5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan Hanya Ditelan | Cerpen Kadek Indra Putra

Kadek Indra Putra by Kadek Indra Putra
November 22, 2025
in Cerpen
Jangan Hanya Ditelan | Cerpen Kadek Indra Putra

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

WARUNG nasi campur ala Bali ini sangat sederhana, namun Putu selalu datang ke warung itu untuk menikmati sepiring nasi yang menjadi favoritnya. Setidaknya seminggu sekali Putu akan menyetor wajahnya ke ibu pemilik warung. Warung itu selalu memanjakan lidahnya, dan yang paling paling istimewa, juga membawa kenangan.

Dulu, seorang perempuan spesial mengajak ia ke warung itu untuk pertama kalinya. Perempuan itu meyakinkan Putu untuk mencoba menu di warung itu. Awalnya ia ragu, tapi tak disangka sekarang warung itu menjadi salah satu makanan favoritnya. Hanya saja, sekarang Putu menikmati seorang diri, tanpa seseorang yang spesial di sebelahnya. Seseorang itu telah jauh. Jauh bagaikan bumi yang ingin menggapai bintang. Tak akan sampai.

Di warung itu ia selalu memilih tempat duduk khusus, seakan-akan tempat duduk itu miliknya sendiri. Tempat duduk itu dekat dengan kipas angin dan hanya cukup untuk dua orang, Jadi, tidak ada yang menganggu mereka saat itu.

“Bu, nasi campurnya satu, ya. Makan di sini!”

“Loh, tumben sendiri, Gus,”  kata ibu pemilik warung.

Putu hanya membalas dengan senyuman pahit.

“Minumnya?”

“Es Jeruk saja!”

Putu percaya es jeruk lebih baik diminum setelah makan, daripada es teh yang menjadi primadona semua kalangan. Semua tergantung selera.

Tak lama setelah duduk, sepiring nasi lengkap dengan teman-temannya tersaji di meja bersamaan dengan es jeruk yang segar. Makan adalah salah satu momen yang Putu nantikan. Bukan karena Putu rakus, tetapi karena saat makan Putu bisa melambatkan hidupnya sesaat dari hiruk pikuk dunia yang serba cepat.

Ia berdoa sebelum makan, dilanjutkan dengan meminum es jeruk yang segar dan sedikit kecut. Sebagai pembuka, Putu terkadang butuh efek kejut seperti rasa kecut untuk membuat ia sedikit semangat menjalani hidup. Segar, dan tetap sadar bahwa Putu masih menapakan kaki di bumi ini.

Sate ayam bumbu merah menjadi lauk favoritnya, yang wanginya saja sudah membawanya ke hari itu. Putu sisihkan di pinggir piring untuk penutup yang sempurna. Selalu, yang indah akan dinikmati terakhir. Putu menatap sebentar kursi sebelah yang kosong, tak ada lagi dia yang menemani. Dulu, mereka selalu berdebat bagian apakah dari ayam itu paling enak dimakan paling awal dan paling akhir. Namun sekarang tidak ada lagi dia yang memulai perdebatan hal-hal sepele itu. Sekarang sate itu dengan tenang tergeletak di pinggiran piring tanpa harus ada yang mengomel. 

Oh iya, nasi campur bali biasanya sudah sepaket dengan sayur, entah itu sayur pepaya atau sayur nangka. Kali ini Putu mendapatkan sayur nangka yang gurih. Putu tuangkan kuahnya ke atas nasi yang hangat, sehingga gurihnya kuah menyatu dengan nasi pulen.  Suapan pertamanya jatuh kepada nasi dengan sepotong tempe manis, perpaduan gurih dan manis selalu membuat lidah bergetar kegirangan. Gurih dan manis tak harus menyatu, tapi dapat melengkapi. Rasa ini membawanya ke momen-momen indah yang telah ia lalui dengan orang-orang terdekatnya.

Dua suap, tiga suap dan suapan selanjutnya terasa sangat familiar. Mulutnya mengunyah semakin lambat. Rasanya tidak ada yang berubah dari pertama kali ia ke warung itu. Semua terasa masih sama, selain rasa makanannya, susunan meja, susunan kursi, warna lampu yang sedikit kekuningan dan suara kendaraan dari luar selalu ikut campur dengan lagu-lagu yang diputar di warung itu. Hanya saja, yang membedakan tidak ada seseorang yang duduk di sebelahnya, wangi parfumnya yang nyaman tidak lagi tercium, suara yang menenangkan tidak lagi terdengar nyata di telinganya.

Putu menarik napas pelan, berat. Seakan ia sedang mengumpulkan tenaga hanya untuk kembali mengangkat sendok itu. Di tengah-tengah ia menikmati makanannya, ia berhenti dan merasakan ada rasa pahit di lidahnya.

“Pahit banget,” bisiknya. Ia mencari sumber pahit itu.

Pare tumis telor. Ternyata itu biang keroknya, ia lupa kalau harus request tidak pakai pare.

“Ini nih biang keroknya!” Ia menyingkirkannya ke samping piring.

Es jeruk menjadi penetral, rasa pahitnya perlahan menghilang. Rasa pahit kadang datang tidak disangka-sangka, dan itu sangat menyiksa. Jika masih ada perempuan spesial itu di sisinya saat makan, pastilah rasa pahit itu ia hadapi dengan gagah berani Tapi kini rasa pahit itu seperti mengejek kesepianya.

Gigitan terakhir sate ayam menandakan perjalanan hari itu telah usai. Kursi yang kosong di sebelahnya bukan berarti sebuah kesendirian, tapi bagaikan cerminan diri. Rasa sepi akhirnya akan diisi oleh sesuatu yang jauh lebih spesial. Sate ayam menjadi simbol kesempurnaan dari rasa-rasa yang sudah Putu rasakan sebelumnya. Rasa asin, manis dan pahit bukan sekedar rasa, tapi sebuah pembelajaran.

Menyisakan sedikit es jeruk, ia berdiri dan melangkah menjauh dari kursi kosong di sebelahnya, dengan yakin ia menyodorkan uang dua puluh ribu untuk membayar Ibu pemilik warung menerimanya seakan tak menerima kompromi lagi. Tentu saja, ia akan kembali minggu depan. Dengan pembelajaran baru, yaitu tidak lupa untuk meminta jangan diisi pare tumis telor. [T]

Penulis: Kadek Indra Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Karst Mawardi | Apologi

Next Post

Memang Cintalah yang Membuat Diri Bertahan

Kadek Indra Putra

Kadek Indra Putra

Lahir di Singaraja pada 01 Oktober 1999, tinggal di Denpasar Barat. Mahasiswa Manajemen Undiksha, yang aktif di UKM Teater Kampus Seribu Jendela dan dalam beberapa pertunjukkan berperan sebagai aktor. Selain itu, ia juga aktif dalam kelompok diskusi buku yaitu, Singaraja Literet.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Memang Cintalah yang Membuat Diri Bertahan

Memang Cintalah yang Membuat Diri Bertahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co