3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru Sejati, Upaya Menyelami Diri untuk Introspeksi, Evaluasi, dan Harmonisasi

Agus Suardiana Putra by Agus Suardiana Putra
March 18, 2026
in Esai
Guru Sejati, Upaya Menyelami Diri untuk Introspeksi, Evaluasi, dan Harmonisasi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PERNAHKAH terlintas di pikiran kita spontan satu pertanyaan, “Apa tujuan hidup ini?”. Atau memikirkan, “Siapa saya ini?”. Atau pertanyaan-pertanyaan lain yang membingungkan untuk dijawab. Menjadi dinamika dalam diri, jika sebuah pertanyaan menimbulkan pertanyaan-pertaanyaan baru, karena jawaban dari sebuah pertanyaan masih kabur atau tidak jelas. Muncullah kemudian kompleksitas pertanyaan yang kian tidak terselesaikan. Nah, ketika itulah diperlukannya kehadiran guru.

Kata ‘guru’ sudah sering terdengar oleh kita. Kata ‘guru sejati’ mungkin pernah terdengar bagi orang-orang yang menekuni arti hidup. Terkadang juga pernah terlintas dalam pikiran maupun telinga kita kata ‘guru sejati’ itu. Namun, apa ‘guru sejati’ itu?  Mari kita renungkan.

Dalam salah satu ajaran kepercayaan masyarakat Hindu Bali, ada istilah Catur Guru. Itu adalah empat bagian dalam hidup manusia yang bertugas sebagai ‘pencerah’. Pertama disebut Guru Rupaka adalah orang tua yang melahirkan kita, yang kedua disebut Guru Pengajian adalah guru di sekolah atau tempat kursus, ketiga disebut Guru Wisesa yaitu adalah pemerintah, dan keempat disebut Guru Swadyaya yaitu Tuhan.

Jadi, manakah ‘guru sejati’ itu? Apakah keempat bagian dari Catur Guru tersebut merupakan ‘guru sejati’? Mungkin kiranya salah satu dari Catur Guru itu dinamakan guru sejati? Bagaimana jika salah satu dari ‘Catur Guru’ itu tidak dimiliki atau tidak sempat ‘hadir’ memberikan pencerahan hidup? Lalu bagaimana kita sebagai manusia bisa ‘tercerahkan’ oleh guru seperti tugas guru biasanya?

Jika kita perhatikan, keempat bagian dari ‘Catur Guru’ adalah faktor eksternal dari luar diri manusia yang berperan ‘mencerahkan’ manusia supaya menjadi manusia yang lebih baik daripada sebelumnya. Terlebih menjadi manusia yang ‘manusia’, memiliki budi luhur yang kiranya dipenuhi rasa kasih dan kelakuan baik.

 ‘Catur Guru’ merupakan faktor eksternal dari dalam diri manusia yang berperan ‘mencerahkan’ itu. Lalu apa faktor internal yang bisa ‘mencerahkan’ diri manusia itu sendiri? Faktor internal itu Ialah diri manusia itu sendiri, faktor internal manusialah yang disebut sebagai ‘Guru Sejati’. Mengapa demikian? Kita pahami lagi arti dari ‘Guru Sejati’ yang saya maksud.

Sama halnya dengan beberapa kutipan seperti ‘nandurin karang awak’, ‘berkaca pada diri sendiri’, atau lebih jauh lagi kutipan ‘engkau mencariku sangat jauh, sesungguhnya aku sangat dekat, saking dekatnya engkau tidak dapat melihat aku’. Beberapa contoh kutipan tersebut memiliki arti sama yaitu introspeksi diri, menemukan kesejatian diri.

Sebagian manusia lebih sering memperhatikan hal yang berada di luar dirinya daripada memperhatikan diri sendiri, sehingga sangat bias untuk bisa menyelami dirinya sendiri. Sehingga menibulkan masalah dari luar diri manusia karena saking banyaknya mengejar, memperhatikan, dan mengurus yang diluar dirinya.

Padahal lahir ke dunia ini sudah masalah, buktinya manusia minimal harus makan atau minum, supaya bisa bertahan hidup. Apakah makan dan minum itu gratis? Gratis dalam artian seketika hadir di hadapan manusia? Itu perlu usaha untuk memenuhinya. Setiap makan dan minum yang dikonsumsi manusia ada usaha dalam prosesnya. Adanya proses adalah sama dengan adanya usaha, dan usaha itu sama dengan masalah.

Masalah bisa dibilang masalah karena hal itu tidak datang secara tiba-tiba dihadapan diri manusia, harus ada proses untuk mendapatknya, itu yang dimaksud masalah. Lantas, jika setiap proses adalah masalah, berarti untuk manusia itu sendiri yang banyaknya melewati proses dalam hidupnya, berarti manusia penuh dengan masalahnya sendiri. Lalu, jika sudah banyak masalah di diri manusia, mengapa nambah masalah lagi dengan mengurus hal diluar dirinya? Mari kita pelajari pelan-pelan.

