10 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggenggam Bara | Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
November 23, 2025
in Cerpen
Menggenggam Bara | Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

SUDAH sepuluh tahun Bara hidup di rumah itu—rumah besar peninggalan mertua yang temboknya selalu lembab dan menguarkan aroma kapur yang menua bersama waktu. Di dalam rumah itu, tak ada ruang yang benar-benar menjadi miliknya. Bahkan udara pun terasa dipinjamkan. Dari pagi hingga malam, suara langkah Bu Dasimah, ibu mertuanya, menguasai setiap sudut seperti jam berdetak yang tak henti memantau denyut hidup orang lain.

Setiap kali Bara melangkah ke dapur, langkah itu akan diikuti suara khas dari ruang tengah,

“Mau apa, Bara? Masih pagi sudah ribut. Orang mau masak saja belum.”

Bara menatap perempuan tua itu dengan senyum seadanya. Ia tidak marah, tidak pula tunduk. Ia hanya tahu bahwa berdebat dengan Bu Dasimah sama sia-sianya seperti menimba air dengan keranjang.

“Cuma mau buat kopi, Bu,” jawabnya tenang.

“Ya buat saja, tapi jangan buang ampas di wastafel. Tersumbat nanti, kamu juga yang salah.”

Begitulah tiap pagi. Sebuah rumah, tapi lebih menyerupai ruang interogasi yang panjang dan dingin.

Royani, istrinya, yang sudah ia nikahi sepuluh tahun lalu, lebih sering berpihak pada ibunya daripada padanya. Bagi Bara, pernikahan itu lama-lama terasa seperti kesepakatan tanpa makna: dua manusia yang hidup di bawah atap yang sama tapi berdoa pada kesunyian yang berbeda.

“Bara,” suara Royani terdengar dari ruang tengah, “Ibu nggak suka kamu menulis sampai malam. Katanya suara mesin tik itu ganggu.”

“Aku pakai laptop sekarang, bukan mesin tik,” sahut Bara tanpa menoleh.

“Ya tetap aja, suara ketik-ketik itu bikin Ibu susah tidur.”

“Lalu aku harus menulis di mana?”

Royani diam, lalu dengan nada datar berkata, “Tulis di luar, di warung kopi mungkin. Tapi jangan lama-lama, nanti dikira kamu males di rumah.”

Bara menatap layar laptopnya. Listrik yang sering padam membuat proses menulis seperti berperang dengan waktu. Tapi menulis adalah satu-satunya cara ia tetap merasa hidup, satu-satunya cara ia mengingat siapa dirinya sebelum semua dinding rumah itu membungkamnya.

Dulu, Bara seorang penulis muda yang cukup dikenal di kalangan sastra. Ia punya sahabat, Kadir, seorang penerbit idealis yang mempercayai kata-katanya bahkan ketika pasar tidak. Buku-buku Bara lahir dari kegelisahan, dari api kecil yang ia rawat di dalam dada. Tapi setelah menikah, koneksinya dengan dunia luar makin tipis.

Kadir sering menelpon.

“Bar, kapan kirim naskah baru? Orang-orang masih nunggu lanjutan novelmu yang kemarin.”

“Ada di laptop, Kad. Tapi aku belum sempat revisi.”

“Belum sempat, atau belum diizinkan?” suara di ujung telepon tertawa, getir.

Bara diam lama, lalu menjawab, “Mungkin keduanya.”

Kadir tahu. Ia tak perlu dijelaskan. Bara hidup di rumah yang meniadakan ruang bagi imajinasi. Baginya, menulis di rumah itu seperti menulis di tengah kuburan—ada hidup, tapi tak terasa.

***

Suatu sore, Bara duduk di beranda dengan secangkir kopi hitam. Langit mendung, angin membawa aroma hujan dan dedaunan kering. Bu Dasimah keluar membawa sapu lidi, wajahnya seperti biasa—ketat dan penuh curiga.

“Kamu belum kerja juga, Bara?” tanyanya tanpa menatap.

“Saya menulis, Bu.”

