23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lontar Buda Kecapi dalam Pandangan Penulis, Sastrawan, dan Seniman

tatkala by tatkala
January 31, 2026
in Khas
Lontar Buda Kecapi dalam Pandangan Penulis, Sastrawan, dan Seniman

Salah satu seminar dalam festival sastra di Singaraja

LONTAR Buda Kecapi—atau dalam beberapa tulisan disebut Usada Budha Kecapi—adalah salah satu naskah lontar tradisional Bali yang memuat pengetahuan tentang pengobatan tradisional, etika praktisi (usadha), dan hubungan manusia dengan alam.

Meski tidak sepopuler kakawin besar atau babad sejarah, lontar ini menarik banyak perhatian penulis, sastrawan, dan cendekiawan kontemporer karena lapisan filosofis, etis, dan ekologis yang terkandung di dalamnya. Pandangan mereka menunjukkan bahwa Buda Kecapi lebih dari sekadar teks pengobatan—ia adalah sumber wawasan hidup yang kaya dan relevan bagi pembaca masa kini.

Pandangan-pandangan penulis dan sastrawan tentang Buda Kecapi yang dikumpulkan dalam acara Festival Sastra di Singaraja atau Singaraja Literary Festival, Juli 2025, menyebutkan bahwa Buda Kecapi bukan semata teks, melainkan semacam simpul yang mengikat sastra, spiritualitas, dan keseharian.

Seperti Royyan Julian, misalnya. Sastrawan muda asal Pulau Garam itu pernah membahas Usada Budha Kecapi secara naratif dan kontekstual dalam esainya Darma Kosmik ‘Usada Budha Kecapi’. Ia berpendapat bahwa naskah Buda Kecapi memasukkan ajaran tradisional dalam bentuk cerita dan puisi sehingga mudah diingat dan diwariskan secara lisan maupun tertulis.

Menurut Royyan, struktur naratif Buda Kecapi menggabungkan dimensi spiritual dan material pengobatan, di mana ritual dan mantra tidak terpisah dari praktik herbal—hal yang mencerminkan pandangan tradisional tentang keterkaitan manusia dengan alam dan kekuatan ilahi. Dalam kisah teks itu sendiri, tokoh seperti Buda Kecapi menjadi guru yang mengajarkan kepada murid-muridnya nilai pengetahuan komprehensif tentang penyembuhan dan kehidupan sehari-hari.

Penekanan Royyan pada kombinasi narasi sederhana dan dimensi spiritual-material menjadikan Buda Kecapi bukan hanya teks pengobatan, tetapi juga karya dengan nilai estetika tradisional yang kuat.

Sementara itu, berangkat dari sudut pandang ekologis, dalam esainya yang berjudul Buda Kecapi Sastrasanga: Membaca Hari, Harmoni Bumi, Jero Penyarikan Duuran Batur (I Ketut Eriadi Ariana), akademisi sekaligus tokoh muda agama Hindu di Batur, melihat lontar ini sebagai wacana yang melampaui batas teks usadha semata. Menurutnya, Buda Kecapi tidak sekadar panduan pengobatan, tetapi juga refleksi filosofis tentang hakikat manusia sebagai bagian dari alam yang tunduk pada hukum kosmik (rta).

Bagi Jero Penyarikan, keterikatan manusia dengan alam dalam Buda Kecapi menawarkan kritik terhadap pola hidup modern yang sering kali mengabaikan siklus ekologi dan menyebabkan kerusakan lingkungan. Dengan demikian, teks ini, menurutnya, memiliki relevansi kontemporer dalam menghadapi perubahan iklim dan ketidakseimbangan ekologis.

Putu Eka Guna Yasa, pengkaji lontar dan akademisi, dalam esainya Śāsana Balian Bali dalam Lontar Buddha Kĕcapi menyoroti dimensi etika dan spiritual teks ini, terutama terkait praktik dunia pengobatan tradisional Bali. Bagi Guna, Buda Kecapi menampilkan seorang figur ideal (Buddha Kecapi) yang bukan hanya mahir secara teknis dalam pengobatan, tetapi juga menekankan etika guru-murid dan profesionalisme pengusadha (pengobat).

Guna menelaah bagaimana lontar ini mengajarkan disiplin moral dalam praktik pengobatan, termasuk kehati-hatian dalam diagnosis dan perlakuan terhadap pasien, serta prinsip keseimbangan antara imbalan materi dan komitmen terhadap keselamatan manusia. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Buda Kecapi bukan sekadar teks ritual, tetapi juga teks yang mengejawantahkan tanggung jawab sosial dan moral dalam kehidupan nyata.

