23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Karnaval Sarendo-Rendo 2025: Lenong Denes dan Kota yang Mengingat Dirinya

Emi Suy by Emi Suy
December 16, 2025
in Panggung
Karnaval Sarendo-Rendo 2025: Lenong Denes dan Kota yang Mengingat Dirinya

Karnaval Sarendo-Rendo 2025: Lenong Denes dan Kota yang Mengingat Dirinya

Catatan Perjalanan Lenong Denes – Pusaka Budaya

Pagi Jakarta, Minggu 14 Desember 2025, dibuka oleh langkah-langkah yang bergerak perlahan di kawasan Monumen Nasional. Karnaval Sarendo-Rendo 2025 menghadirkan kembali satu gagasan lama dalam tradisi Betawi: berjalan bersama, seiring sejalan, tanpa meninggalkan siapa pun di belakang. Sarendo-Rendo menjadi bingkai peristiwa—sebuah ruang perjumpaan yang memungkinkan kebudayaan hadir di jalanan kota.

Di dalam bingkai itulah Lenong Denes – Pusaka Budaya melangkah. Bukan sebagai pelengkap, bukan sekadar pengisi acara, melainkan sebagai subjek kebudayaan yang membawa cerita, tubuh, dan ingatan Betawi ke ruang publik Jakarta.

Peran Lenong Denes dalam Karnaval Sarendo-Rendo

Partisipasi Lenong Denes dalam Karnaval Sarendo-Rendo 2025 merupakan kelanjutan dari kerja panjang yang selama ini dijalani sanggar. Berjalan bersama ratusan komunitas budaya, Lenong Denes menghadirkan lenong bukan sebagai tontonan eksotis, melainkan sebagai praktik hidup. Tubuh para pemain, dialog yang cair, gestur khas Betawi, serta irama humor rakyat menjadikan jalanan kota sebagai panggung terbuka.

Lenong Denes dalam Karnaval Sarendo-Rendo 2025

Dalam iring-iringan Monas–Sarinah–Monas, Lenong Denes menegaskan bahwa lenong tidak kehilangan relevansinya di tengah kota modern. Justru di ruang publik seperti inilah lenong menemukan kembali fungsinya: menyapa warga, memantik tawa, dan menyampaikan kritik sosial dengan cara yang ringan namun tajam.

Kehadiran Lenong Denes menjadi penanda bahwa kesenian rakyat tidak harus menunggu panggung resmi untuk hidup. Lenong dapat hadir di jalan, bertemu langsung dengan masyarakat, dan membangun dialog tanpa jarak. Karnaval ini memberi ruang agar kerja-kerja budaya yang selama ini berlangsung sunyi dapat berjalan bersama dan saling menguatkan.

Warisan Benda Pusaka: Tubuh Kolektif Lenong Denes di Ruang Kota

Di balik langkah Lenong Denes – Pusaka Budaya dalam Karnaval Sarendo-Rendo 2025, terdapat sebuah kerja kolektif yang panjang dan setia. Lenong tidak pernah berdiri pada satu tokoh atau satu suara. Ia hidup melalui banyak tubuh, banyak watak, banyak tangan yang saling menopang. Lakon Warisan Benda Pusaka menjadi wujud paling nyata dari kerja bersama itu.

Di dalam lakon tersebut, para pemain hadir membawa energi dan pengalaman masing-masing. Emi Suy berjalan bersama Emak Ocha, Yoko, Deinar M.A, Jambule, Syech Puji, dan Hery Tany. Bersama mereka, Nurjanah, Iroh Redho, Azrina, Az-zahra, Adam Dawera, Rinto Bangkit K, dan Pramono menghidupkan dialog-dialog yang berakar pada kehidupan sehari-hari rakyat Betawi. Kehadiran Nurfa Octavianti, Abigail, Fitrah, Adjie Maulana, Apit Serabut, Beni Gaok, Agus Waspada, Shelby Azalia, dan Ikun GBK melengkapi panggung sebagai ruang perjumpaan lintas generasi.

Di sisi lain, tubuh-tubuh jawara dan pendukung peran turut memberi napas pada lakon ini. Rawing, Kibul, Bonen, Japra, Kupra, Maceng, Cemonk, Abel, Kiran, Dian, Cici, Ayu, Winda, Kori, dan Rahman hadir bukan sekadar sebagai pelengkap adegan, melainkan sebagai penanda bahwa lenong selalu berkelindan dengan dunia persilatan, keberanian, dan etos menjaga kampung—nilai-nilai yang tumbuh kuat dalam budaya Betawi.

