13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Nangluk Marana’, Akan Sampai Kapan?

IGP Weda Adi Wangsa by IGP Weda Adi Wangsa
December 1, 2025
in Khas
‘Nangluk Marana’, Akan Sampai Kapan?

Ritus Nangluk Marana atau Ngunya Desa di Desa Adat Beringkit

SETELAH merayakan Hari Suci Kuningan seluruh masyarakat Desa Adat Beringkit-Mengwi bersiap-siap untuk melaksanakan ritus penting yakni Nangluk Marana atau Ngunya Desa. Nangluk Marana atau di Desa Beringkit sering disebut ngunya desa merupakan jenis ritus yang sering dilakukan pada sasih/bulan tertentu yang diyakini sebagai waktu datangnya suatu wabah.

Biasanya ritus ini dilakukan pada sasih kanem, dan bertepatan dengan hari kajeng kliwon. Oleh sebab itulah Desa Adat Beringkit melaksanakan kegiatan ini pada hari suci Kuningan yang bertepatan dengan hari kajeng kliwon. Ngunya desa dilakukan dengan mengiringi Ida Bhatara berupa tapakan menuju area persawahan dan batas-batas desa.

 Menurut penuturan para tetua, selain untuk memohon keselamatan desa dan masyarakat ritus ini lebih dimaksudkan untuk krama subak. Sebab dahulu ketika sasih kanem sangat banyak terdapat wabah yang menyerang lahan pertanian. Sehingga untuk meredam amarah para wereng (virus imaterial) masyarakat memohon kehadapan Ida Bhatara agar berkenan turun untuk memberikan anugrahnya melalui tirta.

Namun, masalah yang muncul saat ini adalah munculnya satu virus baru yang berwujud sekala (material) yakni sampah dan ketamakan. Saya sebagai pengayah telah mengikuti ritus ini dari kelas 2 SMA. Saat itu lahan pertanian di wilayah Beringkit masih cukup luas dan aktif. Namun kini setelah sekian tahun, secara perlahan perubahan tersebut sangat masif.

 Saya masih teringat dahulu di wilayah Banjar Pengadangan-Beringkit, di sebelah utara Pura Dalem Lagaan, adalah sawah yang cukup luas. Namun saat ini sudah berdiri bangunan permanen yang katanya adalah “villa”. Kemudian di sebelah timur Pura Beji Beringkit, dahulunya adalah tegalan yang sepertinya ditanami pohon pisang, saat ini telah menjadi ruko/kios yang masih dalam tahap pengerjaan.

Kemudian di wilayah lainnya yang dahulu adalah persawahan kini beralih fungsi menjadi bangunan. Pertanyaannya, jika dahulu Nangkluk Marana dipusatkan atau diperuntukkan untuk subak, ketika lambat laun subak hilang, tentu wabah yang bersumber dari sawah akan hilang.

Ke mana upacara ini akan dilakukan? Bukankah pada teks lontar Rogha Sanghara Bhumi wabah dikatakan datang dari sawah? Kalau memang demikian sangat mungkin ritus nangluk marana sedikit demi sedikit akan ditinggalkan. Atau jika upacaranya tidak hilang, apakah akan  menjadi formalitas belaka untuk sekedar wacana Tri Hita Karana?

Prosesi Nangluk Marana di Desa Adat Beringkit

Kekhawatiran tersebut disebabkan oleh realita. Sedemikian banyaknya proses alih fungsi lahan dan mulai punanhnya kesadaran menjaga lingkungan. Saya sendiri bukan seorang petani, atau tuan tanah yang memiliki puluhan atau minimal 1 are tanah. Namun, walaupun tanah-tanah di Beringkit tidak milik saya secara administratif, rasa takut akan mimpi buruk itu selalu ada.

Terlebih saat ini, rute perjalanan Ngunya sudah diperpendek. Dahulu kami dapat menempuh perjalanan hingga 5 Km. Rute pertama dimulai dari Pura Desa menuju Temuku Aya, di sebelah barat Pura Dalem Beringkit. Disana beberapa krama Subak Batan Asem dan krama Banjar Kelod Kauh akan menghaturkan prani atau sesajen. Kemudian dari Temuku Aya berlanjut ke arah selatan menuju Banjar Gegadon-kini secara administrarif dan adat menjadi miliki Desa Kapal, namun secara pengairan Subak masih bernaung di bawah Subak Batan Asem Beringkit-disana krama yang menjadi bagian dari Subak akan menghaturkan sesajen.

