24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan Hanya Ditelan | Cerpen Kadek Indra Putra

Kadek Indra Putra by Kadek Indra Putra
November 22, 2025
in Cerpen
Jangan Hanya Ditelan | Cerpen Kadek Indra Putra

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

WARUNG nasi campur ala Bali ini sangat sederhana, namun Putu selalu datang ke warung itu untuk menikmati sepiring nasi yang menjadi favoritnya. Setidaknya seminggu sekali Putu akan menyetor wajahnya ke ibu pemilik warung. Warung itu selalu memanjakan lidahnya, dan yang paling paling istimewa, juga membawa kenangan.

Dulu, seorang perempuan spesial mengajak ia ke warung itu untuk pertama kalinya. Perempuan itu meyakinkan Putu untuk mencoba menu di warung itu. Awalnya ia ragu, tapi tak disangka sekarang warung itu menjadi salah satu makanan favoritnya. Hanya saja, sekarang Putu menikmati seorang diri, tanpa seseorang yang spesial di sebelahnya. Seseorang itu telah jauh. Jauh bagaikan bumi yang ingin menggapai bintang. Tak akan sampai.

Di warung itu ia selalu memilih tempat duduk khusus, seakan-akan tempat duduk itu miliknya sendiri. Tempat duduk itu dekat dengan kipas angin dan hanya cukup untuk dua orang, Jadi, tidak ada yang menganggu mereka saat itu.

“Bu, nasi campurnya satu, ya. Makan di sini!”

“Loh, tumben sendiri, Gus,”  kata ibu pemilik warung.

Putu hanya membalas dengan senyuman pahit.

“Minumnya?”

“Es Jeruk saja!”

Putu percaya es jeruk lebih baik diminum setelah makan, daripada es teh yang menjadi primadona semua kalangan. Semua tergantung selera.

Tak lama setelah duduk, sepiring nasi lengkap dengan teman-temannya tersaji di meja bersamaan dengan es jeruk yang segar. Makan adalah salah satu momen yang Putu nantikan. Bukan karena Putu rakus, tetapi karena saat makan Putu bisa melambatkan hidupnya sesaat dari hiruk pikuk dunia yang serba cepat.

Ia berdoa sebelum makan, dilanjutkan dengan meminum es jeruk yang segar dan sedikit kecut. Sebagai pembuka, Putu terkadang butuh efek kejut seperti rasa kecut untuk membuat ia sedikit semangat menjalani hidup. Segar, dan tetap sadar bahwa Putu masih menapakan kaki di bumi ini.

Sate ayam bumbu merah menjadi lauk favoritnya, yang wanginya saja sudah membawanya ke hari itu. Putu sisihkan di pinggir piring untuk penutup yang sempurna. Selalu, yang indah akan dinikmati terakhir. Putu menatap sebentar kursi sebelah yang kosong, tak ada lagi dia yang menemani. Dulu, mereka selalu berdebat bagian apakah dari ayam itu paling enak dimakan paling awal dan paling akhir. Namun sekarang tidak ada lagi dia yang memulai perdebatan hal-hal sepele itu. Sekarang sate itu dengan tenang tergeletak di pinggiran piring tanpa harus ada yang mengomel. 

Oh iya, nasi campur bali biasanya sudah sepaket dengan sayur, entah itu sayur pepaya atau sayur nangka. Kali ini Putu mendapatkan sayur nangka yang gurih. Putu tuangkan kuahnya ke atas nasi yang hangat, sehingga gurihnya kuah menyatu dengan nasi pulen.  Suapan pertamanya jatuh kepada nasi dengan sepotong tempe manis, perpaduan gurih dan manis selalu membuat lidah bergetar kegirangan. Gurih dan manis tak harus menyatu, tapi dapat melengkapi. Rasa ini membawanya ke momen-momen indah yang telah ia lalui dengan orang-orang terdekatnya.

Dua suap, tiga suap dan suapan selanjutnya terasa sangat familiar. Mulutnya mengunyah semakin lambat. Rasanya tidak ada yang berubah dari pertama kali ia ke warung itu. Semua terasa masih sama, selain rasa makanannya, susunan meja, susunan kursi, warna lampu yang sedikit kekuningan dan suara kendaraan dari luar selalu ikut campur dengan lagu-lagu yang diputar di warung itu. Hanya saja, yang membedakan tidak ada seseorang yang duduk di sebelahnya, wangi parfumnya yang nyaman tidak lagi tercium, suara yang menenangkan tidak lagi terdengar nyata di telinganya.

Putu menarik napas pelan, berat. Seakan ia sedang mengumpulkan tenaga hanya untuk kembali mengangkat sendok itu. Di tengah-tengah ia menikmati makanannya, ia berhenti dan merasakan ada rasa pahit di lidahnya.

“Pahit banget,” bisiknya. Ia mencari sumber pahit itu.

Pare tumis telor. Ternyata itu biang keroknya, ia lupa kalau harus request tidak pakai pare.

“Ini nih biang keroknya!” Ia menyingkirkannya ke samping piring.

Es jeruk menjadi penetral, rasa pahitnya perlahan menghilang. Rasa pahit kadang datang tidak disangka-sangka, dan itu sangat menyiksa. Jika masih ada perempuan spesial itu di sisinya saat makan, pastilah rasa pahit itu ia hadapi dengan gagah berani Tapi kini rasa pahit itu seperti mengejek kesepianya.

Gigitan terakhir sate ayam menandakan perjalanan hari itu telah usai. Kursi yang kosong di sebelahnya bukan berarti sebuah kesendirian, tapi bagaikan cerminan diri. Rasa sepi akhirnya akan diisi oleh sesuatu yang jauh lebih spesial. Sate ayam menjadi simbol kesempurnaan dari rasa-rasa yang sudah Putu rasakan sebelumnya. Rasa asin, manis dan pahit bukan sekedar rasa, tapi sebuah pembelajaran.

Menyisakan sedikit es jeruk, ia berdiri dan melangkah menjauh dari kursi kosong di sebelahnya, dengan yakin ia menyodorkan uang dua puluh ribu untuk membayar Ibu pemilik warung menerimanya seakan tak menerima kompromi lagi. Tentu saja, ia akan kembali minggu depan. Dengan pembelajaran baru, yaitu tidak lupa untuk meminta jangan diisi pare tumis telor. [T]

Penulis: Kadek Indra Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Karst Mawardi | Apologi

Next Post

Memang Cintalah yang Membuat Diri Bertahan

Kadek Indra Putra

Kadek Indra Putra

Lahir di Singaraja pada 01 Oktober 1999, tinggal di Denpasar Barat. Mahasiswa Manajemen Undiksha, yang aktif di UKM Teater Kampus Seribu Jendela dan dalam beberapa pertunjukkan berperan sebagai aktor. Selain itu, ia juga aktif dalam kelompok diskusi buku yaitu, Singaraja Literet.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Memang Cintalah yang Membuat Diri Bertahan

Memang Cintalah yang Membuat Diri Bertahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co