22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pohon Berbalut Kain ‘Poleng’ dan Pesan yang Terlupakan

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 9, 2025
in Esai
Pohon Berbalut Kain ‘Poleng’ dan Pesan yang Terlupakan

Ilustrasi: tatkala.co/Dede│Dibuat dengan Canva

ORANG Bali kerap dipandang aneh oleh sebagian orang luar, terutama oleh mereka yang belum memahami budaya setempat secara mendalam. Salah satu hal yang kerap memancing komentar ialah kebiasaan memasang kain poleng ─ kain bercorak hitam-putih ─ pada pohon-pohon tertentu. Ada pihak yang menganggap tindakan itu musrik, aneh, atau terlalu dipengaruhi hal-hal gaib. Ada pula yang menilainya sekadar ritual kuno tanpa relevansi bagi kehidupan masa kini. Namun pandangan semacam itu kerap muncul karena tidak adanya pemahaman akan konteks budaya dan filosofi yang melatarbelakanginya.

Para tetua atau leluhur terdahulu tentu memiliki alasan khusus mengapa mereka melakukan itu, meskipun tidak semuanya disampaikan secara tersurat. Tradisi dalam masyarakat Bali acap kali tidak dijelaskan melalui kalimat langsung, melainkan diwariskan melalui praktik, simbol, serta ritual yang terus diulang. Banyak di antaranya berkaitan dengan konsep keseimbangan alam, penghormatan terhadap kehidupan, dan pemahaman mendalam mengenai hubungan manusia dengan lingkungannya ─ palemahan.

Secara eksplisit, praktik memasang kain poleng pada pohon memang kerap dikaitkan dengan hal-hal gaib atau mistis. Penjelasan tradisional sering menghubungkannya dengan penjaga pohon, aura spiritual, atau kekuatan tak kasat mata. Dalam pandangan manusia modern, hal-hal semacam ini dianggap tidak masuk akal. Namun, perlu diingat pada masa lalu masyarakat memberi tempat besar bagi mitos dan takhayul. Mereka mengandalkan cerita leluhur untuk menjaga harmoni hidup, termasuk hubungan dengan alam. Keyakinan itu menjadi cara untuk menanamkan rasa takut melanggar aturan dan rasa hormat terhadap sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.

Jika ditelisik sekarang, bisa jadi praktik semacam itu menyimpan makna ekologis yang sangat penting. Kain poleng itu barangkali menjadi cara leluhur menghargai pohon agar tidak diperlakukan sembarangan oleh generasi berikutnya. Sebuah tanda sederhana yang berfungsi sebagai pengingat: pohon adalah makhluk hidup yang patut dihormati. Dalam masyarakat tradisional, simbol digunakan untuk menanamkan rasa awas. Dengan menandai pohon menggunakan kain poleng, orang akan berpikir dua kali sebelum menebang, kencing sembarangan, atau memperlakukannya tanpa pertimbangan.

Penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, termasuk tumbuhan, memang menjadi bagian dari filosofi Bali. Dalam pandangan lokal, keberadaan manusia bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Manusia hidup berdampingan dengan tumbuh-tumbuhan, hewan, roh leluhur, dan kekuatan alam. Semua unsur berada dalam satu jaringan kehidupan, sehingga harmoni harus dijaga. Filosofi ini tidak hanya diwujudkan melalui sikap sehari-hari, tetapi juga melalui upacara yang teratur dan sakral.

Salah satu upacara khusus yang berkaitan dengan penghormatan terhadap tumbuh-tumbuhan adalah Tumpek Wariga, sering juga disebut Tumpek Bubuh atau Tumpek Pengatag. Upacara ini dirayakan setiap enam bulan sekali, tepatnya dua puluh lima hari sebelum Galungan. Pada hari inilah masyarakat memuja Dewa Sangkara, sosok yang dipandang sebagai penguasa kesuburan atau tumbuh-tumbuhan. Tradisi ini menunjukkan betapa berharganya pohon bagi kehidupan masyarakat Bali. Upacara tersebut tidak hanya berupa simbol spiritual, tetapi juga wujud rasa terima kasih terhadap sumber kehidupan.

Pada hari Tumpek Wariga terdapat pantangan tertentu, misalnya larangan menebang pohon atau memetik hasil tanaman. Hari ini dianggap sebagai hari untuk menyapa tumbuhan, memberikan doa, dan menyampaikan harapan agar pohon terus memberi kesuburan. Tradisi ini mencerminkan kesadaran ekologis yang kuat. Masyarakat diminta berhenti sejenak dari aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan, untuk kemudian memberi ruang bagi alam bernapas. Sebuah jeda spiritual yang sekaligus menjadi jeda ekologis.

