4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembang Alas | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
March 8, 2026
in Cerpen
Kembang Alas | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Canva

MALAM itu hujan jatuh seperti untaian doa yang kehilangan alamatnya. Dari jendela rumah kecil di tepi hutan jati, seorang ibu menatap jauh ke arah gelap, ke tempat di mana anak gadisnya entah di mana. Sejak suaminya meninggal ketika putrinya masih kecil, hanya dua napas yang saling berkejaran di rumah itu: napas ibu yang hidup dari sisa doa, dan napas anak yang tumbuh dari luka kehilangan. Rumah mereka sederhana, berdinding papan, beratap genteng tua yang setiap kali hujan turun meneteskan bunyi lirih seperti dzikir yang letih. Namun di situlah cinta berakar, di situlah kehidupan sederhana menjadi benteng dari segala badai dunia. Ibu selalu menasihati anaknya, bahwa dunia di luar sana tidak seindah yang disiarkan televisi, bahwa manusia tidak semua berhati putih, dan bahwa perempuan harus menjaga dirinya seperti menjaga rahasia Tuhan. Namun gadis itu, Velicia, tumbuh dengan darah muda yang tak mau diikat oleh kehati-hatian. Sejak kecil ia sudah menunjukkan sifat keras kepala; apa yang dilarang justru ia ingin lakukan, apa yang dinasihati justru ia tolak dengan tawa.

Ayahnya meninggal karena kecelakaan motor dalam perjalanan pulang dari sawah ketika Velicia duduk di kelas empat SD. Sejak itu, ibunya memanggul seluruh nasib sendirian. Ia menjahit pakaian tetangga, mencuci baju orang, dan menabung sedikit demi sedikit agar anaknya kelak bisa sekolah tinggi. Harapannya sederhana, hanya ingin anak gadisnya menjadi perempuan berpendidikan yang tahu menghargai hidup, bukan menjadi korban zaman. Tapi waktu seolah menjadi kayu bakar bagi api pembangkangan.

Ketika Velicia lulus SMA dan diterima kuliah di Malang, ibunya menangis bukan karena bangga, tapi karena takut. Ia tahu, kota itu akan merebut anaknya perlahan. Maka ia berkata pelan, “Nak, jangan jauh-jauh dari Ibu. Dunia di luar sana bukan tempat yang lembut untuk hati perempuan.”

Namun kalimat itu justru dianggap sebagai belenggu. Velicia menatap ibunya dengan mata yang berkilat oleh ambisi muda.

“Ibu tidak mau aku bahagia. Ibu hanya ingin aku tetap kecil, tetap takut pada dunia,” katanya. Ibu terdiam, bibirnya gemetar, tapi ia tahu tak ada gunanya menahan. Hati muda selalu mengira nasihat adalah penjara, padahal itu pagar agar tak jatuh ke jurang.

Malam sebelum keberangkatannya, ibu menanam bunga putih di halaman, lalu berkata, “Kalau suatu hari kau tersesat, ingatlah bunga ini. Namanya Kembang Alas. Ia tumbuh dari tanah keras, tapi harum karena sabar.”

Velicia hanya mengangguk tanpa makna. Ia berpikir ibunya hanya bicara tentang bunga, padahal yang ditanam malam itu adalah doa yang tak akan mati.

Malang menyambutnya dengan sejuk yang menggoda. Kota itu seperti taman surga yang menipu, penuh aroma kopi, lampu jalan yang berkelip lembut, dan wajah-wajah muda yang berlari mengejar mimpi. Di sanalah Velicia merasa dilahirkan kembali: bebas, cantik, dan tak terikat. Di kampus, ia dikenal cerdas dan ramah. Banyak lelaki menaruh hati, tapi hanya satu yang mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat—seorang kakak tingkat bernama Jonathan, atau yang biasa dipanggil Jo.

Ia pemain teater, penyanyi, dan penggoda ulung dengan mata yang selalu seperti menyimpan rahasia. Jo datang dengan gitar di tangan, dengan suara serak yang memikat, dan senyum yang seolah lahir dari kitab puisi. Velicia yang polos dan haus akan perhatian jatuh ke dalam orbit pesonanya.

Mereka sering duduk berdua di taman kampus, membicarakan puisi, teater, dan kehidupan.

“Kau tahu, Ve,” kata Jo suatu sore, “suara tawamu seperti nada mayor yang hilang di tengah minor. Cantik tapi sendu.”

Velicia tertawa malu. Ia tak tahu bahwa kata-kata itu hanyalah umpan bagi seorang lelaki yang pandai memainkan hati.

Hari-hari berikutnya mereka semakin dekat. Jo menjemputnya, mengajaknya latihan teater, membelikan makanan, lalu menatapnya dengan cara yang membuat waktu seolah berhenti. Hingga suatu malam di sebuah pesta kecil, Jo menawarinya segelas minuman.

