China yang Membuat Dunia Terpesona
China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah satu kekuatan ekonomi, industri, teknologi, dan infrastruktur terbesar dunia. Kota-kota tumbuh menjulang, kereta cepat membentang ribuan kilometer, jalan dan jembatan dibangun dalam skala raksasa, sementara produk-produk China hadir hampir di seluruh penjuru dunia.
Tidak sedikit negara berkembang kemudian menjadikan China sebagai model. Kecepatan pembangunan, kemampuan negara menggerakkan sumber daya, investasi teknologi, industrialisasi, serta keberhasilan mengangkat ratusan juta manusia dari kemiskinan memang merupakan pencapaian yang pantas dipelajari.
Tetapi kekaguman terhadap kemajuan sebuah negara tidak seharusnya membuat kita kehilangan kemampuan melihat sejarahnya secara utuh. Kemajuan ekonomi hanyalah satu wajah sebuah bangsa. Wajah lainnya adalah bagaimana negara tersebut memperlakukan manusia, kebudayaan, lingkungan, identitas, serta kelompok masyarakat yang memiliki sejarah berbeda.
Di sinilah Tibet menjadi penting untuk direnungkan. Bukan untuk menghapus pencapaian China, apalagi menyederhanakan persoalan menjadi China buruk dan Tibet baik. Tibet justru mengajarkan bahwa pembangunan material, kekuasaan politik, identitas budaya, dan kehidupan spiritual adalah persoalan yang saling berkelindan.
Refleksi itu terasa semakin relevan ketika kita melihat Bali hari ini. Bali sedang berada dalam arus pembangunan yang sangat deras. Infrastruktur, investasi, pariwisata, kawasan ekonomi, akomodasi, dan berbagai proyek terus bergerak. Namun, sebagaimana sering menjadi perhatian Pansus TRAP DPRD Bali, pembangunan tidak boleh hanya dinilai dari seberapa besar investasi yang masuk, melainkan juga dari apa yang terjadi pada ruang hidup masyarakat dan lingkungan Bali.
Tibet, The Third Eye, dan Peradaban yang Melihat ke Dalam
Ketika berbicara mengenai Tibet, saya teringat The Third Eye karya Lobsang Rampa. Buku yang terbit pada 1956 itu pernah membuka imajinasi dunia mengenai Tibet sebagai sebuah peradaban yang memberi tempat besar kepada kehidupan batin, meditasi, disiplin spiritual, dan pencarian kesadaran.
Memang terdapat catatan penting: Lobsang Rampa ternyata bukan lama Tibet, melainkan Cyril Henry Hoskin, seorang Inggris. Karena itu, The Third Eye tidak dapat diperlakukan sebagai dokumen sejarah tentang Tibet. Namun sebagai karya yang membangkitkan imajinasi mengenai dunia spiritual Tibet, buku itu tetap menarik untuk direnungkan.
Di balik kontroversi tersebut terdapat kenyataan historis bahwa Buddhisme Tibet memang memiliki pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan masyarakat. Biara bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, kebudayaan, kehidupan sosial, dan spiritualitas.
Tentu kita tidak boleh meromantisasi Tibet sebagai negeri tanpa persoalan. Masyarakatnya juga memiliki struktur sosial yang hierarkis dan berbagai persoalan ketimpangan. Namun satu hal penting tetap dapat dipetik: kehidupan tidak seluruhnya diukur dengan materi.
Ungkapan third eye menjadi menarik jika dipahami sebagai metafora. Dua mata melihat apa yang tampak: gedung, jalan, angka investasi, hotel, kendaraan, dan pertumbuhan ekonomi. Tetapi mata ketiga mencoba melihat sesuatu yang tidak kasatmata: apakah pembangunan membuat manusia semakin bahagia, apakah alam semakin terjaga, dan apakah kebudayaan masih memiliki ruang untuk bernapas.
Pertanyaan semacam ini terasa sangat Bali. Sebab Bali sesungguhnya memiliki warisan pemikiran yang tidak kalah dalam. Konsep Tri Hita Karana, desa kala patra, parhyangan-pawongan-palemahan, serta berbagai bentuk kearifan lokal menunjukkan bahwa leluhur Bali tidak memisahkan manusia dari alam dan kehidupan spiritual.
