2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film ‘Abadi Nan Jaya’,  Saat Jamu Eksperimen Menyulap Jadi Zombie

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
November 7, 2025
in Ulas Film
Film ‘Abadi Nan Jaya’,  Saat Jamu Eksperimen Menyulap Jadi Zombie

Still cut film Indonesia Abadi Nan Jaya (dok. Netflix/Abadi Nan Jaya) | Diambil dari idntimes.com

JAGAT persilatan film Netflix Indonesia sedang agak heboh.  Film “Abadi Nan Jaya” nongol dan langsung melesat ke posisi nomor satu. Bukan film laga bandit, bukan thriller psikologis, tapi film dengan tema zombie. Film ini mengambil latar belakang Indonesia tepatnya di daerah Bantul, Yogyakarta. Film ini memulai wabah zombienya bukan dari gigitan langsung sesorang yang kena virus zombie, tapi dari jamu eksperimen baru yang dibuat untuk memburu keuntungan besar.

Ironi? Tentu saja. Seolah ada simbolisme yang tebal di situ, ketika tradisi “jamu asli” yang merepresentasikan akar kemanusiaan Nusantara kita, diganti oleh “jamu eksperimen” hasil insting kerakusan modernitas. Hasilnya, manusia bukan menjadi lebih hebat. Justru sebaliknya, sesaat saja tampak hebat namun dalam waktu singkat manusianya menjadi hancur, kehilangan roh, menjadi hidup tanpa kehidupan, yang secara visual diterjemahkan oleh film ini sebagai zombie. Dan itulah permen filosofis paling pedas yang disodorkan film ini. Bahwa kehancuran manusia bukan dimulai dari sesuatu yang supernatural, apalagi ekstraterestrial, tapi dimulai dari keserakahan biasa. Dari pilihan ekonomi, juga dari manipulasi budaya.

Zombie dalam dunia pop global memang sudah lama menjadi arketipe yang sangat dalam. Carl Jung (1959) menjelaskan bahwa masyarakat selalu menekan sisi gelap kolektifnya seperti egoisme, brutalitas, kecenderungan membenci diri sendiri, dan sisi gelap itu akan muncul melalui simbol-simbol budaya. Zombie adalah simbol masyarakat yang bergerak tapi kosong, berjalan tapi tanpa roh, dan hidup tapi kehilangan makna dan identitas diri. Mungkin itu sebabnya zombie selalu populer karena zombie bukan sekadar hantu, tapi memang karena zombie adalah kita yang kehilangan akarnya.

Dalam konteks modern, ketakutan terbesar ini bukan lagi ketakutan terhadap kematian, melainkan ketakutan terhadap kehilangan kemanusiaan. Sartre (1943) sudah memperingatkan bahwa manusia modern menjadi pelaku peran belaka, sekumpulan orang yang menjalani hidup otomatis tanpa otonomi. Kita bangun, kerja, produksi konten, memberi makan algoritma, pulang, tidur  dan besok mengulang hal itu lagi.

Pola repetitif yang tidak henti-henti itu membunuh makna hidup secara pelan-pelan. Sartre menyebut ini sebagai “keberadaan yang terjatuh“, di mana manusia tidak lagi menciptakan dirinya sendiri, tetapi membiarkan dirinya dibentuk oleh struktur sosial. Itu zombie urban dan “Abadi Nan Jaya” sepertinya menangkap kecemasan itu. Ketakutan lain adalah ketakutan akan ambruknya moral kolektif. Nietzsche (1887) pernah mengingatkan adanya bahaya nihilisme nilai, ketika kita tidak lagi tahu apa yang baik, maka kita akan ikut terjatuh ke arus kosong mayoritas.

Zombie dalam film ini bukan sebagai monster lebay dan heboh untuk sekedar bikin takut. Zombie ini adalah bentuk ancaman bagi manusia modern, yang kehilangan moral karena menyerahkan nilai-nilai asli kepada kepentingan korporasi. “Abadi nan Jaya” ini menunjukkan dengan gamblang bahwa manusia modern bukan dimakan oleh roh jahat, tetapi dimakan oleh sistem yang menyalahi “keseimbangan tradisi” demi keuntungan ekonomi.

Masyarakat yang Terinfeksi

Namun ada metafora paling kuat yang hadir bukan dari jamunya, melainkan dari cara penularannya.

Memang awalnya dari jamu eksperimen. Tetapi setelah itu, ya, penularan kembali ke formula klasik yaitu gigitan. Dalam artian metaforis, manusia menjadi zombie bukan hanya karena menelan nilai palsu, tetapi karena disakiti oleh mereka yang sudah sakit. Ini lapisan simbolis dalam film ini yang menurut saya sangat menyedihkan.

