11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pohon Berbalut Kain ‘Poleng’ dan Pesan yang Terlupakan

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 9, 2025
in Esai
Pohon Berbalut Kain ‘Poleng’ dan Pesan yang Terlupakan

Ilustrasi: tatkala.co/Dede│Dibuat dengan Canva

ORANG Bali kerap dipandang aneh oleh sebagian orang luar, terutama oleh mereka yang belum memahami budaya setempat secara mendalam. Salah satu hal yang kerap memancing komentar ialah kebiasaan memasang kain poleng ─ kain bercorak hitam-putih ─ pada pohon-pohon tertentu. Ada pihak yang menganggap tindakan itu musrik, aneh, atau terlalu dipengaruhi hal-hal gaib. Ada pula yang menilainya sekadar ritual kuno tanpa relevansi bagi kehidupan masa kini. Namun pandangan semacam itu kerap muncul karena tidak adanya pemahaman akan konteks budaya dan filosofi yang melatarbelakanginya.

Para tetua atau leluhur terdahulu tentu memiliki alasan khusus mengapa mereka melakukan itu, meskipun tidak semuanya disampaikan secara tersurat. Tradisi dalam masyarakat Bali acap kali tidak dijelaskan melalui kalimat langsung, melainkan diwariskan melalui praktik, simbol, serta ritual yang terus diulang. Banyak di antaranya berkaitan dengan konsep keseimbangan alam, penghormatan terhadap kehidupan, dan pemahaman mendalam mengenai hubungan manusia dengan lingkungannya ─ palemahan.

Secara eksplisit, praktik memasang kain poleng pada pohon memang kerap dikaitkan dengan hal-hal gaib atau mistis. Penjelasan tradisional sering menghubungkannya dengan penjaga pohon, aura spiritual, atau kekuatan tak kasat mata. Dalam pandangan manusia modern, hal-hal semacam ini dianggap tidak masuk akal. Namun, perlu diingat pada masa lalu masyarakat memberi tempat besar bagi mitos dan takhayul. Mereka mengandalkan cerita leluhur untuk menjaga harmoni hidup, termasuk hubungan dengan alam. Keyakinan itu menjadi cara untuk menanamkan rasa takut melanggar aturan dan rasa hormat terhadap sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.

Jika ditelisik sekarang, bisa jadi praktik semacam itu menyimpan makna ekologis yang sangat penting. Kain poleng itu barangkali menjadi cara leluhur menghargai pohon agar tidak diperlakukan sembarangan oleh generasi berikutnya. Sebuah tanda sederhana yang berfungsi sebagai pengingat: pohon adalah makhluk hidup yang patut dihormati. Dalam masyarakat tradisional, simbol digunakan untuk menanamkan rasa awas. Dengan menandai pohon menggunakan kain poleng, orang akan berpikir dua kali sebelum menebang, kencing sembarangan, atau memperlakukannya tanpa pertimbangan.

Penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, termasuk tumbuhan, memang menjadi bagian dari filosofi Bali. Dalam pandangan lokal, keberadaan manusia bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Manusia hidup berdampingan dengan tumbuh-tumbuhan, hewan, roh leluhur, dan kekuatan alam. Semua unsur berada dalam satu jaringan kehidupan, sehingga harmoni harus dijaga. Filosofi ini tidak hanya diwujudkan melalui sikap sehari-hari, tetapi juga melalui upacara yang teratur dan sakral.

Salah satu upacara khusus yang berkaitan dengan penghormatan terhadap tumbuh-tumbuhan adalah Tumpek Wariga, sering juga disebut Tumpek Bubuh atau Tumpek Pengatag. Upacara ini dirayakan setiap enam bulan sekali, tepatnya dua puluh lima hari sebelum Galungan. Pada hari inilah masyarakat memuja Dewa Sangkara, sosok yang dipandang sebagai penguasa kesuburan atau tumbuh-tumbuhan. Tradisi ini menunjukkan betapa berharganya pohon bagi kehidupan masyarakat Bali. Upacara tersebut tidak hanya berupa simbol spiritual, tetapi juga wujud rasa terima kasih terhadap sumber kehidupan.

Pada hari Tumpek Wariga terdapat pantangan tertentu, misalnya larangan menebang pohon atau memetik hasil tanaman. Hari ini dianggap sebagai hari untuk menyapa tumbuhan, memberikan doa, dan menyampaikan harapan agar pohon terus memberi kesuburan. Tradisi ini mencerminkan kesadaran ekologis yang kuat. Masyarakat diminta berhenti sejenak dari aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan, untuk kemudian memberi ruang bagi alam bernapas. Sebuah jeda spiritual yang sekaligus menjadi jeda ekologis.

