13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  —Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
March 18, 2026
in Panggung
Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  —Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Seorang gadis dengan busana kemeja putih, destar bermotif batik, dan rok merah tampil dengan percaya diri di atas panggung beralas merah sembari menuturkan sebuah kisah legenda dari tradisi di Desa Giri Mas dan Desa Adat Sangit—dua desa yang terletak di bagian timur Kabupaten Buleleng, Bali—yaitu Tradisi Ngusaba Bukakak. Gadis mungil itu tak hanya bercerita, namun bermain peran.

Gadis itu bernama Putu Meda Putri. Siswi SDN 4 Singaraja itu memiliki suara lembut saat bercerita, namun sangat berbeda ketika ia bermain peran menjadi pria yang memuja kepada Dewa Siwa. Dengan  suara beratnya, mengucapkan dialog-dialog yang menegaskan perdebatannya kepada para kaum pemuja Dewa Wisnu. Dialog beralih, Meda pun berubah. Suaranya dinaikkan, gerakan tubuhnya lebih cepat dengan alat peraga yang semakin memperdalam karakter-karakter yang ia perankan.

Karena penuh semangat, alat peraga itu melayang menjauhi Meda. Ia hanya menatap, kaget. Si Mungil terdiam, satu kata dua patah tak keluar dari mulutnya. Kesunyian datang sehabis suaranya menggelegar seisi halaman Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (DAPD) Buleleng.  Semua siswa, para pendamping, juri  (dan saya sendiri) juga ikut membisu. Ada beberapa orang terkekeh melihat kelucuan dari Si Gadis.

Di tengah keheningan dan kekehan, seseorang tertawa dan bertepuk tangan. Aksi itu diikuti oleh yang lainnya (termasuk saya). Seolah ingin memberitahu kepada Meda bahwa dirinya pantas berada di Panggung beralas merah itu, dan menyemangatinya untuk kembali bertuturkan cerita. Aksi ini membuat Meda kembali mengeluarkan suaranya yang tegar dan menyelesaikan kisah yang ia bawakan.

Legenda Tradisi Bukakak yang dibawakan oleh Meda adalah salah satu dari 59 kisah yang dituturkan oleh teman-teman sebayanya. Kisah-kisah yang dibawakan pun menarik. Di antaranya Legenda Asal Mula Selat Bali, Legenda Kebo Iwa, Kisah Jayaprana dan Layonsari, Kisah Perang Puputan, dan masih banyak legenda dan cerita Bali yang hadir untuk memeriahkan Lomba Bertutur Tingkat SD yang diselenggarakan oleh DAPD Buleleng, sebagai bentuk partisipasi mereka dalam  Ulang Tahun Kota Singaraja Ke-422.

Tahun lalu, DAPD Buleleng juga melaksanakan lomba bertutur yang diselenggarakan pada kantor mereka. Di tahun 2026, mereka menyelenggarakan kembali. Mengundang sembilan kecamatan di Kabupaten Buleleng, dengan masing-masing kecamatan mengirimkan enam peserta untuk mewakili wilayahnya.. Tema yang dibawakan tahun ini ialah “Bhineka Shanti Jagadhita” yang memiliki arti “Dalam Keberagaman, Masyarakat Singaraja tetap menjunjung tinggi persatuan.”

Ketika saya sedang asyik mendengar tutur seorang siswa SD lain di luar area lomba, saya didekati oleh seorang guru SDN 2 Tista. Ia hadir dengan keresahan melihat anak muda yang tak lagi ingin membaca. Ia merasa bersyukur lomba ini hadir untuk bisa meningkatkan literasi anak muda, terutama anak sekolah dasar.

Lomba ini pun memiliki tujuan yang jelas, meningkatkan kemampuan literasi, kemampuan untuk berkomunikasi, dan pengenalan atas budaya melalui cerita rakyat atau legenda. Itu yang tersampaikan melalui pidato Bapak Bupati Buleleng, Dr. I Nyoman Sutjidra.

