21 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggenggam Bara | Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
November 23, 2025
in Cerpen
Menggenggam Bara | Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

SUDAH sepuluh tahun Bara hidup di rumah itu—rumah besar peninggalan mertua yang temboknya selalu lembab dan menguarkan aroma kapur yang menua bersama waktu. Di dalam rumah itu, tak ada ruang yang benar-benar menjadi miliknya. Bahkan udara pun terasa dipinjamkan. Dari pagi hingga malam, suara langkah Bu Dasimah, ibu mertuanya, menguasai setiap sudut seperti jam berdetak yang tak henti memantau denyut hidup orang lain.

Setiap kali Bara melangkah ke dapur, langkah itu akan diikuti suara khas dari ruang tengah,

“Mau apa, Bara? Masih pagi sudah ribut. Orang mau masak saja belum.”

Bara menatap perempuan tua itu dengan senyum seadanya. Ia tidak marah, tidak pula tunduk. Ia hanya tahu bahwa berdebat dengan Bu Dasimah sama sia-sianya seperti menimba air dengan keranjang.

“Cuma mau buat kopi, Bu,” jawabnya tenang.

“Ya buat saja, tapi jangan buang ampas di wastafel. Tersumbat nanti, kamu juga yang salah.”

Begitulah tiap pagi. Sebuah rumah, tapi lebih menyerupai ruang interogasi yang panjang dan dingin.

Royani, istrinya, yang sudah ia nikahi sepuluh tahun lalu, lebih sering berpihak pada ibunya daripada padanya. Bagi Bara, pernikahan itu lama-lama terasa seperti kesepakatan tanpa makna: dua manusia yang hidup di bawah atap yang sama tapi berdoa pada kesunyian yang berbeda.

“Bara,” suara Royani terdengar dari ruang tengah, “Ibu nggak suka kamu menulis sampai malam. Katanya suara mesin tik itu ganggu.”

“Aku pakai laptop sekarang, bukan mesin tik,” sahut Bara tanpa menoleh.

“Ya tetap aja, suara ketik-ketik itu bikin Ibu susah tidur.”

“Lalu aku harus menulis di mana?”

Royani diam, lalu dengan nada datar berkata, “Tulis di luar, di warung kopi mungkin. Tapi jangan lama-lama, nanti dikira kamu males di rumah.”

Bara menatap layar laptopnya. Listrik yang sering padam membuat proses menulis seperti berperang dengan waktu. Tapi menulis adalah satu-satunya cara ia tetap merasa hidup, satu-satunya cara ia mengingat siapa dirinya sebelum semua dinding rumah itu membungkamnya.

Dulu, Bara seorang penulis muda yang cukup dikenal di kalangan sastra. Ia punya sahabat, Kadir, seorang penerbit idealis yang mempercayai kata-katanya bahkan ketika pasar tidak. Buku-buku Bara lahir dari kegelisahan, dari api kecil yang ia rawat di dalam dada. Tapi setelah menikah, koneksinya dengan dunia luar makin tipis.

Kadir sering menelpon.

“Bar, kapan kirim naskah baru? Orang-orang masih nunggu lanjutan novelmu yang kemarin.”

“Ada di laptop, Kad. Tapi aku belum sempat revisi.”

“Belum sempat, atau belum diizinkan?” suara di ujung telepon tertawa, getir.

Bara diam lama, lalu menjawab, “Mungkin keduanya.”

Kadir tahu. Ia tak perlu dijelaskan. Bara hidup di rumah yang meniadakan ruang bagi imajinasi. Baginya, menulis di rumah itu seperti menulis di tengah kuburan—ada hidup, tapi tak terasa.

***

Suatu sore, Bara duduk di beranda dengan secangkir kopi hitam. Langit mendung, angin membawa aroma hujan dan dedaunan kering. Bu Dasimah keluar membawa sapu lidi, wajahnya seperti biasa—ketat dan penuh curiga.

