22 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Chandra Manikan by Chandra Manikan
July 22, 2026
in Ulas Pentas
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

“Transformasi Drupadi menjadi Durpadi” diperankan oleh Ocha Diartini | Photo: Chandra Manikan

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai Durpadi. Sasana Budaya kala itu berubah menjadi ruang yang sangat ganjil, mistis sekaligus mencekam. Saya mendengar rintihan lirih perlahan mengalun, lalu pecah menjadi teriakan yang sarat amarah.

Saya terpaku. Sulit membedakan siapa yang sesungguhnya sedang bersuara: apakah Durpadi, perubahan Drupadi yang menjadi Durga, atau Ocha Diartini, yang seolah memberikan tubuh dan suaranya sebagai wadah bagi luka perempuan. Saat itu, bulu kuduk saya berdiri, entah itu adalah bentuk rasa kagum atau rasa takut, saya juga tidak begitu mengerti.

Apa yang saya tonton hari itu, di Singaraja Literary Festival 2026, bukan lagi sekedar pertunjukkan teater. Melainkan sebuah pengalaman baru yang memaksa saya menonton hingga akhir. Memaksa saya ikut masuk kedalam emosi yang sedang disampaikan oleh Ocha Diartini, bahkan ketika adegan telah berganti.

“Kini aku bukan lagi Drupadi yang lemah dan pasrah, akulah “Durpadi”, Durga dalam diri Drupadi, perempuan berkekuatan semesta, yang siap meleburmu dari bencana ke bencana.”

Kalimat tersebut tampak seperti deklarasi kemenangan seorang perempuan yang selama ini terpinggirkan. Ia tidak lagi menerima nasib sebagai korban, melainkan menjelma sosok yang menebar ancaman terhadap dunia laki-laki. Sekilas, kalimat tersebut dapat dibaca sebagai kisah emansipasi: perempuan yang berhasil merebut kembali suaranya setelah dibungkam oleh tuduhan, pengasingan, dan penghinaan.

Meminjam kacamata dari Gayatri Chakravorty Spivak, transformasi Drupadi menjadi Durpadi justru memperlihatkan sebuah paradoks. Saya melihat adanya sebuah persoalan dalam kalimat yang dilontarkan oleh Durpadi ini. Persoalan, dengan bahasa siapa ia berbicara?

Dalam esai Can the Subaltern Speak?, Spivak memberitahu saya, tentang kritik terhadap cara dunia memahami suara kelompok yang terpinggirkan. Menurutnya, subaltern bukan sekedar kelompok yang tertindas secara sosial atau ekonomi. Subaltern adalah mereka yang berada di luar struktur representasi, sehingga pengalaman dan suaranya tidak pernah diakui sebagai miliknya sendiri.

Lebih dalam Spivak meyakinkan saya, bahwa ketika subaltern berbicara, suaranya seringkali diterjemahkan, dibingkai, atau bahkan ditentukan terlebih dahulu oleh sistem pengetahuan yang berkuasa. Sehingga, persoalan utama yang timbul bukanlah ada atau tidaknya suara, melainkan apakah suara itu sungguh berasal dari dirinya sendiri.

“Durpadi berteriak marah” sebuah monolog yang diperankan oleh Ocha Diartini pada Singaraja Literary Festival 2026 | Photo: Chandra Manikan

Monolog Durpadi karangan Putu Fajar Arcana, dibuka dengan sebuah identitas yang sepenuhnya dibentuk oleh kuasa patriarki. Menyebut dirinya sebagai “perempuan yang tersakiti” karena “dituduh berzina dengan bayangannya sendiri.” Saya rasa tuduhan tersebut, menjadi titik awal yang menentukan seluruh perjalanan hidupnya Drupadi. Menariknya, identitas tersebut tidak lahir dari pengakuan dirinya, melainkan dari penilaian laki-laki. Drupadi tidak terlebih dahulu hadir sebagai subjek yang mendefinisikan dirinya; ia hadir sebagai objek yang didefinisikan oleh tuduhan.

Spivak memberikan saya sebuah gambaran, bahwa situasi yang terjadi pada monolog tersebut merupakan bentuk epistemic violence atau kekerasan epistemik. Baginya, kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk fisik. Kekerasan juga hadir melalui pengetahuan yang menentukan: siapa yang dianggap benar, siapa yang dianggap salah, siapa yang dianggap suci, dan siapa yang dianggap tercemar.

Tuduhan terhadap Drupadi bukan sekedar persoalan moral, melainkan proses produksi pengetahuan yang mengubahnya menjadi sosok yang layak dihukum. Akibat tuduhan tersebut, Drupadi berubah menjadi Durpadi dan diasingkan ke Setra Gandamayu. Saya mengartikan Setra ini bukan hanya menjadi sebuah lokasi, melainkan simbol pengasingan dari tatanan sosial. Setra menjadi ruang bagi mereka yang tidak lagi diakui keberadaannya. Pengasingan tersebut memperlihatkan bagaimana subaltern tidak hanya kehilangan hak untuk berbicara, tetapi juga kehilangan tempat untuk diakui sebagai bagian dari masyarakat.

