3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  —Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
March 18, 2026
in Panggung
Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  —Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Seorang gadis dengan busana kemeja putih, destar bermotif batik, dan rok merah tampil dengan percaya diri di atas panggung beralas merah sembari menuturkan sebuah kisah legenda dari tradisi di Desa Giri Mas dan Desa Adat Sangit—dua desa yang terletak di bagian timur Kabupaten Buleleng, Bali—yaitu Tradisi Ngusaba Bukakak. Gadis mungil itu tak hanya bercerita, namun bermain peran.

Gadis itu bernama Putu Meda Putri. Siswi SDN 4 Singaraja itu memiliki suara lembut saat bercerita, namun sangat berbeda ketika ia bermain peran menjadi pria yang memuja kepada Dewa Siwa. Dengan  suara beratnya, mengucapkan dialog-dialog yang menegaskan perdebatannya kepada para kaum pemuja Dewa Wisnu. Dialog beralih, Meda pun berubah. Suaranya dinaikkan, gerakan tubuhnya lebih cepat dengan alat peraga yang semakin memperdalam karakter-karakter yang ia perankan.

Karena penuh semangat, alat peraga itu melayang menjauhi Meda. Ia hanya menatap, kaget. Si Mungil terdiam, satu kata dua patah tak keluar dari mulutnya. Kesunyian datang sehabis suaranya menggelegar seisi halaman Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (DAPD) Buleleng.  Semua siswa, para pendamping, juri  (dan saya sendiri) juga ikut membisu. Ada beberapa orang terkekeh melihat kelucuan dari Si Gadis.

Di tengah keheningan dan kekehan, seseorang tertawa dan bertepuk tangan. Aksi itu diikuti oleh yang lainnya (termasuk saya). Seolah ingin memberitahu kepada Meda bahwa dirinya pantas berada di Panggung beralas merah itu, dan menyemangatinya untuk kembali bertuturkan cerita. Aksi ini membuat Meda kembali mengeluarkan suaranya yang tegar dan menyelesaikan kisah yang ia bawakan.

Legenda Tradisi Bukakak yang dibawakan oleh Meda adalah salah satu dari 59 kisah yang dituturkan oleh teman-teman sebayanya. Kisah-kisah yang dibawakan pun menarik. Di antaranya Legenda Asal Mula Selat Bali, Legenda Kebo Iwa, Kisah Jayaprana dan Layonsari, Kisah Perang Puputan, dan masih banyak legenda dan cerita Bali yang hadir untuk memeriahkan Lomba Bertutur Tingkat SD yang diselenggarakan oleh DAPD Buleleng, sebagai bentuk partisipasi mereka dalam  Ulang Tahun Kota Singaraja Ke-422.

Tahun lalu, DAPD Buleleng juga melaksanakan lomba bertutur yang diselenggarakan pada kantor mereka. Di tahun 2026, mereka menyelenggarakan kembali. Mengundang sembilan kecamatan di Kabupaten Buleleng, dengan masing-masing kecamatan mengirimkan enam peserta untuk mewakili wilayahnya.. Tema yang dibawakan tahun ini ialah “Bhineka Shanti Jagadhita” yang memiliki arti “Dalam Keberagaman, Masyarakat Singaraja tetap menjunjung tinggi persatuan.”

Ketika saya sedang asyik mendengar tutur seorang siswa SD lain di luar area lomba, saya didekati oleh seorang guru SDN 2 Tista. Ia hadir dengan keresahan melihat anak muda yang tak lagi ingin membaca. Ia merasa bersyukur lomba ini hadir untuk bisa meningkatkan literasi anak muda, terutama anak sekolah dasar.

Lomba ini pun memiliki tujuan yang jelas, meningkatkan kemampuan literasi, kemampuan untuk berkomunikasi, dan pengenalan atas budaya melalui cerita rakyat atau legenda. Itu yang tersampaikan melalui pidato Bapak Bupati Buleleng, Dr. I Nyoman Sutjidra.

