13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wayan Arnawa Menjaga Tradisi Lewat Lukisan Wayang Kaca di Desa Nagasepaha

tatkala by tatkala
December 16, 2025
in Khas
Wayan Arnawa Menjaga Tradisi Lewat Lukisan Wayang Kaca di Desa Nagasepaha

Pembuatan Lukisan Wayang Kaca | Dokumentasi Pribadi

WAYAN Arnawa, selain menjadi seniman lukis, ia termasuk orang yang setia menjaga tradisi melukis wayang dengan media kaca di Desa Nagasepaha, Buleleng. Ia memang seniman lukisan wayang kaca yang tinggal di Dusun Delod Margi, Desa Nagasepaha.

Ia sudah menekuni dunia seni lukis wayang kaca sejak 1980. Ia merupakan generasi ketiga dan sekaligus cucu dari maestro lukisan wayang kaca Jero Dalang Diah Belia. Ia memilih menjadi pelukis wayang kaca karena ingin menjaga tradisi dari yang sudah turun temurun di keluarganya, dan sejak kecil sudah tertarik dengan dunia seni termasuk wayang kaca.

Lukisan wayang kaca hasil karya Wayan Arnawa sudah sering masuk pameran tidak hanya di Bali, tetapi juga sudah sampai Jakarta dan Yogyakarta.

Awal mula lukisan wayang kaca berangkat dari sosok maestro legendaris Bali, Jero Dalang Diah Belia, yang dikenal sebagai dalang sekaligus seniman visioner pada masanya. Kisah ini bermula sekitar tahun 1927, ketika suatu hari Jero Dalang kedatangan seorang tamu bernama Wayan Nitia. Kedatangan Wayan Nitia bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan membawa sebuah lukisan figur yang mengenakan busana kimono, sesuatu yang saat itu terbilang asing dan unik bagi lingkungan seni tradisional Bali.

Semabri menunjukkan lukisan ala Jepang itu, Wayan Nitia mengemukakan ide yang cukup berani dan tidak lazim: ia bersikeras agar gambar itu dilukiskan di atas media kaca, bukan di atas kain atau kertas seperti kebiasaan seniman pada masa itu. Gagasan ini tentu bukan hal yang mudah, karena melukis di atas kaca membutuhkan teknik, ketelitian, dan keberanian untuk bereksperimen dengan medium baru.

Namun, alih-alih ragu, Jero Dalang Diah Belia justru langsung menyanggupi tantangan tersebut. Sikap terbuka dan jiwa kreatifnya membuat ia berani mencoba hal baru tanpa meninggalkan akar tradisi. Dari momen sederhana inilah kemudian lahir cikal bakal seni lukis wayang kaca di Desa Nagasepaha, sebuah bentuk seni yang memadukan nilai tradisional wayang dengan media yang unik dan berbeda.

Bisa dibilang, keputusan spontan namun visioner itu menjadi titik awal berkembangnya lukisan wayang kaca hingga dikenal luas seperti sekarang. Dari satu ide “nyeleneh” dan keberanian seorang maestro, lahirlah warisan seni yang terus hidup dan relevan lintas generasi bahkan sampai ke anak muda hari ini.

Pembuatan Lukisan Wayang Kaca | Dokumentasi Pribadi

Lukisan wayang kaca ini punya ciri khas yang bikin langsung beda dari lukisan pada umumnya, yaitu teknik latar terbalik. Jadi, proses melukisnya tidak dimulai dari latar belakang, tapi justru dari detail utama seperti wajah, ornamen, dan garis halus, lalu diakhiri dengan pewarnaan latar. Teknik ini jelas butuh tingkat ketelitian, kesabaran, dan skill tinggi, karena sekali salah, hampir tidak bisa diperbaiki. Di sinilah terlihat betapa “niat” dan seriusnya para seniman wayang kaca dalam berkarya.

Kalau ditarik ke sejarahnya, teknik unik ini nggak lepas dari peran Jero Dalang Diah Belia sebagai maestro pertama wayang kaca. Keberanian beliau pada tahun 1927 untuk mencoba melukis di atas kaca berawal dari tantangan Wayan Nitia jadi fondasi lahirnya gaya dan teknik yang terus diwariskan sampai sekarang. Apa yang awalnya cuma eksperimen, berkembang jadi identitas seni yang kuat dan khas Bali.

