24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Australia dan China, Menuju Indonesia Membangun Ruang Digital Berkeadaban dengan Semangat Taman Siswa

Dewa Rhadea by Dewa Rhadea
December 1, 2025
in Esai
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dewa Rhadea

AUSTRALIA memilih langkah radikal: melarang seluruh anak berusia di bawah 16 tahun mengakses media sosial. China mengambil rute berbeda: hanya mereka yang memiliki kompetensi dan sertifikasi tertentu yang boleh menjadi influencer, terutama di bidang-bidang sensitif seperti kesehatan, keuangan, hukum, dan pendidikan. Dua negara besar, dua pendekatan tajam yang sama-sama lahir dari kecemasan: ruang digital yang tak terkendali telah menjadi arena yang membentuk cara berpikir, cara berperilaku, bahkan cara melihat diri sendiri.

Indonesia? Kita berada di persimpangan.

Dan di sinilah, falsafah Ki Hadjar Dewantara berbisik kembali dari ruang waktu.

Anak Dilindungi, Ruang Digital Dihadapi — Bukan Dihindari

Larangan Australia muncul setelah gelombang panjang kekhawatiran: krisis kesehatan mental remaja, serbuan algoritma yang memanjang­kan kecemasan, cyberbullying, hingga fenomena body shaming yang merusak generasi muda dari dalam. Argumen pemerintah sederhana tetapi tegas: otak remaja belum siap.

Ini bukan sekadar kebijakan; ini pertaruhan moral.

Meski kritik menyebutnya represif dan sulit ditegakkan, terutama karena verifikasi usia belum pernah benar-benar berhasil dilakukan platform mana pun, sikap Australia menggambarkan satu hal: negara bersedia menjadi pagar.

China Mengatur Mikrofon, Bukan Penontonnya

Sementara Australia mengatur siapa yang boleh menonton, China mengatur siapa yang boleh bicara. Influencer tak lagi bebas berbicara di bidang sensitif tanpa latar belakang akademik atau lisensi profesional. Konten bukan lagi urusan kreativitas semata—melainkan kompetensi.

Pendukung kebijakan menilai langkah ini perlu untuk melawan mis-informasi. Lawannya mengatakan: kreativitas bisa mati, kritik bisa padam.

Tetapi satu hal tak terbantahkan: China memandang ruang digital sebagai ruang publik yang mempengaruhi stabilitas bangsa. Dan ruang publik, bagi mereka, tidak boleh dibiarkan menjadi pasar bebas tanpa penjaga pintu.

Indonesia: Mencari Jalan Tengah yang Waras dan Beradab

Kita tidak punya kemewahan memilih ekstrem. Indonesia bukan Australia yang penduduknya homogen dengan infrastruktur mental health yang kuat. Kita juga bukan China yang sanggup menjalankan kontrol ketat dengan presisi dan disiplin digital.

Yang kita punya adalah realitas:

Pengguna muda Indonesia tumbuh dengan gawai di tangan sebelum mereka paham perbedaan fakta dan opini. Influencer tanpa kredensial mengajar “ilmu” kesehatan, gaya hidup, dan keuangan dengan percaya diri yang melebihi kompetensinya. Misinformasi lebih cepat viral daripada klarifikasi. Dan algoritma adalah orang tua kedua yang tak pernah kita pilih.

Di sinilah filosofi Taman Siswa kembali relevan.

Taman Siswa dan Hybrid Approach: Melindungi Tanpa Menutup, Mendidik Tanpa Menyakiti

Ki Hadjar Dewantara mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah “tempat menyemai kemerdekaan batin”.

”Kemerdekaan yang tercerahkan; bukan kebebasan tanpa pagar”.

Nilai yang lahir dari Taman Siswa selalu berpijak pada tiga gagasan:

  1. Ing ngarso sung tulodo – yang berada di depan memberi teladan.
    Dalam konteks digital: influencer dan pembuat konten harus punya tanggung jawab moral dan kompetensi minimal. Bukan sekadar sensasi.
  2. Ing madya mangun karso – yang di tengah membangun semangat.
    Dalam konteks digital: anak dan remaja perlu ruang kreatif—tetapi dengan pendampingan, literasi digital, dan kontrol usia yang proporsional. Bukan pelarangan mutlak.
  3. Tut wuri handayani – yang di belakang memberi dorongan.
    Dalam konteks digital: negara hadir sebagai penjaga ekosistem, bukan pemutus paksa. Negara memandu, bukan mengekang.

