3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wayan Arnawa Menjaga Tradisi Lewat Lukisan Wayang Kaca di Desa Nagasepaha

tatkala by tatkala
December 16, 2025
in Khas
Wayan Arnawa Menjaga Tradisi Lewat Lukisan Wayang Kaca di Desa Nagasepaha

Pembuatan Lukisan Wayang Kaca | Dokumentasi Pribadi

WAYAN Arnawa, selain menjadi seniman lukis, ia termasuk orang yang setia menjaga tradisi melukis wayang dengan media kaca di Desa Nagasepaha, Buleleng. Ia memang seniman lukisan wayang kaca yang tinggal di Dusun Delod Margi, Desa Nagasepaha.

Ia sudah menekuni dunia seni lukis wayang kaca sejak 1980. Ia merupakan generasi ketiga dan sekaligus cucu dari maestro lukisan wayang kaca Jero Dalang Diah Belia. Ia memilih menjadi pelukis wayang kaca karena ingin menjaga tradisi dari yang sudah turun temurun di keluarganya, dan sejak kecil sudah tertarik dengan dunia seni termasuk wayang kaca.

Lukisan wayang kaca hasil karya Wayan Arnawa sudah sering masuk pameran tidak hanya di Bali, tetapi juga sudah sampai Jakarta dan Yogyakarta.

Awal mula lukisan wayang kaca berangkat dari sosok maestro legendaris Bali, Jero Dalang Diah Belia, yang dikenal sebagai dalang sekaligus seniman visioner pada masanya. Kisah ini bermula sekitar tahun 1927, ketika suatu hari Jero Dalang kedatangan seorang tamu bernama Wayan Nitia. Kedatangan Wayan Nitia bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan membawa sebuah lukisan figur yang mengenakan busana kimono, sesuatu yang saat itu terbilang asing dan unik bagi lingkungan seni tradisional Bali.

Semabri menunjukkan lukisan ala Jepang itu, Wayan Nitia mengemukakan ide yang cukup berani dan tidak lazim: ia bersikeras agar gambar itu dilukiskan di atas media kaca, bukan di atas kain atau kertas seperti kebiasaan seniman pada masa itu. Gagasan ini tentu bukan hal yang mudah, karena melukis di atas kaca membutuhkan teknik, ketelitian, dan keberanian untuk bereksperimen dengan medium baru.

Namun, alih-alih ragu, Jero Dalang Diah Belia justru langsung menyanggupi tantangan tersebut. Sikap terbuka dan jiwa kreatifnya membuat ia berani mencoba hal baru tanpa meninggalkan akar tradisi. Dari momen sederhana inilah kemudian lahir cikal bakal seni lukis wayang kaca di Desa Nagasepaha, sebuah bentuk seni yang memadukan nilai tradisional wayang dengan media yang unik dan berbeda.

Bisa dibilang, keputusan spontan namun visioner itu menjadi titik awal berkembangnya lukisan wayang kaca hingga dikenal luas seperti sekarang. Dari satu ide “nyeleneh” dan keberanian seorang maestro, lahirlah warisan seni yang terus hidup dan relevan lintas generasi bahkan sampai ke anak muda hari ini.

Pembuatan Lukisan Wayang Kaca | Dokumentasi Pribadi

Lukisan wayang kaca ini punya ciri khas yang bikin langsung beda dari lukisan pada umumnya, yaitu teknik latar terbalik. Jadi, proses melukisnya tidak dimulai dari latar belakang, tapi justru dari detail utama seperti wajah, ornamen, dan garis halus, lalu diakhiri dengan pewarnaan latar. Teknik ini jelas butuh tingkat ketelitian, kesabaran, dan skill tinggi, karena sekali salah, hampir tidak bisa diperbaiki. Di sinilah terlihat betapa “niat” dan seriusnya para seniman wayang kaca dalam berkarya.

Kalau ditarik ke sejarahnya, teknik unik ini nggak lepas dari peran Jero Dalang Diah Belia sebagai maestro pertama wayang kaca. Keberanian beliau pada tahun 1927 untuk mencoba melukis di atas kaca berawal dari tantangan Wayan Nitia jadi fondasi lahirnya gaya dan teknik yang terus diwariskan sampai sekarang. Apa yang awalnya cuma eksperimen, berkembang jadi identitas seni yang kuat dan khas Bali.