Namun saat ini rute ke Banjar Gegadon dipotong, hanya sampai Temuku Aya. Sehingga dari Temuku Aya ke arah utara menuju Banjar Selat, dari Banjar Selat berlanjut ke arah Banjar Pengadangan di banjar Pengadangan inilah Ida Bhatara simpang (singgah) di beberapa pura. Pura yang menjadi titik sentral adalah Pura Penghulu sebagai pusat Subak di Beringkit. Dari Pura Penghulu lanjut ke arah barat menyusuri medan sawah yang cukup ekstrim menuju pura yang terletak di Banjar Dukuh Gong- Mengwitani. Di Pura ini para krama pengempon pura menghaturkan prani berupa buah-buahan serta labaan atau penyamleh (persembahan untuk makhluk bawahan) berupa satu ekor itik.

Prosesi menghaturkan labaan atau penyamleh

Dari Banjar Dukuh Gong berlanjut menuju pempatan agung (perempatan) kemudian ke arah utara Desa Beringkit tepat di depan Pasar Hewan Beringkit. Dari sini kemudian berlanjut ke arah Barat menuju perbatasan Beringkit-Mengwitani. Di setiap perbatasan inilah pemangku menghaturkan blabaran agung (sejenis sesajen untuk para makhluk bawahan). Ini adalah rute terakhir, kemudian dari arah barat ke arah timur menuju Pura Desa Beringkit. Sesampainya di jaba pura (area luar pura) sebelum memasuki utamaning mandala (halaman utama pura) kembali dihaturkan blabalaran penyamleh yang dilengkapi dengan satu ekor itik.

Rute tersebut jika dianalogikan, selain menghalau wabah, Ida Bhatara tengah melakukan pemantauan terhadap wilayah kekuasaannya. Sehingga secara ideal ketika seorang “bos besar” akan terjun langsung ke lapangan, sebagai “anak buah” seharusnya mempersiapkan segala yang akan di-crosschek. Jika setelah dipantau banyak adanya penyimpangan, kekotoran, perubahan negatif yang begitu masif mungkin kita akan dimarahi oleh “bos besar” itu.

Tapi apakah mungkin ketika “bos besar” kita adalah Ida Bhatara yang dikenal maha penyayang dan maha pemaaf akan memarahi kita? Tentu tidak. Atau pun ketika beliau marah atau bendu menurut penafsiran kita melalui bencana alam yang terjadi, dengan mudah kita dapat menghaturkan banten bendu piduka. Dengan begitu kita percaya beliau akan memaafkan semua kesalahan. Pertanyaannya semudah itukah, harmonisasi alam dapat dibeli?

Saya kira melalui ngunya setahun sekali dengan berjalan kaki 4 km ini kita semua hendaknya kembali bertanya pada diri sendiri, akankah prosesi ini tetap ada di tengah masifnya alih fungsi lahan? Atau jika lahan subak habis, apa mungkin ini hanya menjadi formalitas belaka untuk narasi pelemahan yang katanya hubungan harmonis manusia dengan alam? Saya kira kita semua wajib menjawab pertanyaan ini.[T]

Penulis: IGP Weda Adi Wangsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Adat BeringkitHindu Balinangkluk meranaupacara hindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Wayan ‘Pacet’ Sudiarsa, Maestro Karawitan yang Menyemai Karya Lewat Gita Semara

Next Post

Dari Australia dan China, Menuju Indonesia Membangun Ruang Digital Berkeadaban dengan Semangat Taman Siswa

IGP Weda Adi Wangsa

IGP Weda Adi Wangsa

I Gusti Putu Weda Adi Wangsa, mahasiswa Prodi Jawa Kuno, FIB Unud. Akun Instagram: igstngrweda_

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dari Australia dan China, Menuju Indonesia Membangun Ruang Digital Berkeadaban dengan Semangat Taman Siswa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co