Dari falsafah ini, lahirlah pendekatan yang lebih Indonesia: hybrid approach, yaitu pendekatan yang menggabungkan dua atau lebih metode, sistem, atau filosofi untuk mendapatkan hasil yang lebih seimbang, fleksibel, dan efektif. Pendekatan ini dipakai ketika satu metode tunggal dianggap tidak cukup menjawab kompleksitas persoalan.

Hybrid Approach: Jalan Tengah yang Realistis

  1. Influencer bidang sensitif wajib punya kompetensi atau kolaborasi profesional

Tidak perlu seketat China, tetapi cukup untuk memastikan bahwa publik tidak disesatkan.

  1. Kontrol usia berbasis pendampingan, bukan pelarangan total

Tidak seperti Australia yang membatasi akses secara absolut. Kita memilih pendekatan keluarga, sekolah, dan platform berkolaborasi untuk membangun perlindungan yang komprehensif.

  1. Literasi digital sebagai kurikulum inti

Taman Siswa mengajarkan kemerdekaan yang cerdas. Di era digital, kebebasan tanpa literasi adalah jebakan.

  1. Platform digital wajib bertanggung jawab

Bukan hanya pengguna yang harus bijak; perusahaan digital pun harus menjalankan verifikasi, filtering, dan pengawasan sesuai regulasi.

  1. Ruang digital tetap terbuka bagi suara pengalaman

Kebijakan tidak boleh membunuh kreativitas atau memberi monopoli suara pada mereka yang memiliki titel akademik saja. Suara korban, suara keluarga, suara rakyat—semua tetap harus bisa mencipta narasi.

Penutup : Keseimbangan di Tengah Tantangan Arus Digital

Pada akhirnya, peradaban digital tidak menunggu siapa pun. Negara-negara bergerak dengan caranya sendiri—Australia melindungi dari hulu, China mengatur dari hilir. Tetapi Indonesia memiliki peluang yang lebih besar daripada sekadar meniru: kita bisa menawarkan paradigma baru.

Ki Hadjar Dewantara sejak awal merumuskan pendidikan bukan sebagai proses mencetak manusia yang patuh, tetapi manusia yang merdeka. Merdeka dalam pikir, merdeka dalam merasa, merdeka dalam berkarya. Paradigma itu—yang lahir jauh sebelum era internet—justru menemukan relevansi terdalamnya saat dunia dilanda banjir informasi dan polusi digital.

Jika Australia mengajarkan perlindungan, dan China menekankan kompetensi, maka Indonesia dapat mengajarkan keseimbangan.

Sebuah tata kelola ruang digital yang tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menghidupkan kreativitas; tidak hanya memagari pengguna muda, tetapi juga menumbuhkan keberanian bersuara secara cerdas; tidak hanya melawan mis-informasi, tetapi juga merawat keberagaman.

Kita telah lama mempraktikkan filsafat ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani—yang bukan hanya relevan di ruang kelas, tetapi juga di ruang digital global.

Itulah kontribusi Indonesia kepada dunia:

“sebuah model peradaban digital yang humanis, yang tidak tunduk kepada algoritma, dan tidak memusuhi kebebasan. Sebuah ruang digital yang beradab, yang menuntun, bukan menekan; yang memerdekakan, bukan membiarkan”.

Jika dunia sedang mencari cara mengelola media sosial tanpa mengorbankan manusia, maka Indonesia—dengan akar Taman Siswa dan hikmah gotong royongnya—dapat berdiri tegak menawarkan jalan tengah yang lebih bijaksana.

Karena bangsa yang besar bukan hanya yang kuat menghadapi masa depan, tetapi yang mampu membimbing dunia menuju masa depan yang lebih manusiawi. [T]

Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole

Tags: AustraliaChinadigitalKI Hajar DewantaraPendidikanTaman Siswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Nangluk Marana’, Akan Sampai Kapan?

Next Post

Kampoeng Baca Pelangi Hidupkan Kembali Legenda Sasak Lewat Drama “Putri Cilinaya”

Dewa Rhadea

Dewa Rhadea

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Kampoeng Baca Pelangi Hidupkan Kembali Legenda Sasak Lewat Drama “Putri Cilinaya”

Kampoeng Baca Pelangi Hidupkan Kembali Legenda Sasak Lewat Drama “Putri Cilinaya”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co