24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumpek Uye: Menguatkan Harmoni dan Kearifan Lokal

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
February 7, 2026
in Esai
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

I Wayan Yudana

Tumpek Uye merupakan salah satu hari suci dalam kalender Bali yang diperingati setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Uye. Hari suci ini memiliki makna yang sangat penting karena menjadi momentum bagi umat Hindu di Bali untuk menghormati, memuliakan, dan mensyukuri keberadaan hewan atau ubuh-ubuhan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Dalam kepercayaan Hindu (Bali), Tumpek Uye juga dikenal sebagai hari pemujaan kepada Sang Hyang Pasupati. Pasupati dikenal sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berperan sebagai penggembala segala makhluk hidup, khususnya binatang. Dalam konteks Tumpek Uye, Pasupati sering disebut dengan gelar Rare Angon,yang berarti “penggembala yang agung” Melalui perayaan Tumpek Uye, manusia diingatkan bahwa hewan bukan sekadar objek pemanfaatan, melainkan sesama ciptaan Tuhan yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam.

Bagi masyarakat Hindu, pemaknaan Tumpek Uye bukanlah sebatas ungkapan rasa syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena telah dianugerahi hewan ternak atau binatang peliharaan (ubuh-ubuhan). Hewan-hewan tersebut juga memiliki peran penting sebagai piranti sembah bakti dalam pelaksanaan berbagai upacara yadnya. Dalam konteks ini, hewan ditempatkan secara sakral sebagai bagian dari laku spiritual umat Hindu.

Di sisi lain, hewan ternak juga menjadi penyangga kehidupan ekonomi dan sumber penghidupan bagi masyarakat. Beternak tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas tradisional, tetapi juga berkembang menjadi bidang usaha dan bisnis yang bernilai ekonomi tinggi. Namun demikian, masyarakat Hindu Bali mampu menyelaraskan dimensi ekonomi dan spiritual tersebut secara harmonis.

Meskipun dalam kehidupan modern hewan ternak telah menjadi komoditas komersial, keyakinan dan nilai-nilai spiritual tetap dijaga. Ketika ada upacara yadnya, baik di lingkungan keluarga maupun adat yang lebih luas, masyarakat tetap berpegang pada tradisi ngaturang wewalungan sebagai bentuk bakti dan pengabdian. Bahkan tidak jarang, hewan ternak dipersembahkan (kaaturang) dengan penuh keikhlasan tanpa menuntut imbalan, meskipun hewan tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Kalaupun dalam praktiknya dilakukan pembayaran, biasanya berlangsung tanpa tawar-menawar. Semua dilandasi oleh keikhlasan dan rasa bakti-asih, karena hewan tersebut digunakan sebagai perlengkapan upakara yadnya. Nilai ini menunjukkan bahwa dalam budaya Bali, kepentingan spiritual dan solidaritas sosial sering ditempatkan di atas pertimbangan ekonomi semata.

Makna Tumpek Uye dengan demikian menjadi sangat relevan di tengah kehidupan modern. Hari suci ini mengajarkan bahwa kemajuan ekonomi tidak harus menghilangkan nilai-nilai luhur. Melalui Tumpek Uye, masyarakat diingatkan untuk tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup, kelangsungan usaha, dan tanggung jawab spiritual terhadap alam dan sesama makhluk hidup.

Di Bali, Tumpek Uye (sering juga disebut Tumpek Kandang atau Tumpek Wewalungan). Hari ini memiliki pijakan mitologis dan ajaran spiritual yang tidak sekadar ritual semata, tetapi berasal dari lontar dan tradisi keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu kitab suci yang sering dirujuk dalam menjelaskan Tumpek Uye adalah Lontar Sundarigama. Dalam lontar ini konon disebutkan bahwa Saniscara Kliwon Wuku Uye dipandang sebagai prakerti ning sarwa sato (waktu/masa yang ditetapkan bagi segala jenis binatang). Artinya, hari ini merupakan tonggak untuk melestarikan dan memuliakan hewan, baik yang dipelihara maupun yang hidup bebas di alam.

Makna lain yang dikutip dari tradisi tersebut adalah, “Ayuwa tan masih ring sarwa prani, apan prani ngaran prana” Jangan tidak sayang kepada binatang, karena binatang atau makhluk adalah kekuatan alam. Kalimat ini menegaskan bahwa hubungan manusia dengan hewan tidak hanya bersifat material, tetapi juga menyangkut keseimbangan kosmis dan kode etik hidup yang luhur.

