2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tirtayatra ke Jawa, Rekreasi atau Panggilan Hati?

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
July 18, 2019
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Tirtayatra ke Gunung Bromo

Kabut mulai turun menyelimuti pegunungan Tengger sore itu. Senja mulai membayang, sang surya tampak bersembunyi di balik kabut.

“Tenang saja, Pak, jam 5 sore pasti kita sudah sampai di atas, untuk melihat sunset di Bromo,” hibur pengemudi mobil travel yang kami tumpangi  ke sana.

“Melihat matahari terbenam dari puncak gunung?” gerutu saya dalam hati. Barangkali ada yang salah dengan pemahamannya tentang ilmu geografi. Atau dia sekedar menghibur kami yang terlihat kecewa, belum sampai juga ke ujung perjalanan ritual  hari itu.

Hari mulai gelap saat kami memasuki kawasan wisata Gunung Bromo. Dalam hati saya berpikir, pantas saja kami mendapatkan kendaraan angkutan mobil berpenggerak ganda (biasanya jenis hardtop) dengan harga jauh lebih murah dari kabar yang kami dengar dari mereka yang lebih dulu berkunjung ke sana.

Karena kami ke puncak saat hari sudah menapak senja. Siapa juga yang datang jauh-jauh ke Bromo tanpa niat menyaksikan fenomena alam terbitnya sang surya di ufuk timur. Yang memaksa para pencari untuk berangkat dini hari dari bawah, melawan gelap malam dan dinginnya pegunungan Tengger.

Sesosok pemotor tampak mengikuti rombongan kami. Dan  saat kami  memasuki kawasan wisata Bromo, dia menghentikan laju kendaraan .

“Selamat sore, Pak, Bapak dan rombongan  mau sembahyang ke Pura Luhur ya? Kebetulan Bapak adalah rombongan terakhir untuk hari ini, mohon berkenan menunggu sebentar di bawah nanti saya jemput pemangkunya.”

Tampak wajah yang ramah dan ketulusan sikap yang tak dibuat-buat dari bapak pemotor tadi, yang ternyata adalah pengempon pura yang ada di tengah areal lautan pasir gunung Bromo. Kemungkinan dari bawah dia sudah melihat rombongan kami dengan pakaian sembahyang , jadi dia beranikan diri untuk memberikan petunjuk.

15 menit kemudian rombongan sampai di areal pura,  tampak bapak yang tadi sudah duluan sampai di sana, dan di bagian dalam Pura sudah duduk dengan khidmat pemangku untuk menghantarkan persembahyangan kami.

Sambutan bersahabat, wajah-wajah antusias untuk membantu, jamak kita temukan saat melaksanakan kegiatan tirtayatra ke Pura-Pura yang ada di luar pulau Bali, khususnya Jawa yang pernah saya kunjungi.

Saat nangkil ke pura di kaki gunung Arjuno, kami melihat komunitas Hindu disana sedang bergotong royong untuk persiapan upacara beberapa hari ke depan. Tampak mereka melaksanakannya dengan antusias dan senyum yang tak lepas dari wajah, disertai gelak canda diantara mereka. Di daerah Blambangan , Jawa timur sisi selatan  sambutan serupa juga telah kami temui.

Antusiasme masyarakat Bali untuk bersembahyang keluar Bali, bukanlah hal yang baru lagi. Mungkin sudah dimulai sejak puluhan tahun yang lalu. Seiring dengan meningkatnya perekonomian masyarakat Bali secara umum dan terutama kemajuan penyebaran informasi lewat media sosial belakangan ini.

Terlihat peningkatan yang massif dalam arus perjalanan suci tersebut. Dan sebagai seorang Komuter yang saban hari melintasi jalur Denpasar Gilimanuk, sering saya lihat rombongan dalam jumlah yang besar untuk melaksanakan ritual itu. Sedang beristirahat atau mepamit di Pura dang kahyangan Rambut Siwi yang memang berada di jalur itu.


Penulis dan istri saat tirtayatri ke Bromo

Dan ini menimbulkan sedikit apriori  di hati kecil saya saat melihatnya. “Mengapa mesti jauh-jauh mencari pura sampai keluar pulau melintasi laut, apakah Pura Keluarga atau  merajan di rumah sendiri sudah rutin di sembahyangi?” Begitu gerutu saya dalam hati kalau kebetulan melihat rombongan bis yang berjajar di parkiran Pura tersebut.

Terlepas dari motivasi untuk rekreasi, dan tak ada yang salah dengan hal itu. Kesempatan untuk melihat sesuatu yang tak kita temui di Bali, merasakan kehangatan dari sesama saudara sekeyakinan seperti yang saya ceritakan diatas, barangkali juga merupakan suatu daya tarik, yang memaksa kita untuk selalu ingin kembali kesana, seperti yang kita alami.

Menjadi minoritas Hindu di tempat yang kebanyakan masyarakatnya  punya keyakinan lain dengan kita, barangkali mempunyai keindahan dan tantangannya sendiri, ada onak dan durinya juga pasti.

Teringat sebuah ungkapan entah oleh siapa. “Saat menjadi  minoritas, keberanian anda diuji, dan saat menjadi mayoritas, toleransi anda dinilai”.

Dari sekelebat pengalaman menengok saudara kita penganut agama Hindu di pulau Jawa, barangkali ungkapan itu terasa jauh. Sepertinya mereka tak perlu keberanian extra untuk menjalankan kewajiban dan keyakinannya tersebut di daerah mayoritas umat lain itu.

