4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal  — [Bagian 1]

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 9, 2026
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

DALAM tradisi spiritual di Bali, seringkali terjadi penyempitan makna mengenai pemujaan “Kawitan“. Banyak yang mengidentikkan Kawitan hanya sebatas tokoh sejarah atau moyang dalam silsilah keluarga. Namun, jika ditelaah lebih dalam secara filosofis, Kawitan adalah Atma—energi hidup yang menjadi muasal dari segala kehidupan.

Jika masih bernama atau identitas tertentu bukan Bhatara Kawitan tapi disebut Bhatara Pitra. Pitara adalah Jiwa (jiwa bersifat personal). Ini yang membedakan antara memuja Bhatara Pitara dan memuja Bhatara Kawitan.

Kawitan adalah Atma — pemantik energi muasal kehidupan. Atma tanpa identitas inilah Kawitan, Maha Muasal Hidup (Bhatara Kawitan).

Pemujaan Tahap Bhakti dan Pemujaan Tahap Jnana

1. Jika kita mengaku bahwa “kita memuja leluhur dan masih ada nama tokoh tertentu maka kita masih memuja Pitara” artinya kita masih memuja sosok tertentu dalam imajinasi kita, inilah Pitara-Pitari. Ini pemujaan tahap bhakti pada Bhatara Pitara-Pitari.

2. Jika kita mengatakan bahwa “kita memuja leluhur dan tidak ada nama tokoh tertentu (sudah pada pemahaman tataran muasal atau Atma tanpa nama) maka kita telah memuja Kawitan” artinya kita telah memahami bahwa leluhur adalah “muasal tertinggi dari jiwa”, inilah Bhatara Kawitan. Ini pemujaan tahap jnana pada Bhatara Kawitan.

Secara umum pemahaman umat Hindu di Bali terbagi menjadi 2 tahapan tersebut di atas. Umat yang telah sampai pada pemujaan tahap jnana artinya telah sangat mendalam dan selaras dengan konsep  Adwaita Vedanta atau filsafat Atman yang universal. Pada tataran ini umat bisa membedakan dengan sangat jernih antara aspek personal (individu) dan universal (sumber).

Perbedaan Antara Kawitan dan Pitara

Kawitan sejatinya bukanlah identitas satu atau dua tokoh tertentu. Bhatara Kawitan adalah Sang Muasal Hidup. Dalam level ini, ia tidak lagi memiliki nama manusia atau batasan sejarah. Ia adalah percikan suci yang menghidupi setiap makhluk. Ketika kita menyebut “memuja leluhur” dalam konteks ini, artinya kita sedang memuja sumber kehidupan itu sendiri—sebuah kesadaran murni yang melampaui ego dan bentuk.

Penting bagi kita untuk membedakan antara Kawitan (Atma) dan Pitara-Pitari (Jiwa). Perbedaan utamanya terletak pada sifat personalitasnya:

  1. Kawitan (Atma): Bersifat universal, tidak bernama, dan merupakan energi murni. Ia adalah “Hidup” sebelum terbungkus oleh identitas duniawi. Bhatara Kawitan adalah “Hidup” itu sendiri. Adalah energi murni tanpa bentuk (Nirguna), tanpa nama, dan merupakan percikan kecil dari Brahman.
  2. Pitara (Jiwa/Pitra): Bersifat personal. Jika dalam pemujaan masih melekat sebuah nama, gelar, atau identitas tokoh tertentu, maka sosok tersebut adalah Bhatara-Bhatari Pitra. Mereka adalah jiwa yang masih memiliki keterikatan dengan memori dan sejarah garis keturunan manusia. Adalah entitas yang masih membawa “bungkus” identitas duniawi, garis keturunan, dan sejarah tertentu.

Dengan prinsip ini, memuja Kawitan sebenarnya adalah tindakan kembali ke asal (sangkan paraning dumadi), melampaui sekat-sekat silsilah manusia menuju kemanunggalan hidup.

