3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  —Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
March 18, 2026
in Panggung
Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  —Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Seorang gadis dengan busana kemeja putih, destar bermotif batik, dan rok merah tampil dengan percaya diri di atas panggung beralas merah sembari menuturkan sebuah kisah legenda dari tradisi di Desa Giri Mas dan Desa Adat Sangit—dua desa yang terletak di bagian timur Kabupaten Buleleng, Bali—yaitu Tradisi Ngusaba Bukakak. Gadis mungil itu tak hanya bercerita, namun bermain peran.

Gadis itu bernama Putu Meda Putri. Siswi SDN 4 Singaraja itu memiliki suara lembut saat bercerita, namun sangat berbeda ketika ia bermain peran menjadi pria yang memuja kepada Dewa Siwa. Dengan  suara beratnya, mengucapkan dialog-dialog yang menegaskan perdebatannya kepada para kaum pemuja Dewa Wisnu. Dialog beralih, Meda pun berubah. Suaranya dinaikkan, gerakan tubuhnya lebih cepat dengan alat peraga yang semakin memperdalam karakter-karakter yang ia perankan.

Karena penuh semangat, alat peraga itu melayang menjauhi Meda. Ia hanya menatap, kaget. Si Mungil terdiam, satu kata dua patah tak keluar dari mulutnya. Kesunyian datang sehabis suaranya menggelegar seisi halaman Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (DAPD) Buleleng.  Semua siswa, para pendamping, juri  (dan saya sendiri) juga ikut membisu. Ada beberapa orang terkekeh melihat kelucuan dari Si Gadis.

Di tengah keheningan dan kekehan, seseorang tertawa dan bertepuk tangan. Aksi itu diikuti oleh yang lainnya (termasuk saya). Seolah ingin memberitahu kepada Meda bahwa dirinya pantas berada di Panggung beralas merah itu, dan menyemangatinya untuk kembali bertuturkan cerita. Aksi ini membuat Meda kembali mengeluarkan suaranya yang tegar dan menyelesaikan kisah yang ia bawakan.

Legenda Tradisi Bukakak yang dibawakan oleh Meda adalah salah satu dari 59 kisah yang dituturkan oleh teman-teman sebayanya. Kisah-kisah yang dibawakan pun menarik. Di antaranya Legenda Asal Mula Selat Bali, Legenda Kebo Iwa, Kisah Jayaprana dan Layonsari, Kisah Perang Puputan, dan masih banyak legenda dan cerita Bali yang hadir untuk memeriahkan Lomba Bertutur Tingkat SD yang diselenggarakan oleh DAPD Buleleng, sebagai bentuk partisipasi mereka dalam  Ulang Tahun Kota Singaraja Ke-422.

Tahun lalu, DAPD Buleleng juga melaksanakan lomba bertutur yang diselenggarakan pada kantor mereka. Di tahun 2026, mereka menyelenggarakan kembali. Mengundang sembilan kecamatan di Kabupaten Buleleng, dengan masing-masing kecamatan mengirimkan enam peserta untuk mewakili wilayahnya.. Tema yang dibawakan tahun ini ialah “Bhineka Shanti Jagadhita” yang memiliki arti “Dalam Keberagaman, Masyarakat Singaraja tetap menjunjung tinggi persatuan.”

Ketika saya sedang asyik mendengar tutur seorang siswa SD lain di luar area lomba, saya didekati oleh seorang guru SDN 2 Tista. Ia hadir dengan keresahan melihat anak muda yang tak lagi ingin membaca. Ia merasa bersyukur lomba ini hadir untuk bisa meningkatkan literasi anak muda, terutama anak sekolah dasar.

Lomba ini pun memiliki tujuan yang jelas, meningkatkan kemampuan literasi, kemampuan untuk berkomunikasi, dan pengenalan atas budaya melalui cerita rakyat atau legenda. Itu yang tersampaikan melalui pidato Bapak Bupati Buleleng, Dr. I Nyoman Sutjidra.

