2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

[Tuturangan Ambengan 2]: SDN 1, 2, dan 3 Ambengan, Ilmu Sama, Atmosfer Beda

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
October 24, 2025
in Khas
[Tuturangan Ambengan 2]: SDN 1, 2, dan 3 Ambengan, Ilmu Sama, Atmosfer Beda

PAGI di Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada, Buleleng, selalu datang dengan caranya yang pelan. Udara sejuk menelusup ke sela-sela tembok, sementara langkah mahasiswa KKN dari IAHN Mpu Kuturan menyusuri jalan desa menuju tempat mereka mengabdi. Hari itu, mereka tak sedang menuju pura, atau pertemuan adat, melainkan ke sekolah dasar—tempat di mana ilmu pertama kali tumbuh di hati anak-anak.

Dalam program kerja KKN tahun ini, beberapa mahasiswa merealisasikan apa yang mereka pelajari selama di bangku kuliah. Ada yang dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), ada pula dari Teologi Hindu, Filsafat Hindu, Pendidikan Agama Hindu (PAH), dan Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali (PSABB). Mereka menyatu dalam satu tujuan, berbagi ilmu dengan ketulusan. Tiga sekolah menjadi tempat mereka menabur pengetahuan— SD 1, SD 2, dan SD 3 Ambengan —tiga taman belajar yang mengajarkan hal sama, tapi dengan atmosfer yang begitu berbeda.

SD Negeri 1 Ambengan, Keheningan yang Mengajarkan Kesabaran

SD Negeri 1 Ambengan berlokasi di dusun Ambengan, berdiri sederhana di antara rumah-rumah penduduk. Sekolah ini tidak terlalu luas, ruang-ruangnya dibangun secukupnya untuk menampung semangat anak-anak desa yang haus belajar. Lantai masih berplester halus, dan masih merelevankan lonceng dari besi tua dan klep mobil sebagai pemukulnya, penanda waktu—seolah mengembalikan siapa pun yang mendengarnya ke masa sekolah dasar tahun 90-an. Di sekolah ini, satu kelas hanya berisi sekitar belasan anak.

Suasana di kelas SD Negeri 1 Ambengan

Dengan fokus mengajar ke beberapa anak dari jenjang kelas 1-4, beberapa masih terbata-bata dalam mengenal huruf. Mereka mengingat urutan A hingga Z, tetapi bila hurufnya diacak, mereka berhenti sejenak, menatap, lalu tersenyum malu. Para mahasiswa mendekat dengan sabar, satu per satu. Huruf demi huruf mereka kenalkan dengan permainan, lagu, dan pujian pembangkit semangat hati-hati kecil itu.

Kadang di ujung jari anak-anak itu masih tersisa bekas penghapus di buku—tanda perjuangan kecil dalam mengenal setiap huruf dan angka. Keterbatasan fasilitas tidak menghapus semangat. Di pojok tiap kelas, berdiri lemari baca yang dihiasi bunga-bunga kertas warna-warni. Di sanalah semangat kecil itu tumbuh, pelan-pelan tapi pasti. Di SD Negeri 1 Ambengan, kesabaran terasa menjadi bentuk cinta yang paling nyata.

SD Negeri 2 Ambengan, Riuh Semangat yang Menyala

Berjarak sekitar lima puluh meter dari SD 1, SD Negeri 2 Ambengan menyambut siapa pun dengan keriangan. Lapangan yang luas, dihiasi bunga-bunga mekar di tepinya, dan suara anak-anak menggema. Proyektor yang terpampang di setiap kelas—tanda bahwa kemajuan sudah mengetuk pintu sekolah ini. Di sini, satu kelas bisa berisi tiga puluh siswa. Mereka sudah mengenal huruf dan bisa menulis, hanya saja masih kesulitan dalam membaca.

Proses mengajar di SD Negeri 2 Ambengan

SDN 2 Ambengan

Tapi semangat mereka luar biasa, tangan-tangan kecil itu sering terangkat tinggi, meski kadang jawaban yang mereka berikan kurang tepat. Yang pentig bagi mereka bukan siapa yang paling cepat paham, tapi siapa yang berani mencoba. Bagi para mahasiswa, SD 2 menjadi ruang belajar baru tentang bagaimana menghadapi semangat yang meluap-luap.

