15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

0411 | Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
February 7, 2026
in Cerpen
0411 | Cerpen Yuditeha

Ilustrasi tatkala.co | Canva

TATIK, perempuan berumur limapuluhan dengan rambut yang selalu digelung dan wajah yang tampaknya sulit tersenyum. Ia jarang bicara, tapi sekali bicara, kalimatnya seperti keluar dari radio rusak, berisik, sumbang, tapi kadang menyenangkan. Ia pemilik Warung Rahayu, berada di sudut gang sempit yang selalu basah oleh cucuran air AC dan sisa cucian. Warung itu tak pernah benar-benar ramai, tapi juga tak pernah benar-benar sepi. Ia hidup, seperti jantung yang berdetak, bertahan karena kebiasaan, bukan karena kebutuhan.

 “Yang mau rokok, bayar dulu. Saya bukan koperasi simpan pinjam,” kata Tatik suatu sore pada pelanggan tetapnya, Darto, sopir ojek online yang suka ngutang.

Darto nyengir. “Santai, Mbak. Ini kan warung rakyat. Katanya rakyat harus saling bantu.”

“Itu cuma berlaku kalau kau rakyat biasa. Kau ini rakyat utang.”

Warung Rahayu menjual segala yang tak penting tapi dicari, rokok eceran, mi instan, minyak goreng sachet, deterjen satuan, dan tentu saja gosip. Di dalam warung ada sebuah televisi tabung yang selalu menyala, menayangkan sinetron, iklan pemutih wajah, dan berita politik yang terdengar seperti lelucon.

Pelanggan warung bukan orang-orang yang butuh perubahan. Mereka hanya ingin bertahan, atau setidaknya merasa seperti itu. Ada Broto, pensiunan guru yang kini menjual pulsa elektrik. Ada Nani, mantan karyawan pabrik tekstil yang sekarang jualan cilok dan punya mimpi jadi seleb TikTok.

Tapi yang paling menarik adalah tokoh baru di gang itu: Harun. Ia muncul dua bulan lalu. Kabarnya kontrak di rumah yang dulu ditinggali pensiunan polisi. Sejak pensiunan itu wafat tiga tahun lalu, rumah itu kosong, hanya sesekali dipakai keponakan jauh untuk menyimpan kardus-kardus. Surat sewa memang tidak pernah terlihat, tapi listrik kembali menyala, dan meterannya tak pernah telat isi ulang.

Katanya ia kerja untuk perusahaan startup di Jakarta. Tapi orang-orang curiga karena Harun terlalu tenang. Ia sering membeli kopi sachet tanpa pernah terlihat minum kopi. Ia selalu duduk di bangku plastik depan warung, membaca koran usang atau mencatat sesuatu di buku kecil.

Buku itu pernah tertinggal di warung. Tatik membukanya dengan niat membantu, tapi yang ia lihat hanya deretan tanggal, nama jalan, dan satu dua kalimat aneh seperti: Langit utara bersih. Aktivitas minim. atau Rahayu stabil, sinyal aman. Tak ada nomor telepon. Tak ada nama orang. Di halaman terakhir ada tulisan: Jika gagal lagi, aku akan coba dengan cara lampu mati.

Beberapa orang bersumpah pernah melihat Harun masuk ke kantor kelurahan, tapi pegawai di sana bilang tak ada nama Harun dalam daftar domisili.

“Dia kayak mata-mata,” bisik Nani pada Darto.

“Ah, enggak. Palingan dia DPO yang nyamar.”

“Kalau DPO, kenapa betah nongkrong di gang sepi yang bahkan Google Maps malas update?”

Teka-teki Harun jadi semacam hiburan tersendiri. Ia tidak ikut arisan, tidak datang saat kerja bakti, dan tidak pernah menyapa lebih dulu. Tapi ia juga tidak menyebalkan. Bahkan, kadang, ia tampak sedih tanpa sebab.

Beberapa anak kecil di gang itu pernah diajak Harun bermain teka-teki. Tapi teka-tekinya aneh: “Apa yang tahu semua hal tentang kamu tapi kamu tak tahu dia?” atau “Apa yang menyimpan semua suaramu tapi tak pernah bicara?” Salah satu anak menjawab, “Google!” Harun hanya tersenyum kecil dan bilang, “Itu versi murahnya.”

Pernah satu malam, Broto yang sedang mabuk ringan mengajak Harun bicara tentang sejarah lokal. Harun menanggapi dengan menyebut tahun-tahun, nama-nama tokoh tua, bahkan kutipan berita zaman Orde Baru. Rinci dan tepat. Keesokan harinya, Broto tak bisa tidur, merasa Harun lebih tahu riwayat kampung itu dibanding dirinya yang lahir dan besar di situ.

Suatu malam, listrik padam. Biasa, gardu rusak, dan PLN sedang sibuk mendata pelanggan yang belum bayar. Orang-orang berkumpul di warung, satu-satunya tempat yang punya lilin dan baterai bekas. Harun datang membawa radio kecil dan memutar siaran malam, lagu-lagu lama, berita banjir di tempat lain, dan pembacaan puisi dari pendengar yang kesepian.

“Kau suka puisi?” tanya Tatik, mengejutkan semua orang karena ia jarang bertanya.

Harun mengangguk. “Suka yang pahit.”

Darto cekikikan. “Kopi pahit, hidup pahit, cinta pahit. Tinggal nunggu utang yang manis.”

