4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negeri yang Menjual Isi Perutnya | Cerpen Muhammad Khairu Rahman

Muhammad Khairu Rahman by Muhammad Khairu Rahman
March 13, 2026
in Cerpen
Negeri yang Menjual Isi Perutnya | Cerpen Muhammad Khairu Rahman

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di negeri itu, tanah tidak lagi disebut tanah. Ia disebut komoditas. Gunung tidak lagi dipandang sebagai punggung yang menyangga langit, melainkan sebagai tumpukan cadangan yang siap dikeruk. Sungai tak lagi dilihat sebagai nadi, melainkan sebagai saluran pembuangan yang dapat dinegosiasikan. Orang-orang di negeri itu menyebut dirinya bangsa besar, tetapi diam-diam mereka hidup dari kebiasaan menjual isi perutnya sendiri.

Namanya Negeri Amarta. Di peta dunia, Amarta terletak di garis khatulistiwa, memanjang seperti sabuk zamrud yang kaya akan hutan, batu bara, nikel, emas, dan minyak. Para pemimpinnya bangga menyebutnya “karunia tak terhingga”. Namun bagi sebagian rakyatnya, karunia itu terasa seperti kutukan yang perlahan menggerogoti.

Di kota pesisir bernama Lembayung, seorang anak muda bernama Raka duduk di tepi dermaga, memandangi kapal-kapal raksasa yang datang dan pergi. Kapal-kapal itu tak pernah membawa kembali sesuatu yang utuh. Mereka datang dengan perut kosong dan pulang dengan lambung penuh. Raka tahu apa yang mereka bawa: batu hitam dari gunung utara, bijih logam dari bukit timur, dan pasir halus dari pantai selatan.

Ayah Raka dulu seorang penambang. Tangan ayahnya kasar seperti kulit kayu, paru-parunya berat oleh debu yang tak pernah benar-benar keluar. “Negeri ini kaya, Ka,” kata ayahnya suatu malam, ketika listrik padam dan mereka hanya ditemani lampu minyak. “Tapi kekayaan itu seperti air laut. Kita dikelilingi olehnya, tapi tak bisa meminumnya.”

Raka tak benar-benar mengerti waktu itu. Ia masih remaja yang sibuk bermimpi tentang kota besar dan pekerjaan berseragam rapi. Ia tak ingin menjadi penambang. Ia ingin menjadi jurnalis, atau penulis, atau apa pun yang membuatnya bisa mengubah kata menjadi senjata.

Namun negeri ini punya cara sendiri untuk membentuk takdir warganya.

Suatu hari, kabar besar datang dari ibu kota. Presiden Amarta mengumumkan penandatanganan kontrak raksasa dengan perusahaan asing bernama Aurora Minerals. Kontrak itu disebut sebagai “lompatan kemajuan”. Televisi menampilkan gambar presiden berjabat tangan dengan lelaki berambut perak dari luar negeri. Senyum mereka lebar, lampu kilat kamera berpendar seperti kilat di musim hujan.

“Ini demi kesejahteraan rakyat,” kata presiden dalam pidato kenegaraan. “Kita harus membuka diri. Dunia adalah mitra, bukan ancaman.”

Di Lembayung, orang-orang menonton dengan campuran harap dan ragu. Kepala desa berkata proyek itu akan membuka lapangan kerja. Spanduk-spanduk dipasang: Amarta Bangkit! Amarta Maju!

Ayah Raka tak pernah menonton sampai selesai. Ia mematikan televisi sebelum pidato usai. “Bangkit untuk siapa?” gumamnya.

Beberapa bulan kemudian, truk-truk besar mulai berdatangan. Jalanan desa yang dulu sunyi kini bergetar setiap malam. Bukit tempat Raka dan teman-temannya dulu bermain layang-layang mulai dipagari seng. Di sana berdiri papan besar bertuliskan: Kawasan Proyek Strategis Nasional – Dilarang Masuk Tanpa Izin.

Raka yang kini bekerja sebagai reporter untuk media lokal kecil bernama Suara Pesisir mencoba meliput. Ia datang dengan kamera tua dan buku catatan yang sudah mulai kusut di sudut-sudutnya.

“Maaf, Mas,” kata seorang petugas keamanan dengan helm dan rompi reflektif. “Akses terbatas. Semua informasi lewat kantor pusat.”

Raka menuliskan kalimat itu dalam bukunya: Semua informasi lewat kantor pusat. Kalimat itu terasa seperti simbol zaman. Rakyat tak lagi bisa melihat apa yang terjadi di tanah mereka sendiri.

Seiring waktu, bukit itu menghilang sedikit demi sedikit. Pohon-pohon ditebang, tanah dikupas seperti kulit buah. Dari kejauhan, proyek itu tampak seperti luka terbuka di tubuh bumi. Debu beterbangan, menempel di jendela rumah, di pakaian yang dijemur, bahkan di nasi yang belum sempat ditutup.

