23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Australia dan China, Menuju Indonesia Membangun Ruang Digital Berkeadaban dengan Semangat Taman Siswa

Dewa Rhadea by Dewa Rhadea
December 1, 2025
in Esai
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dewa Rhadea

AUSTRALIA memilih langkah radikal: melarang seluruh anak berusia di bawah 16 tahun mengakses media sosial. China mengambil rute berbeda: hanya mereka yang memiliki kompetensi dan sertifikasi tertentu yang boleh menjadi influencer, terutama di bidang-bidang sensitif seperti kesehatan, keuangan, hukum, dan pendidikan. Dua negara besar, dua pendekatan tajam yang sama-sama lahir dari kecemasan: ruang digital yang tak terkendali telah menjadi arena yang membentuk cara berpikir, cara berperilaku, bahkan cara melihat diri sendiri.

Indonesia? Kita berada di persimpangan.

Dan di sinilah, falsafah Ki Hadjar Dewantara berbisik kembali dari ruang waktu.

Anak Dilindungi, Ruang Digital Dihadapi — Bukan Dihindari

Larangan Australia muncul setelah gelombang panjang kekhawatiran: krisis kesehatan mental remaja, serbuan algoritma yang memanjang­kan kecemasan, cyberbullying, hingga fenomena body shaming yang merusak generasi muda dari dalam. Argumen pemerintah sederhana tetapi tegas: otak remaja belum siap.

Ini bukan sekadar kebijakan; ini pertaruhan moral.

Meski kritik menyebutnya represif dan sulit ditegakkan, terutama karena verifikasi usia belum pernah benar-benar berhasil dilakukan platform mana pun, sikap Australia menggambarkan satu hal: negara bersedia menjadi pagar.

China Mengatur Mikrofon, Bukan Penontonnya

Sementara Australia mengatur siapa yang boleh menonton, China mengatur siapa yang boleh bicara. Influencer tak lagi bebas berbicara di bidang sensitif tanpa latar belakang akademik atau lisensi profesional. Konten bukan lagi urusan kreativitas semata—melainkan kompetensi.

Pendukung kebijakan menilai langkah ini perlu untuk melawan mis-informasi. Lawannya mengatakan: kreativitas bisa mati, kritik bisa padam.

Tetapi satu hal tak terbantahkan: China memandang ruang digital sebagai ruang publik yang mempengaruhi stabilitas bangsa. Dan ruang publik, bagi mereka, tidak boleh dibiarkan menjadi pasar bebas tanpa penjaga pintu.

Indonesia: Mencari Jalan Tengah yang Waras dan Beradab

Kita tidak punya kemewahan memilih ekstrem. Indonesia bukan Australia yang penduduknya homogen dengan infrastruktur mental health yang kuat. Kita juga bukan China yang sanggup menjalankan kontrol ketat dengan presisi dan disiplin digital.

Yang kita punya adalah realitas:

Pengguna muda Indonesia tumbuh dengan gawai di tangan sebelum mereka paham perbedaan fakta dan opini. Influencer tanpa kredensial mengajar “ilmu” kesehatan, gaya hidup, dan keuangan dengan percaya diri yang melebihi kompetensinya. Misinformasi lebih cepat viral daripada klarifikasi. Dan algoritma adalah orang tua kedua yang tak pernah kita pilih.

Di sinilah filosofi Taman Siswa kembali relevan.

Taman Siswa dan Hybrid Approach: Melindungi Tanpa Menutup, Mendidik Tanpa Menyakiti

Ki Hadjar Dewantara mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah “tempat menyemai kemerdekaan batin”.

”Kemerdekaan yang tercerahkan; bukan kebebasan tanpa pagar”.

Nilai yang lahir dari Taman Siswa selalu berpijak pada tiga gagasan:

  1. Ing ngarso sung tulodo – yang berada di depan memberi teladan.
    Dalam konteks digital: influencer dan pembuat konten harus punya tanggung jawab moral dan kompetensi minimal. Bukan sekadar sensasi.
  2. Ing madya mangun karso – yang di tengah membangun semangat.
    Dalam konteks digital: anak dan remaja perlu ruang kreatif—tetapi dengan pendampingan, literasi digital, dan kontrol usia yang proporsional. Bukan pelarangan mutlak.
  3. Tut wuri handayani – yang di belakang memberi dorongan.
    Dalam konteks digital: negara hadir sebagai penjaga ekosistem, bukan pemutus paksa. Negara memandu, bukan mengekang.

