23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Australia dan China, Menuju Indonesia Membangun Ruang Digital Berkeadaban dengan Semangat Taman Siswa

Dewa Rhadea by Dewa Rhadea
December 1, 2025
in Esai
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dewa Rhadea

AUSTRALIA memilih langkah radikal: melarang seluruh anak berusia di bawah 16 tahun mengakses media sosial. China mengambil rute berbeda: hanya mereka yang memiliki kompetensi dan sertifikasi tertentu yang boleh menjadi influencer, terutama di bidang-bidang sensitif seperti kesehatan, keuangan, hukum, dan pendidikan. Dua negara besar, dua pendekatan tajam yang sama-sama lahir dari kecemasan: ruang digital yang tak terkendali telah menjadi arena yang membentuk cara berpikir, cara berperilaku, bahkan cara melihat diri sendiri.

Indonesia? Kita berada di persimpangan.

Dan di sinilah, falsafah Ki Hadjar Dewantara berbisik kembali dari ruang waktu.

Anak Dilindungi, Ruang Digital Dihadapi — Bukan Dihindari

Larangan Australia muncul setelah gelombang panjang kekhawatiran: krisis kesehatan mental remaja, serbuan algoritma yang memanjang­kan kecemasan, cyberbullying, hingga fenomena body shaming yang merusak generasi muda dari dalam. Argumen pemerintah sederhana tetapi tegas: otak remaja belum siap.

Ini bukan sekadar kebijakan; ini pertaruhan moral.

Meski kritik menyebutnya represif dan sulit ditegakkan, terutama karena verifikasi usia belum pernah benar-benar berhasil dilakukan platform mana pun, sikap Australia menggambarkan satu hal: negara bersedia menjadi pagar.

China Mengatur Mikrofon, Bukan Penontonnya

Sementara Australia mengatur siapa yang boleh menonton, China mengatur siapa yang boleh bicara. Influencer tak lagi bebas berbicara di bidang sensitif tanpa latar belakang akademik atau lisensi profesional. Konten bukan lagi urusan kreativitas semata—melainkan kompetensi.

Pendukung kebijakan menilai langkah ini perlu untuk melawan mis-informasi. Lawannya mengatakan: kreativitas bisa mati, kritik bisa padam.

Tetapi satu hal tak terbantahkan: China memandang ruang digital sebagai ruang publik yang mempengaruhi stabilitas bangsa. Dan ruang publik, bagi mereka, tidak boleh dibiarkan menjadi pasar bebas tanpa penjaga pintu.

Indonesia: Mencari Jalan Tengah yang Waras dan Beradab

Kita tidak punya kemewahan memilih ekstrem. Indonesia bukan Australia yang penduduknya homogen dengan infrastruktur mental health yang kuat. Kita juga bukan China yang sanggup menjalankan kontrol ketat dengan presisi dan disiplin digital.

Yang kita punya adalah realitas:

Pengguna muda Indonesia tumbuh dengan gawai di tangan sebelum mereka paham perbedaan fakta dan opini. Influencer tanpa kredensial mengajar “ilmu” kesehatan, gaya hidup, dan keuangan dengan percaya diri yang melebihi kompetensinya. Misinformasi lebih cepat viral daripada klarifikasi. Dan algoritma adalah orang tua kedua yang tak pernah kita pilih.

Di sinilah filosofi Taman Siswa kembali relevan.

Taman Siswa dan Hybrid Approach: Melindungi Tanpa Menutup, Mendidik Tanpa Menyakiti

Ki Hadjar Dewantara mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah “tempat menyemai kemerdekaan batin”.

”Kemerdekaan yang tercerahkan; bukan kebebasan tanpa pagar”.

Nilai yang lahir dari Taman Siswa selalu berpijak pada tiga gagasan:

  1. Ing ngarso sung tulodo – yang berada di depan memberi teladan.
    Dalam konteks digital: influencer dan pembuat konten harus punya tanggung jawab moral dan kompetensi minimal. Bukan sekadar sensasi.
  2. Ing madya mangun karso – yang di tengah membangun semangat.
    Dalam konteks digital: anak dan remaja perlu ruang kreatif—tetapi dengan pendampingan, literasi digital, dan kontrol usia yang proporsional. Bukan pelarangan mutlak.
  3. Tut wuri handayani – yang di belakang memberi dorongan.
    Dalam konteks digital: negara hadir sebagai penjaga ekosistem, bukan pemutus paksa. Negara memandu, bukan mengekang.

