2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lumpia Pak Dewa di Kampus UPMI Bali: Kisah Hidup Tentang Ketekunan pada Zaman yang Berubah-ubah

Ni Komang Sariasih by Ni Komang Sariasih
October 17, 2025
in Persona
Lumpia Pak Dewa di Kampus UPMI Bali: Kisah Hidup Tentang Ketekunan pada Zaman yang Berubah-ubah

Pak Dewa dan lumpia di UPMI Bali

DI tengah hiruk-pikuk kampus Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali, aroma lumpia goreng yang renyah dan gurih selalu menjadi magnet bagi para mahasiswa yang lapar. Penjualnya? Bapak yang akrab disapa Pak Dewa di kampus. Di kampung halamannya di Klungkung, ia dikenal sebagai Aji Sanes. Lahir tahun 1975 dan kini berusia 50 tahun, Pak Dewa bukan sekadar pedagang lumpia. Ia adalah cerita hidup tentang ketekunan, keluarga, dan rasa yang tak tergantikan, yang telah mewarnai rutinitas kampus sejak 2001.

Perjalanan Pak Dewa dimulai jauh sebelum ia menetap di halaman UPMI. Sejak 1992, ia sudah bergelut dengan dunia lumpia, tapi hidupnya penuh percobaan. Pernah jadi bawangkot di Batu Bulan, Klungkung, sempat merantau ke Jawa sebagai kenek bus, hingga keliling Denpasar jualan lumpia sebelum menetap di ibu kota Bali itu pada 2000.

“Dulu saya coba pekerjaan ini-itu, tapi yang bikin betah ya itu, jualan lumpia karena nggak ada yang mengikat,” ceritanya dengan tawa khasnya.

Di desa, tanggung jawab adat sebagai klian banjar dan bekerja di BPD membuatnya sulit terikat jadwal kerja kantor. Berjualan lumpia memberinya kebebasan: pulang-pergi dari Klungkung ke Denpasar setiap hari, sambil mengurus ternak babi satu-dua ekor di kampung sebagai sambilan. Istri tercintanya pun ikut berjuang, berjualan lumpia di Pasar Galiran Klungkung dari pagi lalu sekitar pukul sembilan atau sepuluh langsung balik ke rumah, meski dulu sempat jadi tukang jarit.

Keempat anak Pak Dewa, semuanya perempuan, menjadi motivasi utama. Satu sudah wisuda, satu lagi kuliah perhotelan, sisanya masih sekolah.

“Saya cuma mau mereka sekolah tinggi,” ujarnya sederhana.

Mira, mahasiswa UPMI Bali, pelanggan lumpia Pak Dewa

Pak Dewa sendiri hanya tamat SD karena jarak SMP 15 kilometer dulu terlalu jauh, angkot berdesak-desakan, dan ekonomi keluarga minim. SMA? 20 kilometer lagi, mustahil. Merantau ke Denpasar justru membuka mata: ada SMP dekat, 2 kilometer saja. Kini, melihat mahasiswa UPMI, ia tersenyum bangga.

“Melihat adik-adik mahasiswa, saya juga harus mampu membuat anak-anak masuk perguruan tinggi semua.”

Rahasia lumpia Pak Dewa? Bukan sulap, tapi ketulusan dan kesegaran bahan. Kulitnya dibuat dari 80% tepung terigu, dicampur air dan sedikit garam hingga adonan tipis dan elastis, lalu diisi sayur segar seperti kol, wortel, dan tauge yang ditumis ringan. Bumbunya khas: gula Bali yang manis legit, bawang putih halus, petis udang pekat, serta tauco yang asin gurih—semua direbus jadi sambal kental yang meresap sempurna. Dulu ia belajar resep ini selama setahun dari senior, tapi puluhan tahun berlalu, kini ia buat sendiri di rumah bersama istri.

“Bahan harus asli, jangan pemanis buatan, dan jangan diinapkan. Lumpia nggak boleh diinapkan, harus baru semua biar renyah dan enak,” tegasnya.

Hari biasa di kampus, dagangan bisa terjual 500-600 ribu rupiah dari lumpia, tahu, tempe—semua ludes, tanpa hitung-hitungan ketat karena dibuat hati-hati. Tapi berjualan tak selalu mulus. Tantangan terbesar? Cuaca. Musim hujan, terutama akhir tahun, bikin jualan keliling di pantai sepi total. “Lumayan berat,” akunya.