“Menulis apa? Tulisan-tulisan kamu itu bisa bikin nasi?”

Bara tersenyum kecil. “Kadang bisa, Bu. Dari royalti.”

“Ah, royalti. Paling cuma cukup buat beli pulsa. Kalau kamu laki-laki bener, kerja di kantor, bukan cuma nulis-nulis nggak jelas.”

Bara hanya menunduk. Ia tidak marah, tapi hatinya mulai lelah. Ia sudah lama tahu, bagaimanapun baiknya ia berbuat, di mata Bu Dasimah ia tetap tak lebih dari lelaki yang dianggap menumpang hidup di rumah orang. Dan Royani, yang ia harap akan menjadi rumah, justru sering menjadi dinding yang menambah sepi.

Malam-malam Bara habiskan menulis di ruang belakang yang lembab. Kadang, ia menulis dengan cahaya lilin karena listrik padam. Dalam tulisan-tulisan itu, ia menumpahkan semua yang tak bisa ia ucapkan—tentang kesunyian, tentang cinta yang pelan-pelan mati, tentang lelaki yang terkurung dalam rumah tanpa jendela.

Namun diam-diam, naskah-naskah itu sampai juga ke tangan Kadir. Dari sana, buku-buku Bara diterbitkan. Beberapa kali, nama Bara muncul lagi di koran, di ulasan sastra. Tapi Bara tak menceritakan itu pada siapa pun. Ia tahu, kabar baik bisa menjadi bahan kebencian di rumah itu.

Suatu malam, Bara dan Royani terlibat pertengkaran kecil yang berubah jadi perdebatan panjang.

“Aku capek, Ra. Rumah ini bukan tempat tinggal, tapi penjara.”

“Kalau kamu merasa dipenjara, pergi saja!” bentak Royani.

Bara menatap istrinya lama. “Kau ingin aku pergi?”

Royani menunduk. “Aku cuma ingin kamu berhenti bikin masalah sama Ibu.”

“Masalah? Aku cuma ingin dihargai.”

“Kalau kamu mau dihargai, jadi laki-laki yang bener! Cari kerja yang jelas, bukan cuma nulis-nulis yang nggak tahu hasilnya.”

Kata-kata itu seperti pisau dingin. Bara menatap Royani dengan mata kosong.

“Aku menulis karena itu satu-satunya yang aku bisa. Tapi mungkin di rumah ini, kemampuan tidak berarti apa-apa selain uang.”

Royani diam. Bara melangkah ke luar, meninggalkan rumah itu dengan langkah yang tenang tapi getir. Di luar, hujan turun pelan, seperti ingin membasuh amarah yang sudah lama tertahan.

Hari-hari berikutnya Bara lebih sering berada di luar. Ia menulis di warung kopi, di taman, di pojok kota yang jarang orang tahu. Di sanalah, pada suatu sore, ia bertemu Silvi.

Silvi duduk sendirian di dekat jendela, membaca novel milik Bara tanpa tahu bahwa pengarangnya sedang berdiri tak jauh darinya. Ketika Bara lewat, matanya menangkap nama di sampul buku itu. Ia tersenyum kecil.

“Itu buku lama,” kata Bara, duduk di sebelahnya.

Silvi menoleh. “Tapi masih relevan. Bahasanya lembut tapi tajam.”

“Kau suka?”

“Lebih dari suka. Aku merasa ditulis di dalamnya.”

Bara menatap perempuan itu. Ada sesuatu pada tatapan Silvi—tenang, tapi penuh kehidupan. Tak seperti rumah yang ditinggalkannya, yang hanya berisi dingin. Mereka mulai berbincang, dan dari percakapan sederhana itu tumbuh pengertian yang dalam.

“Kenapa berhenti menulis seintens dulu?” tanya Silvi.

“Karena aku hidup di rumah yang tidak menyukai mimpi.”

“Kalau begitu, keluarlah. Mimpi tak bisa tumbuh di tempat yang salah.”

Kalimat itu seperti cambuk. Bara merasa seolah ada udara segar masuk ke dadanya setelah bertahun-tahun. Ia tersenyum.