Obrolan kami didengar oleh seorang penjual bakso yang memang membuka stand di acara itu. Dia bertanya. “Tergantung anaknya gak sih, Pak?” Pertanyaan itu berhasil memantik Sang Guru untuk berbicara semakin dalam, dan sang penjual merespon. Sebagai seorang mahasiswa, penjual bakso tersebut mengatakan bahwa skill literasi sangat dibutuhkan di masa perkuliahan. Jadi ia rasa, kehadiran lomba ini bisa saja menarik keinginan untuk membaca, namun perlu ada pendekatan kepada para siswa-siswi sekolah dasar ini.

Sementara guru dan penjual bakso berbincang, saya melihat langsung bagaimana literasi diterapkan dalam praktik—dari puluhan para guru yang menyiapkan naskah, hingga para siswa yang memerankan ceritanya dengan penuh percaya diri. Termasuk juga seorang guru yang sudah lama menyukai dunia sastra yang ditantang untuk  kembali berkarya dan seorang siswi melakukan tumpuan pertama dalam menentukan jati dirinya.

Kasih Guru untuk Muridnya yang Tiada Tara

Meda turun dari panggung merah itu, berjalan mendekati seorang wanita bersanggul dengan pakaian batik ungu gelap. Meda langsung memeluk wanita itu yang ternyata adalah pendamping sekaligus guru yang membantunya mempersiapkan lomba bertutur, dari menyiapkan naskah “Legenda Tradisi Bukakak”, sampai melatihnya. Gurunya pula yang memberikannya dukungan aksi bertepuk tangan yang diikuti oleh semua orang.

Desak Made Suciningsih adalah seorang guru SD Negeri 4 Singaraja yang datang pada lomba bertutur tersebut dengan prinsip “tak ingin menggunakan cerita yang sudah ia tulis” saking banyaknya cerita yang ia tuliskan. Seperti kisah “Ida Ayu Mas Melanting”, “Jro Jempiring”, “Jayaprana dan Layonsari”, dll. Banyak prestasi yang berhasil ia raih, sehingga Suciningsih menolak menggunakan cerita lawas untuk naskah lomba kali ini.

“Asal Usul Putri Luh Cendrasari dipakai SD lain di lomba ini, naskah saya dipinjam dan naskah itu juga pernah menang juara nasional tahun 2013. Pokoknya saya tidak mau mengulang cerita yang sama,” tegasnya.

Keteguhan hati Suciningsih dalam naskah nya terlihat pada perjuangannya mencari sumber dari arsip-arsip yang ada. Ia sampai mendatangi Perpustakaan Universitas Pendidikan Ganesha, mencari arsip yang tertinggal dan menemui hasil penelitian seorang mahasiswa IT yang tak lengkap informasi dan sumbernya. Tak puas, ia kemudian menyelami internet, mencari berbagai informasi terkait sejarah Desa Sangsit, dan menemukan kesimpulan yang ia tulis menjadi sebuah naskah.

Ide menuliskan kisah Tradisi Bukakak berawal dari rasa penasaran Suciningsih, “Entah kenapa tradisi ini seperti gawat sekali. Setiap tradisi berlangsung, jalanan desa Sangit ditutup.” Dari pencarian ini, Suciningsih menemukan sebuah perbedaan aliran antara kaum penyembah Siwa dan penyembah Wisnu di desa tersebut. Penemuan ini yang ia tuliskan dalam kisah Tradisi Bukakak. Tidak hanya sebagai bumbu tradisi semata, tapi sesuai dengan konsep yang ingin Suciningsih angkat—Persatuan dan Kesatuan.

“Tema pertimbangan ceritanya adalah persatuan. Karena di Desa itu ada dua aliran, yang di cerita ini saya ganti dengan sekte. Sekte ini beraliran Dewa Wisnu dan Dewa Siwa. Jadi saya jadikan satu ke dalam cerita,” jelas Suciningsih.

