22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pohon Berbalut Kain ‘Poleng’ dan Pesan yang Terlupakan

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 9, 2025
in Esai
Pohon Berbalut Kain ‘Poleng’ dan Pesan yang Terlupakan

Ilustrasi: tatkala.co/Dede│Dibuat dengan Canva

ORANG Bali kerap dipandang aneh oleh sebagian orang luar, terutama oleh mereka yang belum memahami budaya setempat secara mendalam. Salah satu hal yang kerap memancing komentar ialah kebiasaan memasang kain poleng ─ kain bercorak hitam-putih ─ pada pohon-pohon tertentu. Ada pihak yang menganggap tindakan itu musrik, aneh, atau terlalu dipengaruhi hal-hal gaib. Ada pula yang menilainya sekadar ritual kuno tanpa relevansi bagi kehidupan masa kini. Namun pandangan semacam itu kerap muncul karena tidak adanya pemahaman akan konteks budaya dan filosofi yang melatarbelakanginya.

Para tetua atau leluhur terdahulu tentu memiliki alasan khusus mengapa mereka melakukan itu, meskipun tidak semuanya disampaikan secara tersurat. Tradisi dalam masyarakat Bali acap kali tidak dijelaskan melalui kalimat langsung, melainkan diwariskan melalui praktik, simbol, serta ritual yang terus diulang. Banyak di antaranya berkaitan dengan konsep keseimbangan alam, penghormatan terhadap kehidupan, dan pemahaman mendalam mengenai hubungan manusia dengan lingkungannya ─ palemahan.

Secara eksplisit, praktik memasang kain poleng pada pohon memang kerap dikaitkan dengan hal-hal gaib atau mistis. Penjelasan tradisional sering menghubungkannya dengan penjaga pohon, aura spiritual, atau kekuatan tak kasat mata. Dalam pandangan manusia modern, hal-hal semacam ini dianggap tidak masuk akal. Namun, perlu diingat pada masa lalu masyarakat memberi tempat besar bagi mitos dan takhayul. Mereka mengandalkan cerita leluhur untuk menjaga harmoni hidup, termasuk hubungan dengan alam. Keyakinan itu menjadi cara untuk menanamkan rasa takut melanggar aturan dan rasa hormat terhadap sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.

Jika ditelisik sekarang, bisa jadi praktik semacam itu menyimpan makna ekologis yang sangat penting. Kain poleng itu barangkali menjadi cara leluhur menghargai pohon agar tidak diperlakukan sembarangan oleh generasi berikutnya. Sebuah tanda sederhana yang berfungsi sebagai pengingat: pohon adalah makhluk hidup yang patut dihormati. Dalam masyarakat tradisional, simbol digunakan untuk menanamkan rasa awas. Dengan menandai pohon menggunakan kain poleng, orang akan berpikir dua kali sebelum menebang, kencing sembarangan, atau memperlakukannya tanpa pertimbangan.

Penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, termasuk tumbuhan, memang menjadi bagian dari filosofi Bali. Dalam pandangan lokal, keberadaan manusia bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Manusia hidup berdampingan dengan tumbuh-tumbuhan, hewan, roh leluhur, dan kekuatan alam. Semua unsur berada dalam satu jaringan kehidupan, sehingga harmoni harus dijaga. Filosofi ini tidak hanya diwujudkan melalui sikap sehari-hari, tetapi juga melalui upacara yang teratur dan sakral.

Salah satu upacara khusus yang berkaitan dengan penghormatan terhadap tumbuh-tumbuhan adalah Tumpek Wariga, sering juga disebut Tumpek Bubuh atau Tumpek Pengatag. Upacara ini dirayakan setiap enam bulan sekali, tepatnya dua puluh lima hari sebelum Galungan. Pada hari inilah masyarakat memuja Dewa Sangkara, sosok yang dipandang sebagai penguasa kesuburan atau tumbuh-tumbuhan. Tradisi ini menunjukkan betapa berharganya pohon bagi kehidupan masyarakat Bali. Upacara tersebut tidak hanya berupa simbol spiritual, tetapi juga wujud rasa terima kasih terhadap sumber kehidupan.

Pada hari Tumpek Wariga terdapat pantangan tertentu, misalnya larangan menebang pohon atau memetik hasil tanaman. Hari ini dianggap sebagai hari untuk menyapa tumbuhan, memberikan doa, dan menyampaikan harapan agar pohon terus memberi kesuburan. Tradisi ini mencerminkan kesadaran ekologis yang kuat. Masyarakat diminta berhenti sejenak dari aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan, untuk kemudian memberi ruang bagi alam bernapas. Sebuah jeda spiritual yang sekaligus menjadi jeda ekologis.

