13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal  — [Bagian 1]

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 9, 2026
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

DALAM tradisi spiritual di Bali, seringkali terjadi penyempitan makna mengenai pemujaan “Kawitan“. Banyak yang mengidentikkan Kawitan hanya sebatas tokoh sejarah atau moyang dalam silsilah keluarga. Namun, jika ditelaah lebih dalam secara filosofis, Kawitan adalah Atma—energi hidup yang menjadi muasal dari segala kehidupan.

Jika masih bernama atau identitas tertentu bukan Bhatara Kawitan tapi disebut Bhatara Pitra. Pitara adalah Jiwa (jiwa bersifat personal). Ini yang membedakan antara memuja Bhatara Pitara dan memuja Bhatara Kawitan.

Kawitan adalah Atma — pemantik energi muasal kehidupan. Atma tanpa identitas inilah Kawitan, Maha Muasal Hidup (Bhatara Kawitan).

Pemujaan Tahap Bhakti dan Pemujaan Tahap Jnana

1. Jika kita mengaku bahwa “kita memuja leluhur dan masih ada nama tokoh tertentu maka kita masih memuja Pitara” artinya kita masih memuja sosok tertentu dalam imajinasi kita, inilah Pitara-Pitari. Ini pemujaan tahap bhakti pada Bhatara Pitara-Pitari.

2. Jika kita mengatakan bahwa “kita memuja leluhur dan tidak ada nama tokoh tertentu (sudah pada pemahaman tataran muasal atau Atma tanpa nama) maka kita telah memuja Kawitan” artinya kita telah memahami bahwa leluhur adalah “muasal tertinggi dari jiwa”, inilah Bhatara Kawitan. Ini pemujaan tahap jnana pada Bhatara Kawitan.

Secara umum pemahaman umat Hindu di Bali terbagi menjadi 2 tahapan tersebut di atas. Umat yang telah sampai pada pemujaan tahap jnana artinya telah sangat mendalam dan selaras dengan konsep  Adwaita Vedanta atau filsafat Atman yang universal. Pada tataran ini umat bisa membedakan dengan sangat jernih antara aspek personal (individu) dan universal (sumber).

Perbedaan Antara Kawitan dan Pitara

Kawitan sejatinya bukanlah identitas satu atau dua tokoh tertentu. Bhatara Kawitan adalah Sang Muasal Hidup. Dalam level ini, ia tidak lagi memiliki nama manusia atau batasan sejarah. Ia adalah percikan suci yang menghidupi setiap makhluk. Ketika kita menyebut “memuja leluhur” dalam konteks ini, artinya kita sedang memuja sumber kehidupan itu sendiri—sebuah kesadaran murni yang melampaui ego dan bentuk.

Penting bagi kita untuk membedakan antara Kawitan (Atma) dan Pitara-Pitari (Jiwa). Perbedaan utamanya terletak pada sifat personalitasnya:

  1. Kawitan (Atma): Bersifat universal, tidak bernama, dan merupakan energi murni. Ia adalah “Hidup” sebelum terbungkus oleh identitas duniawi. Bhatara Kawitan adalah “Hidup” itu sendiri. Adalah energi murni tanpa bentuk (Nirguna), tanpa nama, dan merupakan percikan kecil dari Brahman.
  2. Pitara (Jiwa/Pitra): Bersifat personal. Jika dalam pemujaan masih melekat sebuah nama, gelar, atau identitas tokoh tertentu, maka sosok tersebut adalah Bhatara-Bhatari Pitra. Mereka adalah jiwa yang masih memiliki keterikatan dengan memori dan sejarah garis keturunan manusia. Adalah entitas yang masih membawa “bungkus” identitas duniawi, garis keturunan, dan sejarah tertentu.

Dengan prinsip ini, memuja Kawitan sebenarnya adalah tindakan kembali ke asal (sangkan paraning dumadi), melampaui sekat-sekat silsilah manusia menuju kemanunggalan hidup.

