26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lontar Buda Kecapi dalam Pandangan Penulis, Sastrawan, dan Seniman

tatkala by tatkala
January 31, 2026
in Khas
Lontar Buda Kecapi dalam Pandangan Penulis, Sastrawan, dan Seniman

Salah satu seminar dalam festival sastra di Singaraja

LONTAR Buda Kecapi—atau dalam beberapa tulisan disebut Usada Budha Kecapi—adalah salah satu naskah lontar tradisional Bali yang memuat pengetahuan tentang pengobatan tradisional, etika praktisi (usadha), dan hubungan manusia dengan alam.

Meski tidak sepopuler kakawin besar atau babad sejarah, lontar ini menarik banyak perhatian penulis, sastrawan, dan cendekiawan kontemporer karena lapisan filosofis, etis, dan ekologis yang terkandung di dalamnya. Pandangan mereka menunjukkan bahwa Buda Kecapi lebih dari sekadar teks pengobatan—ia adalah sumber wawasan hidup yang kaya dan relevan bagi pembaca masa kini.

Pandangan-pandangan penulis dan sastrawan tentang Buda Kecapi yang dikumpulkan dalam acara Festival Sastra di Singaraja atau Singaraja Literary Festival, Juli 2025, menyebutkan bahwa Buda Kecapi bukan semata teks, melainkan semacam simpul yang mengikat sastra, spiritualitas, dan keseharian.

Seperti Royyan Julian, misalnya. Sastrawan muda asal Pulau Garam itu pernah membahas Usada Budha Kecapi secara naratif dan kontekstual dalam esainya Darma Kosmik ‘Usada Budha Kecapi’. Ia berpendapat bahwa naskah Buda Kecapi memasukkan ajaran tradisional dalam bentuk cerita dan puisi sehingga mudah diingat dan diwariskan secara lisan maupun tertulis.

Menurut Royyan, struktur naratif Buda Kecapi menggabungkan dimensi spiritual dan material pengobatan, di mana ritual dan mantra tidak terpisah dari praktik herbal—hal yang mencerminkan pandangan tradisional tentang keterkaitan manusia dengan alam dan kekuatan ilahi. Dalam kisah teks itu sendiri, tokoh seperti Buda Kecapi menjadi guru yang mengajarkan kepada murid-muridnya nilai pengetahuan komprehensif tentang penyembuhan dan kehidupan sehari-hari.

Penekanan Royyan pada kombinasi narasi sederhana dan dimensi spiritual-material menjadikan Buda Kecapi bukan hanya teks pengobatan, tetapi juga karya dengan nilai estetika tradisional yang kuat.

Sementara itu, berangkat dari sudut pandang ekologis, dalam esainya yang berjudul Buda Kecapi Sastrasanga: Membaca Hari, Harmoni Bumi, Jero Penyarikan Duuran Batur (I Ketut Eriadi Ariana), akademisi sekaligus tokoh muda agama Hindu di Batur, melihat lontar ini sebagai wacana yang melampaui batas teks usadha semata. Menurutnya, Buda Kecapi tidak sekadar panduan pengobatan, tetapi juga refleksi filosofis tentang hakikat manusia sebagai bagian dari alam yang tunduk pada hukum kosmik (rta).

Bagi Jero Penyarikan, keterikatan manusia dengan alam dalam Buda Kecapi menawarkan kritik terhadap pola hidup modern yang sering kali mengabaikan siklus ekologi dan menyebabkan kerusakan lingkungan. Dengan demikian, teks ini, menurutnya, memiliki relevansi kontemporer dalam menghadapi perubahan iklim dan ketidakseimbangan ekologis.

Putu Eka Guna Yasa, pengkaji lontar dan akademisi, dalam esainya Śāsana Balian Bali dalam Lontar Buddha Kĕcapi menyoroti dimensi etika dan spiritual teks ini, terutama terkait praktik dunia pengobatan tradisional Bali. Bagi Guna, Buda Kecapi menampilkan seorang figur ideal (Buddha Kecapi) yang bukan hanya mahir secara teknis dalam pengobatan, tetapi juga menekankan etika guru-murid dan profesionalisme pengusadha (pengobat).

Guna menelaah bagaimana lontar ini mengajarkan disiplin moral dalam praktik pengobatan, termasuk kehati-hatian dalam diagnosis dan perlakuan terhadap pasien, serta prinsip keseimbangan antara imbalan materi dan komitmen terhadap keselamatan manusia. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Buda Kecapi bukan sekadar teks ritual, tetapi juga teks yang mengejawantahkan tanggung jawab sosial dan moral dalam kehidupan nyata.

