14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

0411 | Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
February 7, 2026
in Cerpen
0411 | Cerpen Yuditeha

Ilustrasi tatkala.co | Canva

TATIK, perempuan berumur limapuluhan dengan rambut yang selalu digelung dan wajah yang tampaknya sulit tersenyum. Ia jarang bicara, tapi sekali bicara, kalimatnya seperti keluar dari radio rusak, berisik, sumbang, tapi kadang menyenangkan. Ia pemilik Warung Rahayu, berada di sudut gang sempit yang selalu basah oleh cucuran air AC dan sisa cucian. Warung itu tak pernah benar-benar ramai, tapi juga tak pernah benar-benar sepi. Ia hidup, seperti jantung yang berdetak, bertahan karena kebiasaan, bukan karena kebutuhan.

 “Yang mau rokok, bayar dulu. Saya bukan koperasi simpan pinjam,” kata Tatik suatu sore pada pelanggan tetapnya, Darto, sopir ojek online yang suka ngutang.

Darto nyengir. “Santai, Mbak. Ini kan warung rakyat. Katanya rakyat harus saling bantu.”

“Itu cuma berlaku kalau kau rakyat biasa. Kau ini rakyat utang.”

Warung Rahayu menjual segala yang tak penting tapi dicari, rokok eceran, mi instan, minyak goreng sachet, deterjen satuan, dan tentu saja gosip. Di dalam warung ada sebuah televisi tabung yang selalu menyala, menayangkan sinetron, iklan pemutih wajah, dan berita politik yang terdengar seperti lelucon.

Pelanggan warung bukan orang-orang yang butuh perubahan. Mereka hanya ingin bertahan, atau setidaknya merasa seperti itu. Ada Broto, pensiunan guru yang kini menjual pulsa elektrik. Ada Nani, mantan karyawan pabrik tekstil yang sekarang jualan cilok dan punya mimpi jadi seleb TikTok.

Tapi yang paling menarik adalah tokoh baru di gang itu: Harun. Ia muncul dua bulan lalu. Kabarnya kontrak di rumah yang dulu ditinggali pensiunan polisi. Sejak pensiunan itu wafat tiga tahun lalu, rumah itu kosong, hanya sesekali dipakai keponakan jauh untuk menyimpan kardus-kardus. Surat sewa memang tidak pernah terlihat, tapi listrik kembali menyala, dan meterannya tak pernah telat isi ulang.

Katanya ia kerja untuk perusahaan startup di Jakarta. Tapi orang-orang curiga karena Harun terlalu tenang. Ia sering membeli kopi sachet tanpa pernah terlihat minum kopi. Ia selalu duduk di bangku plastik depan warung, membaca koran usang atau mencatat sesuatu di buku kecil.

Buku itu pernah tertinggal di warung. Tatik membukanya dengan niat membantu, tapi yang ia lihat hanya deretan tanggal, nama jalan, dan satu dua kalimat aneh seperti: Langit utara bersih. Aktivitas minim. atau Rahayu stabil, sinyal aman. Tak ada nomor telepon. Tak ada nama orang. Di halaman terakhir ada tulisan: Jika gagal lagi, aku akan coba dengan cara lampu mati.

Beberapa orang bersumpah pernah melihat Harun masuk ke kantor kelurahan, tapi pegawai di sana bilang tak ada nama Harun dalam daftar domisili.

“Dia kayak mata-mata,” bisik Nani pada Darto.

“Ah, enggak. Palingan dia DPO yang nyamar.”

“Kalau DPO, kenapa betah nongkrong di gang sepi yang bahkan Google Maps malas update?”

Teka-teki Harun jadi semacam hiburan tersendiri. Ia tidak ikut arisan, tidak datang saat kerja bakti, dan tidak pernah menyapa lebih dulu. Tapi ia juga tidak menyebalkan. Bahkan, kadang, ia tampak sedih tanpa sebab.

Beberapa anak kecil di gang itu pernah diajak Harun bermain teka-teki. Tapi teka-tekinya aneh: “Apa yang tahu semua hal tentang kamu tapi kamu tak tahu dia?” atau “Apa yang menyimpan semua suaramu tapi tak pernah bicara?” Salah satu anak menjawab, “Google!” Harun hanya tersenyum kecil dan bilang, “Itu versi murahnya.”

Pernah satu malam, Broto yang sedang mabuk ringan mengajak Harun bicara tentang sejarah lokal. Harun menanggapi dengan menyebut tahun-tahun, nama-nama tokoh tua, bahkan kutipan berita zaman Orde Baru. Rinci dan tepat. Keesokan harinya, Broto tak bisa tidur, merasa Harun lebih tahu riwayat kampung itu dibanding dirinya yang lahir dan besar di situ.

Suatu malam, listrik padam. Biasa, gardu rusak, dan PLN sedang sibuk mendata pelanggan yang belum bayar. Orang-orang berkumpul di warung, satu-satunya tempat yang punya lilin dan baterai bekas. Harun datang membawa radio kecil dan memutar siaran malam, lagu-lagu lama, berita banjir di tempat lain, dan pembacaan puisi dari pendengar yang kesepian.

“Kau suka puisi?” tanya Tatik, mengejutkan semua orang karena ia jarang bertanya.

Harun mengangguk. “Suka yang pahit.”

Darto cekikikan. “Kopi pahit, hidup pahit, cinta pahit. Tinggal nunggu utang yang manis.”

