4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lakon “Lobi Pedidian” Bali di Pusat —Catatan Tentang Lobi Bali Terkini

I Gede Joni Suhartawan by I Gede Joni Suhartawan
March 9, 2026
in Opini
Lakon “Lobi Pedidian” Bali di Pusat —Catatan Tentang Lobi Bali Terkini

Gubernur Bali Wayan Koster

ADA nada genting yang terselip dalam pernyataan Gubernur Bali Wayan Koster belakangan ini. Saat ia meminta para wakil Bali di Senayan—baik DPD maupun DPR RI—untuk lebih “ribut” di Jakarta ketimbang sibuk “ngubeg-ubeg” urusan domestik di daerah, kita sejatinya sedang melihat sebuah potret berantakannya Bali dalam soal lobi “nasib”nya di Pusat “Wilwatikta”  NKRI.

Rupanya Koster, di tengah riuh rendahnya persoalan sampah yang menggunung, banjir yang mengepung, dan infrastruktur pariwisata yang mulai megap-megap, mendapatkan dirinya seolah sedang berjalan “pedidian” —sendirian. Betulkah?

Senator Arya Wedakarna berusaha bijak menanggapinya, normatif dan sayangnya tidak pada pokok persoalan lobi Bali di pusat. Yang menarik justru hal itu muncul dari seorang wakil daerah lain, dari Dapil Maluku Utara (!), Irene Yusiana Roba Putri, anggota Komisi I DPR RI yang “speak out” mendorong Pusat untuk memberi bantuan bagi Bali karena kontribusinya yang besar terhadap pariwisata nasional, namun rakyatnya dinilai belum terlindungi penuh atau membutuhkan dukungan pemulihan lebih lanjut.

Bali, dalam peta ekonomi nasional, adalah “anak emas” yang rajin menyetor pundi-pundi devisa. Namun, dalam urusan pembagian “dum-duman” dari pusat, kita seringkali hanya mendapat remah-remah yang harus diperebutkan dengan sikut-sikutan yang melelahkan. Di sinilah letak ironinya: kita punya pemain musik yang hebat, tapi kita kehilangan dirigen. Kita punya suara di pusat, tapi kita kehilangan orkestrasi suara itu.

Diplomasi Rebung dan Mentalitas “Meju di Paon”

Selama ini, lobi Bali di Jakarta, mohon maaf hanya sebatas catatan saya,  seringkali bersifat sporadis. Para wakil kita bergerak sendiri-sendiri, membawa agenda partainya masing-masing, atau mungkin lebih sibuk membangun citra diri individualnya untuk periode berikutnya.

Akibatnya, suara Bali di pusat terdengar seperti suara “kaset” yang terputus-putus, tidak menjadi sebuah simfoni yang mampu menggetarkan meja kekuasaan di Kementerian, sekalipun bahkan sedang memiliki seorang wamen di sana.

Fenomena “ngubeg-ubeg” daerah yang dikeluhkan Koster mungkin cermin dari mentalitas  “meju di paon”—ribut di dapur sendiri, tapi bungkam di depan tamu. Padahal, persoalan Bali hari ini bukan lagi soal kekurangan ide di tingkat lokal, melainkan kekurangan amunisi finansial. Sampah di Suwung tidak bisa selesai hanya dengan rapat koordinasi di Renon; ia butuh teknologi dan investasi besar yang hanya mungkin terwujud jika lobi Bali di pusat mampu mengetuk pintu APBN dengan kepalan tangan yang kompak.

Mengapa Lobi Harus Orkestrasi?

Memperjuangkan alokasi dana yang adil bagi Bali bukan sekadar meminta “jatah preman”. Ini adalah soal keadilan bagi daerah yang telah memberikan paru-parunya untuk pariwisata nasional. Tanpa orkestrasi yang sistematis antara Gubernur, Bupati/Walikota, hingga sembilan anggota DPR dan empat anggota DPD, Bali akan terus berada dalam posisi “mengemis” di rumah sendiri.

