15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan Hanya Ditelan | Cerpen Kadek Indra Putra

Kadek Indra Putra by Kadek Indra Putra
November 22, 2025
in Cerpen
Jangan Hanya Ditelan | Cerpen Kadek Indra Putra

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

WARUNG nasi campur ala Bali ini sangat sederhana, namun Putu selalu datang ke warung itu untuk menikmati sepiring nasi yang menjadi favoritnya. Setidaknya seminggu sekali Putu akan menyetor wajahnya ke ibu pemilik warung. Warung itu selalu memanjakan lidahnya, dan yang paling paling istimewa, juga membawa kenangan.

Dulu, seorang perempuan spesial mengajak ia ke warung itu untuk pertama kalinya. Perempuan itu meyakinkan Putu untuk mencoba menu di warung itu. Awalnya ia ragu, tapi tak disangka sekarang warung itu menjadi salah satu makanan favoritnya. Hanya saja, sekarang Putu menikmati seorang diri, tanpa seseorang yang spesial di sebelahnya. Seseorang itu telah jauh. Jauh bagaikan bumi yang ingin menggapai bintang. Tak akan sampai.

Di warung itu ia selalu memilih tempat duduk khusus, seakan-akan tempat duduk itu miliknya sendiri. Tempat duduk itu dekat dengan kipas angin dan hanya cukup untuk dua orang, Jadi, tidak ada yang menganggu mereka saat itu.

“Bu, nasi campurnya satu, ya. Makan di sini!”

“Loh, tumben sendiri, Gus,”  kata ibu pemilik warung.

Putu hanya membalas dengan senyuman pahit.

“Minumnya?”

“Es Jeruk saja!”

Putu percaya es jeruk lebih baik diminum setelah makan, daripada es teh yang menjadi primadona semua kalangan. Semua tergantung selera.

Tak lama setelah duduk, sepiring nasi lengkap dengan teman-temannya tersaji di meja bersamaan dengan es jeruk yang segar. Makan adalah salah satu momen yang Putu nantikan. Bukan karena Putu rakus, tetapi karena saat makan Putu bisa melambatkan hidupnya sesaat dari hiruk pikuk dunia yang serba cepat.

Ia berdoa sebelum makan, dilanjutkan dengan meminum es jeruk yang segar dan sedikit kecut. Sebagai pembuka, Putu terkadang butuh efek kejut seperti rasa kecut untuk membuat ia sedikit semangat menjalani hidup. Segar, dan tetap sadar bahwa Putu masih menapakan kaki di bumi ini.

Sate ayam bumbu merah menjadi lauk favoritnya, yang wanginya saja sudah membawanya ke hari itu. Putu sisihkan di pinggir piring untuk penutup yang sempurna. Selalu, yang indah akan dinikmati terakhir. Putu menatap sebentar kursi sebelah yang kosong, tak ada lagi dia yang menemani. Dulu, mereka selalu berdebat bagian apakah dari ayam itu paling enak dimakan paling awal dan paling akhir. Namun sekarang tidak ada lagi dia yang memulai perdebatan hal-hal sepele itu. Sekarang sate itu dengan tenang tergeletak di pinggiran piring tanpa harus ada yang mengomel. 

Oh iya, nasi campur bali biasanya sudah sepaket dengan sayur, entah itu sayur pepaya atau sayur nangka. Kali ini Putu mendapatkan sayur nangka yang gurih. Putu tuangkan kuahnya ke atas nasi yang hangat, sehingga gurihnya kuah menyatu dengan nasi pulen.  Suapan pertamanya jatuh kepada nasi dengan sepotong tempe manis, perpaduan gurih dan manis selalu membuat lidah bergetar kegirangan. Gurih dan manis tak harus menyatu, tapi dapat melengkapi. Rasa ini membawanya ke momen-momen indah yang telah ia lalui dengan orang-orang terdekatnya.

Dua suap, tiga suap dan suapan selanjutnya terasa sangat familiar. Mulutnya mengunyah semakin lambat. Rasanya tidak ada yang berubah dari pertama kali ia ke warung itu. Semua terasa masih sama, selain rasa makanannya, susunan meja, susunan kursi, warna lampu yang sedikit kekuningan dan suara kendaraan dari luar selalu ikut campur dengan lagu-lagu yang diputar di warung itu. Hanya saja, yang membedakan tidak ada seseorang yang duduk di sebelahnya, wangi parfumnya yang nyaman tidak lagi tercium, suara yang menenangkan tidak lagi terdengar nyata di telinganya.

Putu menarik napas pelan, berat. Seakan ia sedang mengumpulkan tenaga hanya untuk kembali mengangkat sendok itu. Di tengah-tengah ia menikmati makanannya, ia berhenti dan merasakan ada rasa pahit di lidahnya.

“Pahit banget,” bisiknya. Ia mencari sumber pahit itu.

Pare tumis telor. Ternyata itu biang keroknya, ia lupa kalau harus request tidak pakai pare.

“Ini nih biang keroknya!” Ia menyingkirkannya ke samping piring.

Es jeruk menjadi penetral, rasa pahitnya perlahan menghilang. Rasa pahit kadang datang tidak disangka-sangka, dan itu sangat menyiksa. Jika masih ada perempuan spesial itu di sisinya saat makan, pastilah rasa pahit itu ia hadapi dengan gagah berani Tapi kini rasa pahit itu seperti mengejek kesepianya.

Gigitan terakhir sate ayam menandakan perjalanan hari itu telah usai. Kursi yang kosong di sebelahnya bukan berarti sebuah kesendirian, tapi bagaikan cerminan diri. Rasa sepi akhirnya akan diisi oleh sesuatu yang jauh lebih spesial. Sate ayam menjadi simbol kesempurnaan dari rasa-rasa yang sudah Putu rasakan sebelumnya. Rasa asin, manis dan pahit bukan sekedar rasa, tapi sebuah pembelajaran.

Menyisakan sedikit es jeruk, ia berdiri dan melangkah menjauh dari kursi kosong di sebelahnya, dengan yakin ia menyodorkan uang dua puluh ribu untuk membayar Ibu pemilik warung menerimanya seakan tak menerima kompromi lagi. Tentu saja, ia akan kembali minggu depan. Dengan pembelajaran baru, yaitu tidak lupa untuk meminta jangan diisi pare tumis telor. [T]

Penulis: Kadek Indra Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Karst Mawardi | Apologi

Next Post

Memang Cintalah yang Membuat Diri Bertahan

Kadek Indra Putra

Kadek Indra Putra

Lahir di Singaraja pada 01 Oktober 1999, tinggal di Denpasar Barat. Mahasiswa Manajemen Undiksha, yang aktif di UKM Teater Kampus Seribu Jendela dan dalam beberapa pertunjukkan berperan sebagai aktor. Selain itu, ia juga aktif dalam kelompok diskusi buku yaitu, Singaraja Literet.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Memang Cintalah yang Membuat Diri Bertahan

Memang Cintalah yang Membuat Diri Bertahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co