14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negeri yang Menjual Isi Perutnya | Cerpen Muhammad Khairu Rahman

Muhammad Khairu Rahman by Muhammad Khairu Rahman
March 13, 2026
in Cerpen
Negeri yang Menjual Isi Perutnya | Cerpen Muhammad Khairu Rahman

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di negeri itu, tanah tidak lagi disebut tanah. Ia disebut komoditas. Gunung tidak lagi dipandang sebagai punggung yang menyangga langit, melainkan sebagai tumpukan cadangan yang siap dikeruk. Sungai tak lagi dilihat sebagai nadi, melainkan sebagai saluran pembuangan yang dapat dinegosiasikan. Orang-orang di negeri itu menyebut dirinya bangsa besar, tetapi diam-diam mereka hidup dari kebiasaan menjual isi perutnya sendiri.

Namanya Negeri Amarta. Di peta dunia, Amarta terletak di garis khatulistiwa, memanjang seperti sabuk zamrud yang kaya akan hutan, batu bara, nikel, emas, dan minyak. Para pemimpinnya bangga menyebutnya “karunia tak terhingga”. Namun bagi sebagian rakyatnya, karunia itu terasa seperti kutukan yang perlahan menggerogoti.

Di kota pesisir bernama Lembayung, seorang anak muda bernama Raka duduk di tepi dermaga, memandangi kapal-kapal raksasa yang datang dan pergi. Kapal-kapal itu tak pernah membawa kembali sesuatu yang utuh. Mereka datang dengan perut kosong dan pulang dengan lambung penuh. Raka tahu apa yang mereka bawa: batu hitam dari gunung utara, bijih logam dari bukit timur, dan pasir halus dari pantai selatan.

Ayah Raka dulu seorang penambang. Tangan ayahnya kasar seperti kulit kayu, paru-parunya berat oleh debu yang tak pernah benar-benar keluar. “Negeri ini kaya, Ka,” kata ayahnya suatu malam, ketika listrik padam dan mereka hanya ditemani lampu minyak. “Tapi kekayaan itu seperti air laut. Kita dikelilingi olehnya, tapi tak bisa meminumnya.”

Raka tak benar-benar mengerti waktu itu. Ia masih remaja yang sibuk bermimpi tentang kota besar dan pekerjaan berseragam rapi. Ia tak ingin menjadi penambang. Ia ingin menjadi jurnalis, atau penulis, atau apa pun yang membuatnya bisa mengubah kata menjadi senjata.

Namun negeri ini punya cara sendiri untuk membentuk takdir warganya.

Suatu hari, kabar besar datang dari ibu kota. Presiden Amarta mengumumkan penandatanganan kontrak raksasa dengan perusahaan asing bernama Aurora Minerals. Kontrak itu disebut sebagai “lompatan kemajuan”. Televisi menampilkan gambar presiden berjabat tangan dengan lelaki berambut perak dari luar negeri. Senyum mereka lebar, lampu kilat kamera berpendar seperti kilat di musim hujan.

“Ini demi kesejahteraan rakyat,” kata presiden dalam pidato kenegaraan. “Kita harus membuka diri. Dunia adalah mitra, bukan ancaman.”

Di Lembayung, orang-orang menonton dengan campuran harap dan ragu. Kepala desa berkata proyek itu akan membuka lapangan kerja. Spanduk-spanduk dipasang: Amarta Bangkit! Amarta Maju!

Ayah Raka tak pernah menonton sampai selesai. Ia mematikan televisi sebelum pidato usai. “Bangkit untuk siapa?” gumamnya.

Beberapa bulan kemudian, truk-truk besar mulai berdatangan. Jalanan desa yang dulu sunyi kini bergetar setiap malam. Bukit tempat Raka dan teman-temannya dulu bermain layang-layang mulai dipagari seng. Di sana berdiri papan besar bertuliskan: Kawasan Proyek Strategis Nasional – Dilarang Masuk Tanpa Izin.

Raka yang kini bekerja sebagai reporter untuk media lokal kecil bernama Suara Pesisir mencoba meliput. Ia datang dengan kamera tua dan buku catatan yang sudah mulai kusut di sudut-sudutnya.

“Maaf, Mas,” kata seorang petugas keamanan dengan helm dan rompi reflektif. “Akses terbatas. Semua informasi lewat kantor pusat.”

Raka menuliskan kalimat itu dalam bukunya: Semua informasi lewat kantor pusat. Kalimat itu terasa seperti simbol zaman. Rakyat tak lagi bisa melihat apa yang terjadi di tanah mereka sendiri.

Seiring waktu, bukit itu menghilang sedikit demi sedikit. Pohon-pohon ditebang, tanah dikupas seperti kulit buah. Dari kejauhan, proyek itu tampak seperti luka terbuka di tubuh bumi. Debu beterbangan, menempel di jendela rumah, di pakaian yang dijemur, bahkan di nasi yang belum sempat ditutup.

