23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wayan Arnawa Menjaga Tradisi Lewat Lukisan Wayang Kaca di Desa Nagasepaha

tatkala by tatkala
December 16, 2025
in Khas
Wayan Arnawa Menjaga Tradisi Lewat Lukisan Wayang Kaca di Desa Nagasepaha

Pembuatan Lukisan Wayang Kaca | Dokumentasi Pribadi

WAYAN Arnawa, selain menjadi seniman lukis, ia termasuk orang yang setia menjaga tradisi melukis wayang dengan media kaca di Desa Nagasepaha, Buleleng. Ia memang seniman lukisan wayang kaca yang tinggal di Dusun Delod Margi, Desa Nagasepaha.

Ia sudah menekuni dunia seni lukis wayang kaca sejak 1980. Ia merupakan generasi ketiga dan sekaligus cucu dari maestro lukisan wayang kaca Jero Dalang Diah Belia. Ia memilih menjadi pelukis wayang kaca karena ingin menjaga tradisi dari yang sudah turun temurun di keluarganya, dan sejak kecil sudah tertarik dengan dunia seni termasuk wayang kaca.

Lukisan wayang kaca hasil karya Wayan Arnawa sudah sering masuk pameran tidak hanya di Bali, tetapi juga sudah sampai Jakarta dan Yogyakarta.

Awal mula lukisan wayang kaca berangkat dari sosok maestro legendaris Bali, Jero Dalang Diah Belia, yang dikenal sebagai dalang sekaligus seniman visioner pada masanya. Kisah ini bermula sekitar tahun 1927, ketika suatu hari Jero Dalang kedatangan seorang tamu bernama Wayan Nitia. Kedatangan Wayan Nitia bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan membawa sebuah lukisan figur yang mengenakan busana kimono, sesuatu yang saat itu terbilang asing dan unik bagi lingkungan seni tradisional Bali.

Semabri menunjukkan lukisan ala Jepang itu, Wayan Nitia mengemukakan ide yang cukup berani dan tidak lazim: ia bersikeras agar gambar itu dilukiskan di atas media kaca, bukan di atas kain atau kertas seperti kebiasaan seniman pada masa itu. Gagasan ini tentu bukan hal yang mudah, karena melukis di atas kaca membutuhkan teknik, ketelitian, dan keberanian untuk bereksperimen dengan medium baru.

Namun, alih-alih ragu, Jero Dalang Diah Belia justru langsung menyanggupi tantangan tersebut. Sikap terbuka dan jiwa kreatifnya membuat ia berani mencoba hal baru tanpa meninggalkan akar tradisi. Dari momen sederhana inilah kemudian lahir cikal bakal seni lukis wayang kaca di Desa Nagasepaha, sebuah bentuk seni yang memadukan nilai tradisional wayang dengan media yang unik dan berbeda.

Bisa dibilang, keputusan spontan namun visioner itu menjadi titik awal berkembangnya lukisan wayang kaca hingga dikenal luas seperti sekarang. Dari satu ide “nyeleneh” dan keberanian seorang maestro, lahirlah warisan seni yang terus hidup dan relevan lintas generasi bahkan sampai ke anak muda hari ini.

Pembuatan Lukisan Wayang Kaca | Dokumentasi Pribadi

Lukisan wayang kaca ini punya ciri khas yang bikin langsung beda dari lukisan pada umumnya, yaitu teknik latar terbalik. Jadi, proses melukisnya tidak dimulai dari latar belakang, tapi justru dari detail utama seperti wajah, ornamen, dan garis halus, lalu diakhiri dengan pewarnaan latar. Teknik ini jelas butuh tingkat ketelitian, kesabaran, dan skill tinggi, karena sekali salah, hampir tidak bisa diperbaiki. Di sinilah terlihat betapa “niat” dan seriusnya para seniman wayang kaca dalam berkarya.

Kalau ditarik ke sejarahnya, teknik unik ini nggak lepas dari peran Jero Dalang Diah Belia sebagai maestro pertama wayang kaca. Keberanian beliau pada tahun 1927 untuk mencoba melukis di atas kaca berawal dari tantangan Wayan Nitia jadi fondasi lahirnya gaya dan teknik yang terus diwariskan sampai sekarang. Apa yang awalnya cuma eksperimen, berkembang jadi identitas seni yang kuat dan khas Bali.