Selain itu, Bali juga mengenal aturan tidak tertulis mengenai pembangunan. Ada prinsip bahwa bangunan tidak boleh lebih tinggi dari pohon kelapa. Dalam beberapa penafsiran, tingginya dibatasi hingga sekitar lima belas meter demi menjaga keharmonisan antara lanskap alam dan spiritualitas. Prinsip ini pada dasarnya ingin memastikan manusia tidak melampaui batas alam, tidak rakus, dan tidak menempatkan kepentingan materi di atas keseimbangan lingkungan. Namun kenyataan sekarang berbeda. Seiring berkembangnya pariwisata dan pertumbuhan ekonomi, aturan ini mulai diabaikan. Gedung-gedung pencakar langit menjulang, mal-mal dibangun semakin besar, dan hotel-hotel tumbuh tanpa kendali. Pemandangan Bali perlahan berubah, dari pulau yang lekat dengan kesederhanaan alam, menjadi tempat yang kian padat oleh beton.

Di tengah kondisi modern ini, muncul pertanyaan penting: masihkah orang menghormati tumbuh-tumbuhan? Barangkali banyak yang mulai melupakan nilai itu. Penebangan liar terjadi di berbagai tempat. Lahan hijau hilang digantikan bangunan dan permukiman. Tumbuhan sintetis justru semakin banyak dipelihara karena dianggap praktis dan tidak membutuhkan perawatan. Sementara itu tumbuh-tumbuhan asli sering dieksploitasi. Ada yang diberi obat-obatan agar cepat berbuah, atau dipaksa tumbuh di luar ritme alam demi memenuhi kebutuhan ekonomi.

Praktik seperti ini memperlihatkan bergesernya hubungan manusia dengan alam. Jika dahulu ada rasa hormat, kini yang lebih tampak ialah rasa ingin menguasai. Pohon tak lagi dilihat sebagai makhluk hidup yang perlu dijaga, melainkan sebagai objek produksi. Sikap ini berbeda jauh dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh leluhur. Bagi para tetua, pohon bukan sekadar sumber materi, tetapi penjaga kehidupan. Melukai pohon sama dengan melukai keseimbangan yang menopang manusia itu sendiri.

Mungkin benar bahwa orang tua terdahulu lebih menghormati lingkungan sekitarnya. Mereka lebih menyadari bahwa manusia tidak akan hidup tanpa pohon, air, tanah, dan hewan. Kehidupan mereka bergantung pada alam yang bersih dan sehat. Mereka memahami bahwa roh kehidupan tinggal dalam setiap unsur alam. Karena itu mereka menjaga hubungan tersebut dengan penuh kehati-hatian. Mereka menandai pohon dengan kain, bukan untuk menakuti, melainkan untuk mengingatkan diri sendiri agar selalu menghormati keberadaannya. Mereka merawat tumbuh-tumbuhan dengan ritual, bukan hanya sebagai simbol religius, tetapi juga sebagai cara menjaga kesinambungan hidup.

Jika dibandingkan dengan masa kini, pendekatan itu terasa jauh lebih halus dan penuh makna. Hari ini banyak orang lebih suka memasang spanduk atau poster di pepohonan untuk berbagai kepentingan, yang malah mengotori lingkungan. Kain poleng yang dulu dipasang dengan penuh rasa hormat kini sering dipandang sebagai tanda irasionalitas. Padahal kain itu menunjukkan upaya menjaga alam dengan cara yang sangat lembut dan penuh penghargaan. Ada pesan besar di balik kesederhanaannya: alam bukan benda mati. Alam perlu dijaga, dihormati, dan diperlakukan sebagai bagian dari keluarga besar kehidupan.

Tradisi menghormati pohon sebetulnya bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga pengetahuan ekologis yang lahir dari pengalaman panjang. Leluhur Bali memahami bahwa jika alam rusak, manusia akan ikut rusak. Jika pohon ditebang tanpa kendali, kehidupan akan terganggu. Karena itu mereka menciptakan simbol untuk menahan diri, menciptakan ritual untuk mengingatkan pentingnya keseimbangan, dan menciptakan pantangan untuk mengatur perilaku.

Dalam konteks modern, nilai-nilai itu tetap relevan. Bahkan semakin penting. Dunia menghadapi krisis lingkungan. Perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman flora dan fauna menjadi ancaman nyata. Bali sendiri merasakan dampaknya: banjir sering terjadi, suhu udara naik, air bersih berkurang. Dalam situasi seperti ini, kearifan leluhur tidak hanya layak dihargai, tetapi juga perlu diterapkan kembali. Simbol seperti kain poleng dapat menjadi pengingat bahwa kita perlu kembali merawat dan menghormati alam. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: hinduHindu Balipohon
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Secangkir Kopi Guru Jurnalistik 

Next Post

Jejak Silang Peradaban: Dari Bindusara ke Al Biruni dan Pertautan Kebijaksanaan Timur–Barat

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

by Angga Wijaya
June 18, 2026
0
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

Read moreDetails
Next Post
Jejak Silang Peradaban: Dari Bindusara ke Al Biruni dan Pertautan Kebijaksanaan Timur–Barat

Jejak Silang Peradaban: Dari Bindusara ke Al Biruni dan Pertautan Kebijaksanaan Timur–Barat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total
Panggung

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi
Ulas Musik

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   
Esai

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!
Khas

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital
Esai

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

by Angga Wijaya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co