30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menghidupkan Teks Lontar dalam Teater, Menghidupkan Teater dari Teks Lontar

tatkala by tatkala
January 31, 2026
in Panggung
Menghidupkan Teks Lontar dalam Teater, Menghidupkan Teater dari Teks Lontar

Pementasan teater yang dialihwahanakan dari teks sastra dalam lontar

CAHAYA temaram menimpa sesosok yang duduk bersila sambil memegang sebuah lontar tua lalu merapal semacam matra purba, tubuhnya nyaris menyatu dengan lantai pertunjukan. Dalam kesunyian, suara dengung mengalun pelan—lebih seperti napas daripada musik. Dari situ pertunjukan Aguru Waktra dimulai, bukan dengan letupan narasi, melainkan dengan panggilan lembut yang mengajak penonton kembali mendengar sesuatu yang telah lama mereka abaikan: suara alam.

Karya ini ditulis dan disutradarai oleh I Putu Ardiyasa, seorang dalang dan akademisi di IAHN Mpu Kuturan Singaraja, yang dalam beberapa tahun terakhir konsisten menjembatani tradisi pewayangan Bali dengan praktik teater kontemporer. Aguru Waktra adalah salah satu upaya terpentingnya—sebuah pertunjukan yang berangkat dari tradisi pengobatan kuno (lontar pengusadhan), namun menjelma menjadi ruang renung tentang pengetahuan, spiritualitas, dan krisis ekologi hari ini.

Aguru Waktra merupakan proyek alih wahana teks lama (lontar) menjadi seni pertunjukan. Proyek ini dikerjakan dalam rangkaian Festival Sastra di Singaraja yang diinisiasi Yayasan Karya Buana Lestari dengan dukungan Kementerian Kebudayaan RI melalui Dana Indonesiana.

Aguru Waktra dipentaskan 27 Juli 2025 di Gedung Sasana Budaya itu terinspirasi dari Lontar Budha Kecapi. Karya ini menafsirkan kembali kisah Kalimosada dan Kalimosadi, dua murid setia Budha Kecapi—seorang pertapa dan tabib bijaksana.

Pementasan Aguru Waktra itu memang bagian dari upaya-upaya untuk menghidupkan teks lontar ke atas panggung. Secara keseluruhan festival ini mengambil napas sastra karena itulah penggerak kebudayaan di masa lampau yang menggerakkan masa kini dan nanti.

Festival sebagai sebuah jembatan penghubung untuk menghidupkan ingatan soal kehidupan di masa lalu sebagai sebuah cermin refleksi di masa kini

“Kami ingin mengalihwahanakan pemikiran di masa lalu yang tersimpan dalam manuskrip-manuskrip di Gedong Kirtya—perpustakaan manuskrip lontar di Bali dan mungkin di Indonesia—ke dalam bentuk media baru seperti teks pertunjukan, teater, film, dan karya sastra seperti novel, cerpen, maupun puisi,” kata Kadek Sonia Piscayanti, salah satu budayawan yang membidani lahirnya festival itu.

Sonia melanjutkan, hal itu dilakukan sebagai usaha “untuk mengajak generasi muda supaya lebih aware atau menyadari bahwa semua itu adalah kekayaan yang ditinggalkan oleh leluhur di masa lalu.”

Pementasan teater yang dialihwahanakan dari sastra dalam lontar

Melalui program alih wahana inilah, pikiran-pikiran di masa lalu itu dapat dihubungan dan dipertemukan dengan generasi hari ini. Kalau kita ingin tahu bagaimana orang zaman dulu merawat rambutnya, tubuhnya, misalnya, kita bisa membuat adegannya berdasarkan lontar.

Dari penyataannya tersebut, festival ini menghendaki pembacaan yang berpihak, yakni dengan menilik kembali pikiran atau sosok dari masa lalu yang “tak terlalu diperhatikan” dalam kehidupan intelektualisme Singaraja hari ini.

Lontar adalah ingatan yang ditulis dengan cara yang pelan. Ia menyimpan dunia yang lahir jauh sebelum kita mengenal listrik, mikrofon, dan panggung prosenium. Di dalamnya hidup mitologi, etika, silsilah, doa, hingga petunjuk-petunjuk hidup yang dulu dibaca dengan suara lirih atau dirapal dalam upacara. Ketika teks-teks itu hari ini ingin dipindahkan ke tubuh seni pertunjukan modern seperti teater, sesungguhnya yang terjadi bukan sekadar pemindahan cerita, melainkan sebuah kerja kebudayaan: menerjemahkan satu cara memandang dunia ke dalam bahasa zaman lain.

Proses Alih Wahana

Alih wahana dari lontar ke teater tidak pernah netral. Lontar tidak ditulis untuk ditonton, melainkan untuk dibaca, dihapal, atau diritualkan. Ia sering berbentuk fragmen, repetisi, atau uraian yang lebih dekat pada mantra dan petuah ketimbang pada dramaturgi modern yang mengenal konflik, klimaks, dan resolusi.

