13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Absurditas dan Ketabahan Orang Indonesia

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 17, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, beberapa waktu lalu, negara kita Indonesia kembali membuktikan diri sebagai negeri yang tak bisa ditebak. Di satu sisi, kemarin publik berang oleh pernyataan kontroversial di DPR, risau oleh kerusakan alam akibat tambang nikel terus menganga, berita PHK bertebaran, dan masih segar seorang kepala sekolah yang menampar murid karena merokok justru dinonaktifkan. Namun di sisi lain, Indonesia dinobatkan sebagai negara paling “flourishing” di dunia menurut Global Flourishing Study, riset kolaborasi Harvard University dan Gallup. Diomong secara sederhananya, rakyat negeri ini dianggap paling sejahtera dan bahagia secara menyeluruh.

Aneh? Mungkin. Tapi bisa jadi di sanalah letak keindahan absurditas khas Indonesia. Sebuah bangsa yang bisa tertawa di tengah reruntuhan, berdoa di tengah krisis, dan tetap bersyukur bahkan ketika hidup terasa seperti prank semesta. Anak saya yang SMP malah pernah bilang,” Hidup hanya sekali, eh, sekalinya hidup, di Indonesia”.

Bahagia di Tengah Kekacauan

Kalau memakai kacamata logika Barat, pastilah hasil survei itu sulit dicerna.  Bagaimana mungkin rakyat yang hidup dengan banjir tahunan, gaji pas-pasan, jalan berlubang di mana-mana, dan pejabat yang suka bikin emosi jiwa, bisa-bisanya dinobatkan sebagai paling bahagia di dunia?  Jawabannya sederhana, karena orang Indonesia tidak pernah menunggu keadaan membaik untuk merasa baik. Mungkin karena paham keadaan tidak akan pernah membaik, atau  karena kelewatan  optimisnya.

Banyak orang di negeri kita ini memandang hidup bukan melulu tentang menaklukkan dunia, tapi soal  berdamai dengannya. Kita bukan bangsa yang perfeksionis, tapi bangsa yang lentur. Saya lihat masyarakat kita bisa menertawakan kesialan diri sendiri, bisa bersyukur di tengah kekurangan, bisa hidup damai dalam ketidakpastian. Di warung, di sawah, di ruang tamu sederhana, orang Indonesia selalu punya satu mantra sakti, “Yang penting masih bisa makan, Mas.”

Saya kira itulah bentuk paling murni dari kebahagiaan eksistensial. Bukan tawa karena keadaan menyenangkan, tapi ketenangan karena tahu bahwa kesulitan adalah bagian dari hidup yang harus dijalani.

Dari Happiness ke Flourishing

Studi Global Flourishing Study ini sebenarnya tidak sekadar bicara soal senang-senang.  Ada lima dimensi kesejahteraan manusia yag dinilai yaitu kesehatan fisik dan mental, makna hidup, karakter moral, hubungan sosial, dan keamanan finansial. Dari survei tersebut Indonesia berada di puncak, karena masyarakatnya unggul dalam tiga hal, yaitu hubungan sosial yang kuat, makna hidup yang dalam, dan sikap moral yang hangat.

Artinya, rakyat Indonesia bisa saja lelah, tapi tidak merasa hampa. Mereka bisa kecewa pada pemerintah, tapi tidak kehilangan iman terhadap kehidupan.  Mereka masih percaya bahwa hidup ini penting dijalani, meski kadang memang tidak manuk akal, gak habis fikri diluar nurul.Dan di titik itulah, kita seperti mendengar gema dari seorang filsuf Prancis bernama Albert Camus.

Camus menyebut hidup sebagai sesuatu yang absurd. Di mana manusia selalu mencari makna di dunia yang tidak memberikannya. Namun alih-alih menyerah, Camus justru mengajak kita untuk mencintai kehidupan yang absurd itu.  Dalam esainya yang terkenal, The Myth of Sisyphus, Camus menulis tentang Sisyphus, tokoh dalam mitologi Yunani yang dihukum mendorong batu ke puncak gunung hanya untuk melihatnya jatuh lagi, selamanya. Camus berkata, “The struggle itself toward the heights is enough to fill a man’s heart.” Kebahagiaan bukan di puncak, tapi dalam perjuangan itu sendiri.

Dan sepertinya itu juga kisah orang Indonesia. Kita tengok saja para petani yang setiap musim menanam padi meski sawahnya terendam banjir. Buruh yang tetap berangkat kerja di tengah bayang-bayang PHK dan UMR yang terus diperjuangkan, atau guru yang dihukum karena menegur murid, tapi tetap mencintai profesinya. Mereka ini adalah Sisyphus-Sisyphus Nusantara, yang terus mendorong batu kehidupannya, dengan keringat dan doa, dengan tawa kecil di sela kesialan dan umpatan.