“Kadang keluar bukan perkara mudah,” katanya.

“Tapi lebih baik keluar daripada terbakar pelan-pelan di dalam.”

***

Hari-hari berikutnya mereka semakin sering bertemu. Silvi menjadi teman sekaligus pendengar. Ia tidak menilai Bara dari dompet atau status, melainkan dari pikirannya. Bara menulis lagi, kali ini dengan semangat yang lama hilang.

Sampai suatu hari, Silvi berkata pelan, “Kalau aku boleh jujur, aku mencintai pikiranmu sebelum aku mencintaimu.”

Bara menatapnya lama, kemudian tersenyum kecil. “Dan aku mencintai caramu membuatku merasa hidup lagi.”

Hubungan mereka tumbuh dalam senyap, dalam ruang yang tak diizinkan dunia. Hingga akhirnya, mereka menikah secara sederhana—tanpa pesta, tanpa pemberitahuan, hanya dengan dua saksi dan doa di masjid kecil di tepi kota.

Bagi Bara, pernikahan itu bukan pelarian, melainkan penyelamatan. Bersama Silvi, ia menemukan versi dirinya yang dulu hilang. Ia menulis lebih giat, lebih jujur, lebih berani. Dalam waktu singkat, buku barunya meledak di pasaran. Nama Bara kembali bergema di dunia sastra.

Kabar itu sampai ke rumah Bu Dasimah lewat televisi.

“Bara? Itu Bara yang dulu di rumah ini?” tanyanya pada Royani.

“Iya, Bu…”

“Dia sekarang terkenal?”

“Iya. Katanya royalti bukunya besar.”

Bu Dasimah menarik napas panjang. “Coba dia datang, ya. Siapa tahu bisa bantu bayar renovasi rumah ini. Kan masih rumah keluarga.”

Royani diam, matanya buram. Ia baru sadar, lelaki yang dulu ia anggap beban justru berhasil berdiri tanpa perlu sandaran.

Beberapa minggu kemudian, Bu Dasimah datang menemui Bara di kantor penerbitan. Wajahnya lembut, suara yang dulu nyaring kini terdengar manis.

“Bara, Ibu senang sekali lihat kamu sukses. Ibu dulu cuma khawatir kamu nggak bisa hidup dari nulis.”

Bara tersenyum. “Tak apa, Bu. Sekarang saya sudah baik-baik saja.”

“Ibu mau minta tolong kecil,” kata Bu Dasimah pelan, “Atap rumah bocor. Kalau bisa pinjam uang sedikit, nanti kalau Royani punya rezeki, diganti.”

Bara menatapnya. Dalam hati, ia tahu, cinta mertua itu tidak pernah ada—yang ada hanyalah kebutuhan. Tapi ia tidak membalas dengan dendam.

“Ibu tak perlu mengembalikan,” katanya akhirnya. “Anggap saja hadiah untuk masa lalu yang sudah lewat.”

Bu Dasimah tersenyum lebar, meski matanya menyiratkan malu. “Terima kasih, Bara. Ibu tahu kamu orang baik.”

Bara menatap keluar jendela. Langit sore tampak oranye, seperti bara yang menggenggam cahaya.

“Orang baik bukan berarti orang yang mau terus diinjak, Bu,” katanya perlahan. “Kadang, orang baik juga bisa membakar.”

Malam itu, Bara duduk di balkon rumahnya bersama Silvi. Angin berembus lembut membawa aroma laut.

“Aku dulu ingin menulis tentang luka,” kata Bara. “Tapi sekarang aku ingin menulis tentang kebebasan.”

Silvi menatapnya lembut. “Karena kau sudah menemukannya?”

Bara tersenyum. “Mungkin belum sepenuhnya. Tapi setidaknya aku sudah tidak takut terbakar.”

Ia menatap ke kejauhan, ke arah kota yang berkilau di bawah. Dalam hatinya, ia tahu—kadang manusia harus terbakar dulu untuk tahu betapa terangnya api yang mereka genggam.