Berawal dari masalah yang dikenal di dalam diri manusia dalam kepercayan Hindu Bali adalah Sad Ripu. Ia merupakan enam musuh yang ada di dalam diri manusia yaitu pertama disebut Kama atau hawa nafsu, kedua disebut Lobha tau keserakahan, ketiga disebut Krodha atau kemarahan, keempat Mada atau kemabukan, kelimat disebut Matsarya atau irihati/dengki, dan yang keenam disebut Moha atau kebingungan.

Hawa nafsu atau bisa disebut dengan suatu keinginan yang tidak terkendalikan. Ia selalu datang, namun tetap harus dikendalikan setidaknya dengan cara berpikir positif. Keserakahan atau rakus atau juga tamak, dan juga iri hati/dengki harus dikendalikan dengan cara bersyukur atas apa yang dimiliki.

Kemarahan dikendalikan dengan kesabaran, kemabukan dikendalikan dengan tidak berlebihan mengkonsumsi sesuatu atau memikirkan sesuatu. Kebingungan atau angkuh dikendalikan dengan menenangkan pikiran dengan berpikir secara jernih.

Secara sederhana begitulah konsepnya, namun kenyataan di kehidupan tidak sesederhana itu, ada beberapa hal yang menjadi tantangan untuk dikondisikan yang berasal dari luar diri manusia. Tiga hal yang mampu mempengaruhi manusia ialah makanan dan minuman, lingkungan, yang lebih ekstrim ialah konsumsi postingan media sosial.

Makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia mempengaruhi diri dan pemikiran manusia. Jika mengkonsumsi makanan yang dominan pedas, rasa pedas itu mengganggu perut hingga emosi manusia. Minum minuman yang bisa mengganggu pencernaan atau pikiran misalnya miras atau minuman mengandung alkohol. Intinya makanan yang mampu mempengaruhi kondisi tubuh atau pikiran menjadi kurang bagus perlu dikondisikan.

Lingkungan yang kurang ‘sehat’ juga mempengaruhi kebiasaan manusia itu sendiri. Jika lingkungannya kurang ‘sehat’ seperti misalnya pola pikir lingkungan baik itu keluarga, teman, maupun masyarakatnya, jika mental diri manusia tidak kuat, dia akan terpengaruh oleh lingkungannya yang mengarah ke hal yang kurang baik, begitu juga sebaliknya.

Media sosial pada kehidupan manusia saat ini juga mampu mempengaruhi kehidupan manusia itu sendiri. Bagaimana tidak? Karena dalam digital mengenal Namanya algoritma, yang mampu mendeteksi kebiasaan manusia dari apa yang sempat dia lihat di postingan-postingan media sosial. Jika manusia fokus mencari dan melihat tentang kesedihan, media sosial dengan lagoritmanya menyesuaikan dengan menampilkan hal-hal yang bersifat sedih, walaupun dikemudian kesempatan manusia pengguna media sosial tidak mencari hal tersebut.

Secara otomatis jika sering melihat postingan tentang kesedihan, postingan tentang kesedihan mampu menyebabkan otak atau pikiran manusia terjerumus kedalam hal kesedihan. Larut dalam postingan yang kurang positif, hingga memungkinkan manusia itu berada dalam lingkaran pikiran yang kurang baik.

 Jika dilihat secara keseluruhan, Sad Ripu, makanan, lingkungan, dan media sosial yang telah dijelaskan merupakan kenikmatan keduniawian yang sangat berpengaruh membentuk diri manusia. Pengaruh-pengaruh tersebut perlu dikendalikan oleh diri manusia. Layaknya seorang pendeta, dia mengendalikan dirinya dari hal-hal keduniawian. Lalu, apakah diri manusia harus menjadi seorang pendeta terlebih dulu supaya ada kewajiban melepas sifat keduniawian? Tentu tidak. Semua adalah pilihan.

Diri manusia cukup mempelajari dirinya sendiri, itulah guru sejati. Guru sejati hadir di dalam diri manusia, hadir di dalam nurani manusia, hadir dalam kepekaan dirinya sendiri bagi ia yang berusaha menggali dirinya sendiri. Seperti seorang yang sedang meditasi, mencari inti diri, mencari ketenangan, hingga kedamaian, dan menemukan kesadaran dan pencerahan.

Jika manusia mampu menyelami guru sejati itu, begitu indahnya dunia yang sedikit tidaknya memanusiakan manusia, menjaga keharmonisan dirinya dengan lingkungan, terciptanya keseimbangan kehidupan yang damai, memiliki budi luhur yang dipenuhi rasa kasih dan kelakuan baik. Begitulah harusnya manusia, menemukan guru sejati di dalam dirinya sendiri. [T]

Penulis: Agus Suardiana Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: guruguru agamahindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi, Sepi, Hening: Menemukan Diri dalam Keheningan

Next Post

Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  —Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Agus Suardiana Putra

Agus Suardiana Putra

I Wayan Agus Suardiana Putra, S.Pd., M.Pd. Instagram @suardianaputra Facebook @Wayan Muncul

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  —Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  ---Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co