24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lakon “Lobi Pedidian” Bali di Pusat —Catatan Tentang Lobi Bali Terkini

I Gede Joni Suhartawan by I Gede Joni Suhartawan
March 9, 2026
in Opini
Lakon “Lobi Pedidian” Bali di Pusat —Catatan Tentang Lobi Bali Terkini

Gubernur Bali Wayan Koster

ADA nada genting yang terselip dalam pernyataan Gubernur Bali Wayan Koster belakangan ini. Saat ia meminta para wakil Bali di Senayan—baik DPD maupun DPR RI—untuk lebih “ribut” di Jakarta ketimbang sibuk “ngubeg-ubeg” urusan domestik di daerah, kita sejatinya sedang melihat sebuah potret berantakannya Bali dalam soal lobi “nasib”nya di Pusat “Wilwatikta”  NKRI.

Rupanya Koster, di tengah riuh rendahnya persoalan sampah yang menggunung, banjir yang mengepung, dan infrastruktur pariwisata yang mulai megap-megap, mendapatkan dirinya seolah sedang berjalan “pedidian” —sendirian. Betulkah?

Senator Arya Wedakarna berusaha bijak menanggapinya, normatif dan sayangnya tidak pada pokok persoalan lobi Bali di pusat. Yang menarik justru hal itu muncul dari seorang wakil daerah lain, dari Dapil Maluku Utara (!), Irene Yusiana Roba Putri, anggota Komisi I DPR RI yang “speak out” mendorong Pusat untuk memberi bantuan bagi Bali karena kontribusinya yang besar terhadap pariwisata nasional, namun rakyatnya dinilai belum terlindungi penuh atau membutuhkan dukungan pemulihan lebih lanjut.

Bali, dalam peta ekonomi nasional, adalah “anak emas” yang rajin menyetor pundi-pundi devisa. Namun, dalam urusan pembagian “dum-duman” dari pusat, kita seringkali hanya mendapat remah-remah yang harus diperebutkan dengan sikut-sikutan yang melelahkan. Di sinilah letak ironinya: kita punya pemain musik yang hebat, tapi kita kehilangan dirigen. Kita punya suara di pusat, tapi kita kehilangan orkestrasi suara itu.

Diplomasi Rebung dan Mentalitas “Meju di Paon”

Selama ini, lobi Bali di Jakarta, mohon maaf hanya sebatas catatan saya,  seringkali bersifat sporadis. Para wakil kita bergerak sendiri-sendiri, membawa agenda partainya masing-masing, atau mungkin lebih sibuk membangun citra diri individualnya untuk periode berikutnya.

Akibatnya, suara Bali di pusat terdengar seperti suara “kaset” yang terputus-putus, tidak menjadi sebuah simfoni yang mampu menggetarkan meja kekuasaan di Kementerian, sekalipun bahkan sedang memiliki seorang wamen di sana.

Fenomena “ngubeg-ubeg” daerah yang dikeluhkan Koster mungkin cermin dari mentalitas  “meju di paon”—ribut di dapur sendiri, tapi bungkam di depan tamu. Padahal, persoalan Bali hari ini bukan lagi soal kekurangan ide di tingkat lokal, melainkan kekurangan amunisi finansial. Sampah di Suwung tidak bisa selesai hanya dengan rapat koordinasi di Renon; ia butuh teknologi dan investasi besar yang hanya mungkin terwujud jika lobi Bali di pusat mampu mengetuk pintu APBN dengan kepalan tangan yang kompak.

Mengapa Lobi Harus Orkestrasi?

Memperjuangkan alokasi dana yang adil bagi Bali bukan sekadar meminta “jatah preman”. Ini adalah soal keadilan bagi daerah yang telah memberikan paru-parunya untuk pariwisata nasional. Tanpa orkestrasi yang sistematis antara Gubernur, Bupati/Walikota, hingga sembilan anggota DPR dan empat anggota DPD, Bali akan terus berada dalam posisi “mengemis” di rumah sendiri.

