14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Nangluk Marana’, Akan Sampai Kapan?

IGP Weda Adi Wangsa by IGP Weda Adi Wangsa
December 1, 2025
in Khas
‘Nangluk Marana’, Akan Sampai Kapan?

Ritus Nangluk Marana atau Ngunya Desa di Desa Adat Beringkit

SETELAH merayakan Hari Suci Kuningan seluruh masyarakat Desa Adat Beringkit-Mengwi bersiap-siap untuk melaksanakan ritus penting yakni Nangluk Marana atau Ngunya Desa. Nangluk Marana atau di Desa Beringkit sering disebut ngunya desa merupakan jenis ritus yang sering dilakukan pada sasih/bulan tertentu yang diyakini sebagai waktu datangnya suatu wabah.

Biasanya ritus ini dilakukan pada sasih kanem, dan bertepatan dengan hari kajeng kliwon. Oleh sebab itulah Desa Adat Beringkit melaksanakan kegiatan ini pada hari suci Kuningan yang bertepatan dengan hari kajeng kliwon. Ngunya desa dilakukan dengan mengiringi Ida Bhatara berupa tapakan menuju area persawahan dan batas-batas desa.

 Menurut penuturan para tetua, selain untuk memohon keselamatan desa dan masyarakat ritus ini lebih dimaksudkan untuk krama subak. Sebab dahulu ketika sasih kanem sangat banyak terdapat wabah yang menyerang lahan pertanian. Sehingga untuk meredam amarah para wereng (virus imaterial) masyarakat memohon kehadapan Ida Bhatara agar berkenan turun untuk memberikan anugrahnya melalui tirta.

Namun, masalah yang muncul saat ini adalah munculnya satu virus baru yang berwujud sekala (material) yakni sampah dan ketamakan. Saya sebagai pengayah telah mengikuti ritus ini dari kelas 2 SMA. Saat itu lahan pertanian di wilayah Beringkit masih cukup luas dan aktif. Namun kini setelah sekian tahun, secara perlahan perubahan tersebut sangat masif.

 Saya masih teringat dahulu di wilayah Banjar Pengadangan-Beringkit, di sebelah utara Pura Dalem Lagaan, adalah sawah yang cukup luas. Namun saat ini sudah berdiri bangunan permanen yang katanya adalah “villa”. Kemudian di sebelah timur Pura Beji Beringkit, dahulunya adalah tegalan yang sepertinya ditanami pohon pisang, saat ini telah menjadi ruko/kios yang masih dalam tahap pengerjaan.

Kemudian di wilayah lainnya yang dahulu adalah persawahan kini beralih fungsi menjadi bangunan. Pertanyaannya, jika dahulu Nangkluk Marana dipusatkan atau diperuntukkan untuk subak, ketika lambat laun subak hilang, tentu wabah yang bersumber dari sawah akan hilang.

Ke mana upacara ini akan dilakukan? Bukankah pada teks lontar Rogha Sanghara Bhumi wabah dikatakan datang dari sawah? Kalau memang demikian sangat mungkin ritus nangluk marana sedikit demi sedikit akan ditinggalkan. Atau jika upacaranya tidak hilang, apakah akan  menjadi formalitas belaka untuk sekedar wacana Tri Hita Karana?

Prosesi Nangluk Marana di Desa Adat Beringkit

Kekhawatiran tersebut disebabkan oleh realita. Sedemikian banyaknya proses alih fungsi lahan dan mulai punanhnya kesadaran menjaga lingkungan. Saya sendiri bukan seorang petani, atau tuan tanah yang memiliki puluhan atau minimal 1 are tanah. Namun, walaupun tanah-tanah di Beringkit tidak milik saya secara administratif, rasa takut akan mimpi buruk itu selalu ada.

Terlebih saat ini, rute perjalanan Ngunya sudah diperpendek. Dahulu kami dapat menempuh perjalanan hingga 5 Km. Rute pertama dimulai dari Pura Desa menuju Temuku Aya, di sebelah barat Pura Dalem Beringkit. Disana beberapa krama Subak Batan Asem dan krama Banjar Kelod Kauh akan menghaturkan prani atau sesajen. Kemudian dari Temuku Aya berlanjut ke arah selatan menuju Banjar Gegadon-kini secara administrarif dan adat menjadi miliki Desa Kapal, namun secara pengairan Subak masih bernaung di bawah Subak Batan Asem Beringkit-disana krama yang menjadi bagian dari Subak akan menghaturkan sesajen.

