ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata rapi, dihaturkan sesajen, lalu dipanjatkan doa-doa. Buku-buku yang biasanya tergeletak di meja, terselip di dalam tas, atau berdebu di rak, hari itu menjadi pusat perhatian. Di Bali, hari istimewa itu bernama hari Saraswati.
Setiap 210 hari, tepat pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung, umat Hindu di Bali merayakan turunnya ilmu pengetahuan. Dewi Saraswati dipuja sebagai simbol ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, dan seni. Sebuah perayaan yang menarik. Sebab, di tengah begitu banyak hari raya, ada satu hari yang secara khusus dipersembahkan untuk ilmu pengetahuan.
Barangkali tidak banyak kebudayaan yang memberikan tempat begitu istimewa kepada buku. Benda yang sehari-hari kita buka, baca, coret, bahkan kadang kita abaikan, pada Hari Saraswati diperlakukan dengan penuh hormat. Ada kesadaran bahwa di balik lembaran-lembaran kertas itu tersimpan pengetahuan yang memungkinkan manusia memahami dunia.
Namun, di tengah kekhidmatan merayakan Saraswati, ada pertanyaan sederhana yang menarik untuk direnungkan. Sudahkah kita benar-benar membaca buku-buku yang kita upacarai? Seberapa sering kita membuka halaman-halamannya, menyelami isinya, lalu membiarkan pengetahuan di dalamnya memperkaya cara kita memandang kehidupan?
Pertanyaan ini bukan untuk mengurangi makna hari Saraswati. Justru sebaliknya, untuk memperluas makna penghormatan kita kepada ilmu pengetahuan. Sebab, sejatinya penghormatan yang tulus kepada pengetahuan bukan hanya dengan mempersembahkan sesajen, tetapi juga dengan membaca, mempelajari, memahami, dan mengamalkannya.
Buku yang diletakkan di tempat terhormat tentu memiliki nilai simbolis. Namun, buku juga ingin dibuka. Halaman-halamannya ingin dibaca. Gagasan di dalamnya ingin dipikirkan, dipertanyakan, bahkan diperdebatkan. Sebab, pengetahuan akan terus hidup ketika manusia bersedia berjumpa dengannya.
Tentu saja, ilmu pengetahuan tidak hanya tinggal di dalam buku. Ia hidup dalam percakapan, pengalaman, pengamatan, dan rasa ingin tahu. Seorang petani belajar membaca musim. Nelayan memahami arah angin. Seniman menemukan pengetahuan melalui gerak, bunyi, dan warna. Anak kecil yang terus bertanya tentang segala sesuatu juga sedang menempuh jalannya sendiri menuju pengetahuan.
Karena itu, merayakan Saraswati sesungguhnya juga merayakan rasa ingin tahu manusia. Kita membaca karena ingin memahami. Kita bertanya karena ada sesuatu yang belum jelas. Kita belajar karena dunia selalu menyimpan hal-hal baru untuk ditemukan.
Apalagi sekarang, ketika informasi seolah berada di ujung jari. Melalui gawai pintar, kita bisa mencari jawaban atas hampir semua pertanyaan. Bahkan, kecerdasan buatan dapat membantu menjelaskan hal-hal yang sebelumnya terasa rumit. Namun, kemudahan memperoleh jawaban kadang membuat kita lupa menikmati proses mencari dan memahami. Kita menjadi cepat tahu, tetapi belum tentu benar-benar mengerti.
Di tengah kehidupan yang serba cepat, perayaan hari Saraswati mengingatkan kita untuk kembali memberi ruang bagi kegiatan membaca, belajar, dan berpikir. Bukan semata-mata untuk menjadi orang pintar, melainkan untuk memperluas pandangan, memahami orang lain, dan menjalani kehidupan dengan lebih arif.
Ada sesuatu yang indah ketika masyarakat meluangkan waktu untuk menghormati ilmu pengetahuan. Akan lebih indah lagi jika penghormatan itu tumbuh menjadi kebiasaan membaca, kegemaran berdiskusi, serta keberanian untuk terus belajar sepanjang hayat.
Maka, setelah dupa padam dan sesajen diangkat, buku-buku itu akan kembali ke tempatnya. Sebagian mungkin kembali memenuhi rak. Sebagian lagi dibawa ke sekolah, kampus, atau tempat kerja.
Tetapi semoga buku-buku itu tidak kembali dilupakan hingga Saraswati berikutnya.
Sebab, barangkali persembahan paling tulus kepada Dewi Saraswati justru berlangsung pada hari-hari biasa. Ketika seseorang mengambil sebuah buku dari rak, membuka halaman pertamanya, lalu mulai membaca.
Tanpa bunga. Tanpa dupa. Tanpa sesajen. Hanya rasa ingin tahu dan keinginan untuk belajar. Bukankah itu juga cara yang indah untuk merayakan ilmu pengetahuan? [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole





























