12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Toa Lagi Toa Lagi

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
February 23, 2026
in Opini
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Khairul A. El Maliky

PENDAHULUAN

Saat bulan Ramadhan tiba setiap tahunnya, suasana keislaman menyelimuti hampir setiap sudut kehidupan di Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke, Masjid dan musholla menjadi pusat aktivitas spiritual yang ramai. Namun, belakangan ini, muncul berbagai keluhan dari sebagian masyarakat non-Muslim terkait penggunaan toa (alat penguat suara) di masjid dan musholla—baik saat umat Muslim melakukan tadarus Al-Qur’an maupun ketika membangunkan warga sekitar untuk sahur. Keluhan tersebut berkisar dari gangguan kenyamanan hingga gangguan waktu istirahat yang diperlukan.

Perdebatan ini membawa kita pada pertanyaan mendasar: bagaimana kita menyelaraskan kewajiban spiritual umat Muslim dengan hak-hak dan kenyamanan seluruh anggota masyarakat yang beragam keyakinan? Sebagai seorang yang telah mengamati dan meneliti dinamika hubungan agama dan masyarakat selama bertahun-tahun, saya merasa perlu untuk mengupas kasus ini secara mendalam—bukan hanya dari sisi keislaman, tetapi juga dari perspektif sosial yang humanis.

Di satu sisi, bagi umat Muslim, penggunaan toa dalam aktivitas ibadah selama Ramadhan memiliki makna yang sangat dalam. Membaca Al-Qur’an adalah bentuk syiar yang membawa pesan penting bagi seluruh umat manusia, sementara membangunkan sahur dianggap sebagai kewajiban persaudaraan antar sesama Muslim. Di sisi lain, kita juga tidak bisa mengabaikan perasaan kaum non-Muslim yang merasa terganggu. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang kedua sisi masalah ini, sekaligus mencari titik temu yang bisa mempererat tali silaturahmi antarumat beragama.

TADARUS AL-QUR’AN SEBAGAI SYIAR YANG BERATURAN

Saya pernah menghabiskan malam Ramadhan di berbagai masjid dan musholla di berbagai daerah—dari kota besar hingga desa terpencil. Setiap kali melihat umat Muslim berkumpul untuk membaca Al-Qur’an bersama, saya merasakan kedalaman makna yang terkandung di dalamnya. Menurut ajaran Islam, membaca Al-Qur’an bukan hanya ibadah pribadi semata, melainkan sebuah syiar—penyampaian pesan Allah SWT kepada seluruh umat manusia.

Al-Qur’an sendiri berisi berbagai pesan yang universal: peringatan bagi mereka yang membangkang dan menolak petunjuk-Nya, gambaran tentang kehidupan akhirat yang akan datang setelah kematian, konsekuensi yang akan diterima oleh mereka yang menantang kebenaran, serta kabar gembira bagi mereka yang beriman dan menjalankan perintah-Nya dengan penuh takwa. Dalam konteks ini, penggunaan toa untuk tadarus Al-Qur’an dianggap sebagai cara untuk menyebarkan pesan-pesan mulia tersebut agar bisa diterima oleh lebih banyak orang.

Saya pernah berbincang dengan beberapa ustadz selama tinggal di kota Pekanbaru, yang menjelaskan bahwa “Tadarus Al-Qur’an dengan menggunakan toa bukan hanya untuk yang sedang berada di masjid. Kita berharap bahwa suara bacaan Al-Qur’an bisa menjangkau mereka yang sedang berada di rumah, mungkin sedang merasa lelah atau bahkan sedang dalam kesusahan—semoga pesan dalam Al-Qur’an bisa memberikan ketenangan dan petunjuk bagi mereka.”

Namun, saya juga pernah bertemu dengan Bu Siti, seorang tetangga non-Muslim yang tinggal di dekat musholla tersebut. Dia mengaku bahwa terkadang suara tadarus yang terlalu keras dan berlangsung hingga larut malam membuatnya sulit tidur, terutama karena dia harus bangun pagi untuk bekerja. “Saya menghargai ibadah mereka, tapi saya juga perlu istirahat yang cukup agar bisa menjalankan pekerjaan saya dengan baik,” katanya dengan nada yang meminta pengertian.

Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa kita perlu menemukan keseimbangan. Syiar agama memang penting, namun tidak boleh mengorbankan kenyamanan orang lain. Di zaman dahulu, ketika kehidupan masyarakat masih lebih sepi dan tidak terlalu padat, umat Muslim tidak memerlukan toa karena suara bacaan atau panggilan bisa dengan mudah terdengar tanpa perlu penguatan. Namun, di zaman sekarang yang semakin ramai dan padat penduduk, toa menjadi alat yang dianggap perlu agar informasi dan ajakan ibadah bisa sampai kepada khalayak yang lebih luas.

MEMBANGUNKAN SAHUR: KEWAJIBAN PERSAUDARAAN ATAU GANGGUAN?

Salah satu penggunaan toa yang paling sering menjadi sorotan adalah ketika membangunkan warga sekitar untuk sahur. Bagi umat Muslim, sahur adalah makanan yang dikonsumsi sebelum terbitnya matahari selama bulan Ramadhan, dan dianggap sebagai bagian penting dari ibadah puasa. Membangunkan saudara sesama Muslim agar tidak terlewatkan sahur dianggap sebagai bentuk kepedulian dan kewajiban persaudaraan.

Saya ingat ketika masih kecil, di kampung halaman saya di Kanigaran, Probolinggo—suatu desa yang penuh dengan kesederhanaan dan kebersamaan. Membangunkan sahur dilakukan dengan cara yang sangat tradisional yang saya tidak akan pernah lupakan—kakek-kakek atau kader masjid akan berjalan kaki menyebrang kampung dengan membawa kentongan besi yang dibunyikannya dengan ritme yang khas, atau kadang hanya dengan memanggil suara keras namun penuh kasih sayang: “Warga Kanigaran, mari kita bangun untuk sahur…” Tidak ada toa saat itu, namun suara tersebut bisa terdengar jelas di setiap pelosok kampung karena jumlah penduduk belum terlalu banyak dan suasana malam masih sangat tenang, hanya diiringi suara katak dan nyamuk yang berkeliaran.

Sekarang, dengan perkembangan zaman dan pertumbuhan penduduk yang pesat—bahkan di kampung Kanigaran sendiri, banyak keluarga yang membangun rumah baru dan membuat pemukiman semakin padat—cara-cara tradisional tersebut sudah tidak efektif lagi. Meskipun sudah ada jam dan alarm yang bisa digunakan untuk membangunkan diri sendiri, banyak orang yang masih mengandalkan panggilan sahur dari masjid atau musholla. Ada beberapa alasan di balik hal ini: pertama, tidak semua orang memiliki akses ke jam atau alarm yang bisa dipercaya—terutama kaum lansia di kampung saya yang masih lebih percaya pada panggilan dari masjid. Kedua, bagi sebagian orang, panggilan sahur dari masjid memiliki nilai spiritual yang lebih dalam—menjadi pengingat bahwa puasa adalah ibadah yang dilakukan bersama-sama sebagai sebuah komunitas, sebagai saudara-saudara di kampung Kanigaran maupun di seluruh nusantara.

Namun, saya juga menyadari bahwa bagi sebagian orang, terutama mereka yang tidak berpuasa, suara panggilan sahur yang terdengar dari toa bisa menjadi gangguan. Saya pernah berbicara dengan Pak Johan, seorang pekerja malam yang baru pulang kerja sekitar jam tiga pagi dan baru bisa beristirahat ketika suara panggilan sahur mulai terdengar. “Saya sangat menghargai kepercayaan mereka, tapi setelah bekerja seharian penuh, saya benar-benar butuh waktu untuk istirahat. Suara toa yang terlalu keras membuat saya sulit tidur,” ujarnya.

Bagi umat Muslim, membangunkan sahur adalah bentuk kebaikan yang harus dilakukan. Namun, kita juga perlu memahami bahwa tidak semua orang di sekitar kita memiliki kebutuhan yang sama. Ada mereka yang bekerja shift malam, ada lansia yang membutuhkan istirahat yang cukup, dan ada mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu yang membuatnya sensitif terhadap suara keras. Ini bukan berarti kita harus berhenti membangunkan sahur, tetapi bagaimana kita melakukannya dengan cara yang lebih bijak dan menghargai hak orang lain—begitu juga yang saya rasakan di kampung Kanigaran, di mana kini pengurus masjid mulai lebih memperhatikan volume suara toa agar tidak mengganggu tetangga yang bekerja malam.