Obrolan kami didengar oleh seorang penjual bakso yang memang membuka stand di acara itu. Dia bertanya. “Tergantung anaknya gak sih, Pak?” Pertanyaan itu berhasil memantik Sang Guru untuk berbicara semakin dalam, dan sang penjual merespon. Sebagai seorang mahasiswa, penjual bakso tersebut mengatakan bahwa skill literasi sangat dibutuhkan di masa perkuliahan. Jadi ia rasa, kehadiran lomba ini bisa saja menarik keinginan untuk membaca, namun perlu ada pendekatan kepada para siswa-siswi sekolah dasar ini.

Sementara guru dan penjual bakso berbincang, saya melihat langsung bagaimana literasi diterapkan dalam praktik—dari puluhan para guru yang menyiapkan naskah, hingga para siswa yang memerankan ceritanya dengan penuh percaya diri. Termasuk juga seorang guru yang sudah lama menyukai dunia sastra yang ditantang untuk  kembali berkarya dan seorang siswi melakukan tumpuan pertama dalam menentukan jati dirinya.

Kasih Guru untuk Muridnya yang Tiada Tara

Meda turun dari panggung merah itu, berjalan mendekati seorang wanita bersanggul dengan pakaian batik ungu gelap. Meda langsung memeluk wanita itu yang ternyata adalah pendamping sekaligus guru yang membantunya mempersiapkan lomba bertutur, dari menyiapkan naskah “Legenda Tradisi Bukakak”, sampai melatihnya. Gurunya pula yang memberikannya dukungan aksi bertepuk tangan yang diikuti oleh semua orang.

Desak Made Suciningsih adalah seorang guru SD Negeri 4 Singaraja yang datang pada lomba bertutur tersebut dengan prinsip “tak ingin menggunakan cerita yang sudah ia tulis” saking banyaknya cerita yang ia tuliskan. Seperti kisah “Ida Ayu Mas Melanting”, “Jro Jempiring”, “Jayaprana dan Layonsari”, dll. Banyak prestasi yang berhasil ia raih, sehingga Suciningsih menolak menggunakan cerita lawas untuk naskah lomba kali ini.

“Asal Usul Putri Luh Cendrasari dipakai SD lain di lomba ini, naskah saya dipinjam dan naskah itu juga pernah menang juara nasional tahun 2013. Pokoknya saya tidak mau mengulang cerita yang sama,” tegasnya.

Keteguhan hati Suciningsih dalam naskah nya terlihat pada perjuangannya mencari sumber dari arsip-arsip yang ada. Ia sampai mendatangi Perpustakaan Universitas Pendidikan Ganesha, mencari arsip yang tertinggal dan menemui hasil penelitian seorang mahasiswa IT yang tak lengkap informasi dan sumbernya. Tak puas, ia kemudian menyelami internet, mencari berbagai informasi terkait sejarah Desa Sangsit, dan menemukan kesimpulan yang ia tulis menjadi sebuah naskah.

Ide menuliskan kisah Tradisi Bukakak berawal dari rasa penasaran Suciningsih, “Entah kenapa tradisi ini seperti gawat sekali. Setiap tradisi berlangsung, jalanan desa Sangit ditutup.” Dari pencarian ini, Suciningsih menemukan sebuah perbedaan aliran antara kaum penyembah Siwa dan penyembah Wisnu di desa tersebut. Penemuan ini yang ia tuliskan dalam kisah Tradisi Bukakak. Tidak hanya sebagai bumbu tradisi semata, tapi sesuai dengan konsep yang ingin Suciningsih angkat—Persatuan dan Kesatuan.

“Tema pertimbangan ceritanya adalah persatuan. Karena di Desa itu ada dua aliran, yang di cerita ini saya ganti dengan sekte. Sekte ini beraliran Dewa Wisnu dan Dewa Siwa. Jadi saya jadikan satu ke dalam cerita,” jelas Suciningsih.

