2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meracik Kopi dan Mimpi: Kehangatan “COSA NOSSTRA Caffe” dari Tangan Mahasiswa

tatkala by tatkala
December 14, 2025
in Khas
Meracik Kopi dan Mimpi: Kehangatan “COSA NOSSTRA Caffe” dari Tangan Mahasiswa

Suasana di sudut luar COSSANOSTRA | Dokumentasi: Tim COSSANOSTRA

MALAM di Singaraja selalu punya cara merangkul anak muda. Di sebuah sudut Jalan Gajah Mada, sebuah ruang kecil bernama COSA NOSSTRA Caffe tumbuh dari tangan seorang mahasiswa yang ingin menghadirkan hangatnya pertemuan.

Ada yang datang sendirian sambil meneteng tas penuh tugas, ada yang berdua sambil membawa cerita, ada pula yang sekedar ingin menenangkan kepala yang riuh oleh perkuliahan. Rasa kopi yang turun peralahan ke tenggorokan menciptakan ketenangan, sementara obrolan kecil di sudut ruangan menjelma jadi musik yang tidak pernah benar-benar selesai.

Tim COSA NOSSTRA bersama para customer | Dokumentasi: Tim COSA NOSSTRA

COSA NOSSTRA bukan sekedar kedai yang menjual kopi. Ia lebih mirip ruang persinggahan– tempat di mana orang bisa duduk tanpa merasa resah, tempat pulang sejenak sebelum kembali menghadapi hidup yang kadang terlalu ramai dan melelahkan. Kedai kecil ini tumbuh dari tangan seorang mahasiswa, dengan semangat yang sederhana, menghadirkan ruang teduh bagi siapa pun yang membutuhkan teman cerita atau sekedar menghirup udara yang lebih tenang dari dunia luar.

Dengan nuansa hangat ala arsitekur Bali dan suasana yang tidak pernah memaksa siapa pun untuk pergi, COSA NOSSTRA menjadirumah kecil bagi banyak mahasiswa yang mencari kehangatan dan ketenangan. Di sana, kopi dan percakapan seolah bekerja sama menjaga agar orang-orang tidak merasa sendirian

Gagasan awal COSA NOSSTRA muncul dari kebiasaan sederhana, sebuah pertemanan yang berkumpul di kos, berbagi keresahan, dan menenangkan diri lewat secangkir kopi. Dari pertemuan-pertemuan semacam itu, muncul kesadaran bahwa banyak orang yang sebenarnya tidak nyaman sendiri, meski terlihat baik-baik saja.

“Lama-kelamaan terpikir bahwa tanpa disadari, banyak orang yang merasa kesepian atau memang tidak suka sendiri,” ujar Rajj salah satu pendiri

Rajj yang sudah lama memiliki rasa kecintaanya pada dunia kopi kemudian membayangkan sebuah ruang yang memberi lebih dari sekedar menu. Sebuah tempat di mana orang bisa duduk, berbincang, atau hanya diam tanpa merasa asing. Bukan ruang gengsi, bukan pula sekedar tempat untuk pencitraan melainkan tempat untuk pulang sejenak.

“Saya ingin tempat ini memberikan kehangatan, terutama privasi dan kenyamanan,” tambahnya.

Nama COSSANOSTRA diambil dari renungan panjang. Terinspirasi dari film “The Goodfather”, yang bukan dilihat dari sisi kelamnya, tetapi rasa nilai kesetiaan, persaudaraan dan ikatan keluarga yang kuat. Kata COSA NOSSTRA diambil dari bahasa Italia untuk menggambarkan rasa itu, yang jika diartikan memiliki makna suatu perkumpulan besar yang terikat oleh rasa saling menjaga.

Filosofi itu kemudian dibawa ke kedai kopi. Siapa pun yang datang, meski awalnya asing, diharapkan dapat merasakan kehadiran satu sama lain.

COSA NOSSTRA juga lahir dari komunitas TRAGAS (Truna-Truna Lagas), sebuah lingkar pertemanan yang dikenal solid selalu gas diajak kemanapun dan ringan tangan. Dari tangan komunitas inilah kedai itu akhirnya berdiri pada pertengahan Mei 2025.

Bagi para pengelola, kedai kopi ini tidak hanya berbicara soal usaha. Ada nilai yang ingin dijaga. “Untuk jiwa-jiwa yang kedinginan, pulang dan berkumpullah ke COSA NOSSTRA , karena di sini kamu akan menemukan kehangatan, kehangatan seperti di rumah, terutama bagi orang-orang yang jauh dari rumah,” ujar Rajj.

