2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Absurditas dan Ketabahan Orang Indonesia

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 17, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, beberapa waktu lalu, negara kita Indonesia kembali membuktikan diri sebagai negeri yang tak bisa ditebak. Di satu sisi, kemarin publik berang oleh pernyataan kontroversial di DPR, risau oleh kerusakan alam akibat tambang nikel terus menganga, berita PHK bertebaran, dan masih segar seorang kepala sekolah yang menampar murid karena merokok justru dinonaktifkan. Namun di sisi lain, Indonesia dinobatkan sebagai negara paling “flourishing” di dunia menurut Global Flourishing Study, riset kolaborasi Harvard University dan Gallup. Diomong secara sederhananya, rakyat negeri ini dianggap paling sejahtera dan bahagia secara menyeluruh.

Aneh? Mungkin. Tapi bisa jadi di sanalah letak keindahan absurditas khas Indonesia. Sebuah bangsa yang bisa tertawa di tengah reruntuhan, berdoa di tengah krisis, dan tetap bersyukur bahkan ketika hidup terasa seperti prank semesta. Anak saya yang SMP malah pernah bilang,” Hidup hanya sekali, eh, sekalinya hidup, di Indonesia”.

Bahagia di Tengah Kekacauan

Kalau memakai kacamata logika Barat, pastilah hasil survei itu sulit dicerna.  Bagaimana mungkin rakyat yang hidup dengan banjir tahunan, gaji pas-pasan, jalan berlubang di mana-mana, dan pejabat yang suka bikin emosi jiwa, bisa-bisanya dinobatkan sebagai paling bahagia di dunia?  Jawabannya sederhana, karena orang Indonesia tidak pernah menunggu keadaan membaik untuk merasa baik. Mungkin karena paham keadaan tidak akan pernah membaik, atau  karena kelewatan  optimisnya.

Banyak orang di negeri kita ini memandang hidup bukan melulu tentang menaklukkan dunia, tapi soal  berdamai dengannya. Kita bukan bangsa yang perfeksionis, tapi bangsa yang lentur. Saya lihat masyarakat kita bisa menertawakan kesialan diri sendiri, bisa bersyukur di tengah kekurangan, bisa hidup damai dalam ketidakpastian. Di warung, di sawah, di ruang tamu sederhana, orang Indonesia selalu punya satu mantra sakti, “Yang penting masih bisa makan, Mas.”

Saya kira itulah bentuk paling murni dari kebahagiaan eksistensial. Bukan tawa karena keadaan menyenangkan, tapi ketenangan karena tahu bahwa kesulitan adalah bagian dari hidup yang harus dijalani.

Dari Happiness ke Flourishing

Studi Global Flourishing Study ini sebenarnya tidak sekadar bicara soal senang-senang.  Ada lima dimensi kesejahteraan manusia yag dinilai yaitu kesehatan fisik dan mental, makna hidup, karakter moral, hubungan sosial, dan keamanan finansial. Dari survei tersebut Indonesia berada di puncak, karena masyarakatnya unggul dalam tiga hal, yaitu hubungan sosial yang kuat, makna hidup yang dalam, dan sikap moral yang hangat.

Artinya, rakyat Indonesia bisa saja lelah, tapi tidak merasa hampa. Mereka bisa kecewa pada pemerintah, tapi tidak kehilangan iman terhadap kehidupan.  Mereka masih percaya bahwa hidup ini penting dijalani, meski kadang memang tidak manuk akal, gak habis fikri diluar nurul.Dan di titik itulah, kita seperti mendengar gema dari seorang filsuf Prancis bernama Albert Camus.

Camus menyebut hidup sebagai sesuatu yang absurd. Di mana manusia selalu mencari makna di dunia yang tidak memberikannya. Namun alih-alih menyerah, Camus justru mengajak kita untuk mencintai kehidupan yang absurd itu.  Dalam esainya yang terkenal, The Myth of Sisyphus, Camus menulis tentang Sisyphus, tokoh dalam mitologi Yunani yang dihukum mendorong batu ke puncak gunung hanya untuk melihatnya jatuh lagi, selamanya. Camus berkata, “The struggle itself toward the heights is enough to fill a man’s heart.” Kebahagiaan bukan di puncak, tapi dalam perjuangan itu sendiri.

Dan sepertinya itu juga kisah orang Indonesia. Kita tengok saja para petani yang setiap musim menanam padi meski sawahnya terendam banjir. Buruh yang tetap berangkat kerja di tengah bayang-bayang PHK dan UMR yang terus diperjuangkan, atau guru yang dihukum karena menegur murid, tapi tetap mencintai profesinya. Mereka ini adalah Sisyphus-Sisyphus Nusantara, yang terus mendorong batu kehidupannya, dengan keringat dan doa, dengan tawa kecil di sela kesialan dan umpatan.