Suciningsih mengaku sudah memperhatikan Meda dari satu tahun yang lalu, lebih tepatnya saat Meda masih kelas 3. Suciningsih melihat karakternya terlebih dahulu, mencoba menyesuaikan karakter Meda dan naskah ceritanya agar lebih natural. Setelah menyesuaikan, ia mengajari Meda dalam pelafalan kata, nada, dan olah tubuhnya.

“Saya pelajari karakternya (Meda), terus saya buatkan naskah dan print. Baru mulai saat latih,” ucapnya sembari diperhatikan oleh Meda yang terduduk di kursi plastik berwarna merah.

Pelatihan dalam mempersiapkan lomba menghabiskan waktu selama 10 hari. Suciningsih mengajar Meda dengan selalu memberikannya contoh gerakan, pelafalan, dan vokal pada naskah. Ia menyuruh Meda untuk mencoba menirunya, dan Meda mampu untuk bermain peran dengan pelatihan tersebut.

“Kalau saya latihan itu kayak, saya di pandu dulu oleh Bu Desak (Suciningsih), dicontohin gitu. Baru saya disuruh peragain,” cerita Meda kepada saya. Meda juga menambahkan, bahwa ia menyukai dunia bermain peran dan tertarik mendalaminya sesaat ia diajarkan oleh sang guru.

Selama 26 tahun mengabdi di 8 sekolah yang berbeda, Suciningsih memberi tangannya. Ia merangkul para siswa yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri, membantu mengeksplorasi kemampuan mereka, dengan perjuangan yang tidak selalu mudah.

Meda adalah satu dari puluhan murid yang mendapatkan sebutir ilmu dari tangan besi Suciningsih. Mereka dipilih, dilatih, hingga mendapat juara dan menginjakkan kaki di negeri orang. Rasa kasih dan iba lah yang menggerakan diri Suciningsih dalam mendidik puluhan muridnya. Suciningsih mengakui hatinya tergerak apabila melihat seorang siswanya yang memiliki keterbatasan latar belakang, namun perilaku dan hati mereka memperlihatkan semangat untuk terus belajar.

“Tujuan saya mengajak semua anak lomba adalah untuk memberikan prestasi kepada anak yang cerdas nan baik hati. Apalagi kondisinya yang terbatas. Agar tidak susah mencari sekolah,” ucap sang wali kelas 3 tersebut.

Sebagai wali kelas dan guru mata pelajaran Bahasa Inggris, Suciningsih mempunyai cara tersendiri dalam membangkitkan jiwa percaya diri, sekaligus menemukan bibit-bibit unggul. Setiap jam kelasnya, ia mengajak para siswa di kelas untuk berbicara di depan teman-temannya. Bercerita dan mempresentasikan sembari ditonton ataupun terekam oleh ponsel milik Suciningsih.

Selain presentasi tugas, drama pun juga Bu Suciningsih kenalkan. Teks drama yang sudah dituangkan oleh Suciningsih, diperagakan oleh para siswa. Sehingga selama ia mengajar, ia dengan gampang mengetahui kemampuan anak didiknya. Yang bisa ia kembangkan lagi dalam perlombaan-perlombaan yang ada.

Selain lomba tutur, Suciningsih sudah mendatangi dan mengajari puluhan anak didiknya masing-masing dalam tiga bahasa—Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Bali—dengan berbagai lomba yang beragam. Diantaranya lomba mesatua, lomba pidato, lomba story telling, lomba pidarta. Kemampuan berbahasa yang sudah ia kuasai, ia tuangkan agar bisa dirasakan oleh murid-muridnya.

Walau dengan penuh rasa semangat dan perjuangan yang tak hentinya, Suciningsih merasakan sebuah perubahan kondisi pada anak muda yang justru mempersulitnya. Menurutnya, anak muda—terlebih anak sekolah dasar—memiliki kemampuan literasi yang sangat rendah. Ini dilihat dari kemampuan murid yang dilatihnya.

