PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi?
Hampir setengah tahun sudah hidup kami seperti berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Rumah yang dahulu menjadi tempat paling nyaman untuk beristirahat, kini seolah berpindah ke lorong-lorong rumah sakit, ruang tunggu, kamar rawat inap, dan bangku-bangku panjang tempat keluarga pasien menunggu kabar dari dokter.
Semua bermula ketika pendamping hidup saya divonis mengidap kanker paru-paru. Belum selesai kami mencerna kenyataan itu, kabar berikutnya datang seperti gelombang yang menghantam tanpa memberi kesempatan untuk bersiap: sel kanker telah bermetastasis hingga ke bagian kepala.
Ada saat-saat ketika saya merasa hidup seperti sedang menguji batas kemampuan manusia untuk menerima kenyataan. Kami tidak pernah merencanakan perjalanan semacam ini. Tidak pernah pula membayangkan bahwa sebagian besar waktu kami akan diisi dengan jadwal konsultasi, hasil pemeriksaan, tindakan medis, obat-obatan, dan berbagai keputusan yang harus diambil dengan hati yang tidak selalu tenang.
Namun, bukankah hidup memang sering berjalan di luar rencana? Kita boleh menyusun masa depan dengan begitu rapi, tetapi ada saatnya kehidupan datang membawa halaman-halaman yang tidak pernah kita pesan. Pada saat itulah kita belajar bahwa manusia tidak selalu bisa memilih apa yang akan terjadi, tetapi masih memiliki kesempatan untuk memilih bagaimana menjalaninya.
Dan kami memilih untuk terus berikhtiar. Dua kali operasi telah dijalani. Pembedahan pertama dan kedua bukanlah perkara sederhana, terlebih ketika yang terbaring di meja operasi adalah seseorang yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting dari kehidupan kita.
Saya menyaksikan bagaimana kata operasi berubah menjadi sesuatu yang sangat berbeda maknanya ketika kita mengalaminya sendiri. Dahulu, mungkin saya hanya memahaminya sebagai istilah medis. Kini, kata itu memiliki wajah, kecemasan, doa, dan waktu tunggu yang terasa begitu panjang.
Di ruang tunggu, menit berjalan seperti berjam-jam. Setiap pintu yang terbuka membuat kepala menoleh. Setiap langkah petugas medis memunculkan harapan sekaligus kecemasan. Kita belajar menunggu dengan cara yang tidak pernah diajarkan di bangku kuliah.
Setelah operasi, perjuangan belum selesai. Kemoterapi melalui tablet harus dijalani. Jika dihitung hingga tuntas, ada 62 tablet yang mesti diminum sesuai program pengobatan. Enam puluh dua tablet.
Bagi orang lain, angka itu mungkin sekadar jumlah obat. Bagi kami, setiap tablet adalah bagian dari perjalanan panjang menuju kesembuhan. Ada jadwal yang harus dipatuhi, ada kondisi tubuh yang harus diperhatikan, dan ada harapan yang kami titipkan pada setiap tahapan pengobatan. Semoga setelah seluruh rangkaian itu selesai, tubuhnya semakin kuat dan kesehatannya berangsur pulih.
Akhir bulan ini, perjuangan berikutnya menanti. Radioterapi pada bagian kepala, di area bekas operasi, dijadwalkan sebanyak sepuluh kali. Sepuluh kali datang ke rumah sakit. Sepuluh kali menjalani prosedur. Sepuluh kali pula kami belajar memperbarui keberanian.
Tentu saja, angka-angka itu tidak sesederhana kelihatannya. Di baliknya ada perjalanan, tenaga, biaya, waktu, dan perasaan yang kadang sulit dijelaskan kepada orang lain. Ada tubuh yang harus bertahan, ada pikiran yang harus dikuatkan, dan ada hati yang terus berusaha percaya bahwa esok masih menyimpan kemungkinan baik.
***
Saya tidak tahu bagaimana akhir perjalanan ini nanti. Tidak seorang pun benar-benar mengetahui apa yang menunggu di tikungan kehidupan. Tetapi saya tahu satu hal: selama masih ada jalan ikhtiar yang dapat ditempuh, kami ingin terus berjalan.
Kalau ingatan saya tidak keliru, sudah lima kali pendamping hidup saya menjalani rawat inap di rumah sakit kanker pusat. Lima kali masuk kamar perawatan. Lima kali pula kami harus menyesuaikan diri dengan suasana yang sama, tetapi selalu membawa cerita dan kecemasan yang berbeda.
