekuasaan. Ia tidak sepenuhnya mengabdi kepada kemanusian, melainkan kecenderungan pada kekuasaan. Ketika itu terjadi, kebenaran dari medis tidak ditentukan dari kompetensi. Artinya sesuatu dikatakan benar jika ia berkuasa.

Kasus ini bisa kita temukan pada peristiwa misalnya anjloknya harga kopra Indonesia yang pernah mendunia di tahun 1920-an. Oleh karena peneliti Amerika menyatakan minyak kelapa (lengis tandusan) yang dihasilkan kopra Indonesia adalah sumber penyakit jantung dan beberapa penyakit degeneratif lainnya, masyarakat dunia dihimbau menjauhinyaa dan beralih mengkonsumsi minyak jagung yang ternyata diproduksi Barat sendiri. Selain produk kopra Indonesia yang mereka jatuhkan melalui rezim medis, ada juga produk kretek sebagai rokok khas Indonesia mengalami nasib yang sama. Akibatnya produk rokok yang mendominasi pasar dunia dan bahkan Indonesia bukan rokok kretek sebagai produk lokal, melainkan rokok Barat.

Radikalisasi teori Foucault di atas kadang digunakan pula oleh penganut teori konspirasi untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa global. Misalnya, pandemi virus yang berskala global seperti MERS, SARS dan terbaru CoV-19, akan dengan mudah disimpulkan bahwa kehadiran mereka adalah noctural bukan natural. Maksudnya, ada campur tangan manusia di dalamnya. Oleh karenanya, virus adalah bisnis yang menggiurkan, yang memberi keuntungan berlimpah bagi industri farmasi yang didominasi oleh negara-negara maju. Melalui jalan inilah mereka mampu menghadirkan hegemoni di hadapan negara-negara miskin dan berkembang. Wacana yang terjadi terhadap kehadiran virus, berlaku pula pada agenda perang.  Perang Dunia Pertama dan Kedua, bahkan mungkin nanti yang Ketiga misalnya bukanlah terjadi secara kebetulan melainkan ada actor intelektual yang disebut oleh Adam Smith sebagai the invisible hands yang bekerja. Dengan demikian, kehadiran perang akan sangat menguntungkan bagi keberlanjutan industri senjata.  

Pertanyaan berikutnya, siapakah golongan kelas menengah yang saya sebut di atas? Terlepas dari pembelahan ideologis pasca pilpres. Weber dalam magnus opumnya yang termashur “Ethic Protestant and The Spirit of Europe Capitalism” mengkategorisasi golongan kelas menengah ini sebagai bangsawan, bankir, pedagang kaya sekelas taoke atau taipan. Jika di-Indonesiakan, merekalah yang disebut Geertz sebagai priyayi lokal. Di era kontemporer seperti saat ini, mereka mewujud dalam diri OKB (orang kaya baru). Gramsci  meradikalisasi pandangan Weber dengan istilah baru yang bernuansa kebudayaan sebagai intelektual organik. Pemuka agama, ASN, dosen, guru, dokter, perawat, dan birokrat adalah sebagian kecil dari kategorisasi yang disebut Gramsci barusan.

Sebagai wabah, penyebaran virus ini harus diakui sangat cepat. Bahkan saat dihitung dengan rumus eksponensial didapati hasil bahwa satu orang positif virus bisa menulari ribuan lainnya dalam waktu yang cepat. Kondisi ini juga didorong oleh dimensi sosial manusia yang suka berinteraksi dengan manusia lainnya.. saling bertemu, saling menyapa yang merupakan salah satu medium penularan virus. Orang yang tertular, biasanya disebut carrier yang menularkan wabah ke orang lain. Yang menjadi masalah adalah, ciri-ciri orang terkena virus ini bukan lagi yang sepertinya terlihat sakit dengan cirri-ciri yang telah viral di sosial media, bahkan yang nampak sehat setelah di tes bisa jadi positif.

Tetapi kita tidak perlu bersikap panik berlebihan. Faktanya, secara statistik, ketika pertama kali virus ini viral di Wuhan Cina, dari 11 juta penduduk Wuhan hanya 85 ribu yang terpapar atau  0,7 persen. Dari 0,7 persen yang terpapar, fatality rate nya mencapai 2,7 persen. Artinya jumlah yang sembuh lebih banyak dari jumlah yang meninggal. Kondisi yang paling serius melanda warga berusia di atas 60 tahun yang rentan terinfeksi sekaligus berpotensi mengalami kematian.

Dengan melihat kondisi di atas, daripada bersikap panik berlebihan, tetapi bukan berarti menganggap remeh, saya menganjurkan untuk berdamai dengan keadaan. Saya pikir, ini adalah pilihan yag paling rasional yang bisa dilakukan di samping juga untuk membantu pemerintah yang telah mengeluarkan anjuran dan himbauan social distancing. Hal yang bisa kita lakukan ketika berdamai dengan diri sendiri itu adalah menjaga diri jangan sampai tertular, menjaga kesehatan, terpenting mengurangi interaksi dengan melakukan self lockdown. Usaha berdamai dengan diri ini menjadi sangat penting, mengingat sebelum ditemukan vaksin yang memerlukan penelitian dan produksi massal dalam jangka waktu lama, obat yang paling mujarab yang kita miliki saat ini adalah sistem imun. Faktanya, orang yang positif Covid19 lalu dikarantina dan sembuh, bukan disebabkan oleh pengobatan khusus, melainkan karena daya tahan tubuhnya yang terus meningkat. [T]

Tags: covid 19virus corona
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

Apakah Bali Kebal Wabah Covid-19?

Next Post

Surat Kecil Pekerja Kapal Pesiar dari Tengah Laut: Kemungkinan-kemungkinan Nasib yang Kami Terima

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Surat Kecil Pekerja Kapal Pesiar dari Tengah Laut: Kemungkinan-kemungkinan Nasib yang Kami Terima

Surat Kecil Pekerja Kapal Pesiar dari Tengah Laut: Kemungkinan-kemungkinan Nasib yang Kami Terima

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co