7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menghidupkan Teks Lontar dalam Teater, Menghidupkan Teater dari Teks Lontar

tatkala by tatkala
January 31, 2026
in Panggung
Menghidupkan Teks Lontar dalam Teater, Menghidupkan Teater dari Teks Lontar

Pementasan teater yang dialihwahanakan dari teks sastra dalam lontar

CAHAYA temaram menimpa sesosok yang duduk bersila sambil memegang sebuah lontar tua lalu merapal semacam matra purba, tubuhnya nyaris menyatu dengan lantai pertunjukan. Dalam kesunyian, suara dengung mengalun pelan—lebih seperti napas daripada musik. Dari situ pertunjukan Aguru Waktra dimulai, bukan dengan letupan narasi, melainkan dengan panggilan lembut yang mengajak penonton kembali mendengar sesuatu yang telah lama mereka abaikan: suara alam.

Karya ini ditulis dan disutradarai oleh I Putu Ardiyasa, seorang dalang dan akademisi di IAHN Mpu Kuturan Singaraja, yang dalam beberapa tahun terakhir konsisten menjembatani tradisi pewayangan Bali dengan praktik teater kontemporer. Aguru Waktra adalah salah satu upaya terpentingnya—sebuah pertunjukan yang berangkat dari tradisi pengobatan kuno (lontar pengusadhan), namun menjelma menjadi ruang renung tentang pengetahuan, spiritualitas, dan krisis ekologi hari ini.

Aguru Waktra merupakan proyek alih wahana teks lama (lontar) menjadi seni pertunjukan. Proyek ini dikerjakan dalam rangkaian Festival Sastra di Singaraja yang diinisiasi Yayasan Karya Buana Lestari dengan dukungan Kementerian Kebudayaan RI melalui Dana Indonesiana.

Aguru Waktra dipentaskan 27 Juli 2025 di Gedung Sasana Budaya itu terinspirasi dari Lontar Budha Kecapi. Karya ini menafsirkan kembali kisah Kalimosada dan Kalimosadi, dua murid setia Budha Kecapi—seorang pertapa dan tabib bijaksana.

Pementasan Aguru Waktra itu memang bagian dari upaya-upaya untuk menghidupkan teks lontar ke atas panggung. Secara keseluruhan festival ini mengambil napas sastra karena itulah penggerak kebudayaan di masa lampau yang menggerakkan masa kini dan nanti.

Festival sebagai sebuah jembatan penghubung untuk menghidupkan ingatan soal kehidupan di masa lalu sebagai sebuah cermin refleksi di masa kini

“Kami ingin mengalihwahanakan pemikiran di masa lalu yang tersimpan dalam manuskrip-manuskrip di Gedong Kirtya—perpustakaan manuskrip lontar di Bali dan mungkin di Indonesia—ke dalam bentuk media baru seperti teks pertunjukan, teater, film, dan karya sastra seperti novel, cerpen, maupun puisi,” kata Kadek Sonia Piscayanti, salah satu budayawan yang membidani lahirnya festival itu.

Sonia melanjutkan, hal itu dilakukan sebagai usaha “untuk mengajak generasi muda supaya lebih aware atau menyadari bahwa semua itu adalah kekayaan yang ditinggalkan oleh leluhur di masa lalu.”

Pementasan teater yang dialihwahanakan dari sastra dalam lontar

Melalui program alih wahana inilah, pikiran-pikiran di masa lalu itu dapat dihubungan dan dipertemukan dengan generasi hari ini. Kalau kita ingin tahu bagaimana orang zaman dulu merawat rambutnya, tubuhnya, misalnya, kita bisa membuat adegannya berdasarkan lontar.

Dari penyataannya tersebut, festival ini menghendaki pembacaan yang berpihak, yakni dengan menilik kembali pikiran atau sosok dari masa lalu yang “tak terlalu diperhatikan” dalam kehidupan intelektualisme Singaraja hari ini.

Lontar adalah ingatan yang ditulis dengan cara yang pelan. Ia menyimpan dunia yang lahir jauh sebelum kita mengenal listrik, mikrofon, dan panggung prosenium. Di dalamnya hidup mitologi, etika, silsilah, doa, hingga petunjuk-petunjuk hidup yang dulu dibaca dengan suara lirih atau dirapal dalam upacara. Ketika teks-teks itu hari ini ingin dipindahkan ke tubuh seni pertunjukan modern seperti teater, sesungguhnya yang terjadi bukan sekadar pemindahan cerita, melainkan sebuah kerja kebudayaan: menerjemahkan satu cara memandang dunia ke dalam bahasa zaman lain.