Karena nilai sejarah, teknik yang unik, dan makna budaya yang dikandungnya, lukisan wayang kaca tidak cuma dipandang sebagai karya seni visual, tapi juga sebagai warisan budaya tak benda. Bukan cuma soal hasil akhirnya yang indah, tapi juga soal pengetahuan, proses, dan nilai tradisi yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Buat anak muda, wayang kaca ini bisa dilihat sebagai bukti kalau seni tradisi itu sebenarnya kreatif, berani beda, dan relevan. Dari satu keputusan berani seorang maestro di masa lalu, lahir karya seni yang sampai sekarang masih eksis, punya karakter kuat, dan jadi identitas budaya yang patut dibanggakan.

Lukisan Wayang Kaca | Dokumentasi Pribadi

Lukisan wayang kaca itu sebenarnya bukan cuma soal visual yang kelihatan keren dan estetik, tapi juga penuh makna filosofis. Media kaca yang bening tapi rapuh menggambarkan kehidupan manusia yang terlihat kuat dari luar, padahal rentan dan mudah terluka, sekaligus mengajak kita buat bercermin dan jujur sama diri sendiri.

Proses melukis dengan teknik latar terbalik, mengerjakan detail dulu baru latarnya jadi simbol kalau dalam hidup yang paling penting itu karakter, nilai, dan isi diri, bukan sekadar tampilan luar. Tokoh-tokoh wayang yang dilukiskan juga merepresentasikan sifat-sifat manusia, dari kebijaksanaan sampai keserakahan, yang secara halus ngajak kita mikir mana sikap yang layak ditiru dan mana yang sebaiknya dihindari.

Ditambah lagi, proses pembuatannya yang butuh kesabaran tinggi karena sulit diperbaiki kalau salah, ngasih pesan kalau setiap pilihan dalam hidup punya konsekuensi. Jadi, wayang kaca itu bukan cuma seni pajangan, tapi seni yang “ngomong”, mengajak refleksi, dan tetap relevan buat kehidupan anak muda sekarang.

Proses pembuatan wayang kaca itu sebenarnya penuh “drama” tapi justru di situ seninya. Awalnya, seniman bikin sketsa detail tokoh wayang di atas kertas, biasanya mengikuti pakem wayang kulit biar karakter, gestur, dan proporsinya tetap otentik. Sketsa ini bukan asal gambar, tapi pondasi utama sebelum masuk ke kaca.

Setelah itu, pola kertas ditempel atau dijadikan acuan buat mulai gambar di permukaan kaca yang licin dan tricky. Masuk ke tahap paling ikonik, yaitu ngreka atau melukis terbalik. Di sini seniman dituntut mikir kebalik, karena bagian yang nanti kelihatan paling depan justru dilukis paling awal. Detail wajah, mata, sampai hiasan kepala digarap duluan, pakai cat khusus kaca seperti akrilik biar warnanya nempel dan awet.

Prosesnya tak bisa ngebut, semuanya dikerjakan bertahap. Setiap selesai satu bagian, kaca dibalik untuk ngecek hasil dari sisi depan, seperti sedang nge-preview karya sebelum lanjut ke level berikutnya. Dari sisi depan inilah seniman melakukan koreksi, mulai dari proporsi, warna, sampai detail kecil biar tetap presisi.

Setelah garis luar aman, warna dasar diisi pelan-pelan, lalu ditambah detail-detail kece seperti aksen emas atau motif busana yang rumit. Kalau semua lapisan sudah kelar, lukisan dibiarkan kering total. Hasil akhirnya, pas dilihat dari depan, wayang kaca bakal tampil utuh, rapi, dan estetik. Teknik ini jelas memerlukan kesabaran ekstra, karena sekali salah, revisinya ribet dan harus super hati-hati. Tapi justru dari situ keliatan kalau wayang kaca bukan cuma lukisan, tapi bukti skill, fokus, dan rasa seni tingkat tinggi. [T]

Penulis: Kadek Andi Partika, Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan

Catatan: Artikel ini merupakan tugas mata kuliah Jurnalistik Online pada program studi Ilmu Komunikasi Hindu Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan

Tags: desa nagasepahalukisan wayang kacaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Karnaval Sarendo-Rendo 2025: Lenong Denes dan Kota yang Mengingat Dirinya

Next Post

Dinamika  Umat  Hindu, Pergulatan  Empat  Orientasi  dalam  Menavigasi  Perubahan  Zaman

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails
Next Post
Dinamika  Umat  Hindu, Pergulatan  Empat  Orientasi  dalam  Menavigasi  Perubahan  Zaman

Dinamika  Umat  Hindu, Pergulatan  Empat  Orientasi  dalam  Menavigasi  Perubahan  Zaman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co