“Sedikit saja, Ve. Ini bukan arak, cuma wine ringan,” katanya sambil tersenyum.

Velicia menolak pada awalnya, tapi karena ingin dianggap dewasa, ia menuruti. Satu teguk, dua teguk, hingga dunia berputar.

Malam itu berakhir dengan kabut di matanya dan tangan lelaki yang menuntunnya ke tempat yang seharusnya dijaga suci. Esok paginya, ia bangun dengan tubuh yang kehilangan sesuatu, dan di sampingnya hanya ada dingin dan sesal. Jo berubah sikap.

Ia menjadi dingin, mulai jarang menemuinya, dan ketika Velicia menanyakan apa salahnya, lelaki itu hanya berkata, “Jangan terlalu serius. Kita cuma dua orang muda yang kebablasan.” Kalimat itu seperti petir yang memecah langit keyakinannya.

***

Seminggu, dua minggu, hingga perutnya mulai terasa aneh. Ia membeli test pack di apotek dan menatap hasilnya dengan gemetar—dua garis merah. Dunia seolah berhenti berputar. Ia mencoba mencari Jo, memohon tanggung jawab, tapi Jo hanya tertawa hambar. “Aku diterima kerja di luar negeri, Ve. Aku tidak bisa apa-apa sekarang. Tolong pahami aku,” katanya, lalu pergi membawa kopernya. Ia tak menoleh lagi.

Velicia pulang ke rumah dengan langkah gontai. Langit di atas desa diselimuti mendung. Ibunya sedang menjahit ketika melihat anaknya berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat dan mata sembab.

“Ve, kenapa?” tanya ibunya. Tapi air mata anak itu sudah menjawab segalanya. Dalam tangis yang panjang,

Velicia mengaku tentang segalanya—tentang cinta, tentang dosa, tentang janin yang kini hidup di rahimnya. Ibu terdiam lama. Air matanya jatuh, tapi bukan air mata benci. Itu air mata kehilangan.

“Ibu sudah bilang, Nak. Dunia di luar sana tidak seindah yang kau pikirkan,” katanya dengan suara yang nyaris berbisik. “Jadi Ibu menyalahkanku?” bentak Velicia, suara mudanya penuh luka. “Ibu tidak menyalahkan siapa-siapa. Tapi setiap pilihan punya bayangan, dan bayangan itu kini menuntutmu.” Kalimat itu terasa seperti hukuman.

Velicia menangis keras. “Kalau Ibu cuma bisa menyalahkan, aku akan pergi lagi! Aku tidak butuh siapa pun!” katanya, lalu berlari ke luar rumah dalam hujan. Ibu mengejar, tapi langkahnya berat, tubuhnya renta.

Di ambang pintu ia berseru, “Ya Allah, lindungi anakku, meski ia menolak lindungan-Mu.” Tapi hujan menelan suaranya.

Kota Malang kembali menerima Velicia, kali ini dengan wajah muram. Kampus mengeluarkannya setelah kabar kehamilannya tersebar. Ia kehilangan tempat kuliah, kehilangan teman, dan kehilangan arah. Untuk bertahan hidup, ia bekerja di sebuah toko buku kecil di Oro-oro Dowo, menyusun buku-buku yang tidak mampu lagi ia baca.

Di sanalah ia bertemu Lukman—lelaki tampan berusia akhir dua puluhan, pekerja proyek, dengan kemeja flanel dan aroma kayu di tubuhnya. Lukman sering membeli koran dan berbincang singkat. Kata-katanya hangat, senyumnya menenangkan, dan tatapannya seperti pelindung bagi hati yang remuk. “Kau perempuan kuat,” katanya suatu senja. “Tak semua orang bisa bertahan sendirian seperti kau.”

Kata-kata itu menjadi balsem bagi luka lama. Velicia mulai membuka hatinya lagi. Ketika Lukman menawarkan tempat tinggal di kosnya, ia menolak setengah hati tapi akhirnya setuju. Ia pikir mungkin inilah kesempatan untuk memperbaiki hidup.

Namun manusia, sebagaimana hujan, tak selalu meneteskan rahmat. Setelah beberapa bulan, Lukman menikahinya dengan sederhana, tapi kehangatan itu segera berubah menjadi neraka. Lukman mulai mabuk, kasar, dan cemburu pada bayangan masa lalu.

Ia menuduh Velicia perempuan rusak, menamparnya, menendangnya bahkan ketika perutnya sudah besar.

“Perempuan seperti kau pantasnya disakiti!” teriaknya suatu malam. Velicia hanya bisa menangis. Ia ingin pulang, tapi malu menahannya. Ia ingin mati, tapi rahimnya berisi kehidupan yang membuatnya bertahan.