Ayah Raka kembali bekerja di sana. “Hanya sementara,” katanya pada Raka. “Kita butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu.”

Ibu Raka memang sakit. Batuknya tak kunjung sembuh. Dokter puskesmas mengatakan paru-parunya teriritasi. Debu, mungkin. Atau usia. Atau kombinasi keduanya.

Raka menulis artikel demi artikel. Ia mewawancarai nelayan yang mengeluh hasil tangkapan menurun karena air keruh. Ia berbicara dengan guru sekolah dasar yang khawatir murid-muridnya sering batuk dan sesak. Ia mencoba meminta data pada dinas lingkungan hidup, tapi jawabannya selalu normatif: “Sesuai standar. Tidak ada pelanggaran berarti.”

Sementara itu, di televisi nasional, proyek Aurora Minerals dipuji sebagai keberhasilan. Angka investasi melonjak. Pertumbuhan ekonomi naik sekian persen. Amarta disebut-sebut sebagai bintang baru di kawasan.

Raka mulai merasa hidup di dua negeri yang berbeda. Negeri di layar kaca yang gemerlap dan optimis, dan negeri di bawah kakinya yang berdebu dan letih.

Suatu malam, ayahnya pulang lebih awal dari biasanya. Wajahnya pucat, napasnya berat. Ia duduk tanpa bicara, menatap dinding yang mulai retak.

“Terjadi longsor,” katanya akhirnya. “Dua orang tertimbun.”

“Siapa?” tanya Raka, suaranya tercekat.

“Teman sekampung. Mereka bilang itu kecelakaan kerja. Tapi kami tahu, mereka memaksa kami kerja meski hujan deras.”

Keesokan harinya, Raka pergi ke lokasi. Ia melihat ambulans, garis polisi, dan sekelompok pekerja yang berdiri dengan wajah kosong. Ia mengangkat kameranya, tapi seorang pria bersetelan rapi mendekat.

“Berhenti. Ini area sensitif. Jangan memperkeruh suasana,” katanya tegas.

“Rakyat berhak tahu,” balas Raka.

Pria itu tersenyum tipis. “Rakyat juga berhak atas stabilitas.”

Kata stabilitas bergema di kepala Raka. Stabilitas untuk siapa? Untuk investor? Untuk grafik ekonomi? Atau untuk keluarga yang kehilangan tulang punggung?

Artikel Raka tentang longsor itu akhirnya terbit, tapi tak lama kemudian redaksinya mendapat surat peringatan. Iklan dari perusahaan-perusahaan yang berafiliasi dengan proyek mulai ditarik. Pemilik media memanggil Raka ke ruangannya.

“Kita harus realistis,” kata sang pemilik dengan nada lelah. “Kita ini media kecil. Jangan bunuh diri.”

“Lalu bagaimana dengan kebenaran?” tanya Raka.

Pemilik itu menatapnya lama. “Kebenaran mahal, Nak. Tidak semua orang mampu membayarnya.”

Tak lama setelah itu, artikel-artikel Raka mulai diedit lebih ketat. Kata “kerusakan” diganti menjadi “dampak”. Kata “korban” diganti menjadi “insiden”. Kata “eksploitasi” dihapus sama sekali.

Di rumah, keadaan memburuk. Ibu Raka harus dirawat. Ayahnya bekerja lebih keras, meski tubuhnya semakin ringkih. Raka merasa terjepit di antara idealisme dan kenyataan. Ia ingin melawan, tapi ia juga ingin ibunya sembuh.

Suatu sore, ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Sinta di perpustakaan kota. Sinta adalah dosen muda yang sedang meneliti dampak sosial proyek tambang. Mereka berbicara panjang tentang teori kutukan sumber daya, tentang negeri-negeri yang kaya tapi tetap miskin karena terlalu bergantung pada komoditas mentah.

“Masalahnya bukan pada kekayaan alamnya,” kata Sinta. “Masalahnya pada cara kita mengelolanya. Kita menjual bahan mentah, membeli kembali barang jadi dengan harga mahal. Kita menjual isi perut, tapi tak pernah membangun otot dan otak.”

Kalimat itu menghantam Raka. Menjual isi perut. Ia membayangkan Amarta sebagai tubuh raksasa yang perutnya terus dikorek, sementara tangannya lemah dan kepalanya bingung.

Sinta mengajak Raka bergabung dalam forum warga yang mulai kritis terhadap proyek itu. Mereka mengadakan diskusi kecil, menulis petisi, mengundang ahli lingkungan untuk berbicara. Tidak banyak yang datang, tapi cukup untuk menyalakan percikan.

Namun percikan sering kali dianggap api yang harus dipadamkan.

