6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Atmosfir Perbatasan -[Kenangan Jurnalis dari Sebatik]

Heyder Affan by Heyder Affan
July 18, 2019
in Tualang
Atmosfir Perbatasan -[Kenangan Jurnalis dari Sebatik]

Pulau Sebatik 2005

“SAYA bisa bebas keluar-masuk (perbatasan Indonesia-Malaysia), kapan pun,” ujar salah-seorang warga Pulau Sebatik, tanpa harus mengantongi paspor.

Pulau Sebatik, yang dibagi menjadi dua wilayah Malaysia dan Indonesia, terletak di ujung utara pulau Kalimantan.

Awal Agustus 2005, saya melakukan liputan ke pulau mungil itu untuk merekam seperti apa kehidupan di sana.

Ketika saya ke sana, konflik perbatasan antara Malaysia-Indonesia terkait pulau Sipadan dan Ligitan masih segar dalam ingatan – dan masih menjadi isu sensitif. Atmosfirnya sangat terasa sekali.

“Jangan, jangan, bapak ini mata-matanya Inggris.” Kalimat ini, masih saya ingat, terucap dari seorang tentara yang menjaga di pos perbatasan, persis tidak jauh dari tapal batas.

Urusannya jadi panjang: Saya ditanya macam-macam, mulai data diri,surat liputan ke pulau tersebut, hingga “diskusi panjang” dengan pejabat kepolisian setempat keesokan harinya.

Dan ujungnya, “Pak Affan, mohon maaf… anggap saja Pak Affan tidak pernah ketemu kami….Dan besok, kami harap Pak Affan sudah meninggalkan Sebatik…”.

***

SEBAGIAN rumah di Pulau Sebatik, malahan, letaknya persis di garis di perbatasan — “sehingga saya makan di wilayah Indonesia, dan buang air kecil di Malaysia…,” celetuk warga Sebatik, yang sebagian besar berdarah Bugis.

Dikutuk (atau berkah?) berada di wilayah yang terpencil, dan secara geografis lebih dekat ke pusat perekonomian Malaysia (yaitu Kota Tawau), membuat sebagian warga pulau itu ‘tergantung’ kepada negara jiran itu.

Karenanya, orang-orang di pulau mungil itu mengaku lebih sering berbelanja kebutuhan sehari-hari ke Tawau (Malaysia).

“Hanya butuh waktu sekitar 20 menit, naik perahu kelotok ke Tawau,” kata seorang ibu, yang kupergoki membawa belanjaan, setelah turun dari perahu.

Selain alasan jarak yang tak begitu jauh, “harganya relatif murah…”


Pulau Sebatik 2005

Lebih dari itu, mereka sudah terbiasa menggunakan mata uang Ringgit untuk bertransaksi ekonomi.

“Tentu saja, kami lebih suka menggunakan Ringgit, karena nilainya lebih tinggi..” kata seorang ibu, yang tengah meladeni pembeli di toko kelontong miliknya, tidak jauh dari pelabuhan kecil Sebatik.

‘Kedekatan’ warga Sebatik dengan Malaysia juga terlihat dari cara mereka bertutur lisan yang mirip Bahasa Melayu. “Kita kan hampir tiap hari bisa mengakses siaran televisi Malaysia, dan bertemu orang-orangnya…”

***

DUA hari tinggal di pulau Sebatik (untuk sebuah liputan tentang ‘mental warga perbatasan’), saya pun akhirnya mafhum, tentang keluhan mereka yang selama ini saya dengar dari pemberitaaan media massa, yaitu “kurang diperhatikan oleh pusat”.

Saya mewawancarai Camat Sebatik (saya lupa namanya), dan berharap “agar pemerintah pusat sudah saatnya menoleh kepada mereka”).

Seorang pengusaha, yang antara lain membuka mini market, bercerita dengan masygul, butuh beberapa hari untuk memasok kebutuhan sehari-hari. “Kadang telor sudah busuk sampai sini..”

Seorang penduduk, dengan setengah berbisik, berkata, karena kelangkaan itu, praktek penyelundupan tak jarang terjadi. “Tetapi, saat ini sedang tiarap, setelah pemerintah di Jakarta teriak-teriak soal memerangi korupsi…”

Saya juga mendatangi pos militer di perbatasan pulau itu, tetapi pejabat kepolisian dan militer di sana menolak saya wawancarai — tanpa alasan yang jelas.

(“Pak Affan, mohon maaf… anggap saja Pak Affan tidak pernah ketemu kami….Dan besok, kami harap Pak Affan sudah meninggalkan Sebatik…”).

Saya mengiyakan permintaan para pejabat itu. Beruntung, saya sudah mendapatkan wawancara lengkap dengan warga, pelaku ekonomi, serta pejabat sipil Pulau Sebatik…

Dan seperti dimaui mereka, esok harinya sebuah sepeda motor yang dinaiki seorang polisi sudah menunggu di depan hotel yang saya tinggali.

“Ini Pak Affan kan?” Sebelum dia bertanya lebih lanjut, kujawab ya dan kukatakan “ya, saya akan meninggalkan Sebatik…”

Mengendarai mobil kijang yang kusewa, aku pun meninggalkan polisi dengan sepeda motor tuanya.

Saya memotong jalan, melewati kawasan yang dulunya hutan (dan, kini tinggal tanah yang kosong, dan bekas tebangan pohon di mana-mana) menuju dermaga kecil, untuk selanjutnya menyeberang ke Pulau Nunukan — sebelum besoknya kembali ke Tarakan dan pulang ke ‘dunia nyata’ Pulau Jawa, dengan segepok informasi tentang Pulau Sebatik dan penghuninya… [T]

Tags: IndonesiajurnalismeKalimantanMalaysiaPulau Sebatik
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

Etos Kerja Orang Bali, “Jengah” & “De Ngadén Awak Bisa”

Next Post

Tirtayatra ke Jawa, Rekreasi atau Panggilan Hati?

Heyder Affan

Heyder Affan

Penyuka jalan-jalan, penikmat sastra, dan gila bola. Tulisannya bisa dilihat secara lengkap di heyderaffan.blogspot.com

Related Posts

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

by Chusmeru
February 1, 2026
0
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

GOMBONG merupakan satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki lokasi yang strategis, karena dilewati oleh...

Read moreDetails

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 27, 2026
0
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari...

Read moreDetails

Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 22, 2026
0
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

Dzień dobry! Nama saya Nadia Pranasiwi Justie Dewantari, mahasiswi kedokteran Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Pada bulan Agustus 2025, saya mengikuti...

Read moreDetails

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
January 8, 2026
0
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

JEPANG kerap dijuluki sebagai negeri Sakura yang disinari matahari terang, sebuah citra yang terpatri kuat melalui benderanya: lingkaran merah di...

Read moreDetails

Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

by Doni Sugiarto Wijaya
January 6, 2026
0
Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

DI kabupaten Tabanan, tepatnya tak jauh dari lokasi Pantai Nyanyi, Desa  Beraban, ada tempat wisata bernama Nuanu. Nuanu dikenal sebagai...

Read moreDetails

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

by Nyoman Nadiana
December 30, 2025
0
Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

PERJALANAN di penghujung tahun 2025 kemarin, saya menaruh Ipoh di Negeri Perak Malaysia sebagai destinasi setelah Singapura. Mengambil jalur darat...

Read moreDetails
Next Post
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Tirtayatra ke Jawa, Rekreasi atau Panggilan Hati?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co