2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumpek Uye: Menguatkan Harmoni dan Kearifan Lokal

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
February 7, 2026
in Esai
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

I Wayan Yudana

Tumpek Uye merupakan salah satu hari suci dalam kalender Bali yang diperingati setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Uye. Hari suci ini memiliki makna yang sangat penting karena menjadi momentum bagi umat Hindu di Bali untuk menghormati, memuliakan, dan mensyukuri keberadaan hewan atau ubuh-ubuhan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Dalam kepercayaan Hindu (Bali), Tumpek Uye juga dikenal sebagai hari pemujaan kepada Sang Hyang Pasupati. Pasupati dikenal sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berperan sebagai penggembala segala makhluk hidup, khususnya binatang. Dalam konteks Tumpek Uye, Pasupati sering disebut dengan gelar Rare Angon,yang berarti “penggembala yang agung” Melalui perayaan Tumpek Uye, manusia diingatkan bahwa hewan bukan sekadar objek pemanfaatan, melainkan sesama ciptaan Tuhan yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam.

Bagi masyarakat Hindu, pemaknaan Tumpek Uye bukanlah sebatas ungkapan rasa syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena telah dianugerahi hewan ternak atau binatang peliharaan (ubuh-ubuhan). Hewan-hewan tersebut juga memiliki peran penting sebagai piranti sembah bakti dalam pelaksanaan berbagai upacara yadnya. Dalam konteks ini, hewan ditempatkan secara sakral sebagai bagian dari laku spiritual umat Hindu.

Di sisi lain, hewan ternak juga menjadi penyangga kehidupan ekonomi dan sumber penghidupan bagi masyarakat. Beternak tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas tradisional, tetapi juga berkembang menjadi bidang usaha dan bisnis yang bernilai ekonomi tinggi. Namun demikian, masyarakat Hindu Bali mampu menyelaraskan dimensi ekonomi dan spiritual tersebut secara harmonis.

Meskipun dalam kehidupan modern hewan ternak telah menjadi komoditas komersial, keyakinan dan nilai-nilai spiritual tetap dijaga. Ketika ada upacara yadnya, baik di lingkungan keluarga maupun adat yang lebih luas, masyarakat tetap berpegang pada tradisi ngaturang wewalungan sebagai bentuk bakti dan pengabdian. Bahkan tidak jarang, hewan ternak dipersembahkan (kaaturang) dengan penuh keikhlasan tanpa menuntut imbalan, meskipun hewan tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Kalaupun dalam praktiknya dilakukan pembayaran, biasanya berlangsung tanpa tawar-menawar. Semua dilandasi oleh keikhlasan dan rasa bakti-asih, karena hewan tersebut digunakan sebagai perlengkapan upakara yadnya. Nilai ini menunjukkan bahwa dalam budaya Bali, kepentingan spiritual dan solidaritas sosial sering ditempatkan di atas pertimbangan ekonomi semata.

Makna Tumpek Uye dengan demikian menjadi sangat relevan di tengah kehidupan modern. Hari suci ini mengajarkan bahwa kemajuan ekonomi tidak harus menghilangkan nilai-nilai luhur. Melalui Tumpek Uye, masyarakat diingatkan untuk tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup, kelangsungan usaha, dan tanggung jawab spiritual terhadap alam dan sesama makhluk hidup.

Di Bali, Tumpek Uye (sering juga disebut Tumpek Kandang atau Tumpek Wewalungan). Hari ini memiliki pijakan mitologis dan ajaran spiritual yang tidak sekadar ritual semata, tetapi berasal dari lontar dan tradisi keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu kitab suci yang sering dirujuk dalam menjelaskan Tumpek Uye adalah Lontar Sundarigama. Dalam lontar ini konon disebutkan bahwa Saniscara Kliwon Wuku Uye dipandang sebagai prakerti ning sarwa sato (waktu/masa yang ditetapkan bagi segala jenis binatang). Artinya, hari ini merupakan tonggak untuk melestarikan dan memuliakan hewan, baik yang dipelihara maupun yang hidup bebas di alam.

Makna lain yang dikutip dari tradisi tersebut adalah, “Ayuwa tan masih ring sarwa prani, apan prani ngaran prana” Jangan tidak sayang kepada binatang, karena binatang atau makhluk adalah kekuatan alam. Kalimat ini menegaskan bahwa hubungan manusia dengan hewan tidak hanya bersifat material, tetapi juga menyangkut keseimbangan kosmis dan kode etik hidup yang luhur.

