12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film ‘Abadi Nan Jaya’,  Saat Jamu Eksperimen Menyulap Jadi Zombie

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
November 7, 2025
in Ulas Film
Film ‘Abadi Nan Jaya’,  Saat Jamu Eksperimen Menyulap Jadi Zombie

Still cut film Indonesia Abadi Nan Jaya (dok. Netflix/Abadi Nan Jaya) | Diambil dari idntimes.com

JAGAT persilatan film Netflix Indonesia sedang agak heboh.  Film “Abadi Nan Jaya” nongol dan langsung melesat ke posisi nomor satu. Bukan film laga bandit, bukan thriller psikologis, tapi film dengan tema zombie. Film ini mengambil latar belakang Indonesia tepatnya di daerah Bantul, Yogyakarta. Film ini memulai wabah zombienya bukan dari gigitan langsung sesorang yang kena virus zombie, tapi dari jamu eksperimen baru yang dibuat untuk memburu keuntungan besar.

Ironi? Tentu saja. Seolah ada simbolisme yang tebal di situ, ketika tradisi “jamu asli” yang merepresentasikan akar kemanusiaan Nusantara kita, diganti oleh “jamu eksperimen” hasil insting kerakusan modernitas. Hasilnya, manusia bukan menjadi lebih hebat. Justru sebaliknya, sesaat saja tampak hebat namun dalam waktu singkat manusianya menjadi hancur, kehilangan roh, menjadi hidup tanpa kehidupan, yang secara visual diterjemahkan oleh film ini sebagai zombie. Dan itulah permen filosofis paling pedas yang disodorkan film ini. Bahwa kehancuran manusia bukan dimulai dari sesuatu yang supernatural, apalagi ekstraterestrial, tapi dimulai dari keserakahan biasa. Dari pilihan ekonomi, juga dari manipulasi budaya.

Zombie dalam dunia pop global memang sudah lama menjadi arketipe yang sangat dalam. Carl Jung (1959) menjelaskan bahwa masyarakat selalu menekan sisi gelap kolektifnya seperti egoisme, brutalitas, kecenderungan membenci diri sendiri, dan sisi gelap itu akan muncul melalui simbol-simbol budaya. Zombie adalah simbol masyarakat yang bergerak tapi kosong, berjalan tapi tanpa roh, dan hidup tapi kehilangan makna dan identitas diri. Mungkin itu sebabnya zombie selalu populer karena zombie bukan sekadar hantu, tapi memang karena zombie adalah kita yang kehilangan akarnya.

Dalam konteks modern, ketakutan terbesar ini bukan lagi ketakutan terhadap kematian, melainkan ketakutan terhadap kehilangan kemanusiaan. Sartre (1943) sudah memperingatkan bahwa manusia modern menjadi pelaku peran belaka, sekumpulan orang yang menjalani hidup otomatis tanpa otonomi. Kita bangun, kerja, produksi konten, memberi makan algoritma, pulang, tidur  dan besok mengulang hal itu lagi.

Pola repetitif yang tidak henti-henti itu membunuh makna hidup secara pelan-pelan. Sartre menyebut ini sebagai “keberadaan yang terjatuh“, di mana manusia tidak lagi menciptakan dirinya sendiri, tetapi membiarkan dirinya dibentuk oleh struktur sosial. Itu zombie urban dan “Abadi Nan Jaya” sepertinya menangkap kecemasan itu. Ketakutan lain adalah ketakutan akan ambruknya moral kolektif. Nietzsche (1887) pernah mengingatkan adanya bahaya nihilisme nilai, ketika kita tidak lagi tahu apa yang baik, maka kita akan ikut terjatuh ke arus kosong mayoritas.

Zombie dalam film ini bukan sebagai monster lebay dan heboh untuk sekedar bikin takut. Zombie ini adalah bentuk ancaman bagi manusia modern, yang kehilangan moral karena menyerahkan nilai-nilai asli kepada kepentingan korporasi. “Abadi nan Jaya” ini menunjukkan dengan gamblang bahwa manusia modern bukan dimakan oleh roh jahat, tetapi dimakan oleh sistem yang menyalahi “keseimbangan tradisi” demi keuntungan ekonomi.

Masyarakat yang Terinfeksi

Namun ada metafora paling kuat yang hadir bukan dari jamunya, melainkan dari cara penularannya.

Memang awalnya dari jamu eksperimen. Tetapi setelah itu, ya, penularan kembali ke formula klasik yaitu gigitan. Dalam artian metaforis, manusia menjadi zombie bukan hanya karena menelan nilai palsu, tetapi karena disakiti oleh mereka yang sudah sakit. Ini lapisan simbolis dalam film ini yang menurut saya sangat menyedihkan.

