13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film ‘Abadi Nan Jaya’,  Saat Jamu Eksperimen Menyulap Jadi Zombie

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
November 7, 2025
in Ulas Film
Film ‘Abadi Nan Jaya’,  Saat Jamu Eksperimen Menyulap Jadi Zombie

Still cut film Indonesia Abadi Nan Jaya (dok. Netflix/Abadi Nan Jaya) | Diambil dari idntimes.com

JAGAT persilatan film Netflix Indonesia sedang agak heboh.  Film “Abadi Nan Jaya” nongol dan langsung melesat ke posisi nomor satu. Bukan film laga bandit, bukan thriller psikologis, tapi film dengan tema zombie. Film ini mengambil latar belakang Indonesia tepatnya di daerah Bantul, Yogyakarta. Film ini memulai wabah zombienya bukan dari gigitan langsung sesorang yang kena virus zombie, tapi dari jamu eksperimen baru yang dibuat untuk memburu keuntungan besar.

Ironi? Tentu saja. Seolah ada simbolisme yang tebal di situ, ketika tradisi “jamu asli” yang merepresentasikan akar kemanusiaan Nusantara kita, diganti oleh “jamu eksperimen” hasil insting kerakusan modernitas. Hasilnya, manusia bukan menjadi lebih hebat. Justru sebaliknya, sesaat saja tampak hebat namun dalam waktu singkat manusianya menjadi hancur, kehilangan roh, menjadi hidup tanpa kehidupan, yang secara visual diterjemahkan oleh film ini sebagai zombie. Dan itulah permen filosofis paling pedas yang disodorkan film ini. Bahwa kehancuran manusia bukan dimulai dari sesuatu yang supernatural, apalagi ekstraterestrial, tapi dimulai dari keserakahan biasa. Dari pilihan ekonomi, juga dari manipulasi budaya.

Zombie dalam dunia pop global memang sudah lama menjadi arketipe yang sangat dalam. Carl Jung (1959) menjelaskan bahwa masyarakat selalu menekan sisi gelap kolektifnya seperti egoisme, brutalitas, kecenderungan membenci diri sendiri, dan sisi gelap itu akan muncul melalui simbol-simbol budaya. Zombie adalah simbol masyarakat yang bergerak tapi kosong, berjalan tapi tanpa roh, dan hidup tapi kehilangan makna dan identitas diri. Mungkin itu sebabnya zombie selalu populer karena zombie bukan sekadar hantu, tapi memang karena zombie adalah kita yang kehilangan akarnya.

Dalam konteks modern, ketakutan terbesar ini bukan lagi ketakutan terhadap kematian, melainkan ketakutan terhadap kehilangan kemanusiaan. Sartre (1943) sudah memperingatkan bahwa manusia modern menjadi pelaku peran belaka, sekumpulan orang yang menjalani hidup otomatis tanpa otonomi. Kita bangun, kerja, produksi konten, memberi makan algoritma, pulang, tidur  dan besok mengulang hal itu lagi.

Pola repetitif yang tidak henti-henti itu membunuh makna hidup secara pelan-pelan. Sartre menyebut ini sebagai “keberadaan yang terjatuh“, di mana manusia tidak lagi menciptakan dirinya sendiri, tetapi membiarkan dirinya dibentuk oleh struktur sosial. Itu zombie urban dan “Abadi Nan Jaya” sepertinya menangkap kecemasan itu. Ketakutan lain adalah ketakutan akan ambruknya moral kolektif. Nietzsche (1887) pernah mengingatkan adanya bahaya nihilisme nilai, ketika kita tidak lagi tahu apa yang baik, maka kita akan ikut terjatuh ke arus kosong mayoritas.

Zombie dalam film ini bukan sebagai monster lebay dan heboh untuk sekedar bikin takut. Zombie ini adalah bentuk ancaman bagi manusia modern, yang kehilangan moral karena menyerahkan nilai-nilai asli kepada kepentingan korporasi. “Abadi nan Jaya” ini menunjukkan dengan gamblang bahwa manusia modern bukan dimakan oleh roh jahat, tetapi dimakan oleh sistem yang menyalahi “keseimbangan tradisi” demi keuntungan ekonomi.

Masyarakat yang Terinfeksi

Namun ada metafora paling kuat yang hadir bukan dari jamunya, melainkan dari cara penularannya.

Memang awalnya dari jamu eksperimen. Tetapi setelah itu, ya, penularan kembali ke formula klasik yaitu gigitan. Dalam artian metaforis, manusia menjadi zombie bukan hanya karena menelan nilai palsu, tetapi karena disakiti oleh mereka yang sudah sakit. Ini lapisan simbolis dalam film ini yang menurut saya sangat menyedihkan.