Dari falsafah ini, lahirlah pendekatan yang lebih Indonesia: hybrid approach, yaitu pendekatan yang menggabungkan dua atau lebih metode, sistem, atau filosofi untuk mendapatkan hasil yang lebih seimbang, fleksibel, dan efektif. Pendekatan ini dipakai ketika satu metode tunggal dianggap tidak cukup menjawab kompleksitas persoalan.

Hybrid Approach: Jalan Tengah yang Realistis

  1. Influencer bidang sensitif wajib punya kompetensi atau kolaborasi profesional

Tidak perlu seketat China, tetapi cukup untuk memastikan bahwa publik tidak disesatkan.

  1. Kontrol usia berbasis pendampingan, bukan pelarangan total

Tidak seperti Australia yang membatasi akses secara absolut. Kita memilih pendekatan keluarga, sekolah, dan platform berkolaborasi untuk membangun perlindungan yang komprehensif.

  1. Literasi digital sebagai kurikulum inti

Taman Siswa mengajarkan kemerdekaan yang cerdas. Di era digital, kebebasan tanpa literasi adalah jebakan.

  1. Platform digital wajib bertanggung jawab

Bukan hanya pengguna yang harus bijak; perusahaan digital pun harus menjalankan verifikasi, filtering, dan pengawasan sesuai regulasi.

  1. Ruang digital tetap terbuka bagi suara pengalaman

Kebijakan tidak boleh membunuh kreativitas atau memberi monopoli suara pada mereka yang memiliki titel akademik saja. Suara korban, suara keluarga, suara rakyat—semua tetap harus bisa mencipta narasi.

Penutup : Keseimbangan di Tengah Tantangan Arus Digital

Pada akhirnya, peradaban digital tidak menunggu siapa pun. Negara-negara bergerak dengan caranya sendiri—Australia melindungi dari hulu, China mengatur dari hilir. Tetapi Indonesia memiliki peluang yang lebih besar daripada sekadar meniru: kita bisa menawarkan paradigma baru.

Ki Hadjar Dewantara sejak awal merumuskan pendidikan bukan sebagai proses mencetak manusia yang patuh, tetapi manusia yang merdeka. Merdeka dalam pikir, merdeka dalam merasa, merdeka dalam berkarya. Paradigma itu—yang lahir jauh sebelum era internet—justru menemukan relevansi terdalamnya saat dunia dilanda banjir informasi dan polusi digital.

Jika Australia mengajarkan perlindungan, dan China menekankan kompetensi, maka Indonesia dapat mengajarkan keseimbangan.

Sebuah tata kelola ruang digital yang tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menghidupkan kreativitas; tidak hanya memagari pengguna muda, tetapi juga menumbuhkan keberanian bersuara secara cerdas; tidak hanya melawan mis-informasi, tetapi juga merawat keberagaman.

Kita telah lama mempraktikkan filsafat ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani—yang bukan hanya relevan di ruang kelas, tetapi juga di ruang digital global.

Itulah kontribusi Indonesia kepada dunia:

“sebuah model peradaban digital yang humanis, yang tidak tunduk kepada algoritma, dan tidak memusuhi kebebasan. Sebuah ruang digital yang beradab, yang menuntun, bukan menekan; yang memerdekakan, bukan membiarkan”.

Jika dunia sedang mencari cara mengelola media sosial tanpa mengorbankan manusia, maka Indonesia—dengan akar Taman Siswa dan hikmah gotong royongnya—dapat berdiri tegak menawarkan jalan tengah yang lebih bijaksana.

Karena bangsa yang besar bukan hanya yang kuat menghadapi masa depan, tetapi yang mampu membimbing dunia menuju masa depan yang lebih manusiawi. [T]

Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole

Tags: AustraliaChinadigitalKI Hajar DewantaraPendidikanTaman Siswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Nangluk Marana’, Akan Sampai Kapan?

Next Post

Kampoeng Baca Pelangi Hidupkan Kembali Legenda Sasak Lewat Drama “Putri Cilinaya”

Dewa Rhadea

Dewa Rhadea

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Kampoeng Baca Pelangi Hidupkan Kembali Legenda Sasak Lewat Drama “Putri Cilinaya”

Kampoeng Baca Pelangi Hidupkan Kembali Legenda Sasak Lewat Drama “Putri Cilinaya”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co