Dari falsafah ini, lahirlah pendekatan yang lebih Indonesia: hybrid approach, yaitu pendekatan yang menggabungkan dua atau lebih metode, sistem, atau filosofi untuk mendapatkan hasil yang lebih seimbang, fleksibel, dan efektif. Pendekatan ini dipakai ketika satu metode tunggal dianggap tidak cukup menjawab kompleksitas persoalan.

Hybrid Approach: Jalan Tengah yang Realistis

  1. Influencer bidang sensitif wajib punya kompetensi atau kolaborasi profesional

Tidak perlu seketat China, tetapi cukup untuk memastikan bahwa publik tidak disesatkan.

  1. Kontrol usia berbasis pendampingan, bukan pelarangan total

Tidak seperti Australia yang membatasi akses secara absolut. Kita memilih pendekatan keluarga, sekolah, dan platform berkolaborasi untuk membangun perlindungan yang komprehensif.

  1. Literasi digital sebagai kurikulum inti

Taman Siswa mengajarkan kemerdekaan yang cerdas. Di era digital, kebebasan tanpa literasi adalah jebakan.

  1. Platform digital wajib bertanggung jawab

Bukan hanya pengguna yang harus bijak; perusahaan digital pun harus menjalankan verifikasi, filtering, dan pengawasan sesuai regulasi.

  1. Ruang digital tetap terbuka bagi suara pengalaman

Kebijakan tidak boleh membunuh kreativitas atau memberi monopoli suara pada mereka yang memiliki titel akademik saja. Suara korban, suara keluarga, suara rakyat—semua tetap harus bisa mencipta narasi.

Penutup : Keseimbangan di Tengah Tantangan Arus Digital

Pada akhirnya, peradaban digital tidak menunggu siapa pun. Negara-negara bergerak dengan caranya sendiri—Australia melindungi dari hulu, China mengatur dari hilir. Tetapi Indonesia memiliki peluang yang lebih besar daripada sekadar meniru: kita bisa menawarkan paradigma baru.

Ki Hadjar Dewantara sejak awal merumuskan pendidikan bukan sebagai proses mencetak manusia yang patuh, tetapi manusia yang merdeka. Merdeka dalam pikir, merdeka dalam merasa, merdeka dalam berkarya. Paradigma itu—yang lahir jauh sebelum era internet—justru menemukan relevansi terdalamnya saat dunia dilanda banjir informasi dan polusi digital.

Jika Australia mengajarkan perlindungan, dan China menekankan kompetensi, maka Indonesia dapat mengajarkan keseimbangan.

Sebuah tata kelola ruang digital yang tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menghidupkan kreativitas; tidak hanya memagari pengguna muda, tetapi juga menumbuhkan keberanian bersuara secara cerdas; tidak hanya melawan mis-informasi, tetapi juga merawat keberagaman.

Kita telah lama mempraktikkan filsafat ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani—yang bukan hanya relevan di ruang kelas, tetapi juga di ruang digital global.

Itulah kontribusi Indonesia kepada dunia:

“sebuah model peradaban digital yang humanis, yang tidak tunduk kepada algoritma, dan tidak memusuhi kebebasan. Sebuah ruang digital yang beradab, yang menuntun, bukan menekan; yang memerdekakan, bukan membiarkan”.

Jika dunia sedang mencari cara mengelola media sosial tanpa mengorbankan manusia, maka Indonesia—dengan akar Taman Siswa dan hikmah gotong royongnya—dapat berdiri tegak menawarkan jalan tengah yang lebih bijaksana.

Karena bangsa yang besar bukan hanya yang kuat menghadapi masa depan, tetapi yang mampu membimbing dunia menuju masa depan yang lebih manusiawi. [T]

Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole

Tags: AustraliaChinadigitalKI Hajar DewantaraPendidikanTaman Siswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Nangluk Marana’, Akan Sampai Kapan?

Next Post

Kampoeng Baca Pelangi Hidupkan Kembali Legenda Sasak Lewat Drama “Putri Cilinaya”

Dewa Rhadea

Dewa Rhadea

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kampoeng Baca Pelangi Hidupkan Kembali Legenda Sasak Lewat Drama “Putri Cilinaya”

Kampoeng Baca Pelangi Hidupkan Kembali Legenda Sasak Lewat Drama “Putri Cilinaya”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co