Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi “Memilih Pohon Sebelum Pinangan”, Mungkin sudut pandang saya sangat jauh dari kedalaman arti dan makna yang ingin disampaikan penulisnya, Made Adnyana Ole.
Di tangan Made Adnyana Ole, kata-kata tidak sekadar ditulis, melainkan ditanam. Buku kumpulan puisi terbarunyaitu, hadir bukan sebagai benda mati, melainkan sebagai organisme yang bernapas. Ini adalah sebuah biografi batin seorang pengarang yang telah menyerahkan seluruh hidupnya pada altar sastra. Ole tidak datang dengan tangan kosong, ia membawa satu dekade waktu rentang 2015 hingga 2025 yang dipadatkan menjadi lembar-lembar puisi yang berdenyut.
Karya ini adalah monumen personal yang dibangun dengan arsitektur cinta. Ia didedikasikan secara khusyuk untuk buah hatinya, Kayu Hujan dan Putik Padi, serta istri tercintanya, Kadek Sonia Piscayanti, kasih abadi yang menjadi muara dari segala sungai romantisme dalam buku ini. Kehadiran buku ini pun tak lepas dari napas dukungan Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV Bali, yang menyadari bahwa karya ini adalah arsip emosi yang perlu dirayakan.

Kita lihat wajah depan buku “Memilih Pohon Sebelum Pinangan”, sebelum kita mengetuk pintu isinya. Sampul garapan Vincent Chandra ini menyambut kita dengan hening. Dominasi warna putih dengan aksen surealisme bentuk daun dan pohon tidak berusaha mendominasi mata, melainkan menenangkan jiwa. Kesederhanaan yang modern ini tampil apik, seolah Vincent sedang melukiskan kesunyian yang kelak akan riuh oleh kata-kata Ole di dalamnya. Ini adalah kulit yang melindungi daging puisi yang ranum.
Selanjutnya, Ole mencoba unutk menakar kasih, menanam birahi dengan membuka gerbang bukunya dengan “Hari-hari Bahagia”. Di sini, tujuh puisi berbaris rapi. Menurut pembacaan saya, bagian awal ini adalah upaya Ole mentransfer indigenous knowledge, sebuah kitab pengetahuan lokal tentang pohon dan hari-hari baiknya yang mulai kita lupakan.
INFO BUKU:
Ole menyentil kita dengan halus, kita terlalu sibuk berteriak tentang pelestarian alam, namun luput pada implementasi kasih yang paling purba. Kita lupa bahwa pohon juga punya hari raya dan perasaannya sendiri. Namun sekali lagi Ole mencoba menyadarkan kita yang sedang koma dalam kesadaran yang paling rendah.
Puncak teologis bagian awal ini hadir dalam puisi “Tiga Penyebab Kebahagiaan”. Secara eksplisit, Ole sedang membadankan falsafah Tri Hita Karana. Ia menuliskan postulat sederhana namun menohok, yakni Tuhan maha pengasih, manusia saling mengasihi, dan pohon melimpahkan kasih tanpa pernah menagih terima kasih. Ini adalah gugatan atas hubungan transaksional manusia dengan alam.
Namun, yang paling mencuri detak jantung saya adalah puisi “Berkebun dalam Rumah”. Puisi ini menurut saya nakal sekaligus sakral. Apakah ini sekadar aktivitas menanam bunga, atau sebuah metafora dialog tubuh dan jiwa antara suami istri? Ole membungkus birahi dengan selimut kata-kata yang begitu santun namun menggairahkan. Membacanya seperti mengintip ke dalam kamar tidur penyair yang penuh bunga, romantis, hangat, dan membuat imajinasi liar saya bertanya-tanya tentang batas antara berkebun di tanah dan “berkebun” di tubuh pasangan.
Ini menurut sudut pandang dan keyakinan saya, semoga saja saya keliru, karena mungkin saja saya yang sedang birahi saat membacanya. Namun sepertinya ada benarnya juga, bahwa Ole yang sedang bergemilang spora-spora cinta dalam puisi ini. Ya, sudahlah biarkan saja. Silakan baca puisi itu dan nikmatilah. Semoga Anda bisa menemukan kebirahian itu juga.
Masuk ke bagian kedua, “Memilih Pohon”, saya menemukan jantung dari buku ini. Judul “Memilih Pohon Sebelum Pinangan” adalah sebuah frasa yang berat. Ini bukan sekadar memilih kayu untuk bangunan, melainkan metafora kedewasaan diri. Sebelum meminang (baik itu pasangan maupun kehidupan), seseorang harus selesai dengan egonya, mampu mengendalikan diri, dan bijak memaknai fungsi pohon. Enam puisi di sini menyimpan romantisme khas Ole: tenang, mengayomi, namun tajam serta pesan moral yang terkandung dalam setiap pemilihan kata dari puisi-puisi bagian ini sungguh menggugah kesadaran saya.
