2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Corona atau Pandemi Ketakutan?

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
March 21, 2020
in Opini
Corona atau Pandemi Ketakutan?

Ilustrasi oleh Nana Partha

Beberapa hari setelah pengumuman penutupan tempat saya bekerja untuk sementara waktu, salah satu kolega – emak-emak rempong beranak empat curhat bahwa betapa ia sangat khawatir dengan perkembangan dunia akhir-akhir ini yang disebabkan semakin meluasnya wabah virus Corona. Bahkan, Badan Kesehatan Dunia, WHO memutuskan kejadian ini sebagai pandemi global, yang artinya membutuhkan perhatian dan penanganan serius negara-negara di seluruh dunia untuk ikut serta memerangi penyebaran virus.

Dengan bahasa yang agak serius namun tetap dibumbui melodrama khas emak-emak ketika akan gibah orang, yang bersangkutan mengakui dirinya tidak bisa tidur nyenyak seperti biasanya lantaran memikirkan tentang apa yang akan terjadi pada keluarganya kelak jika wabah ini benar-benar melumpuhkan sendi kehidupan sehingga lockdown bisa jadi pilihan rasional pemerintah sebagaimana yang sudah diberlakukan di Prancis dan Italia. Ia berbicara seakan mentari tidak bersinar lagi esok. Untuk mencairkan ketegangan, dengan nada sedikit bercanda, saya katakan “mami, kalau keadaan makin gawat, saya bersedia kok menjadi relawan, mumpung jomblo, dan tidak ada yang diajak tidur”. Namun. lacur, gatot alias gagal total. Candaan saya tidak sedikitpun membuatnya bergeming, alih-alih tertawa. Pandangannya nanar dan kosong. Tubuhnya mungkin di sini, tetapi raganya mengembara entah kemana.

Tulisan ini merupakan refleksi sosial berdasarkan amatan terhadap perkembangan masyarakat, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Selain itu, tulisan ini diinisiasi dari hasil obrolan saya dengan teman sekantor di atas. Ia merupakan salah satu prototipe dari sekian banyak emak-emak di mana rasa kediriannya lebih banyak dibentuk oleh budaya tontonan cum konsumsi pemberitaan negatif dari sosial media. Sebagian dari kita atau lebih banyak lagi, mungkin saja suka membaca berita tentang orang yang terinfeksi yang jumlahnya terus meningkat tiap waktu akibat penyebarannya yang sangat eksplosif, lalu meninggal dengan atau tanpa karantina ketimbang jumlah orang yang terinfeksi namun berhasil sembuh. Atau mungkin saja lebih suka membaca komentar-komentar pesimistik warganet ketimbang pemberitaan positif yang menguatkan seperti upaya-upaya pemerintah dan dunia untuk mengurangi dampak wabah.

Konsumsi berita-berita negatif di atas pada kenyataannya cenderung membuat hati kita tidak pernah merasa damai, selalu resah, gelisah, takut dan ingin lari dari masalah. Akan menjadi sangat berbahaya bila kemudian berita negatif itu tidak sesuai dengan kenyataan lapangan. Budiman Sudjatmiko, Rocky Gerung dan Rhenald Kasali misalnya dalam beberapa kesempatan debat yang saya sempat tonton di TV One berujar bahwa berita bohong atau hoaks adalah industri pikiran yang menggiurkan di era Revolusi 4.0. Ia digerakkan oleh algoritma yang tidak memiliki hati dan jiwa. Semua golongan, kaum dungu bahkan intelek sekalipun tidak luput dari sergapannya. Menurut Rocky dan Budiman, semua berakar dari kemampuan hoaks sebagai sebuah industri pikiran telah mampu memetakan otak reptil manusia.

Namun yang lebih menakutkan, hoaks sebagai dusta sosial telah berbasis data saintifik yang akurat, yang memiliki preferensi di dalam otak reptil manusia. Otak reptil manusia itu kecenderungan menyukai kebohongan, sensasi, intrik, kebencian, rasa jijik, dan nikmat terhadap rasa takut kepada yang berbeda. Bak gayung bersambut, algoritmatisasi yang bekerja pada kecerdasan buatan yang diciptakan manusia mampu mendiseminasikan kebutuhan otak jenis ini secara presisi, sehingga sadar atau tidak, kita telah berada pada sebuah ruang yang disebut Umberto Eco, novelis sekaligus filsuf kenamaan Italia sebagai The Art of Decimation (seni penyusutan). Untuk menurunkan kadar reptilian di dalam otak manusia, maka digit kecerdasan perlu ditingkatkan melalui budaya literasi yang baik. Sampai pada tahap ini, saya mengambil kesimpulan sementara bahwa penyakit mematikan yang membunuh masyarakat secara perlahan itu bukan Covid-19, melainkan virus ketakutan yang diframing secara megalomania oleh media sosial.  

