23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Absurditas dan Ketabahan Orang Indonesia

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 17, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, beberapa waktu lalu, negara kita Indonesia kembali membuktikan diri sebagai negeri yang tak bisa ditebak. Di satu sisi, kemarin publik berang oleh pernyataan kontroversial di DPR, risau oleh kerusakan alam akibat tambang nikel terus menganga, berita PHK bertebaran, dan masih segar seorang kepala sekolah yang menampar murid karena merokok justru dinonaktifkan. Namun di sisi lain, Indonesia dinobatkan sebagai negara paling “flourishing” di dunia menurut Global Flourishing Study, riset kolaborasi Harvard University dan Gallup. Diomong secara sederhananya, rakyat negeri ini dianggap paling sejahtera dan bahagia secara menyeluruh.

Aneh? Mungkin. Tapi bisa jadi di sanalah letak keindahan absurditas khas Indonesia. Sebuah bangsa yang bisa tertawa di tengah reruntuhan, berdoa di tengah krisis, dan tetap bersyukur bahkan ketika hidup terasa seperti prank semesta. Anak saya yang SMP malah pernah bilang,” Hidup hanya sekali, eh, sekalinya hidup, di Indonesia”.

Bahagia di Tengah Kekacauan

Kalau memakai kacamata logika Barat, pastilah hasil survei itu sulit dicerna.  Bagaimana mungkin rakyat yang hidup dengan banjir tahunan, gaji pas-pasan, jalan berlubang di mana-mana, dan pejabat yang suka bikin emosi jiwa, bisa-bisanya dinobatkan sebagai paling bahagia di dunia?  Jawabannya sederhana, karena orang Indonesia tidak pernah menunggu keadaan membaik untuk merasa baik. Mungkin karena paham keadaan tidak akan pernah membaik, atau  karena kelewatan  optimisnya.

Banyak orang di negeri kita ini memandang hidup bukan melulu tentang menaklukkan dunia, tapi soal  berdamai dengannya. Kita bukan bangsa yang perfeksionis, tapi bangsa yang lentur. Saya lihat masyarakat kita bisa menertawakan kesialan diri sendiri, bisa bersyukur di tengah kekurangan, bisa hidup damai dalam ketidakpastian. Di warung, di sawah, di ruang tamu sederhana, orang Indonesia selalu punya satu mantra sakti, “Yang penting masih bisa makan, Mas.”

Saya kira itulah bentuk paling murni dari kebahagiaan eksistensial. Bukan tawa karena keadaan menyenangkan, tapi ketenangan karena tahu bahwa kesulitan adalah bagian dari hidup yang harus dijalani.

Dari Happiness ke Flourishing

Studi Global Flourishing Study ini sebenarnya tidak sekadar bicara soal senang-senang.  Ada lima dimensi kesejahteraan manusia yag dinilai yaitu kesehatan fisik dan mental, makna hidup, karakter moral, hubungan sosial, dan keamanan finansial. Dari survei tersebut Indonesia berada di puncak, karena masyarakatnya unggul dalam tiga hal, yaitu hubungan sosial yang kuat, makna hidup yang dalam, dan sikap moral yang hangat.

Artinya, rakyat Indonesia bisa saja lelah, tapi tidak merasa hampa. Mereka bisa kecewa pada pemerintah, tapi tidak kehilangan iman terhadap kehidupan.  Mereka masih percaya bahwa hidup ini penting dijalani, meski kadang memang tidak manuk akal, gak habis fikri diluar nurul.Dan di titik itulah, kita seperti mendengar gema dari seorang filsuf Prancis bernama Albert Camus.

Camus menyebut hidup sebagai sesuatu yang absurd. Di mana manusia selalu mencari makna di dunia yang tidak memberikannya. Namun alih-alih menyerah, Camus justru mengajak kita untuk mencintai kehidupan yang absurd itu.  Dalam esainya yang terkenal, The Myth of Sisyphus, Camus menulis tentang Sisyphus, tokoh dalam mitologi Yunani yang dihukum mendorong batu ke puncak gunung hanya untuk melihatnya jatuh lagi, selamanya. Camus berkata, “The struggle itself toward the heights is enough to fill a man’s heart.” Kebahagiaan bukan di puncak, tapi dalam perjuangan itu sendiri.

Dan sepertinya itu juga kisah orang Indonesia. Kita tengok saja para petani yang setiap musim menanam padi meski sawahnya terendam banjir. Buruh yang tetap berangkat kerja di tengah bayang-bayang PHK dan UMR yang terus diperjuangkan, atau guru yang dihukum karena menegur murid, tapi tetap mencintai profesinya. Mereka ini adalah Sisyphus-Sisyphus Nusantara, yang terus mendorong batu kehidupannya, dengan keringat dan doa, dengan tawa kecil di sela kesialan dan umpatan.

