4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali dan Intelektual yang Hanya Aktif di Media Sosial

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 13, 2026
in Esai
Bali dan Intelektual yang Hanya Aktif di Media Sosial

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di Bali, ada fenomena yang lucu tapi sekaligus menyedihkan. Sebagian intelektual generasi tua yang dulunya produktif menulis, kini hanya aktif di media sosial. Mereka yang dulu melahirkan buku, esai panjang, bahkan artikel yang mampu memengaruhi cara pikir orang, sekarang rajin menulis status di Facebook atau Instagram.

Isinya sering tentang Bali, penguasa, kebudayaan, dan isu sosial yang menurut mereka penting. Sayangnya, tulisan-tulisan itu sering berhenti pada romantisme belaka, pada perasaan dan opini pribadi yang disembunyikan di balik kata-kata indah dan kalimat penuh retorika.

Ada yang menulis tentang penguasa dengan nada kritis, tapi nadanya selalu sarat kebencian. Ada yang membahas budaya Bali, tapi rasanya lebih ingin mengulang kenangan masa lalu daripada menawarkan analisis baru.

Ada yang menyinggung masalah sosial, tapi selalu dari perspektif emosi yang melekat pada pengalaman pribadi. Mereka mengkritik, menilai, bahkan mencela, tapi semuanya dilakukan di ruang sempit media sosial yang sebenarnya tidak menuntut kedalaman atau obyektivitas.

Sejak dulu saya meyakini, seorang intelektual sejati harus bebas dari beban emosional yang mengikat. Bebas dari kebencian, iri, atau dendam pribadi. Bebas dari obsesi terhadap citra atau reputasi yang ingin dipertahankan. Bebas dari ego yang memerintah cara berpikir.

Hanya dengan kebebasan itu intelektual bisa berpikir obyektif, menulis dengan jujur, dan menyajikan kritik yang konstruktif. Sayangnya, banyak yang saya lihat masih terperangkap dalam amarah kecil, dalam rasa tidak suka terhadap penguasa atau orang-orang yang dianggap “jelek” di mata mereka.

Ironisnya, mereka mengekspresikan semua itu di media sosial. Status pendek, komentar pedas, atau unggahan yang dibuat terburu-buru menjadi pengganti tulisan panjang yang bermakna. Mereka menulis dengan lantang, tapi seringkali hanya untuk didengar sesama pengikut atau teman Facebook yang seideologi.

Tidak ada dialog mendalam, tidak ada ruang untuk kritik yang lebih matang, tidak ada pertanggungjawaban publik terhadap gagasan yang mereka lontarkan.

Saya masih ingat beberapa nama yang dulunya menulis produktif, melahirkan buku yang dibaca luas, esai yang dibicarakan di kalangan akademik, bahkan kolom opini yang menjadi rujukan. Mereka mampu menghadirkan argumen yang kompleks, analisis yang tajam, dan refleksi yang dalam tentang kondisi sosial, politik, dan budaya.

Kini, kemampuan itu, bak tersimpan rapih di lemari tua, hanya keluar sebentar untuk status yang bisa dibaca dalam lima detik. Mereka kehilangan momentum untuk menulis panjang dan bermakna.

Apa yang membuat mereka berubah? Mungkin kenyamanan. Media sosial memberikan ruang cepat, instan, dan tidak menuntut banyak energi. Tidak ada editor yang mengoreksi, tidak ada penerbit yang menuntut kejelasan argumen, tidak ada pembaca yang menunggu esai panjang yang memerlukan perhatian.

Di media sosial, setiap kata adalah aksi spontan, setiap kalimat adalah refleksi sesaat. Mudah bagi intelektual untuk mengekspresikan perasaan, melampiaskan amarah, atau sekadar menunjukkan kepedulian terhadap isu tertentu.

Tapi kenyamanan itu juga jebakan. Intelektual yang terbiasa hanya menulis di media sosial lambat laun kehilangan kemampuan untuk menulis serius, menyusun argumen koheren, dan menghadirkan kritik obyektif. Mereka menjadi lebih reaktif daripada reflektif.

Lebih sering menanggapi postingan orang lain daripada membangun gagasan sendiri. Lebih senang memelihara kebencian atau kemarahan daripada merenungkan penyebab dan solusi dari masalah yang mereka kritik.

Bali membutuhkan intelektual yang menulis bukan untuk melampiaskan emosi, tetapi untuk membangun pemahaman. Bali membutuhkan suara yang mampu memotret realitas tanpa bias pribadi, tanpa dendam terhadap penguasa, tanpa obsesi terhadap citra masa lalu.

Suara yang mampu menyajikan analisis kritis tentang politik, budaya, dan masyarakat, yang bisa dibaca dan dipahami oleh generasi berikutnya.

Karena itu, saya sering menyampaikan kepada mereka, daripada menghabiskan sebagian besar waktu hanya untuk aktif di media sosial, alangkah baiknya mereka mulai menulis di media massa atau media online.

Esai kritis, tulisan reflektif, atau artikel mendalam jauh lebih pantas daripada sekadar status Facebook. Dengan tulisan panjang, intelektual dipaksa berpikir lebih keras, menyusun argumen dengan runtut, dan menyajikan fakta yang mendukung analisis mereka.

Mereka dipaksa lebih obyektif, lebih reflektif, dan lebih bertanggung jawab terhadap gagasan yang disampaikan.

Media sosial memang penting, tapi tidak bisa menjadi satu-satunya arena intelektual. Status atau tweet yang singkat tidak pernah bisa menggantikan esai panjang dan mendalam. Komentar yang pedas tidak pernah bisa setara dengan kritik yang bernas dan berbasis data. Unggahan instan tidak pernah menandingi refleksi yang matang dan analisis yang komprehensif.