Di rumah lama yang dulu ia tinggali, Bu Dasimah duduk di ruang tamu bersama Royani. Mereka menonton televisi yang menayangkan wawancara Bara di sebuah acara sastra.

“Suami yang dulu kamu remehkan itu sekarang hebat,” kata Bu Dasimah.

Royani hanya menunduk. Air matanya jatuh pelan di pangkuan.

“Ibu… kalau aku bisa memutar waktu, aku ingin meminta maaf padanya.”

Bu Dasimah terdiam. “Waktu tak bisa diputar, Nak. Tapi hidup masih bisa diteruskan. Sayangnya, tidak semua orang mau menggenggam bara.”

Royani menatap layar televisi. Di sana, Bara tersenyum dengan damai. Senyum yang dulu tidak pernah ia lihat saat lelaki itu masih tinggal bersamanya.

Hidup memang aneh:

yang sabar dianggap lemah,

yang diam dianggap kalah,

yang setia dianggap bodoh.

Tapi Bara sudah melewati semua itu. Ia telah menggenggam bara—menahan panas, menahan sakit—hingga akhirnya menjadi cahaya. Ia tidak perlu lagi pembenaran dari siapa pun, karena kini ia tahu, diamnya dulu bukan tanda takut, melainkan cara semesta menyiapkan ledakan yang indah.

***

Suatu pagi, Silvi menemukan Bara di ruang kerjanya, menulis dengan senyum kecil.

“Menulis apa?” tanya Silvi.

“Cerita tentang seorang lelaki yang menggenggam bara,” jawab Bara.

“Dan dia berhasil?”

“Bukan soal berhasil. Soal berani. Karena kadang, keberanian lebih penting daripada kemenangan.”

Silvi tersenyum. “Aku suka kalimat itu.”

Bara menatap istrinya lama, lalu berkata lirih, “Kalimat itu untukmu.”

Silvi mendekat, menggenggam tangan suaminya erat. “Aku tidak butuh banyak hal, Bara. Aku hanya ingin hidup sederhana bersamamu. Selama kita saling memahami, dunia ini sudah cukup luas.”

Bara menatap perempuan yang kini menjadi separuh jiwanya itu. Ada kehangatan yang tak pernah ia rasakan di rumah mana pun. Ia tahu, Silvi bukan sekadar pelabuhan sementara, melainkan rumah sejati yang dulu tak pernah ia punya.

Dan pagi itu, di bawah cahaya matahari yang lembut, Bara merasa akhirnya ia benar-benar bebas—bebas dari belenggu masa lalu, dari suara nyinyir, dari segala ketakutan yang mengekang. Ia telah menemukan belahan jiwanya yang hilang.

Silvi bukan datang membawa harta, tapi membawa hati.

Dan Bara tahu: cinta yang lahir dari luka, bila dirawat dengan ketulusan, akan menjadi bara yang abadi. [T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Kadek Wisnu Oktaditya | Kisah Tembok dan Lantai

Next Post

Mengagas Dana Abadi Pariwisata: Inspirasi Global dan Relevansi Bali

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Mengagas Dana Abadi Pariwisata: Inspirasi Global dan Relevansi Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali
Khas

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan
Khas

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali
Panggung

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

by Chusmeru
July 10, 2026
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed
Khas

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA lampu panggung perlahan menyala, alunan suling tradisional Korea dengan ujung tiup pipih terdengar lirih. Di atas panggung, para penari...

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas
Khas

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

by Chandra Manikan
July 9, 2026
Rumah Kata di Jalan Nangka
Persona

Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

by Angga Wijaya
July 9, 2026
Bali, Surga yang Sudah Overload
Esai

Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
Daftar Juara Wimbakara Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Diumumkan, Gianyar dan Denpasar Bersinar
Budaya

Daftar Juara Wimbakara Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Diumumkan, Gianyar dan Denpasar Bersinar

PESTA Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 resmi mengumumkan para pemenang berbagai kategori lomba. Dalam pengumuman yang disiarkan secara langsung...

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co