14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jari Telunjuk Nakal —Cerita Inspiratif Seorang Dokter

dr. Putu Sukedana, S.Ked. by dr. Putu Sukedana, S.Ked.
March 13, 2026
in Khas
Jari Telunjuk Nakal —Cerita Inspiratif Seorang Dokter

Foto Ibu (Luh Sumintang), Almarhum Bapak (Wayan Budiarsana), dan adik pertamaku (Kadek Rina Puspita Widiarsini). Sumber: Dokumen pribadi

Nittt…Nitttt… Nittt! Suara monitor itu berbunyi di ruangan yang penuh aura kesedihan, harapan, tangisan, dan keikhlasan bercampur aduk. Kulitnya yang hitam legam itu terbaring di bed nomor 10 ICU Barat di rumah sakit pusat terbesar area Pulau Dewata. Sudah 4 hari dirawat di sana oleh guru-guru kami setelah mengalami kejang hebat pada 4 hari lalu saat subuh hari. “Sudah mati batang otak,” kata guruku yang seorang dokter spesialis bedah saraf.

Kulihat refleks kornea bapak sudah tidak ada, pupilnya juga melebar. Aku berdiskusi dan berdoa untuk menentukan langkah selanjutnya. Akankah ayahku terus menderita seperti ini dengan topangan monitor, obat, dan alat medis yang menempel di badannya? Akankah berhenti perjuangan ayahku selama ini dan pesannya sebelum meja operasi tak dapat aku penuhi? “Selamatang Bapak nah, Tu,” kata ayah sebelum masuk ruang operasi dan kulihat sendiri sebelum Bapak kejang lagi.

2 Maret 2017 jam 10 pagi ayah berpulang ke alam niskala. Siksaan batin, merasa bersalah, merasa disalahkan, capek badan, uang tidak ada, bercampur aduk. Syukurnya saat itu perawatan Bapak ditanggung asuransi KIS BPJS. Kami memang menerima bantuan saat itu, namun saya bersumpah saat saya tamat kedokteran akan membayar premi sendiri dan membalas kebaikan pemerintah Buleleng dan pusat. Ayah bersama sirine ambulans dari Denpasar menuju Singaraja. Ibu di samping jasad ayah dan bersamaku. Saat tiba di area Desa Satra, ibu mengidam buah labu, ingin dibuat jukut (sayur semacam lodeh). Saya berusaha memanggil pemilik kebun tapi tidak ada yang menyahut, alhasil saya mencurinya untuk Ibu yang sedang mengidam bersama jasad ayah.

Sesampai di rumah, sudah banyak pelayat datang dan mempersiapkan tempat jenazah. Ibu duduk sembari menunggu jukut matang dan menyantapnya. Beberapa hari kemudian beliau dilaksanakan upacara Ngaben di Desa Adat Kelampuak dengan dibarengi oleh seluruh krama (warga adat) di sana. Kami beruntung upacara Ngaben dilaksanakan secara gotong royong, setiap ada yang meninggal maka seluruh karma akan dana punia sesuai adat yang sudah ditentukan. Upacara Ngaben di desa kami sederhana dan ekonomis. Terima kasih warga Kelampuak.

Malam Mencekam Suara Genta

Seharian menjalani proses Ngaben, keluarga dan warga pun kelelahan. Mereka ada yang minum sambil bergurau dan ada pula yang tertidur pulas. Kamar saya berada di bagian barat area rumah, berdinding batako dan beralaskan semen. Ibu tidur bersama adik saya dan saya tidur sendirian. Tiba-tiba saya terbangun saat tengah malam. Bulu kuduk merinding dan terdengar sayup-sayup suara lonceng dari arah barat semakin jelas terdengar. Saya kira itu suara anjing dan gemericing kalungnya. Tirai biru saya sibakkan, tidak ada terlihat anjing namun suaranya semakin jelas.

Saya usap-usap mata, barangkali masih di dalam mimpi. Tapi suara itu mengitari rumah. Segera terperanjat dari tidur dan saya bangunkan Ibu serta adik dari tidurnya. Ibu juga merasakan hal yang sama dan kami berdua segera melafalkan Gayatri Mantram. Cukup lama suara itu terdengar, sekitar 30 menit. Adik yang masih tertidur tak merasakan pengalam itu. Ibu terus memeluk kami sambal kita terus berdoa. Apakah itu?