“Kamu belum kerja juga, Bara?” tanyanya tanpa menatap.

“Saya menulis, Bu.”

“Menulis apa? Tulisan-tulisan kamu itu bisa bikin nasi?”

Bara tersenyum kecil. “Kadang bisa, Bu. Dari royalti.”

“Ah, royalti. Paling cuma cukup buat beli pulsa. Kalau kamu laki-laki bener, kerja di kantor, bukan cuma nulis-nulis nggak jelas.”

Bara hanya menunduk. Ia tidak marah, tapi hatinya mulai lelah. Ia sudah lama tahu, bagaimanapun baiknya ia berbuat, di mata Bu Dasimah ia tetap tak lebih dari lelaki yang dianggap menumpang hidup di rumah orang. Dan Royani, yang ia harap akan menjadi rumah, justru sering menjadi dinding yang menambah sepi.

Malam-malam Bara habiskan menulis di ruang belakang yang lembab. Kadang, ia menulis dengan cahaya lilin karena listrik padam. Dalam tulisan-tulisan itu, ia menumpahkan semua yang tak bisa ia ucapkan—tentang kesunyian, tentang cinta yang pelan-pelan mati, tentang lelaki yang terkurung dalam rumah tanpa jendela.

Namun diam-diam, naskah-naskah itu sampai juga ke tangan Kadir. Dari sana, buku-buku Bara diterbitkan. Beberapa kali, nama Bara muncul lagi di koran, di ulasan sastra. Tapi Bara tak menceritakan itu pada siapa pun. Ia tahu, kabar baik bisa menjadi bahan kebencian di rumah itu.

Suatu malam, Bara dan Royani terlibat pertengkaran kecil yang berubah jadi perdebatan panjang.

“Aku capek, Ra. Rumah ini bukan tempat tinggal, tapi penjara.”

“Kalau kamu merasa dipenjara, pergi saja!” bentak Royani.

Bara menatap istrinya lama. “Kau ingin aku pergi?”

Royani menunduk. “Aku cuma ingin kamu berhenti bikin masalah sama Ibu.”

“Masalah? Aku cuma ingin dihargai.”

“Kalau kamu mau dihargai, jadi laki-laki yang bener! Cari kerja yang jelas, bukan cuma nulis-nulis yang nggak tahu hasilnya.”

Kata-kata itu seperti pisau dingin. Bara menatap Royani dengan mata kosong.

“Aku menulis karena itu satu-satunya yang aku bisa. Tapi mungkin di rumah ini, kemampuan tidak berarti apa-apa selain uang.”

Royani diam. Bara melangkah ke luar, meninggalkan rumah itu dengan langkah yang tenang tapi getir. Di luar, hujan turun pelan, seperti ingin membasuh amarah yang sudah lama tertahan.

Hari-hari berikutnya Bara lebih sering berada di luar. Ia menulis di warung kopi, di taman, di pojok kota yang jarang orang tahu. Di sanalah, pada suatu sore, ia bertemu Silvi.

Silvi duduk sendirian di dekat jendela, membaca novel milik Bara tanpa tahu bahwa pengarangnya sedang berdiri tak jauh darinya. Ketika Bara lewat, matanya menangkap nama di sampul buku itu. Ia tersenyum kecil.

“Itu buku lama,” kata Bara, duduk di sebelahnya.

Silvi menoleh. “Tapi masih relevan. Bahasanya lembut tapi tajam.”

“Kau suka?”

“Lebih dari suka. Aku merasa ditulis di dalamnya.”

Bara menatap perempuan itu. Ada sesuatu pada tatapan Silvi—tenang, tapi penuh kehidupan. Tak seperti rumah yang ditinggalkannya, yang hanya berisi dingin. Mereka mulai berbincang, dan dari percakapan sederhana itu tumbuh pengertian yang dalam.