Ada bunyi alat medis yang sesekali memecah keheningan. Ada langkah perawat yang datang memeriksa keadaan pasien. Ada percakapan lirih dari kamar sebelah. Ada keluarga yang tidur sambil duduk karena tidak ingin terlalu jauh dari orang yang dicintainya.
Rumah sakit ternyata bukan hanya tempat orang sakit berjuang melawan penyakit. Rumah sakit juga menjadi tempat keluarga belajar menghadapi ketakutan, menerima keterbatasan, dan memahami arti kehadiran. Di sana saya melihat bahwa cinta tidak selalu hadir dalam kalimat-kalimat romantis.
Cinta kadang hadir dalam tangan yang membantu seseorang bangkit dari tempat tidur. Dalam kesediaan menunggu hasil pemeriksaan berjam-jam. Dalam langkah kecil menuju apotek. Dalam kesabaran mendengarkan keluhan yang sama berulang kali. Bahkan dalam diam, ketika kita tidak tahu harus mengatakan apa selain, “Kita jalani bersama, ya.”
Dahulu, mungkin kita mengira mendampingi pasangan berarti berjalan berdampingan ketika hidup sedang baik-baik saja. Pergi berlibur bersama, menikmati makanan kesukaan, berbincang tentang anak-anak, pekerjaan, atau rencana masa depan.
Namun, ketika penyakit datang, makna pendampingan memperoleh kedalaman yang berbeda. Kini, berjalan berdampingan bisa berarti mendorong kursi roda. Bisa berarti menunggu di depan ruang radiologi. Bisa berarti menguatkan seseorang yang sedang takut, padahal diri sendiri pun sebenarnya sedang berusaha keras agar tidak runtuh.
Saya mulai memahami bahwa kesetiaan bukan hanya soal siapa yang tinggal ketika kehidupan terasa menyenangkan. Kesetiaan juga tentang siapa yang bersedia bertahan ketika hari-hari dipenuhi ketidakpastian. Mungkin, justru pada saat-saat seperti itulah cinta memperlihatkan wajahnya yang paling jujur.
Ada satu hal yang perlahan saya pelajari selama menjalani hari-hari di rumah sakit: manusia tidak selalu membutuhkan nasihat panjang untuk merasa kuat. Terkadang, ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.
Di warung, kantin, atau mushola rumah sakit, saya sering bertemu dengan keluarga pasien lain. Percakapan kami biasanya sederhana. Berawal dari pertanyaan tentang kamar perawatan, jadwal tindakan, atau sudah berapa lama menjalani pengobatan.
Lambat laun, percakapan itu menjadi lebih pribadi. Ada yang bercerita tentang suaminya. Ada yang menceritakan perjuangan istrinya. Ada pula yang mendampingi orang tua atau anaknya. Masing-masing datang dari latar belakang yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh satu pengalaman yang hampir serupa: mencintai seseorang yang sedang berjuang melawan penyakit serius.
Kami mungkin tidak saling mengenal sebelumnya. Tidak mengetahui pekerjaan, jabatan, pendidikan, atau kehidupan keluarga masing-masing. Namun, di antara meja kantin dan sajadah mushola, semua perbedaan itu seolah kehilangan arti pentingnya. Yang tersisa hanyalah manusia yang sedang berharap.
“Semoga cepat membaik, ya.”
“Semoga pengobatannya lancar.”
“Yang sabar, Pak. Kita berusaha dan berdoa.”
Kalimat-kalimat itu sederhana. Tidak mengandung teori yang rumit. Tidak disusun dengan bahasa akademik. Tetapi sering kali terasa lebih menenteramkan daripada uraian panjang tentang kehidupan. Kami saling menguatkan, meskipun sebenarnya masing-masing juga sedang membutuhkan kekuatan.
Ada semacam solidaritas yang tumbuh secara alami. Kami tidak perlu membuat organisasi, memilih ketua, atau menyusun program kerja. Penderitaan telah mempertemukan kami dalam sebuah persaudaraan yang tidak direncanakan.
Di sana saya belajar bahwa empati tidak selalu lahir dari kemampuan memahami seluruh penderitaan orang lain. Kadang-kadang, empati tumbuh justru karena kita mengakui bahwa kita pun tidak sepenuhnya mengerti, tetapi bersedia menemani.
Kami tidak bisa menjanjikan kesembuhan kepada keluarga pasien lain. Mereka pun tidak bisa menjanjikannya kepada kami. Namun, kami dapat memberikan sesuatu yang tidak kalah berharga: keyakinan bahwa tidak seorang pun harus merasa sendirian dalam menghadapi kesulitannya. Barangkali itulah salah satu bentuk kemanusiaan yang paling sederhana sekaligus paling agung.
