3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arsitektur Kekosongan dalam Tradisi Nusantara   —Catatan Sunyi Nyepi 2026

I Ketut Sumarta by I Ketut Sumarta
March 18, 2026
in Esai
Arsitektur Kekosongan dalam Tradisi Nusantara   —Catatan Sunyi Nyepi 2026

I Ketut Sumarta

NUSANTARA bukan sekadar titik koordinat di peta dunia; ia adalah titik temu antara yang terlihat (Sakala) dan yang tak terlihat (Niskala). Jauh sebelum sains Barat memperkenalkan teori atom yang mayoritas isinya adalah ruang hampa, para Leluhur di Tanah Air ini sudah “menghuni” ruang hampa itu sebagai Rumah Spiritual mereka. Mereka tidak takut pada ketiadaan; mereka merayakannya sebagai Sangkan Paraning Dumadi—asal sekaligus tujuan akhir semua yang mengada.

Sang Hyang Taya: Ketuhanan yang Melampaui Definisi

Dalam strata kosmologi Jawa Kuno, sebelum ada dewa-dewi dengan seribu tangan atau nama-nama yang dipuja dalam karya susastra puitis berbentuk kakawin atau kidung. Ada sebuah konsep yang disebut Sang Hyang Taya. Nama ini adalah sebuah paradoks linguistik. Taya berarti “Tiada” (empty/void). Namun, ketiadaan di sini bukanlah nihilum (kekosongan) yang mati, melainkan suwung yang sejati.

Bayangkan sebuah gelas. Gunanya gelas bukan pada dinding kacanya, melainkan pada “ruang kosong” di tengahnya. Tanpa ruang kosong itu, gelas hanyalah sebongkah materi yang tak berguna. Begitu pula Semesta. Para pemikir kuno kita menyadari bahwa Inti atas Segala yang Ada justru adalah “Yang Tiada”.

Sang Hyang Taya adalah entitas yang bersifat “tan keno kinoyo ngopo”. Ia tidak bisa divisualisasikan, tidak bisa dipersonifikasi sebagai sosok lelaki tua berjenggot di atas awan, juga tidak bisa dibatasi oleh atribut jender. Ia adalah “Energi Murni” yang mendahului cahaya. Dalam teks-teks Kadharmapala, Taya digambarkan sebagai “suwunging hambawang”, kekosongan yang melingkupi segalanya namun tak terjamah oleh apa pun.

Inilah sebabnya dalam tradisi Jawa, puncak pencapaian spiritual adalah ketika seseorang mampu mencapai kondisi “Suwung”. Bukan berarti ia menjadi bodoh atau kosong pikiran, melainkan ia telah membersihkan “sampah-sampah ego” di dalam dirinya sehingga Cahaya Ilahi (Sang Hyang Taya) bisa memancar tanpa hambatan. Di titik ini, logika linier manusia berhenti, dan kesadaran non- dualitas dimulai.

Embang, Puyung, dan Nyepi: Menemukan Maha-Ada dalam Maha-Sepi

Beralih ke timur, ke Pulau Dewata, konsep ini mengakar lebih dalam lagi dalam keseharian masyarakatnya. Bali mengenal istilah Embang dan Puyung.

Embang adalah representasi dari keluasan Semesta yang tak berbatas. Ia adalah kanvas kosong tempat Sang Hyang Widhi melukis galaksi. Adapun Puyung adalah kehampaan yang memiliki kualitas “potensi”. Seperti rahim ibu yang puyung (kosong), namun di sanalah kehidupan paling ajaib diproses.

Namun, filsafat ini tidak hanya berhenti di lembaran lontar. Ia dihidupkan setiap tahun dalam ritual kolosal bernama Nyepi. Mari kita bedah Nyepi bukan sebagai hari libur, melainkan sebagai Teknologi Kesadaran Kolektif.

Dunia modern menderita penyakit “kelebihan beban” (overload). Kita terus- menerus mengisi diri kita dengan informasi, bunyi, ambisi, dan konsumsi. Kita lupa cara bernapas. Nyepi hadir sebagai “tombol reset” peradaban.

  • Amati Geni: Bukan sekadar memadamkan api fisik, tapi memadamkan api amarah dan nafsu di dalam dada.
  • Amati Karya: Berhenti dari rutinitas mekanistik untuk menyadari bahwa kita adalah “Manusia yang Menjadi” (Human Being), bukan sekadar “Manusia yang Melakukan” (Human Doing).
  • Amati Lelungaan: Berhenti bergerak secara fisik agar kesadaran batin bisa mulai berkelana ke dalam.
  • Amati Lelanguan: Menghentikan segala hiburan luar agar kita bisa menemukan kebahagiaan sejati yang bersumber dari dalam diri sendiri.