Orkestrasi lobi ini, berdasarkan “dalil” umum komunikasi politik daerah-pusat, juga sebatas yang saya baca, memerlukan tiga instrumen utama:

1. Satu Data, Satu Suara: mewaspadai terjebak pada ego sektoral. Jika isu utamanya adalah banjir dan sampah, maka seluruh wakil Bali harus bicara nada yang sama di setiap komisi yang mereka duduki.

2. Lobi Berbasis Kontribusi: Bali harus berani menagih “dividen” atas kontribusi devisa pariwisata. Bali bukan meminta sedekah, tapi meminta hak untuk merawat aset negara yang ada di pundaknya.

3. Ketegasan Kolektif: “Ribut” di Jakarta bukan berarti membuat kegaduhan tanpa makna, melainkan melakukan tekanan politik yang sistematis dan terukur.

Mungkinkah 3 dalil umum ini bisa diejawantahkan ke dalam Strategi “Ngrombo” Politik untuk Bali?

Di Bali, kita mengenal konsep “Ngrombo”—gotong royong berskala besar untuk menuntaskan pekerjaan berat. Namun, mengapa dalam urusan menjemput hak Bali di pusat, semangat ngrombo  ini justru menguap dan berganti menjadi laku “pedidian-pedidian” (berjalan sendiri-sendiri, sendirian berjalan!)

Misteri Jarak Bale Banjar ke Senayan: elit yang gamang

Secara sosiologis, sepertinya ada diskoneksi antara mandat yang diberikan di tingkat banjar dengan artikulasi politik di Jakarta. Para wakil kita seringkali terjebak dalam “labirin birokrasi partai” yang membuat mereka lebih tunduk pada titah ketua umum ketimbang jeritan warga yang rumahnya terendam banjir atau pura yang terancam sampah. Atau yang lebih parah lebih tunduk kepada “labirin kepentingan ego-individual”?

Rakyat Bali memilih mereka dengan harapan ada pembelaan, bukan sekadar kehadiran di baliho setiap lima tahun. Ketika isu sampah dan infrastruktur pariwisata mencuat, rakyat melihat para wakil ini seperti penonton di tribun: melihat, berkomentar, saling ledek, tapi tidak turun bersama ke lapangan untuk merebut bola anggaran. Inilah yang menyebabkan munculnya apatisme sosiologis—perasaan bahwa “siapa pun wakilnya, siapapun pemimpinnya, Bali tetap begini saja.”

Penutup: Kembali ke Gamelan!

Dalam filosofi gamelan Bali, keindahan tidak lahir dari siapa yang paling keras memukul ceng-ceng, tapi dari bagaimana setiap instrumen saling mengisi pada ketukan yang tepat. Jika para elit Bali terus berjalan “pedidian”, maka Bali hanya akan menjadi “adik bungsu duduk manis” menonton bagi kemajuannya sendiri yang perlahan terkikis oleh masalah lingkungan yang tak kunjung usai, dan yang pemainnya adalah “kakak-kakak” di pusat.

Sudah saatnya kita berhenti menjadi solois yang haus tepuk tangan di daerah, dan mulai menjadi bagian dari orkestra besar yang mampu meruntuhkan dinding “keangkuhan” pusat. Jika tidak, jangan salahkan rakyat jika suatu saat nanti mereka merasa bahwa memiliki wakil di Jakarta maupun memilki Kepala Daerah,  tak ada bedanya dengan memiliki patung: ada, tapi membisu. Perlu gerakan lebih atau setidaknya setara seperti semangat kita ketika sedang upacara “napak pertiwi” di Pura-Pura. Mungkin. [T]

Jakarta, 9/3/26

Penulis: I Gede Joni Suhartawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliDPRGubernur BaliPariwisataWayan Koster
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Para Bocah Mengarak Ogoh-Ogoh di Kasanga Festival 2026

Next Post

MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal  — [Bagian 1]

I Gede Joni Suhartawan

I Gede Joni Suhartawan

Penulis tinggal di Prambanan Klaten Jawa Tengah. Pernah bekerja di SCTV dan pernah menjadi Head of Production Creative Development Center di Trans Corp (TransTV and Trans|7)

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal  -- [Bagian 1]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co