4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lontar Buda Kecapi dalam Pandangan Penulis, Sastrawan, dan Seniman

tatkala by tatkala
January 31, 2026
in Khas
Lontar Buda Kecapi dalam Pandangan Penulis, Sastrawan, dan Seniman

Salah satu seminar dalam festival sastra di Singaraja

LONTAR Buda Kecapi—atau dalam beberapa tulisan disebut Usada Budha Kecapi—adalah salah satu naskah lontar tradisional Bali yang memuat pengetahuan tentang pengobatan tradisional, etika praktisi (usadha), dan hubungan manusia dengan alam.

Meski tidak sepopuler kakawin besar atau babad sejarah, lontar ini menarik banyak perhatian penulis, sastrawan, dan cendekiawan kontemporer karena lapisan filosofis, etis, dan ekologis yang terkandung di dalamnya. Pandangan mereka menunjukkan bahwa Buda Kecapi lebih dari sekadar teks pengobatan—ia adalah sumber wawasan hidup yang kaya dan relevan bagi pembaca masa kini.

Pandangan-pandangan penulis dan sastrawan tentang Buda Kecapi yang dikumpulkan dalam acara Festival Sastra di Singaraja atau Singaraja Literary Festival, Juli 2025, menyebutkan bahwa Buda Kecapi bukan semata teks, melainkan semacam simpul yang mengikat sastra, spiritualitas, dan keseharian.

Seperti Royyan Julian, misalnya. Sastrawan muda asal Pulau Garam itu pernah membahas Usada Budha Kecapi secara naratif dan kontekstual dalam esainya Darma Kosmik ‘Usada Budha Kecapi’. Ia berpendapat bahwa naskah Buda Kecapi memasukkan ajaran tradisional dalam bentuk cerita dan puisi sehingga mudah diingat dan diwariskan secara lisan maupun tertulis.

Menurut Royyan, struktur naratif Buda Kecapi menggabungkan dimensi spiritual dan material pengobatan, di mana ritual dan mantra tidak terpisah dari praktik herbal—hal yang mencerminkan pandangan tradisional tentang keterkaitan manusia dengan alam dan kekuatan ilahi. Dalam kisah teks itu sendiri, tokoh seperti Buda Kecapi menjadi guru yang mengajarkan kepada murid-muridnya nilai pengetahuan komprehensif tentang penyembuhan dan kehidupan sehari-hari.

Penekanan Royyan pada kombinasi narasi sederhana dan dimensi spiritual-material menjadikan Buda Kecapi bukan hanya teks pengobatan, tetapi juga karya dengan nilai estetika tradisional yang kuat.

Sementara itu, berangkat dari sudut pandang ekologis, dalam esainya yang berjudul Buda Kecapi Sastrasanga: Membaca Hari, Harmoni Bumi, Jero Penyarikan Duuran Batur (I Ketut Eriadi Ariana), akademisi sekaligus tokoh muda agama Hindu di Batur, melihat lontar ini sebagai wacana yang melampaui batas teks usadha semata. Menurutnya, Buda Kecapi tidak sekadar panduan pengobatan, tetapi juga refleksi filosofis tentang hakikat manusia sebagai bagian dari alam yang tunduk pada hukum kosmik (rta).

Bagi Jero Penyarikan, keterikatan manusia dengan alam dalam Buda Kecapi menawarkan kritik terhadap pola hidup modern yang sering kali mengabaikan siklus ekologi dan menyebabkan kerusakan lingkungan. Dengan demikian, teks ini, menurutnya, memiliki relevansi kontemporer dalam menghadapi perubahan iklim dan ketidakseimbangan ekologis.

Putu Eka Guna Yasa, pengkaji lontar dan akademisi, dalam esainya Śāsana Balian Bali dalam Lontar Buddha Kĕcapi menyoroti dimensi etika dan spiritual teks ini, terutama terkait praktik dunia pengobatan tradisional Bali. Bagi Guna, Buda Kecapi menampilkan seorang figur ideal (Buddha Kecapi) yang bukan hanya mahir secara teknis dalam pengobatan, tetapi juga menekankan etika guru-murid dan profesionalisme pengusadha (pengobat).

Guna menelaah bagaimana lontar ini mengajarkan disiplin moral dalam praktik pengobatan, termasuk kehati-hatian dalam diagnosis dan perlakuan terhadap pasien, serta prinsip keseimbangan antara imbalan materi dan komitmen terhadap keselamatan manusia. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Buda Kecapi bukan sekadar teks ritual, tetapi juga teks yang mengejawantahkan tanggung jawab sosial dan moral dalam kehidupan nyata.

