24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lakon “Lobi Pedidian” Bali di Pusat —Catatan Tentang Lobi Bali Terkini

I Gede Joni Suhartawan by I Gede Joni Suhartawan
March 9, 2026
in Opini
Lakon “Lobi Pedidian” Bali di Pusat —Catatan Tentang Lobi Bali Terkini

Gubernur Bali Wayan Koster

ADA nada genting yang terselip dalam pernyataan Gubernur Bali Wayan Koster belakangan ini. Saat ia meminta para wakil Bali di Senayan—baik DPD maupun DPR RI—untuk lebih “ribut” di Jakarta ketimbang sibuk “ngubeg-ubeg” urusan domestik di daerah, kita sejatinya sedang melihat sebuah potret berantakannya Bali dalam soal lobi “nasib”nya di Pusat “Wilwatikta”  NKRI.

Rupanya Koster, di tengah riuh rendahnya persoalan sampah yang menggunung, banjir yang mengepung, dan infrastruktur pariwisata yang mulai megap-megap, mendapatkan dirinya seolah sedang berjalan “pedidian” —sendirian. Betulkah?

Senator Arya Wedakarna berusaha bijak menanggapinya, normatif dan sayangnya tidak pada pokok persoalan lobi Bali di pusat. Yang menarik justru hal itu muncul dari seorang wakil daerah lain, dari Dapil Maluku Utara (!), Irene Yusiana Roba Putri, anggota Komisi I DPR RI yang “speak out” mendorong Pusat untuk memberi bantuan bagi Bali karena kontribusinya yang besar terhadap pariwisata nasional, namun rakyatnya dinilai belum terlindungi penuh atau membutuhkan dukungan pemulihan lebih lanjut.

Bali, dalam peta ekonomi nasional, adalah “anak emas” yang rajin menyetor pundi-pundi devisa. Namun, dalam urusan pembagian “dum-duman” dari pusat, kita seringkali hanya mendapat remah-remah yang harus diperebutkan dengan sikut-sikutan yang melelahkan. Di sinilah letak ironinya: kita punya pemain musik yang hebat, tapi kita kehilangan dirigen. Kita punya suara di pusat, tapi kita kehilangan orkestrasi suara itu.

Diplomasi Rebung dan Mentalitas “Meju di Paon”

Selama ini, lobi Bali di Jakarta, mohon maaf hanya sebatas catatan saya,  seringkali bersifat sporadis. Para wakil kita bergerak sendiri-sendiri, membawa agenda partainya masing-masing, atau mungkin lebih sibuk membangun citra diri individualnya untuk periode berikutnya.

Akibatnya, suara Bali di pusat terdengar seperti suara “kaset” yang terputus-putus, tidak menjadi sebuah simfoni yang mampu menggetarkan meja kekuasaan di Kementerian, sekalipun bahkan sedang memiliki seorang wamen di sana.

Fenomena “ngubeg-ubeg” daerah yang dikeluhkan Koster mungkin cermin dari mentalitas  “meju di paon”—ribut di dapur sendiri, tapi bungkam di depan tamu. Padahal, persoalan Bali hari ini bukan lagi soal kekurangan ide di tingkat lokal, melainkan kekurangan amunisi finansial. Sampah di Suwung tidak bisa selesai hanya dengan rapat koordinasi di Renon; ia butuh teknologi dan investasi besar yang hanya mungkin terwujud jika lobi Bali di pusat mampu mengetuk pintu APBN dengan kepalan tangan yang kompak.

Mengapa Lobi Harus Orkestrasi?

Memperjuangkan alokasi dana yang adil bagi Bali bukan sekadar meminta “jatah preman”. Ini adalah soal keadilan bagi daerah yang telah memberikan paru-parunya untuk pariwisata nasional. Tanpa orkestrasi yang sistematis antara Gubernur, Bupati/Walikota, hingga sembilan anggota DPR dan empat anggota DPD, Bali akan terus berada dalam posisi “mengemis” di rumah sendiri.