Ayah Raka kembali bekerja di sana. “Hanya sementara,” katanya pada Raka. “Kita butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu.”

Ibu Raka memang sakit. Batuknya tak kunjung sembuh. Dokter puskesmas mengatakan paru-parunya teriritasi. Debu, mungkin. Atau usia. Atau kombinasi keduanya.

Raka menulis artikel demi artikel. Ia mewawancarai nelayan yang mengeluh hasil tangkapan menurun karena air keruh. Ia berbicara dengan guru sekolah dasar yang khawatir murid-muridnya sering batuk dan sesak. Ia mencoba meminta data pada dinas lingkungan hidup, tapi jawabannya selalu normatif: “Sesuai standar. Tidak ada pelanggaran berarti.”

Sementara itu, di televisi nasional, proyek Aurora Minerals dipuji sebagai keberhasilan. Angka investasi melonjak. Pertumbuhan ekonomi naik sekian persen. Amarta disebut-sebut sebagai bintang baru di kawasan.

Raka mulai merasa hidup di dua negeri yang berbeda. Negeri di layar kaca yang gemerlap dan optimis, dan negeri di bawah kakinya yang berdebu dan letih.

Suatu malam, ayahnya pulang lebih awal dari biasanya. Wajahnya pucat, napasnya berat. Ia duduk tanpa bicara, menatap dinding yang mulai retak.

“Terjadi longsor,” katanya akhirnya. “Dua orang tertimbun.”

“Siapa?” tanya Raka, suaranya tercekat.

“Teman sekampung. Mereka bilang itu kecelakaan kerja. Tapi kami tahu, mereka memaksa kami kerja meski hujan deras.”

Keesokan harinya, Raka pergi ke lokasi. Ia melihat ambulans, garis polisi, dan sekelompok pekerja yang berdiri dengan wajah kosong. Ia mengangkat kameranya, tapi seorang pria bersetelan rapi mendekat.

“Berhenti. Ini area sensitif. Jangan memperkeruh suasana,” katanya tegas.

“Rakyat berhak tahu,” balas Raka.

Pria itu tersenyum tipis. “Rakyat juga berhak atas stabilitas.”

Kata stabilitas bergema di kepala Raka. Stabilitas untuk siapa? Untuk investor? Untuk grafik ekonomi? Atau untuk keluarga yang kehilangan tulang punggung?

Artikel Raka tentang longsor itu akhirnya terbit, tapi tak lama kemudian redaksinya mendapat surat peringatan. Iklan dari perusahaan-perusahaan yang berafiliasi dengan proyek mulai ditarik. Pemilik media memanggil Raka ke ruangannya.

“Kita harus realistis,” kata sang pemilik dengan nada lelah. “Kita ini media kecil. Jangan bunuh diri.”

“Lalu bagaimana dengan kebenaran?” tanya Raka.

Pemilik itu menatapnya lama. “Kebenaran mahal, Nak. Tidak semua orang mampu membayarnya.”

Tak lama setelah itu, artikel-artikel Raka mulai diedit lebih ketat. Kata “kerusakan” diganti menjadi “dampak”. Kata “korban” diganti menjadi “insiden”. Kata “eksploitasi” dihapus sama sekali.

Di rumah, keadaan memburuk. Ibu Raka harus dirawat. Ayahnya bekerja lebih keras, meski tubuhnya semakin ringkih. Raka merasa terjepit di antara idealisme dan kenyataan. Ia ingin melawan, tapi ia juga ingin ibunya sembuh.

Suatu sore, ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Sinta di perpustakaan kota. Sinta adalah dosen muda yang sedang meneliti dampak sosial proyek tambang. Mereka berbicara panjang tentang teori kutukan sumber daya, tentang negeri-negeri yang kaya tapi tetap miskin karena terlalu bergantung pada komoditas mentah.

“Masalahnya bukan pada kekayaan alamnya,” kata Sinta. “Masalahnya pada cara kita mengelolanya. Kita menjual bahan mentah, membeli kembali barang jadi dengan harga mahal. Kita menjual isi perut, tapi tak pernah membangun otot dan otak.”

Kalimat itu menghantam Raka. Menjual isi perut. Ia membayangkan Amarta sebagai tubuh raksasa yang perutnya terus dikorek, sementara tangannya lemah dan kepalanya bingung.

Sinta mengajak Raka bergabung dalam forum warga yang mulai kritis terhadap proyek itu. Mereka mengadakan diskusi kecil, menulis petisi, mengundang ahli lingkungan untuk berbicara. Tidak banyak yang datang, tapi cukup untuk menyalakan percikan.

Namun percikan sering kali dianggap api yang harus dipadamkan.