Saat malam Nyepi tiba, Bali menjadi pulau paling gelap dan paling sunyi di muka Bumi. Namun, di balik kegelapan itu, jika Anda menengadah ke langit, Anda akan melihat jutaan bintang yang biasanya tersembunyi oleh polusi cahaya. Inilah metafora puncaknya: Hanya dalam kegelapan total (Nol), cahaya sejati (Tak Terhingga) akan menampakkan dirinya.

Dalam keheningan Nyepi, frekuensi otak manusia melambat, masuk ke gelombang Alpha dan Theta, menciptakan sebuah sinkronisitas massal. Inilah

saat di mana Atman (percikan kecil) menyadari identitas aslinya sebagai bagian dari Paramatman (Kesadaran Universal). Tanpa “Sepi”, kita hanyalah robot yang berlari tanpa arah. Dengan “Sepi”, kita menjadi nakhoda bagi jiwa kita sendiri.

Aksara: Kode Genetik Semesta

Jika para leluhur kita di Nusantara menyebut bahwa Semesta bermula dari Aksara—sebuah getaran suci yang memadat menjadi materi—maka sains modern hari ini sedang mulai mengamini hal yang sama melalui kacamata “Fisika Digital”.

Di Titik Nol, realitas bukan lagi tumpukan atom atau energi belaka, melainkan hamparan Informasi.

Bayangkan sebuah simulasi komputer yang sangat canggih. Jika kita membedah layar monitor tersebut hingga ke partikel terkecilnya, kita tidak akan menemukan gambar manusia atau pemandangan, melainkan deretan angka biner: 0 dan 1. Inilah Titik Nol dalam bahasa teknologi. Kosong (0) dan Berisi (1) adalah dua sisi dari koin yang sama yang menciptakan seluruh drama di layar kehidupan.

Dalam naskah-naskah kuno Siwa Siddhanta yang diwarisi di Bali, kita mengenal konsep Nada dan Windu. Nada adalah getaran murni, sementara Windu adalah titik pusat—Sang Nol itu sendiri. Pertemuan keduanya melahirkan Aksara. Dalam konteks sains modern, Aksara ini identik dengan “Bit Informasi”. Semesta tidak disusun dari benda (matter), melainkan dari data (it from bit).

Maka, ketika tradisi Nusantara mengajarkan kita untuk menghormati “Aksara” sebagai entitas suci, mereka sebenarnya sedang mengingatkan bahwa tubuh kita dan seluruh galaksi ini adalah manifestasi dari “Kode Agung” yang terpancar dari Sang Hyang Taya. Kita adalah pikiran yang sedang memadat; kita adalah informasi yang sedang menari di atas panggung kekosongan.

Dengan memahami bahwa realitas adalah struktur informasi, kita sampai pada kesadaran radikal: Jika hidup ini adalah “simulasi” yang dipancarkan dari Titik Nol, maka siapa “Programmer”-nya? Jawabannya mengejutkan sekaligus membebaskan: Programmer itu tidak berada di luar sana. Ia adalah Kesadaran yang sedang membaca dirinya sendiri melalui mata Anda.

Manunggaling Kawula Gusti: Estetika Penyatuan Jawa Kuno

Kita tidak bisa bicara tentang Nusantara tanpa menyentuh ajaran Manunggaling Kawula Gusti. Konsep yang sering disalahpahami ini sebenarnya adalah sebuah penjelasan matematis tentang spiritualitas.

Jika Kawula (hamba/manusia) dianggap sebagai angka yang memiliki nilai ego (misalnya angka 5, 10, atau 100), dan Gusti (Tuhan) adalah Sang Maha Tak Terhingga (ꝏ), maka penyatuan hanya bisa terjadi jika si Kawula menjadikan dirinya Nol (0).

Dalam matematika: 𝜋 𝑥 0 = 0, namun dalam mistisisme Nusantara: Apa pun yang bertemu dengan Kekosongan Sejati (Suwung, Taya, Embang, Puyung, Nyepi-Sunya) akan melebur ke dalam Keutuhan.

“Manaunggaling Kawula-Gusti” tidak sedang mengatakan bahwa manusia adalah Tuhan dalam arti fisik. Dengan ini Leluhur Nusantara sedang menyatakan bahwa ketika “keakuan” atau ego manusia sudah terkikis habis hingga menjadi Suwung, maka tidak ada lagi pembatas antara dirinya dengan Semesta Raya. Seperti setetes madu yang jatuh ke dalam samudra madu; tak ada lagi “aku” dan “kamu”, yang ada hanyalah “Keberadaan”. Teks etika spiritual Bali dengan bernas menyuratkan: “tembok bah dadi gumi”, dalam arti begitu tembok-tembok ego sebagai pembatas runtuh, maka yang ada hanyalah ruang Semesta Raya yang Embang. Begitu setitik air hujan menyentuh air samudra, maka air hujan itu pun lebur menyatu tunggal ke dalam hamparan samudra raya.