Obrolan kami didengar oleh seorang penjual bakso yang memang membuka stand di acara itu. Dia bertanya. “Tergantung anaknya gak sih, Pak?” Pertanyaan itu berhasil memantik Sang Guru untuk berbicara semakin dalam, dan sang penjual merespon. Sebagai seorang mahasiswa, penjual bakso tersebut mengatakan bahwa skill literasi sangat dibutuhkan di masa perkuliahan. Jadi ia rasa, kehadiran lomba ini bisa saja menarik keinginan untuk membaca, namun perlu ada pendekatan kepada para siswa-siswi sekolah dasar ini.

Sementara guru dan penjual bakso berbincang, saya melihat langsung bagaimana literasi diterapkan dalam praktik—dari puluhan para guru yang menyiapkan naskah, hingga para siswa yang memerankan ceritanya dengan penuh percaya diri. Termasuk juga seorang guru yang sudah lama menyukai dunia sastra yang ditantang untuk  kembali berkarya dan seorang siswi melakukan tumpuan pertama dalam menentukan jati dirinya.

Kasih Guru untuk Muridnya yang Tiada Tara

Meda turun dari panggung merah itu, berjalan mendekati seorang wanita bersanggul dengan pakaian batik ungu gelap. Meda langsung memeluk wanita itu yang ternyata adalah pendamping sekaligus guru yang membantunya mempersiapkan lomba bertutur, dari menyiapkan naskah “Legenda Tradisi Bukakak”, sampai melatihnya. Gurunya pula yang memberikannya dukungan aksi bertepuk tangan yang diikuti oleh semua orang.

Desak Made Suciningsih adalah seorang guru SD Negeri 4 Singaraja yang datang pada lomba bertutur tersebut dengan prinsip “tak ingin menggunakan cerita yang sudah ia tulis” saking banyaknya cerita yang ia tuliskan. Seperti kisah “Ida Ayu Mas Melanting”, “Jro Jempiring”, “Jayaprana dan Layonsari”, dll. Banyak prestasi yang berhasil ia raih, sehingga Suciningsih menolak menggunakan cerita lawas untuk naskah lomba kali ini.

“Asal Usul Putri Luh Cendrasari dipakai SD lain di lomba ini, naskah saya dipinjam dan naskah itu juga pernah menang juara nasional tahun 2013. Pokoknya saya tidak mau mengulang cerita yang sama,” tegasnya.

Keteguhan hati Suciningsih dalam naskah nya terlihat pada perjuangannya mencari sumber dari arsip-arsip yang ada. Ia sampai mendatangi Perpustakaan Universitas Pendidikan Ganesha, mencari arsip yang tertinggal dan menemui hasil penelitian seorang mahasiswa IT yang tak lengkap informasi dan sumbernya. Tak puas, ia kemudian menyelami internet, mencari berbagai informasi terkait sejarah Desa Sangsit, dan menemukan kesimpulan yang ia tulis menjadi sebuah naskah.

Ide menuliskan kisah Tradisi Bukakak berawal dari rasa penasaran Suciningsih, “Entah kenapa tradisi ini seperti gawat sekali. Setiap tradisi berlangsung, jalanan desa Sangit ditutup.” Dari pencarian ini, Suciningsih menemukan sebuah perbedaan aliran antara kaum penyembah Siwa dan penyembah Wisnu di desa tersebut. Penemuan ini yang ia tuliskan dalam kisah Tradisi Bukakak. Tidak hanya sebagai bumbu tradisi semata, tapi sesuai dengan konsep yang ingin Suciningsih angkat—Persatuan dan Kesatuan.

“Tema pertimbangan ceritanya adalah persatuan. Karena di Desa itu ada dua aliran, yang di cerita ini saya ganti dengan sekte. Sekte ini beraliran Dewa Wisnu dan Dewa Siwa. Jadi saya jadikan satu ke dalam cerita,” jelas Suciningsih.