Karena nilai sejarah, teknik yang unik, dan makna budaya yang dikandungnya, lukisan wayang kaca tidak cuma dipandang sebagai karya seni visual, tapi juga sebagai warisan budaya tak benda. Bukan cuma soal hasil akhirnya yang indah, tapi juga soal pengetahuan, proses, dan nilai tradisi yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Buat anak muda, wayang kaca ini bisa dilihat sebagai bukti kalau seni tradisi itu sebenarnya kreatif, berani beda, dan relevan. Dari satu keputusan berani seorang maestro di masa lalu, lahir karya seni yang sampai sekarang masih eksis, punya karakter kuat, dan jadi identitas budaya yang patut dibanggakan.

Lukisan Wayang Kaca | Dokumentasi Pribadi

Lukisan wayang kaca itu sebenarnya bukan cuma soal visual yang kelihatan keren dan estetik, tapi juga penuh makna filosofis. Media kaca yang bening tapi rapuh menggambarkan kehidupan manusia yang terlihat kuat dari luar, padahal rentan dan mudah terluka, sekaligus mengajak kita buat bercermin dan jujur sama diri sendiri.

Proses melukis dengan teknik latar terbalik, mengerjakan detail dulu baru latarnya jadi simbol kalau dalam hidup yang paling penting itu karakter, nilai, dan isi diri, bukan sekadar tampilan luar. Tokoh-tokoh wayang yang dilukiskan juga merepresentasikan sifat-sifat manusia, dari kebijaksanaan sampai keserakahan, yang secara halus ngajak kita mikir mana sikap yang layak ditiru dan mana yang sebaiknya dihindari.

Ditambah lagi, proses pembuatannya yang butuh kesabaran tinggi karena sulit diperbaiki kalau salah, ngasih pesan kalau setiap pilihan dalam hidup punya konsekuensi. Jadi, wayang kaca itu bukan cuma seni pajangan, tapi seni yang “ngomong”, mengajak refleksi, dan tetap relevan buat kehidupan anak muda sekarang.

Proses pembuatan wayang kaca itu sebenarnya penuh “drama” tapi justru di situ seninya. Awalnya, seniman bikin sketsa detail tokoh wayang di atas kertas, biasanya mengikuti pakem wayang kulit biar karakter, gestur, dan proporsinya tetap otentik. Sketsa ini bukan asal gambar, tapi pondasi utama sebelum masuk ke kaca.

Setelah itu, pola kertas ditempel atau dijadikan acuan buat mulai gambar di permukaan kaca yang licin dan tricky. Masuk ke tahap paling ikonik, yaitu ngreka atau melukis terbalik. Di sini seniman dituntut mikir kebalik, karena bagian yang nanti kelihatan paling depan justru dilukis paling awal. Detail wajah, mata, sampai hiasan kepala digarap duluan, pakai cat khusus kaca seperti akrilik biar warnanya nempel dan awet.

Prosesnya tak bisa ngebut, semuanya dikerjakan bertahap. Setiap selesai satu bagian, kaca dibalik untuk ngecek hasil dari sisi depan, seperti sedang nge-preview karya sebelum lanjut ke level berikutnya. Dari sisi depan inilah seniman melakukan koreksi, mulai dari proporsi, warna, sampai detail kecil biar tetap presisi.

Setelah garis luar aman, warna dasar diisi pelan-pelan, lalu ditambah detail-detail kece seperti aksen emas atau motif busana yang rumit. Kalau semua lapisan sudah kelar, lukisan dibiarkan kering total. Hasil akhirnya, pas dilihat dari depan, wayang kaca bakal tampil utuh, rapi, dan estetik. Teknik ini jelas memerlukan kesabaran ekstra, karena sekali salah, revisinya ribet dan harus super hati-hati. Tapi justru dari situ keliatan kalau wayang kaca bukan cuma lukisan, tapi bukti skill, fokus, dan rasa seni tingkat tinggi. [T]

Penulis: Kadek Andi Partika, Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan

Catatan: Artikel ini merupakan tugas mata kuliah Jurnalistik Online pada program studi Ilmu Komunikasi Hindu Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan

Tags: desa nagasepahalukisan wayang kacaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Karnaval Sarendo-Rendo 2025: Lenong Denes dan Kota yang Mengingat Dirinya

Next Post

Dinamika  Umat  Hindu, Pergulatan  Empat  Orientasi  dalam  Menavigasi  Perubahan  Zaman

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Dinamika  Umat  Hindu, Pergulatan  Empat  Orientasi  dalam  Menavigasi  Perubahan  Zaman

Dinamika  Umat  Hindu, Pergulatan  Empat  Orientasi  dalam  Menavigasi  Perubahan  Zaman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co