Esensi Pemujaan Leluhur

Jika kita mengaku memuja leluhur sebagai sumber muasal, maka fokus kita seharusnya beralih dari sekadar memuja “sosok manusia masa lalu” menjadi memuja muasal dari energi kehidupan yang mengalir dalam diri kita. Pemujaan leluhur dengan identitas nama tokoh atau sosok adalah penghormatan terhadap sejarah, namun memuja Kawitan adalah upaya untuk bersatu kembali dengan Sang Pencipta Kehidupan.

Dengan memahami bahwa Kawitan adalah Atma universal, kita menyadari bahwa setiap diri manusia membawa percikan suci yang sama. Kita tidak hanya terhubung secara biologis melalui darah, tetapi terhubung secara spiritual melalui satu sumber yang sama: Sang Muasal Hidup.

Memuja Leluhur sebagai Identitas Pribadi dan Melampaui Identitas

Perbedaan antara memuja leluhur sebagai identitas pribadi (Pitra) dengan memuja leluhur melampaui identitas (Kawitan/Atma) terletak pada kedalaman kesadaran dan objek yang dituju.

Berikut adalah perbandingannya:

1. Memuja Leluhur sebagai Identitas Pribadi (Bhatara-Bhatari Pitra)

Pemujaan ini bersifat horizontal dan historis. Anda memuja sosok yang pernah hidup di dunia dengan nama, gelar, dan jasa tertentu.

  • Fokus: Menghormati jasa, garis keturunan (genealogi), dan menjaga ikatan emosional keluarga.
  • Wujud: Biasanya diwujudkan dalam bentuk pelinggih spesifik atau penyebutan nama dalam doa (misalnya: “Sembah bakti hamba kepada Kakek/Buyut X”).
  • Tujuan: Memohon perlindungan bagi keluarga, menjaga tradisi, dan memberikan penghormatan agar jiwa yang dipuja mendapat tempat yang layak sesuai jasanya.
  • Sifat: Terikat pada memori dan dualitas (baik-buruk, besar-kecil, milik saya-milik orang lain).

2. Memuja Leluhur Melampaui Identitas (Bhatara Kawitan/Atma)

Pemujaan ini bersifat vertikal dan metafisis. Anda tidak lagi memuja “orangnya”, melainkan memuja energi hidup yang menyebabkan orang tersebut (dan Anda sendiri) ada.

  • Fokus: Memuja Atma atau sumber kehidupan (wit/ kawitan). Di sini, leluhur dipandang sebagai “pintu masuk” untuk menyadari bahwa hidup ini tunggal.
  • Wujud: Tidak terbatas pada nama atau bentuk rupa manusia. Ia adalah energi murni yang menyatu dengan sumber semesta.
  • Tujuan: Mencapai kesadaran spiritual yang lebih tinggi, menyadari kemanunggalan (Advaita), dan kembali ke asal muasal (Sangkan Paraning Dumadi).
  • Sifat: Universal dan Esa. Tidak ada lagi “leluhur saya” atau “leluhur Anda”, karena pada level Atma, semua berasal dari satu energi yang sama.

.

Memuja dengan identitas adalah bentuk bhakti (bakti/etika), sedangkan memuja tanpa identitas adalah bentuk jnana (pengetahuan/kebijaksanaan tertinggi).

Sehingga dengan gambaran tersebut kita menyadari ada dalam konteks pemujaan leluhur, perbedaan antara jalur Bhakti (pengabdian/perasaan) dan Jnana (pengetahuan/kesadaran).

Berikut adalah rincian perbedaannya:

1. Pemujaan Leluhur dalam Konteks Bhakti (Jalan Pengabdian)

Jalur ini mengandalkan cinta kasih, rasa hormat, dan keterikatan emosional yang suci kepada sosok leluhur.