Semua tertawa, termasuk Harun, tapi hanya sebentar. Wajahnya kembali tenang, hampir datar. Lalu ia berkata, pelan sekali, “Saya pernah hidup di tempat yang katanya masa depan. Tapi ternyata cuma versi mahal dari masa lalu.”

Tatik memperhatikan Harun malam itu lebih lama dari biasanya. Ia melihat bekas luka kecil di bawah telinga kanan, seperti bekas operasi atau mungkin sesuatu yang lebih canggih. Tapi ia tidak bertanya. Hanya mencatat dalam diam. Malam itu, semua orang diam lebih lama dari biasanya. Mereka tidak paham, tapi merasa itu kalimat yang penting.

Beberapa hari kemudian, Harun menghilang. Pagi itu, warung sudah buka seperti biasa. Tatik menata telur, membuka toples kerupuk, dan menyalakan televisi. Tapi tidak ada Harun. Rumah kontrakannya kosong. Pakaian, kasur, bahkan sabun batang di kamar mandi, raib.

Di bagian belakang rumah kontrakan, Pak RT menemukan bekas lubang kecil di lantai kayu, seperti tempat menyimpan sesuatu. Lubangnya bersih. Di dinding, tergores angka 0411, ditulis dengan spidol hitam. Tak ada yang tahu apa artinya, tapi Broto menyebut itu mirip kode unit di arsip militer lama yang pernah ia lihat waktu muda, entah benar atau sekadar bualan. Yang tertinggal hanya secarik kertas di meja warung: Warung ini punya suara. Kadang lebih jujur dari berita. Terima kasih sudah diam bersamaku.

Orang-orang kecewa. Bukan karena Harun pergi, tapi karena mereka tidak sempat tahu siapa dia sebenarnya. Ketika Pak RT datang membawa petugas sensus, tak ada satu pun yang bisa menjelaskan identitas Harun dengan pasti.

Dua minggu setelah Harun menghilang, seseorang dari dinas statistik pusat datang membawa selembar foto lusuh. “Kami sedang mencari seseorang,” katanya pada Pak RT. Tapi sebelum sempat menunjukkan foto itu, ia buru-buru pergi saat melihat papan nama warung. Katanya salah lokasi. Tapi Tatik yakin, itu bukan kebetulan.

“Mungkin dia penulis gagal,” kata Broto.

“Atau intel yang kena pecat,” sahut Darto.

“Atau malaikat nyasar,” kata Nani sambil mengunyah cilok.

Tatik hanya mengangkat bahu. Ia membuka koran yang Harun tinggalkan. Ada lingkaran di satu kolom iklan baris: Dicari: tempat sunyi yang tak perlu menjelaskan diri. Dibayar dengan tenang.

Sejak itu, Warung Rahayu sedikit berubah. Tidak lebih bersih. Tapi kini ada meja kecil di pojok, dengan buku tamu lengkap dengan pensilnya. Siapa pun boleh menulis apa saja. Beberapa menulis keluhan, beberapa curhat. Ada juga yang menggambar kucing bertanduk dan roti bakar menangis. Orang-orang datang bukan cuma belanja, tapi untuk mengingat, bahwa mereka pernah dihampiri sesuatu yang tak bisa mereka pahami, tapi entah kenapa, mereka percaya itu penting.

Suatu malam, Tatik membuka kembali buku tamu yang dulu dipakai Harun. Di salah satu halaman belakang, dengan tulisan kecil seperti tergesa, ada catatan: Wilayah ini masih punya denyut. Kesadaran rakyat belum sepenuhnya mati. Jika ingin belajar ulang dari bawah, tempat ini cukup layak.

Dan Harun? Entahlah. Mungkin dia sekarang duduk di warung lain, di kota lain, menyimak kehidupan dari balik kopi yang tidak pernah ia minum. Atau mungkin ia memang tidak pernah ada.

Beberapa bulan kemudian, seorang lelaki muda datang ke warung membawa map tebal dan kamera saku. Ia memperkenalkan diri sebagai Rizky, mahasiswa pascasarjana dari Fakultas Ilmu Politik. “Saya sedang susun tesis tentang peran mantan agen sipil dalam pembentukan opini masyarakat akar rumput,” katanya. Saat mendengar nama Harun, Rizky terdiam sejenak, lalu mengeluarkan satu foto lama berwarna kusam, seorang pria berjas safari, berdiri di podium kecil dengan mikrofon, latar belakangnya spanduk pelatihan bertuliskan: Modul Deteksi Awal Disinformasi Komunal. “Kalau ini Harun yang sama,” bisik Rizky, “dulu dia orang dalam. Dikenal cerdas, tapi tiba-tiba mundur sebelum laporan penelitiannya dirilis. Ada yang bilang dia hilang karena tahu terlalu banyak. Ada juga yang bilang dia capek pura-pura netral.”

Warung Rahayu tetap buka. Televisi tetap menyala, mi instan tetap direbus, dan gosip tetap panas. Tapi sesekali, saat malam turun dan listrik tiba-tiba mati, semua orang diam, menunggu suara dari radio kecil yang tertinggal. Seakan ingin merasakan rasa kehilangan yang sebenarnya telah mereka miliki lama. [T]

Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Yana Suryantari | Palet Pelukis

Next Post

Tumpek Uye: Menguatkan Harmoni dan Kearifan Lokal

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

Tumpek Uye: Menguatkan Harmoni dan Kearifan Lokal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co