Suatu malam, baliho forum mereka dicopot. Keesokan harinya, kantor kecil tempat mereka berkumpul didatangi aparat. “Kegiatan tanpa izin,” kata mereka. “Bisa mengganggu ketertiban.”

Raka mulai menerima pesan anonim di ponselnya. Hati-hati. Jangan bermain api. Ayahnya khawatir. “Kita orang kecil, Ka. Jangan melawan arus besar.”

Tapi Raka sudah terlanjur melihat terlalu banyak. Ia melihat sungai yang dulu jernih kini berwarna kecokelatan. Ia melihat anak-anak bermain di antara truk-truk besar. Ia melihat ayahnya batuk darah di kamar mandi, berusaha menutupinya dengan handuk.

Pada suatu pagi yang kelabu, kabar buruk datang lagi. Terjadi kebocoran limbah di area proyek. Hujan deras semalaman membuat kolam penampungan meluap. Air bercampur lumpur dan bahan kimia mengalir ke sawah dan sungai.

Ikan-ikan mati mengapung. Petani mengeluh padi mereka menguning sebelum waktunya. Media nasional menyebutnya “kejadian tidak terduga akibat cuaca ekstrem”.

Raka menulis dengan marah. Ia tak lagi peduli pada iklan atau peringatan. Ia menulis tentang angka-angka yang tak pernah muncul di televisi: tentang kasus ISPA yang meningkat, tentang air sumur yang tak lagi layak minum, tentang kompensasi yang tak pernah benar-benar sampai.

Artikel itu viral. Dibagikan ribuan kali. Untuk pertama kalinya, Lembayung menjadi sorotan nasional.

Pemerintah pusat mengirim tim investigasi. Presiden dalam pidato terbarunya menyatakan “evaluasi menyeluruh” akan dilakukan. Aurora Minerals mengeluarkan pernyataan resmi, menyatakan komitmen pada keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.

Namun di balik semua itu, ayah Raka tak sempat melihat perubahan apa pun. Ia meninggal beberapa minggu kemudian, paru-parunya tak lagi mampu bertahan.

Di pemakaman sederhana di tepi desa, Raka berdiri dengan mata kering. Ia merasa air matanya telah habis bersama debu yang selama ini ia hirup. Di antara tanah basah dan doa yang lirih, ia berjanji pada dirinya sendiri: ia tak akan berhenti menulis.

Waktu berjalan. Proyek itu tetap ada, meski dengan beberapa perbaikan kosmetik. Sungai perlahan dibersihkan, atau setidaknya terlihat lebih bersih dari jauh. Statistik ekonomi tetap dipamerkan.

Namun sesuatu telah berubah. Warga Lembayung tak lagi sepenuhnya diam. Mereka belajar membaca kontrak, belajar memahami istilah-istilah hukum, belajar bertanya.

Raka dan Sinta mendirikan media independen daring. Kecil, sering kekurangan dana, tapi bebas. Mereka menulis bukan hanya tentang kerusakan, tetapi juga tentang kemungkinan: tentang energi terbarukan, tentang industri hilir, tentang pendidikan teknik bagi anak-anak desa.

“Negeri ini tidak harus terus menjual isi perutnya,” kata Sinta suatu malam, ketika mereka duduk di tepi pantai yang kini sebagian telah dipagari. “Kita bisa belajar mengolahnya sendiri. Atau bahkan memilih untuk tidak selalu menggali.”

Raka menatap laut yang gelap. Kapal-kapal masih datang dan pergi, tapi ia tak lagi hanya melihat lambung yang penuh. Ia melihat peluang untuk mengubah arah.

Amarta mungkin masih menjual isi perutnya hari ini. Tapi selama masih ada orang yang menulis, yang bertanya, yang menolak diam, selalu ada kemungkinan bahwa suatu hari nanti negeri itu akan belajar mencintai tubuhnya sendiri—bukan sebagai komoditas, melainkan sebagai rumah.

Dan di antara debu yang perlahan mengendap, harapan itu tumbuh seperti rumput liar: tak diundang, sering diinjak, tapi selalu menemukan cara untuk hidup. [T]

Penulis: Muhammad Khairu Rahman
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Lebaran Bersama Tuhan

Next Post

Preliminary Show Jegeg Bagus Buleleng 2026: Bagaimana Ajang Muda-Mudi Mampu Mempromosikan UMKM Lokal

Muhammad Khairu Rahman

Muhammad Khairu Rahman

Mahasiswa Fakultas Syariah, Program Studi Hukum Tatanegara, Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Preliminary Show Jegeg Bagus Buleleng 2026: Bagaimana Ajang Muda-Mudi Mampu Mempromosikan UMKM Lokal

Preliminary Show Jegeg Bagus Buleleng 2026: Bagaimana Ajang Muda-Mudi Mampu Mempromosikan UMKM Lokal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co