Esensi Pemujaan Leluhur

Jika kita mengaku memuja leluhur sebagai sumber muasal, maka fokus kita seharusnya beralih dari sekadar memuja “sosok manusia masa lalu” menjadi memuja muasal dari energi kehidupan yang mengalir dalam diri kita. Pemujaan leluhur dengan identitas nama tokoh atau sosok adalah penghormatan terhadap sejarah, namun memuja Kawitan adalah upaya untuk bersatu kembali dengan Sang Pencipta Kehidupan.

Dengan memahami bahwa Kawitan adalah Atma universal, kita menyadari bahwa setiap diri manusia membawa percikan suci yang sama. Kita tidak hanya terhubung secara biologis melalui darah, tetapi terhubung secara spiritual melalui satu sumber yang sama: Sang Muasal Hidup.

Memuja Leluhur sebagai Identitas Pribadi dan Melampaui Identitas

Perbedaan antara memuja leluhur sebagai identitas pribadi (Pitra) dengan memuja leluhur melampaui identitas (Kawitan/Atma) terletak pada kedalaman kesadaran dan objek yang dituju.

Berikut adalah perbandingannya:

1. Memuja Leluhur sebagai Identitas Pribadi (Bhatara-Bhatari Pitra)

Pemujaan ini bersifat horizontal dan historis. Anda memuja sosok yang pernah hidup di dunia dengan nama, gelar, dan jasa tertentu.

  • Fokus: Menghormati jasa, garis keturunan (genealogi), dan menjaga ikatan emosional keluarga.
  • Wujud: Biasanya diwujudkan dalam bentuk pelinggih spesifik atau penyebutan nama dalam doa (misalnya: “Sembah bakti hamba kepada Kakek/Buyut X”).
  • Tujuan: Memohon perlindungan bagi keluarga, menjaga tradisi, dan memberikan penghormatan agar jiwa yang dipuja mendapat tempat yang layak sesuai jasanya.
  • Sifat: Terikat pada memori dan dualitas (baik-buruk, besar-kecil, milik saya-milik orang lain).

2. Memuja Leluhur Melampaui Identitas (Bhatara Kawitan/Atma)

Pemujaan ini bersifat vertikal dan metafisis. Anda tidak lagi memuja “orangnya”, melainkan memuja energi hidup yang menyebabkan orang tersebut (dan Anda sendiri) ada.

  • Fokus: Memuja Atma atau sumber kehidupan (wit/ kawitan). Di sini, leluhur dipandang sebagai “pintu masuk” untuk menyadari bahwa hidup ini tunggal.
  • Wujud: Tidak terbatas pada nama atau bentuk rupa manusia. Ia adalah energi murni yang menyatu dengan sumber semesta.
  • Tujuan: Mencapai kesadaran spiritual yang lebih tinggi, menyadari kemanunggalan (Advaita), dan kembali ke asal muasal (Sangkan Paraning Dumadi).
  • Sifat: Universal dan Esa. Tidak ada lagi “leluhur saya” atau “leluhur Anda”, karena pada level Atma, semua berasal dari satu energi yang sama.

.

Memuja dengan identitas adalah bentuk bhakti (bakti/etika), sedangkan memuja tanpa identitas adalah bentuk jnana (pengetahuan/kebijaksanaan tertinggi).

Sehingga dengan gambaran tersebut kita menyadari ada dalam konteks pemujaan leluhur, perbedaan antara jalur Bhakti (pengabdian/perasaan) dan Jnana (pengetahuan/kesadaran).

Berikut adalah rincian perbedaannya:

1. Pemujaan Leluhur dalam Konteks Bhakti (Jalan Pengabdian)

Jalur ini mengandalkan cinta kasih, rasa hormat, dan keterikatan emosional yang suci kepada sosok leluhur.