Untuk menjelaskan situasi ini, ada baiknya saya mengingatkan kembali beberapa peristiwa yang gamblang menggambarkan situasi ini.

Beberapa tahun yang lalu, Iwan Fals, penyanyi kesayangan sebagian rakyat Indonesia, termasuk saya. Pernah disangkakan hendak melecehkan agama Hindu, dengan memasang gambar seorang Dewa agama Hindu di cover depan albumnya. Dengan diplomatis dia menjawab : “Hindu adalah agama tertua di Indonesia, agama nenek moyang kita. Itu artinya dalam diri saya pun ada setidaknya ada percikan keyakinan tersebut. Jadi tak ada niat sedikitpun dari saya untuk menghina agama Hindu”.

Dan kebetulan saya sedang menyelesaikan membaca buku Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Ada sebuah dialog yang  sangat menyentuh. Sandisman, seorang anggota legiun Mangkunegaran, pasukan elite Mataram waktu itu. Melarikan diri dari kesatuannya karena menolak untuk ikut berperang, melawan kerajaan Klungkung di Bali . Alasannya saat di tanya oleh tokoh sentral cerita (Minke), “Kenapa kau tak mau berangkat ke Bali bersama pasukanmu?“

Jawabnya lirih, “Yang saya tahu, nenek moyang kami, orang Jawa dan orang Bali sama, jadi mengapa kami memerangi saudara sendiri? “

Terlepas dari alasan di atas, saya sendiri meyakini dari lubuk hati terdalam sampai saat ini. Toleransi adalah watak alami masyarakat Indonesia yang sudah mendarah daging bagi kita. Dan kita berharap tetap bisa kita pertahankan sampai akhir zaman. Dan kalaupun ada beberapa orang atau golongan yang saat ini terlihat begitu gencar meneriakkan semangat intoleransi-nya. Marilah kita yakini bersama, bahwa merekalah minoritas yang sebenar benarnya di negeri ini.

Akhirnya, kalau ditanyakan tujuan, alasan, maupun motivasi mereka yang gemar menempuh perjalanan jauh untuk mencapai  Pura ataupun tempat suci yang ada di seberang selat Bali itu. Mungkin  akan ada puluhan alasan yang berbeda pada setiap orang yang ditanya. Tapi dari berbagai sudut pandang, tak akan ditemukan satu suara sumbang pun.

Secara ekonomi, kegiatan ini menggerakkan roda perekonomian cukup massif, pemilik travel/angkutan, penjual oleh-oleh, penjual makanan dan minuman di dekat lokasi, penginapan. Semua akan kecipratan kuenya. Secara sosial budaya pun, akan terjadi komunikasi yang intens antar budaya, karena kesamaan keyakinan walaupun beda suku ini.


Keceriaan tirtayatra

Secara pribadi akhirnya saya pun tak akan alergi dengan kegiatan kegiatan seperti ini lagi. Karena saya sendiri merasakan kenikmatannya. Khusus perjalanan terakhir ini, saya merasa ada sesuatu yang cukup istimewa. Anak sulung saya memulai perjalanan dengan kondisi sakit, badannya demam dan dia mulai pilek ringan.

Kami sebenarnya sangat mengkhawatirkan kondisinya di perjalanan yang panjang nanti. Ternyata setelah perjalanan , tiga hari tiga malam. Sembahyang di beberapa pura, terpapar cuaca dingin dan padang pasir Bromo, melukat (setengah mandi) tengah malam di Gresik. Akhirnya sampai pulang kembali ke Bali pun dia dalam kondisi sehat walafiat. Barangkali saya punya dua penjelasan tentang  hal ini.

Secara medis, suatu kegiatan yang menyenangkan, dalam hal anak saya bisa berkumpul dengan semua sepupunya sebaya,melihat daerah baru,menikmati  situasi baru ( kami menyelingi kegiatan dengan wisata ke tempat yang indah ) akan merangsang keluarnya adrenalin  dan endomorfin (morfin alami), yang berfungsi meningkatkan vitalitas dan menjaga kebugaran tubuh. Ini yang membuatnya terhindar dari serangan sakit yang lebih parah.

Dan yang kedua, saya sendiri menganggap perjalanan kami  , sudah direstui oleh para leluhur, karena perjalanan  inipun salah satunya bertujuan  untuk memuja beliau, karena tanpa adanya leluhur kita tak kan ada di dunia ini sekarang, seperti dialog di buku Pram tadi. “ Bukankah nenek moyang orang Jawa dan orang Bali sama ?”

Kalaupun suatu saat nanti  istri atau anak saya tiba-tiba menuntut, “Ayah liburan nanti, kita mau tirtayatra ke mana lagi nih?”

Pasti akan saya jawab dengan lugas: “Ayo, siapa takut?” [T]   

Tags: Gunung BromojawaJawa TimurPurarekreasitirtayatra
Share63TweetSendShareSend
Previous Post

Atmosfir Perbatasan -[Kenangan Jurnalis dari Sebatik]

Next Post

Broken Beach, Legenda Ular Raksasa dan Lemahnya Nilai Integritas serta Nilai Religius

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Broken Beach, Legenda Ular Raksasa dan Lemahnya Nilai Integritas serta Nilai Religius

Broken Beach, Legenda Ular Raksasa dan Lemahnya Nilai Integritas serta Nilai Religius

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co