25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru Sejati, Upaya Menyelami Diri untuk Introspeksi, Evaluasi, dan Harmonisasi

Agus Suardiana Putra by Agus Suardiana Putra
March 18, 2026
in Esai
Guru Sejati, Upaya Menyelami Diri untuk Introspeksi, Evaluasi, dan Harmonisasi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PERNAHKAH terlintas di pikiran kita spontan satu pertanyaan, “Apa tujuan hidup ini?”. Atau memikirkan, “Siapa saya ini?”. Atau pertanyaan-pertanyaan lain yang membingungkan untuk dijawab. Menjadi dinamika dalam diri, jika sebuah pertanyaan menimbulkan pertanyaan-pertaanyaan baru, karena jawaban dari sebuah pertanyaan masih kabur atau tidak jelas. Muncullah kemudian kompleksitas pertanyaan yang kian tidak terselesaikan. Nah, ketika itulah diperlukannya kehadiran guru.

Kata ‘guru’ sudah sering terdengar oleh kita. Kata ‘guru sejati’ mungkin pernah terdengar bagi orang-orang yang menekuni arti hidup. Terkadang juga pernah terlintas dalam pikiran maupun telinga kita kata ‘guru sejati’ itu. Namun, apa ‘guru sejati’ itu?  Mari kita renungkan.

Dalam salah satu ajaran kepercayaan masyarakat Hindu Bali, ada istilah Catur Guru. Itu adalah empat bagian dalam hidup manusia yang bertugas sebagai ‘pencerah’. Pertama disebut Guru Rupaka adalah orang tua yang melahirkan kita, yang kedua disebut Guru Pengajian adalah guru di sekolah atau tempat kursus, ketiga disebut Guru Wisesa yaitu adalah pemerintah, dan keempat disebut Guru Swadyaya yaitu Tuhan.

Jadi, manakah ‘guru sejati’ itu? Apakah keempat bagian dari Catur Guru tersebut merupakan ‘guru sejati’? Mungkin kiranya salah satu dari Catur Guru itu dinamakan guru sejati? Bagaimana jika salah satu dari ‘Catur Guru’ itu tidak dimiliki atau tidak sempat ‘hadir’ memberikan pencerahan hidup? Lalu bagaimana kita sebagai manusia bisa ‘tercerahkan’ oleh guru seperti tugas guru biasanya?

Jika kita perhatikan, keempat bagian dari ‘Catur Guru’ adalah faktor eksternal dari luar diri manusia yang berperan ‘mencerahkan’ manusia supaya menjadi manusia yang lebih baik daripada sebelumnya. Terlebih menjadi manusia yang ‘manusia’, memiliki budi luhur yang kiranya dipenuhi rasa kasih dan kelakuan baik.

 ‘Catur Guru’ merupakan faktor eksternal dari dalam diri manusia yang berperan ‘mencerahkan’ itu. Lalu apa faktor internal yang bisa ‘mencerahkan’ diri manusia itu sendiri? Faktor internal itu Ialah diri manusia itu sendiri, faktor internal manusialah yang disebut sebagai ‘Guru Sejati’. Mengapa demikian? Kita pahami lagi arti dari ‘Guru Sejati’ yang saya maksud.

Sama halnya dengan beberapa kutipan seperti ‘nandurin karang awak’, ‘berkaca pada diri sendiri’, atau lebih jauh lagi kutipan ‘engkau mencariku sangat jauh, sesungguhnya aku sangat dekat, saking dekatnya engkau tidak dapat melihat aku’. Beberapa contoh kutipan tersebut memiliki arti sama yaitu introspeksi diri, menemukan kesejatian diri.

Sebagian manusia lebih sering memperhatikan hal yang berada di luar dirinya daripada memperhatikan diri sendiri, sehingga sangat bias untuk bisa menyelami dirinya sendiri. Sehingga menibulkan masalah dari luar diri manusia karena saking banyaknya mengejar, memperhatikan, dan mengurus yang diluar dirinya.

Padahal lahir ke dunia ini sudah masalah, buktinya manusia minimal harus makan atau minum, supaya bisa bertahan hidup. Apakah makan dan minum itu gratis? Gratis dalam artian seketika hadir di hadapan manusia? Itu perlu usaha untuk memenuhinya. Setiap makan dan minum yang dikonsumsi manusia ada usaha dalam prosesnya. Adanya proses adalah sama dengan adanya usaha, dan usaha itu sama dengan masalah.

Masalah bisa dibilang masalah karena hal itu tidak datang secara tiba-tiba dihadapan diri manusia, harus ada proses untuk mendapatknya, itu yang dimaksud masalah. Lantas, jika setiap proses adalah masalah, berarti untuk manusia itu sendiri yang banyaknya melewati proses dalam hidupnya, berarti manusia penuh dengan masalahnya sendiri. Lalu, jika sudah banyak masalah di diri manusia, mengapa nambah masalah lagi dengan mengurus hal diluar dirinya? Mari kita pelajari pelan-pelan.

