24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru Sejati, Upaya Menyelami Diri untuk Introspeksi, Evaluasi, dan Harmonisasi

Agus Suardiana Putra by Agus Suardiana Putra
March 18, 2026
in Esai
Guru Sejati, Upaya Menyelami Diri untuk Introspeksi, Evaluasi, dan Harmonisasi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PERNAHKAH terlintas di pikiran kita spontan satu pertanyaan, “Apa tujuan hidup ini?”. Atau memikirkan, “Siapa saya ini?”. Atau pertanyaan-pertanyaan lain yang membingungkan untuk dijawab. Menjadi dinamika dalam diri, jika sebuah pertanyaan menimbulkan pertanyaan-pertaanyaan baru, karena jawaban dari sebuah pertanyaan masih kabur atau tidak jelas. Muncullah kemudian kompleksitas pertanyaan yang kian tidak terselesaikan. Nah, ketika itulah diperlukannya kehadiran guru.

Kata ‘guru’ sudah sering terdengar oleh kita. Kata ‘guru sejati’ mungkin pernah terdengar bagi orang-orang yang menekuni arti hidup. Terkadang juga pernah terlintas dalam pikiran maupun telinga kita kata ‘guru sejati’ itu. Namun, apa ‘guru sejati’ itu?  Mari kita renungkan.

Dalam salah satu ajaran kepercayaan masyarakat Hindu Bali, ada istilah Catur Guru. Itu adalah empat bagian dalam hidup manusia yang bertugas sebagai ‘pencerah’. Pertama disebut Guru Rupaka adalah orang tua yang melahirkan kita, yang kedua disebut Guru Pengajian adalah guru di sekolah atau tempat kursus, ketiga disebut Guru Wisesa yaitu adalah pemerintah, dan keempat disebut Guru Swadyaya yaitu Tuhan.

Jadi, manakah ‘guru sejati’ itu? Apakah keempat bagian dari Catur Guru tersebut merupakan ‘guru sejati’? Mungkin kiranya salah satu dari Catur Guru itu dinamakan guru sejati? Bagaimana jika salah satu dari ‘Catur Guru’ itu tidak dimiliki atau tidak sempat ‘hadir’ memberikan pencerahan hidup? Lalu bagaimana kita sebagai manusia bisa ‘tercerahkan’ oleh guru seperti tugas guru biasanya?

Jika kita perhatikan, keempat bagian dari ‘Catur Guru’ adalah faktor eksternal dari luar diri manusia yang berperan ‘mencerahkan’ manusia supaya menjadi manusia yang lebih baik daripada sebelumnya. Terlebih menjadi manusia yang ‘manusia’, memiliki budi luhur yang kiranya dipenuhi rasa kasih dan kelakuan baik.

 ‘Catur Guru’ merupakan faktor eksternal dari dalam diri manusia yang berperan ‘mencerahkan’ itu. Lalu apa faktor internal yang bisa ‘mencerahkan’ diri manusia itu sendiri? Faktor internal itu Ialah diri manusia itu sendiri, faktor internal manusialah yang disebut sebagai ‘Guru Sejati’. Mengapa demikian? Kita pahami lagi arti dari ‘Guru Sejati’ yang saya maksud.

Sama halnya dengan beberapa kutipan seperti ‘nandurin karang awak’, ‘berkaca pada diri sendiri’, atau lebih jauh lagi kutipan ‘engkau mencariku sangat jauh, sesungguhnya aku sangat dekat, saking dekatnya engkau tidak dapat melihat aku’. Beberapa contoh kutipan tersebut memiliki arti sama yaitu introspeksi diri, menemukan kesejatian diri.

Sebagian manusia lebih sering memperhatikan hal yang berada di luar dirinya daripada memperhatikan diri sendiri, sehingga sangat bias untuk bisa menyelami dirinya sendiri. Sehingga menibulkan masalah dari luar diri manusia karena saking banyaknya mengejar, memperhatikan, dan mengurus yang diluar dirinya.

Padahal lahir ke dunia ini sudah masalah, buktinya manusia minimal harus makan atau minum, supaya bisa bertahan hidup. Apakah makan dan minum itu gratis? Gratis dalam artian seketika hadir di hadapan manusia? Itu perlu usaha untuk memenuhinya. Setiap makan dan minum yang dikonsumsi manusia ada usaha dalam prosesnya. Adanya proses adalah sama dengan adanya usaha, dan usaha itu sama dengan masalah.

Masalah bisa dibilang masalah karena hal itu tidak datang secara tiba-tiba dihadapan diri manusia, harus ada proses untuk mendapatknya, itu yang dimaksud masalah. Lantas, jika setiap proses adalah masalah, berarti untuk manusia itu sendiri yang banyaknya melewati proses dalam hidupnya, berarti manusia penuh dengan masalahnya sendiri. Lalu, jika sudah banyak masalah di diri manusia, mengapa nambah masalah lagi dengan mengurus hal diluar dirinya? Mari kita pelajari pelan-pelan.