Suciningsih mengaku sudah memperhatikan Meda dari satu tahun yang lalu, lebih tepatnya saat Meda masih kelas 3. Suciningsih melihat karakternya terlebih dahulu, mencoba menyesuaikan karakter Meda dan naskah ceritanya agar lebih natural. Setelah menyesuaikan, ia mengajari Meda dalam pelafalan kata, nada, dan olah tubuhnya.

“Saya pelajari karakternya (Meda), terus saya buatkan naskah dan print. Baru mulai saat latih,” ucapnya sembari diperhatikan oleh Meda yang terduduk di kursi plastik berwarna merah.

Pelatihan dalam mempersiapkan lomba menghabiskan waktu selama 10 hari. Suciningsih mengajar Meda dengan selalu memberikannya contoh gerakan, pelafalan, dan vokal pada naskah. Ia menyuruh Meda untuk mencoba menirunya, dan Meda mampu untuk bermain peran dengan pelatihan tersebut.

“Kalau saya latihan itu kayak, saya di pandu dulu oleh Bu Desak (Suciningsih), dicontohin gitu. Baru saya disuruh peragain,” cerita Meda kepada saya. Meda juga menambahkan, bahwa ia menyukai dunia bermain peran dan tertarik mendalaminya sesaat ia diajarkan oleh sang guru.

Selama 26 tahun mengabdi di 8 sekolah yang berbeda, Suciningsih memberi tangannya. Ia merangkul para siswa yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri, membantu mengeksplorasi kemampuan mereka, dengan perjuangan yang tidak selalu mudah.

Meda adalah satu dari puluhan murid yang mendapatkan sebutir ilmu dari tangan besi Suciningsih. Mereka dipilih, dilatih, hingga mendapat juara dan menginjakkan kaki di negeri orang. Rasa kasih dan iba lah yang menggerakan diri Suciningsih dalam mendidik puluhan muridnya. Suciningsih mengakui hatinya tergerak apabila melihat seorang siswanya yang memiliki keterbatasan latar belakang, namun perilaku dan hati mereka memperlihatkan semangat untuk terus belajar.

“Tujuan saya mengajak semua anak lomba adalah untuk memberikan prestasi kepada anak yang cerdas nan baik hati. Apalagi kondisinya yang terbatas. Agar tidak susah mencari sekolah,” ucap sang wali kelas 3 tersebut.

Sebagai wali kelas dan guru mata pelajaran Bahasa Inggris, Suciningsih mempunyai cara tersendiri dalam membangkitkan jiwa percaya diri, sekaligus menemukan bibit-bibit unggul. Setiap jam kelasnya, ia mengajak para siswa di kelas untuk berbicara di depan teman-temannya. Bercerita dan mempresentasikan sembari ditonton ataupun terekam oleh ponsel milik Suciningsih.

Selain presentasi tugas, drama pun juga Bu Suciningsih kenalkan. Teks drama yang sudah dituangkan oleh Suciningsih, diperagakan oleh para siswa. Sehingga selama ia mengajar, ia dengan gampang mengetahui kemampuan anak didiknya. Yang bisa ia kembangkan lagi dalam perlombaan-perlombaan yang ada.

Selain lomba tutur, Suciningsih sudah mendatangi dan mengajari puluhan anak didiknya masing-masing dalam tiga bahasa—Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Bali—dengan berbagai lomba yang beragam. Diantaranya lomba mesatua, lomba pidato, lomba story telling, lomba pidarta. Kemampuan berbahasa yang sudah ia kuasai, ia tuangkan agar bisa dirasakan oleh murid-muridnya.

Walau dengan penuh rasa semangat dan perjuangan yang tak hentinya, Suciningsih merasakan sebuah perubahan kondisi pada anak muda yang justru mempersulitnya. Menurutnya, anak muda—terlebih anak sekolah dasar—memiliki kemampuan literasi yang sangat rendah. Ini dilihat dari kemampuan murid yang dilatihnya.