Gotong Royong sebagai Revolt

Kalau di Prancis, Camus berbicara tentang revolt, pemberontakan terhadap absurditas hidup, maka di Indonesia, bentuk revolt itu bernama gotong royong.  Kita tidak melawan kehidupan dengan amarah tapi dengan solidaritas. Ketika banjir datang, warga turun tangan bersama. Ketika harga naik, orang masih bisa saling mengirim nasi bungkus. Sampai sekarang pun masih ada Jumat berkah, yang bisa berupa paket makan siang di masjid, cukur gratis,  mie ayam gratis dan yang lainnya.  Itu bentuk pemberontakan yang lembut, tidak merusak dunia, tapi menyalakan harapan kecil.


Gotong royong sepertinya adalah cara khas Indonesia untuk berkata kepada dunia, “Kau boleh absurd, tapi kami tetap manusia.” Di sinilah letak kejeniusan kebudayaan kita. Orang Indonesia tidak menolak absurditas, tapi menjinakkannya lewat kebersamaan dan humor. Mungkin karena itulah kita tahan banting, karena kita merasa tidak tengah berjuang sendirian.

Ada alasan kenapa di tengah kejadian apes, orang Indonesia masih sempat bercanda di media sosial. Bukan karena tak peduli, tapi karena humor adalah mekanisme spiritual. Dalam canda, kita menertawakan nasib tanpa kehilangan martabat.  Dalam doa, kita menerima yang tak bisa kita ubah tanpa kehilangan harapan. Dan dalam ketabahan, kita menemukan makna yang lebih besar dari sekadar rasa senang.

Orang Indonesia hidup seperti kata Camus, “Aku memberontak, maka aku ada.” Kita memberontak dengan tetap hidup baik, di tengah sistem yang kadang menyebalkan.  Kita menolak menjadi korban, meski tahu kita sering diperlakukan tidak adil. Dan entah bagaimana, dari dalam kekacauan itu, lahir bentuk sikap yang aneh tapi nyata, yakni tetap bahagia meski dunia sedang morat-marit.

Bahagia tapi Jangan Buta

Namun, daya tahan ini juga bisa menjadi jebakan. Kalau kebijaksanaan kita berubah menjadi kepasrahan, maka absurditas bukan lagi ladang makna, tapi tempat pelarian. Kita bisa terlalu nrimo, terlalu sabar, sampai lupa marah. Di titik itu kebahagiaan buta akan membuat kita tuli terhadap ketidakadilan. Artinya, menjadi bangsa yang bahagia tidak berarti kita harus berhenti menuntut keadilan.Kita boleh tertawa, tapi jangan menutup mata. Kita boleh sabar, tapi jangan mati rasa. Flourishing sejati bukan sekadar hidup damai, tapi juga berani menghadapi absurditas dengan penuh kesadaran.

Jika Camus hidup di Indonesia saat ini, sepertinya ia tidak akan menulis tentang Sisyphus yang sendirian di gunung. Ia akan menulis tentang seorang pedagang bakso yang mendorong gerobaknya setiap hari di tengah panas, macet, dan razia Satpoll PP, tapi tetap tersenyum sambil berkata, “Rezeki sudah diatur, yang penting usaha.”

Ia akan menulis tentang ibu-ibu di pengungsian yang memasak bersama sambil saling menghibur, tentang buruh pabrik yang tetap bercanda meski upah belum naik, tentang anak muda yang bikin konten lucu untuk mengalihkan stres. Camus akan menemukan di sini,  versi paling hangat dari filsafatnya sendiri, suatu pemberontakan yang tidak getir, kebahagiaan yang tidak naif, ketabahan yang tetap punya tawa.

Menemukan Makna di Tengah Kekacauan

Mungkin, sekali lagi mungkin, itulah makna dari “Indonesia paling bahagia” dalam studi global itu. Bukan karena semuanya baik-baik saja, tapi karena kita punya cara khas untuk berdamai dengan kekacauan tanpa kehilangan kemanusiaan.Kita tahu hidup ini absurd, tapi kita memilih menanam, bukan menyerah. Kita tahu banyak pejabat tak bisa dipercaya, tapi kita tetap percaya pada kebaikan sesama. Kita tahu masa depan tak pasti, tapi kita tetap menyiapkan sarapan, menyapu halaman, dan kirim pisang goreng ke tetangga. Itulah flourishing versi kita Indonesia.

Indonesia menunjukkan bahwa absurditas tidak selalu melahirkan keputusasaan. Di negeri yang dulu sekali pernah berjuluk jamrud khatulistiwa ini, rakyatnya sudah sejak lama memahami absurditas, tanpa perlu membaca eksistensialisme. Dan di Indonesia, Sisyphus ala Camus itu mungkin sedang makan pecel lele bersama sambil bercanda, sebelum mendorong batunya lagi besok pagi. “Yang penting hepiii….,” kata jin Indonesia di suatu iklan komersil jaman baheula. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: Indonesiakebahagiaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lumpia Pak Dewa di Kampus UPMI Bali: Kisah Hidup Tentang Ketekunan pada Zaman yang Berubah-ubah

Next Post

Mahasiswa, Moral, dan Budaya Bercanda yang Kebablasan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Mahasiswa, Moral, dan Budaya Bercanda yang Kebablasan

Mahasiswa, Moral, dan Budaya Bercanda yang Kebablasan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co