4 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

250 KK Hindu Bali Asli di Desa Kayuputih Punya Tradisi Imlek | Ceritanya Mirip Dongeng

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 12, 2021
in Khas
250 KK Hindu Bali Asli di Desa Kayuputih Punya Tradisi Imlek | Ceritanya Mirip Dongeng

250 KK Hindu Bali Asli di Desa Kayuputih Punya Tradisi Imlek

Keyakinan dan kepercayaan terhadap sebuah tradisi, bukan melulu soal agama, ras atau negara. Di Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali, terdapat sekitar 250 KK punya tradisi merayakan Imlek setiap tahunnya.

Mereka adalah umat Hindu asli warga Bali. Artinya mereka bukan warga keturunan, dan sama sekali tak punya kaitan dan hubungan dengan Cina atau Tionghoa.

Yang unik, mereka tidak merayakan Imlek di klenteng atau di tempat peribatan warga keturunan seperti di klenteng Ling Gwang Kiong di area Pelabuhan Buleleng atau klenteng Seng Hong Bio di Kampung Baru, Singaraja. 

Mereka punya bangunan kongco dengan desain dan gaya bangunan tradisional Bali. Pada dinding bangunan bagian dalam tertempel lukisan-lukisan China, juga beberapa patung dan lilin berukuran besar.

Tata cara ibadah pada setiap Imlek dikolaborasikan dengan persembahyangan cara Tionghoa dan Hindu.  Antara lain diisi lantunan tri sandya.  Pemujaan khusus menggunakan sarana utama berupa dupa. Tata cara pegang dupa persis seperti warga keturunan Cina beribadah. Dewa apa yang mereka puja atau sungsung? Mereka menyebut, Dewa Hyang Kongco.

Persembahyangan di bangunan kongco milik warga Hindu itu bukan hanya dilaksanakan pada saat Imlek, melainkan juga pada setiap bulan purnama dan tilem. Namun persembahyangan saat purnama dan tilem, biasanya tak seramai persembahyangan saat Imlek.

Persembahyangan Imlek warga Hindu di Kayuputih, Buleleng

Mirip Dongeng

Ketut Langgeng, salah seorang tetua dadia di Kayuputih, mengatakan warga sebanyak sekitar 250 KK yang punya tradisi melakukan persembahyangan Imlek itu terdiri dari tiga dadia.  “Mereka dengan taat melakukan persembahyangan setiap Imlek,” katanya.

Dadia adalah kelompok keluarga besar berdasarkan garis keturunan, atau semacam klan atau marga dalam sistem kekerabatan di Bali. Berdasar garis keturunan, mereka berasal dari keturunan Bali atau Jawa, dan tak punya garis keturunan dari Cina. Bentuk fisik mereka juga tak seperti warga keturunan Cina umumnya, berkulit putih dan bermata sipit. Mereka orang Bali beragam Hindu, tapi punya keyakinan bahwa tradisi ala Cina yang mereka lakukan sudah sesuai dengan keyakinan leluhur mereka yang diturunkan terus-menerus kepada anak-cucu.

Yang unik juga mengherankan, hingga kini tidak ditemukan data-data, atau prasasti, yang bisa dijadikan bukti dan dasar kuat untuk mendukung keyakinan mereka. Mereka hanya punya cerita dari para tetua mereka –- cerita yang mirip-mirip dongeng atau cerita film.

“Kami hanya tahu dari penuturan para tetua keluarga, tanpa ada data yang jelas, kenapa ada kelompok masyarakat Hindu, termasuk saya, sampai memiliki konco dan nyungsung Hyang Dewa Kongco,” kata Ketut Langgeng.

Langgeng bercerita, konon, dahulu kala, ada saudagar Cina berjualan keliling dari desa satu ke desa lain, termasuk ke  Desa Kayuputih. Dalam perjalanan melewati Desa Kayuputih, saudagar itu dirampok dan dibunuh. Sesuai cerita, yang terlibat dalam proses perampokan itu sejumlah orang dari tiga klan keluarga yang berbeda, yakni dari klan Pasek, Pande dan Arya.