Suciningsih berkata, bahwa dulu anak didiknya mampu memahami beberapa kosakata Bahasa Inggris dalam 4 hari. Namun anak didiknya sekarang dalam waktu 2 minggu belum bisa memahaminya.

“Ya dulu kecepatan anak didik saya dalam menghafal dan menguasai kosakata Bahasa Inggris jauh lebih cepat, 4 hari bina sudah siap lomba dah juara 1 karena mereka ga pegang hp alias ga punya, sekarang dua minggu juga belum hapal,” tutur Suciningsih penuh resah. 

Selain dengan mengajak bercerita dan bermain peran, Suciningsih selalu merapikan dan mengatur rak pojok baca pada kelasnya. Buku-bukunya pun beragam, ada buku pelajaran, buku bergambar, dan buku cerita. Ini ia lakukan dengan harapan para siswanya akan tertarik mendekati buku-buku yang berjejer, mengambil, membuka per-halaman dan membaca.

Pojok baca itu hanyalah rumah bagi para debu. Tak ada siswa yang ingin mengambil buku-buku disana. Suciningsih hanya bisa berhela nafas. Banyak siswa hari ini yang membuatnya jengkel, mulai dari tak membawa buku, tidak membuat pr, bahkan tidak bersikap sopan.  Ia tak yakin pada anak muda yang sudah terjangkiti ponsel pintar yang menciptakan ketakutan baru dalam dirinya.

Kekhawatiran Suciningsih pula hadir dari reaksi para orang tua siswa. Ia mengaku bahwa kesibukan para orang tua malah membuat anak-anak mereka terlalu nyaman dan tak ada rasa ingin belajar dan berjuang. Kasih sayang orang tua bagaikan pedang bermata dua, yang membuat merugi sebab anak mereka menjadi apa yang ia sebut sebagai “mental strawberry.”

“Ya karena pada pegang hape. Orang tua sibuk mengurusi diri sendiri, sibuk mencari uang, gak peduli bagaimana anaknya. Ketika guru sedikit saja menegur, mereka sudah protes dan asal lapor saja,” kata Suciningsih.

Walau begitu, cinta kasih Suciningsih tiada tara. Ia mengabdikan dirinya kembali kepada anak-anaknya yang selalu menunggu pada pintu kelas mereka. Suciningsih selalu pulang lebih larut, meminjamkan rumahnya, atau mendatangi siswanya jika sudah menyangkut latihan lomba. Sudah banyak uang yang ia keluarkan demi kelancaran dan mendukung finansial anak didik yang ia dampingi.

Berbekal atas pengalaman dan kepercayaan pihak sekolah, Suciningsih dipercaya untuk mewakili SD 4 Singaraja dalam lomba bertutur tingkat SD. Ia bersama Meda, datang bersama pada hari ini. Mengeluarkan seluruh kemampuan masing-masing. Walaupun belum berhasil membawa pulang gelar juara, Meda telah menemukan sesuatu yang jauh lebih penting dari sebuah piala. Di atas panggung merah itu, ia menemukan keberanian untuk bercerita, sekaligus langkah pertama dalam perjalanan panjangnya mengenal dunia kata dan peran. [T]

Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Jaswanto

Tags: HUT Kota SingarajaLiterasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru Sejati, Upaya Menyelami Diri untuk Introspeksi, Evaluasi, dan Harmonisasi

Next Post

Arsitektur Kekosongan dalam Tradisi Nusantara   —Catatan Sunyi Nyepi 2026

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
Arsitektur Kekosongan dalam Tradisi Nusantara   —Catatan Sunyi Nyepi 2026

Arsitektur Kekosongan dalam Tradisi Nusantara   ---Catatan Sunyi Nyepi 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co