Orkestrasi lobi ini, berdasarkan “dalil” umum komunikasi politik daerah-pusat, juga sebatas yang saya baca, memerlukan tiga instrumen utama:

1. Satu Data, Satu Suara: mewaspadai terjebak pada ego sektoral. Jika isu utamanya adalah banjir dan sampah, maka seluruh wakil Bali harus bicara nada yang sama di setiap komisi yang mereka duduki.

2. Lobi Berbasis Kontribusi: Bali harus berani menagih “dividen” atas kontribusi devisa pariwisata. Bali bukan meminta sedekah, tapi meminta hak untuk merawat aset negara yang ada di pundaknya.

3. Ketegasan Kolektif: “Ribut” di Jakarta bukan berarti membuat kegaduhan tanpa makna, melainkan melakukan tekanan politik yang sistematis dan terukur.

Mungkinkah 3 dalil umum ini bisa diejawantahkan ke dalam Strategi “Ngrombo” Politik untuk Bali?

Di Bali, kita mengenal konsep “Ngrombo”—gotong royong berskala besar untuk menuntaskan pekerjaan berat. Namun, mengapa dalam urusan menjemput hak Bali di pusat, semangat ngrombo  ini justru menguap dan berganti menjadi laku “pedidian-pedidian” (berjalan sendiri-sendiri, sendirian berjalan!)

Misteri Jarak Bale Banjar ke Senayan: elit yang gamang

Secara sosiologis, sepertinya ada diskoneksi antara mandat yang diberikan di tingkat banjar dengan artikulasi politik di Jakarta. Para wakil kita seringkali terjebak dalam “labirin birokrasi partai” yang membuat mereka lebih tunduk pada titah ketua umum ketimbang jeritan warga yang rumahnya terendam banjir atau pura yang terancam sampah. Atau yang lebih parah lebih tunduk kepada “labirin kepentingan ego-individual”?

Rakyat Bali memilih mereka dengan harapan ada pembelaan, bukan sekadar kehadiran di baliho setiap lima tahun. Ketika isu sampah dan infrastruktur pariwisata mencuat, rakyat melihat para wakil ini seperti penonton di tribun: melihat, berkomentar, saling ledek, tapi tidak turun bersama ke lapangan untuk merebut bola anggaran. Inilah yang menyebabkan munculnya apatisme sosiologis—perasaan bahwa “siapa pun wakilnya, siapapun pemimpinnya, Bali tetap begini saja.”

Penutup: Kembali ke Gamelan!

Dalam filosofi gamelan Bali, keindahan tidak lahir dari siapa yang paling keras memukul ceng-ceng, tapi dari bagaimana setiap instrumen saling mengisi pada ketukan yang tepat. Jika para elit Bali terus berjalan “pedidian”, maka Bali hanya akan menjadi “adik bungsu duduk manis” menonton bagi kemajuannya sendiri yang perlahan terkikis oleh masalah lingkungan yang tak kunjung usai, dan yang pemainnya adalah “kakak-kakak” di pusat.

Sudah saatnya kita berhenti menjadi solois yang haus tepuk tangan di daerah, dan mulai menjadi bagian dari orkestra besar yang mampu meruntuhkan dinding “keangkuhan” pusat. Jika tidak, jangan salahkan rakyat jika suatu saat nanti mereka merasa bahwa memiliki wakil di Jakarta maupun memilki Kepala Daerah,  tak ada bedanya dengan memiliki patung: ada, tapi membisu. Perlu gerakan lebih atau setidaknya setara seperti semangat kita ketika sedang upacara “napak pertiwi” di Pura-Pura. Mungkin. [T]

Jakarta, 9/3/26

Penulis: I Gede Joni Suhartawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliDPRGubernur BaliPariwisataWayan Koster
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Para Bocah Mengarak Ogoh-Ogoh di Kasanga Festival 2026

Next Post

MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal  — [Bagian 1]

I Gede Joni Suhartawan

I Gede Joni Suhartawan

Penulis tinggal di Prambanan Klaten Jawa Tengah. Pernah bekerja di SCTV dan pernah menjadi Head of Production Creative Development Center di Trans Corp (TransTV and Trans|7)

Related Posts

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal  -- [Bagian 1]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co