  • Objek Pemujaan: Leluhur dipandang sebagai personalitas (Bhatara-Bhatari Pitra). Ada sosok yang dibayangkan, ada nama yang disebut, dan ada sejarah yang diingat.
  • Cara Pemujaan: Mengutamakan ritual, sesaji (upakara), dan bakti fisik. Hubungannya bersifat seperti anak kepada orang tua atau murid kepada guru.
  • Logika Berpikir: “Saya ada karena leluhur saya ada. Saya berterima kasih atas darah dan nafas yang mereka wariskan.”
  • Tujuan: Mendapatkan perlindungan (pangayoman), menjaga keharmonisan keluarga, dan memastikan hubungan antara yang hidup dan yang mati tetap tersambung melalui doa.
  • Kekuatan: Sangat kuat dalam menjaga tradisi, moralitas, dan etika di dunia nyata.

2. Pemujaan Leluhur dalam Konteks Jnana (Jalan Kebijaksanaan)

Jalur ini menggunakan analisis spiritual dan kesadaran untuk menembus kulit luar identitas menuju hakikat terdalam.

  • Objek Pemujaan: Leluhur dipandang sebagai Prana atau Atma (Bhatara Kawitan). Fokusnya bukan pada “siapa” orangnya, melainkan pada “energi apa” yang menghidupinya.
  • Cara Pemujaan: Lebih banyak melalui kontemplasi, meditasi, dan pemahaman bahwa Atma di dalam diri leluhur sama dengan Atma di dalam diri penyembah. Ritual adalah simbol, namun kesadaran adalah yang utama.
  • Logika Berpikir: “Leluhur hanyalah perantara. Yang sesungguhnya saya puja adalah Hidup (Atma) yang mengalir melalui mereka.”
  • Tujuan: Mencapai pembebasan (Moksha) dan menyadari kemanunggalan. Di sini, penyembah berusaha melampaui dualitas “aku” dan “leluhurku” untuk sampai pada “Sang Muasal”.
  • Kekuatan: Memberikan pencerahan dan membebaskan seseorang dari keterikatan ego atau kebanggaan semu atas garis keturunan tertentu.


Dalam praktiknya, keduanya sering berjalan beriringan. Bhakti adalah fondasi (cara kita menghargai akar bumi), sedangkan Jnana adalah puncaknya (cara kita kembali ke langit/sumber). Memuja leluhur dengan identitas (Bhakti) membantu kita mengenal asal-usul, sementara memuja tanpa identitas (Jnana) membantu kita kembali ke asal-muasal.

Jebakan Mengagungkan Diri dan Keluarga — Bahaya Jebakan Mitos Keluarga

Dalam konteks ini, yang paling berisiko terjebak dalam mitos adalah jalur Bhakti (Pemujaan Identitas/Pitra).

Berikut adalah alasan mengapa jalur identitas lebih rentan terhadap mitosisme dibandingkan jalur Jnana:

1. Keterikatan pada Narasi dan Nama

Pemujaan berbasis identitas (Bhakti) sangat bergantung pada cerita rakyat, silsilah (babad), dan tutur. Karena identitas membutuhkan “bukti” sejarah, seringkali muncul narasi-narasi yang didramatisasi atau ditambahkan unsur ajaib (supernatural) untuk memperkuat legitimasi suatu garis keturunan. Inilah yang menjadi celah masuknya mitos.

2. Personifikasi Berlebihan

Ketika leluhur dipandang sebagai sosok pribadi yang memiliki sifat seperti manusia (bisa marah, bisa senang, memiliki ego kelompok), maka muncul kepercayaan-kepercayaan mitologis. Contohnya: “Jika tidak menyembah di sini, leluhur X akan marah.” Ini adalah bentuk mitos ketakutan yang muncul karena kita mempersonifikasikan Atma menjadi sosok yang masih memiliki emosi manusiawi.

3. Jebakan Fanatisme Golongan

Pemujaan identitas sering memunculkan mitos tentang “keunggulan darah”. Seseorang bisa terjebak merasa paling suci atau paling berkuasa hanya karena garis keturunan tertentu. Ini menjauhkan orang dari hakikat Kawitan sebagai Atma (yang universal) dan justru mengkotak-kotakkan manusia dalam sekat-sekat mitos silsilah.

Mengapa Jalur Jnana (Atma) Lebih Minim Mitos?