  • Objek Pemujaan: Leluhur dipandang sebagai personalitas (Bhatara-Bhatari Pitra). Ada sosok yang dibayangkan, ada nama yang disebut, dan ada sejarah yang diingat.
  • Cara Pemujaan: Mengutamakan ritual, sesaji (upakara), dan bakti fisik. Hubungannya bersifat seperti anak kepada orang tua atau murid kepada guru.
  • Logika Berpikir: “Saya ada karena leluhur saya ada. Saya berterima kasih atas darah dan nafas yang mereka wariskan.”
  • Tujuan: Mendapatkan perlindungan (pangayoman), menjaga keharmonisan keluarga, dan memastikan hubungan antara yang hidup dan yang mati tetap tersambung melalui doa.
  • Kekuatan: Sangat kuat dalam menjaga tradisi, moralitas, dan etika di dunia nyata.

2. Pemujaan Leluhur dalam Konteks Jnana (Jalan Kebijaksanaan)

Jalur ini menggunakan analisis spiritual dan kesadaran untuk menembus kulit luar identitas menuju hakikat terdalam.

  • Objek Pemujaan: Leluhur dipandang sebagai Prana atau Atma (Bhatara Kawitan). Fokusnya bukan pada “siapa” orangnya, melainkan pada “energi apa” yang menghidupinya.
  • Cara Pemujaan: Lebih banyak melalui kontemplasi, meditasi, dan pemahaman bahwa Atma di dalam diri leluhur sama dengan Atma di dalam diri penyembah. Ritual adalah simbol, namun kesadaran adalah yang utama.
  • Logika Berpikir: “Leluhur hanyalah perantara. Yang sesungguhnya saya puja adalah Hidup (Atma) yang mengalir melalui mereka.”
  • Tujuan: Mencapai pembebasan (Moksha) dan menyadari kemanunggalan. Di sini, penyembah berusaha melampaui dualitas “aku” dan “leluhurku” untuk sampai pada “Sang Muasal”.
  • Kekuatan: Memberikan pencerahan dan membebaskan seseorang dari keterikatan ego atau kebanggaan semu atas garis keturunan tertentu.


Dalam praktiknya, keduanya sering berjalan beriringan. Bhakti adalah fondasi (cara kita menghargai akar bumi), sedangkan Jnana adalah puncaknya (cara kita kembali ke langit/sumber). Memuja leluhur dengan identitas (Bhakti) membantu kita mengenal asal-usul, sementara memuja tanpa identitas (Jnana) membantu kita kembali ke asal-muasal.

Jebakan Mengagungkan Diri dan Keluarga — Bahaya Jebakan Mitos Keluarga

Dalam konteks ini, yang paling berisiko terjebak dalam mitos adalah jalur Bhakti (Pemujaan Identitas/Pitra).

Berikut adalah alasan mengapa jalur identitas lebih rentan terhadap mitosisme dibandingkan jalur Jnana:

1. Keterikatan pada Narasi dan Nama

Pemujaan berbasis identitas (Bhakti) sangat bergantung pada cerita rakyat, silsilah (babad), dan tutur. Karena identitas membutuhkan “bukti” sejarah, seringkali muncul narasi-narasi yang didramatisasi atau ditambahkan unsur ajaib (supernatural) untuk memperkuat legitimasi suatu garis keturunan. Inilah yang menjadi celah masuknya mitos.

2. Personifikasi Berlebihan

Ketika leluhur dipandang sebagai sosok pribadi yang memiliki sifat seperti manusia (bisa marah, bisa senang, memiliki ego kelompok), maka muncul kepercayaan-kepercayaan mitologis. Contohnya: “Jika tidak menyembah di sini, leluhur X akan marah.” Ini adalah bentuk mitos ketakutan yang muncul karena kita mempersonifikasikan Atma menjadi sosok yang masih memiliki emosi manusiawi.

3. Jebakan Fanatisme Golongan

Pemujaan identitas sering memunculkan mitos tentang “keunggulan darah”. Seseorang bisa terjebak merasa paling suci atau paling berkuasa hanya karena garis keturunan tertentu. Ini menjauhkan orang dari hakikat Kawitan sebagai Atma (yang universal) dan justru mengkotak-kotakkan manusia dalam sekat-sekat mitos silsilah.

Mengapa Jalur Jnana (Atma) Lebih Minim Mitos?