Suciningsih berkata, bahwa dulu anak didiknya mampu memahami beberapa kosakata Bahasa Inggris dalam 4 hari. Namun anak didiknya sekarang dalam waktu 2 minggu belum bisa memahaminya.

“Ya dulu kecepatan anak didik saya dalam menghafal dan menguasai kosakata Bahasa Inggris jauh lebih cepat, 4 hari bina sudah siap lomba dah juara 1 karena mereka ga pegang hp alias ga punya, sekarang dua minggu juga belum hapal,” tutur Suciningsih penuh resah. 

Selain dengan mengajak bercerita dan bermain peran, Suciningsih selalu merapikan dan mengatur rak pojok baca pada kelasnya. Buku-bukunya pun beragam, ada buku pelajaran, buku bergambar, dan buku cerita. Ini ia lakukan dengan harapan para siswanya akan tertarik mendekati buku-buku yang berjejer, mengambil, membuka per-halaman dan membaca.

Pojok baca itu hanyalah rumah bagi para debu. Tak ada siswa yang ingin mengambil buku-buku disana. Suciningsih hanya bisa berhela nafas. Banyak siswa hari ini yang membuatnya jengkel, mulai dari tak membawa buku, tidak membuat pr, bahkan tidak bersikap sopan.  Ia tak yakin pada anak muda yang sudah terjangkiti ponsel pintar yang menciptakan ketakutan baru dalam dirinya.

Kekhawatiran Suciningsih pula hadir dari reaksi para orang tua siswa. Ia mengaku bahwa kesibukan para orang tua malah membuat anak-anak mereka terlalu nyaman dan tak ada rasa ingin belajar dan berjuang. Kasih sayang orang tua bagaikan pedang bermata dua, yang membuat merugi sebab anak mereka menjadi apa yang ia sebut sebagai “mental strawberry.”

“Ya karena pada pegang hape. Orang tua sibuk mengurusi diri sendiri, sibuk mencari uang, gak peduli bagaimana anaknya. Ketika guru sedikit saja menegur, mereka sudah protes dan asal lapor saja,” kata Suciningsih.

Walau begitu, cinta kasih Suciningsih tiada tara. Ia mengabdikan dirinya kembali kepada anak-anaknya yang selalu menunggu pada pintu kelas mereka. Suciningsih selalu pulang lebih larut, meminjamkan rumahnya, atau mendatangi siswanya jika sudah menyangkut latihan lomba. Sudah banyak uang yang ia keluarkan demi kelancaran dan mendukung finansial anak didik yang ia dampingi.

Berbekal atas pengalaman dan kepercayaan pihak sekolah, Suciningsih dipercaya untuk mewakili SD 4 Singaraja dalam lomba bertutur tingkat SD. Ia bersama Meda, datang bersama pada hari ini. Mengeluarkan seluruh kemampuan masing-masing. Walaupun belum berhasil membawa pulang gelar juara, Meda telah menemukan sesuatu yang jauh lebih penting dari sebuah piala. Di atas panggung merah itu, ia menemukan keberanian untuk bercerita, sekaligus langkah pertama dalam perjalanan panjangnya mengenal dunia kata dan peran. [T]

Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Jaswanto

Tags: HUT Kota SingarajaLiterasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru Sejati, Upaya Menyelami Diri untuk Introspeksi, Evaluasi, dan Harmonisasi

Next Post

Arsitektur Kekosongan dalam Tradisi Nusantara   —Catatan Sunyi Nyepi 2026

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails
Next Post
Arsitektur Kekosongan dalam Tradisi Nusantara   —Catatan Sunyi Nyepi 2026

Arsitektur Kekosongan dalam Tradisi Nusantara   ---Catatan Sunyi Nyepi 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co