Maka persoalannya bukan apakah Bali boleh modern. Tentu saja boleh. Persoalannya adalah: modern untuk apa, untuk siapa, dan dengan mengorbankan apa?
Dari Tibet ke Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Arah
Sejarah Tibet memberikan sebuah pelajaran bahwa ketika sebuah kekuatan besar memasuki ruang kehidupan masyarakat dengan visi yang berbeda, persoalannya tidak berhenti pada pembangunan fisik. Ada identitas, memori, kebudayaan, dan hubungan manusia dengan ruang yang ikut dipertaruhkan.
Bali tentu bukan Tibet. Sejarah, sistem politik, dan konteksnya sangat berbeda. Tetapi refleksinya dapat digunakan. Bali adalah pulau kecil dengan daya dukung ekologis terbatas, sementara tekanan pembangunan terus meningkat.
Di sinilah istilah “pembangunan brutal dan ugal-ugalan” yang muncul dalam kritik dan perhatian Pansus TRAP menjadi penting untuk direnungkan. Istilah tersebut bukan semata persoalan estetika pembangunan, melainkan peringatan bahwa pembangunan dapat kehilangan kendali ketika kepentingan ekonomi lebih cepat daripada kemampuan masyarakat dan alam untuk menyesuaikan diri.
Ketika mangrove berkurang, ruang terbuka semakin sempit, kawasan sakral terdesak, air tanah semakin terbebani, lalu lintas semakin padat, dan harga tanah semakin tidak terjangkau masyarakat lokal, kita tidak sedang berbicara hanya mengenai perubahan fisik.
Kita sedang berbicara mengenai perubahan peradaban.
Tanah Bali bukan sekadar komoditas. Pantai bukan sekadar garis properti. Sungai bukan sekadar saluran air. Hutan bukan sekadar lahan yang menunggu izin pemanfaatan. Dan pura bukan sekadar bangunan yang dapat diperlakukan seperti objek wisata.
Ada hubungan batin antara manusia Bali dengan ruang hidupnya. Karena itu, ketika ruang tersebut berubah secara berlebihan, yang terancam bukan hanya lingkungan, tetapi juga struktur sosial dan kebudayaan.
Pansus TRAP menjadi penting justru karena menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah pembangunan Bali masih berada dalam koridor hukum, tata ruang, lingkungan, budaya, dan kepentingan masyarakat, atau telah bergerak terlalu jauh mengikuti logika investasi semata?
Pertanyaan itu seharusnya tidak dianggap sebagai penolakan terhadap pembangunan. Sebaliknya, ia merupakan upaya menyelamatkan pembangunan agar tidak berubah menjadi penghancuran.
Belajar dari China Tanpa Melupakan Tibet, Belajar dari Bali Tanpa Kehilangan Bali
China menunjukkan bahwa sebuah negara dapat bergerak sangat cepat apabila memiliki visi pembangunan, disiplin kebijakan, dan keberanian mengambil keputusan. Dari China kita dapat belajar tentang infrastruktur, teknologi, pendidikan, industri, dan orientasi jangka panjang.
Tetapi Tibet mengingatkan bahwa keberhasilan material tidak otomatis menyelesaikan persoalan manusia. Ada sesuatu yang lebih dalam daripada pertumbuhan ekonomi: identitas, kebudayaan, spiritualitas, rasa memiliki, dan hubungan manusia dengan tanah kelahirannya.
Demikian pula Bali. Kita tidak perlu menolak investasi, teknologi, modernisasi, ataupun pembangunan infrastruktur. Bali membutuhkan semuanya. Yang harus ditolak adalah pembangunan yang kehilangan batas, kehilangan arah, dan kehilangan kesadaran mengenai daya dukung pulau.
Di sinilah kritik terhadap pembangunan Bali seharusnya ditempatkan. Jangan sampai orang yang mempertanyakan reklamasi, alih fungsi lahan, kerusakan lingkungan, atau pembangunan yang melampaui tata ruang justru dicap anti-pembangunan.
Justru sebaliknya. Mereka mungkin sedang mempertahankan makna pembangunan yang sesungguhnya.
