2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Australia dan China, Menuju Indonesia Membangun Ruang Digital Berkeadaban dengan Semangat Taman Siswa

Dewa Rhadea by Dewa Rhadea
December 1, 2025
in Esai
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dewa Rhadea

AUSTRALIA memilih langkah radikal: melarang seluruh anak berusia di bawah 16 tahun mengakses media sosial. China mengambil rute berbeda: hanya mereka yang memiliki kompetensi dan sertifikasi tertentu yang boleh menjadi influencer, terutama di bidang-bidang sensitif seperti kesehatan, keuangan, hukum, dan pendidikan. Dua negara besar, dua pendekatan tajam yang sama-sama lahir dari kecemasan: ruang digital yang tak terkendali telah menjadi arena yang membentuk cara berpikir, cara berperilaku, bahkan cara melihat diri sendiri.

Indonesia? Kita berada di persimpangan.

Dan di sinilah, falsafah Ki Hadjar Dewantara berbisik kembali dari ruang waktu.

Anak Dilindungi, Ruang Digital Dihadapi — Bukan Dihindari

Larangan Australia muncul setelah gelombang panjang kekhawatiran: krisis kesehatan mental remaja, serbuan algoritma yang memanjang­kan kecemasan, cyberbullying, hingga fenomena body shaming yang merusak generasi muda dari dalam. Argumen pemerintah sederhana tetapi tegas: otak remaja belum siap.

Ini bukan sekadar kebijakan; ini pertaruhan moral.

Meski kritik menyebutnya represif dan sulit ditegakkan, terutama karena verifikasi usia belum pernah benar-benar berhasil dilakukan platform mana pun, sikap Australia menggambarkan satu hal: negara bersedia menjadi pagar.

China Mengatur Mikrofon, Bukan Penontonnya

Sementara Australia mengatur siapa yang boleh menonton, China mengatur siapa yang boleh bicara. Influencer tak lagi bebas berbicara di bidang sensitif tanpa latar belakang akademik atau lisensi profesional. Konten bukan lagi urusan kreativitas semata—melainkan kompetensi.

Pendukung kebijakan menilai langkah ini perlu untuk melawan mis-informasi. Lawannya mengatakan: kreativitas bisa mati, kritik bisa padam.

Tetapi satu hal tak terbantahkan: China memandang ruang digital sebagai ruang publik yang mempengaruhi stabilitas bangsa. Dan ruang publik, bagi mereka, tidak boleh dibiarkan menjadi pasar bebas tanpa penjaga pintu.

Indonesia: Mencari Jalan Tengah yang Waras dan Beradab

Kita tidak punya kemewahan memilih ekstrem. Indonesia bukan Australia yang penduduknya homogen dengan infrastruktur mental health yang kuat. Kita juga bukan China yang sanggup menjalankan kontrol ketat dengan presisi dan disiplin digital.

Yang kita punya adalah realitas:

Pengguna muda Indonesia tumbuh dengan gawai di tangan sebelum mereka paham perbedaan fakta dan opini. Influencer tanpa kredensial mengajar “ilmu” kesehatan, gaya hidup, dan keuangan dengan percaya diri yang melebihi kompetensinya. Misinformasi lebih cepat viral daripada klarifikasi. Dan algoritma adalah orang tua kedua yang tak pernah kita pilih.

Di sinilah filosofi Taman Siswa kembali relevan.

Taman Siswa dan Hybrid Approach: Melindungi Tanpa Menutup, Mendidik Tanpa Menyakiti

Ki Hadjar Dewantara mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah “tempat menyemai kemerdekaan batin”.

”Kemerdekaan yang tercerahkan; bukan kebebasan tanpa pagar”.

Nilai yang lahir dari Taman Siswa selalu berpijak pada tiga gagasan:

  1. Ing ngarso sung tulodo – yang berada di depan memberi teladan.
    Dalam konteks digital: influencer dan pembuat konten harus punya tanggung jawab moral dan kompetensi minimal. Bukan sekadar sensasi.
  2. Ing madya mangun karso – yang di tengah membangun semangat.
    Dalam konteks digital: anak dan remaja perlu ruang kreatif—tetapi dengan pendampingan, literasi digital, dan kontrol usia yang proporsional. Bukan pelarangan mutlak.
  3. Tut wuri handayani – yang di belakang memberi dorongan.
    Dalam konteks digital: negara hadir sebagai penjaga ekosistem, bukan pemutus paksa. Negara memandu, bukan mengekang.