Gotong Royong sebagai Revolt

Kalau di Prancis, Camus berbicara tentang revolt, pemberontakan terhadap absurditas hidup, maka di Indonesia, bentuk revolt itu bernama gotong royong.  Kita tidak melawan kehidupan dengan amarah tapi dengan solidaritas. Ketika banjir datang, warga turun tangan bersama. Ketika harga naik, orang masih bisa saling mengirim nasi bungkus. Sampai sekarang pun masih ada Jumat berkah, yang bisa berupa paket makan siang di masjid, cukur gratis,  mie ayam gratis dan yang lainnya.  Itu bentuk pemberontakan yang lembut, tidak merusak dunia, tapi menyalakan harapan kecil.


Gotong royong sepertinya adalah cara khas Indonesia untuk berkata kepada dunia, “Kau boleh absurd, tapi kami tetap manusia.” Di sinilah letak kejeniusan kebudayaan kita. Orang Indonesia tidak menolak absurditas, tapi menjinakkannya lewat kebersamaan dan humor. Mungkin karena itulah kita tahan banting, karena kita merasa tidak tengah berjuang sendirian.

Ada alasan kenapa di tengah kejadian apes, orang Indonesia masih sempat bercanda di media sosial. Bukan karena tak peduli, tapi karena humor adalah mekanisme spiritual. Dalam canda, kita menertawakan nasib tanpa kehilangan martabat.  Dalam doa, kita menerima yang tak bisa kita ubah tanpa kehilangan harapan. Dan dalam ketabahan, kita menemukan makna yang lebih besar dari sekadar rasa senang.

Orang Indonesia hidup seperti kata Camus, “Aku memberontak, maka aku ada.” Kita memberontak dengan tetap hidup baik, di tengah sistem yang kadang menyebalkan.  Kita menolak menjadi korban, meski tahu kita sering diperlakukan tidak adil. Dan entah bagaimana, dari dalam kekacauan itu, lahir bentuk sikap yang aneh tapi nyata, yakni tetap bahagia meski dunia sedang morat-marit.

Bahagia tapi Jangan Buta

Namun, daya tahan ini juga bisa menjadi jebakan. Kalau kebijaksanaan kita berubah menjadi kepasrahan, maka absurditas bukan lagi ladang makna, tapi tempat pelarian. Kita bisa terlalu nrimo, terlalu sabar, sampai lupa marah. Di titik itu kebahagiaan buta akan membuat kita tuli terhadap ketidakadilan. Artinya, menjadi bangsa yang bahagia tidak berarti kita harus berhenti menuntut keadilan.Kita boleh tertawa, tapi jangan menutup mata. Kita boleh sabar, tapi jangan mati rasa. Flourishing sejati bukan sekadar hidup damai, tapi juga berani menghadapi absurditas dengan penuh kesadaran.

Jika Camus hidup di Indonesia saat ini, sepertinya ia tidak akan menulis tentang Sisyphus yang sendirian di gunung. Ia akan menulis tentang seorang pedagang bakso yang mendorong gerobaknya setiap hari di tengah panas, macet, dan razia Satpoll PP, tapi tetap tersenyum sambil berkata, “Rezeki sudah diatur, yang penting usaha.”

Ia akan menulis tentang ibu-ibu di pengungsian yang memasak bersama sambil saling menghibur, tentang buruh pabrik yang tetap bercanda meski upah belum naik, tentang anak muda yang bikin konten lucu untuk mengalihkan stres. Camus akan menemukan di sini,  versi paling hangat dari filsafatnya sendiri, suatu pemberontakan yang tidak getir, kebahagiaan yang tidak naif, ketabahan yang tetap punya tawa.

Menemukan Makna di Tengah Kekacauan

Mungkin, sekali lagi mungkin, itulah makna dari “Indonesia paling bahagia” dalam studi global itu. Bukan karena semuanya baik-baik saja, tapi karena kita punya cara khas untuk berdamai dengan kekacauan tanpa kehilangan kemanusiaan.Kita tahu hidup ini absurd, tapi kita memilih menanam, bukan menyerah. Kita tahu banyak pejabat tak bisa dipercaya, tapi kita tetap percaya pada kebaikan sesama. Kita tahu masa depan tak pasti, tapi kita tetap menyiapkan sarapan, menyapu halaman, dan kirim pisang goreng ke tetangga. Itulah flourishing versi kita Indonesia.

Indonesia menunjukkan bahwa absurditas tidak selalu melahirkan keputusasaan. Di negeri yang dulu sekali pernah berjuluk jamrud khatulistiwa ini, rakyatnya sudah sejak lama memahami absurditas, tanpa perlu membaca eksistensialisme. Dan di Indonesia, Sisyphus ala Camus itu mungkin sedang makan pecel lele bersama sambil bercanda, sebelum mendorong batunya lagi besok pagi. “Yang penting hepiii….,” kata jin Indonesia di suatu iklan komersil jaman baheula. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: Indonesiakebahagiaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lumpia Pak Dewa di Kampus UPMI Bali: Kisah Hidup Tentang Ketekunan pada Zaman yang Berubah-ubah

Next Post

Mahasiswa, Moral, dan Budaya Bercanda yang Kebablasan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Mahasiswa, Moral, dan Budaya Bercanda yang Kebablasan

Mahasiswa, Moral, dan Budaya Bercanda yang Kebablasan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co