24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film ‘Abadi Nan Jaya’,  Saat Jamu Eksperimen Menyulap Jadi Zombie

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
November 7, 2025
in Ulas Film
Film ‘Abadi Nan Jaya’,  Saat Jamu Eksperimen Menyulap Jadi Zombie

Still cut film Indonesia Abadi Nan Jaya (dok. Netflix/Abadi Nan Jaya) | Diambil dari idntimes.com

JAGAT persilatan film Netflix Indonesia sedang agak heboh.  Film “Abadi Nan Jaya” nongol dan langsung melesat ke posisi nomor satu. Bukan film laga bandit, bukan thriller psikologis, tapi film dengan tema zombie. Film ini mengambil latar belakang Indonesia tepatnya di daerah Bantul, Yogyakarta. Film ini memulai wabah zombienya bukan dari gigitan langsung sesorang yang kena virus zombie, tapi dari jamu eksperimen baru yang dibuat untuk memburu keuntungan besar.

Ironi? Tentu saja. Seolah ada simbolisme yang tebal di situ, ketika tradisi “jamu asli” yang merepresentasikan akar kemanusiaan Nusantara kita, diganti oleh “jamu eksperimen” hasil insting kerakusan modernitas. Hasilnya, manusia bukan menjadi lebih hebat. Justru sebaliknya, sesaat saja tampak hebat namun dalam waktu singkat manusianya menjadi hancur, kehilangan roh, menjadi hidup tanpa kehidupan, yang secara visual diterjemahkan oleh film ini sebagai zombie. Dan itulah permen filosofis paling pedas yang disodorkan film ini. Bahwa kehancuran manusia bukan dimulai dari sesuatu yang supernatural, apalagi ekstraterestrial, tapi dimulai dari keserakahan biasa. Dari pilihan ekonomi, juga dari manipulasi budaya.

Zombie dalam dunia pop global memang sudah lama menjadi arketipe yang sangat dalam. Carl Jung (1959) menjelaskan bahwa masyarakat selalu menekan sisi gelap kolektifnya seperti egoisme, brutalitas, kecenderungan membenci diri sendiri, dan sisi gelap itu akan muncul melalui simbol-simbol budaya. Zombie adalah simbol masyarakat yang bergerak tapi kosong, berjalan tapi tanpa roh, dan hidup tapi kehilangan makna dan identitas diri. Mungkin itu sebabnya zombie selalu populer karena zombie bukan sekadar hantu, tapi memang karena zombie adalah kita yang kehilangan akarnya.

Dalam konteks modern, ketakutan terbesar ini bukan lagi ketakutan terhadap kematian, melainkan ketakutan terhadap kehilangan kemanusiaan. Sartre (1943) sudah memperingatkan bahwa manusia modern menjadi pelaku peran belaka, sekumpulan orang yang menjalani hidup otomatis tanpa otonomi. Kita bangun, kerja, produksi konten, memberi makan algoritma, pulang, tidur  dan besok mengulang hal itu lagi.

Pola repetitif yang tidak henti-henti itu membunuh makna hidup secara pelan-pelan. Sartre menyebut ini sebagai “keberadaan yang terjatuh“, di mana manusia tidak lagi menciptakan dirinya sendiri, tetapi membiarkan dirinya dibentuk oleh struktur sosial. Itu zombie urban dan “Abadi Nan Jaya” sepertinya menangkap kecemasan itu. Ketakutan lain adalah ketakutan akan ambruknya moral kolektif. Nietzsche (1887) pernah mengingatkan adanya bahaya nihilisme nilai, ketika kita tidak lagi tahu apa yang baik, maka kita akan ikut terjatuh ke arus kosong mayoritas.

Zombie dalam film ini bukan sebagai monster lebay dan heboh untuk sekedar bikin takut. Zombie ini adalah bentuk ancaman bagi manusia modern, yang kehilangan moral karena menyerahkan nilai-nilai asli kepada kepentingan korporasi. “Abadi nan Jaya” ini menunjukkan dengan gamblang bahwa manusia modern bukan dimakan oleh roh jahat, tetapi dimakan oleh sistem yang menyalahi “keseimbangan tradisi” demi keuntungan ekonomi.

Masyarakat yang Terinfeksi

Namun ada metafora paling kuat yang hadir bukan dari jamunya, melainkan dari cara penularannya.

Memang awalnya dari jamu eksperimen. Tetapi setelah itu, ya, penularan kembali ke formula klasik yaitu gigitan. Dalam artian metaforis, manusia menjadi zombie bukan hanya karena menelan nilai palsu, tetapi karena disakiti oleh mereka yang sudah sakit. Ini lapisan simbolis dalam film ini yang menurut saya sangat menyedihkan.