Dalam realitas sosial kita, orang-orang yang hancur mental, misal nih, karena ditindas atasan, karena ditipu investasi bodong, karena utang, karena depresi, karena tertindas algoritma dan bandwagon media sosial, mereka ini sering tidak sadar melakukan hal yang sama,  mereka mulai berkeliaran dan menggigit orang lain. Dalam teori psikoanalitik modern, ini dikenal sebagai “hurt people hurt people.” Lukanya tidak diolah, maka luka itu tidak tertahan dan sembuh di dalam. Luka itu bergerak,  menular, mewabah dan  menjadi kekerasan sosial.

Kierkegaard (1844) menyebut kecemasan manusia itu sifatnya menular, jadi karakternya bisa jadi seperti virus. Dan film zombie saya kira adalah visualisasi paling ekstrem dari konsep itu. Zombie bukan metafor tentang kematian. Zombie adalah metafor tentang trauma sosial yang tidak diselesaikan. Dan di bagian ini, “Abadi Nan Jaya” memukul sangat tepat. Karena jamu eksperimen di film ini bukan sekadar cairan. Itu merupakan metafor. Bolehlah kita bertanya dalam dunia nyata kita, apa jamu ekperimen yang kita telan hari ini? Jamu ekperimen itu bisa berbentuk filosofi “sukses sama dengan  uang”, atau “viral dulu, nilai belakangan” bahkan sampai juga ke prinsip “aku harus kuat terus, aku tidak boleh rapuh”.

Dalam dunia kita yang sekarang ini serba cepat dan modern, semua itu membuat manusia hidup bukan sebagai manusia, tapi sebagai performa, sebagai data, sebagai konten, pun sebagai target. Kita pelan-pelan tanpa sadar menjadi “zombie mental” yang bisa menggigit orang lain sewaktu-waktu. Memakan orang lain, memanfaatkan orang lain,  memanipulasi orang lain, menyakiti orang lain , dan semua itu dilakukan tanpa nurani. Nah, apa bedanya dengan zombie?

Jamu Asli Nusantara

Kita sangat mengenal jamu sebagai bagian dari warisan budaya Nusantara.  Kita tahu bahwa jamu asli adalah metafora keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan kosmos. Jamu asli tidak pernah dimaksudkan untuk membuat kita abadi atau kebal. Jamu asli diciptakan untuk membuat kita harmonis, selaras dan seimbang , dengan demikian badan dan jiwa menjadi sehat. Dan masyarakat yang merawat harmoni tidak perlu menjadi kuat secara agresif. Ia cukup menjadi manusia. Inilah yang dilupakan oleh masyarakat modern.

Kita mengejar kekuatan. Kita lupa bahwa  pengejaran kekuatan adalah sumber ketidakamanan dan terlepasnya kedamaian. Konsekuensinya, kita menjadi “makhluk berjalan” yang kehilangan akar, menjadi massa yang rapuh, mudah dikendalikan, dan pada akhirnya menjadi sesuatu yang sangat mirip zombie dalam film itu.

Dan saya kira inilah punchline-nya.  Bagi saya pribadi, film ini secara simbolis mengatakan, kita harus minum “jamu asli” lagi. Kembali ke nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan lokal kita, apa pun itu yang bisa kita definisikan sebagai “Jamu Asli Indonesia”. Sebutlah dari  Aceh Bek peugah that, hana meugah nyan. Dari Tanah Sunda ada ulah ngagul-ngagul, bisi kagug, Timor punya natu na’an, natu meto dan besi le’u, besi le’u, ai le’u, dan secara umum bangsa kita punya gotong royong, welas asih, tepa slira, dan banyak contoh lain jamu asli ini.

Indonesia Tanah Air Beta

Saya yakin, bangsa yang sakit, tidak akan sembuh dengan “ramuan luar.” Bangsa yang sakit harus pulang ke akar, agar bisa tumbuh menjadi batang baru. Dan saya merasa itu pesan yang sangat relevan untuk Indonesia hari ini.

Film zombie ini sejatinya tidak sekadar pamer riasan atau efek yang memukau. Ia sedang memperingatkan kita sebagai orang dewasa,  jangan sampai kita memasukkan sesuatu ke tubuh pikiran kita, moral kita, nilai hidup kita, yang bukan berasal dari akar kearifan kita sendiri. Hal itu yang akan menjaga kita tetap waras.

Karena sekali kita tertular, kita sakit dan akan cenderung menggigit orang lain. Pada titik itulah, kita bukan lagi manusia, tapi kita sudah menjadi zombie. Jadi, mari kita sama-sama tenggak jamunya agar tetap jadi orang waras Indonesia. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: filmFilm Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

ISI Bali Perkenalkan Melukis Wayang Kamasan di Media Plexsiglas dan Pot Gerabah Kepada Anak-anak anak Sanggar Sinar Pande Kamasan Klungkung

Next Post

Ironi Curhat Berbayar

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails
Next Post
Ironi Curhat Berbayar

Ironi Curhat Berbayar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co