1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pohon Berbalut Kain ‘Poleng’ dan Pesan yang Terlupakan

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 9, 2025
in Esai
Pohon Berbalut Kain ‘Poleng’ dan Pesan yang Terlupakan

Ilustrasi: tatkala.co/Dede│Dibuat dengan Canva

ORANG Bali kerap dipandang aneh oleh sebagian orang luar, terutama oleh mereka yang belum memahami budaya setempat secara mendalam. Salah satu hal yang kerap memancing komentar ialah kebiasaan memasang kain poleng ─ kain bercorak hitam-putih ─ pada pohon-pohon tertentu. Ada pihak yang menganggap tindakan itu musrik, aneh, atau terlalu dipengaruhi hal-hal gaib. Ada pula yang menilainya sekadar ritual kuno tanpa relevansi bagi kehidupan masa kini. Namun pandangan semacam itu kerap muncul karena tidak adanya pemahaman akan konteks budaya dan filosofi yang melatarbelakanginya.

Para tetua atau leluhur terdahulu tentu memiliki alasan khusus mengapa mereka melakukan itu, meskipun tidak semuanya disampaikan secara tersurat. Tradisi dalam masyarakat Bali acap kali tidak dijelaskan melalui kalimat langsung, melainkan diwariskan melalui praktik, simbol, serta ritual yang terus diulang. Banyak di antaranya berkaitan dengan konsep keseimbangan alam, penghormatan terhadap kehidupan, dan pemahaman mendalam mengenai hubungan manusia dengan lingkungannya ─ palemahan.

Secara eksplisit, praktik memasang kain poleng pada pohon memang kerap dikaitkan dengan hal-hal gaib atau mistis. Penjelasan tradisional sering menghubungkannya dengan penjaga pohon, aura spiritual, atau kekuatan tak kasat mata. Dalam pandangan manusia modern, hal-hal semacam ini dianggap tidak masuk akal. Namun, perlu diingat pada masa lalu masyarakat memberi tempat besar bagi mitos dan takhayul. Mereka mengandalkan cerita leluhur untuk menjaga harmoni hidup, termasuk hubungan dengan alam. Keyakinan itu menjadi cara untuk menanamkan rasa takut melanggar aturan dan rasa hormat terhadap sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.

Jika ditelisik sekarang, bisa jadi praktik semacam itu menyimpan makna ekologis yang sangat penting. Kain poleng itu barangkali menjadi cara leluhur menghargai pohon agar tidak diperlakukan sembarangan oleh generasi berikutnya. Sebuah tanda sederhana yang berfungsi sebagai pengingat: pohon adalah makhluk hidup yang patut dihormati. Dalam masyarakat tradisional, simbol digunakan untuk menanamkan rasa awas. Dengan menandai pohon menggunakan kain poleng, orang akan berpikir dua kali sebelum menebang, kencing sembarangan, atau memperlakukannya tanpa pertimbangan.

Penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, termasuk tumbuhan, memang menjadi bagian dari filosofi Bali. Dalam pandangan lokal, keberadaan manusia bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Manusia hidup berdampingan dengan tumbuh-tumbuhan, hewan, roh leluhur, dan kekuatan alam. Semua unsur berada dalam satu jaringan kehidupan, sehingga harmoni harus dijaga. Filosofi ini tidak hanya diwujudkan melalui sikap sehari-hari, tetapi juga melalui upacara yang teratur dan sakral.

Salah satu upacara khusus yang berkaitan dengan penghormatan terhadap tumbuh-tumbuhan adalah Tumpek Wariga, sering juga disebut Tumpek Bubuh atau Tumpek Pengatag. Upacara ini dirayakan setiap enam bulan sekali, tepatnya dua puluh lima hari sebelum Galungan. Pada hari inilah masyarakat memuja Dewa Sangkara, sosok yang dipandang sebagai penguasa kesuburan atau tumbuh-tumbuhan. Tradisi ini menunjukkan betapa berharganya pohon bagi kehidupan masyarakat Bali. Upacara tersebut tidak hanya berupa simbol spiritual, tetapi juga wujud rasa terima kasih terhadap sumber kehidupan.

Pada hari Tumpek Wariga terdapat pantangan tertentu, misalnya larangan menebang pohon atau memetik hasil tanaman. Hari ini dianggap sebagai hari untuk menyapa tumbuhan, memberikan doa, dan menyampaikan harapan agar pohon terus memberi kesuburan. Tradisi ini mencerminkan kesadaran ekologis yang kuat. Masyarakat diminta berhenti sejenak dari aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan, untuk kemudian memberi ruang bagi alam bernapas. Sebuah jeda spiritual yang sekaligus menjadi jeda ekologis.