Pandangan Jero Penyarikan dan Guna Yasa menunjukkan dimensi yang berbeda dalam membaca Buda Kecapi—yang satu lebih filosofis dan ekologis, yang lain lebih etis dan spiritual. Namun, keduanya sama-sama menempatkan lontar ini sebagai lebih dari sekadar dokumen kuno. Bagi kedua penulis, teks ini adalah jendela ke dalam cara hidup yang lebih seimbang antara manusia, alam, dan semesta. Bahkan, sosok seperti Dee Lestari, sastrawan kenamaan Tanah Air, menautkan Buda Kecapi dengan gagasan ekologis dan spiritual yang lebih luas, yakni bahwa manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari alam, sebuah tema yang juga tampak dalam karya-karyanya seperti Partikel. Pandangan ini membuka ruang bagi interpretasi yang lintas batas antara teks kuno dan sastra modern.

Dalam kajian yang lebih luas, Ratih Kumala, Oka Rusmini, dan Chynta Hariadi, yang berbicara dalam sesi Narasi Perempuan yang Menyembuhkan, banyak mengaitkan gagasan penyembuhan yang terkandung dalam lontar dengan pengalaman perempuan dalam narasi kontemporer.

Selain itu, dalam forum Puisi yang Mengobati Diri, para penulis seperti Henry Manampiring, Putu Fajar Arcana, dan Shinta Febriany juga mengaitkan konsep penyembuhan dalam Buda Kecapi dengan kehidupan manusia hari ini, tapi lebih menonjolkan bagaimana bahasa dan ritme puisi dapat menjadi media reflektif terhadap luka batin dan proses pemulihan jiwa.

Sedangkan menurut Inderjeet Mani (novelis kelahiran India), Menka Shivdasani (penyair, editor, penerjemah, dan peneliti), dan Joseph Callins, gagasan penyembuhan dalam Buda Kecapi dapat dibaca sebagai bagian dari wacana global tentang hubungan antara budaya lokal dan kebutuhan spiritual manusia modern.

Tak sampai di situ, seniman seperti Ni Nyoman Sani, Putu Fajar Arcana, dan I Nyoman ‘Polenk’ Rediasa bahkan menggali nilai estetis lontar tersebut melalui medium visual. Meskipun bukan dalam bentuk tulisan, tetapi tetap memengaruhi cara pandang tentang narasi Buda Kecapi sebagai inspirasi kreatif.

Keragaman pandangan dari para penulis, sastrawan, dan seniman di atas menunjukkan bahwa Buda Kecapi tidak hanya dilihat sebagai dokumen kuno semata, tetapi sebagai teks yang relevan dalam diskursus kontemporer—baik dalam kajian sastra, pengobatan, etika kehidupan, maupun refleksi ekologis. Melalui pendapat-pendapat ini, teks lontar menjadi medium dialog antara masa lalu dan masa kini, antara tradisi dan modernitas.

Tampaknya, hampir semua pandangan itu bertemu pada satu titik: Buda Kecapi adalah contoh bagaimana sastra bisa menjadi laku. Ia tidak berhenti sebagai kata-kata di daun lontar, tetapi merembes ke cara orang memandang hidup, menata diri, dan memahami waktu. Dalam pengertian ini, penulis, sastrawan, dan seniman yang membicarakannya sebenarnya sedang membicarakan sesuatu yang lebih luas: tentang kemungkinan sastra untuk tetap bersahaja, tetap berguna, dan tetap bernapas di tengah dunia yang semakin banal.

Sampai di sini, Buda Kecapi yang dibahas dalam sesi-si seminar di festival yang didukung Kementerian Kebudayaan melalaui Dana Indonesiana itu mungkin tidak akan pernah menjadi teks yang ramai diperdebatkan di seminar-seminar besar. Tetapi justru di situlah posisinya menjadi penting. Ia mengingatkan bahwa dalam sejarah sastra, selalu ada teks-teks yang bekerja di pinggir, yang tidak mengejar pusat perhatian, namun diam-diam menjaga api kecil kebudayaan agar tidak padam. Dan bagi sejumlah penulis, sastrawan, dan seniman, api kecil itulah yang sering kali paling setia menerangi jalan. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menghidupkan Teks Lontar dalam Teater, Menghidupkan Teater dari Teks Lontar

Next Post

Festival Sastra di Singaraja yang Mengaktivasi Cagar Budaya Gedong Kirtya

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails
Next Post
Festival Sastra di Singaraja yang Mengaktivasi Cagar Budaya Gedong Kirtya

Festival Sastra di Singaraja yang Mengaktivasi Cagar Budaya Gedong Kirtya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co