Pandangan Jero Penyarikan dan Guna Yasa menunjukkan dimensi yang berbeda dalam membaca Buda Kecapi—yang satu lebih filosofis dan ekologis, yang lain lebih etis dan spiritual. Namun, keduanya sama-sama menempatkan lontar ini sebagai lebih dari sekadar dokumen kuno. Bagi kedua penulis, teks ini adalah jendela ke dalam cara hidup yang lebih seimbang antara manusia, alam, dan semesta. Bahkan, sosok seperti Dee Lestari, sastrawan kenamaan Tanah Air, menautkan Buda Kecapi dengan gagasan ekologis dan spiritual yang lebih luas, yakni bahwa manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari alam, sebuah tema yang juga tampak dalam karya-karyanya seperti Partikel. Pandangan ini membuka ruang bagi interpretasi yang lintas batas antara teks kuno dan sastra modern.

Dalam kajian yang lebih luas, Ratih Kumala, Oka Rusmini, dan Chynta Hariadi, yang berbicara dalam sesi Narasi Perempuan yang Menyembuhkan, banyak mengaitkan gagasan penyembuhan yang terkandung dalam lontar dengan pengalaman perempuan dalam narasi kontemporer.

Selain itu, dalam forum Puisi yang Mengobati Diri, para penulis seperti Henry Manampiring, Putu Fajar Arcana, dan Shinta Febriany juga mengaitkan konsep penyembuhan dalam Buda Kecapi dengan kehidupan manusia hari ini, tapi lebih menonjolkan bagaimana bahasa dan ritme puisi dapat menjadi media reflektif terhadap luka batin dan proses pemulihan jiwa.

Sedangkan menurut Inderjeet Mani (novelis kelahiran India), Menka Shivdasani (penyair, editor, penerjemah, dan peneliti), dan Joseph Callins, gagasan penyembuhan dalam Buda Kecapi dapat dibaca sebagai bagian dari wacana global tentang hubungan antara budaya lokal dan kebutuhan spiritual manusia modern.

Tak sampai di situ, seniman seperti Ni Nyoman Sani, Putu Fajar Arcana, dan I Nyoman ‘Polenk’ Rediasa bahkan menggali nilai estetis lontar tersebut melalui medium visual. Meskipun bukan dalam bentuk tulisan, tetapi tetap memengaruhi cara pandang tentang narasi Buda Kecapi sebagai inspirasi kreatif.

Keragaman pandangan dari para penulis, sastrawan, dan seniman di atas menunjukkan bahwa Buda Kecapi tidak hanya dilihat sebagai dokumen kuno semata, tetapi sebagai teks yang relevan dalam diskursus kontemporer—baik dalam kajian sastra, pengobatan, etika kehidupan, maupun refleksi ekologis. Melalui pendapat-pendapat ini, teks lontar menjadi medium dialog antara masa lalu dan masa kini, antara tradisi dan modernitas.

Tampaknya, hampir semua pandangan itu bertemu pada satu titik: Buda Kecapi adalah contoh bagaimana sastra bisa menjadi laku. Ia tidak berhenti sebagai kata-kata di daun lontar, tetapi merembes ke cara orang memandang hidup, menata diri, dan memahami waktu. Dalam pengertian ini, penulis, sastrawan, dan seniman yang membicarakannya sebenarnya sedang membicarakan sesuatu yang lebih luas: tentang kemungkinan sastra untuk tetap bersahaja, tetap berguna, dan tetap bernapas di tengah dunia yang semakin banal.

Sampai di sini, Buda Kecapi yang dibahas dalam sesi-si seminar di festival yang didukung Kementerian Kebudayaan melalaui Dana Indonesiana itu mungkin tidak akan pernah menjadi teks yang ramai diperdebatkan di seminar-seminar besar. Tetapi justru di situlah posisinya menjadi penting. Ia mengingatkan bahwa dalam sejarah sastra, selalu ada teks-teks yang bekerja di pinggir, yang tidak mengejar pusat perhatian, namun diam-diam menjaga api kecil kebudayaan agar tidak padam. Dan bagi sejumlah penulis, sastrawan, dan seniman, api kecil itulah yang sering kali paling setia menerangi jalan. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menghidupkan Teks Lontar dalam Teater, Menghidupkan Teater dari Teks Lontar

Next Post

Festival Sastra di Singaraja yang Mengaktivasi Cagar Budaya Gedong Kirtya

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Festival Sastra di Singaraja yang Mengaktivasi Cagar Budaya Gedong Kirtya

Festival Sastra di Singaraja yang Mengaktivasi Cagar Budaya Gedong Kirtya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co