24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lumpia Pak Dewa di Kampus UPMI Bali: Kisah Hidup Tentang Ketekunan pada Zaman yang Berubah-ubah

Ni Komang Sariasih by Ni Komang Sariasih
October 17, 2025
in Persona
Lumpia Pak Dewa di Kampus UPMI Bali: Kisah Hidup Tentang Ketekunan pada Zaman yang Berubah-ubah

Pak Dewa dan lumpia di UPMI Bali

DI tengah hiruk-pikuk kampus Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali, aroma lumpia goreng yang renyah dan gurih selalu menjadi magnet bagi para mahasiswa yang lapar. Penjualnya? Bapak yang akrab disapa Pak Dewa di kampus. Di kampung halamannya di Klungkung, ia dikenal sebagai Aji Sanes. Lahir tahun 1975 dan kini berusia 50 tahun, Pak Dewa bukan sekadar pedagang lumpia. Ia adalah cerita hidup tentang ketekunan, keluarga, dan rasa yang tak tergantikan, yang telah mewarnai rutinitas kampus sejak 2001.

Perjalanan Pak Dewa dimulai jauh sebelum ia menetap di halaman UPMI. Sejak 1992, ia sudah bergelut dengan dunia lumpia, tapi hidupnya penuh percobaan. Pernah jadi bawangkot di Batu Bulan, Klungkung, sempat merantau ke Jawa sebagai kenek bus, hingga keliling Denpasar jualan lumpia sebelum menetap di ibu kota Bali itu pada 2000.

“Dulu saya coba pekerjaan ini-itu, tapi yang bikin betah ya itu, jualan lumpia karena nggak ada yang mengikat,” ceritanya dengan tawa khasnya.

Di desa, tanggung jawab adat sebagai klian banjar dan bekerja di BPD membuatnya sulit terikat jadwal kerja kantor. Berjualan lumpia memberinya kebebasan: pulang-pergi dari Klungkung ke Denpasar setiap hari, sambil mengurus ternak babi satu-dua ekor di kampung sebagai sambilan. Istri tercintanya pun ikut berjuang, berjualan lumpia di Pasar Galiran Klungkung dari pagi lalu sekitar pukul sembilan atau sepuluh langsung balik ke rumah, meski dulu sempat jadi tukang jarit.

Keempat anak Pak Dewa, semuanya perempuan, menjadi motivasi utama. Satu sudah wisuda, satu lagi kuliah perhotelan, sisanya masih sekolah.

“Saya cuma mau mereka sekolah tinggi,” ujarnya sederhana.

Mira, mahasiswa UPMI Bali, pelanggan lumpia Pak Dewa

Pak Dewa sendiri hanya tamat SD karena jarak SMP 15 kilometer dulu terlalu jauh, angkot berdesak-desakan, dan ekonomi keluarga minim. SMA? 20 kilometer lagi, mustahil. Merantau ke Denpasar justru membuka mata: ada SMP dekat, 2 kilometer saja. Kini, melihat mahasiswa UPMI, ia tersenyum bangga.

“Melihat adik-adik mahasiswa, saya juga harus mampu membuat anak-anak masuk perguruan tinggi semua.”

Rahasia lumpia Pak Dewa? Bukan sulap, tapi ketulusan dan kesegaran bahan. Kulitnya dibuat dari 80% tepung terigu, dicampur air dan sedikit garam hingga adonan tipis dan elastis, lalu diisi sayur segar seperti kol, wortel, dan tauge yang ditumis ringan. Bumbunya khas: gula Bali yang manis legit, bawang putih halus, petis udang pekat, serta tauco yang asin gurih—semua direbus jadi sambal kental yang meresap sempurna. Dulu ia belajar resep ini selama setahun dari senior, tapi puluhan tahun berlalu, kini ia buat sendiri di rumah bersama istri.

“Bahan harus asli, jangan pemanis buatan, dan jangan diinapkan. Lumpia nggak boleh diinapkan, harus baru semua biar renyah dan enak,” tegasnya.

Hari biasa di kampus, dagangan bisa terjual 500-600 ribu rupiah dari lumpia, tahu, tempe—semua ludes, tanpa hitung-hitungan ketat karena dibuat hati-hati. Tapi berjualan tak selalu mulus. Tantangan terbesar? Cuaca. Musim hujan, terutama akhir tahun, bikin jualan keliling di pantai sepi total. “Lumayan berat,” akunya.