AZAN, TOA, DAN PENGAGUNGAN NAMA ALLAH

Salah satu argumen yang sering diajukan oleh umat Muslim adalah bahwa azan—panggilan untuk melakukan shalat—tidak pernah dianggap mengganggu karena ia mengagungkan nama Allah. Banyak yang berpendapat bahwa jika seseorang merasa terganggu dengan suara azan atau kegiatan ibadah lainnya yang mengandung pujian kepada Allah, maka ia telah melupakan janjinya kepada-Nya.

Dalam kitab suci dan berbagai sumber keislaman, terdapat cerita bahwa ketika Allah SWT akan menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, Dia pernah bertanya kepada mereka: “Sanggupkah kamu menjadi khalifah-Ku di muka bumi?” Dan manusia menjawab: “Sanggup ya Allah.” Dari sini muncul pandangan bahwa ketika kita merasa terganggu dengan hal-hal yang berkaitan dengan nama Allah, maka kita telah melupakan janji tersebut dan tidak mampu menjalankan tugas sebagai khalifah dengan baik.

Saya pernah mendiskusikan hal ini dengan seorang cendekiawan agama, Profesor Dr. Hasyim Muzadi. Menurutnya, “Pandangan bahwa merasa terganggu dengan nama Allah adalah tanda kelupaan janji memang ada dalam konteks tertentu. Namun, kita juga harus memahami bahwa sensitivitas setiap orang berbeda. Ada mereka yang memang memiliki kondisi fisik atau psikologis yang membuatnya sulit menerima suara keras, bukan karena mereka menolak atau melupakan janji kepada Allah.”

Saya juga pernah bertemu dengan seorang teman yang beragama Kristen namun tinggal di dekat masjid. Dia mengatakan bahwa dia tidak merasa terganggu dengan suara azan—malah, dia merasa bahwa suara azan memberikan kedamaian pada suasana pagi dan sore hari. “Saya melihatnya sebagai bagian dari kehidupan bersama di Indonesia. Setiap agama punya cara mereka untuk menghormati Tuhan mereka, dan saya menghargainya,” katanya.

Namun, kita juga tidak bisa menyamakan antara azan dengan penggunaan toa untuk tadarus atau membangunkan sahur. Azan memiliki durasi yang relatif singkat dan dilakukan pada jam-jam tertentu yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat. Sedangkan penggunaan toa untuk aktivitas lain bisa berlangsung lebih lama dan pada jam-jam yang mungkin mengganggu waktu istirahat sebagian orang. Ini menunjukkan bahwa kita perlu membuat perbedaan yang jelas antara penggunaan toa yang memang sudah menjadi tradisi dan yang bisa diatur agar tidak mengganggu.

MENEMUKAN TITIK TEMU: KESEIMBANGAN ANTAR SPIRITUAL DAN SOSIAL

Setelah mendengar berbagai sudut pandang dan melihat berbagai kondisi di lapangan, saya yakin bahwa masalah penggunaan toa masjid dan musholla selama Ramadhan tidak bisa diselesaikan dengan cara yang sepihak. Kita perlu menemukan titik temu yang bisa memenuhi kebutuhan spiritual umat Muslim sekaligus menghargai hak dan kenyamanan seluruh anggota masyarakat.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

Pertama, melakukan koordinasi antara pengurus masjid/musholla dengan masyarakat sekitar—baik Muslim maupun non-Muslim. Saya pernah melihat contoh baik di kampung Kanigaran sendiri, di mana pengurus masjid secara rutin melakukan temu ramah dengan warga sekitar sebelum bulan Ramadhan tiba. Mereka membahas tentang jadwal penggunaan toa, volume suara yang sesuai, dan aktivitas apa saja yang akan dilakukan selama Ramadhan. Bahkan, beberapa tetangga non-Muslim ikut memberikan masukan tentang jam-jam yang paling tidak mengganggu aktivitas mereka. Dengan cara ini, semua pihak merasa diperhatikan dan masalah bisa diantisipasi sebelum terjadi.

