23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

[Tuturangan Ambengan 2]: SDN 1, 2, dan 3 Ambengan, Ilmu Sama, Atmosfer Beda

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
October 24, 2025
in Khas
[Tuturangan Ambengan 2]: SDN 1, 2, dan 3 Ambengan, Ilmu Sama, Atmosfer Beda

PAGI di Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada, Buleleng, selalu datang dengan caranya yang pelan. Udara sejuk menelusup ke sela-sela tembok, sementara langkah mahasiswa KKN dari IAHN Mpu Kuturan menyusuri jalan desa menuju tempat mereka mengabdi. Hari itu, mereka tak sedang menuju pura, atau pertemuan adat, melainkan ke sekolah dasar—tempat di mana ilmu pertama kali tumbuh di hati anak-anak.

Dalam program kerja KKN tahun ini, beberapa mahasiswa merealisasikan apa yang mereka pelajari selama di bangku kuliah. Ada yang dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), ada pula dari Teologi Hindu, Filsafat Hindu, Pendidikan Agama Hindu (PAH), dan Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali (PSABB). Mereka menyatu dalam satu tujuan, berbagi ilmu dengan ketulusan. Tiga sekolah menjadi tempat mereka menabur pengetahuan— SD 1, SD 2, dan SD 3 Ambengan —tiga taman belajar yang mengajarkan hal sama, tapi dengan atmosfer yang begitu berbeda.

SD Negeri 1 Ambengan, Keheningan yang Mengajarkan Kesabaran

SD Negeri 1 Ambengan berlokasi di dusun Ambengan, berdiri sederhana di antara rumah-rumah penduduk. Sekolah ini tidak terlalu luas, ruang-ruangnya dibangun secukupnya untuk menampung semangat anak-anak desa yang haus belajar. Lantai masih berplester halus, dan masih merelevankan lonceng dari besi tua dan klep mobil sebagai pemukulnya, penanda waktu—seolah mengembalikan siapa pun yang mendengarnya ke masa sekolah dasar tahun 90-an. Di sekolah ini, satu kelas hanya berisi sekitar belasan anak.

Suasana di kelas SD Negeri 1 Ambengan

Dengan fokus mengajar ke beberapa anak dari jenjang kelas 1-4, beberapa masih terbata-bata dalam mengenal huruf. Mereka mengingat urutan A hingga Z, tetapi bila hurufnya diacak, mereka berhenti sejenak, menatap, lalu tersenyum malu. Para mahasiswa mendekat dengan sabar, satu per satu. Huruf demi huruf mereka kenalkan dengan permainan, lagu, dan pujian pembangkit semangat hati-hati kecil itu.

Kadang di ujung jari anak-anak itu masih tersisa bekas penghapus di buku—tanda perjuangan kecil dalam mengenal setiap huruf dan angka. Keterbatasan fasilitas tidak menghapus semangat. Di pojok tiap kelas, berdiri lemari baca yang dihiasi bunga-bunga kertas warna-warni. Di sanalah semangat kecil itu tumbuh, pelan-pelan tapi pasti. Di SD Negeri 1 Ambengan, kesabaran terasa menjadi bentuk cinta yang paling nyata.

SD Negeri 2 Ambengan, Riuh Semangat yang Menyala

Berjarak sekitar lima puluh meter dari SD 1, SD Negeri 2 Ambengan menyambut siapa pun dengan keriangan. Lapangan yang luas, dihiasi bunga-bunga mekar di tepinya, dan suara anak-anak menggema. Proyektor yang terpampang di setiap kelas—tanda bahwa kemajuan sudah mengetuk pintu sekolah ini. Di sini, satu kelas bisa berisi tiga puluh siswa. Mereka sudah mengenal huruf dan bisa menulis, hanya saja masih kesulitan dalam membaca.

Proses mengajar di SD Negeri 2 Ambengan

SDN 2 Ambengan

Tapi semangat mereka luar biasa, tangan-tangan kecil itu sering terangkat tinggi, meski kadang jawaban yang mereka berikan kurang tepat. Yang pentig bagi mereka bukan siapa yang paling cepat paham, tapi siapa yang berani mencoba. Bagi para mahasiswa, SD 2 menjadi ruang belajar baru tentang bagaimana menghadapi semangat yang meluap-luap.