Gotong Royong sebagai Revolt

Kalau di Prancis, Camus berbicara tentang revolt, pemberontakan terhadap absurditas hidup, maka di Indonesia, bentuk revolt itu bernama gotong royong.  Kita tidak melawan kehidupan dengan amarah tapi dengan solidaritas. Ketika banjir datang, warga turun tangan bersama. Ketika harga naik, orang masih bisa saling mengirim nasi bungkus. Sampai sekarang pun masih ada Jumat berkah, yang bisa berupa paket makan siang di masjid, cukur gratis,  mie ayam gratis dan yang lainnya.  Itu bentuk pemberontakan yang lembut, tidak merusak dunia, tapi menyalakan harapan kecil.


Gotong royong sepertinya adalah cara khas Indonesia untuk berkata kepada dunia, “Kau boleh absurd, tapi kami tetap manusia.” Di sinilah letak kejeniusan kebudayaan kita. Orang Indonesia tidak menolak absurditas, tapi menjinakkannya lewat kebersamaan dan humor. Mungkin karena itulah kita tahan banting, karena kita merasa tidak tengah berjuang sendirian.

Ada alasan kenapa di tengah kejadian apes, orang Indonesia masih sempat bercanda di media sosial. Bukan karena tak peduli, tapi karena humor adalah mekanisme spiritual. Dalam canda, kita menertawakan nasib tanpa kehilangan martabat.  Dalam doa, kita menerima yang tak bisa kita ubah tanpa kehilangan harapan. Dan dalam ketabahan, kita menemukan makna yang lebih besar dari sekadar rasa senang.

Orang Indonesia hidup seperti kata Camus, “Aku memberontak, maka aku ada.” Kita memberontak dengan tetap hidup baik, di tengah sistem yang kadang menyebalkan.  Kita menolak menjadi korban, meski tahu kita sering diperlakukan tidak adil. Dan entah bagaimana, dari dalam kekacauan itu, lahir bentuk sikap yang aneh tapi nyata, yakni tetap bahagia meski dunia sedang morat-marit.

Bahagia tapi Jangan Buta

Namun, daya tahan ini juga bisa menjadi jebakan. Kalau kebijaksanaan kita berubah menjadi kepasrahan, maka absurditas bukan lagi ladang makna, tapi tempat pelarian. Kita bisa terlalu nrimo, terlalu sabar, sampai lupa marah. Di titik itu kebahagiaan buta akan membuat kita tuli terhadap ketidakadilan. Artinya, menjadi bangsa yang bahagia tidak berarti kita harus berhenti menuntut keadilan.Kita boleh tertawa, tapi jangan menutup mata. Kita boleh sabar, tapi jangan mati rasa. Flourishing sejati bukan sekadar hidup damai, tapi juga berani menghadapi absurditas dengan penuh kesadaran.

Jika Camus hidup di Indonesia saat ini, sepertinya ia tidak akan menulis tentang Sisyphus yang sendirian di gunung. Ia akan menulis tentang seorang pedagang bakso yang mendorong gerobaknya setiap hari di tengah panas, macet, dan razia Satpoll PP, tapi tetap tersenyum sambil berkata, “Rezeki sudah diatur, yang penting usaha.”

Ia akan menulis tentang ibu-ibu di pengungsian yang memasak bersama sambil saling menghibur, tentang buruh pabrik yang tetap bercanda meski upah belum naik, tentang anak muda yang bikin konten lucu untuk mengalihkan stres. Camus akan menemukan di sini,  versi paling hangat dari filsafatnya sendiri, suatu pemberontakan yang tidak getir, kebahagiaan yang tidak naif, ketabahan yang tetap punya tawa.

Menemukan Makna di Tengah Kekacauan

Mungkin, sekali lagi mungkin, itulah makna dari “Indonesia paling bahagia” dalam studi global itu. Bukan karena semuanya baik-baik saja, tapi karena kita punya cara khas untuk berdamai dengan kekacauan tanpa kehilangan kemanusiaan.Kita tahu hidup ini absurd, tapi kita memilih menanam, bukan menyerah. Kita tahu banyak pejabat tak bisa dipercaya, tapi kita tetap percaya pada kebaikan sesama. Kita tahu masa depan tak pasti, tapi kita tetap menyiapkan sarapan, menyapu halaman, dan kirim pisang goreng ke tetangga. Itulah flourishing versi kita Indonesia.

Indonesia menunjukkan bahwa absurditas tidak selalu melahirkan keputusasaan. Di negeri yang dulu sekali pernah berjuluk jamrud khatulistiwa ini, rakyatnya sudah sejak lama memahami absurditas, tanpa perlu membaca eksistensialisme. Dan di Indonesia, Sisyphus ala Camus itu mungkin sedang makan pecel lele bersama sambil bercanda, sebelum mendorong batunya lagi besok pagi. “Yang penting hepiii….,” kata jin Indonesia di suatu iklan komersil jaman baheula. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: Indonesiakebahagiaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lumpia Pak Dewa di Kampus UPMI Bali: Kisah Hidup Tentang Ketekunan pada Zaman yang Berubah-ubah

Next Post

Mahasiswa, Moral, dan Budaya Bercanda yang Kebablasan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Mahasiswa, Moral, dan Budaya Bercanda yang Kebablasan

Mahasiswa, Moral, dan Budaya Bercanda yang Kebablasan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co