Kedua, mengatur volume suara toa agar tidak terlalu keras dan hanya menjangkau area yang memang diperlukan. Di era teknologi yang canggih sekarang, kita bisa menggunakan sistem volume yang bisa diatur dengan presisi, bahkan menggunakan zona suara yang hanya menjangkau area tertentu. Di kampung Kanigaran, pengurus masjid baru saja memasang sistem toa yang bisa diatur volumenya sesuai dengan waktu dan kondisi sekitar—lebih rendah pada malam hari dan sedikit lebih tinggi saat pagi hari. Ini bukan berarti mengurangi makna spiritual dari aktivitas ibadah, tetapi bagaimana kita melakukannya dengan cara yang lebih bijak dan menghargai lingkungan sekitar.

Ketiga, memberikan pemahaman kepada umat Muslim tentang pentingnya menghargai hak orang lain dalam menjalankan ibadah. Islam sendiri sangat menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, bahkan dengan mereka yang berbeda keyakinan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa tidak ada kebaikan dalam agama seseorang jika ia tidak baik kepada sesamanya. Di kampung Kanigaran, hal ini selalu menjadi pesan utama yang disampaikan oleh pengurus masjid setiap awal Ramadhan.

Keempat, memberikan pemahaman juga kepada masyarakat non-Muslim tentang makna dan pentingnya aktivitas ibadah selama Ramadhan bagi umat Muslim. Di kampung saya, beberapa kali dilakukan diskusi antarumat beragama menjelang Ramadhan, di mana kita saling berbagi tentang tradisi dan makna perayaan agama masing-masing. Dengan pemahaman yang saling mendalam, diharapkan muncul rasa pengertian dan saling menghargai yang lebih besar.

Saya percaya bahwa dengan upaya bersama dari semua pihak, kita bisa mengubah kekhawatiran tentang penggunaan toa menjadi kesempatan untuk mempererat tali silaturahmi antarumat beragama. Bulan Ramadhan seharusnya menjadi bulan yang membawa kedamaian dan kebaikan bagi semua orang, bukan menjadi sumber konflik atau ketegangan. Bahkan di kampung Kanigaran, saya melihat bagaimana Ramadhan menjadi momen di mana semua warga—baik Muslim maupun non-Muslim—saling berbagi kebaikan dan kedamaian.

KESIMPULAN

Pernyataan “Toa lagi toa lagi” yang sering muncul sebagai keluhan sebagian masyarakat bukanlah masalah yang sederhana yang bisa diselesaikan dengan mudah. Ini adalah masalah yang menyentuh aspek spiritual, sosial, dan budaya kehidupan bersama di Indonesia sebagai negara yang beragam dan majemuk.

Membaca Al-Qur’an adalah bentuk syiar yang membawa pesan penting bagi seluruh umat manusia—peringatan, harapan, dan kabar gembira. Membangunkan sahur adalah bentuk kepedulian dan kewajiban persaudaraan antar sesama Muslim. Penggunaan toa memang diperlukan di zaman sekarang yang padat dan ramai, berbeda dengan zaman dahulu yang lebih sepi dan tenang—bahkan di kampung Kanigaran yang dulu hanya mengenal kentongan untuk membangunkan sahur. Azan memang mengagungkan nama Allah dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan beragama di Indonesia.

Namun, kita juga tidak bisa mengabaikan perasaan dan hak kaum non-Muslim yang merasa terganggu. Janji kita sebagai khalifah di muka bumi bukan hanya tentang menjalankan ibadah dengan baik, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan damai dan harmoni dengan semua orang, tanpa memandang agama atau keyakinan mereka.

Saya berharap bahwa melalui pemahaman yang lebih mendalam dan upaya bersama dari semua pihak, kita bisa menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Karena pada akhirnya, kita semua adalah saudara yang tinggal di satu bumi dan satu negara—Indonesia yang kita cintai bersama, sebagaimana juga kita semua adalah saudara di kampung Kanigaran, Probolinggo, yang hidup berdampingan dengan penuh cinta dan rasa saling menghargai.[T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulan puasaIslamMuslimRamadanRamadhan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

Next Post

Enam Wimbakara Serentak di Bulan Bahasa Bali 2026, Pengunjung pun Bingung Memilih

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Enam Wimbakara Serentak di Bulan Bahasa Bali 2026, Pengunjung pun Bingung Memilih

Enam Wimbakara Serentak di Bulan Bahasa Bali 2026, Pengunjung pun Bingung Memilih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co