Keriuhan terhadap pandemi global saat ini telah mampu dimanfaatkan dengan sangat baik oleh media sosial. One Clickbait yang lahir dari rahim seni penyusutan telah menghasilkan banyak uang. Ia lalu dipadu dengan judul-judul bombastis yang mampu membius dan menjamah rasa ketakutan kita. Apalagi jika itu berkaitan dengan masa depan yang tidak pasti. Di tengah situasi yang gawat, ada baiknya setiap informasi yang dibaca, kita saring agar tidak meracuni pikiran.        

Virus ketakutan, yang telah meracuni pikiran sebagian besar orang di tengah pandemi global, saya lihat begitu agresif membagikan tulisan-tulisan intimidatif di media sosial. Merekalah yang aktif memprovokasi warganet lainnya untuk mendukung anjuran kepada pemerintah agar segera memberlakukan lockdown, sebagaimana yang telah dilakukan Cina terhadap Wuhan, Italia, Prancis, dan terbaru Malaysia. Mereka secara berantai membagikan konten-konten yang mengandung anjuran dan ajakan kepada masyarakat Indonesia bahwa jika tidak segera dilakukan lockdown, negara ini akan menuju kehancuran yang lebih parah. Istilah outbreak kadangdigunakan untuk menggambarkan situasi yag berkembang saat ini.

Bukan hanya itu, daripada mengikuti anjuran pemerintah untuk social distancing sehingga mampu mereaktualisasi hubungan dengan penghuni rumah lain, jemari mereka dengan atau tanpa sadar menyebarkan persoalan-persoalan yang justru menambah kepanikan lain seperti nilai tukar rupiah anjlok, pemerintah kurang sigap dan hanya mementingkan investasi. Khusus konten anjloknya nilai tukar rupiah yang saat tulisan ini dibuat sudah mendekati 16 ribuan per Dollar Amerika, beberapa narasi mengaitkan dengan kondisi sosial ketika tumbangnya Orde Baru, yang salah satu sebabnya krisis ekonomi. Amatan saya terhadap pihak-pihak yang menganjurkan lockdown itu, sampai pada kesimpulan bahwa mereka adalah golongan kelas menengah di mana sense of self (rasa kedirian) nya pada momen ini dibentuk oleh rezim medis politis, lalu diframing dengan virus ketakutan melalui clickbait media sosial.

Rezim medis yang saya maksud merujuk kepada pemikiran Michele Foucault tentang relasi kuasa di dalam dunia medis melalui salah satu karyanya The Birth of Clinic : An Archeology of Medical Perception (1963). Foucault, begitu dia disapa mendedah bahwa medis tidak bisa lepas dari relasi kekuasaan. Ia tidak sepenuhnya mengabdi kepada kemanusian, melainkan kecenderungan pada kekuasaan. Ketika itu terjadi, kebenaran dari medis tidak ditentukan dari kompetensi. Artinya sesuatu dikatakan benar jika ia berkuasa.

Kasus ini bisa kita temukan pada peristiwa misalnya anjloknya harga kopra Indonesia yang pernah mendunia di tahun 1920-an. Oleh karena peneliti Amerika menyatakan minyak kelapa (lengis tandusan) yang dihasilkan kopra Indonesia adalah sumber penyakit jantung dan beberapa penyakit degeneratif lainnya, masyarakat dunia dihimbau menjauhinyaa dan beralih mengkonsumsi minyak jagung yang ternyata diproduksi Barat sendiri. Selain produk kopra Indonesia yang mereka jatuhkan melalui rezim medis, ada juga produk kretek sebagai rokok khas Indonesia mengalami nasib yang sama. Akibatnya produk rokok yang mendominasi pasar dunia dan bahkan Indonesia bukan rokok kretek sebagai produk lokal, melainkan rokok Barat.

