3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Nangluk Marana’, Akan Sampai Kapan?

IGP Weda Adi Wangsa by IGP Weda Adi Wangsa
December 1, 2025
in Khas
‘Nangluk Marana’, Akan Sampai Kapan?

Ritus Nangluk Marana atau Ngunya Desa di Desa Adat Beringkit

SETELAH merayakan Hari Suci Kuningan seluruh masyarakat Desa Adat Beringkit-Mengwi bersiap-siap untuk melaksanakan ritus penting yakni Nangluk Marana atau Ngunya Desa. Nangluk Marana atau di Desa Beringkit sering disebut ngunya desa merupakan jenis ritus yang sering dilakukan pada sasih/bulan tertentu yang diyakini sebagai waktu datangnya suatu wabah.

Biasanya ritus ini dilakukan pada sasih kanem, dan bertepatan dengan hari kajeng kliwon. Oleh sebab itulah Desa Adat Beringkit melaksanakan kegiatan ini pada hari suci Kuningan yang bertepatan dengan hari kajeng kliwon. Ngunya desa dilakukan dengan mengiringi Ida Bhatara berupa tapakan menuju area persawahan dan batas-batas desa.

 Menurut penuturan para tetua, selain untuk memohon keselamatan desa dan masyarakat ritus ini lebih dimaksudkan untuk krama subak. Sebab dahulu ketika sasih kanem sangat banyak terdapat wabah yang menyerang lahan pertanian. Sehingga untuk meredam amarah para wereng (virus imaterial) masyarakat memohon kehadapan Ida Bhatara agar berkenan turun untuk memberikan anugrahnya melalui tirta.

Namun, masalah yang muncul saat ini adalah munculnya satu virus baru yang berwujud sekala (material) yakni sampah dan ketamakan. Saya sebagai pengayah telah mengikuti ritus ini dari kelas 2 SMA. Saat itu lahan pertanian di wilayah Beringkit masih cukup luas dan aktif. Namun kini setelah sekian tahun, secara perlahan perubahan tersebut sangat masif.

 Saya masih teringat dahulu di wilayah Banjar Pengadangan-Beringkit, di sebelah utara Pura Dalem Lagaan, adalah sawah yang cukup luas. Namun saat ini sudah berdiri bangunan permanen yang katanya adalah “villa”. Kemudian di sebelah timur Pura Beji Beringkit, dahulunya adalah tegalan yang sepertinya ditanami pohon pisang, saat ini telah menjadi ruko/kios yang masih dalam tahap pengerjaan.

Kemudian di wilayah lainnya yang dahulu adalah persawahan kini beralih fungsi menjadi bangunan. Pertanyaannya, jika dahulu Nangkluk Marana dipusatkan atau diperuntukkan untuk subak, ketika lambat laun subak hilang, tentu wabah yang bersumber dari sawah akan hilang.

Ke mana upacara ini akan dilakukan? Bukankah pada teks lontar Rogha Sanghara Bhumi wabah dikatakan datang dari sawah? Kalau memang demikian sangat mungkin ritus nangluk marana sedikit demi sedikit akan ditinggalkan. Atau jika upacaranya tidak hilang, apakah akan  menjadi formalitas belaka untuk sekedar wacana Tri Hita Karana?

Prosesi Nangluk Marana di Desa Adat Beringkit

Kekhawatiran tersebut disebabkan oleh realita. Sedemikian banyaknya proses alih fungsi lahan dan mulai punanhnya kesadaran menjaga lingkungan. Saya sendiri bukan seorang petani, atau tuan tanah yang memiliki puluhan atau minimal 1 are tanah. Namun, walaupun tanah-tanah di Beringkit tidak milik saya secara administratif, rasa takut akan mimpi buruk itu selalu ada.

Terlebih saat ini, rute perjalanan Ngunya sudah diperpendek. Dahulu kami dapat menempuh perjalanan hingga 5 Km. Rute pertama dimulai dari Pura Desa menuju Temuku Aya, di sebelah barat Pura Dalem Beringkit. Disana beberapa krama Subak Batan Asem dan krama Banjar Kelod Kauh akan menghaturkan prani atau sesajen. Kemudian dari Temuku Aya berlanjut ke arah selatan menuju Banjar Gegadon-kini secara administrarif dan adat menjadi miliki Desa Kapal, namun secara pengairan Subak masih bernaung di bawah Subak Batan Asem Beringkit-disana krama yang menjadi bagian dari Subak akan menghaturkan sesajen.

