4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali dan Intelektual yang Hanya Aktif di Media Sosial

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 13, 2026
in Esai
Bali dan Intelektual yang Hanya Aktif di Media Sosial

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di Bali, ada fenomena yang lucu tapi sekaligus menyedihkan. Sebagian intelektual generasi tua yang dulunya produktif menulis, kini hanya aktif di media sosial. Mereka yang dulu melahirkan buku, esai panjang, bahkan artikel yang mampu memengaruhi cara pikir orang, sekarang rajin menulis status di Facebook atau Instagram.

Isinya sering tentang Bali, penguasa, kebudayaan, dan isu sosial yang menurut mereka penting. Sayangnya, tulisan-tulisan itu sering berhenti pada romantisme belaka, pada perasaan dan opini pribadi yang disembunyikan di balik kata-kata indah dan kalimat penuh retorika.

Ada yang menulis tentang penguasa dengan nada kritis, tapi nadanya selalu sarat kebencian. Ada yang membahas budaya Bali, tapi rasanya lebih ingin mengulang kenangan masa lalu daripada menawarkan analisis baru.

Ada yang menyinggung masalah sosial, tapi selalu dari perspektif emosi yang melekat pada pengalaman pribadi. Mereka mengkritik, menilai, bahkan mencela, tapi semuanya dilakukan di ruang sempit media sosial yang sebenarnya tidak menuntut kedalaman atau obyektivitas.

Sejak dulu saya meyakini, seorang intelektual sejati harus bebas dari beban emosional yang mengikat. Bebas dari kebencian, iri, atau dendam pribadi. Bebas dari obsesi terhadap citra atau reputasi yang ingin dipertahankan. Bebas dari ego yang memerintah cara berpikir.

Hanya dengan kebebasan itu intelektual bisa berpikir obyektif, menulis dengan jujur, dan menyajikan kritik yang konstruktif. Sayangnya, banyak yang saya lihat masih terperangkap dalam amarah kecil, dalam rasa tidak suka terhadap penguasa atau orang-orang yang dianggap “jelek” di mata mereka.

Ironisnya, mereka mengekspresikan semua itu di media sosial. Status pendek, komentar pedas, atau unggahan yang dibuat terburu-buru menjadi pengganti tulisan panjang yang bermakna. Mereka menulis dengan lantang, tapi seringkali hanya untuk didengar sesama pengikut atau teman Facebook yang seideologi.

Tidak ada dialog mendalam, tidak ada ruang untuk kritik yang lebih matang, tidak ada pertanggungjawaban publik terhadap gagasan yang mereka lontarkan.

Saya masih ingat beberapa nama yang dulunya menulis produktif, melahirkan buku yang dibaca luas, esai yang dibicarakan di kalangan akademik, bahkan kolom opini yang menjadi rujukan. Mereka mampu menghadirkan argumen yang kompleks, analisis yang tajam, dan refleksi yang dalam tentang kondisi sosial, politik, dan budaya.

Kini, kemampuan itu, bak tersimpan rapih di lemari tua, hanya keluar sebentar untuk status yang bisa dibaca dalam lima detik. Mereka kehilangan momentum untuk menulis panjang dan bermakna.

Apa yang membuat mereka berubah? Mungkin kenyamanan. Media sosial memberikan ruang cepat, instan, dan tidak menuntut banyak energi. Tidak ada editor yang mengoreksi, tidak ada penerbit yang menuntut kejelasan argumen, tidak ada pembaca yang menunggu esai panjang yang memerlukan perhatian.

Di media sosial, setiap kata adalah aksi spontan, setiap kalimat adalah refleksi sesaat. Mudah bagi intelektual untuk mengekspresikan perasaan, melampiaskan amarah, atau sekadar menunjukkan kepedulian terhadap isu tertentu.

Tapi kenyamanan itu juga jebakan. Intelektual yang terbiasa hanya menulis di media sosial lambat laun kehilangan kemampuan untuk menulis serius, menyusun argumen koheren, dan menghadirkan kritik obyektif. Mereka menjadi lebih reaktif daripada reflektif.

Lebih sering menanggapi postingan orang lain daripada membangun gagasan sendiri. Lebih senang memelihara kebencian atau kemarahan daripada merenungkan penyebab dan solusi dari masalah yang mereka kritik.

Bali membutuhkan intelektual yang menulis bukan untuk melampiaskan emosi, tetapi untuk membangun pemahaman. Bali membutuhkan suara yang mampu memotret realitas tanpa bias pribadi, tanpa dendam terhadap penguasa, tanpa obsesi terhadap citra masa lalu.

Suara yang mampu menyajikan analisis kritis tentang politik, budaya, dan masyarakat, yang bisa dibaca dan dipahami oleh generasi berikutnya.

Karena itu, saya sering menyampaikan kepada mereka, daripada menghabiskan sebagian besar waktu hanya untuk aktif di media sosial, alangkah baiknya mereka mulai menulis di media massa atau media online.

Esai kritis, tulisan reflektif, atau artikel mendalam jauh lebih pantas daripada sekadar status Facebook. Dengan tulisan panjang, intelektual dipaksa berpikir lebih keras, menyusun argumen dengan runtut, dan menyajikan fakta yang mendukung analisis mereka.

Mereka dipaksa lebih obyektif, lebih reflektif, dan lebih bertanggung jawab terhadap gagasan yang disampaikan.

Media sosial memang penting, tapi tidak bisa menjadi satu-satunya arena intelektual. Status atau tweet yang singkat tidak pernah bisa menggantikan esai panjang dan mendalam. Komentar yang pedas tidak pernah bisa setara dengan kritik yang bernas dan berbasis data. Unggahan instan tidak pernah menandingi refleksi yang matang dan analisis yang komprehensif.