Pak Dewa menjelaskan tantangan berjualan di luar kampus, jualan keliling, pasti lah tantangannya itu cuaca apalagi mau mendekati akhir tahun pasti hujan dan itu sangat menjadi tantangannya. Karena jualan di pantai pasti jarang bahkan tidak ada yang membeli pada musim hujan. Kalau di kampus tantangannya adalah, semenjak usai corona (maksudnya pandemi Covid19) itu sedikit ada yang datang, biasanya kadang-kadang mahasiswa diberitahu ada kelas besoknya tetapi mendadak online, jadilah tidak jadi datang ke kampus, Pak Dewa sebagai pedagang lumayan merasakan sepi.

“Dulu sebelum 2019, saya hapal jadwal kuliah. Mereka tetap datang meski dosen tiba-tiba tidak jadi mengajar, karena belum ada online. Sekarang untungnya kembali ramai,” ujarnya.

Kejadian lucu sampai pedih pun pernah ia alami. Ia bercerita sambil mengingat kembali. Ketika hujan deras di kampus, ia terjatuh, punggung tersiram bumbu panas, lumpianya berserakan sampai mengganggu aktivitas mahasiswa olahraga. Atau saat upacara ngaben di Desa Siangan, ia juga tergelincir ke kali—lumpia hanyut, uang hilang, ditonton ribuan orang. “Dibilang lucu iya sedih jugaiya,” candanya sambil tertawa, menunjukkan keramahannya yang terbuka terhadap semua pengalaman yang ia pernah alami.

Interaksi dengan orang-orang di kampus jadi obat penawar. Pak Dewa sudah kenal dosen dan mahasiswa lama, ngobrol santai sambil melihat mahasiswa yang sibuk skripsian atau bimbingan.

“Enaknya, lumpia ludes, lalu bergurau bareng. Plong rasanya, nggak ada beban,” katanya. Ia tak muluk: umur 50, nasib begini, cukup sehat dan anak-anak sekolah. Pesan untuk mahasiswa? “Jangan tiru Pak jualan seperti ini. Rajin belajar, capai cita-cita!”

Mahasiswa pun tak kalah antusias. Ni Made Satyawati, mahasiswi Bahasa Indonesia, bilang Pak Dewa bukan pedagang biasa, tapi “bagian cerita keseharian kami.” Ramah, murah senyum, beli lumpia rasanya beli semangat juga. “Renyah gurih, bumbu pas, tempe bikin nambah terus. Rasa rumahan, tulus dari tangan sabar.” Ia doakan Pak Dewa sehat, rezeki lancar, dan saran yang Tya sampaikan, yaitu tambah varian pedas—tapi jangan ubah rasa sederhana yang bikin kampus hidup.

Sabina Sanji Putri, alumni baru lulus, kagum dengan keunikannya: lumpia biasa di pantai atau lapangan, jarang di kampus. “Pak Dewa sosok pekerja keras, sabar melayani pelanggan, bumbu manisnya pas buat pecinta seperti saya.”

Lalu staf perpustakaan Fakultas Bahasa dan Seni juga menambahkan, “Langganan seluruh kampus, murah, gurih, bumbunya lezat!”

Mira, salah satu mahasiswi jurusan matematika ini juga menyampaikan pendapat tentang Pak Dewa seorang penjual lumpia di kampus bahwa ia adalah sosok yang konsisten dalam berjualan lumpia dan dia bisa menguliahkan anak-anaknya melalui jualan lumpia ini.

Pak Dewa dan lumpianya bukan cuma makanan—ia simbol ketangguhan, yang renyah di luar, hangat di hati. Di era serba online ini, kehadirannya ingatkan kita: rasa autentik lahir dari perjuangan nyata. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Adnyana Ole

Tags: kulinerUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

UWRF 2025: Keseimbangan Potensi Kreatif Manusia dengan Kekuatan Kosmik

Next Post

Absurditas dan Ketabahan Orang Indonesia

Ni Komang Sariasih

Ni Komang Sariasih

Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Absurditas dan Ketabahan Orang Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co