Atraksi seni bela diri Lenong Denes dalam Karnaval Sarendo-Rendo 2025

Keseluruhan kerja ini disatukan oleh visi penyutradaraan Anto Ristargie, yang dengan kesadaran artpreneur budaya menempatkan lenong bukan sebagai artefak nostalgia, melainkan sebagai pusaka hidup. Ia bekerja bersama Le Suyud sebagai tim artistik sanggar untuk memastikan setiap gestur, properti, dan ruang bermain tetap berpijak pada tradisi sekaligus responsif terhadap ruang kota. Tata rias yang ditangani oleh Emak memberi wajah pada karakter-karakter lenong agar tetap membumi dan akrab, sementara iringan musik Robby Cs menjadi denyut yang menghubungkan dialog, humor, dan emosi penonton.

Produksi Warisan Benda Pusaka berada di bawah naungan Lenong Denes – Pusaka Budaya dan Sanggar Lentera Pusaka Budaya, dengan dukungan jejaring Majelis Persilatan Betawi dan Kios Silat Betawi. Kolaborasi ini menegaskan bahwa lenong tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh dari pertautan seni pertunjukan, tradisi lisan, dan dunia persilatan sebagai satu ekosistem kebudayaan.

Dipentaskan di ruang publik Balai Kota dan kawasan Taman Ria Monas pada Minggu pagi, 14 Desember 2025, lakon ini membawa pesan yang sederhana sekaligus mendalam: pusaka mandraguna tak selalu berupa kekuatan—kadang berupa kebenaran yang telah lama dilupakan. Melalui tubuh para pemainnya, pesan itu berjalan menyusuri jalanan kota, bertemu warga, dan menempel sebagai ingatan.

Emi Suy (penulis) bersama Lenong Denes dalam Karnaval Sarendo-Rendo 2025

Dengan menyebut semua nama yang terlibat, kita diingatkan bahwa lenong adalah kerja banyak orang. Ia hidup bukan karena satu bintang, melainkan karena kesediaan banyak tubuh untuk hadir, berlatih, berjalan bersama, dan menjaga pusaka yang tidak selalu berbentuk benda, tetapi nilai, ingatan, dan keberanian untuk terus menghidupkannya.

Lenong sebagai Cara Membaca Kota

Bagi Lenong Denes, lenong bukan sekadar bentuk seni pertunjukan, melainkan cara membaca realitas sosial. Di dalam lakon-lakon lenong tersimpan cerita tentang rakyat kecil, ketimpangan, kecerdikan bertahan hidup, serta humor sebagai strategi menghadapi kerasnya kehidupan kota.

Apa yang dibawa Lenong Denes ke Karnaval Sarendo-Rendo bukanlah cerita baru, melainkan cerita yang terus diperbarui melalui tubuh dan pengalaman para pemainnya. Jakarta, dengan segala kompleksitasnya, dibaca ulang melalui bahasa lenong—bahasa yang akrab, egaliter, dan membumi.

Di tengah arus hiburan instan, Lenong Denes menghadirkan pengalaman menonton yang mengajak berpikir tanpa menggurui. Tawa yang muncul bukan tawa kosong, melainkan tawa yang mengandung kesadaran.

Profil Sanggar Lentera Pusaka Budaya – Lenong Denes

Lenong Denes – Pusaka Budaya berada di bawah naungan Sanggar Lentera Pusaka Budaya, yang berdiri sejak tahun 2017 di Kembangan, Jakarta Barat. Sanggar ini lahir dari kegelisahan akan semakin terpinggirkannya seni lenong Betawi di tengah derasnya modernisasi kota.

Di bawah kepemimpinan Anto Ristargie, seorang sutradara sekaligus artpreneur budaya, sanggar ini menanamkan keyakinan bahwa lenong adalah pusaka hidup—bukan peninggalan mati.

Sebagai ruang pembinaan, sanggar membuka latihan rutin bagi anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Proses belajar menekankan teknik akting dan dialog khas Betawi, disiplin, kerja kolektif, kepekaan sosial, serta penghargaan terhadap nilai-nilai lokal. Regenerasi menjadi fokus utama agar lenong terus memiliki pewaris.