Pandangan Jero Penyarikan dan Guna Yasa menunjukkan dimensi yang berbeda dalam membaca Buda Kecapi—yang satu lebih filosofis dan ekologis, yang lain lebih etis dan spiritual. Namun, keduanya sama-sama menempatkan lontar ini sebagai lebih dari sekadar dokumen kuno. Bagi kedua penulis, teks ini adalah jendela ke dalam cara hidup yang lebih seimbang antara manusia, alam, dan semesta. Bahkan, sosok seperti Dee Lestari, sastrawan kenamaan Tanah Air, menautkan Buda Kecapi dengan gagasan ekologis dan spiritual yang lebih luas, yakni bahwa manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari alam, sebuah tema yang juga tampak dalam karya-karyanya seperti Partikel. Pandangan ini membuka ruang bagi interpretasi yang lintas batas antara teks kuno dan sastra modern.

Dalam kajian yang lebih luas, Ratih Kumala, Oka Rusmini, dan Chynta Hariadi, yang berbicara dalam sesi Narasi Perempuan yang Menyembuhkan, banyak mengaitkan gagasan penyembuhan yang terkandung dalam lontar dengan pengalaman perempuan dalam narasi kontemporer.

Selain itu, dalam forum Puisi yang Mengobati Diri, para penulis seperti Henry Manampiring, Putu Fajar Arcana, dan Shinta Febriany juga mengaitkan konsep penyembuhan dalam Buda Kecapi dengan kehidupan manusia hari ini, tapi lebih menonjolkan bagaimana bahasa dan ritme puisi dapat menjadi media reflektif terhadap luka batin dan proses pemulihan jiwa.

Sedangkan menurut Inderjeet Mani (novelis kelahiran India), Menka Shivdasani (penyair, editor, penerjemah, dan peneliti), dan Joseph Callins, gagasan penyembuhan dalam Buda Kecapi dapat dibaca sebagai bagian dari wacana global tentang hubungan antara budaya lokal dan kebutuhan spiritual manusia modern.

Tak sampai di situ, seniman seperti Ni Nyoman Sani, Putu Fajar Arcana, dan I Nyoman ‘Polenk’ Rediasa bahkan menggali nilai estetis lontar tersebut melalui medium visual. Meskipun bukan dalam bentuk tulisan, tetapi tetap memengaruhi cara pandang tentang narasi Buda Kecapi sebagai inspirasi kreatif.

Keragaman pandangan dari para penulis, sastrawan, dan seniman di atas menunjukkan bahwa Buda Kecapi tidak hanya dilihat sebagai dokumen kuno semata, tetapi sebagai teks yang relevan dalam diskursus kontemporer—baik dalam kajian sastra, pengobatan, etika kehidupan, maupun refleksi ekologis. Melalui pendapat-pendapat ini, teks lontar menjadi medium dialog antara masa lalu dan masa kini, antara tradisi dan modernitas.

Tampaknya, hampir semua pandangan itu bertemu pada satu titik: Buda Kecapi adalah contoh bagaimana sastra bisa menjadi laku. Ia tidak berhenti sebagai kata-kata di daun lontar, tetapi merembes ke cara orang memandang hidup, menata diri, dan memahami waktu. Dalam pengertian ini, penulis, sastrawan, dan seniman yang membicarakannya sebenarnya sedang membicarakan sesuatu yang lebih luas: tentang kemungkinan sastra untuk tetap bersahaja, tetap berguna, dan tetap bernapas di tengah dunia yang semakin banal.

Sampai di sini, Buda Kecapi yang dibahas dalam sesi-si seminar di festival yang didukung Kementerian Kebudayaan melalaui Dana Indonesiana itu mungkin tidak akan pernah menjadi teks yang ramai diperdebatkan di seminar-seminar besar. Tetapi justru di situlah posisinya menjadi penting. Ia mengingatkan bahwa dalam sejarah sastra, selalu ada teks-teks yang bekerja di pinggir, yang tidak mengejar pusat perhatian, namun diam-diam menjaga api kecil kebudayaan agar tidak padam. Dan bagi sejumlah penulis, sastrawan, dan seniman, api kecil itulah yang sering kali paling setia menerangi jalan. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menghidupkan Teks Lontar dalam Teater, Menghidupkan Teater dari Teks Lontar

Next Post

Festival Sastra di Singaraja yang Mengaktivasi Cagar Budaya Gedong Kirtya

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Festival Sastra di Singaraja yang Mengaktivasi Cagar Budaya Gedong Kirtya

Festival Sastra di Singaraja yang Mengaktivasi Cagar Budaya Gedong Kirtya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co