Menariknya, monolog ini kemudian mengalami perubahan drastis ketika Durpadi berkata, “Sejak itu aku berjanji akan menghancurkan setiap pikiran yang dijejalkan oleh para lelaki.” Pada titik ini, saya menganggap bahwa perempuan akhirnya memperoleh suaranya sendiri. Akan tetapi, Spivak berpendapat lain. Ia mempertanyakan, apakah Durpadi sedang berbicara sebagai dirinya sendiri, ataukah ia sedang menggunakan bahasa yang diwariskan oleh laki-laki yang selama ini menindasnya?

Pilihan kata yang digunakan Durpadi dipenuhi oleh kosakata penghancuran: “meluluhlantakkan”, “musnahkan”, “lumat”, “remuk”, “semburkan tulang-belulangnya”. Menurut Spivak, seluruh kata tersebut merupakan bahasa dominasi, penaklukan, dan peperangan. Durpadi memang melawan, tetapi masih menggunakan logika yang sama dengan para penindasnya. Artinya, perlawanan Durpadi tidak menghancurkan struktur kekuasaan; ia justru bergerak di dalam struktur yang sama dengan laki-laki yang menindasnya.

Bentuk perlawanan tersebut yang saya sebut sebagai sebuah paradoks. Durpadi memang dapat mengeluarkan suara dan melawan, tetapi suara tersebut muncul melalui tata bahasa kekuasaan yang sama dengan para penindasnya. Dalam monolog ini, posisi laki-laki dan perempuan memang dibalik, tetapi logika kekuasaan tetap dipertahankan. Drupadi yang dihancurkan laki-laki, berubah menjadi Durpadi yang mengancam untuk menghancurkan laki-laki. Relasi kuasanya berubah arah, tetapi bentuk kekuasaannya tetap sama.

“Transformasi Drupadi menjadi Durpadi” diperankan oleh Ocha Diartini | Photo: Chandra Manikan

Transformasi Drupadi menjadi Durpadi juga memperlihatkan bagaimana identitas perempuan dibentuk oleh trauma. Durga dalam tradisi hindu dikenal sebagai manifestasi Shakti, energi alam semesta yang melindungi keseimbangan dunia. Akan tetapi dalam monolog ini, Durga lahir bukan sebagai simbol keseimbangan, melainkan sebagai akibat dari luka yang berkepanjangan. Kekuatan Drupadi tidak muncul karena pengakuan terhadap dirinya sebagai perempuan, tetapi karena akumulasi penghinaan yang akhirnya menjelma menjadi kemarahan.

Saya melihat puncak paradoks dari monolog ini, ketika Durpadi mengancam akan menghancurkan Sahadewa, bahkan seluruh keturunan Pandu. Sasaran kemarahannya bukan lagi individu tertentu, tetapi keseluruhan garis keturunan laki-laki. Ancaman ini, menurut saya, menunjukan bahwa logika yang bekerja masih merupakan logika patriarki. Kekuasaan dipahami sebagai kemampuan memusnahkan garis keturunan, menguasai kerajaan, dan/atau menaklukkan musuh. Bahasa yang digunakan tetap merupakan bahasa yang selama ini identik dengan dunia para ksatria: peperangan, penaklukan, dan pembunuhan.

Penggalan dari kalimat penutup, “Aku haus darah lelaki,” menjadi klimaks dari seluruh monolog. Pada satu sisi, kalimat ini terdengar sebagai suara pembebasan seorang perempuan, yang selama ini dibungkam. Di sisi lain, kalimat ini terdengar sebagai kekuasaan yang telah dibentuk oleh sistem patriarki itu sendiri. Durpadi memperoleh suara, tetapi suara tersebut masih meminjam bahasa dari sistem patriarki yang telah mengasingkannya.

Karena itu, saya melihat kekuatan monolog ini tidak terletak pada keberhasilan Durpadi membalas dendam kepada laki-laki. Kekuatannya justru berada pada tragedi yang diperlihatkan: seorang perempuan yang akhirnya dapat berbicara, tetapi masih harus berbicara dengan bahasa yang diwariskan oleh kekuasaan yang pernah membungkamnya. Pada titik ini, saya sangat setuju dengan pemikiran Spivak. Persoalan terbesar bukanlah apakah Durpadi mampu berbicara dengan bebas, melainkan apakah Durpadi mampu berbicara tanpa harus terlebih dahulu mengadopsi bahasa, logika, dan imajinasi politik milik laki-laki yang selama ini menguasainya.

Monolog Durpadi karangan Putu Fajar Arcana ini, memperlihatkan bahwa pembebasan tidak selalu berarti keluar dari struktur penindasan. Dalam monolognya, pembebasan justru berlangsung di dalam bahasa yang sama, sehingga suara Durpadi terdengar lantang. Namun, gema itu masih memantulkan logika patriarki, sebab sejak awal sistem itulah yang membentuk sekaligus menghancurkan Drupadi. [T]

Penulis: Chandra Manikan
Editor: Adnyana Ole

Tags: MonologPutu Fajar ArcanaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

Next Post

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

Chandra Manikan

Chandra Manikan

Seorang warga Indonesia yang gemar mengulik wacana, identitas, dan bagaimana kuasa bekerja dalam kehidupan sehari-hari. IG: @pcmpw

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails
Next Post
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co