2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Secangkir Kopi Guru Jurnalistik 

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 9, 2025
in Ulas Buku
Secangkir Kopi Guru Jurnalistik 

Buku Jeda; Catatan Renungan Seorang Jurnalis Tentang Kopi, Hidup, dan Makna karya Menot Sukadana

TERAS belakang kantor media di Denpasar Utara. Sudah lewat tengah malam tapi kami masih duduk, menyeduh kopi, dan berbincang tentang banyak hal: kerja jurnalistik, nasib media, hidup yang tak selalu ramah, dan sesekali tentang keluarga, tentang masa lalu yang diam-diam membentuk kami menjadi seperti sekarang.

Menot Sukadana, atasan saya waktu itu, adalah orang yang tidak suka bicara panjang, tapi kalimatnya selalu melekat. Ia bukan bos yang suka memerintah. Ia lebih seperti kakak yang mendampingi—menyunting naskah bersama, menimbang judul berita, lalu mengajar kami berpikir sebelum mengetik.

Saya menulis pengantar ini bukan sebagai orang yang tahu banyak, tapi sebagai seseorang yang pernah belajar langsung dari penulis buku ini. Saya tidak tahu apakah Bli Menot masih ingat perbincangan kami malam-malam di pojok kantor yang diterangi lampu 10 watt. Tapi saya ingat betul kalimat-kalimatnya. Ia mengajari saya bahwa jurnalisme bukan hanya soal menyampaikan informasi, tapi juga soal keberpihakan—pada nurani, pada yang lemah, pada yang tak bersuara.

Dan buku ini, Jeda, persis seperti dirinya: tenang, pelan, tapi mengendap.

Buku ini bukan memoar. Ia bukan kumpulan artikel biasa. Ia adalah renungan yang lahir dari jeda—sela di antara kerja dan kesadaran. Terdiri dari tiga bagian utama: Jeda Pers & Wacana Publik, Jeda Sosial & Ruang Bersama, serta Jeda Diri & Pencarian Makna, buku ini mengajak kita menyelami ulang hidup sebagai jurnalis, warga, dan manusia yang sedang belajar menerima kenyataan.

Di bagian pertama, Bli Menot menuliskan dengan jujur pergulatan media lokal di Bali—yang mandeg di skala mikro, yang kerap bergantung pada anggaran Pemda, dan yang gamang menghadapi logika klik dan algoritma. Tapi dari sana juga ia menanam benih optimisme: tentang kolaborasi, tentang membangun “ekosistem kecil”, tentang menjadikan media sebagai ruang hidup yang lebih manusiawi.

Di tengah badai pemutusan hubungan kerja di industri media, ia justru melahirkan kanal gaya hidup UrbanBali, bermimpi tenang kedai kopi Redaksi, dan merancang pindahan kantor ke tempat yang lebih sepi di pinggir kota.

Bagian kedua membawa kita ke ranah yang lebih sosial dan kebudayaan. Mulai dari konvoi liar pelajar, kopi Bali yang tak tersedia di coffee shop kota, hingga kerinduan pada adab dan etika di jalan raya. Di sini, penulis menunjukkan kepekaan khas jurnalis yang punya akar: peka terhadap yang tak terdengar, dan berani menyuarakan yang pelan. Ia menulis soal pulangnya jenazah Melly dari Amerika dengan empati, lalu berpindah ke soal politisi konten dengan ketenangan. Semuanya ditulis dengan gaya naratif yang menyentuh—tidak menghakimi, tapi juga tidak pura-pura netral.

Namun bagi saya, bagian ketiga adalah yang paling dalam. Jeda Diri & Pencarian Makna bukan cuma kumpulan refleksi, tapi juga semacam pengakuan. Tentang kelelahan, tentang menua dengan pelan, tentang ayah yang menggendong anak, tentang kopi yang diseduh sendiri sebagai bentuk menjaga kewarasan. Di sana, kita menemukan Bli Menot bukan sebagai redaktur atau pendiri media, tapi sebagai manusia biasa yang berusaha tetap jujur pada hidup yang terus berubah.

Saya pribadi paling menyukai tulisan berjudul “Pengusaha Kata-Kata” dan “Selembar yang Tertunda”—dua esai yang secara tidak langsung juga menyinggung kehadiran saya sebagai bagian kecil dalam perjalanan bukunya. Saat membaca ulang, saya merasa seperti sedang mendengar kembali percakapan kami di pagi hari yang sunyi: tentang niat yang tertunda, tentang buku yang ingin disusun, tentang rencana membuat kedai kopi yang rindang lima tahun lagi.

Di balik semua tulisan ini, saya menemukan satu benang merah: keberanian untuk pelan. Di zaman yang serba cepat, menulis pelan adalah pilihan yang tidak populer. Tapi penulis buku ini menunjukkan bahwa justru dari pelan, kita bisa merasa. Dari merasa, kita bisa mengerti. Dan dari mengerti, kita bisa memberi makna—bagi diri sendiri maupun orang lain.

Sebagian tulisan di buku ini pernah tayang di kolom “Jeda” di PodiumNews.com, sebagian lagi baru dibuka sekarang. Tapi semuanya ditulis dengan cara yang sama: tanpa tergesa. Sebagaimana kopi Bali yang diseduh tanpa mesin, kata-kata dalam buku ini lahir dari ruang sunyi, dari pengalaman yang dibiarkan mengendap. Ia tidak berniat menggurui. Tapi jika dibaca dengan pelan, ia bisa menjadi teman dalam kesunyian.

Bagi para pembaca, saya percaya buku ini bukan hanya akan memberi wawasan tentang dunia jurnalistik dan kehidupan sosial kita hari ini. Tapi juga bisa menjadi cermin. Bahwa jeda itu penting. Bahwa tidak apa-apa untuk berhenti sejenak, menyeruput hidup, dan menimbang ulang arah.

Dan bagi saya pribadi, buku ini adalah hadiah dari seorang guru. Bli Menot bukan hanya membimbing saya di redaksi, tapi juga—tanpa ia sadari—mengajarkan saya bahwa menulis adalah kerja kejujuran, dan jurnalisme adalah soal keberanian untuk tidak ikut ramai jika ramai itu kehilangan nurani.

Selamat menikmati buku ini. Seruput perlahan. Rasakan jedanya. [T]

Catatan: Tulisan ini adalah kata pengantar buku Jeda; Catatan Renungan Seorang Jurnalis Tentang Kopi, Hidup, dan Makna, karya Menot Sukadana yang akan segera terbit

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bukujurnalistik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arsitektur Ancaman dalam Sapatha

Next Post

Pohon Berbalut Kain ‘Poleng’ dan Pesan yang Terlupakan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Pohon Berbalut Kain ‘Poleng’ dan Pesan yang Terlupakan

Pohon Berbalut Kain 'Poleng' dan Pesan yang Terlupakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co