Orkestrasi lobi ini, berdasarkan “dalil” umum komunikasi politik daerah-pusat, juga sebatas yang saya baca, memerlukan tiga instrumen utama:

1. Satu Data, Satu Suara: mewaspadai terjebak pada ego sektoral. Jika isu utamanya adalah banjir dan sampah, maka seluruh wakil Bali harus bicara nada yang sama di setiap komisi yang mereka duduki.

2. Lobi Berbasis Kontribusi: Bali harus berani menagih “dividen” atas kontribusi devisa pariwisata. Bali bukan meminta sedekah, tapi meminta hak untuk merawat aset negara yang ada di pundaknya.

3. Ketegasan Kolektif: “Ribut” di Jakarta bukan berarti membuat kegaduhan tanpa makna, melainkan melakukan tekanan politik yang sistematis dan terukur.

Mungkinkah 3 dalil umum ini bisa diejawantahkan ke dalam Strategi “Ngrombo” Politik untuk Bali?

Di Bali, kita mengenal konsep “Ngrombo”—gotong royong berskala besar untuk menuntaskan pekerjaan berat. Namun, mengapa dalam urusan menjemput hak Bali di pusat, semangat ngrombo  ini justru menguap dan berganti menjadi laku “pedidian-pedidian” (berjalan sendiri-sendiri, sendirian berjalan!)

Misteri Jarak Bale Banjar ke Senayan: elit yang gamang

Secara sosiologis, sepertinya ada diskoneksi antara mandat yang diberikan di tingkat banjar dengan artikulasi politik di Jakarta. Para wakil kita seringkali terjebak dalam “labirin birokrasi partai” yang membuat mereka lebih tunduk pada titah ketua umum ketimbang jeritan warga yang rumahnya terendam banjir atau pura yang terancam sampah. Atau yang lebih parah lebih tunduk kepada “labirin kepentingan ego-individual”?

Rakyat Bali memilih mereka dengan harapan ada pembelaan, bukan sekadar kehadiran di baliho setiap lima tahun. Ketika isu sampah dan infrastruktur pariwisata mencuat, rakyat melihat para wakil ini seperti penonton di tribun: melihat, berkomentar, saling ledek, tapi tidak turun bersama ke lapangan untuk merebut bola anggaran. Inilah yang menyebabkan munculnya apatisme sosiologis—perasaan bahwa “siapa pun wakilnya, siapapun pemimpinnya, Bali tetap begini saja.”

Penutup: Kembali ke Gamelan!

Dalam filosofi gamelan Bali, keindahan tidak lahir dari siapa yang paling keras memukul ceng-ceng, tapi dari bagaimana setiap instrumen saling mengisi pada ketukan yang tepat. Jika para elit Bali terus berjalan “pedidian”, maka Bali hanya akan menjadi “adik bungsu duduk manis” menonton bagi kemajuannya sendiri yang perlahan terkikis oleh masalah lingkungan yang tak kunjung usai, dan yang pemainnya adalah “kakak-kakak” di pusat.

Sudah saatnya kita berhenti menjadi solois yang haus tepuk tangan di daerah, dan mulai menjadi bagian dari orkestra besar yang mampu meruntuhkan dinding “keangkuhan” pusat. Jika tidak, jangan salahkan rakyat jika suatu saat nanti mereka merasa bahwa memiliki wakil di Jakarta maupun memilki Kepala Daerah,  tak ada bedanya dengan memiliki patung: ada, tapi membisu. Perlu gerakan lebih atau setidaknya setara seperti semangat kita ketika sedang upacara “napak pertiwi” di Pura-Pura. Mungkin. [T]

Jakarta, 9/3/26

Penulis: I Gede Joni Suhartawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliDPRGubernur BaliPariwisataWayan Koster
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Para Bocah Mengarak Ogoh-Ogoh di Kasanga Festival 2026

Next Post

MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal  — [Bagian 1]

I Gede Joni Suhartawan

I Gede Joni Suhartawan

Penulis tinggal di Prambanan Klaten Jawa Tengah. Pernah bekerja di SCTV dan pernah menjadi Head of Production Creative Development Center di Trans Corp (TransTV and Trans|7)

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal  -- [Bagian 1]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co