“Kenapa berhenti menulis seintens dulu?” tanya Silvi.

“Karena aku hidup di rumah yang tidak menyukai mimpi.”

“Kalau begitu, keluarlah. Mimpi tak bisa tumbuh di tempat yang salah.”

Kalimat itu seperti cambuk. Bara merasa seolah ada udara segar masuk ke dadanya setelah bertahun-tahun. Ia tersenyum.

“Kadang keluar bukan perkara mudah,” katanya.

“Tapi lebih baik keluar daripada terbakar pelan-pelan di dalam.”

***

Hari-hari berikutnya mereka semakin sering bertemu. Silvi menjadi teman sekaligus pendengar. Ia tidak menilai Bara dari dompet atau status, melainkan dari pikirannya. Bara menulis lagi, kali ini dengan semangat yang lama hilang.

Sampai suatu hari, Silvi berkata pelan, “Kalau aku boleh jujur, aku mencintai pikiranmu sebelum aku mencintaimu.”

Bara menatapnya lama, kemudian tersenyum kecil. “Dan aku mencintai caramu membuatku merasa hidup lagi.”

Hubungan mereka tumbuh dalam senyap, dalam ruang yang tak diizinkan dunia. Hingga akhirnya, mereka menikah secara sederhana—tanpa pesta, tanpa pemberitahuan, hanya dengan dua saksi dan doa di masjid kecil di tepi kota.

Bagi Bara, pernikahan itu bukan pelarian, melainkan penyelamatan. Bersama Silvi, ia menemukan versi dirinya yang dulu hilang. Ia menulis lebih giat, lebih jujur, lebih berani. Dalam waktu singkat, buku barunya meledak di pasaran. Nama Bara kembali bergema di dunia sastra.

Kabar itu sampai ke rumah Bu Dasimah lewat televisi.

“Bara? Itu Bara yang dulu di rumah ini?” tanyanya pada Royani.

“Iya, Bu…”

“Dia sekarang terkenal?”

“Iya. Katanya royalti bukunya besar.”

Bu Dasimah menarik napas panjang. “Coba dia datang, ya. Siapa tahu bisa bantu bayar renovasi rumah ini. Kan masih rumah keluarga.”

Royani diam, matanya buram. Ia baru sadar, lelaki yang dulu ia anggap beban justru berhasil berdiri tanpa perlu sandaran.

Beberapa minggu kemudian, Bu Dasimah datang menemui Bara di kantor penerbitan. Wajahnya lembut, suara yang dulu nyaring kini terdengar manis.

“Bara, Ibu senang sekali lihat kamu sukses. Ibu dulu cuma khawatir kamu nggak bisa hidup dari nulis.”

Bara tersenyum. “Tak apa, Bu. Sekarang saya sudah baik-baik saja.”

“Ibu mau minta tolong kecil,” kata Bu Dasimah pelan, “Atap rumah bocor. Kalau bisa pinjam uang sedikit, nanti kalau Royani punya rezeki, diganti.”

Bara menatapnya. Dalam hati, ia tahu, cinta mertua itu tidak pernah ada—yang ada hanyalah kebutuhan. Tapi ia tidak membalas dengan dendam.

“Ibu tak perlu mengembalikan,” katanya akhirnya. “Anggap saja hadiah untuk masa lalu yang sudah lewat.”

Bu Dasimah tersenyum lebar, meski matanya menyiratkan malu. “Terima kasih, Bara. Ibu tahu kamu orang baik.”

Bara menatap keluar jendela. Langit sore tampak oranye, seperti bara yang menggenggam cahaya.

“Orang baik bukan berarti orang yang mau terus diinjak, Bu,” katanya perlahan. “Kadang, orang baik juga bisa membakar.”

Malam itu, Bara duduk di balkon rumahnya bersama Silvi. Angin berembus lembut membawa aroma laut.

“Aku dulu ingin menulis tentang luka,” kata Bara. “Tapi sekarang aku ingin menulis tentang kebebasan.”