Pak Dewa menjelaskan tantangan berjualan di luar kampus, jualan keliling, pasti lah tantangannya itu cuaca apalagi mau mendekati akhir tahun pasti hujan dan itu sangat menjadi tantangannya. Karena jualan di pantai pasti jarang bahkan tidak ada yang membeli pada musim hujan. Kalau di kampus tantangannya adalah, semenjak usai corona (maksudnya pandemi Covid19) itu sedikit ada yang datang, biasanya kadang-kadang mahasiswa diberitahu ada kelas besoknya tetapi mendadak online, jadilah tidak jadi datang ke kampus, Pak Dewa sebagai pedagang lumayan merasakan sepi.

“Dulu sebelum 2019, saya hapal jadwal kuliah. Mereka tetap datang meski dosen tiba-tiba tidak jadi mengajar, karena belum ada online. Sekarang untungnya kembali ramai,” ujarnya.

Kejadian lucu sampai pedih pun pernah ia alami. Ia bercerita sambil mengingat kembali. Ketika hujan deras di kampus, ia terjatuh, punggung tersiram bumbu panas, lumpianya berserakan sampai mengganggu aktivitas mahasiswa olahraga. Atau saat upacara ngaben di Desa Siangan, ia juga tergelincir ke kali—lumpia hanyut, uang hilang, ditonton ribuan orang. “Dibilang lucu iya sedih jugaiya,” candanya sambil tertawa, menunjukkan keramahannya yang terbuka terhadap semua pengalaman yang ia pernah alami.

Interaksi dengan orang-orang di kampus jadi obat penawar. Pak Dewa sudah kenal dosen dan mahasiswa lama, ngobrol santai sambil melihat mahasiswa yang sibuk skripsian atau bimbingan.

“Enaknya, lumpia ludes, lalu bergurau bareng. Plong rasanya, nggak ada beban,” katanya. Ia tak muluk: umur 50, nasib begini, cukup sehat dan anak-anak sekolah. Pesan untuk mahasiswa? “Jangan tiru Pak jualan seperti ini. Rajin belajar, capai cita-cita!”

Mahasiswa pun tak kalah antusias. Ni Made Satyawati, mahasiswi Bahasa Indonesia, bilang Pak Dewa bukan pedagang biasa, tapi “bagian cerita keseharian kami.” Ramah, murah senyum, beli lumpia rasanya beli semangat juga. “Renyah gurih, bumbu pas, tempe bikin nambah terus. Rasa rumahan, tulus dari tangan sabar.” Ia doakan Pak Dewa sehat, rezeki lancar, dan saran yang Tya sampaikan, yaitu tambah varian pedas—tapi jangan ubah rasa sederhana yang bikin kampus hidup.

Sabina Sanji Putri, alumni baru lulus, kagum dengan keunikannya: lumpia biasa di pantai atau lapangan, jarang di kampus. “Pak Dewa sosok pekerja keras, sabar melayani pelanggan, bumbu manisnya pas buat pecinta seperti saya.”

Lalu staf perpustakaan Fakultas Bahasa dan Seni juga menambahkan, “Langganan seluruh kampus, murah, gurih, bumbunya lezat!”

Mira, salah satu mahasiswi jurusan matematika ini juga menyampaikan pendapat tentang Pak Dewa seorang penjual lumpia di kampus bahwa ia adalah sosok yang konsisten dalam berjualan lumpia dan dia bisa menguliahkan anak-anaknya melalui jualan lumpia ini.

Pak Dewa dan lumpianya bukan cuma makanan—ia simbol ketangguhan, yang renyah di luar, hangat di hati. Di era serba online ini, kehadirannya ingatkan kita: rasa autentik lahir dari perjuangan nyata. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Adnyana Ole

Tags: kulinerUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

UWRF 2025: Keseimbangan Potensi Kreatif Manusia dengan Kekuatan Kosmik

Next Post

Absurditas dan Ketabahan Orang Indonesia

Ni Komang Sariasih

Ni Komang Sariasih

Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali

Related Posts

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Absurditas dan Ketabahan Orang Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co