Proses Alih Wahana

Alih wahana dari lontar ke teater tidak pernah netral. Lontar tidak ditulis untuk ditonton, melainkan untuk dibaca, dihapal, atau diritualkan. Ia sering berbentuk fragmen, repetisi, atau uraian yang lebih dekat pada mantra dan petuah ketimbang pada dramaturgi modern yang mengenal konflik, klimaks, dan resolusi.

Maka langkah pertama dalam proses kreatif dalam konteks festival ini adalah membaca lontar bukan sebagai “naskah drama yang belum jadi”, tetapi sebagai semesta gagasan, imaji, dan nilai yang harus ditafsir ulang.

Di sinilah peran sutradara atau penulis naskah menjadi sangat menentukan. Ia harus memilih, bagian mana yang akan diangkat, sudut pandang siapa yang dipakai, dan untuk penonton zaman apa pertunjukan itu dibuat. Satu lontar bisa melahirkan banyak kemungkinan pementasan, tergantung keputusan artistik ini. Proses ini lebih dekat pada kerja kuratorial dan tafsir daripada sekadar adaptasi teknis.

Tahap berikutnya adalah menegosiasikan bentuk. Teks lontar sering kali tidak menyediakan dialog, atau jika ada, dialog itu tidak bekerja secara dramatik dalam pengertian teater modern. Di sinilah imajinasi dramaturgis bekerja: mengubah narasi menjadi adegan, mengubah petuah menjadi konflik, mengubah kosmologi menjadi laku tubuh di atas panggung. Namun perubahan ini bukan berarti pengkhianatan. Justru di dalam perubahan itulah teks lama diberi kesempatan untuk bernapas di dalam tubuh penonton hari ini.

Proses kreatif yang matang biasanya dimulai dari riset yang tekun—membaca berbagai versi lontar, memahami konteks sejarah, religius, dan sosialnya, bahkan bila perlu berdiskusi dengan ahli filologi atau pemangku tradisi. Dari sana, seniman menyusun peta: apa yang akan dipertahankan sebagai “jiwa” teks, dan apa yang boleh diubah sebagai “kulit” bentuknya. Kesadaran ini penting agar alih wahana tidak jatuh menjadi sekadar ornamen eksotik atau folklor yang kehilangan makna.

Dalam kerja penyutradaraan, tantangan berikutnya adalah menemukan bahasa panggung yang tepat. Apakah teks itu akan dihadirkan secara realis, simbolik, atau justru ritualistik? Apakah tubuh aktor akan bekerja sebagai karakter psikologis atau sebagai medium tanda dan gestur? Banyak teks lontar justru lebih cocok diterjemahkan ke dalam teater yang menekankan citra, ritme, dan komposisi visual, ketimbang teater dialog yang verbalistik. Dengan begitu, yang dihadirkan bukan hanya cerita, tetapi juga suasana kosmos dan cara berpikir yang dikandung teks aslinya.

Pementasan teater yang dialihwahanakan dari sastra dalam lontar

Alih wahana juga selalu mengandung risiko: penyederhanaan, pemotongan, bahkan salah tafsir. Tetapi risiko ini adalah bagian dari kerja kreatif itu sendiri. Yang penting bukan kesetiaan harfiah, melainkan kesetiaan pada daya hidup teks. Jika sebuah pertunjukan mampu membuat penonton hari ini merasakan kegelisahan, kebijaksanaan, atau konflik batin yang dulu disimpan dalam lontar, maka alih wahana itu telah bekerja sebagaimana mestinya.

Sampai di sini, memindahkan lontar ke panggung teater bukanlah sekadar upaya mengawetkan masa lalu seperti di dalam museum. Ia adalah usaha mengaktifkan kembali ingatan, menempatkannya dalam tubuh-tubuh yang hidup, suara yang bergetar, dan ruang yang dihadiri bersama. Teks lama tidak diperlakukan sebagai benda suci yang tak boleh disentuh, tetapi sebagai sumber energi yang terus bisa ditafsir, diperdebatkan, dan dihidupkan ulang.

Dengan cara itu, teater tidak hanya menjadi seni pertunjukan, melainkan juga ruang dialog antara zaman: antara yang ditulis dengan pisau di daun lontar dan yang diucapkan dengan tubuh di atas panggung. Dan di sanalah, barangkali, tradisi menemukan cara paling jujurnya untuk tetap bergerak.[T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bulan Bahasa Bali 2026 Akan Dibuka dengan Garapan Kreatif Proses Kelahiran Kupu-Kupu

Next Post

Lontar Buda Kecapi dalam Pandangan Penulis, Sastrawan, dan Seniman

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails
Next Post
Lontar Buda Kecapi dalam Pandangan Penulis, Sastrawan, dan Seniman

Lontar Buda Kecapi dalam Pandangan Penulis, Sastrawan, dan Seniman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co