Berawal dari masalah yang dikenal di dalam diri manusia dalam kepercayan Hindu Bali adalah Sad Ripu. Ia merupakan enam musuh yang ada di dalam diri manusia yaitu pertama disebut Kama atau hawa nafsu, kedua disebut Lobha tau keserakahan, ketiga disebut Krodha atau kemarahan, keempat Mada atau kemabukan, kelimat disebut Matsarya atau irihati/dengki, dan yang keenam disebut Moha atau kebingungan.

Hawa nafsu atau bisa disebut dengan suatu keinginan yang tidak terkendalikan. Ia selalu datang, namun tetap harus dikendalikan setidaknya dengan cara berpikir positif. Keserakahan atau rakus atau juga tamak, dan juga iri hati/dengki harus dikendalikan dengan cara bersyukur atas apa yang dimiliki.

Kemarahan dikendalikan dengan kesabaran, kemabukan dikendalikan dengan tidak berlebihan mengkonsumsi sesuatu atau memikirkan sesuatu. Kebingungan atau angkuh dikendalikan dengan menenangkan pikiran dengan berpikir secara jernih.

Secara sederhana begitulah konsepnya, namun kenyataan di kehidupan tidak sesederhana itu, ada beberapa hal yang menjadi tantangan untuk dikondisikan yang berasal dari luar diri manusia. Tiga hal yang mampu mempengaruhi manusia ialah makanan dan minuman, lingkungan, yang lebih ekstrim ialah konsumsi postingan media sosial.

Makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia mempengaruhi diri dan pemikiran manusia. Jika mengkonsumsi makanan yang dominan pedas, rasa pedas itu mengganggu perut hingga emosi manusia. Minum minuman yang bisa mengganggu pencernaan atau pikiran misalnya miras atau minuman mengandung alkohol. Intinya makanan yang mampu mempengaruhi kondisi tubuh atau pikiran menjadi kurang bagus perlu dikondisikan.

Lingkungan yang kurang ‘sehat’ juga mempengaruhi kebiasaan manusia itu sendiri. Jika lingkungannya kurang ‘sehat’ seperti misalnya pola pikir lingkungan baik itu keluarga, teman, maupun masyarakatnya, jika mental diri manusia tidak kuat, dia akan terpengaruh oleh lingkungannya yang mengarah ke hal yang kurang baik, begitu juga sebaliknya.

Media sosial pada kehidupan manusia saat ini juga mampu mempengaruhi kehidupan manusia itu sendiri. Bagaimana tidak? Karena dalam digital mengenal Namanya algoritma, yang mampu mendeteksi kebiasaan manusia dari apa yang sempat dia lihat di postingan-postingan media sosial. Jika manusia fokus mencari dan melihat tentang kesedihan, media sosial dengan lagoritmanya menyesuaikan dengan menampilkan hal-hal yang bersifat sedih, walaupun dikemudian kesempatan manusia pengguna media sosial tidak mencari hal tersebut.

Secara otomatis jika sering melihat postingan tentang kesedihan, postingan tentang kesedihan mampu menyebabkan otak atau pikiran manusia terjerumus kedalam hal kesedihan. Larut dalam postingan yang kurang positif, hingga memungkinkan manusia itu berada dalam lingkaran pikiran yang kurang baik.

 Jika dilihat secara keseluruhan, Sad Ripu, makanan, lingkungan, dan media sosial yang telah dijelaskan merupakan kenikmatan keduniawian yang sangat berpengaruh membentuk diri manusia. Pengaruh-pengaruh tersebut perlu dikendalikan oleh diri manusia. Layaknya seorang pendeta, dia mengendalikan dirinya dari hal-hal keduniawian. Lalu, apakah diri manusia harus menjadi seorang pendeta terlebih dulu supaya ada kewajiban melepas sifat keduniawian? Tentu tidak. Semua adalah pilihan.

Diri manusia cukup mempelajari dirinya sendiri, itulah guru sejati. Guru sejati hadir di dalam diri manusia, hadir di dalam nurani manusia, hadir dalam kepekaan dirinya sendiri bagi ia yang berusaha menggali dirinya sendiri. Seperti seorang yang sedang meditasi, mencari inti diri, mencari ketenangan, hingga kedamaian, dan menemukan kesadaran dan pencerahan.

Jika manusia mampu menyelami guru sejati itu, begitu indahnya dunia yang sedikit tidaknya memanusiakan manusia, menjaga keharmonisan dirinya dengan lingkungan, terciptanya keseimbangan kehidupan yang damai, memiliki budi luhur yang dipenuhi rasa kasih dan kelakuan baik. Begitulah harusnya manusia, menemukan guru sejati di dalam dirinya sendiri. [T]

Penulis: Agus Suardiana Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: guruguru agamahindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi, Sepi, Hening: Menemukan Diri dalam Keheningan

Next Post

Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  —Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Agus Suardiana Putra

Agus Suardiana Putra

I Wayan Agus Suardiana Putra, S.Pd., M.Pd. Instagram @suardianaputra Facebook @Wayan Muncul

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  —Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  ---Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co