Cerita itu tentu saja tak begitu penting, dan mungkin hanya menjadi cerita seram menjelang tidur, sehingga gampang dilupakan. Apalagi tidak ada bukti-bukti fisik, atau dokumen, atau hal sejenis yang bisa jadi bukti bahwa cerita itu benar adanya.

Syahdan, suatu hari, terdapat warga dari keluarga besar itu sakit yang tak kunjung sembuh. Selain itu, keluarga itu mengalamai beberapa peristiwa yang tidak masuk akal. Mereka pun bertanya kepada “orang pintar”, istilahnya nunas baos.

Dari hasil nunas baos itulah cerita tentang perampokan saudagar Cina yang konon dilakukan oleh leluhur mereka itu muncul. Keluarga itu dianggap mendapatkan karma dari perbuatan orang tua mereka di masa lalu.

“Sehingga keluarga dari tiga dadia itu disarankan membuat tempat pemujaan kongco. Setelah mengikuti saran orang pintar itu, warga yang sakit pun sembuh, dan peristiwa-peristiwa yang sifatnya irasional berangsur-angsur membaik,” kata Langgeng.

Hingga kini, keluarga besar itu tetap secara rutin melakuka persembahyangan saat Imlek. “Untuk tahun 2021 di masa pandemi ini, kami melakukan persembahyangan secara bergiliran sesuai protocol kesehatan,” kata Langgeng.

Sarana persembahyangan Imlek di Kongco di Desa Kayuputih, Buleleng

Persembahyangan dan Masakan Cina

Dokter Putu Arya Nugraha, penulis buku Filosofi Sehat, yang kini menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng adalah salah satu dari keluarga besar yang punya tradisi Imlek itu.

Bagi Dokter Arya, tradisi merayakan Imlek yang dilakoni keluarga besarnya, sungguh menarik, penuh makna, dan yang jelas sangat menyenangkan.  

Dokter Arya bercerita, perayaan Imlek keluarganya itu dilakukan sehari mendahului perayaan Imlek nasional, biasanya sehari sebelum penanggalan Bali  tilem kepitu (purwani). Bukan hanya persembahyangannya yang menarik dan menyenangkan, melainkan juga tradisi masakannya. “Kami juga membuat masakan khas Cina,” kata Dokter Arya.

Pagi harinya, salah satu anggota keluarganya pergi ke kota Singaraja membeli bahan masakan khas Tionghoa. Kokinya adalah salah satu anggota keluarga yang punya kebisaan turun temurun  memasak hidangan Cina yang kemudian akan dibagi-bagikan untuk semua, bahkan ada yang dibungkus dibawa pulang. “Rasanya lumayan juga, khas chinese food, bahkan aromanya pun sudah tercium dari jauh,” katanya.

Yang menyenangkan, di halaman kongco biasanya ramai pedagang camilan. Sehingga kemeriahaan Imlek di areal kongco itu jadi meriah. Usai ibadah, biasanya pada tengah malam, keluarga bubar dan beberapa orang tinggal untuk mekemit atau bermalam di kongco yang dibangun di atas dataran tinggi itu.

Seluruh rangkaian persembahyangan dilakukan oleh keluarga besar dari tiga dadia itu. Tak ada warga keturunan Cina. Dulu, di tahun delapanpuluhan, memang kongco itu selalu dikunjungi warga keturunan Cina dari Singaraja saat Imlek. “Namun belakangan ini sudah tak pernah lagi,” kata Dokter Arya. [T]

Tags: bulelengCinahinduImlekTionghoa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara

Next Post

Kutu-Kutu di Kepala Putu | Cerpen Wulan Dewi Saraswati

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
0
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

Read moreDetails

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

by Emi Suy
November 1, 2026
0
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

Read moreDetails

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
0
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

Read moreDetails

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
0
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

Read moreDetails

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

Read moreDetails

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails
Next Post
Kutu-Kutu di Kepala Putu | Cerpen Wulan Dewi Saraswati

Kutu-Kutu di Kepala Putu | Cerpen Wulan Dewi Saraswati

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co