Selain itu, Bali juga mengenal aturan tidak tertulis mengenai pembangunan. Ada prinsip bahwa bangunan tidak boleh lebih tinggi dari pohon kelapa. Dalam beberapa penafsiran, tingginya dibatasi hingga sekitar lima belas meter demi menjaga keharmonisan antara lanskap alam dan spiritualitas. Prinsip ini pada dasarnya ingin memastikan manusia tidak melampaui batas alam, tidak rakus, dan tidak menempatkan kepentingan materi di atas keseimbangan lingkungan. Namun kenyataan sekarang berbeda. Seiring berkembangnya pariwisata dan pertumbuhan ekonomi, aturan ini mulai diabaikan. Gedung-gedung pencakar langit menjulang, mal-mal dibangun semakin besar, dan hotel-hotel tumbuh tanpa kendali. Pemandangan Bali perlahan berubah, dari pulau yang lekat dengan kesederhanaan alam, menjadi tempat yang kian padat oleh beton.

Di tengah kondisi modern ini, muncul pertanyaan penting: masihkah orang menghormati tumbuh-tumbuhan? Barangkali banyak yang mulai melupakan nilai itu. Penebangan liar terjadi di berbagai tempat. Lahan hijau hilang digantikan bangunan dan permukiman. Tumbuhan sintetis justru semakin banyak dipelihara karena dianggap praktis dan tidak membutuhkan perawatan. Sementara itu tumbuh-tumbuhan asli sering dieksploitasi. Ada yang diberi obat-obatan agar cepat berbuah, atau dipaksa tumbuh di luar ritme alam demi memenuhi kebutuhan ekonomi.

Praktik seperti ini memperlihatkan bergesernya hubungan manusia dengan alam. Jika dahulu ada rasa hormat, kini yang lebih tampak ialah rasa ingin menguasai. Pohon tak lagi dilihat sebagai makhluk hidup yang perlu dijaga, melainkan sebagai objek produksi. Sikap ini berbeda jauh dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh leluhur. Bagi para tetua, pohon bukan sekadar sumber materi, tetapi penjaga kehidupan. Melukai pohon sama dengan melukai keseimbangan yang menopang manusia itu sendiri.

Mungkin benar bahwa orang tua terdahulu lebih menghormati lingkungan sekitarnya. Mereka lebih menyadari bahwa manusia tidak akan hidup tanpa pohon, air, tanah, dan hewan. Kehidupan mereka bergantung pada alam yang bersih dan sehat. Mereka memahami bahwa roh kehidupan tinggal dalam setiap unsur alam. Karena itu mereka menjaga hubungan tersebut dengan penuh kehati-hatian. Mereka menandai pohon dengan kain, bukan untuk menakuti, melainkan untuk mengingatkan diri sendiri agar selalu menghormati keberadaannya. Mereka merawat tumbuh-tumbuhan dengan ritual, bukan hanya sebagai simbol religius, tetapi juga sebagai cara menjaga kesinambungan hidup.

Jika dibandingkan dengan masa kini, pendekatan itu terasa jauh lebih halus dan penuh makna. Hari ini banyak orang lebih suka memasang spanduk atau poster di pepohonan untuk berbagai kepentingan, yang malah mengotori lingkungan. Kain poleng yang dulu dipasang dengan penuh rasa hormat kini sering dipandang sebagai tanda irasionalitas. Padahal kain itu menunjukkan upaya menjaga alam dengan cara yang sangat lembut dan penuh penghargaan. Ada pesan besar di balik kesederhanaannya: alam bukan benda mati. Alam perlu dijaga, dihormati, dan diperlakukan sebagai bagian dari keluarga besar kehidupan.

Tradisi menghormati pohon sebetulnya bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga pengetahuan ekologis yang lahir dari pengalaman panjang. Leluhur Bali memahami bahwa jika alam rusak, manusia akan ikut rusak. Jika pohon ditebang tanpa kendali, kehidupan akan terganggu. Karena itu mereka menciptakan simbol untuk menahan diri, menciptakan ritual untuk mengingatkan pentingnya keseimbangan, dan menciptakan pantangan untuk mengatur perilaku.

Dalam konteks modern, nilai-nilai itu tetap relevan. Bahkan semakin penting. Dunia menghadapi krisis lingkungan. Perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman flora dan fauna menjadi ancaman nyata. Bali sendiri merasakan dampaknya: banjir sering terjadi, suhu udara naik, air bersih berkurang. Dalam situasi seperti ini, kearifan leluhur tidak hanya layak dihargai, tetapi juga perlu diterapkan kembali. Simbol seperti kain poleng dapat menjadi pengingat bahwa kita perlu kembali merawat dan menghormati alam. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: hinduHindu Balipohon
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Secangkir Kopi Guru Jurnalistik 

Next Post

Jejak Silang Peradaban: Dari Bindusara ke Al Biruni dan Pertautan Kebijaksanaan Timur–Barat

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Jejak Silang Peradaban: Dari Bindusara ke Al Biruni dan Pertautan Kebijaksanaan Timur–Barat

Jejak Silang Peradaban: Dari Bindusara ke Al Biruni dan Pertautan Kebijaksanaan Timur–Barat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co