Oleh karenanya, perayaan ini mencerminkan rasa syukur dan penghormatan bukan kepada hewan itu sendiri, tetapi kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Rare Angon. Ini adalah bentuk sradha (keyakinan dan pengabdian spiritual) yang menjembatani kehidupan manusia dan seluruh ciptaan Tuhan.

Menurut para pakar budaya dan agama Hindu, konsep Tumpek Uye juga dilandasi dengan pemahaman filosofi yang lebih luas bahwa manusia dilahirkan tidak eksis sendirian di dunia. Keberadaannya bergantung kepada makhluk lain termasuk tumbuhan dan hewan. Dalam pandangan ini, hewan bukan “objek” yang dikuasai melainkan bagian dari jaringan kehidupan yang saling menghidupi (BaliPost.Com., 14 Desember 2024).

Dalam struktur kosmis Hindu, tumbuhan disebut sebagai makhluk dengan elemen bayu (untuk pertumbuhan), hewan sebagai makhluk dengan bayu dan sabda (bergerak dan bersuara), sedangkan manusia memiliki bayu, sabda, dan idep (pikiran). Hubungan yang harmonis antar-unsur inilah yang diharapkan dalam aplikasi ajaran Tri Hita Karana, menjaga hubungan yang baik antara manusia, Tuhan, dan alam semesta.

Secara etika, Tumpek Uye mengajarkan compassion (welas asih) terhadap makhluk hidup, bukan sekadar menghadirkan ritual. Nilai itu juga tercermin dalam praktik seperti ngaturang wewalungan, di mana hewan yang dipersembahkan menjadi bagian dari perayaan upacara yadnya dengan pertimbangan spiritual, bukan komersial.

Dari sudut pandang pendidikan vokasi, terutama SMK dengan Prohram keahlian pertanian, peternakan dan perikanan, Tumpek Uye memiliki makna edukatif yang sangat kuat. Upacara ini menanamkan kesadaran bahwa hewan bukan sekadar objek produksi. Hewan adalah mitra kerja yang menopang kehidupan dan ekonomi masyarakat. Nilai penghormatan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kesejahteraan hewan selaras dengan tujuan pendidikan vokasi dalam menyiapkan tenaga terampil di bidang pertanian, peternakan. dan perikanan. Mereka diharapkan yang tidak hanya kompeten secara teknis akademis, tetapi juga beretika dan berkarakter.

Melalui pemaknaan Tumpek Uye inilah peserta didik vokasi diajak memahami bahwa praktik usaha yang baik harus seimbang antara produktivitas, keberlanjutan, dan nilai kemanusiaan. Kearifan lokal ini menjadi pembelajaran kontekstual yang menguatkan sikap profesional, etos kerja, dan rasa welas-asih dalam bekerja. Dengan demikian, Tumpek Uye bukan hanya tradisi keagamaan, tetapi juga ruang pendidikan karakter yang relevan dalam membentuk lulusan vokasi yang terampil, bertanggung jawab, dan berakar pada budaya Bali.

Menurut beberapa sumber keagamaan, perayaan Tumpek Uye tidak berarti “menyembah hewan”. Umat Hindu lebih mengekspresikan hubungan antara manusia dan hewan peliharaan (ubuh-ubuhan) sebagai ciptaan Tuhan yang saling membutuhkan tanggung jawab moral manusia terhadap kesejahteraan makhluk lain (Bimashindu.Kemenag.go.id., 22 Juli 2025).

Lebih dari sekadar ritual, Tumpek Uye merupakan pengingat etis bahwa keharmonisan hidup hanya dapat terwujud apabila manusia mampu memperlakukan alam dan satwa dengan rasa hormat, welas asih, dan tanggung jawab. Inilah esensi Tumpek Uye sebagai perayaan spiritual sekaligus cermin kearifan lokal Bali yang tetap relevan sepanjang zaman. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hindu Balitumpek uye
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

0411 | Cerpen Yuditeha

Next Post

Tribute 70 Tahun Kadek Suardana, Mengenang Empat Dekade Kreativitas Teater Bali: “Sing Melah Sing Masolah”

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Tribute 70 Tahun Kadek Suardana, Mengenang Empat Dekade Kreativitas Teater Bali: “Sing Melah Sing Masolah”

Tribute 70 Tahun Kadek Suardana, Mengenang Empat Dekade Kreativitas Teater Bali: “Sing Melah Sing Masolah”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co