***
Di tengah perjalanan ini, doa menjadi bagian yang tidak pernah terpisahkan dari kehidupan kami. Doa dipanjatkan ketika berangkat ke rumah sakit. Doa dibisikkan ketika menunggu tindakan medis. Doa mengiringi langkah menuju kamar perawatan. Bahkan ketika malam semakin larut dan pikiran mulai dipenuhi berbagai kemungkinan, doa tetap menjadi tempat hati bersandar.
Kami memohon kepada Allah SWT, Zat Yang Maha Penyembuh, agar diberikan kekuatan, kemudahan, dan kesembuhan bagi pendamping hidup saya. Saya tahu, berdoa bukan berarti kita mengetahui bagaimana Allah akan menjawab permohonan kita. Berdoa juga bukan jaminan bahwa semua yang kita inginkan akan terjadi persis seperti yang kita bayangkan.
Tetapi doa membuat saya menyadari bahwa ada batas kemampuan manusia yang harus diakui dengan rendah hati. Kita dapat mencari dokter terbaik, mengikuti prosedur pengobatan, mematuhi jadwal terapi, dan melakukan berbagai ikhtiar yang tersedia. Semua itu penting dan harus dijalani dengan sungguh-sungguh.
Namun, pada akhirnya, kita juga harus menerima bahwa kehidupan tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita. Di situlah saya mulai memahami perbedaan antara menyerah dan berserah diri. Menyerah berarti berhenti berusaha karena merasa tidak ada lagi harapan. Berserah diri berarti tetap berusaha sebaik mungkin, sambil menyadari bahwa hasil akhirnya tidak sepenuhnya menjadi milik kita.
Kami tidak ingin menjadikan tawakal sebagai alasan untuk berhenti berikhtiar. Sebaliknya, kami ingin menjadikan keimanan sebagai sumber kekuatan agar tetap mampu menjalani pengobatan dengan sabar dan penuh harapan.
Saya tidak meminta kehidupan selalu mudah. Saya hanya berharap Allah memberikan kekuatan agar kami mampu melewati apa pun yang sedang dan akan kami hadapi. Jika kesembuhan masih terbentang di depan, semoga jalan menuju ke sana dimudahkan. Jika masih ada tahapan panjang yang harus dilalui, semoga kami diberi ketabahan. Dan jika ada kenyataan yang belum mampu kami pahami, semoga hati kami tetap dijaga agar tidak kehilangan iman dan harapan.
***
Hampir setengah tahun menjalani perjalanan dari rumah sakit ke rumah sakit membuat saya memandang kehidupan dengan cara yang berbeda. Dahulu, waktu terasa seperti sesuatu yang selalu tersedia. Kita menggunakannya untuk bekerja, mengejar cita-cita, memenuhi berbagai tanggung jawab, dan sesekali mengeluh karena merasa terlalu sibuk.
Sekarang, satu hari yang tenang terasa begitu berharga. Satu pagi tanpa keluhan yang berarti menjadi sesuatu yang patut disyukuri. Satu malam dengan tidur yang lebih nyaman terasa seperti hadiah. Bahkan percakapan ringan di rumah, yang dahulu mungkin dianggap biasa, kini memiliki makna tersendiri.
Saya mulai mengerti bahwa kebahagiaan tidak selalu berupa peristiwa besar. Ia bisa hadir dalam hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian kita. Secangkir teh yang diminum bersama. Tatapan mata yang saling memahami. Senyum sederhana setelah menjalani pemeriksaan. Atau kesempatan untuk pulang dari rumah sakit dan kembali beristirahat di rumah sendiri.
Ternyata, ketika kehidupan berhadapan dengan penyakit, ukuran tentang apa yang penting perlahan berubah. Hal-hal yang dahulu terasa mendesak kadang kehilangan urgensinya. Sementara hal-hal yang selama ini dianggap biasa justru menjadi sangat berarti.
Kita mulai memahami bahwa kesehatan bukan sekadar modal untuk bekerja dan beraktivitas. Kesehatan adalah kesempatan untuk hadir bagi orang-orang yang kita cintai. Dan waktu bukan sekadar angka dalam kalender. Waktu adalah ruang yang diberikan kepada kita untuk menyayangi, menemani, memaafkan, dan mengucapkan terima kasih.
