3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumpek Uye: Menguatkan Harmoni dan Kearifan Lokal

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
February 7, 2026
in Esai
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

I Wayan Yudana

Tumpek Uye merupakan salah satu hari suci dalam kalender Bali yang diperingati setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Uye. Hari suci ini memiliki makna yang sangat penting karena menjadi momentum bagi umat Hindu di Bali untuk menghormati, memuliakan, dan mensyukuri keberadaan hewan atau ubuh-ubuhan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Dalam kepercayaan Hindu (Bali), Tumpek Uye juga dikenal sebagai hari pemujaan kepada Sang Hyang Pasupati. Pasupati dikenal sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berperan sebagai penggembala segala makhluk hidup, khususnya binatang. Dalam konteks Tumpek Uye, Pasupati sering disebut dengan gelar Rare Angon,yang berarti “penggembala yang agung” Melalui perayaan Tumpek Uye, manusia diingatkan bahwa hewan bukan sekadar objek pemanfaatan, melainkan sesama ciptaan Tuhan yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam.

Bagi masyarakat Hindu, pemaknaan Tumpek Uye bukanlah sebatas ungkapan rasa syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena telah dianugerahi hewan ternak atau binatang peliharaan (ubuh-ubuhan). Hewan-hewan tersebut juga memiliki peran penting sebagai piranti sembah bakti dalam pelaksanaan berbagai upacara yadnya. Dalam konteks ini, hewan ditempatkan secara sakral sebagai bagian dari laku spiritual umat Hindu.

Di sisi lain, hewan ternak juga menjadi penyangga kehidupan ekonomi dan sumber penghidupan bagi masyarakat. Beternak tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas tradisional, tetapi juga berkembang menjadi bidang usaha dan bisnis yang bernilai ekonomi tinggi. Namun demikian, masyarakat Hindu Bali mampu menyelaraskan dimensi ekonomi dan spiritual tersebut secara harmonis.

Meskipun dalam kehidupan modern hewan ternak telah menjadi komoditas komersial, keyakinan dan nilai-nilai spiritual tetap dijaga. Ketika ada upacara yadnya, baik di lingkungan keluarga maupun adat yang lebih luas, masyarakat tetap berpegang pada tradisi ngaturang wewalungan sebagai bentuk bakti dan pengabdian. Bahkan tidak jarang, hewan ternak dipersembahkan (kaaturang) dengan penuh keikhlasan tanpa menuntut imbalan, meskipun hewan tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Kalaupun dalam praktiknya dilakukan pembayaran, biasanya berlangsung tanpa tawar-menawar. Semua dilandasi oleh keikhlasan dan rasa bakti-asih, karena hewan tersebut digunakan sebagai perlengkapan upakara yadnya. Nilai ini menunjukkan bahwa dalam budaya Bali, kepentingan spiritual dan solidaritas sosial sering ditempatkan di atas pertimbangan ekonomi semata.

Makna Tumpek Uye dengan demikian menjadi sangat relevan di tengah kehidupan modern. Hari suci ini mengajarkan bahwa kemajuan ekonomi tidak harus menghilangkan nilai-nilai luhur. Melalui Tumpek Uye, masyarakat diingatkan untuk tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup, kelangsungan usaha, dan tanggung jawab spiritual terhadap alam dan sesama makhluk hidup.

Di Bali, Tumpek Uye (sering juga disebut Tumpek Kandang atau Tumpek Wewalungan). Hari ini memiliki pijakan mitologis dan ajaran spiritual yang tidak sekadar ritual semata, tetapi berasal dari lontar dan tradisi keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu kitab suci yang sering dirujuk dalam menjelaskan Tumpek Uye adalah Lontar Sundarigama. Dalam lontar ini konon disebutkan bahwa Saniscara Kliwon Wuku Uye dipandang sebagai prakerti ning sarwa sato (waktu/masa yang ditetapkan bagi segala jenis binatang). Artinya, hari ini merupakan tonggak untuk melestarikan dan memuliakan hewan, baik yang dipelihara maupun yang hidup bebas di alam.

Makna lain yang dikutip dari tradisi tersebut adalah, “Ayuwa tan masih ring sarwa prani, apan prani ngaran prana” Jangan tidak sayang kepada binatang, karena binatang atau makhluk adalah kekuatan alam. Kalimat ini menegaskan bahwa hubungan manusia dengan hewan tidak hanya bersifat material, tetapi juga menyangkut keseimbangan kosmis dan kode etik hidup yang luhur.