Pembangunan bukan sekadar membuat sesuatu menjadi lebih besar. Pembangunan adalah membuat kehidupan menjadi lebih baik. Jika hotel bertambah tetapi masyarakat lokal kehilangan tanah, apakah itu kemajuan? Jika investasi meningkat tetapi air semakin sulit diperoleh, apakah itu kemajuan?
Jika kawasan wisata semakin mewah tetapi kemacetan, sampah, dan tekanan ekologis meningkat, apakah kita sedang membangun kesejahteraan atau sekadar memperbesar konsumsi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan “mata ketiga” yang diperlukan Bali hari ini. Dua mata melihat peluang ekonomi. Mata ketiga melihat konsekuensi jangka panjangnya.
Tanpa mata ketiga, pembangunan mudah terpesona oleh angka. Pertumbuhan ekonomi menjadi tujuan, investasi menjadi ukuran keberhasilan, sementara kerusakan lingkungan dan hilangnya ruang budaya dianggap sebagai biaya pembangunan yang harus diterima.
Padahal tidak semua biaya dapat dihitung dengan rupiah.
Bali Membutuhkan Mata Ketiga
Barangkali inilah relevansi paling dalam dari Tibet dan The Third Eye bagi Bali hari ini. Kita membutuhkan kemampuan untuk melihat pembangunan bukan hanya dengan mata ekonomi, tetapi juga dengan mata ekologis, budaya, sosial, dan spiritual.
Bali sesungguhnya tidak perlu mengimpor seluruh konsep pembangunan dari luar. Leluhur telah meninggalkan kerangka yang sangat kuat. Tri Hita Karana mengajarkan keseimbangan hubungan manusia dengan Dia Yang Satu Adanya, sesama manusia, dan alam lingkungan.
Karena itu, pembangunan yang menghancurkan keseimbangan tersebut pada dasarnya bukan modernisasi. Ia adalah kehilangan arah yang dibungkus dengan nama kemajuan.
Pansus TRAP seharusnya tidak hanya dibaca sebagai persoalan politik atau administratif. Ia dapat menjadi momentum bagi Bali untuk melakukan introspeksi: Bali macam apa yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya?
Apakah Bali akan menjadi pulau yang semakin penuh bangunan, tetapi semakin kehilangan ruang hidup? Ataukah Bali akan menjadi contoh bahwa modernisasi dapat berjalan berdampingan dengan budaya, alam, dan spiritualitas?
Di sinilah pengalaman Tibet memberikan cermin, bukan untuk disamakan, tetapi untuk direnungkan. Sebuah peradaban dapat berubah secara drastis ketika kekuatan pembangunan dan politik bergerak lebih cepat daripada kemampuan tradisi mempertahankan ruang hidupnya.
Bali jangan sampai mengalami bentuk kehilangan yang berbeda. Jangan sampai suatu hari kita memiliki infrastruktur yang sangat modern, kawasan wisata yang sangat mewah, dan ekonomi yang sangat besar, tetapi kemudian bertanya: di mana Bali yang dahulu kita kenal?
China mengajarkan pentingnya keberanian membangun. Tibet mengingatkan pentingnya menjaga jiwa. Bali memiliki kesempatan untuk belajar dari keduanya.
Karena itu, pembangunan Bali membutuhkan dua mata yang melihat ke depan dan satu “mata ketiga” yang melihat ke dalam. Mata pertama melihat pertumbuhan. Mata kedua melihat risiko. Mata ketiga melihat makna.
Sebab Bali tidak kekurangan pembangunan. Yang sedang kita perlukan adalah pembangunan yang tahu kapan harus maju, kapan harus berhenti, dan apa yang tidak boleh dikorbankan.
Bila pembangunan kehilangan batas, ia dapat berubah menjadi eksploitasi. Bila modernisasi kehilangan akar, ia dapat berubah menjadi keterasingan. Tetapi bila kemajuan berjalan bersama kesadaran, Bali masih mungkin menunjukkan kepada dunia bahwa menjadi modern tidak harus berarti kehilangan jiwa. [T]






