Dalam realitas sosial kita, orang-orang yang hancur mental, misal nih, karena ditindas atasan, karena ditipu investasi bodong, karena utang, karena depresi, karena tertindas algoritma dan bandwagon media sosial, mereka ini sering tidak sadar melakukan hal yang sama,  mereka mulai berkeliaran dan menggigit orang lain. Dalam teori psikoanalitik modern, ini dikenal sebagai “hurt people hurt people.” Lukanya tidak diolah, maka luka itu tidak tertahan dan sembuh di dalam. Luka itu bergerak,  menular, mewabah dan  menjadi kekerasan sosial.

Kierkegaard (1844) menyebut kecemasan manusia itu sifatnya menular, jadi karakternya bisa jadi seperti virus. Dan film zombie saya kira adalah visualisasi paling ekstrem dari konsep itu. Zombie bukan metafor tentang kematian. Zombie adalah metafor tentang trauma sosial yang tidak diselesaikan. Dan di bagian ini, “Abadi Nan Jaya” memukul sangat tepat. Karena jamu eksperimen di film ini bukan sekadar cairan. Itu merupakan metafor. Bolehlah kita bertanya dalam dunia nyata kita, apa jamu ekperimen yang kita telan hari ini? Jamu ekperimen itu bisa berbentuk filosofi “sukses sama dengan  uang”, atau “viral dulu, nilai belakangan” bahkan sampai juga ke prinsip “aku harus kuat terus, aku tidak boleh rapuh”.

Dalam dunia kita yang sekarang ini serba cepat dan modern, semua itu membuat manusia hidup bukan sebagai manusia, tapi sebagai performa, sebagai data, sebagai konten, pun sebagai target. Kita pelan-pelan tanpa sadar menjadi “zombie mental” yang bisa menggigit orang lain sewaktu-waktu. Memakan orang lain, memanfaatkan orang lain,  memanipulasi orang lain, menyakiti orang lain , dan semua itu dilakukan tanpa nurani. Nah, apa bedanya dengan zombie?

Jamu Asli Nusantara

Kita sangat mengenal jamu sebagai bagian dari warisan budaya Nusantara.  Kita tahu bahwa jamu asli adalah metafora keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan kosmos. Jamu asli tidak pernah dimaksudkan untuk membuat kita abadi atau kebal. Jamu asli diciptakan untuk membuat kita harmonis, selaras dan seimbang , dengan demikian badan dan jiwa menjadi sehat. Dan masyarakat yang merawat harmoni tidak perlu menjadi kuat secara agresif. Ia cukup menjadi manusia. Inilah yang dilupakan oleh masyarakat modern.

Kita mengejar kekuatan. Kita lupa bahwa  pengejaran kekuatan adalah sumber ketidakamanan dan terlepasnya kedamaian. Konsekuensinya, kita menjadi “makhluk berjalan” yang kehilangan akar, menjadi massa yang rapuh, mudah dikendalikan, dan pada akhirnya menjadi sesuatu yang sangat mirip zombie dalam film itu.

Dan saya kira inilah punchline-nya.  Bagi saya pribadi, film ini secara simbolis mengatakan, kita harus minum “jamu asli” lagi. Kembali ke nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan lokal kita, apa pun itu yang bisa kita definisikan sebagai “Jamu Asli Indonesia”. Sebutlah dari  Aceh Bek peugah that, hana meugah nyan. Dari Tanah Sunda ada ulah ngagul-ngagul, bisi kagug, Timor punya natu na’an, natu meto dan besi le’u, besi le’u, ai le’u, dan secara umum bangsa kita punya gotong royong, welas asih, tepa slira, dan banyak contoh lain jamu asli ini.

Indonesia Tanah Air Beta

Saya yakin, bangsa yang sakit, tidak akan sembuh dengan “ramuan luar.” Bangsa yang sakit harus pulang ke akar, agar bisa tumbuh menjadi batang baru. Dan saya merasa itu pesan yang sangat relevan untuk Indonesia hari ini.

Film zombie ini sejatinya tidak sekadar pamer riasan atau efek yang memukau. Ia sedang memperingatkan kita sebagai orang dewasa,  jangan sampai kita memasukkan sesuatu ke tubuh pikiran kita, moral kita, nilai hidup kita, yang bukan berasal dari akar kearifan kita sendiri. Hal itu yang akan menjaga kita tetap waras.

Karena sekali kita tertular, kita sakit dan akan cenderung menggigit orang lain. Pada titik itulah, kita bukan lagi manusia, tapi kita sudah menjadi zombie. Jadi, mari kita sama-sama tenggak jamunya agar tetap jadi orang waras Indonesia. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: filmFilm Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

ISI Bali Perkenalkan Melukis Wayang Kamasan di Media Plexsiglas dan Pot Gerabah Kepada Anak-anak anak Sanggar Sinar Pande Kamasan Klungkung

Next Post

Ironi Curhat Berbayar

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Ironi Curhat Berbayar

Ironi Curhat Berbayar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co