Suatu malam, baliho forum mereka dicopot. Keesokan harinya, kantor kecil tempat mereka berkumpul didatangi aparat. “Kegiatan tanpa izin,” kata mereka. “Bisa mengganggu ketertiban.”

Raka mulai menerima pesan anonim di ponselnya. Hati-hati. Jangan bermain api. Ayahnya khawatir. “Kita orang kecil, Ka. Jangan melawan arus besar.”

Tapi Raka sudah terlanjur melihat terlalu banyak. Ia melihat sungai yang dulu jernih kini berwarna kecokelatan. Ia melihat anak-anak bermain di antara truk-truk besar. Ia melihat ayahnya batuk darah di kamar mandi, berusaha menutupinya dengan handuk.

Pada suatu pagi yang kelabu, kabar buruk datang lagi. Terjadi kebocoran limbah di area proyek. Hujan deras semalaman membuat kolam penampungan meluap. Air bercampur lumpur dan bahan kimia mengalir ke sawah dan sungai.

Ikan-ikan mati mengapung. Petani mengeluh padi mereka menguning sebelum waktunya. Media nasional menyebutnya “kejadian tidak terduga akibat cuaca ekstrem”.

Raka menulis dengan marah. Ia tak lagi peduli pada iklan atau peringatan. Ia menulis tentang angka-angka yang tak pernah muncul di televisi: tentang kasus ISPA yang meningkat, tentang air sumur yang tak lagi layak minum, tentang kompensasi yang tak pernah benar-benar sampai.

Artikel itu viral. Dibagikan ribuan kali. Untuk pertama kalinya, Lembayung menjadi sorotan nasional.

Pemerintah pusat mengirim tim investigasi. Presiden dalam pidato terbarunya menyatakan “evaluasi menyeluruh” akan dilakukan. Aurora Minerals mengeluarkan pernyataan resmi, menyatakan komitmen pada keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.

Namun di balik semua itu, ayah Raka tak sempat melihat perubahan apa pun. Ia meninggal beberapa minggu kemudian, paru-parunya tak lagi mampu bertahan.

Di pemakaman sederhana di tepi desa, Raka berdiri dengan mata kering. Ia merasa air matanya telah habis bersama debu yang selama ini ia hirup. Di antara tanah basah dan doa yang lirih, ia berjanji pada dirinya sendiri: ia tak akan berhenti menulis.

Waktu berjalan. Proyek itu tetap ada, meski dengan beberapa perbaikan kosmetik. Sungai perlahan dibersihkan, atau setidaknya terlihat lebih bersih dari jauh. Statistik ekonomi tetap dipamerkan.

Namun sesuatu telah berubah. Warga Lembayung tak lagi sepenuhnya diam. Mereka belajar membaca kontrak, belajar memahami istilah-istilah hukum, belajar bertanya.

Raka dan Sinta mendirikan media independen daring. Kecil, sering kekurangan dana, tapi bebas. Mereka menulis bukan hanya tentang kerusakan, tetapi juga tentang kemungkinan: tentang energi terbarukan, tentang industri hilir, tentang pendidikan teknik bagi anak-anak desa.

“Negeri ini tidak harus terus menjual isi perutnya,” kata Sinta suatu malam, ketika mereka duduk di tepi pantai yang kini sebagian telah dipagari. “Kita bisa belajar mengolahnya sendiri. Atau bahkan memilih untuk tidak selalu menggali.”

Raka menatap laut yang gelap. Kapal-kapal masih datang dan pergi, tapi ia tak lagi hanya melihat lambung yang penuh. Ia melihat peluang untuk mengubah arah.

Amarta mungkin masih menjual isi perutnya hari ini. Tapi selama masih ada orang yang menulis, yang bertanya, yang menolak diam, selalu ada kemungkinan bahwa suatu hari nanti negeri itu akan belajar mencintai tubuhnya sendiri—bukan sebagai komoditas, melainkan sebagai rumah.

Dan di antara debu yang perlahan mengendap, harapan itu tumbuh seperti rumput liar: tak diundang, sering diinjak, tapi selalu menemukan cara untuk hidup. [T]

Penulis: Muhammad Khairu Rahman
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Lebaran Bersama Tuhan

Next Post

Preliminary Show Jegeg Bagus Buleleng 2026: Bagaimana Ajang Muda-Mudi Mampu Mempromosikan UMKM Lokal

Muhammad Khairu Rahman

Muhammad Khairu Rahman

Mahasiswa Fakultas Syariah, Program Studi Hukum Tatanegara, Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Preliminary Show Jegeg Bagus Buleleng 2026: Bagaimana Ajang Muda-Mudi Mampu Mempromosikan UMKM Lokal

Preliminary Show Jegeg Bagus Buleleng 2026: Bagaimana Ajang Muda-Mudi Mampu Mempromosikan UMKM Lokal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co