Telunjuk Nakal

Bapak ke Denpasar untuk menjalani pemeriksaan DSA (Digital Substraction Angiography) atau pemeriksaan untuk mengetahui pembuluh darah dalam otak karena bapak dicurigai mengalami penggelembungan pembuluh darah otak (aneurimsma pembuluh darah otak). Saat ke Denpasar Bapak bisa membawa motor supra warna hitam bersama Ibu. Tak ayal, banyak orang menyalahkanku atas kematian Bapak.

Ada yang berhitung bahwa jika Bapak tidak dioperasi maka Bapak pasti masih hidup. Ada lagi orang “pintar” yang memvonis sebenarnya kena cetik ceroncong polo (sejenis racun yang berguna menyerang otak dan melumpuhkan target sasaran). Bahkan ada yang mengatakan Bapak meninggal di usia 41 tahun karena tidak mau melanjutkan warisan spiritual kakek sebagai penekun pengobat tradisional atau Balian.

Foto Ibu (Luh Sumintang), Almarhum Bapak (Wayan Budiarsana), dan adik pertamaku (Kadek Rina Puspita Widiarsini). Sumber: Dokumen pribadi

Begitu banyak gunjingan di luar dan di dalam rumah. Ibu sendiri sangat menyalahkan saya karena prosedur yang kita ambil membuat Bapak meninggal. Padahal sudah berulangkali saya jelaskan bahwa penyakit Bapak lambat laun dan tinggal menunggu hari akan pecah pembuluh darahnya. Tidak ada satu orang dokter pun yang ingin membunuh pasiennya apalagi anak sendiri yang dibesarkan dengan jerih payah memanjat pohon kelapa ingin mencelakai ayahnya sendiri.

Saat seperti itu, saya merasa ingin bunuh diri dan merasa tidak berguna sebagai mahasiswa kedokteran stase akhir. Banyak orang kita bantu bersama senior, tapi kenapa ayah sendiri tidak bisa selamat? Bahkan bisa dibilang sangat tragis di saat ibu hamil 5 bulan mengandung adik kami, Komang.

Tangis sedih dari diri, tekanan dari Ibu dan adik, gunjingan dari orang lain serta biaya sekolah yang harus saya siapkan membuat semuanya menjadi cerita yang begitu sad ending. Dari segi ekonomi saya berusaha berjualan buah, nasi kuning, dan lain-lain kepada guru-guru di rumah sakit dan teman-teman. Tidak banyak namun cukup membantu untuk bekal makan.

Syukurnya saya bertemu orang-orang baik yang membantu beban pikiran, ekonomi yang ada. Saya bahkan belajar tiap hari dari Youtube, ialah Guruji Gde Prama yang mengisi tiap pagi, siang, dan malam. Mulai dari keikhlasan, kematian, compassion saya dengarkan dengan seksama. Belakangan saya belajar juga dengan Ajahn Brahmn dari buku-bukunya, Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya. Belum cukup, saya belajar metode AIR (Akui, Ijinkan, Relakan) sehingga beban psikis menjadi lebih ringan.

Almarhum Bapak (Wayan Budiarsana)

Puncaknya saya mendirikan Budiarsana Foundation untuk memberikan bantuan pendidikan kepada siswa/siswi belum beruntung secara ekonomi, warga dengan stroke, dan memberikan penyuluhan Bantuan Hidup Dasar/BHD gratis kepada sekolah-sekolah SD. Saat ini, saya bisa selamat dari ujian telunjuk-telunjuk nakal. Terima kasih guru-guru dan semuanya. Saya mengakui ada kekurangan dalam tubuh ini, dalam kemampuan ini. Saya ijinkan semua beban dari telunjuk nakal itu mengalir dalam tubuh. Saya relakan semua yang sudah terjadi sebagai buah karmaku. Bahagia di sana Bapak. AIR. [T]

Penulis: dr. Putu Sukedana
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis dr. PUTU SUKEDANA

Tags: cerita dokterKeluarga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Bara Logam ke Simbol Persatuan: Pengecoran Rupang Buddha Nusantara dalam Peringatan Tahun Kencana Setengah Abad Saṅgha Theravāda Indonesia

Next Post

Bali dan Intelektual yang Hanya Aktif di Media Sosial

dr. Putu Sukedana, S.Ked.

dr. Putu Sukedana, S.Ked.

Founder Budiarsana Foundation, Manager BMMC, Staff Managemen Pasien RSU Kertha Usada, Mahasiswa S2 Ilmu Managemen Pasca Sarjana Undiksha

Related Posts

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails
Next Post
Bali dan Intelektual yang Hanya Aktif di Media Sosial

Bali dan Intelektual yang Hanya Aktif di Media Sosial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co