Dalam visi besarnya, Sanggar Lentera Pusaka Budaya berkomitmen melestarikan, mengembangkan, dan mempromosikan lenong Betawi sebagai pusaka budaya Jakarta melalui pementasan klasik dan kreasi, workshop, kolaborasi lintas disiplin, partisipasi festival budaya, serta pengarsipan karya sebagai pelestarian jangka panjang.

Lenong dan Ruang Publik

Karnaval Sarendo-Rendo 2025 menegaskan kembali pentingnya ruang publik sebagai ruang kebudayaan. Bagi Lenong Denes, tampil di jalanan kota bukan sekadar soal visibilitas, melainkan upaya mengembalikan seni rakyat kepada masyarakatnya.

Jakarta adalah kota perjumpaan yang dibangun dari lapisan-lapisan budaya. Dalam konteks ini, budaya Betawi—melalui lenong—menjadi fondasi kultural yang memberi arah dan identitas. Ketika lenong hadir di ruang publik, kota tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga bercermin pada dirinya sendiri.

Jejak Lenong Denes: Tradisi yang Berjalan Bersama Kota

Karnaval Sarendo-Rendo 2025 mengajarkan satu hal penting: tradisi tidak meminta ruang istimewa, ia hanya meminta ruang yang adil. Ketika jalanan dibuka dan tubuh-tubuh diberi kesempatan berjalan bersama, kebudayaan dengan sendirinya hidup dan berbicara.

Bagi Lenong Denes – Pusaka Budaya, peristiwa ini menegaskan bahwa seni rakyat tetap relevan selama ia diberi ruang untuk bertemu langsung dengan masyarakatnya. Lenong tidak perlu dipoles berlebihan agar tampak modern; cukup dihadirkan secara jujur, dekat, dan membumi.

Anak-anak generasi Lenong Denes dalam Karnaval Sarendo-Rendo 2025

Sarendo-Rendo juga mengingatkan bahwa kerja budaya adalah kerja kolektif. Tidak ada tradisi yang mampu bertahan sendirian. Ia hidup karena ada sanggar yang setia berlatih, komunitas yang saling menopang, serta jejaring yang membuka jalan agar langkah-langkah kecil dapat berjalan sejajar.

Pelestarian, pada akhirnya, bukan sekadar soal menjaga bentuk, melainkan merawat nilai: keberanian berbicara tanpa melukai, humor sebagai penyangga luka, dan kebijaksanaan untuk hidup berdampingan di tengah perbedaan.

Sarendo-Rendo 2025 telah usai sebagai peristiwa, tetapi meninggalkan tanggung jawab bersama: memastikan kebudayaan tidak hanya dirayakan sesekali, melainkan dirawat secara berkelanjutan.

Dan selama cerita-cerita rakyat masih diberi ruang untuk hidup, Lenong Denes – Pusaka Budaya akan terus berjalan—bukan di belakang zaman, melainkan berdampingan dengannya. [T]

Jakarta, 15 Desember 2025

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

Tags: BetawiJakartakesenian betawilenonglenong denes
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Meraya Matra Manawa”, Konser Gamelan ISI Bali untuk Rayakan Pengakuan Unesco

Next Post

Wayan Arnawa Menjaga Tradisi Lewat Lukisan Wayang Kaca di Desa Nagasepaha

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
0
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

Read moreDetails

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

Read moreDetails

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

Read moreDetails

Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
0
Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah...

Read moreDetails

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
0
Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

GEMERLAP cahaya panggung di Gedung Ksirarnawa mempertegas para penari tampil dengan karakter dan busana yang berbeda. Beragam busana itu tentu...

Read moreDetails

Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

by Nyoman Budarsana
June 19, 2026
0
Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

Kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Anturan, terdapat sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Namanya Bebayuhan Sanan...

Read moreDetails

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

by Nyoman Budarsana
June 18, 2026
0
Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang...

Read moreDetails

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
0
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah...

Read moreDetails

Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

by Ingga Adelia
June 15, 2026
0
Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens...

Read moreDetails

Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
0
Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I

ANAK-anak ini tampak tenang dan santai. Mereka duduk manis di atas karpet di teras Museum Taman Budaya, Art Center Provinsi...

Read moreDetails
Next Post
Wayan Arnawa Menjaga Tradisi Lewat Lukisan Wayang Kaca di Desa Nagasepaha

Wayan Arnawa Menjaga Tradisi Lewat Lukisan Wayang Kaca di Desa Nagasepaha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co