2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Nangluk Marana’, Akan Sampai Kapan?

IGP Weda Adi Wangsa by IGP Weda Adi Wangsa
December 1, 2025
in Khas
‘Nangluk Marana’, Akan Sampai Kapan?

Ritus Nangluk Marana atau Ngunya Desa di Desa Adat Beringkit

SETELAH merayakan Hari Suci Kuningan seluruh masyarakat Desa Adat Beringkit-Mengwi bersiap-siap untuk melaksanakan ritus penting yakni Nangluk Marana atau Ngunya Desa. Nangluk Marana atau di Desa Beringkit sering disebut ngunya desa merupakan jenis ritus yang sering dilakukan pada sasih/bulan tertentu yang diyakini sebagai waktu datangnya suatu wabah.

Biasanya ritus ini dilakukan pada sasih kanem, dan bertepatan dengan hari kajeng kliwon. Oleh sebab itulah Desa Adat Beringkit melaksanakan kegiatan ini pada hari suci Kuningan yang bertepatan dengan hari kajeng kliwon. Ngunya desa dilakukan dengan mengiringi Ida Bhatara berupa tapakan menuju area persawahan dan batas-batas desa.

 Menurut penuturan para tetua, selain untuk memohon keselamatan desa dan masyarakat ritus ini lebih dimaksudkan untuk krama subak. Sebab dahulu ketika sasih kanem sangat banyak terdapat wabah yang menyerang lahan pertanian. Sehingga untuk meredam amarah para wereng (virus imaterial) masyarakat memohon kehadapan Ida Bhatara agar berkenan turun untuk memberikan anugrahnya melalui tirta.

Namun, masalah yang muncul saat ini adalah munculnya satu virus baru yang berwujud sekala (material) yakni sampah dan ketamakan. Saya sebagai pengayah telah mengikuti ritus ini dari kelas 2 SMA. Saat itu lahan pertanian di wilayah Beringkit masih cukup luas dan aktif. Namun kini setelah sekian tahun, secara perlahan perubahan tersebut sangat masif.

 Saya masih teringat dahulu di wilayah Banjar Pengadangan-Beringkit, di sebelah utara Pura Dalem Lagaan, adalah sawah yang cukup luas. Namun saat ini sudah berdiri bangunan permanen yang katanya adalah “villa”. Kemudian di sebelah timur Pura Beji Beringkit, dahulunya adalah tegalan yang sepertinya ditanami pohon pisang, saat ini telah menjadi ruko/kios yang masih dalam tahap pengerjaan.

Kemudian di wilayah lainnya yang dahulu adalah persawahan kini beralih fungsi menjadi bangunan. Pertanyaannya, jika dahulu Nangkluk Marana dipusatkan atau diperuntukkan untuk subak, ketika lambat laun subak hilang, tentu wabah yang bersumber dari sawah akan hilang.

Ke mana upacara ini akan dilakukan? Bukankah pada teks lontar Rogha Sanghara Bhumi wabah dikatakan datang dari sawah? Kalau memang demikian sangat mungkin ritus nangluk marana sedikit demi sedikit akan ditinggalkan. Atau jika upacaranya tidak hilang, apakah akan  menjadi formalitas belaka untuk sekedar wacana Tri Hita Karana?

Prosesi Nangluk Marana di Desa Adat Beringkit

Kekhawatiran tersebut disebabkan oleh realita. Sedemikian banyaknya proses alih fungsi lahan dan mulai punanhnya kesadaran menjaga lingkungan. Saya sendiri bukan seorang petani, atau tuan tanah yang memiliki puluhan atau minimal 1 are tanah. Namun, walaupun tanah-tanah di Beringkit tidak milik saya secara administratif, rasa takut akan mimpi buruk itu selalu ada.

Terlebih saat ini, rute perjalanan Ngunya sudah diperpendek. Dahulu kami dapat menempuh perjalanan hingga 5 Km. Rute pertama dimulai dari Pura Desa menuju Temuku Aya, di sebelah barat Pura Dalem Beringkit. Disana beberapa krama Subak Batan Asem dan krama Banjar Kelod Kauh akan menghaturkan prani atau sesajen. Kemudian dari Temuku Aya berlanjut ke arah selatan menuju Banjar Gegadon-kini secara administrarif dan adat menjadi miliki Desa Kapal, namun secara pengairan Subak masih bernaung di bawah Subak Batan Asem Beringkit-disana krama yang menjadi bagian dari Subak akan menghaturkan sesajen.