Namun saat ini rute ke Banjar Gegadon dipotong, hanya sampai Temuku Aya. Sehingga dari Temuku Aya ke arah utara menuju Banjar Selat, dari Banjar Selat berlanjut ke arah Banjar Pengadangan di banjar Pengadangan inilah Ida Bhatara simpang (singgah) di beberapa pura. Pura yang menjadi titik sentral adalah Pura Penghulu sebagai pusat Subak di Beringkit. Dari Pura Penghulu lanjut ke arah barat menyusuri medan sawah yang cukup ekstrim menuju pura yang terletak di Banjar Dukuh Gong- Mengwitani. Di Pura ini para krama pengempon pura menghaturkan prani berupa buah-buahan serta labaan atau penyamleh (persembahan untuk makhluk bawahan) berupa satu ekor itik.

Prosesi menghaturkan labaan atau penyamleh

Dari Banjar Dukuh Gong berlanjut menuju pempatan agung (perempatan) kemudian ke arah utara Desa Beringkit tepat di depan Pasar Hewan Beringkit. Dari sini kemudian berlanjut ke arah Barat menuju perbatasan Beringkit-Mengwitani. Di setiap perbatasan inilah pemangku menghaturkan blabaran agung (sejenis sesajen untuk para makhluk bawahan). Ini adalah rute terakhir, kemudian dari arah barat ke arah timur menuju Pura Desa Beringkit. Sesampainya di jaba pura (area luar pura) sebelum memasuki utamaning mandala (halaman utama pura) kembali dihaturkan blabalaran penyamleh yang dilengkapi dengan satu ekor itik.

Rute tersebut jika dianalogikan, selain menghalau wabah, Ida Bhatara tengah melakukan pemantauan terhadap wilayah kekuasaannya. Sehingga secara ideal ketika seorang “bos besar” akan terjun langsung ke lapangan, sebagai “anak buah” seharusnya mempersiapkan segala yang akan di-crosschek. Jika setelah dipantau banyak adanya penyimpangan, kekotoran, perubahan negatif yang begitu masif mungkin kita akan dimarahi oleh “bos besar” itu.

Tapi apakah mungkin ketika “bos besar” kita adalah Ida Bhatara yang dikenal maha penyayang dan maha pemaaf akan memarahi kita? Tentu tidak. Atau pun ketika beliau marah atau bendu menurut penafsiran kita melalui bencana alam yang terjadi, dengan mudah kita dapat menghaturkan banten bendu piduka. Dengan begitu kita percaya beliau akan memaafkan semua kesalahan. Pertanyaannya semudah itukah, harmonisasi alam dapat dibeli?

Saya kira melalui ngunya setahun sekali dengan berjalan kaki 4 km ini kita semua hendaknya kembali bertanya pada diri sendiri, akankah prosesi ini tetap ada di tengah masifnya alih fungsi lahan? Atau jika lahan subak habis, apa mungkin ini hanya menjadi formalitas belaka untuk narasi pelemahan yang katanya hubungan harmonis manusia dengan alam? Saya kira kita semua wajib menjawab pertanyaan ini.[T]

Penulis: IGP Weda Adi Wangsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Adat BeringkitHindu Balinangkluk meranaupacara hindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Wayan ‘Pacet’ Sudiarsa, Maestro Karawitan yang Menyemai Karya Lewat Gita Semara

Next Post

Dari Australia dan China, Menuju Indonesia Membangun Ruang Digital Berkeadaban dengan Semangat Taman Siswa

IGP Weda Adi Wangsa

IGP Weda Adi Wangsa

I Gusti Putu Weda Adi Wangsa, mahasiswa Prodi Jawa Kuno, FIB Unud. Akun Instagram: igstngrweda_

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dari Australia dan China, Menuju Indonesia Membangun Ruang Digital Berkeadaban dengan Semangat Taman Siswa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co