Dari falsafah ini, lahirlah pendekatan yang lebih Indonesia: hybrid approach, yaitu pendekatan yang menggabungkan dua atau lebih metode, sistem, atau filosofi untuk mendapatkan hasil yang lebih seimbang, fleksibel, dan efektif. Pendekatan ini dipakai ketika satu metode tunggal dianggap tidak cukup menjawab kompleksitas persoalan.

Hybrid Approach: Jalan Tengah yang Realistis

  1. Influencer bidang sensitif wajib punya kompetensi atau kolaborasi profesional

Tidak perlu seketat China, tetapi cukup untuk memastikan bahwa publik tidak disesatkan.

  1. Kontrol usia berbasis pendampingan, bukan pelarangan total

Tidak seperti Australia yang membatasi akses secara absolut. Kita memilih pendekatan keluarga, sekolah, dan platform berkolaborasi untuk membangun perlindungan yang komprehensif.

  1. Literasi digital sebagai kurikulum inti

Taman Siswa mengajarkan kemerdekaan yang cerdas. Di era digital, kebebasan tanpa literasi adalah jebakan.

  1. Platform digital wajib bertanggung jawab

Bukan hanya pengguna yang harus bijak; perusahaan digital pun harus menjalankan verifikasi, filtering, dan pengawasan sesuai regulasi.

  1. Ruang digital tetap terbuka bagi suara pengalaman

Kebijakan tidak boleh membunuh kreativitas atau memberi monopoli suara pada mereka yang memiliki titel akademik saja. Suara korban, suara keluarga, suara rakyat—semua tetap harus bisa mencipta narasi.

Penutup : Keseimbangan di Tengah Tantangan Arus Digital

Pada akhirnya, peradaban digital tidak menunggu siapa pun. Negara-negara bergerak dengan caranya sendiri—Australia melindungi dari hulu, China mengatur dari hilir. Tetapi Indonesia memiliki peluang yang lebih besar daripada sekadar meniru: kita bisa menawarkan paradigma baru.

Ki Hadjar Dewantara sejak awal merumuskan pendidikan bukan sebagai proses mencetak manusia yang patuh, tetapi manusia yang merdeka. Merdeka dalam pikir, merdeka dalam merasa, merdeka dalam berkarya. Paradigma itu—yang lahir jauh sebelum era internet—justru menemukan relevansi terdalamnya saat dunia dilanda banjir informasi dan polusi digital.

Jika Australia mengajarkan perlindungan, dan China menekankan kompetensi, maka Indonesia dapat mengajarkan keseimbangan.

Sebuah tata kelola ruang digital yang tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menghidupkan kreativitas; tidak hanya memagari pengguna muda, tetapi juga menumbuhkan keberanian bersuara secara cerdas; tidak hanya melawan mis-informasi, tetapi juga merawat keberagaman.

Kita telah lama mempraktikkan filsafat ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani—yang bukan hanya relevan di ruang kelas, tetapi juga di ruang digital global.

Itulah kontribusi Indonesia kepada dunia:

“sebuah model peradaban digital yang humanis, yang tidak tunduk kepada algoritma, dan tidak memusuhi kebebasan. Sebuah ruang digital yang beradab, yang menuntun, bukan menekan; yang memerdekakan, bukan membiarkan”.

Jika dunia sedang mencari cara mengelola media sosial tanpa mengorbankan manusia, maka Indonesia—dengan akar Taman Siswa dan hikmah gotong royongnya—dapat berdiri tegak menawarkan jalan tengah yang lebih bijaksana.

Karena bangsa yang besar bukan hanya yang kuat menghadapi masa depan, tetapi yang mampu membimbing dunia menuju masa depan yang lebih manusiawi. [T]

Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole

Tags: AustraliaChinadigitalKI Hajar DewantaraPendidikanTaman Siswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Nangluk Marana’, Akan Sampai Kapan?

Next Post

Kampoeng Baca Pelangi Hidupkan Kembali Legenda Sasak Lewat Drama “Putri Cilinaya”

Dewa Rhadea

Dewa Rhadea

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kampoeng Baca Pelangi Hidupkan Kembali Legenda Sasak Lewat Drama “Putri Cilinaya”

Kampoeng Baca Pelangi Hidupkan Kembali Legenda Sasak Lewat Drama “Putri Cilinaya”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co