12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memang Cintalah yang Membuat Diri Bertahan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
November 22, 2025
in Esai
Memang Cintalah yang Membuat Diri Bertahan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

PUTU Fajar Arcana, jurnalis, penyair, esais, dan pelukis asal Jembrana, Bali, pada tahun 2019 menulis esai yang indah berjudul Cintalah yang Membuat Diri Bertahan di harian Kompas. Esai itu bukan sekadar catatan jurnalistik, melainkan persembahan untuk Umbu Landu Paranggi (1943-2021), penyair misterius yang hidupnya menjelma legenda. Umbu dikenal sebagai sosok bohemian yang setia kepada puisi dan bukan kepada popularitas.

Dalam tulisannya, Putu Fajar Arcana menggambarkan bagaimana Umbu sejak muda telah menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada puisi. Dari Sumba ia berangkat ke Yogyakarta, menulis sajak-sajak yang membuatnya dihukum di sekolah, tetapi tidak pernah membuatnya gentar. Umbu menempuh jalan sunyi kepenyairan dengan cinta yang total dan pengabdian yang membabi buta kepada kesenian, tulis Arcana.

Cinta dalam konteks itu bukan romantisme, melainkan daya hidup. Sebuah kekuatan yang membuat seseorang tahan menghadapi kesunyian, kerja keras, dan ketidakpastian. Umbu tidak punya ambisi menjadi terkenal. Ia bahkan menghindar dari panggung ketika diberi penghargaan bergengsi. Ia memilih menghilang, sebab bagi Umbu, puisi adalah jalan pencarian, bukan tujuan akhir.

Dari Umbu, kita belajar bahwa cinta bukan hanya perasaan, tetapi laku hidup. Ia menulis dalam puisinya yang terkenal, Melodia,

Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan,

karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan.

Larik itu seolah menjawab banyak pertanyaan tentang bagaimana manusia bisa bertahan di tengah hidup yang melelahkan, dunia kerja yang keras, atau hubungan yang sering retak karena kesalahpahaman.

Sebagai wartawan, saya sering mendapat tugas untuk meliput kegiatan DPRD Badung, Bali. Seperti biasa, setelah acara usai, para undangan dan wartawan mendapat nasi kotak sebagai makan siang. Saya tidak langsung memakannya, melainkan menaruhnya di dalam tas punggung yang selalu saya bawa saat liputan.

Setelah berpamitan kepada rekan-rekan wartawan, saya bergegas meninggalkan kompleks Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung yang megah. Di luar, langit mulai gelap. Mendung menggantung tebal. Saya menuju sebuah kedai kecil di dekat jalan masuk Puspem. Setelah memesan kopi panas, saya duduk di bangku kayu di pojok kedai. Tak lama kemudian, hujan turun deras.

Kopi saya nikmati perlahan. Sembari menunggu hujan reda, saya mengetik berita dari liputan tadi. Tak sampai tiga puluh menit, berita rampung dan saya kirimkan kepada redaktur. Di luar, hujan mulai menipis. Saya membuka aplikasi ojek online di ponsel, lalu memesan kurir untuk mengirim nasi kotak itu kepada tunangan saya di tempat kerjanya.

Beberapa menit kemudian, pengemudi datang menjemput ke kedai. Setelah membayar, ia segera meluncur ke arah tempat tunangan saya bekerja. Saya tahu, ia akan senang menerimanya. Hal sederhana seperti itu sudah sering saya lakukan. Entah mengapa, jika makan sendiri, selalu terasa ada yang kurang.

Tunangan saya banyak menolong saya selama di kota rantau ini. Ia menjadi teman berbagi, pendengar yang sabar, penenang di kala pikiran saya kacau. Ia tidak selalu sempurna, pun saya. Namun kami sama-sama belajar bertahan. Saya percaya, cinta bukan tentang siapa yang lebih benar, melainkan siapa yang lebih sabar.

Cintalah yang membuat diri bertahan, kata Umbu. Dan saya kini benar-benar mengerti maknanya.

Kadang cinta tidak perlu dirayakan dengan kata-kata besar. Ia cukup hadir dalam bentuk kecil, secangkir kopi panas di tengah hujan, sebuah nasi kotak yang dikirim diam-diam, pesan singkat bertuliskan “hati-hati di jalan”, atau tatapan lelah yang tetap mengandung harapan.

Cinta, seperti puisi bagi Umbu, adalah cara untuk menanam di ladang diri. Nandurin karang awak, kata Umbu suatu kali kepada Arcana di Pantai Sindhu, Sanur. Ia adalah proses menyemai dan mengolah batin agar tidak kering oleh rutinitas.

Saya sering berpikir betapa rapuhnya manusia tanpa cinta. Ia bisa cerdas, berprestasi, dan dihormati, tetapi sekaligus mudah hancur oleh kesepian. Hubungan bisa retak karena gengsi, persahabatan bisa renggang karena salah paham. Namun pada akhirnya, sesuatu yang misterius yang kita sebut cinta membuat kita mau memaafkan, mengulurkan tangan, dan kembali bicara dengan lembut.

Cinta juga yang membuat kita berani mengakui kesalahan. Kadang yang lebih sulit bukan memaafkan orang lain, melainkan memaafkan diri sendiri. Namun jika kita mencintai hidup, kita akan memberi kesempatan pada diri untuk tumbuh kembali.

Begitulah, cinta adalah perekat segalanya. Ia tidak bisa dijelaskan dengan logika, tetapi terasa dalam tindakan sehari-hari yang kecil dan tulus. Bahkan dalam pekerjaan saya sebagai wartawan, ketika menulis berita yang barangkali biasa saja, cinta membuat saya bertahan kepada profesi, kepada pembaca, kepada hidup.

Umbu Landu Paranggi memang akhirnya memiliki buku kumpulan sajak tunggal, tapi itu diterbitkan sebagai penghormatan setelah beliau berpulang. Hidupnya sendiri adalah sajak yang terus ditulis ulang. Ia berjalan di jalan sunyi, namun langkahnya meninggalkan gema bagi banyak orang yang pernah mengenalnya.

Dan kini saya percaya, memang cintalah yang membuat diri sesekali bertahan. Cinta kepada hidup, kepada pekerjaan, kepada orang-orang yang kita sayangi. Cinta yang sederhana, tetapi nyata.

Karena seperti kata Umbu,

“Takkan jemu-jemu napas bergelut di sini, dengan sunyi dan rindu menyanyi.” [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: cintaPuisiUmbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Hanya Ditelan | Cerpen Kadek Indra Putra

Next Post

Neils Bohr, Werner Heisenberg, Wolfgang Pauli, Sains dan Spiritualitas

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Neils Bohr, Werner Heisenberg, Wolfgang Pauli, Sains dan Spiritualitas

Neils Bohr, Werner Heisenberg, Wolfgang Pauli, Sains dan Spiritualitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co