23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Australia dan China, Menuju Indonesia Membangun Ruang Digital Berkeadaban dengan Semangat Taman Siswa

Dewa Rhadea by Dewa Rhadea
December 1, 2025
in Esai
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dewa Rhadea

AUSTRALIA memilih langkah radikal: melarang seluruh anak berusia di bawah 16 tahun mengakses media sosial. China mengambil rute berbeda: hanya mereka yang memiliki kompetensi dan sertifikasi tertentu yang boleh menjadi influencer, terutama di bidang-bidang sensitif seperti kesehatan, keuangan, hukum, dan pendidikan. Dua negara besar, dua pendekatan tajam yang sama-sama lahir dari kecemasan: ruang digital yang tak terkendali telah menjadi arena yang membentuk cara berpikir, cara berperilaku, bahkan cara melihat diri sendiri.

Indonesia? Kita berada di persimpangan.

Dan di sinilah, falsafah Ki Hadjar Dewantara berbisik kembali dari ruang waktu.

Anak Dilindungi, Ruang Digital Dihadapi — Bukan Dihindari

Larangan Australia muncul setelah gelombang panjang kekhawatiran: krisis kesehatan mental remaja, serbuan algoritma yang memanjang­kan kecemasan, cyberbullying, hingga fenomena body shaming yang merusak generasi muda dari dalam. Argumen pemerintah sederhana tetapi tegas: otak remaja belum siap.

Ini bukan sekadar kebijakan; ini pertaruhan moral.

Meski kritik menyebutnya represif dan sulit ditegakkan, terutama karena verifikasi usia belum pernah benar-benar berhasil dilakukan platform mana pun, sikap Australia menggambarkan satu hal: negara bersedia menjadi pagar.

China Mengatur Mikrofon, Bukan Penontonnya

Sementara Australia mengatur siapa yang boleh menonton, China mengatur siapa yang boleh bicara. Influencer tak lagi bebas berbicara di bidang sensitif tanpa latar belakang akademik atau lisensi profesional. Konten bukan lagi urusan kreativitas semata—melainkan kompetensi.

Pendukung kebijakan menilai langkah ini perlu untuk melawan mis-informasi. Lawannya mengatakan: kreativitas bisa mati, kritik bisa padam.

Tetapi satu hal tak terbantahkan: China memandang ruang digital sebagai ruang publik yang mempengaruhi stabilitas bangsa. Dan ruang publik, bagi mereka, tidak boleh dibiarkan menjadi pasar bebas tanpa penjaga pintu.

Indonesia: Mencari Jalan Tengah yang Waras dan Beradab

Kita tidak punya kemewahan memilih ekstrem. Indonesia bukan Australia yang penduduknya homogen dengan infrastruktur mental health yang kuat. Kita juga bukan China yang sanggup menjalankan kontrol ketat dengan presisi dan disiplin digital.

Yang kita punya adalah realitas:

Pengguna muda Indonesia tumbuh dengan gawai di tangan sebelum mereka paham perbedaan fakta dan opini. Influencer tanpa kredensial mengajar “ilmu” kesehatan, gaya hidup, dan keuangan dengan percaya diri yang melebihi kompetensinya. Misinformasi lebih cepat viral daripada klarifikasi. Dan algoritma adalah orang tua kedua yang tak pernah kita pilih.

Di sinilah filosofi Taman Siswa kembali relevan.

Taman Siswa dan Hybrid Approach: Melindungi Tanpa Menutup, Mendidik Tanpa Menyakiti

Ki Hadjar Dewantara mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah “tempat menyemai kemerdekaan batin”.

”Kemerdekaan yang tercerahkan; bukan kebebasan tanpa pagar”.

Nilai yang lahir dari Taman Siswa selalu berpijak pada tiga gagasan:

  1. Ing ngarso sung tulodo – yang berada di depan memberi teladan.
    Dalam konteks digital: influencer dan pembuat konten harus punya tanggung jawab moral dan kompetensi minimal. Bukan sekadar sensasi.
  2. Ing madya mangun karso – yang di tengah membangun semangat.
    Dalam konteks digital: anak dan remaja perlu ruang kreatif—tetapi dengan pendampingan, literasi digital, dan kontrol usia yang proporsional. Bukan pelarangan mutlak.
  3. Tut wuri handayani – yang di belakang memberi dorongan.
    Dalam konteks digital: negara hadir sebagai penjaga ekosistem, bukan pemutus paksa. Negara memandu, bukan mengekang.