Dalam realitas sosial kita, orang-orang yang hancur mental, misal nih, karena ditindas atasan, karena ditipu investasi bodong, karena utang, karena depresi, karena tertindas algoritma dan bandwagon media sosial, mereka ini sering tidak sadar melakukan hal yang sama,  mereka mulai berkeliaran dan menggigit orang lain. Dalam teori psikoanalitik modern, ini dikenal sebagai “hurt people hurt people.” Lukanya tidak diolah, maka luka itu tidak tertahan dan sembuh di dalam. Luka itu bergerak,  menular, mewabah dan  menjadi kekerasan sosial.

Kierkegaard (1844) menyebut kecemasan manusia itu sifatnya menular, jadi karakternya bisa jadi seperti virus. Dan film zombie saya kira adalah visualisasi paling ekstrem dari konsep itu. Zombie bukan metafor tentang kematian. Zombie adalah metafor tentang trauma sosial yang tidak diselesaikan. Dan di bagian ini, “Abadi Nan Jaya” memukul sangat tepat. Karena jamu eksperimen di film ini bukan sekadar cairan. Itu merupakan metafor. Bolehlah kita bertanya dalam dunia nyata kita, apa jamu ekperimen yang kita telan hari ini? Jamu ekperimen itu bisa berbentuk filosofi “sukses sama dengan  uang”, atau “viral dulu, nilai belakangan” bahkan sampai juga ke prinsip “aku harus kuat terus, aku tidak boleh rapuh”.

Dalam dunia kita yang sekarang ini serba cepat dan modern, semua itu membuat manusia hidup bukan sebagai manusia, tapi sebagai performa, sebagai data, sebagai konten, pun sebagai target. Kita pelan-pelan tanpa sadar menjadi “zombie mental” yang bisa menggigit orang lain sewaktu-waktu. Memakan orang lain, memanfaatkan orang lain,  memanipulasi orang lain, menyakiti orang lain , dan semua itu dilakukan tanpa nurani. Nah, apa bedanya dengan zombie?

Jamu Asli Nusantara

Kita sangat mengenal jamu sebagai bagian dari warisan budaya Nusantara.  Kita tahu bahwa jamu asli adalah metafora keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan kosmos. Jamu asli tidak pernah dimaksudkan untuk membuat kita abadi atau kebal. Jamu asli diciptakan untuk membuat kita harmonis, selaras dan seimbang , dengan demikian badan dan jiwa menjadi sehat. Dan masyarakat yang merawat harmoni tidak perlu menjadi kuat secara agresif. Ia cukup menjadi manusia. Inilah yang dilupakan oleh masyarakat modern.

Kita mengejar kekuatan. Kita lupa bahwa  pengejaran kekuatan adalah sumber ketidakamanan dan terlepasnya kedamaian. Konsekuensinya, kita menjadi “makhluk berjalan” yang kehilangan akar, menjadi massa yang rapuh, mudah dikendalikan, dan pada akhirnya menjadi sesuatu yang sangat mirip zombie dalam film itu.

Dan saya kira inilah punchline-nya.  Bagi saya pribadi, film ini secara simbolis mengatakan, kita harus minum “jamu asli” lagi. Kembali ke nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan lokal kita, apa pun itu yang bisa kita definisikan sebagai “Jamu Asli Indonesia”. Sebutlah dari  Aceh Bek peugah that, hana meugah nyan. Dari Tanah Sunda ada ulah ngagul-ngagul, bisi kagug, Timor punya natu na’an, natu meto dan besi le’u, besi le’u, ai le’u, dan secara umum bangsa kita punya gotong royong, welas asih, tepa slira, dan banyak contoh lain jamu asli ini.

Indonesia Tanah Air Beta

Saya yakin, bangsa yang sakit, tidak akan sembuh dengan “ramuan luar.” Bangsa yang sakit harus pulang ke akar, agar bisa tumbuh menjadi batang baru. Dan saya merasa itu pesan yang sangat relevan untuk Indonesia hari ini.

Film zombie ini sejatinya tidak sekadar pamer riasan atau efek yang memukau. Ia sedang memperingatkan kita sebagai orang dewasa,  jangan sampai kita memasukkan sesuatu ke tubuh pikiran kita, moral kita, nilai hidup kita, yang bukan berasal dari akar kearifan kita sendiri. Hal itu yang akan menjaga kita tetap waras.

Karena sekali kita tertular, kita sakit dan akan cenderung menggigit orang lain. Pada titik itulah, kita bukan lagi manusia, tapi kita sudah menjadi zombie. Jadi, mari kita sama-sama tenggak jamunya agar tetap jadi orang waras Indonesia. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: filmFilm Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

ISI Bali Perkenalkan Melukis Wayang Kamasan di Media Plexsiglas dan Pot Gerabah Kepada Anak-anak anak Sanggar Sinar Pande Kamasan Klungkung

Next Post

Ironi Curhat Berbayar

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails
Next Post
Ironi Curhat Berbayar

Ironi Curhat Berbayar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co