14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh yang Menari, Telepon yang Berdering dari Negara

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 14, 2025
in Panggung
Tubuh yang Menari, Telepon yang Berdering dari Negara

Pementasan 'Tubuh yang Menari' oleh Bali Eksperimental Teater (BET) pada FTI 2025 | Dok. BET

TELEPON itu berdering ketika Denpasar belum sepenuhnya reda dari lalu lintas sore. Saya sedang berdiri di pinggir jalan, menunggu jeda antara klakson dan napas sendiri, ketika nama Nanoq da Kansas muncul di layar. Ia di Negara, Jembrana. Saya di Denpasar. Jarak itu terasa lebih jauh dari sekadar angka kilometer.

“Bagaimana Medan?” tanya saya, membuka percakapan.

Di seberang, suaranya tenang, seperti biasa. Ada lelah yang tak ia sembunyikan, tapi juga kepuasan yang tak ia pamerkan. Ia bercerita tentang panggung, tentang penonton yang berdiri, tentang tubuh-tubuh yang menari bukan hanya di atas panggung, tetapi juga di bangku penonton. Tentang Bali Eksperimental Teater (BET) yang akhirnya berdiri sejajar dengan kelompok-kelompok teater dari berbagai kota di Indonesia, dalam Festival Teater Indonesia (FTI) 2025 di Medan, Sumatera Utara.

Percakapan itu singkat, tapi cukup untuk membuat saya sadar, bahwa perjalanan panjang yang sedang mencapai satu titik penting. Dan titik itu bernama Tubuh yang Menari.

Eksperimen Tubuh

BET bukan kelompok teater yang lahir dari pusat keramaian seni. Ia tumbuh dari barat Bali, dari Negara, Jembrana, dari ruang-ruang yang sering luput dari peta besar kesenian nasional. Sejak berdiri pada 16 Juni 1993, BET memilih jalan yang tidak mudah, yakni, jalan eksperimen, jalan tubuh, jalan yang tidak selalu ramah terhadap selera arus utama.

Pementasan ‘Tubuh yang Menari’ oleh Bali Eksperimental Teater (BET) pada FTI 2025 | Dok. BET

Di baliknya ada Nanoq da Kansas, nama panggung dari Wayan Udiana, lahir 2 Desember 1965 di Dusun Moding, Candikusuma, Jembrana. Ia bukan tipe seniman yang sibuk membangun citra. Ia lebih sering membangun ruang. Ruang latihan, ruang diskusi, ruang bagi anak-anak muda untuk gagal, mencoba lagi, dan menemukan bahasa tubuh mereka sendiri.

Dalam perjalanan panjang itu, BET berkembang menjadi lebih dari sekadar kelompok pementasan. Ia menjadi semacam laboratorium kultural, tempat tubuh diuji, tradisi dibongkar, lalu dirangkai ulang dengan keberanian artistik.

Ketika Festival Teater Indonesia 2025 digelar untuk pertama kalinya, BET mendapat undangan resmi untuk tampil. Bagi mereka, ini bukan sekadar tampil di luar Bali, tetapi hadir di panggung nasional dalam edisi perdana festival.

FTI 2025 digelar di empat kota, Medan sebagai pembuka selama tiga hari, lalu Palu, Mataram, dan ditutup di Jakarta. Di Medan, BET berdiri sejajar dengan kelompok teater dari Makassar, Bandar Lampung, Tangerang, Jakarta, dan daerah lain.

Pementasan ‘Tubuh yang Menari’ oleh Bali Eksperimental Teater (BET) pada FTI 2025 | Dok. BET

Pada 3 Desember 2025 malam, di Auditorium RRI Medan, BET mementaskan Tubuh yang Menari. Sebuah karya yang diadaptasi dari novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini, dengan naskah adaptasi oleh Sasti Gotama. Produksi ini diproduseri Dewa Made Dwi Dharma Putra, dengan musik yang digarap I Komang Sukma Upadana.

Di atas panggung, tubuh-tubuh para performer, Kadek Cinthya Ayu Bestari, Ni Putu Ayu Puspita Dewi, dan Kanahaya Elang Semesta, menjadi bahasa utama. Kata-kata ada, tetapi bukan satu-satunya alat bicara.

Cinta, Kasta, dan Tubuh Perempuan

Secara artistik, Tubuh yang Menari mengangkat isu yang tidak ringan, yakni cinta, kasta, dan perjuangan perempuan Bali. Namun BET tidak menyampaikannya lewat narasi verbal yang panjang. Mereka memilih tubuh sebagai medium utama.

Pementasan ‘Tubuh yang Menari’ oleh Bali Eksperimental Teater (BET) pada FTI 2025 | Dok. BET

Gerak, tarian, musik gamelan dan seruling, asap dupa yang perlahan menyelimuti panggung—semuanya bekerja bersama membangun atmosfer yang intens dan khidmat. Ada rasa ritual di sana, tapi bukan ritual yang beku. Ia bergerak, bernafas, dan sesekali mengguncang. Pendekatan ini menegaskan karakter BET; tubuh bukan pelengkap cerita, melainkan cerita itu sendiri.