Mengajar di sini bukan hanya soal menyampaikan materi, tapi juga menenangkan gelora, membimbing energi anak-anak agar mengalir di jalur yang benar dan serentak. Dalam tawa dan kebisingan itulah, makna pendidikan terasa hangat—bahwa belajar adalah tentang menemani, bukan sekedar mengajar.

SD Negeri 3 Ambengan, Keindahan di Atas Bukit

SD Negeri 3 Ambengan terletak agak jauh, di ujung desa yang tenang, tepatnya Dusun Pebantenan. Sekolah yang dikelilingi pohon cengkeh semerbak aromanya. Dari kejauhan, suara burung bersautan, dan udara terasa sejuk. Saat mahasiswa tiba, mereka disambut oleh barisan Polisi Cilik (POLCIL) —anak-anak mengenakan rompi rapih berdiri tegap di halaman, bak layaknya OSIS nya SD. Sebuah pemandangan yang jarang terlihat di sekolah dasar lain.

Polcil (Polisi Cilik) SD Negeri 3 Ambengan

Sekolah yang memiliki pemandangan paling indah, dan tenang. Anak-anaknya cepat akrab, menyapa dengan tawa lepas dan rasa ingin tahu yang besar, tak lupa memberi salam di awal pertemuan. Untuk anak kelas 1-4, rata-rata mereka sudah mengenal banyak huruf, meski masih sering menukar bentuknya—huruf “e” yang kadang menjadi angka “9”, atau “n” yang tertukar dengan “h”.

Kembali lagi, ada ketulusan tidak dibuat-buat di baliknya. Belajar seperti bukan beban bagi mereka, melainkan permainan yang menyenangkan. Mahasiswa yang datang merasa seperti kembali ke masa-masa kecil—masa di mana papan tulis, dan senyum guru menjadi segalanya, keceriaan menjadi cara belajar yang paling alami.

Satu Desa, Tiga Atmosfer, Satu Tujuan

Terlepas dari segala perbedaan fasilitas, suasana, dan tantangan, satu hal yang menyatukan ketiga sekolah ini, semangat belajar yang tulus. Dari mahasiswa PGSD mengajarkan calistung (membaca, menulis, berhitung), hingga Teologi, PAH, dan Filsafat Hindu yang berbagi nilai-nilai pasraman dan mejejaitan, serta PSABB yang memperkenalkan keindahan lewat nyanyian Dharma Gita—semua bertemu dalam satu ruang kecil bernama pengabdian. “meski atmosfernya berbeda, kami tetap mengajar dengan ketulusan.

Suasana mengajar mejejaitan

Foto bersama mahasiswa KKN di Desa Ambengan

Harapannya, dua bulan ke depan, anak-anak yang belum mengenal huruf bisa mulai membaca dan mengeja dengan baik” ujar hangat Wanda, selaku Kepala Bidang Pendidikan dan Lingkungan Hidup KKN Desa Ambengan 2025. Kalimat itu seperti doa yang dalam. Sejatinya, perbedaan bukan untuk dibandingkan, melainkan untuk disadari bahwa setiap ruang punya caranya sendiri dalam menumbuhkan ilmu.

Desa Ambengan mengajarkan satu hal penting bagi siapa pun yang datang, bahwa pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat memahami, tapi siapa yang paling sabar menuntun dan siapa yang mau dituntun. Terakhir, ketika anak-anak itu melambaikan tangan sambil tersenyum ringan, para mahasiswa tahu, di balik semua kelelahan, ada sesuatu yang tumbuh diam-diam. Rasa Syukur karena telah menjadi bagian kecil dari perjalanan mereka menuju terangnya pengetahuan. [T]

  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan mahasiswa KKN IAHN Mpu Kuturan di Desa Ambengan, Sukasada, Buleleng

Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengdesa ambenganIAHN Mpu KuturanIMK BaliPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengemas Hidup Hari-Hari Biasa pada Pameran “TOLERAKSI” di Kampus Undiksha Singaraja

Next Post

Tumpek Wariga, Saat Alam Memanggil Kembali Kesadaran Kita

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Wariga, Saat Alam Memanggil Kembali Kesadaran Kita

Tumpek Wariga, Saat Alam Memanggil Kembali Kesadaran Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co