Barangkali, kita memang perlu sesekali berhenti dari hiruk-pikuk kehidupan agar mampu melihat kembali apa yang sebenarnya paling berharga. Bukan untuk menunggu datangnya penyakit, melainkan untuk belajar menghargai kehidupan sebelum kita dipaksa menyadari betapa rapuhnya ia.
Saya tidak tahu berapa panjang lagi perjalanan ini. Masih ada radioterapi yang harus dijalani. Masih ada pemeriksaan dan evaluasi pengobatan. Masih ada hari-hari yang mungkin membawa kabar baik, tetapi mungkin pula menghadirkan kecemasan baru.
Saya tidak ingin berpura-pura selalu kuat. Ada kalanya kelelahan datang, pikiran terasa penuh, dan hati ingin beristirahat dari segala ketidakpastian. Saya hanyalah manusia biasa yang sedang berusaha mendampingi seseorang yang sangat dicintai.
Tetapi setiap kali perasaan itu datang, saya kembali mengingat wajah-wajah yang saya temui di kantin, warung, dan mushola rumah sakit. Mereka juga sedang berjuang. Mereka juga memiliki kecemasan. Mereka juga menyimpan doa-doa yang mungkin tidak pernah mereka ceritakan kepada siapa pun.
Lalu saya menyadari, hidup bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling kuat. Hidup adalah perjalanan untuk saling menguatkan ketika kekuatan kita mulai berkurang. Jika hari ini saya mampu menghibur orang lain, mungkin besok saya sendiri yang membutuhkan penghiburan. Jika hari ini saya memberikan semangat kepada keluarga pasien lain, mungkin pada kesempatan berikutnya sayalah yang membutuhkan kalimat sederhana untuk bertahan.
Begitulah kehidupan mengajarkan kerendahan hati. Kita tidak pernah benar-benar berdiri sendirian. Ada tangan-tangan yang membantu, ada orang-orang yang mendoakan, ada tenaga medis yang bekerja dengan keahliannya, ada keluarga yang terus mendampingi, dan ada orang-orang asing yang kehadirannya sebentar tetapi meninggalkan kesan mendalam.
Di antara semua itu, kami terus melangkah, satu hari demi satu hari. Bukan karena kami tidak takut, melainkan karena rasa takut tidak harus menjadi alasan untuk berhenti. Bukan karena kami mengetahui akhir cerita, melainkan karena kami percaya bahwa setiap hari masih layak dijalani dengan ikhtiar, kasih sayang, dan doa.
***
Malam nanti, mungkin saya kembali memanjatkan doa yang sama. Memohon agar pendamping hidup saya diberi kekuatan menjalani pengobatan. Memohon agar setiap tahapan terapi membawa manfaat terbaik. Memohon agar Allah SWT membukakan jalan menuju kesehatan dan memberikan ketenangan bagi kami sekeluarga.
Saya tidak meminta kehidupan mengembalikan semua hal persis seperti dahulu. Saya hanya berharap kami masih diberi kesempatan untuk menikmati hari-hari bersama, menyaksikan pagi yang baru, berbincang tentang hal-hal sederhana, dan mensyukuri waktu yang masih dipercayakan kepada kami.
Sebab kini saya semakin memahami, cinta bukan hanya tentang berapa lama dua orang hidup bersama. Cinta juga tentang bagaimana seseorang memilih untuk tetap hadir ketika perjalanan bersama itu menjadi berat. Dan selama kesempatan untuk mendampingi masih diberikan, saya ingin terus berjalan. Dari rumah sakit ke rumah sakit. Dari satu ikhtiar menuju ikhtiar berikutnya. Dari satu doa menuju doa yang lain.
Dengan harapan yang mungkin sesekali melemah, tetapi tidak ingin kami padamkan. Sebab bagi manusia yang mencintai, harapan bukanlah kepastian bahwa segala sesuatu akan berakhir seperti yang diinginkan. Harapan adalah keberanian untuk tetap melakukan yang terbaik, meskipun kita belum mengetahui bagaimana akhir perjalanan.
Dan di tengah semua ketidakpastian itu, kami terus mengetuk pintu rahmat-Nya. Ya Allah, Engkau Yang Maha Penyembuh. Berikanlah kesembuhan kepada pendamping hidupku. Kuatkan tubuhnya, tenangkan hatinya, mudahkan setiap proses pengobatannya, dan tuntunlah kami agar tetap sabar, ikhlas, serta tidak kehilangan harapan.
Amin ya Rabbal ‘alamin.[T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole






