***

Malam-malam berikutnya ia bermimpi aneh. Ia melihat ibunya duduk di tepi hutan, menanam bunga putih di bawah cahaya bulan. “Apa itu, Bu?” tanya Velicia dalam mimpi. Ibunya tersenyum, “Kembang Alas. Bunganya harum di malam hari. Ia tumbuh dari luka tanah, tapi menenangkan hati yang patah.” Velicia terbangun dengan air mata. Ia tahu itu bukan sekadar bunga. Itu doa yang sedang menjemputnya pulang.

Suatu malam, Lukman tak pulang. Hujan turun deras. Perut Velicia mulai mulas. Darah menetes di lantai kos yang kotor. Ia sendirian. Tak ada yang mengetuk pintu, tak ada suara manusia, hanya hujan yang seperti mengetuk rahimnya agar segera melahirkan. Dalam kesakitan itu, ia menjerit memanggil ibunya.

“Bu… maafkan Ve…” katanya dengan napas tersengal. Di antara kabut kesakitan itu, pintu kos tiba-tiba terbuka. Dalam pandangan kabur, ia melihat sosok perempuan berkerudung lusuh berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh cahaya, tangannya gemetar menahan tangis.

“Ve…” suaranya lirih, “anakku…” Velicia menatapnya tak percaya. “Ibu?” Air mata jatuh dari kedua wajah itu bersamaan. Ibu berlari memeluk anaknya. Dalam pelukan itu, bayi kecil lahir, menangis pelan seperti azan dari langit gelap. Ibu menggendong bayi itu sambil berzikir.

“Namakan dia Alisa, Ve. Artinya: yang diberi cahaya.” Velicia tersenyum lemah.

“Bu, jangan menangis… Ve ingin tidur sebentar…” Ibu menggenggam tangannya.

“Jangan, Nak, bertahanlah…” Tapi malam terlalu pekat. Velicia memejamkan mata, napasnya pelan, tubuhnya dingin. Ia meninggal dalam dekapan ibunya, tersenyum seolah telah menemukan kedamaian yang selama ini dicarinya di luar rumah.

Hujan berhenti. Langit subuh mulai terang. Ibu menatap jasad anaknya yang telah dibungkus kain putih. Di sampingnya, bayi kecil itu tidur tenang. Ia mencium kening anaknya, lalu berbisik, “Kau pulang juga akhirnya, Ve. Bukan dengan tubuh, tapi dengan cahaya.”

Beberapa minggu kemudian, halaman rumah mereka kembali hidup. Di tempat ibu dulu menanam bunga itu, tumbuh sekuntum Kembang Alas berwarna putih pucat, kelopaknya harum setiap malam, seolah memanggil dari alam lain. Orang-orang desa heran karena bunga itu tak pernah layu meski hujan atau kemarau. Ibu sering duduk di bawahnya, menggendong Alisa, menatap langit sambil berbisik,

“Anakku telah kembali.” Dan setiap kali bulan purnama naik, angin membawa aroma bunga itu menyusup ke dalam rumah, membuat hati siapa pun yang menciumnya ingin menangis tanpa sebab. Di malam yang sunyi, kadang terdengar suara perempuan membaca ayat pendek, lembut dan penuh rindu. Ibu tahu, itu bukan angin. Itu jiwa anaknya yang datang menziarahi doa.

***

Bunga itu terus mekar, seolah menyerap air mata dari tanah. Ia menjadi lambang pengampunan, tanda bahwa cinta seorang ibu bisa menembus batas dunia. Dan setiap kali ibu menatap bunga itu, ia teringat kalimat terakhir anaknya: “Ve ingin tidur sebentar…” Maka setiap kali menatap langit, ia berbisik, “Tidurlah, Nak. Dunia sudah tak bisa menyakitimu lagi.”

Dan dari balik hutan jati, angin menjawab dengan lembut: “Ibu… terima kasih telah menanam doa bahkan untuk anak yang tak mendengarkanmu.”

Kembang Alas tetap tumbuh, putih dan wangi di antara rerumputan liar. Tak ada yang berani memetiknya. Orang-orang percaya, bunga itu milik seorang ibu yang kehilangan, tapi juga milik seorang anak yang akhirnya pulang.[T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Komang Sujana | Peluru Terakhir

Next Post

Enam Perupa Asal Yogyakarta Pamerkan ‘Togetherness’: Berbeda Arah, Warna, Bentuk dan Latar Budaya

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Enam Perupa Asal Yogyakarta Pamerkan ‘Togetherness’: Berbeda Arah, Warna, Bentuk dan Latar Budaya

Enam Perupa Asal Yogyakarta Pamerkan ‘Togetherness’: Berbeda Arah, Warna, Bentuk dan Latar Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co