Dari falsafah ini, lahirlah pendekatan yang lebih Indonesia: hybrid approach, yaitu pendekatan yang menggabungkan dua atau lebih metode, sistem, atau filosofi untuk mendapatkan hasil yang lebih seimbang, fleksibel, dan efektif. Pendekatan ini dipakai ketika satu metode tunggal dianggap tidak cukup menjawab kompleksitas persoalan.

Hybrid Approach: Jalan Tengah yang Realistis

  1. Influencer bidang sensitif wajib punya kompetensi atau kolaborasi profesional

Tidak perlu seketat China, tetapi cukup untuk memastikan bahwa publik tidak disesatkan.

  1. Kontrol usia berbasis pendampingan, bukan pelarangan total

Tidak seperti Australia yang membatasi akses secara absolut. Kita memilih pendekatan keluarga, sekolah, dan platform berkolaborasi untuk membangun perlindungan yang komprehensif.

  1. Literasi digital sebagai kurikulum inti

Taman Siswa mengajarkan kemerdekaan yang cerdas. Di era digital, kebebasan tanpa literasi adalah jebakan.

  1. Platform digital wajib bertanggung jawab

Bukan hanya pengguna yang harus bijak; perusahaan digital pun harus menjalankan verifikasi, filtering, dan pengawasan sesuai regulasi.

  1. Ruang digital tetap terbuka bagi suara pengalaman

Kebijakan tidak boleh membunuh kreativitas atau memberi monopoli suara pada mereka yang memiliki titel akademik saja. Suara korban, suara keluarga, suara rakyat—semua tetap harus bisa mencipta narasi.

Penutup : Keseimbangan di Tengah Tantangan Arus Digital

Pada akhirnya, peradaban digital tidak menunggu siapa pun. Negara-negara bergerak dengan caranya sendiri—Australia melindungi dari hulu, China mengatur dari hilir. Tetapi Indonesia memiliki peluang yang lebih besar daripada sekadar meniru: kita bisa menawarkan paradigma baru.

Ki Hadjar Dewantara sejak awal merumuskan pendidikan bukan sebagai proses mencetak manusia yang patuh, tetapi manusia yang merdeka. Merdeka dalam pikir, merdeka dalam merasa, merdeka dalam berkarya. Paradigma itu—yang lahir jauh sebelum era internet—justru menemukan relevansi terdalamnya saat dunia dilanda banjir informasi dan polusi digital.

Jika Australia mengajarkan perlindungan, dan China menekankan kompetensi, maka Indonesia dapat mengajarkan keseimbangan.

Sebuah tata kelola ruang digital yang tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menghidupkan kreativitas; tidak hanya memagari pengguna muda, tetapi juga menumbuhkan keberanian bersuara secara cerdas; tidak hanya melawan mis-informasi, tetapi juga merawat keberagaman.

Kita telah lama mempraktikkan filsafat ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani—yang bukan hanya relevan di ruang kelas, tetapi juga di ruang digital global.

Itulah kontribusi Indonesia kepada dunia:

“sebuah model peradaban digital yang humanis, yang tidak tunduk kepada algoritma, dan tidak memusuhi kebebasan. Sebuah ruang digital yang beradab, yang menuntun, bukan menekan; yang memerdekakan, bukan membiarkan”.

Jika dunia sedang mencari cara mengelola media sosial tanpa mengorbankan manusia, maka Indonesia—dengan akar Taman Siswa dan hikmah gotong royongnya—dapat berdiri tegak menawarkan jalan tengah yang lebih bijaksana.

Karena bangsa yang besar bukan hanya yang kuat menghadapi masa depan, tetapi yang mampu membimbing dunia menuju masa depan yang lebih manusiawi. [T]

Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole

Tags: AustraliaChinadigitalKI Hajar DewantaraPendidikanTaman Siswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Nangluk Marana’, Akan Sampai Kapan?

Next Post

Kampoeng Baca Pelangi Hidupkan Kembali Legenda Sasak Lewat Drama “Putri Cilinaya”

Dewa Rhadea

Dewa Rhadea

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Kampoeng Baca Pelangi Hidupkan Kembali Legenda Sasak Lewat Drama “Putri Cilinaya”

Kampoeng Baca Pelangi Hidupkan Kembali Legenda Sasak Lewat Drama “Putri Cilinaya”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co