Semua tertawa, termasuk Harun, tapi hanya sebentar. Wajahnya kembali tenang, hampir datar. Lalu ia berkata, pelan sekali, “Saya pernah hidup di tempat yang katanya masa depan. Tapi ternyata cuma versi mahal dari masa lalu.”

Tatik memperhatikan Harun malam itu lebih lama dari biasanya. Ia melihat bekas luka kecil di bawah telinga kanan, seperti bekas operasi atau mungkin sesuatu yang lebih canggih. Tapi ia tidak bertanya. Hanya mencatat dalam diam. Malam itu, semua orang diam lebih lama dari biasanya. Mereka tidak paham, tapi merasa itu kalimat yang penting.

Beberapa hari kemudian, Harun menghilang. Pagi itu, warung sudah buka seperti biasa. Tatik menata telur, membuka toples kerupuk, dan menyalakan televisi. Tapi tidak ada Harun. Rumah kontrakannya kosong. Pakaian, kasur, bahkan sabun batang di kamar mandi, raib.

Di bagian belakang rumah kontrakan, Pak RT menemukan bekas lubang kecil di lantai kayu, seperti tempat menyimpan sesuatu. Lubangnya bersih. Di dinding, tergores angka 0411, ditulis dengan spidol hitam. Tak ada yang tahu apa artinya, tapi Broto menyebut itu mirip kode unit di arsip militer lama yang pernah ia lihat waktu muda, entah benar atau sekadar bualan. Yang tertinggal hanya secarik kertas di meja warung: Warung ini punya suara. Kadang lebih jujur dari berita. Terima kasih sudah diam bersamaku.

Orang-orang kecewa. Bukan karena Harun pergi, tapi karena mereka tidak sempat tahu siapa dia sebenarnya. Ketika Pak RT datang membawa petugas sensus, tak ada satu pun yang bisa menjelaskan identitas Harun dengan pasti.

Dua minggu setelah Harun menghilang, seseorang dari dinas statistik pusat datang membawa selembar foto lusuh. “Kami sedang mencari seseorang,” katanya pada Pak RT. Tapi sebelum sempat menunjukkan foto itu, ia buru-buru pergi saat melihat papan nama warung. Katanya salah lokasi. Tapi Tatik yakin, itu bukan kebetulan.

“Mungkin dia penulis gagal,” kata Broto.

“Atau intel yang kena pecat,” sahut Darto.

“Atau malaikat nyasar,” kata Nani sambil mengunyah cilok.

Tatik hanya mengangkat bahu. Ia membuka koran yang Harun tinggalkan. Ada lingkaran di satu kolom iklan baris: Dicari: tempat sunyi yang tak perlu menjelaskan diri. Dibayar dengan tenang.

Sejak itu, Warung Rahayu sedikit berubah. Tidak lebih bersih. Tapi kini ada meja kecil di pojok, dengan buku tamu lengkap dengan pensilnya. Siapa pun boleh menulis apa saja. Beberapa menulis keluhan, beberapa curhat. Ada juga yang menggambar kucing bertanduk dan roti bakar menangis. Orang-orang datang bukan cuma belanja, tapi untuk mengingat, bahwa mereka pernah dihampiri sesuatu yang tak bisa mereka pahami, tapi entah kenapa, mereka percaya itu penting.

Suatu malam, Tatik membuka kembali buku tamu yang dulu dipakai Harun. Di salah satu halaman belakang, dengan tulisan kecil seperti tergesa, ada catatan: Wilayah ini masih punya denyut. Kesadaran rakyat belum sepenuhnya mati. Jika ingin belajar ulang dari bawah, tempat ini cukup layak.

Dan Harun? Entahlah. Mungkin dia sekarang duduk di warung lain, di kota lain, menyimak kehidupan dari balik kopi yang tidak pernah ia minum. Atau mungkin ia memang tidak pernah ada.

Beberapa bulan kemudian, seorang lelaki muda datang ke warung membawa map tebal dan kamera saku. Ia memperkenalkan diri sebagai Rizky, mahasiswa pascasarjana dari Fakultas Ilmu Politik. “Saya sedang susun tesis tentang peran mantan agen sipil dalam pembentukan opini masyarakat akar rumput,” katanya. Saat mendengar nama Harun, Rizky terdiam sejenak, lalu mengeluarkan satu foto lama berwarna kusam, seorang pria berjas safari, berdiri di podium kecil dengan mikrofon, latar belakangnya spanduk pelatihan bertuliskan: Modul Deteksi Awal Disinformasi Komunal. “Kalau ini Harun yang sama,” bisik Rizky, “dulu dia orang dalam. Dikenal cerdas, tapi tiba-tiba mundur sebelum laporan penelitiannya dirilis. Ada yang bilang dia hilang karena tahu terlalu banyak. Ada juga yang bilang dia capek pura-pura netral.”

Warung Rahayu tetap buka. Televisi tetap menyala, mi instan tetap direbus, dan gosip tetap panas. Tapi sesekali, saat malam turun dan listrik tiba-tiba mati, semua orang diam, menunggu suara dari radio kecil yang tertinggal. Seakan ingin merasakan rasa kehilangan yang sebenarnya telah mereka miliki lama. [T]

Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Yana Suryantari | Palet Pelukis

Next Post

Tumpek Uye: Menguatkan Harmoni dan Kearifan Lokal

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

Tumpek Uye: Menguatkan Harmoni dan Kearifan Lokal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co