2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memang Cintalah yang Membuat Diri Bertahan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
November 22, 2025
in Esai
Memang Cintalah yang Membuat Diri Bertahan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

PUTU Fajar Arcana, jurnalis, penyair, esais, dan pelukis asal Jembrana, Bali, pada tahun 2019 menulis esai yang indah berjudul Cintalah yang Membuat Diri Bertahan di harian Kompas. Esai itu bukan sekadar catatan jurnalistik, melainkan persembahan untuk Umbu Landu Paranggi (1943-2021), penyair misterius yang hidupnya menjelma legenda. Umbu dikenal sebagai sosok bohemian yang setia kepada puisi dan bukan kepada popularitas.

Dalam tulisannya, Putu Fajar Arcana menggambarkan bagaimana Umbu sejak muda telah menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada puisi. Dari Sumba ia berangkat ke Yogyakarta, menulis sajak-sajak yang membuatnya dihukum di sekolah, tetapi tidak pernah membuatnya gentar. Umbu menempuh jalan sunyi kepenyairan dengan cinta yang total dan pengabdian yang membabi buta kepada kesenian, tulis Arcana.

Cinta dalam konteks itu bukan romantisme, melainkan daya hidup. Sebuah kekuatan yang membuat seseorang tahan menghadapi kesunyian, kerja keras, dan ketidakpastian. Umbu tidak punya ambisi menjadi terkenal. Ia bahkan menghindar dari panggung ketika diberi penghargaan bergengsi. Ia memilih menghilang, sebab bagi Umbu, puisi adalah jalan pencarian, bukan tujuan akhir.

Dari Umbu, kita belajar bahwa cinta bukan hanya perasaan, tetapi laku hidup. Ia menulis dalam puisinya yang terkenal, Melodia,

Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan,

karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan.

Larik itu seolah menjawab banyak pertanyaan tentang bagaimana manusia bisa bertahan di tengah hidup yang melelahkan, dunia kerja yang keras, atau hubungan yang sering retak karena kesalahpahaman.

Sebagai wartawan, saya sering mendapat tugas untuk meliput kegiatan DPRD Badung, Bali. Seperti biasa, setelah acara usai, para undangan dan wartawan mendapat nasi kotak sebagai makan siang. Saya tidak langsung memakannya, melainkan menaruhnya di dalam tas punggung yang selalu saya bawa saat liputan.

Setelah berpamitan kepada rekan-rekan wartawan, saya bergegas meninggalkan kompleks Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung yang megah. Di luar, langit mulai gelap. Mendung menggantung tebal. Saya menuju sebuah kedai kecil di dekat jalan masuk Puspem. Setelah memesan kopi panas, saya duduk di bangku kayu di pojok kedai. Tak lama kemudian, hujan turun deras.

Kopi saya nikmati perlahan. Sembari menunggu hujan reda, saya mengetik berita dari liputan tadi. Tak sampai tiga puluh menit, berita rampung dan saya kirimkan kepada redaktur. Di luar, hujan mulai menipis. Saya membuka aplikasi ojek online di ponsel, lalu memesan kurir untuk mengirim nasi kotak itu kepada tunangan saya di tempat kerjanya.

Beberapa menit kemudian, pengemudi datang menjemput ke kedai. Setelah membayar, ia segera meluncur ke arah tempat tunangan saya bekerja. Saya tahu, ia akan senang menerimanya. Hal sederhana seperti itu sudah sering saya lakukan. Entah mengapa, jika makan sendiri, selalu terasa ada yang kurang.

Tunangan saya banyak menolong saya selama di kota rantau ini. Ia menjadi teman berbagi, pendengar yang sabar, penenang di kala pikiran saya kacau. Ia tidak selalu sempurna, pun saya. Namun kami sama-sama belajar bertahan. Saya percaya, cinta bukan tentang siapa yang lebih benar, melainkan siapa yang lebih sabar.

Cintalah yang membuat diri bertahan, kata Umbu. Dan saya kini benar-benar mengerti maknanya.

Kadang cinta tidak perlu dirayakan dengan kata-kata besar. Ia cukup hadir dalam bentuk kecil, secangkir kopi panas di tengah hujan, sebuah nasi kotak yang dikirim diam-diam, pesan singkat bertuliskan “hati-hati di jalan”, atau tatapan lelah yang tetap mengandung harapan.

Cinta, seperti puisi bagi Umbu, adalah cara untuk menanam di ladang diri. Nandurin karang awak, kata Umbu suatu kali kepada Arcana di Pantai Sindhu, Sanur. Ia adalah proses menyemai dan mengolah batin agar tidak kering oleh rutinitas.

Saya sering berpikir betapa rapuhnya manusia tanpa cinta. Ia bisa cerdas, berprestasi, dan dihormati, tetapi sekaligus mudah hancur oleh kesepian. Hubungan bisa retak karena gengsi, persahabatan bisa renggang karena salah paham. Namun pada akhirnya, sesuatu yang misterius yang kita sebut cinta membuat kita mau memaafkan, mengulurkan tangan, dan kembali bicara dengan lembut.

Cinta juga yang membuat kita berani mengakui kesalahan. Kadang yang lebih sulit bukan memaafkan orang lain, melainkan memaafkan diri sendiri. Namun jika kita mencintai hidup, kita akan memberi kesempatan pada diri untuk tumbuh kembali.

Begitulah, cinta adalah perekat segalanya. Ia tidak bisa dijelaskan dengan logika, tetapi terasa dalam tindakan sehari-hari yang kecil dan tulus. Bahkan dalam pekerjaan saya sebagai wartawan, ketika menulis berita yang barangkali biasa saja, cinta membuat saya bertahan kepada profesi, kepada pembaca, kepada hidup.

Umbu Landu Paranggi memang akhirnya memiliki buku kumpulan sajak tunggal, tapi itu diterbitkan sebagai penghormatan setelah beliau berpulang. Hidupnya sendiri adalah sajak yang terus ditulis ulang. Ia berjalan di jalan sunyi, namun langkahnya meninggalkan gema bagi banyak orang yang pernah mengenalnya.

Dan kini saya percaya, memang cintalah yang membuat diri sesekali bertahan. Cinta kepada hidup, kepada pekerjaan, kepada orang-orang yang kita sayangi. Cinta yang sederhana, tetapi nyata.

Karena seperti kata Umbu,

“Takkan jemu-jemu napas bergelut di sini, dengan sunyi dan rindu menyanyi.” [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: cintaPuisiUmbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Hanya Ditelan | Cerpen Kadek Indra Putra

Next Post

Neils Bohr, Werner Heisenberg, Wolfgang Pauli, Sains dan Spiritualitas

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Neils Bohr, Werner Heisenberg, Wolfgang Pauli, Sains dan Spiritualitas

Neils Bohr, Werner Heisenberg, Wolfgang Pauli, Sains dan Spiritualitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co