Suciningsih mengaku sudah memperhatikan Meda dari satu tahun yang lalu, lebih tepatnya saat Meda masih kelas 3. Suciningsih melihat karakternya terlebih dahulu, mencoba menyesuaikan karakter Meda dan naskah ceritanya agar lebih natural. Setelah menyesuaikan, ia mengajari Meda dalam pelafalan kata, nada, dan olah tubuhnya.

“Saya pelajari karakternya (Meda), terus saya buatkan naskah dan print. Baru mulai saat latih,” ucapnya sembari diperhatikan oleh Meda yang terduduk di kursi plastik berwarna merah.

Pelatihan dalam mempersiapkan lomba menghabiskan waktu selama 10 hari. Suciningsih mengajar Meda dengan selalu memberikannya contoh gerakan, pelafalan, dan vokal pada naskah. Ia menyuruh Meda untuk mencoba menirunya, dan Meda mampu untuk bermain peran dengan pelatihan tersebut.

“Kalau saya latihan itu kayak, saya di pandu dulu oleh Bu Desak (Suciningsih), dicontohin gitu. Baru saya disuruh peragain,” cerita Meda kepada saya. Meda juga menambahkan, bahwa ia menyukai dunia bermain peran dan tertarik mendalaminya sesaat ia diajarkan oleh sang guru.

Selama 26 tahun mengabdi di 8 sekolah yang berbeda, Suciningsih memberi tangannya. Ia merangkul para siswa yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri, membantu mengeksplorasi kemampuan mereka, dengan perjuangan yang tidak selalu mudah.

Meda adalah satu dari puluhan murid yang mendapatkan sebutir ilmu dari tangan besi Suciningsih. Mereka dipilih, dilatih, hingga mendapat juara dan menginjakkan kaki di negeri orang. Rasa kasih dan iba lah yang menggerakan diri Suciningsih dalam mendidik puluhan muridnya. Suciningsih mengakui hatinya tergerak apabila melihat seorang siswanya yang memiliki keterbatasan latar belakang, namun perilaku dan hati mereka memperlihatkan semangat untuk terus belajar.

“Tujuan saya mengajak semua anak lomba adalah untuk memberikan prestasi kepada anak yang cerdas nan baik hati. Apalagi kondisinya yang terbatas. Agar tidak susah mencari sekolah,” ucap sang wali kelas 3 tersebut.

Sebagai wali kelas dan guru mata pelajaran Bahasa Inggris, Suciningsih mempunyai cara tersendiri dalam membangkitkan jiwa percaya diri, sekaligus menemukan bibit-bibit unggul. Setiap jam kelasnya, ia mengajak para siswa di kelas untuk berbicara di depan teman-temannya. Bercerita dan mempresentasikan sembari ditonton ataupun terekam oleh ponsel milik Suciningsih.

Selain presentasi tugas, drama pun juga Bu Suciningsih kenalkan. Teks drama yang sudah dituangkan oleh Suciningsih, diperagakan oleh para siswa. Sehingga selama ia mengajar, ia dengan gampang mengetahui kemampuan anak didiknya. Yang bisa ia kembangkan lagi dalam perlombaan-perlombaan yang ada.

Selain lomba tutur, Suciningsih sudah mendatangi dan mengajari puluhan anak didiknya masing-masing dalam tiga bahasa—Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Bali—dengan berbagai lomba yang beragam. Diantaranya lomba mesatua, lomba pidato, lomba story telling, lomba pidarta. Kemampuan berbahasa yang sudah ia kuasai, ia tuangkan agar bisa dirasakan oleh murid-muridnya.

Walau dengan penuh rasa semangat dan perjuangan yang tak hentinya, Suciningsih merasakan sebuah perubahan kondisi pada anak muda yang justru mempersulitnya. Menurutnya, anak muda—terlebih anak sekolah dasar—memiliki kemampuan literasi yang sangat rendah. Ini dilihat dari kemampuan murid yang dilatihnya.