Perjalanan rasa berlanjut ke bagian ketiga, “Geguritan Sembilan Buah”. Ole mengajak lidah kita berdansa dengan sembilan puisi yang kenyang. Mulai dari asamnya belimbing wuluh yang menyengat hingga manis-kecut anggur yang mekar di tanah Bali. Namun, di balik deskripsi botani itu, tersimpan kritik sosial yang tajam. Ole memotret bagaimana manusia sering kali terlena oleh hasil dan nikmat wisata dunia, sebuah hedonisme yang sering kali melupakan akar. Meski demikian, di tengah kritik itu, wajah Sonia tetap hadir sebagai penawar.
Cintanya pada sang istri adalah gula yang menetralisir rasa asam dunia. Dimana Ole rela dikutuk jadi lintah pohon, hingga membagi rajanya buah, 6 untukku, 7 untuk istri. Begitu besar kasihnya untuk yang terkasih dalam rasa yang sama, seperti tertulis dalam puisinya: tak lebih banyak, tak lebih sedikit.
Pada bagian “Sepuluh Pupuh Denpasar Raya”, Ole seakan berubah menjadi penyintas waktu. Ia mencoba menghidupkan kembali “pupuh” sajak-sajak penuh arti yang konon ritmenya mulai kalah oleh deru bising, lalu lalang tak berhalang, semuanya seperti siang. Ole menghapal betul tata letak Denpasar, dari Kesiman hingga Pemecutan. Namun, nada yang keluar adalah nada minor. Ada keresahan dan penyesalan mendalam di puisi-puisi yang tertulis pada bagian ini. Denpasar yang dulu magis dan romantis, kini berubah menjadi hiruk pikuk sesak kota. Ole merindukan aura kota yang dulu, dan melalui sepuluh pupuh ini, ia mencoba memanggil pulang roh kota yang telah pergi itu, namun seperti bait puisinya; ini barat, bukan lagi barat yang kau suka.
Perjalanan fisik dan batin berlanjut pada “Lima Menu Jalan Raya Denpasar-Singaraja”. Ole ternyata seorang flâneur (penjelajah) yang lapar. Namun, ia tidak sekadar makan, ia meruwat kenangan. Kuliner legend warisan budaya menjadi pintu masuk untuk bicara soal alam. Keindahan alam di jalur Denpasar-Singaraja dipadukan dengan rasa yang legit di lidah. Bahkan, makanan kera di pinggir jalan pun tak luput dari pengamatan puitisnya. Bagi Ole, memberi makan kera adalah puisi kehilangan jati, hilangnya kepekaan, hingga tak mampu menerka matang atau setengah matang.
“Perjalanan ke Timur”, membawa kita pada dimensi yang lebih spiritual. Lima puisi di sini adalah catatan kaki seorang peziarah. Lengkap dengan risalah pohon, kehidupan sosial, hingga seni yang diinterpretasikan sebagai jalan menuju surga. Puisi “Di Budakeling Menonton Gambuh Masutasoma” menjadi puncak estetik bagian ini sebuah kesaksian bahwa seni tradisi adalah jembatan emas menuju jalan surga.

Bagian akhir Ole menulis resep penyembuhan, Ole menyuguhkan “Virus, Manusia Sunyi dan Pohon Gembira”. Di bagian pamungkas ini, Ole menawarkan obat. Ia memotret realitas pahit virus Corona yang sempat membungkam dunia, namun dengan cerdik ia menyandingkannya dengan “virus cinta”. Baginya, pohon adalah entitas yang paling gembira ketika manusia dipaksa diam dan menyepi. Ada harapan filosofis di sini, bahwa kesunyian manusia adalah pesta bagi alam. Ole ingin mengatakan bahwa pohon-pohon itu memiliki daya sembuh yang luar biasa jika kita mau sejenak berhenti bicara dan mulai mendengar hingga mengerti akan arti “cukup”.
Kumpulan puisi ini bukan sekadar kumpulan kata, melainkan sebuah ekosistem kehidupan. Dari kritik sosial, kuliner, birahi, hingga ketuhanan, semuanya tumbuh subur di bawah naungan pohon kata-kata Made Adnyana Ole. Ia mengajarkan kita untuk kembali ke akar, merawat cinta pada keluarga, dan menghormati diamnya pepohonan.
Maka, tidak ada kalimat yang lebih tepat untuk merangkum seluruh denyut nadi buku ini selain sebuah ajaran kuno yang bergema di setiap halamannya. “Sarwa Prani Hitangkara” karena ketika cinta kita pada manusia telah paripurna, dan kasih kita pada pohon tak lagi meminta balas, di sanalah kita menemukan hakikat hidup yang sejati. Berbuat baiklah pada semua makhluk, sebab setiap helai daun yang kau jaga dan setiap jantung yang kau cinta, adalah doa yang paling didengar oleh semesta.[T]
Penulis: I Nengah Juliawan
Editor: Jaswanto



