Tentu saja, tidak ada pertunjukan yang sempurna. Beberapa pengamat mencatat bahwa kekuatan vokal pemain belum sepenuhnya setara dengan kekuatan visual panggung. Catatan ini bukan cela, melainkan pengingat bahwa proses masih berjalan.

Namun secara keseluruhan, BET dinilai berhasil menghadirkan pertunjukan yang kuat secara estetika, emosional, dan penuh energi. Video cuplikan pementasan yang beredar di media sosial festival menunjukkan antusiasme besar. Auditorium RRI Medan dipadati penonton sejak awal. BET menjadi salah satu kelompok yang paling banyak dibicarakan selama FTI di Medan.

Nanoq dan Anak-anak Muda Jembrana

Keterlibatan BET di FTI tidak bisa dilepaskan dari peran Nanoq da Kansas sebagai sutradara. Lebih dari itu, ia adalah sosok yang mendorong anak-anak muda Jembrana untuk masuk ke jejaring teater nasional. Bukan dengan janji instan, tetapi dengan kerja panjang, disiplin tubuh, dan kesetiaan pada proses.

Nanoq bukan tipe pemimpin yang berdiri di depan memberi komando. Ia berjalan bersama, sering kali di belakang, memastikan semua orang menemukan pijakan mereka sendiri. Ia tahu, teater tidak tumbuh dari ambisi semata, tetapi dari ketekunan yang sering kali sunyi.

Ketika pementasan usai, ketika lampu panggung padam dan penonton pulang, BET kembali ke titik awal mereka; kota Negara, Jembrana. Tidak ada euforia berlebihan. Tidak ada selebrasi yang berisik.

Nanoq da Kansas | Foto: Dok. pribadi

Seperti telepon kami yang terputus sore itu, ada jeda yang justru memberi ruang untuk merenung. Tentang apa arti tampil di panggung nasional. Tentang bagaimana tubuh-tubuh dari barat Bali bisa berbicara kepada penonton dari latar budaya yang berbeda.

Bagi saya, Tubuh yang Menari bukan hanya pementasan di FTI 2025. Ia adalah penanda bahwa teater dari daerah, dari pinggiran, dari ruang yang sering diabaikan, masih punya daya getar yang kuat.

Dan Nanoq da Kansas, dengan segala kesederhanaannya, telah menunjukkan bahwa keberanian artistik tidak selalu lahir dari pusat. Ia bisa tumbuh dari Negara, dari latihan yang berulang, dari tubuh yang jatuh dan bangkit, lalu menari lagi.

Telepon itu sudah lama berakhir. Denpasar kembali bising. Negara kembali tenang. Tapi tubuh-tubuh yang menari di Medan, malam itu, masih menyisakan gema. Dan mungkin, gema itulah yang disebut teater; sesuatu yang selesai dipentaskan, tetapi belum selesai dirasakan. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bali Eksperimental TeaterNanoq da Kansasseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Amerta | Cerpen Mas Ruscitadewi

Next Post

Meracik Kopi dan Mimpi: Kehangatan “COSA NOSSTRA Caffe” dari Tangan Mahasiswa

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
0
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat...

Read moreDetails

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

Read moreDetails

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
0
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

Read moreDetails

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
0
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

Read moreDetails

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

Read moreDetails

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

Read moreDetails

Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

by Pranita Dewi
April 20, 2026
0
Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

Pertunjukan Nyanyian Dharma digelar di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya (DNA), Denpasar, Minggu (19/4) malam, menampilkan kolaborasi musik dengan...

Read moreDetails

‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

by I Nyoman Darma Putra
April 19, 2026
0
‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

Perbedaan antara wellness tourism dengan medical tourism menjadi salah satu pertanyaan dalam dalam Wellness Conference (Wellness Talk Show), Kamis, 16 April 2026, di Pelataran Hotel, Ubud....

Read moreDetails

Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 14, 2026
0
Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

SEJAK awal, ada rasa penasaran yang menggantung di antara penonton yang duduk lesehan di wantilan Museum Soenda Ketjil. Wayang, dalam...

Read moreDetails

Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

by Son Lomri
April 12, 2026
0
Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

MALAM itu, Kamis, 9 April 2026, ada pertunjukan wayang kulit serangkaian Festival Wayang Bali Utara (FWB) di Wantilan Pelabuhan Tua...

Read moreDetails
Next Post
Meracik Kopi dan Mimpi: Kehangatan “COSA NOSSTRA Caffe” dari Tangan Mahasiswa

Meracik Kopi dan Mimpi: Kehangatan “COSA NOSSTRA Caffe” dari Tangan Mahasiswa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co