23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Absurditas dan Ketabahan Orang Indonesia

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 17, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, beberapa waktu lalu, negara kita Indonesia kembali membuktikan diri sebagai negeri yang tak bisa ditebak. Di satu sisi, kemarin publik berang oleh pernyataan kontroversial di DPR, risau oleh kerusakan alam akibat tambang nikel terus menganga, berita PHK bertebaran, dan masih segar seorang kepala sekolah yang menampar murid karena merokok justru dinonaktifkan. Namun di sisi lain, Indonesia dinobatkan sebagai negara paling “flourishing” di dunia menurut Global Flourishing Study, riset kolaborasi Harvard University dan Gallup. Diomong secara sederhananya, rakyat negeri ini dianggap paling sejahtera dan bahagia secara menyeluruh.

Aneh? Mungkin. Tapi bisa jadi di sanalah letak keindahan absurditas khas Indonesia. Sebuah bangsa yang bisa tertawa di tengah reruntuhan, berdoa di tengah krisis, dan tetap bersyukur bahkan ketika hidup terasa seperti prank semesta. Anak saya yang SMP malah pernah bilang,” Hidup hanya sekali, eh, sekalinya hidup, di Indonesia”.

Bahagia di Tengah Kekacauan

Kalau memakai kacamata logika Barat, pastilah hasil survei itu sulit dicerna.  Bagaimana mungkin rakyat yang hidup dengan banjir tahunan, gaji pas-pasan, jalan berlubang di mana-mana, dan pejabat yang suka bikin emosi jiwa, bisa-bisanya dinobatkan sebagai paling bahagia di dunia?  Jawabannya sederhana, karena orang Indonesia tidak pernah menunggu keadaan membaik untuk merasa baik. Mungkin karena paham keadaan tidak akan pernah membaik, atau  karena kelewatan  optimisnya.

Banyak orang di negeri kita ini memandang hidup bukan melulu tentang menaklukkan dunia, tapi soal  berdamai dengannya. Kita bukan bangsa yang perfeksionis, tapi bangsa yang lentur. Saya lihat masyarakat kita bisa menertawakan kesialan diri sendiri, bisa bersyukur di tengah kekurangan, bisa hidup damai dalam ketidakpastian. Di warung, di sawah, di ruang tamu sederhana, orang Indonesia selalu punya satu mantra sakti, “Yang penting masih bisa makan, Mas.”

Saya kira itulah bentuk paling murni dari kebahagiaan eksistensial. Bukan tawa karena keadaan menyenangkan, tapi ketenangan karena tahu bahwa kesulitan adalah bagian dari hidup yang harus dijalani.

Dari Happiness ke Flourishing

Studi Global Flourishing Study ini sebenarnya tidak sekadar bicara soal senang-senang.  Ada lima dimensi kesejahteraan manusia yag dinilai yaitu kesehatan fisik dan mental, makna hidup, karakter moral, hubungan sosial, dan keamanan finansial. Dari survei tersebut Indonesia berada di puncak, karena masyarakatnya unggul dalam tiga hal, yaitu hubungan sosial yang kuat, makna hidup yang dalam, dan sikap moral yang hangat.

Artinya, rakyat Indonesia bisa saja lelah, tapi tidak merasa hampa. Mereka bisa kecewa pada pemerintah, tapi tidak kehilangan iman terhadap kehidupan.  Mereka masih percaya bahwa hidup ini penting dijalani, meski kadang memang tidak manuk akal, gak habis fikri diluar nurul.Dan di titik itulah, kita seperti mendengar gema dari seorang filsuf Prancis bernama Albert Camus.

Camus menyebut hidup sebagai sesuatu yang absurd. Di mana manusia selalu mencari makna di dunia yang tidak memberikannya. Namun alih-alih menyerah, Camus justru mengajak kita untuk mencintai kehidupan yang absurd itu.  Dalam esainya yang terkenal, The Myth of Sisyphus, Camus menulis tentang Sisyphus, tokoh dalam mitologi Yunani yang dihukum mendorong batu ke puncak gunung hanya untuk melihatnya jatuh lagi, selamanya. Camus berkata, “The struggle itself toward the heights is enough to fill a man’s heart.” Kebahagiaan bukan di puncak, tapi dalam perjuangan itu sendiri.

Dan sepertinya itu juga kisah orang Indonesia. Kita tengok saja para petani yang setiap musim menanam padi meski sawahnya terendam banjir. Buruh yang tetap berangkat kerja di tengah bayang-bayang PHK dan UMR yang terus diperjuangkan, atau guru yang dihukum karena menegur murid, tapi tetap mencintai profesinya. Mereka ini adalah Sisyphus-Sisyphus Nusantara, yang terus mendorong batu kehidupannya, dengan keringat dan doa, dengan tawa kecil di sela kesialan dan umpatan.