Mengajar di sini bukan hanya soal menyampaikan materi, tapi juga menenangkan gelora, membimbing energi anak-anak agar mengalir di jalur yang benar dan serentak. Dalam tawa dan kebisingan itulah, makna pendidikan terasa hangat—bahwa belajar adalah tentang menemani, bukan sekedar mengajar.

SD Negeri 3 Ambengan, Keindahan di Atas Bukit

SD Negeri 3 Ambengan terletak agak jauh, di ujung desa yang tenang, tepatnya Dusun Pebantenan. Sekolah yang dikelilingi pohon cengkeh semerbak aromanya. Dari kejauhan, suara burung bersautan, dan udara terasa sejuk. Saat mahasiswa tiba, mereka disambut oleh barisan Polisi Cilik (POLCIL) —anak-anak mengenakan rompi rapih berdiri tegap di halaman, bak layaknya OSIS nya SD. Sebuah pemandangan yang jarang terlihat di sekolah dasar lain.

Polcil (Polisi Cilik) SD Negeri 3 Ambengan

Sekolah yang memiliki pemandangan paling indah, dan tenang. Anak-anaknya cepat akrab, menyapa dengan tawa lepas dan rasa ingin tahu yang besar, tak lupa memberi salam di awal pertemuan. Untuk anak kelas 1-4, rata-rata mereka sudah mengenal banyak huruf, meski masih sering menukar bentuknya—huruf “e” yang kadang menjadi angka “9”, atau “n” yang tertukar dengan “h”.

Kembali lagi, ada ketulusan tidak dibuat-buat di baliknya. Belajar seperti bukan beban bagi mereka, melainkan permainan yang menyenangkan. Mahasiswa yang datang merasa seperti kembali ke masa-masa kecil—masa di mana papan tulis, dan senyum guru menjadi segalanya, keceriaan menjadi cara belajar yang paling alami.

Satu Desa, Tiga Atmosfer, Satu Tujuan

Terlepas dari segala perbedaan fasilitas, suasana, dan tantangan, satu hal yang menyatukan ketiga sekolah ini, semangat belajar yang tulus. Dari mahasiswa PGSD mengajarkan calistung (membaca, menulis, berhitung), hingga Teologi, PAH, dan Filsafat Hindu yang berbagi nilai-nilai pasraman dan mejejaitan, serta PSABB yang memperkenalkan keindahan lewat nyanyian Dharma Gita—semua bertemu dalam satu ruang kecil bernama pengabdian. “meski atmosfernya berbeda, kami tetap mengajar dengan ketulusan.

Suasana mengajar mejejaitan

Foto bersama mahasiswa KKN di Desa Ambengan

Harapannya, dua bulan ke depan, anak-anak yang belum mengenal huruf bisa mulai membaca dan mengeja dengan baik” ujar hangat Wanda, selaku Kepala Bidang Pendidikan dan Lingkungan Hidup KKN Desa Ambengan 2025. Kalimat itu seperti doa yang dalam. Sejatinya, perbedaan bukan untuk dibandingkan, melainkan untuk disadari bahwa setiap ruang punya caranya sendiri dalam menumbuhkan ilmu.

Desa Ambengan mengajarkan satu hal penting bagi siapa pun yang datang, bahwa pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat memahami, tapi siapa yang paling sabar menuntun dan siapa yang mau dituntun. Terakhir, ketika anak-anak itu melambaikan tangan sambil tersenyum ringan, para mahasiswa tahu, di balik semua kelelahan, ada sesuatu yang tumbuh diam-diam. Rasa Syukur karena telah menjadi bagian kecil dari perjalanan mereka menuju terangnya pengetahuan. [T]

  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan mahasiswa KKN IAHN Mpu Kuturan di Desa Ambengan, Sukasada, Buleleng

Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengdesa ambenganIAHN Mpu KuturanIMK BaliPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengemas Hidup Hari-Hari Biasa pada Pameran “TOLERAKSI” di Kampus Undiksha Singaraja

Next Post

Tumpek Wariga, Saat Alam Memanggil Kembali Kesadaran Kita

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Wariga, Saat Alam Memanggil Kembali Kesadaran Kita

Tumpek Wariga, Saat Alam Memanggil Kembali Kesadaran Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co