Suasana di sudut luar COSA NOSSTRA | Dokumentasi: Tim COSA NOSSTRA

Sebagian besar pengunjung COSA NOSSTRA adalah mahasiswa. Kesamaan latar belakang umur dan situasi membuat hubungan yang terbangun terasa lebih setara, seperti saudara satu keluarga. Kedai yang buka mulai pukul 18.00 WITA hingga larut ini sengaja tidak diberi jam tutup yang pasti. Pengelolanya ingin tetap menemani siapa pun yang sedang butuh ruang untuk berfikir dan perproses atau sekedar melepas penat dengan perbincangan hangat.

Meski masih mahasiswa, para pendirinya mengurus hampir semua hal sendiri.  “Memang sulit, tapi kalau sudah niat, semua bisa dijalani. Termasuk membagi waktu antara kuliah dan usaha,” kata Rajj.

Dari sisi menu, COSA NOSSTRA meracik minuman dengan karakter yang mereka bangun secara perlahan. Doulcholate dan Doulchinamon menjadi dua signature yang lahir di awal berdirinya kedai. Seiring waktu, Americano di COSA NOSSTRA dinilai punya karakter yang kuat berbeda dengan yang lain. Sementara Spanish Latte menjadi favorit banyak pengunjung.

Beberapa mahasiswa yang sering datang membagikan ceritanya. Dandi, miasalnya, mengaku datang hampir setiap hari dalam seminggu karena suasananya yang tenang dan harganya yang terjangkau. “Di sini bukan sekedar rasa kopi yang penting, melainkan rasa persaudaraannya,” ujarnya. Ia mengaku lebih sering memilih Amber Kopi dan Cendol non-kopi sebagai teman mengerjakan tugas.

Geby, mahasiswa semester tiga, melihat COSA NOSSTRA sebagai tempat untuk menyelesaikan hari. “Tempatnya nyaman, bukanya sampai larut, dan sirkel orang-orangnya juga enak,” katanya.

Menu favoritnya adalah Spanish Latte, sementara saat tidak ingin minum kopi, ia memilih Milo atau Cinnamon. Geby mengaku bisa datang hampir setiap hari, atau sekitar enam kali dalam seminggu.

Duta, yang juga mahasiswa, melihat kedai kopi ini dari pengalaman eksplorasinya mengunjungi berbagai kedai kopi di singaraja.

“Anak muda sekarang cari tempat yang cocok sama dirinya. Di COSA NOSSTRA Caffe, pengunjung tidak dibatasi waktu. Kita nggak was-was soal jam tutup, dan itu jarang dimiliki coffeeshop lain,” ungkapnya.

Ia lebih sering memesan Fun Choco Fusion, karena menurutnya tidak banyak coffeeshop yang menjadikan cokelat sebagai basis utama minuman.

Suasana penuh kehangatan pengunjung COSA NOSSTRA | Dokumentasi: Tim COSA NOSSTRA

Bagi para pendirinya, COSA NOSSTRA bukan terutama soal produk, yang mereka jaga adalah suasana, rasa diterima dan rasa ditemani. “Yang membuat orang kembali bukan sekedar menunya, tapi apa yang ditawarkan tempat ini, kehangatan dan rasa saling menjaga,” ujar Rajj.

Di tengah banyaknya kedai kopi dengan konsep visual yang seragam, COSA NOSSTRA hadir sebagai ruang kecil yang mengajak orang untuk duduk dan berbagi cerita. Di tempat itu, kopi, cerita, dan mimpi diracik bersama oleh tangan-tangan muda yang percaya bahwa kehangatan bisa tumbuh dari hal sederhana. [T]

Penulis: Cindi Larasati
Mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi Hindu Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan

  • Catatan: Artikel ini merupakan tugas mata kuliah Jurnalistik Online pada program studi Ilmu Komunikasi Hindu Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan

Tags: coffee shopmahasiswaSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tubuh yang Menari, Telepon yang Berdering dari Negara

Next Post

IHKA BPD Bali Bantu Keberlanjutan Pendidikan Putri dan Dita di Klungkung

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
IHKA BPD Bali Bantu Keberlanjutan Pendidikan Putri dan Dita di Klungkung

IHKA BPD Bali Bantu Keberlanjutan Pendidikan Putri dan Dita di Klungkung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co