Jalur Jnana memuja Energi Hidup (Atma) yang bersifat abstrak dan universal.

  • Tanpa Nama: Tidak ada cerita atau drama yang perlu dipertahankan.
  • Logis: Fokus pada keberadaan “Hidup” itu sendiri. Anda tidak perlu mitos untuk membuktikan bahwa Anda hidup; Anda cukup menyadarinya.
  • Melampaui Bentuk: Mitos membutuhkan “wujud” atau “cerita”. Ketika Anda memuja Sang Muasal tanpa identitas, semua narasi manusiawi gugur dengan sendirinya.

Evolusi Kesadaran dan Praktek Membangkitkan Kesadaran

Seseorang terjebak mitos jika ia berhenti pada “siapa” leluhurnya (identitas), bukan “apa” yang menghidupi leluhurnya (Atma). Namun, perlu diingat bahwa mitos dalam Bhakti juga memiliki fungsi sosial sebagai pemersatu, asalkan disadari bahwa itu adalah “bungkus”, bukan “isi” yang sejati.

Dalam perspektif filsafat spiritual, pemujaan leluhur memang sering kali merupakan sebuah  evolusi kesadaran yang dapat dibagi menjadi dua tahapan utama:

1. Tahap Personal (Bhatara-Bhatari Pitra)

Pada tahap ini, pemujaan berbasis pada identitas pribadi dan hubungan emosional.

  • Objek: Leluhur dipuja sebagai sosok individu yang memiliki nama, silsilah, dan jasa sejarah tertentu (misalnya: “Eyang X” atau “Leluhur dari klan Y”).
  • Karakteristik: Fokus pada rasa syukur atas warisan biologis dan nilai-nilai keluarga. Ritual cenderung bersifat spesifik dan terikat pada memori kolektif garis keturunan.
  • Risiko: Jika berhenti di sini, seseorang rentan terjebak dalam fanatisme golongan atau mitos-mitos yang mengagungkan identitas semu. 

2. Tahap Transendental (Bhatara Kawitan/Paramatma)

Pada tahap ini, pemujaan naik ke level Jnana (Pengetahuan), di mana identitas pribadi dilepaskan untuk melihat hakikat yang lebih dalam.

  • Objek: Leluhur dipuja sebagai Atma atau energi hidup yang murni tanpa nama dan bentuk (Nirguna).
  • Karakteristik: Menyadari bahwa leluhur adalah perantara dari “Sang Muasal Hidup” yang sama dengan yang ada dalam diri kita. Ini adalah pemujaan terhadap Paramatma (Roh Semesta).
  • Tujuan: Mencapai kemanunggalan (Advaita), di mana penyembah menyadari bahwa di balik semua nama leluhur, hanya ada satu sumber kehidupan yang Esa. 

Hubungan Antar Tahap Personal dan Transendental

Kedua tahap ini tidak harus saling meniadakan. Tahap pertama (Bhakti) sering kali menjadi pintu gerbang atau fondasi etika. Tanpa menghormati identitas leluhur, seseorang sulit menghargai keberadaannya saat ini. Namun, tahap kedua (Jnana) adalah puncak yang membebaskan, di mana seseorang tidak lagi terkotak-kotak oleh ego silsilah, melainkan bersatu dengan universalitas hidup. 

Pemujaan yang diupayakan adalah keberimbangan ketika seseorang melakukan ritual dengan rasa bakti kepada leluhur (Tahap 1), namun di saat yang sama memiliki kesadaran penuh bahwa yang dipuja sejatinya adalah Atma yang tak bertepi (Tahap 2).  [T]

Penulis: Sugi Lanus
Editor: Adnyana Ole

BACA BAGIAN 2:

SIAPA BHATARA GURU DI KEMULAN (?) — MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal — [Bagian 2]
Tags: hinduHindu Balikawitanleluhurmemuja leluhur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lakon “Lobi Pedidian” Bali di Pusat —Catatan Tentang Lobi Bali Terkini

Next Post

Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah

Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co