Dalam realitas sosial kita, orang-orang yang hancur mental, misal nih, karena ditindas atasan, karena ditipu investasi bodong, karena utang, karena depresi, karena tertindas algoritma dan bandwagon media sosial, mereka ini sering tidak sadar melakukan hal yang sama,  mereka mulai berkeliaran dan menggigit orang lain. Dalam teori psikoanalitik modern, ini dikenal sebagai “hurt people hurt people.” Lukanya tidak diolah, maka luka itu tidak tertahan dan sembuh di dalam. Luka itu bergerak,  menular, mewabah dan  menjadi kekerasan sosial.

Kierkegaard (1844) menyebut kecemasan manusia itu sifatnya menular, jadi karakternya bisa jadi seperti virus. Dan film zombie saya kira adalah visualisasi paling ekstrem dari konsep itu. Zombie bukan metafor tentang kematian. Zombie adalah metafor tentang trauma sosial yang tidak diselesaikan. Dan di bagian ini, “Abadi Nan Jaya” memukul sangat tepat. Karena jamu eksperimen di film ini bukan sekadar cairan. Itu merupakan metafor. Bolehlah kita bertanya dalam dunia nyata kita, apa jamu ekperimen yang kita telan hari ini? Jamu ekperimen itu bisa berbentuk filosofi “sukses sama dengan  uang”, atau “viral dulu, nilai belakangan” bahkan sampai juga ke prinsip “aku harus kuat terus, aku tidak boleh rapuh”.

Dalam dunia kita yang sekarang ini serba cepat dan modern, semua itu membuat manusia hidup bukan sebagai manusia, tapi sebagai performa, sebagai data, sebagai konten, pun sebagai target. Kita pelan-pelan tanpa sadar menjadi “zombie mental” yang bisa menggigit orang lain sewaktu-waktu. Memakan orang lain, memanfaatkan orang lain,  memanipulasi orang lain, menyakiti orang lain , dan semua itu dilakukan tanpa nurani. Nah, apa bedanya dengan zombie?

Jamu Asli Nusantara

Kita sangat mengenal jamu sebagai bagian dari warisan budaya Nusantara.  Kita tahu bahwa jamu asli adalah metafora keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan kosmos. Jamu asli tidak pernah dimaksudkan untuk membuat kita abadi atau kebal. Jamu asli diciptakan untuk membuat kita harmonis, selaras dan seimbang , dengan demikian badan dan jiwa menjadi sehat. Dan masyarakat yang merawat harmoni tidak perlu menjadi kuat secara agresif. Ia cukup menjadi manusia. Inilah yang dilupakan oleh masyarakat modern.

Kita mengejar kekuatan. Kita lupa bahwa  pengejaran kekuatan adalah sumber ketidakamanan dan terlepasnya kedamaian. Konsekuensinya, kita menjadi “makhluk berjalan” yang kehilangan akar, menjadi massa yang rapuh, mudah dikendalikan, dan pada akhirnya menjadi sesuatu yang sangat mirip zombie dalam film itu.

Dan saya kira inilah punchline-nya.  Bagi saya pribadi, film ini secara simbolis mengatakan, kita harus minum “jamu asli” lagi. Kembali ke nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan lokal kita, apa pun itu yang bisa kita definisikan sebagai “Jamu Asli Indonesia”. Sebutlah dari  Aceh Bek peugah that, hana meugah nyan. Dari Tanah Sunda ada ulah ngagul-ngagul, bisi kagug, Timor punya natu na’an, natu meto dan besi le’u, besi le’u, ai le’u, dan secara umum bangsa kita punya gotong royong, welas asih, tepa slira, dan banyak contoh lain jamu asli ini.

Indonesia Tanah Air Beta

Saya yakin, bangsa yang sakit, tidak akan sembuh dengan “ramuan luar.” Bangsa yang sakit harus pulang ke akar, agar bisa tumbuh menjadi batang baru. Dan saya merasa itu pesan yang sangat relevan untuk Indonesia hari ini.

Film zombie ini sejatinya tidak sekadar pamer riasan atau efek yang memukau. Ia sedang memperingatkan kita sebagai orang dewasa,  jangan sampai kita memasukkan sesuatu ke tubuh pikiran kita, moral kita, nilai hidup kita, yang bukan berasal dari akar kearifan kita sendiri. Hal itu yang akan menjaga kita tetap waras.

Karena sekali kita tertular, kita sakit dan akan cenderung menggigit orang lain. Pada titik itulah, kita bukan lagi manusia, tapi kita sudah menjadi zombie. Jadi, mari kita sama-sama tenggak jamunya agar tetap jadi orang waras Indonesia. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: filmFilm Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

ISI Bali Perkenalkan Melukis Wayang Kamasan di Media Plexsiglas dan Pot Gerabah Kepada Anak-anak anak Sanggar Sinar Pande Kamasan Klungkung

Next Post

Ironi Curhat Berbayar

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Ironi Curhat Berbayar

Ironi Curhat Berbayar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co