Selain itu, Bali juga mengenal aturan tidak tertulis mengenai pembangunan. Ada prinsip bahwa bangunan tidak boleh lebih tinggi dari pohon kelapa. Dalam beberapa penafsiran, tingginya dibatasi hingga sekitar lima belas meter demi menjaga keharmonisan antara lanskap alam dan spiritualitas. Prinsip ini pada dasarnya ingin memastikan manusia tidak melampaui batas alam, tidak rakus, dan tidak menempatkan kepentingan materi di atas keseimbangan lingkungan. Namun kenyataan sekarang berbeda. Seiring berkembangnya pariwisata dan pertumbuhan ekonomi, aturan ini mulai diabaikan. Gedung-gedung pencakar langit menjulang, mal-mal dibangun semakin besar, dan hotel-hotel tumbuh tanpa kendali. Pemandangan Bali perlahan berubah, dari pulau yang lekat dengan kesederhanaan alam, menjadi tempat yang kian padat oleh beton.

Di tengah kondisi modern ini, muncul pertanyaan penting: masihkah orang menghormati tumbuh-tumbuhan? Barangkali banyak yang mulai melupakan nilai itu. Penebangan liar terjadi di berbagai tempat. Lahan hijau hilang digantikan bangunan dan permukiman. Tumbuhan sintetis justru semakin banyak dipelihara karena dianggap praktis dan tidak membutuhkan perawatan. Sementara itu tumbuh-tumbuhan asli sering dieksploitasi. Ada yang diberi obat-obatan agar cepat berbuah, atau dipaksa tumbuh di luar ritme alam demi memenuhi kebutuhan ekonomi.

Praktik seperti ini memperlihatkan bergesernya hubungan manusia dengan alam. Jika dahulu ada rasa hormat, kini yang lebih tampak ialah rasa ingin menguasai. Pohon tak lagi dilihat sebagai makhluk hidup yang perlu dijaga, melainkan sebagai objek produksi. Sikap ini berbeda jauh dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh leluhur. Bagi para tetua, pohon bukan sekadar sumber materi, tetapi penjaga kehidupan. Melukai pohon sama dengan melukai keseimbangan yang menopang manusia itu sendiri.

Mungkin benar bahwa orang tua terdahulu lebih menghormati lingkungan sekitarnya. Mereka lebih menyadari bahwa manusia tidak akan hidup tanpa pohon, air, tanah, dan hewan. Kehidupan mereka bergantung pada alam yang bersih dan sehat. Mereka memahami bahwa roh kehidupan tinggal dalam setiap unsur alam. Karena itu mereka menjaga hubungan tersebut dengan penuh kehati-hatian. Mereka menandai pohon dengan kain, bukan untuk menakuti, melainkan untuk mengingatkan diri sendiri agar selalu menghormati keberadaannya. Mereka merawat tumbuh-tumbuhan dengan ritual, bukan hanya sebagai simbol religius, tetapi juga sebagai cara menjaga kesinambungan hidup.

Jika dibandingkan dengan masa kini, pendekatan itu terasa jauh lebih halus dan penuh makna. Hari ini banyak orang lebih suka memasang spanduk atau poster di pepohonan untuk berbagai kepentingan, yang malah mengotori lingkungan. Kain poleng yang dulu dipasang dengan penuh rasa hormat kini sering dipandang sebagai tanda irasionalitas. Padahal kain itu menunjukkan upaya menjaga alam dengan cara yang sangat lembut dan penuh penghargaan. Ada pesan besar di balik kesederhanaannya: alam bukan benda mati. Alam perlu dijaga, dihormati, dan diperlakukan sebagai bagian dari keluarga besar kehidupan.

Tradisi menghormati pohon sebetulnya bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga pengetahuan ekologis yang lahir dari pengalaman panjang. Leluhur Bali memahami bahwa jika alam rusak, manusia akan ikut rusak. Jika pohon ditebang tanpa kendali, kehidupan akan terganggu. Karena itu mereka menciptakan simbol untuk menahan diri, menciptakan ritual untuk mengingatkan pentingnya keseimbangan, dan menciptakan pantangan untuk mengatur perilaku.

Dalam konteks modern, nilai-nilai itu tetap relevan. Bahkan semakin penting. Dunia menghadapi krisis lingkungan. Perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman flora dan fauna menjadi ancaman nyata. Bali sendiri merasakan dampaknya: banjir sering terjadi, suhu udara naik, air bersih berkurang. Dalam situasi seperti ini, kearifan leluhur tidak hanya layak dihargai, tetapi juga perlu diterapkan kembali. Simbol seperti kain poleng dapat menjadi pengingat bahwa kita perlu kembali merawat dan menghormati alam. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: hinduHindu Balipohon
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Secangkir Kopi Guru Jurnalistik 

Next Post

Jejak Silang Peradaban: Dari Bindusara ke Al Biruni dan Pertautan Kebijaksanaan Timur–Barat

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Jejak Silang Peradaban: Dari Bindusara ke Al Biruni dan Pertautan Kebijaksanaan Timur–Barat

Jejak Silang Peradaban: Dari Bindusara ke Al Biruni dan Pertautan Kebijaksanaan Timur–Barat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co