Suciningsih berkata, bahwa dulu anak didiknya mampu memahami beberapa kosakata Bahasa Inggris dalam 4 hari. Namun anak didiknya sekarang dalam waktu 2 minggu belum bisa memahaminya.

“Ya dulu kecepatan anak didik saya dalam menghafal dan menguasai kosakata Bahasa Inggris jauh lebih cepat, 4 hari bina sudah siap lomba dah juara 1 karena mereka ga pegang hp alias ga punya, sekarang dua minggu juga belum hapal,” tutur Suciningsih penuh resah. 

Selain dengan mengajak bercerita dan bermain peran, Suciningsih selalu merapikan dan mengatur rak pojok baca pada kelasnya. Buku-bukunya pun beragam, ada buku pelajaran, buku bergambar, dan buku cerita. Ini ia lakukan dengan harapan para siswanya akan tertarik mendekati buku-buku yang berjejer, mengambil, membuka per-halaman dan membaca.

Pojok baca itu hanyalah rumah bagi para debu. Tak ada siswa yang ingin mengambil buku-buku disana. Suciningsih hanya bisa berhela nafas. Banyak siswa hari ini yang membuatnya jengkel, mulai dari tak membawa buku, tidak membuat pr, bahkan tidak bersikap sopan.  Ia tak yakin pada anak muda yang sudah terjangkiti ponsel pintar yang menciptakan ketakutan baru dalam dirinya.

Kekhawatiran Suciningsih pula hadir dari reaksi para orang tua siswa. Ia mengaku bahwa kesibukan para orang tua malah membuat anak-anak mereka terlalu nyaman dan tak ada rasa ingin belajar dan berjuang. Kasih sayang orang tua bagaikan pedang bermata dua, yang membuat merugi sebab anak mereka menjadi apa yang ia sebut sebagai “mental strawberry.”

“Ya karena pada pegang hape. Orang tua sibuk mengurusi diri sendiri, sibuk mencari uang, gak peduli bagaimana anaknya. Ketika guru sedikit saja menegur, mereka sudah protes dan asal lapor saja,” kata Suciningsih.

Walau begitu, cinta kasih Suciningsih tiada tara. Ia mengabdikan dirinya kembali kepada anak-anaknya yang selalu menunggu pada pintu kelas mereka. Suciningsih selalu pulang lebih larut, meminjamkan rumahnya, atau mendatangi siswanya jika sudah menyangkut latihan lomba. Sudah banyak uang yang ia keluarkan demi kelancaran dan mendukung finansial anak didik yang ia dampingi.

Berbekal atas pengalaman dan kepercayaan pihak sekolah, Suciningsih dipercaya untuk mewakili SD 4 Singaraja dalam lomba bertutur tingkat SD. Ia bersama Meda, datang bersama pada hari ini. Mengeluarkan seluruh kemampuan masing-masing. Walaupun belum berhasil membawa pulang gelar juara, Meda telah menemukan sesuatu yang jauh lebih penting dari sebuah piala. Di atas panggung merah itu, ia menemukan keberanian untuk bercerita, sekaligus langkah pertama dalam perjalanan panjangnya mengenal dunia kata dan peran. [T]

Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Jaswanto

Tags: HUT Kota SingarajaLiterasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru Sejati, Upaya Menyelami Diri untuk Introspeksi, Evaluasi, dan Harmonisasi

Next Post

Arsitektur Kekosongan dalam Tradisi Nusantara   —Catatan Sunyi Nyepi 2026

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails
Next Post
Arsitektur Kekosongan dalam Tradisi Nusantara   —Catatan Sunyi Nyepi 2026

Arsitektur Kekosongan dalam Tradisi Nusantara   ---Catatan Sunyi Nyepi 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co