Yang saya sayangkan adalah, banyak intelektual yang dulunya produktif kini lebih senang menjadi pengamat dari jauh, menjadi komentator tanpa risiko, menjadi pengkritik yang aman di ruang virtual.

Mereka merindukan Bali yang ideal, penguasa yang ideal, masyarakat yang ideal, tapi tidak pernah berani menulis dengan serius, tidak pernah berani menantang diri mereka sendiri, tidak pernah berani membuka argumen mereka kepada publik yang lebih luas.

Intelektual sejati itu tidak boleh nyaman di zona aman. Mereka harus siap menghadapi kritik, siap mempertanggungjawabkan gagasan, dan siap menghadapi konsekuensi dari tulisan mereka. Mereka harus berani keluar dari lingkaran teman-teman yang seideologi, dari komentar yang hanya memelihara egonya. Mereka harus menulis untuk menguji gagasan mereka, bukan untuk melampiaskan emosi.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa intelektual media sosial seringkali masih terikat pada nostalgia masa lalu. Mereka membicarakan Bali dari sudut pandang sentimental, memuja masa lalu yang menurut mereka lebih murni atau lebih ideal. Mereka membandingkan kondisi sekarang dengan masa lalu, tapi sering lupa meneliti fakta dan konteks yang sebenarnya.

Mereka menulis dengan hati, tapi lupa menulis dengan pikiran. Mereka merindukan sesuatu yang sempurna, tapi tidak pernah mencoba menghadirkan sesuatu yang konkret melalui tulisan mereka.

Seharusnya, intelektual mampu melampaui perasaan pribadi. Kritik yang baik bukan hanya soal mengekspresikan ketidaksukaan, tapi juga soal menganalisis penyebab, mencari solusi, dan menyajikan perspektif baru yang bermanfaat bagi masyarakat. Kritik harus bebas dari kebencian, dendam, atau obsesi terhadap citra orang lain. Kritik harus obyektif, reflektif, dan produktif.

Menulis di media massa atau media online berarti membuka diri terhadap penilaian publik. Setiap kata yang ditulis harus dipertanggungjawabkan. Setiap argumen yang disampaikan harus memiliki dasar. Setiap opini yang dikemukakan harus diuji melalui logika dan fakta. Tidak ada jalan pintas, tidak ada pelarian dari tanggung jawab.

Dan inilah tantangan yang sering dihindari oleh intelektual media sosial. Mereka ingin menulis, tapi hanya sebatas yang nyaman. Mereka ingin berargumen, tapi hanya dalam ruang sempit yang aman.

Mereka ingin kritis, tapi tidak ingin menghadapi risiko. Akhirnya, Bali kehilangan potensi besar dari kapasitas intelektual yang seharusnya bisa memengaruhi masyarakat, budaya, dan politik secara positif.

Jika intelektual generasi tua di Bali mampu menulis serius, mereka bisa membentuk wacana yang lebih sehat. Mereka bisa mengajak generasi muda berpikir kritis, menyajikan analisis mendalam tentang isu-isu penting, dan membangun budaya membaca dan menulis yang lebih kuat.

Masih ada sebagian dari mereka yang memiliki kapasitas itu. Mereka hanya perlu mengalihkan sebagian waktu dari media sosial, menyalurkan energi dan pemikiran ke tulisan yang lebih panjang, lebih dalam, dan lebih bermakna.

Bukan berarti saya menolak media sosial. Media sosial bisa menjadi alat yang sangat berguna untuk menyebarkan gagasan, mengajak diskusi, atau memperluas jangkauan tulisan. Tapi media sosial harus menjadi alat, bukan tujuan. Status atau unggahan singkat bisa menjadi pengantar, tapi tidak bisa menggantikan esai panjang dan mendalam. Komentar atau like tidak bisa menggantikan kritik yang bernas dan reflektif.

Intelektual sejati itu menulis bukan untuk popularitas atau melampiaskan emosi. Mereka menulis untuk berpikir lebih keras, memahami lebih dalam, dan mengajak orang lain berpikir. Menulis bukan untuk menyerang, tapi untuk membangun. Bukan untuk menunjukkan kebencian, tapi untuk menampilkan obyektivitas dan kebebasan berpikir.

Di Bali, intelektual generasi tua memiliki potensi besar untuk melakukan itu. Mereka memiliki pengalaman, kapasitas berpikir, dan wawasan luas. Mereka hanya perlu berani keluar dari kenyamanan media sosial, menulis dengan serius, dan menghadirkan kritik yang obyektif dan reflektif.

Hanya dengan begitu mereka bisa kembali menjadi intelektual sejati yang memberi manfaat bagi masyarakat dan budaya Bali. Semoga tulisan mereka tidak hanya menjadi kata-kata indah di Facebook, tetapi gagasan yang bisa mengubah cara kita berpikir, cara kita melihat Bali, dan cara kita membangun masa depan bersama. Karena pada akhirnya intelektual itu bukan sekadar yang rajin menulis status, tetapi yang mampu menulis untuk membebaskan pikiran dan membangun masyarakat. Bali, masyarakatnya, dan generasi mendatang pantas mendapatkan itu. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliintelektualmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jari Telunjuk Nakal —Cerita Inspiratif Seorang Dokter

Next Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Lebaran Bersama Tuhan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-Puisi Chusmeru | Lebaran Bersama Tuhan

Puisi-Puisi Chusmeru | Lebaran Bersama Tuhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co