Yang saya sayangkan adalah, banyak intelektual yang dulunya produktif kini lebih senang menjadi pengamat dari jauh, menjadi komentator tanpa risiko, menjadi pengkritik yang aman di ruang virtual.

Mereka merindukan Bali yang ideal, penguasa yang ideal, masyarakat yang ideal, tapi tidak pernah berani menulis dengan serius, tidak pernah berani menantang diri mereka sendiri, tidak pernah berani membuka argumen mereka kepada publik yang lebih luas.

Intelektual sejati itu tidak boleh nyaman di zona aman. Mereka harus siap menghadapi kritik, siap mempertanggungjawabkan gagasan, dan siap menghadapi konsekuensi dari tulisan mereka. Mereka harus berani keluar dari lingkaran teman-teman yang seideologi, dari komentar yang hanya memelihara egonya. Mereka harus menulis untuk menguji gagasan mereka, bukan untuk melampiaskan emosi.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa intelektual media sosial seringkali masih terikat pada nostalgia masa lalu. Mereka membicarakan Bali dari sudut pandang sentimental, memuja masa lalu yang menurut mereka lebih murni atau lebih ideal. Mereka membandingkan kondisi sekarang dengan masa lalu, tapi sering lupa meneliti fakta dan konteks yang sebenarnya.

Mereka menulis dengan hati, tapi lupa menulis dengan pikiran. Mereka merindukan sesuatu yang sempurna, tapi tidak pernah mencoba menghadirkan sesuatu yang konkret melalui tulisan mereka.

Seharusnya, intelektual mampu melampaui perasaan pribadi. Kritik yang baik bukan hanya soal mengekspresikan ketidaksukaan, tapi juga soal menganalisis penyebab, mencari solusi, dan menyajikan perspektif baru yang bermanfaat bagi masyarakat. Kritik harus bebas dari kebencian, dendam, atau obsesi terhadap citra orang lain. Kritik harus obyektif, reflektif, dan produktif.

Menulis di media massa atau media online berarti membuka diri terhadap penilaian publik. Setiap kata yang ditulis harus dipertanggungjawabkan. Setiap argumen yang disampaikan harus memiliki dasar. Setiap opini yang dikemukakan harus diuji melalui logika dan fakta. Tidak ada jalan pintas, tidak ada pelarian dari tanggung jawab.

Dan inilah tantangan yang sering dihindari oleh intelektual media sosial. Mereka ingin menulis, tapi hanya sebatas yang nyaman. Mereka ingin berargumen, tapi hanya dalam ruang sempit yang aman.

Mereka ingin kritis, tapi tidak ingin menghadapi risiko. Akhirnya, Bali kehilangan potensi besar dari kapasitas intelektual yang seharusnya bisa memengaruhi masyarakat, budaya, dan politik secara positif.

Jika intelektual generasi tua di Bali mampu menulis serius, mereka bisa membentuk wacana yang lebih sehat. Mereka bisa mengajak generasi muda berpikir kritis, menyajikan analisis mendalam tentang isu-isu penting, dan membangun budaya membaca dan menulis yang lebih kuat.

Masih ada sebagian dari mereka yang memiliki kapasitas itu. Mereka hanya perlu mengalihkan sebagian waktu dari media sosial, menyalurkan energi dan pemikiran ke tulisan yang lebih panjang, lebih dalam, dan lebih bermakna.

Bukan berarti saya menolak media sosial. Media sosial bisa menjadi alat yang sangat berguna untuk menyebarkan gagasan, mengajak diskusi, atau memperluas jangkauan tulisan. Tapi media sosial harus menjadi alat, bukan tujuan. Status atau unggahan singkat bisa menjadi pengantar, tapi tidak bisa menggantikan esai panjang dan mendalam. Komentar atau like tidak bisa menggantikan kritik yang bernas dan reflektif.

Intelektual sejati itu menulis bukan untuk popularitas atau melampiaskan emosi. Mereka menulis untuk berpikir lebih keras, memahami lebih dalam, dan mengajak orang lain berpikir. Menulis bukan untuk menyerang, tapi untuk membangun. Bukan untuk menunjukkan kebencian, tapi untuk menampilkan obyektivitas dan kebebasan berpikir.

Di Bali, intelektual generasi tua memiliki potensi besar untuk melakukan itu. Mereka memiliki pengalaman, kapasitas berpikir, dan wawasan luas. Mereka hanya perlu berani keluar dari kenyamanan media sosial, menulis dengan serius, dan menghadirkan kritik yang obyektif dan reflektif.

Hanya dengan begitu mereka bisa kembali menjadi intelektual sejati yang memberi manfaat bagi masyarakat dan budaya Bali. Semoga tulisan mereka tidak hanya menjadi kata-kata indah di Facebook, tetapi gagasan yang bisa mengubah cara kita berpikir, cara kita melihat Bali, dan cara kita membangun masa depan bersama. Karena pada akhirnya intelektual itu bukan sekadar yang rajin menulis status, tetapi yang mampu menulis untuk membebaskan pikiran dan membangun masyarakat. Bali, masyarakatnya, dan generasi mendatang pantas mendapatkan itu. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliintelektualmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jari Telunjuk Nakal —Cerita Inspiratif Seorang Dokter

Next Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Lebaran Bersama Tuhan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-Puisi Chusmeru | Lebaran Bersama Tuhan

Puisi-Puisi Chusmeru | Lebaran Bersama Tuhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co