Oleh karenanya, perayaan ini mencerminkan rasa syukur dan penghormatan bukan kepada hewan itu sendiri, tetapi kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Rare Angon. Ini adalah bentuk sradha (keyakinan dan pengabdian spiritual) yang menjembatani kehidupan manusia dan seluruh ciptaan Tuhan.

Menurut para pakar budaya dan agama Hindu, konsep Tumpek Uye juga dilandasi dengan pemahaman filosofi yang lebih luas bahwa manusia dilahirkan tidak eksis sendirian di dunia. Keberadaannya bergantung kepada makhluk lain termasuk tumbuhan dan hewan. Dalam pandangan ini, hewan bukan “objek” yang dikuasai melainkan bagian dari jaringan kehidupan yang saling menghidupi (BaliPost.Com., 14 Desember 2024).

Dalam struktur kosmis Hindu, tumbuhan disebut sebagai makhluk dengan elemen bayu (untuk pertumbuhan), hewan sebagai makhluk dengan bayu dan sabda (bergerak dan bersuara), sedangkan manusia memiliki bayu, sabda, dan idep (pikiran). Hubungan yang harmonis antar-unsur inilah yang diharapkan dalam aplikasi ajaran Tri Hita Karana, menjaga hubungan yang baik antara manusia, Tuhan, dan alam semesta.

Secara etika, Tumpek Uye mengajarkan compassion (welas asih) terhadap makhluk hidup, bukan sekadar menghadirkan ritual. Nilai itu juga tercermin dalam praktik seperti ngaturang wewalungan, di mana hewan yang dipersembahkan menjadi bagian dari perayaan upacara yadnya dengan pertimbangan spiritual, bukan komersial.

Dari sudut pandang pendidikan vokasi, terutama SMK dengan Prohram keahlian pertanian, peternakan dan perikanan, Tumpek Uye memiliki makna edukatif yang sangat kuat. Upacara ini menanamkan kesadaran bahwa hewan bukan sekadar objek produksi. Hewan adalah mitra kerja yang menopang kehidupan dan ekonomi masyarakat. Nilai penghormatan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kesejahteraan hewan selaras dengan tujuan pendidikan vokasi dalam menyiapkan tenaga terampil di bidang pertanian, peternakan. dan perikanan. Mereka diharapkan yang tidak hanya kompeten secara teknis akademis, tetapi juga beretika dan berkarakter.

Melalui pemaknaan Tumpek Uye inilah peserta didik vokasi diajak memahami bahwa praktik usaha yang baik harus seimbang antara produktivitas, keberlanjutan, dan nilai kemanusiaan. Kearifan lokal ini menjadi pembelajaran kontekstual yang menguatkan sikap profesional, etos kerja, dan rasa welas-asih dalam bekerja. Dengan demikian, Tumpek Uye bukan hanya tradisi keagamaan, tetapi juga ruang pendidikan karakter yang relevan dalam membentuk lulusan vokasi yang terampil, bertanggung jawab, dan berakar pada budaya Bali.

Menurut beberapa sumber keagamaan, perayaan Tumpek Uye tidak berarti “menyembah hewan”. Umat Hindu lebih mengekspresikan hubungan antara manusia dan hewan peliharaan (ubuh-ubuhan) sebagai ciptaan Tuhan yang saling membutuhkan tanggung jawab moral manusia terhadap kesejahteraan makhluk lain (Bimashindu.Kemenag.go.id., 22 Juli 2025).

Lebih dari sekadar ritual, Tumpek Uye merupakan pengingat etis bahwa keharmonisan hidup hanya dapat terwujud apabila manusia mampu memperlakukan alam dan satwa dengan rasa hormat, welas asih, dan tanggung jawab. Inilah esensi Tumpek Uye sebagai perayaan spiritual sekaligus cermin kearifan lokal Bali yang tetap relevan sepanjang zaman. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hindu Balitumpek uye
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

0411 | Cerpen Yuditeha

Next Post

Tribute 70 Tahun Kadek Suardana, Mengenang Empat Dekade Kreativitas Teater Bali: “Sing Melah Sing Masolah”

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Tribute 70 Tahun Kadek Suardana, Mengenang Empat Dekade Kreativitas Teater Bali: “Sing Melah Sing Masolah”

Tribute 70 Tahun Kadek Suardana, Mengenang Empat Dekade Kreativitas Teater Bali: “Sing Melah Sing Masolah”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co