Namun saat ini rute ke Banjar Gegadon dipotong, hanya sampai Temuku Aya. Sehingga dari Temuku Aya ke arah utara menuju Banjar Selat, dari Banjar Selat berlanjut ke arah Banjar Pengadangan di banjar Pengadangan inilah Ida Bhatara simpang (singgah) di beberapa pura. Pura yang menjadi titik sentral adalah Pura Penghulu sebagai pusat Subak di Beringkit. Dari Pura Penghulu lanjut ke arah barat menyusuri medan sawah yang cukup ekstrim menuju pura yang terletak di Banjar Dukuh Gong- Mengwitani. Di Pura ini para krama pengempon pura menghaturkan prani berupa buah-buahan serta labaan atau penyamleh (persembahan untuk makhluk bawahan) berupa satu ekor itik.

Prosesi menghaturkan labaan atau penyamleh

Dari Banjar Dukuh Gong berlanjut menuju pempatan agung (perempatan) kemudian ke arah utara Desa Beringkit tepat di depan Pasar Hewan Beringkit. Dari sini kemudian berlanjut ke arah Barat menuju perbatasan Beringkit-Mengwitani. Di setiap perbatasan inilah pemangku menghaturkan blabaran agung (sejenis sesajen untuk para makhluk bawahan). Ini adalah rute terakhir, kemudian dari arah barat ke arah timur menuju Pura Desa Beringkit. Sesampainya di jaba pura (area luar pura) sebelum memasuki utamaning mandala (halaman utama pura) kembali dihaturkan blabalaran penyamleh yang dilengkapi dengan satu ekor itik.

Rute tersebut jika dianalogikan, selain menghalau wabah, Ida Bhatara tengah melakukan pemantauan terhadap wilayah kekuasaannya. Sehingga secara ideal ketika seorang “bos besar” akan terjun langsung ke lapangan, sebagai “anak buah” seharusnya mempersiapkan segala yang akan di-crosschek. Jika setelah dipantau banyak adanya penyimpangan, kekotoran, perubahan negatif yang begitu masif mungkin kita akan dimarahi oleh “bos besar” itu.

Tapi apakah mungkin ketika “bos besar” kita adalah Ida Bhatara yang dikenal maha penyayang dan maha pemaaf akan memarahi kita? Tentu tidak. Atau pun ketika beliau marah atau bendu menurut penafsiran kita melalui bencana alam yang terjadi, dengan mudah kita dapat menghaturkan banten bendu piduka. Dengan begitu kita percaya beliau akan memaafkan semua kesalahan. Pertanyaannya semudah itukah, harmonisasi alam dapat dibeli?

Saya kira melalui ngunya setahun sekali dengan berjalan kaki 4 km ini kita semua hendaknya kembali bertanya pada diri sendiri, akankah prosesi ini tetap ada di tengah masifnya alih fungsi lahan? Atau jika lahan subak habis, apa mungkin ini hanya menjadi formalitas belaka untuk narasi pelemahan yang katanya hubungan harmonis manusia dengan alam? Saya kira kita semua wajib menjawab pertanyaan ini.[T]

Penulis: IGP Weda Adi Wangsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Adat BeringkitHindu Balinangkluk meranaupacara hindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Wayan ‘Pacet’ Sudiarsa, Maestro Karawitan yang Menyemai Karya Lewat Gita Semara

Next Post

Dari Australia dan China, Menuju Indonesia Membangun Ruang Digital Berkeadaban dengan Semangat Taman Siswa

IGP Weda Adi Wangsa

IGP Weda Adi Wangsa

I Gusti Putu Weda Adi Wangsa, mahasiswa Prodi Jawa Kuno, FIB Unud. Akun Instagram: igstngrweda_

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dari Australia dan China, Menuju Indonesia Membangun Ruang Digital Berkeadaban dengan Semangat Taman Siswa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co