Selain itu, Bali juga mengenal aturan tidak tertulis mengenai pembangunan. Ada prinsip bahwa bangunan tidak boleh lebih tinggi dari pohon kelapa. Dalam beberapa penafsiran, tingginya dibatasi hingga sekitar lima belas meter demi menjaga keharmonisan antara lanskap alam dan spiritualitas. Prinsip ini pada dasarnya ingin memastikan manusia tidak melampaui batas alam, tidak rakus, dan tidak menempatkan kepentingan materi di atas keseimbangan lingkungan. Namun kenyataan sekarang berbeda. Seiring berkembangnya pariwisata dan pertumbuhan ekonomi, aturan ini mulai diabaikan. Gedung-gedung pencakar langit menjulang, mal-mal dibangun semakin besar, dan hotel-hotel tumbuh tanpa kendali. Pemandangan Bali perlahan berubah, dari pulau yang lekat dengan kesederhanaan alam, menjadi tempat yang kian padat oleh beton.

Di tengah kondisi modern ini, muncul pertanyaan penting: masihkah orang menghormati tumbuh-tumbuhan? Barangkali banyak yang mulai melupakan nilai itu. Penebangan liar terjadi di berbagai tempat. Lahan hijau hilang digantikan bangunan dan permukiman. Tumbuhan sintetis justru semakin banyak dipelihara karena dianggap praktis dan tidak membutuhkan perawatan. Sementara itu tumbuh-tumbuhan asli sering dieksploitasi. Ada yang diberi obat-obatan agar cepat berbuah, atau dipaksa tumbuh di luar ritme alam demi memenuhi kebutuhan ekonomi.

Praktik seperti ini memperlihatkan bergesernya hubungan manusia dengan alam. Jika dahulu ada rasa hormat, kini yang lebih tampak ialah rasa ingin menguasai. Pohon tak lagi dilihat sebagai makhluk hidup yang perlu dijaga, melainkan sebagai objek produksi. Sikap ini berbeda jauh dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh leluhur. Bagi para tetua, pohon bukan sekadar sumber materi, tetapi penjaga kehidupan. Melukai pohon sama dengan melukai keseimbangan yang menopang manusia itu sendiri.

Mungkin benar bahwa orang tua terdahulu lebih menghormati lingkungan sekitarnya. Mereka lebih menyadari bahwa manusia tidak akan hidup tanpa pohon, air, tanah, dan hewan. Kehidupan mereka bergantung pada alam yang bersih dan sehat. Mereka memahami bahwa roh kehidupan tinggal dalam setiap unsur alam. Karena itu mereka menjaga hubungan tersebut dengan penuh kehati-hatian. Mereka menandai pohon dengan kain, bukan untuk menakuti, melainkan untuk mengingatkan diri sendiri agar selalu menghormati keberadaannya. Mereka merawat tumbuh-tumbuhan dengan ritual, bukan hanya sebagai simbol religius, tetapi juga sebagai cara menjaga kesinambungan hidup.

Jika dibandingkan dengan masa kini, pendekatan itu terasa jauh lebih halus dan penuh makna. Hari ini banyak orang lebih suka memasang spanduk atau poster di pepohonan untuk berbagai kepentingan, yang malah mengotori lingkungan. Kain poleng yang dulu dipasang dengan penuh rasa hormat kini sering dipandang sebagai tanda irasionalitas. Padahal kain itu menunjukkan upaya menjaga alam dengan cara yang sangat lembut dan penuh penghargaan. Ada pesan besar di balik kesederhanaannya: alam bukan benda mati. Alam perlu dijaga, dihormati, dan diperlakukan sebagai bagian dari keluarga besar kehidupan.

Tradisi menghormati pohon sebetulnya bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga pengetahuan ekologis yang lahir dari pengalaman panjang. Leluhur Bali memahami bahwa jika alam rusak, manusia akan ikut rusak. Jika pohon ditebang tanpa kendali, kehidupan akan terganggu. Karena itu mereka menciptakan simbol untuk menahan diri, menciptakan ritual untuk mengingatkan pentingnya keseimbangan, dan menciptakan pantangan untuk mengatur perilaku.

Dalam konteks modern, nilai-nilai itu tetap relevan. Bahkan semakin penting. Dunia menghadapi krisis lingkungan. Perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman flora dan fauna menjadi ancaman nyata. Bali sendiri merasakan dampaknya: banjir sering terjadi, suhu udara naik, air bersih berkurang. Dalam situasi seperti ini, kearifan leluhur tidak hanya layak dihargai, tetapi juga perlu diterapkan kembali. Simbol seperti kain poleng dapat menjadi pengingat bahwa kita perlu kembali merawat dan menghormati alam. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: hinduHindu Balipohon
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Secangkir Kopi Guru Jurnalistik 

Next Post

Jejak Silang Peradaban: Dari Bindusara ke Al Biruni dan Pertautan Kebijaksanaan Timur–Barat

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Jejak Silang Peradaban: Dari Bindusara ke Al Biruni dan Pertautan Kebijaksanaan Timur–Barat

Jejak Silang Peradaban: Dari Bindusara ke Al Biruni dan Pertautan Kebijaksanaan Timur–Barat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co