Karena nilai sejarah, teknik yang unik, dan makna budaya yang dikandungnya, lukisan wayang kaca tidak cuma dipandang sebagai karya seni visual, tapi juga sebagai warisan budaya tak benda. Bukan cuma soal hasil akhirnya yang indah, tapi juga soal pengetahuan, proses, dan nilai tradisi yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Buat anak muda, wayang kaca ini bisa dilihat sebagai bukti kalau seni tradisi itu sebenarnya kreatif, berani beda, dan relevan. Dari satu keputusan berani seorang maestro di masa lalu, lahir karya seni yang sampai sekarang masih eksis, punya karakter kuat, dan jadi identitas budaya yang patut dibanggakan.

Lukisan Wayang Kaca | Dokumentasi Pribadi

Lukisan wayang kaca itu sebenarnya bukan cuma soal visual yang kelihatan keren dan estetik, tapi juga penuh makna filosofis. Media kaca yang bening tapi rapuh menggambarkan kehidupan manusia yang terlihat kuat dari luar, padahal rentan dan mudah terluka, sekaligus mengajak kita buat bercermin dan jujur sama diri sendiri.

Proses melukis dengan teknik latar terbalik, mengerjakan detail dulu baru latarnya jadi simbol kalau dalam hidup yang paling penting itu karakter, nilai, dan isi diri, bukan sekadar tampilan luar. Tokoh-tokoh wayang yang dilukiskan juga merepresentasikan sifat-sifat manusia, dari kebijaksanaan sampai keserakahan, yang secara halus ngajak kita mikir mana sikap yang layak ditiru dan mana yang sebaiknya dihindari.

Ditambah lagi, proses pembuatannya yang butuh kesabaran tinggi karena sulit diperbaiki kalau salah, ngasih pesan kalau setiap pilihan dalam hidup punya konsekuensi. Jadi, wayang kaca itu bukan cuma seni pajangan, tapi seni yang “ngomong”, mengajak refleksi, dan tetap relevan buat kehidupan anak muda sekarang.

Proses pembuatan wayang kaca itu sebenarnya penuh “drama” tapi justru di situ seninya. Awalnya, seniman bikin sketsa detail tokoh wayang di atas kertas, biasanya mengikuti pakem wayang kulit biar karakter, gestur, dan proporsinya tetap otentik. Sketsa ini bukan asal gambar, tapi pondasi utama sebelum masuk ke kaca.

Setelah itu, pola kertas ditempel atau dijadikan acuan buat mulai gambar di permukaan kaca yang licin dan tricky. Masuk ke tahap paling ikonik, yaitu ngreka atau melukis terbalik. Di sini seniman dituntut mikir kebalik, karena bagian yang nanti kelihatan paling depan justru dilukis paling awal. Detail wajah, mata, sampai hiasan kepala digarap duluan, pakai cat khusus kaca seperti akrilik biar warnanya nempel dan awet.

Prosesnya tak bisa ngebut, semuanya dikerjakan bertahap. Setiap selesai satu bagian, kaca dibalik untuk ngecek hasil dari sisi depan, seperti sedang nge-preview karya sebelum lanjut ke level berikutnya. Dari sisi depan inilah seniman melakukan koreksi, mulai dari proporsi, warna, sampai detail kecil biar tetap presisi.

Setelah garis luar aman, warna dasar diisi pelan-pelan, lalu ditambah detail-detail kece seperti aksen emas atau motif busana yang rumit. Kalau semua lapisan sudah kelar, lukisan dibiarkan kering total. Hasil akhirnya, pas dilihat dari depan, wayang kaca bakal tampil utuh, rapi, dan estetik. Teknik ini jelas memerlukan kesabaran ekstra, karena sekali salah, revisinya ribet dan harus super hati-hati. Tapi justru dari situ keliatan kalau wayang kaca bukan cuma lukisan, tapi bukti skill, fokus, dan rasa seni tingkat tinggi. [T]

Penulis: Kadek Andi Partika, Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan

Catatan: Artikel ini merupakan tugas mata kuliah Jurnalistik Online pada program studi Ilmu Komunikasi Hindu Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan

Tags: desa nagasepahalukisan wayang kacaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Karnaval Sarendo-Rendo 2025: Lenong Denes dan Kota yang Mengingat Dirinya

Next Post

Dinamika  Umat  Hindu, Pergulatan  Empat  Orientasi  dalam  Menavigasi  Perubahan  Zaman

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Dinamika  Umat  Hindu, Pergulatan  Empat  Orientasi  dalam  Menavigasi  Perubahan  Zaman

Dinamika  Umat  Hindu, Pergulatan  Empat  Orientasi  dalam  Menavigasi  Perubahan  Zaman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co