Maka langkah pertama dalam proses kreatif dalam konteks festival ini adalah membaca lontar bukan sebagai “naskah drama yang belum jadi”, tetapi sebagai semesta gagasan, imaji, dan nilai yang harus ditafsir ulang.

Di sinilah peran sutradara atau penulis naskah menjadi sangat menentukan. Ia harus memilih, bagian mana yang akan diangkat, sudut pandang siapa yang dipakai, dan untuk penonton zaman apa pertunjukan itu dibuat. Satu lontar bisa melahirkan banyak kemungkinan pementasan, tergantung keputusan artistik ini. Proses ini lebih dekat pada kerja kuratorial dan tafsir daripada sekadar adaptasi teknis.

Tahap berikutnya adalah menegosiasikan bentuk. Teks lontar sering kali tidak menyediakan dialog, atau jika ada, dialog itu tidak bekerja secara dramatik dalam pengertian teater modern. Di sinilah imajinasi dramaturgis bekerja: mengubah narasi menjadi adegan, mengubah petuah menjadi konflik, mengubah kosmologi menjadi laku tubuh di atas panggung. Namun perubahan ini bukan berarti pengkhianatan. Justru di dalam perubahan itulah teks lama diberi kesempatan untuk bernapas di dalam tubuh penonton hari ini.

Proses kreatif yang matang biasanya dimulai dari riset yang tekun—membaca berbagai versi lontar, memahami konteks sejarah, religius, dan sosialnya, bahkan bila perlu berdiskusi dengan ahli filologi atau pemangku tradisi. Dari sana, seniman menyusun peta: apa yang akan dipertahankan sebagai “jiwa” teks, dan apa yang boleh diubah sebagai “kulit” bentuknya. Kesadaran ini penting agar alih wahana tidak jatuh menjadi sekadar ornamen eksotik atau folklor yang kehilangan makna.

Dalam kerja penyutradaraan, tantangan berikutnya adalah menemukan bahasa panggung yang tepat. Apakah teks itu akan dihadirkan secara realis, simbolik, atau justru ritualistik? Apakah tubuh aktor akan bekerja sebagai karakter psikologis atau sebagai medium tanda dan gestur? Banyak teks lontar justru lebih cocok diterjemahkan ke dalam teater yang menekankan citra, ritme, dan komposisi visual, ketimbang teater dialog yang verbalistik. Dengan begitu, yang dihadirkan bukan hanya cerita, tetapi juga suasana kosmos dan cara berpikir yang dikandung teks aslinya.

Pementasan teater yang dialihwahanakan dari sastra dalam lontar

Alih wahana juga selalu mengandung risiko: penyederhanaan, pemotongan, bahkan salah tafsir. Tetapi risiko ini adalah bagian dari kerja kreatif itu sendiri. Yang penting bukan kesetiaan harfiah, melainkan kesetiaan pada daya hidup teks. Jika sebuah pertunjukan mampu membuat penonton hari ini merasakan kegelisahan, kebijaksanaan, atau konflik batin yang dulu disimpan dalam lontar, maka alih wahana itu telah bekerja sebagaimana mestinya.

Sampai di sini, memindahkan lontar ke panggung teater bukanlah sekadar upaya mengawetkan masa lalu seperti di dalam museum. Ia adalah usaha mengaktifkan kembali ingatan, menempatkannya dalam tubuh-tubuh yang hidup, suara yang bergetar, dan ruang yang dihadiri bersama. Teks lama tidak diperlakukan sebagai benda suci yang tak boleh disentuh, tetapi sebagai sumber energi yang terus bisa ditafsir, diperdebatkan, dan dihidupkan ulang.

Dengan cara itu, teater tidak hanya menjadi seni pertunjukan, melainkan juga ruang dialog antara zaman: antara yang ditulis dengan pisau di daun lontar dan yang diucapkan dengan tubuh di atas panggung. Dan di sanalah, barangkali, tradisi menemukan cara paling jujurnya untuk tetap bergerak.[T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bulan Bahasa Bali 2026 Akan Dibuka dengan Garapan Kreatif Proses Kelahiran Kupu-Kupu

Next Post

Lontar Buda Kecapi dalam Pandangan Penulis, Sastrawan, dan Seniman

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

Read moreDetails

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

Read moreDetails

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

Read moreDetails

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

by tatkala
October 28, 2026
0
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

Read moreDetails

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails
Next Post
Lontar Buda Kecapi dalam Pandangan Penulis, Sastrawan, dan Seniman

Lontar Buda Kecapi dalam Pandangan Penulis, Sastrawan, dan Seniman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846–1950 | Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846–1950 | Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co