Oleh karenanya, perayaan ini mencerminkan rasa syukur dan penghormatan bukan kepada hewan itu sendiri, tetapi kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Rare Angon. Ini adalah bentuk sradha (keyakinan dan pengabdian spiritual) yang menjembatani kehidupan manusia dan seluruh ciptaan Tuhan.

Menurut para pakar budaya dan agama Hindu, konsep Tumpek Uye juga dilandasi dengan pemahaman filosofi yang lebih luas bahwa manusia dilahirkan tidak eksis sendirian di dunia. Keberadaannya bergantung kepada makhluk lain termasuk tumbuhan dan hewan. Dalam pandangan ini, hewan bukan “objek” yang dikuasai melainkan bagian dari jaringan kehidupan yang saling menghidupi (BaliPost.Com., 14 Desember 2024).

Dalam struktur kosmis Hindu, tumbuhan disebut sebagai makhluk dengan elemen bayu (untuk pertumbuhan), hewan sebagai makhluk dengan bayu dan sabda (bergerak dan bersuara), sedangkan manusia memiliki bayu, sabda, dan idep (pikiran). Hubungan yang harmonis antar-unsur inilah yang diharapkan dalam aplikasi ajaran Tri Hita Karana, menjaga hubungan yang baik antara manusia, Tuhan, dan alam semesta.

Secara etika, Tumpek Uye mengajarkan compassion (welas asih) terhadap makhluk hidup, bukan sekadar menghadirkan ritual. Nilai itu juga tercermin dalam praktik seperti ngaturang wewalungan, di mana hewan yang dipersembahkan menjadi bagian dari perayaan upacara yadnya dengan pertimbangan spiritual, bukan komersial.

Dari sudut pandang pendidikan vokasi, terutama SMK dengan Prohram keahlian pertanian, peternakan dan perikanan, Tumpek Uye memiliki makna edukatif yang sangat kuat. Upacara ini menanamkan kesadaran bahwa hewan bukan sekadar objek produksi. Hewan adalah mitra kerja yang menopang kehidupan dan ekonomi masyarakat. Nilai penghormatan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kesejahteraan hewan selaras dengan tujuan pendidikan vokasi dalam menyiapkan tenaga terampil di bidang pertanian, peternakan. dan perikanan. Mereka diharapkan yang tidak hanya kompeten secara teknis akademis, tetapi juga beretika dan berkarakter.

Melalui pemaknaan Tumpek Uye inilah peserta didik vokasi diajak memahami bahwa praktik usaha yang baik harus seimbang antara produktivitas, keberlanjutan, dan nilai kemanusiaan. Kearifan lokal ini menjadi pembelajaran kontekstual yang menguatkan sikap profesional, etos kerja, dan rasa welas-asih dalam bekerja. Dengan demikian, Tumpek Uye bukan hanya tradisi keagamaan, tetapi juga ruang pendidikan karakter yang relevan dalam membentuk lulusan vokasi yang terampil, bertanggung jawab, dan berakar pada budaya Bali.

Menurut beberapa sumber keagamaan, perayaan Tumpek Uye tidak berarti “menyembah hewan”. Umat Hindu lebih mengekspresikan hubungan antara manusia dan hewan peliharaan (ubuh-ubuhan) sebagai ciptaan Tuhan yang saling membutuhkan tanggung jawab moral manusia terhadap kesejahteraan makhluk lain (Bimashindu.Kemenag.go.id., 22 Juli 2025).

Lebih dari sekadar ritual, Tumpek Uye merupakan pengingat etis bahwa keharmonisan hidup hanya dapat terwujud apabila manusia mampu memperlakukan alam dan satwa dengan rasa hormat, welas asih, dan tanggung jawab. Inilah esensi Tumpek Uye sebagai perayaan spiritual sekaligus cermin kearifan lokal Bali yang tetap relevan sepanjang zaman. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hindu Balitumpek uye
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

0411 | Cerpen Yuditeha

Next Post

Tribute 70 Tahun Kadek Suardana, Mengenang Empat Dekade Kreativitas Teater Bali: “Sing Melah Sing Masolah”

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Tribute 70 Tahun Kadek Suardana, Mengenang Empat Dekade Kreativitas Teater Bali: “Sing Melah Sing Masolah”

Tribute 70 Tahun Kadek Suardana, Mengenang Empat Dekade Kreativitas Teater Bali: “Sing Melah Sing Masolah”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co