Radikalisasi teori Foucault di atas kadang digunakan pula oleh penganut teori konspirasi untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa global. Misalnya, pandemi virus yang berskala global seperti MERS, SARS dan terbaru CoV-19, akan dengan mudah disimpulkan bahwa kehadiran mereka adalah noctural bukan natural. Maksudnya, ada campur tangan manusia di dalamnya. Oleh karenanya, virus adalah bisnis yang menggiurkan, yang memberi keuntungan berlimpah bagi industri farmasi yang didominasi oleh negara-negara maju. Melalui jalan inilah mereka mampu menghadirkan hegemoni di hadapan negara-negara miskin dan berkembang. Wacana yang terjadi terhadap kehadiran virus, berlaku pula pada agenda perang.  Perang Dunia Pertama dan Kedua, bahkan mungkin nanti yang Ketiga misalnya bukanlah terjadi secara kebetulan melainkan ada actor intelektual yang disebut oleh Adam Smith sebagai the invisible hands yang bekerja. Dengan demikian, kehadiran perang akan sangat menguntungkan bagi keberlanjutan industri senjata.  

Pertanyaan berikutnya, siapakah golongan kelas menengah yang saya sebut di atas? Terlepas dari pembelahan ideologis pasca pilpres. Weber dalam magnus opumnya yang termashur “Ethic Protestant and The Spirit of Europe Capitalism” mengkategorisasi golongan kelas menengah ini sebagai bangsawan, bankir, pedagang kaya sekelas taoke atau taipan. Jika di-Indonesiakan, merekalah yang disebut Geertz sebagai priyayi lokal. Di era kontemporer seperti saat ini, mereka mewujud dalam diri OKB (orang kaya baru). Gramsci  meradikalisasi pandangan Weber dengan istilah baru yang bernuansa kebudayaan sebagai intelektual organik. Pemuka agama, ASN, dosen, guru, dokter, perawat, dan birokrat adalah sebagian kecil dari kategorisasi yang disebut Gramsci barusan.

Sebagai wabah, penyebaran virus ini harus diakui sangat cepat. Bahkan saat dihitung dengan rumus eksponensial didapati hasil bahwa satu orang positif virus bisa menulari ribuan lainnya dalam waktu yang cepat. Kondisi ini juga didorong oleh dimensi sosial manusia yang suka berinteraksi dengan manusia lainnya.. saling bertemu, saling menyapa yang merupakan salah satu medium penularan virus. Orang yang tertular, biasanya disebut carrier yang menularkan wabah ke orang lain. Yang menjadi masalah adalah, ciri-ciri orang terkena virus ini bukan lagi yang sepertinya terlihat sakit dengan cirri-ciri yang telah viral di sosial media, bahkan yang nampak sehat setelah di tes bisa jadi positif.

Tetapi kita tidak perlu bersikap panik berlebihan. Faktanya, secara statistik, ketika pertama kali virus ini viral di Wuhan Cina, dari 11 juta penduduk Wuhan hanya 85 ribu yang terpapar atau  0,7 persen. Dari 0,7 persen yang terpapar, fatality rate nya mencapai 2,7 persen. Artinya jumlah yang sembuh lebih banyak dari jumlah yang meninggal. Kondisi yang paling serius melanda warga berusia di atas 60 tahun yang rentan terinfeksi sekaligus berpotensi mengalami kematian.

Dengan melihat kondisi di atas, daripada bersikap panik berlebihan, tetapi bukan berarti menganggap remeh, saya menganjurkan untuk berdamai dengan keadaan. Saya pikir, ini adalah pilihan yag paling rasional yang bisa dilakukan di samping juga untuk membantu pemerintah yang telah mengeluarkan anjuran dan himbauan social distancing. Hal yang bisa kita lakukan ketika berdamai dengan diri sendiri itu adalah menjaga diri jangan sampai tertular, menjaga kesehatan, terpenting mengurangi interaksi dengan melakukan self lockdown. Usaha berdamai dengan diri ini menjadi sangat penting, mengingat sebelum ditemukan vaksin yang memerlukan penelitian dan produksi massal dalam jangka waktu lama, obat yang paling mujarab yang kita miliki saat ini adalah sistem imun. Faktanya, orang yang positif Covid19 lalu dikarantina dan sembuh, bukan disebabkan oleh pengobatan khusus, melainkan karena daya tahan tubuhnya yang terus meningkat. [T]

Tags: covid 19virus corona
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

Apakah Bali Kebal Wabah Covid-19?

Next Post

Surat Kecil Pekerja Kapal Pesiar dari Tengah Laut: Kemungkinan-kemungkinan Nasib yang Kami Terima

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Surat Kecil Pekerja Kapal Pesiar dari Tengah Laut: Kemungkinan-kemungkinan Nasib yang Kami Terima

Surat Kecil Pekerja Kapal Pesiar dari Tengah Laut: Kemungkinan-kemungkinan Nasib yang Kami Terima

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co