Estetika penyatuan ini tercermin dalam arsitektur candi-candi di Nusantara. Lihatlah Borobudur. Ia dimulai dari dasar yang penuh dengan relief kehidupan duniawi yang rumit (Kamadhatu), naik ke alam rupa (Rupadhatu), dan berakhir di puncak berupa Stupa Induk yang Kosong. Tidak ada patung di dalamnya. Kosong. Inilah pesan para arsitek agung kuno Nusantara: Puncak tertinggi segala ilmu, pencapaian, dan perjalanan hidup bukanlah kemegahan, melainkan Kembali ke Suwung.

Sintesa: Nusantara sebagai Jangkar Tatanan Baru

Mengapa pemahaman tentang “Kekosongan Nusantara” atau “Nyepi Bali” ini penting untuk dunia masa depan? Karena dunia saat ini sedang hancur akibat “kelebihan ego”. Perang, eksploitasi alam, dan ketimpangan sosial terjadi karena setiap orang merasa menjadi “Pusat” yang terpisah dari yang lain.

Prinsip Taya atau Suwung mengajarkan kita tentang Inter-konektivitas. Jika kita semua berasal dari kekosongan yang sama, maka “menyakitimu adalah menyakiti diriku sendiri”. Merusak Alam adalah merusak rumah batiniahku sendiri.

Di sinilah nilai Keutuhan dan Kebersamaan lahir secara alami, bukan karena paksaan hukum, melainkan karena Kesadaran Organik. Cobalah pikirkan tentang Angka Nol. Sebelum angka nol ditemukan (dan disempurnakan konsep filosofisnya di Timur), manusia kesulitan menghitung jumlah yang besar. Nol memberikan nilai pada angka lain. Angka 1 menjadi 10, menjadi 100, 1.000,

1.000.000, 1.000.000.000, dan seterusnya karena ada 0 di belakangnya. Begitulah peran Suwung atau Taya dalam hidup kita. Ia tidak terlihat, tapi ia memberikan nilai dan makna pada segala aktivitas “nyata” yang kita lakukan. Tanpa Titik Nol sebagai jangkar, hidup kita hanya akan menjadi deretan angka acak yang tak bermakna.

Di titik ini patut diapresiasi bahwa Nusantara telah memiliki “Sistem Operasi” Kesadaran Organik ini sejak berabad-abad lalu—dan hingga kini dijalankan secara rajeg di Bali lewat Nyepi sehari penuh. Tugas kita sekarang adalah menginstal ulang sistem ini ke dalam perangkat keras kehidupan modern yang sudah mulai hang.

Menjadi “Nol” di Tengah Dunia yang Riuh

Pulanglah ke rumah batin Anda, Sahabat-sahabat Sejiwa. Temukan titik Suwung itu di antara tarikan dan embusan napas Anda. Di sana, di titik Nol itu, Anda akan menemukan keberanian untuk melepaskan kebencian, kelenturan untuk menerima perbedaan, dan ketangguhan untuk menghadapi badai apa pun.

Jangan takut menjadi “Kosong”. Karena hanya bejana yang kosong yang bisa diisi oleh Amerta, Air Kehidupan yang baru. Hanya hati yang “Puyung” (hampa dari ego) yang bisa menampung Kasih Sayang yang Tak Terbatas. Tulisan ini merupakan undangan untuk melakukan “Nyepi Massal” dalam Kesadaran—sebuah gerakan kolektif untuk berhenti sejenak dari kegilaan eksploitasi, dan mulai mendengarkan kembali detak jantung diri sendiri sebagai denyut Semesta Raya. Saat kita semua mampu kembali ke “Titik Nol”, saat itulah tatanan dunia baru akan lahir dengan sendirinya tanpa perlu sebutir peluru pun ditembakkan. [T]

Penulis: I Ketut Sumarta
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Raya Nyepihindurenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  —Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Next Post

14 Ogoh-Ogoh, Menghidupkan Bencingah Kembali, Menyemarakkan Ruang Budaya di Kesiman

I Ketut Sumarta

I Ketut Sumarta

Pejalan sunyi

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
14 Ogoh-Ogoh, Menghidupkan Bencingah Kembali, Menyemarakkan Ruang Budaya di Kesiman

14 Ogoh-Ogoh, Menghidupkan Bencingah Kembali, Menyemarakkan Ruang Budaya di Kesiman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co