Berawal dari masalah yang dikenal di dalam diri manusia dalam kepercayan Hindu Bali adalah Sad Ripu. Ia merupakan enam musuh yang ada di dalam diri manusia yaitu pertama disebut Kama atau hawa nafsu, kedua disebut Lobha tau keserakahan, ketiga disebut Krodha atau kemarahan, keempat Mada atau kemabukan, kelimat disebut Matsarya atau irihati/dengki, dan yang keenam disebut Moha atau kebingungan.

Hawa nafsu atau bisa disebut dengan suatu keinginan yang tidak terkendalikan. Ia selalu datang, namun tetap harus dikendalikan setidaknya dengan cara berpikir positif. Keserakahan atau rakus atau juga tamak, dan juga iri hati/dengki harus dikendalikan dengan cara bersyukur atas apa yang dimiliki.

Kemarahan dikendalikan dengan kesabaran, kemabukan dikendalikan dengan tidak berlebihan mengkonsumsi sesuatu atau memikirkan sesuatu. Kebingungan atau angkuh dikendalikan dengan menenangkan pikiran dengan berpikir secara jernih.

Secara sederhana begitulah konsepnya, namun kenyataan di kehidupan tidak sesederhana itu, ada beberapa hal yang menjadi tantangan untuk dikondisikan yang berasal dari luar diri manusia. Tiga hal yang mampu mempengaruhi manusia ialah makanan dan minuman, lingkungan, yang lebih ekstrim ialah konsumsi postingan media sosial.

Makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia mempengaruhi diri dan pemikiran manusia. Jika mengkonsumsi makanan yang dominan pedas, rasa pedas itu mengganggu perut hingga emosi manusia. Minum minuman yang bisa mengganggu pencernaan atau pikiran misalnya miras atau minuman mengandung alkohol. Intinya makanan yang mampu mempengaruhi kondisi tubuh atau pikiran menjadi kurang bagus perlu dikondisikan.

Lingkungan yang kurang ‘sehat’ juga mempengaruhi kebiasaan manusia itu sendiri. Jika lingkungannya kurang ‘sehat’ seperti misalnya pola pikir lingkungan baik itu keluarga, teman, maupun masyarakatnya, jika mental diri manusia tidak kuat, dia akan terpengaruh oleh lingkungannya yang mengarah ke hal yang kurang baik, begitu juga sebaliknya.

Media sosial pada kehidupan manusia saat ini juga mampu mempengaruhi kehidupan manusia itu sendiri. Bagaimana tidak? Karena dalam digital mengenal Namanya algoritma, yang mampu mendeteksi kebiasaan manusia dari apa yang sempat dia lihat di postingan-postingan media sosial. Jika manusia fokus mencari dan melihat tentang kesedihan, media sosial dengan lagoritmanya menyesuaikan dengan menampilkan hal-hal yang bersifat sedih, walaupun dikemudian kesempatan manusia pengguna media sosial tidak mencari hal tersebut.

Secara otomatis jika sering melihat postingan tentang kesedihan, postingan tentang kesedihan mampu menyebabkan otak atau pikiran manusia terjerumus kedalam hal kesedihan. Larut dalam postingan yang kurang positif, hingga memungkinkan manusia itu berada dalam lingkaran pikiran yang kurang baik.

 Jika dilihat secara keseluruhan, Sad Ripu, makanan, lingkungan, dan media sosial yang telah dijelaskan merupakan kenikmatan keduniawian yang sangat berpengaruh membentuk diri manusia. Pengaruh-pengaruh tersebut perlu dikendalikan oleh diri manusia. Layaknya seorang pendeta, dia mengendalikan dirinya dari hal-hal keduniawian. Lalu, apakah diri manusia harus menjadi seorang pendeta terlebih dulu supaya ada kewajiban melepas sifat keduniawian? Tentu tidak. Semua adalah pilihan.

Diri manusia cukup mempelajari dirinya sendiri, itulah guru sejati. Guru sejati hadir di dalam diri manusia, hadir di dalam nurani manusia, hadir dalam kepekaan dirinya sendiri bagi ia yang berusaha menggali dirinya sendiri. Seperti seorang yang sedang meditasi, mencari inti diri, mencari ketenangan, hingga kedamaian, dan menemukan kesadaran dan pencerahan.

Jika manusia mampu menyelami guru sejati itu, begitu indahnya dunia yang sedikit tidaknya memanusiakan manusia, menjaga keharmonisan dirinya dengan lingkungan, terciptanya keseimbangan kehidupan yang damai, memiliki budi luhur yang dipenuhi rasa kasih dan kelakuan baik. Begitulah harusnya manusia, menemukan guru sejati di dalam dirinya sendiri. [T]

Penulis: Agus Suardiana Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: guruguru agamahindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi, Sepi, Hening: Menemukan Diri dalam Keheningan

Next Post

Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  —Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Agus Suardiana Putra

Agus Suardiana Putra

I Wayan Agus Suardiana Putra, S.Pd., M.Pd. Instagram @suardianaputra Facebook @Wayan Muncul

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  —Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  ---Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co