Silvi menatapnya lembut. “Karena kau sudah menemukannya?”

Bara tersenyum. “Mungkin belum sepenuhnya. Tapi setidaknya aku sudah tidak takut terbakar.”

Ia menatap ke kejauhan, ke arah kota yang berkilau di bawah. Dalam hatinya, ia tahu—kadang manusia harus terbakar dulu untuk tahu betapa terangnya api yang mereka genggam.

Di rumah lama yang dulu ia tinggali, Bu Dasimah duduk di ruang tamu bersama Royani. Mereka menonton televisi yang menayangkan wawancara Bara di sebuah acara sastra.

“Suami yang dulu kamu remehkan itu sekarang hebat,” kata Bu Dasimah.

Royani hanya menunduk. Air matanya jatuh pelan di pangkuan.

“Ibu… kalau aku bisa memutar waktu, aku ingin meminta maaf padanya.”

Bu Dasimah terdiam. “Waktu tak bisa diputar, Nak. Tapi hidup masih bisa diteruskan. Sayangnya, tidak semua orang mau menggenggam bara.”

Royani menatap layar televisi. Di sana, Bara tersenyum dengan damai. Senyum yang dulu tidak pernah ia lihat saat lelaki itu masih tinggal bersamanya.

Hidup memang aneh:

yang sabar dianggap lemah,

yang diam dianggap kalah,

yang setia dianggap bodoh.

Tapi Bara sudah melewati semua itu. Ia telah menggenggam bara—menahan panas, menahan sakit—hingga akhirnya menjadi cahaya. Ia tidak perlu lagi pembenaran dari siapa pun, karena kini ia tahu, diamnya dulu bukan tanda takut, melainkan cara semesta menyiapkan ledakan yang indah.

***

Suatu pagi, Silvi menemukan Bara di ruang kerjanya, menulis dengan senyum kecil.

“Menulis apa?” tanya Silvi.

“Cerita tentang seorang lelaki yang menggenggam bara,” jawab Bara.

“Dan dia berhasil?”

“Bukan soal berhasil. Soal berani. Karena kadang, keberanian lebih penting daripada kemenangan.”

Silvi tersenyum. “Aku suka kalimat itu.”

Bara menatap istrinya lama, lalu berkata lirih, “Kalimat itu untukmu.”

Silvi mendekat, menggenggam tangan suaminya erat. “Aku tidak butuh banyak hal, Bara. Aku hanya ingin hidup sederhana bersamamu. Selama kita saling memahami, dunia ini sudah cukup luas.”

Bara menatap perempuan yang kini menjadi separuh jiwanya itu. Ada kehangatan yang tak pernah ia rasakan di rumah mana pun. Ia tahu, Silvi bukan sekadar pelabuhan sementara, melainkan rumah sejati yang dulu tak pernah ia punya.

Dan pagi itu, di bawah cahaya matahari yang lembut, Bara merasa akhirnya ia benar-benar bebas—bebas dari belenggu masa lalu, dari suara nyinyir, dari segala ketakutan yang mengekang. Ia telah menemukan belahan jiwanya yang hilang.

Silvi bukan datang membawa harta, tapi membawa hati.

Dan Bara tahu: cinta yang lahir dari luka, bila dirawat dengan ketulusan, akan menjadi bara yang abadi. [T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Kadek Wisnu Oktaditya | Kisah Tembok dan Lantai

Next Post

Mengagas Dana Abadi Pariwisata: Inspirasi Global dan Relevansi Bali

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Mengagas Dana Abadi Pariwisata: Inspirasi Global dan Relevansi Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026
Gaya

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”
Panggung

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?
Khas

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital
Esai

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana
Ulas Musik

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius
Tualang

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

by Chusmeru
May 20, 2026
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026
Persona

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Esai

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

by Emi Suy
May 19, 2026
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co