Namun saat ini rute ke Banjar Gegadon dipotong, hanya sampai Temuku Aya. Sehingga dari Temuku Aya ke arah utara menuju Banjar Selat, dari Banjar Selat berlanjut ke arah Banjar Pengadangan di banjar Pengadangan inilah Ida Bhatara simpang (singgah) di beberapa pura. Pura yang menjadi titik sentral adalah Pura Penghulu sebagai pusat Subak di Beringkit. Dari Pura Penghulu lanjut ke arah barat menyusuri medan sawah yang cukup ekstrim menuju pura yang terletak di Banjar Dukuh Gong- Mengwitani. Di Pura ini para krama pengempon pura menghaturkan prani berupa buah-buahan serta labaan atau penyamleh (persembahan untuk makhluk bawahan) berupa satu ekor itik.

Prosesi menghaturkan labaan atau penyamleh

Dari Banjar Dukuh Gong berlanjut menuju pempatan agung (perempatan) kemudian ke arah utara Desa Beringkit tepat di depan Pasar Hewan Beringkit. Dari sini kemudian berlanjut ke arah Barat menuju perbatasan Beringkit-Mengwitani. Di setiap perbatasan inilah pemangku menghaturkan blabaran agung (sejenis sesajen untuk para makhluk bawahan). Ini adalah rute terakhir, kemudian dari arah barat ke arah timur menuju Pura Desa Beringkit. Sesampainya di jaba pura (area luar pura) sebelum memasuki utamaning mandala (halaman utama pura) kembali dihaturkan blabalaran penyamleh yang dilengkapi dengan satu ekor itik.

Rute tersebut jika dianalogikan, selain menghalau wabah, Ida Bhatara tengah melakukan pemantauan terhadap wilayah kekuasaannya. Sehingga secara ideal ketika seorang “bos besar” akan terjun langsung ke lapangan, sebagai “anak buah” seharusnya mempersiapkan segala yang akan di-crosschek. Jika setelah dipantau banyak adanya penyimpangan, kekotoran, perubahan negatif yang begitu masif mungkin kita akan dimarahi oleh “bos besar” itu.

Tapi apakah mungkin ketika “bos besar” kita adalah Ida Bhatara yang dikenal maha penyayang dan maha pemaaf akan memarahi kita? Tentu tidak. Atau pun ketika beliau marah atau bendu menurut penafsiran kita melalui bencana alam yang terjadi, dengan mudah kita dapat menghaturkan banten bendu piduka. Dengan begitu kita percaya beliau akan memaafkan semua kesalahan. Pertanyaannya semudah itukah, harmonisasi alam dapat dibeli?

Saya kira melalui ngunya setahun sekali dengan berjalan kaki 4 km ini kita semua hendaknya kembali bertanya pada diri sendiri, akankah prosesi ini tetap ada di tengah masifnya alih fungsi lahan? Atau jika lahan subak habis, apa mungkin ini hanya menjadi formalitas belaka untuk narasi pelemahan yang katanya hubungan harmonis manusia dengan alam? Saya kira kita semua wajib menjawab pertanyaan ini.[T]

Penulis: IGP Weda Adi Wangsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Adat BeringkitHindu Balinangkluk meranaupacara hindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Wayan ‘Pacet’ Sudiarsa, Maestro Karawitan yang Menyemai Karya Lewat Gita Semara

Next Post

Dari Australia dan China, Menuju Indonesia Membangun Ruang Digital Berkeadaban dengan Semangat Taman Siswa

IGP Weda Adi Wangsa

IGP Weda Adi Wangsa

I Gusti Putu Weda Adi Wangsa, mahasiswa Prodi Jawa Kuno, FIB Unud. Akun Instagram: igstngrweda_

Related Posts

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dari Australia dan China, Menuju Indonesia Membangun Ruang Digital Berkeadaban dengan Semangat Taman Siswa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co