Gotong Royong sebagai Revolt

Kalau di Prancis, Camus berbicara tentang revolt, pemberontakan terhadap absurditas hidup, maka di Indonesia, bentuk revolt itu bernama gotong royong.  Kita tidak melawan kehidupan dengan amarah tapi dengan solidaritas. Ketika banjir datang, warga turun tangan bersama. Ketika harga naik, orang masih bisa saling mengirim nasi bungkus. Sampai sekarang pun masih ada Jumat berkah, yang bisa berupa paket makan siang di masjid, cukur gratis,  mie ayam gratis dan yang lainnya.  Itu bentuk pemberontakan yang lembut, tidak merusak dunia, tapi menyalakan harapan kecil.


Gotong royong sepertinya adalah cara khas Indonesia untuk berkata kepada dunia, “Kau boleh absurd, tapi kami tetap manusia.” Di sinilah letak kejeniusan kebudayaan kita. Orang Indonesia tidak menolak absurditas, tapi menjinakkannya lewat kebersamaan dan humor. Mungkin karena itulah kita tahan banting, karena kita merasa tidak tengah berjuang sendirian.

Ada alasan kenapa di tengah kejadian apes, orang Indonesia masih sempat bercanda di media sosial. Bukan karena tak peduli, tapi karena humor adalah mekanisme spiritual. Dalam canda, kita menertawakan nasib tanpa kehilangan martabat.  Dalam doa, kita menerima yang tak bisa kita ubah tanpa kehilangan harapan. Dan dalam ketabahan, kita menemukan makna yang lebih besar dari sekadar rasa senang.

Orang Indonesia hidup seperti kata Camus, “Aku memberontak, maka aku ada.” Kita memberontak dengan tetap hidup baik, di tengah sistem yang kadang menyebalkan.  Kita menolak menjadi korban, meski tahu kita sering diperlakukan tidak adil. Dan entah bagaimana, dari dalam kekacauan itu, lahir bentuk sikap yang aneh tapi nyata, yakni tetap bahagia meski dunia sedang morat-marit.

Bahagia tapi Jangan Buta

Namun, daya tahan ini juga bisa menjadi jebakan. Kalau kebijaksanaan kita berubah menjadi kepasrahan, maka absurditas bukan lagi ladang makna, tapi tempat pelarian. Kita bisa terlalu nrimo, terlalu sabar, sampai lupa marah. Di titik itu kebahagiaan buta akan membuat kita tuli terhadap ketidakadilan. Artinya, menjadi bangsa yang bahagia tidak berarti kita harus berhenti menuntut keadilan.Kita boleh tertawa, tapi jangan menutup mata. Kita boleh sabar, tapi jangan mati rasa. Flourishing sejati bukan sekadar hidup damai, tapi juga berani menghadapi absurditas dengan penuh kesadaran.

Jika Camus hidup di Indonesia saat ini, sepertinya ia tidak akan menulis tentang Sisyphus yang sendirian di gunung. Ia akan menulis tentang seorang pedagang bakso yang mendorong gerobaknya setiap hari di tengah panas, macet, dan razia Satpoll PP, tapi tetap tersenyum sambil berkata, “Rezeki sudah diatur, yang penting usaha.”

Ia akan menulis tentang ibu-ibu di pengungsian yang memasak bersama sambil saling menghibur, tentang buruh pabrik yang tetap bercanda meski upah belum naik, tentang anak muda yang bikin konten lucu untuk mengalihkan stres. Camus akan menemukan di sini,  versi paling hangat dari filsafatnya sendiri, suatu pemberontakan yang tidak getir, kebahagiaan yang tidak naif, ketabahan yang tetap punya tawa.

Menemukan Makna di Tengah Kekacauan

Mungkin, sekali lagi mungkin, itulah makna dari “Indonesia paling bahagia” dalam studi global itu. Bukan karena semuanya baik-baik saja, tapi karena kita punya cara khas untuk berdamai dengan kekacauan tanpa kehilangan kemanusiaan.Kita tahu hidup ini absurd, tapi kita memilih menanam, bukan menyerah. Kita tahu banyak pejabat tak bisa dipercaya, tapi kita tetap percaya pada kebaikan sesama. Kita tahu masa depan tak pasti, tapi kita tetap menyiapkan sarapan, menyapu halaman, dan kirim pisang goreng ke tetangga. Itulah flourishing versi kita Indonesia.

Indonesia menunjukkan bahwa absurditas tidak selalu melahirkan keputusasaan. Di negeri yang dulu sekali pernah berjuluk jamrud khatulistiwa ini, rakyatnya sudah sejak lama memahami absurditas, tanpa perlu membaca eksistensialisme. Dan di Indonesia, Sisyphus ala Camus itu mungkin sedang makan pecel lele bersama sambil bercanda, sebelum mendorong batunya lagi besok pagi. “Yang penting hepiii….,” kata jin Indonesia di suatu iklan komersil jaman baheula. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: Indonesiakebahagiaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lumpia Pak Dewa di Kampus UPMI Bali: Kisah Hidup Tentang Ketekunan pada Zaman yang Berubah-ubah

Next Post

Mahasiswa, Moral, dan Budaya Bercanda yang Kebablasan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Mahasiswa, Moral, dan Budaya Bercanda yang Kebablasan

Mahasiswa, Moral, dan Budaya Bercanda yang Kebablasan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co