Jalur Jnana memuja Energi Hidup (Atma) yang bersifat abstrak dan universal.

  • Tanpa Nama: Tidak ada cerita atau drama yang perlu dipertahankan.
  • Logis: Fokus pada keberadaan “Hidup” itu sendiri. Anda tidak perlu mitos untuk membuktikan bahwa Anda hidup; Anda cukup menyadarinya.
  • Melampaui Bentuk: Mitos membutuhkan “wujud” atau “cerita”. Ketika Anda memuja Sang Muasal tanpa identitas, semua narasi manusiawi gugur dengan sendirinya.

Evolusi Kesadaran dan Praktek Membangkitkan Kesadaran

Seseorang terjebak mitos jika ia berhenti pada “siapa” leluhurnya (identitas), bukan “apa” yang menghidupi leluhurnya (Atma). Namun, perlu diingat bahwa mitos dalam Bhakti juga memiliki fungsi sosial sebagai pemersatu, asalkan disadari bahwa itu adalah “bungkus”, bukan “isi” yang sejati.

Dalam perspektif filsafat spiritual, pemujaan leluhur memang sering kali merupakan sebuah  evolusi kesadaran yang dapat dibagi menjadi dua tahapan utama:

1. Tahap Personal (Bhatara-Bhatari Pitra)

Pada tahap ini, pemujaan berbasis pada identitas pribadi dan hubungan emosional.

  • Objek: Leluhur dipuja sebagai sosok individu yang memiliki nama, silsilah, dan jasa sejarah tertentu (misalnya: “Eyang X” atau “Leluhur dari klan Y”).
  • Karakteristik: Fokus pada rasa syukur atas warisan biologis dan nilai-nilai keluarga. Ritual cenderung bersifat spesifik dan terikat pada memori kolektif garis keturunan.
  • Risiko: Jika berhenti di sini, seseorang rentan terjebak dalam fanatisme golongan atau mitos-mitos yang mengagungkan identitas semu. 

2. Tahap Transendental (Bhatara Kawitan/Paramatma)

Pada tahap ini, pemujaan naik ke level Jnana (Pengetahuan), di mana identitas pribadi dilepaskan untuk melihat hakikat yang lebih dalam.

  • Objek: Leluhur dipuja sebagai Atma atau energi hidup yang murni tanpa nama dan bentuk (Nirguna).
  • Karakteristik: Menyadari bahwa leluhur adalah perantara dari “Sang Muasal Hidup” yang sama dengan yang ada dalam diri kita. Ini adalah pemujaan terhadap Paramatma (Roh Semesta).
  • Tujuan: Mencapai kemanunggalan (Advaita), di mana penyembah menyadari bahwa di balik semua nama leluhur, hanya ada satu sumber kehidupan yang Esa. 

Hubungan Antar Tahap Personal dan Transendental

Kedua tahap ini tidak harus saling meniadakan. Tahap pertama (Bhakti) sering kali menjadi pintu gerbang atau fondasi etika. Tanpa menghormati identitas leluhur, seseorang sulit menghargai keberadaannya saat ini. Namun, tahap kedua (Jnana) adalah puncak yang membebaskan, di mana seseorang tidak lagi terkotak-kotak oleh ego silsilah, melainkan bersatu dengan universalitas hidup. 

Pemujaan yang diupayakan adalah keberimbangan ketika seseorang melakukan ritual dengan rasa bakti kepada leluhur (Tahap 1), namun di saat yang sama memiliki kesadaran penuh bahwa yang dipuja sejatinya adalah Atma yang tak bertepi (Tahap 2).  [T]

Penulis: Sugi Lanus
Editor: Adnyana Ole

BACA BAGIAN 2:

SIAPA BHATARA GURU DI KEMULAN (?) — MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal — [Bagian 2]
Tags: hinduHindu Balikawitanleluhurmemuja leluhur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lakon “Lobi Pedidian” Bali di Pusat —Catatan Tentang Lobi Bali Terkini

Next Post

Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah

Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co