2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Diksi Tak Melulu Batu Karang, Ada Juga Tower Internet | Dari Lokakarya Menulis Puisi di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
October 4, 2025
in Khas
Diksi Tak Melulu Batu Karang, Ada Juga Tower Internet | Dari Lokakarya Menulis Puisi di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Nanoq da Kansas dan Pranita Dewi dalam Lokakarya Menulis Puisi, Rabu Puisi, KLomunitas Mahima, di Singaraja

MENULIS puisi, berarti kita telah memandang sesuatu hal punya nilai puitik. Dan, mendiamkan teks puisi usai ditulis, berarti kita telah mengkristalkannya menjadi satu bahasa, selain indah, juga bernilai, lalu jadilah ia puisi seutuhnya.

Demikianlah pelajaran penting yang dapat dipetik dari Lokakarya Menulis Puisi di acara Rabu Puisi Komunitas Mahima, di Sasana Budaya, Singaraja, Rabu, 1 Oktober 2025.

Penyair Pranita Dewi dan Nanoq da Kansas menjadi narasumber di acara itu. Mereka lebih dulu menjelaskan apa itu—dan bagaimana menulis puisi, juga penyair melihat sesuatu yang bernilai puitik.

Atau Soebagio Sastrowardoyo menyebutnya—dengan matanya ia menyerbu rahasia dunia.

Selain permainan kata, kekuatan puisi ada pada cara seorang penyair dalam menangkap dan menginterpretasikan dunia.

“Dalam sesi ini, kita akan mengeksplorasi bagaimana mata penyair bekerja—menangkap realitas, menyaringnya melalui sensibilitas kreatif, dan menuliskannya dalam bentuk puisi,” kata Pranita Dewi memulai lokakarya.

Ketakjuban-ketakjuban dalam melihat sesuatu, bisa menjadi satu modal untuk ditulis ke dalam puisi. Penyair biasa menuliskan itu bahkan menjadi visi yang akan dituliskannya pada puisinya.

Proses menulis puisi menjadikan seorang penyair memiliki cara pandang lain, dalam hal ini lebih terbuka dalam melihat dunia; antara realitas dan imajinasi tentu saja.

Penyair memiliki cara pandang unik terhadap dunia. Mereka tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan, menghubungkan, dan memaknai. Seperti dalam puisi “Mata Penyair” karya Subagio Sastrowardoyo, dapat ditemukan sebuah kritik dan refleksi, selain sudut pandang yang mendalam.

Pranita Dewi

Ketika itu, Pranita menyilakan salah satu peserta untuk membacakan puisi karya Subagio Sastrowardoyo berjudul Mata Penyair. Di baris kedua tempat duduk peserta, atas nama Wulan maju ke depan dan membacakannya.

Berikut puisi yang dibacakan Wulan;

Ketika terbuka jendela, terdengar hiruk-pikuk kota. “Apa saja yang sudah kuberikan padamu,” kata penyair, “kecuali nyawaku ini yang teraniaya.”

Rakyat yang miskin merangsak ke muka. “Kami ingin matamu!” teriak mereka. “Kami ingin matamu, yang bisa merobah butir pasir yang tercecer dari karung menjadi emas di jalan. Beri matamu, matamu!”

Ada yang masih mau membela penyair itu. “Ingat, tanpa mata penyair menjadi buta!”

Tetapi rakyat yang putus asa tidak peduli. Mereka renggut mata penyair dari lubang matanya, dan lewat kedua bola matanya mereka melihat dunia sekelilingnya. Tetapi pasir yang tercecer tidak menjadi emas. Mereka menjadi kecewa dan merebus dan melahap kedua bola mata itu. Dan tidak terjadi apa-apa.

Penyair yang buta itu duduk di jendela dan tertawa menghadap ke kota. Tanpa mata dilihatnya semua begitu indahnya. Begitu indahnya!

Pembacaan Wulan cukup baik, ia dibalas tepuk tangan oleh peserta lain. Dan usai reda sorak tepuk-tepuk, Pranita tunggangi puisi itu untuk menjelaskan bagaimana mata penyair bekerja.

Puisi ini mengajarkan bahwa “mata penyair” bukan soal organ tubuh, melainkan cara pandang. Bahkan ketika matanya hilang, penyair tetap melihat dunia indah.

“Jadi tugas kita adalah membuka mata batin itu, agar bisa menafsir realitas dengan kedalaman,” lanjut Pranita Dewi.

Dan di bagian penting dari proses melihat—dari cara si penyair memandang, Pranita juga menjelaskan meditasi visual yang dapat membuka kepekaan, itu perlu diterapkan.

“Meditasi visual adalah latihan membuka kepekaan,” lanjutnya.

Nanoq da Kansas

Dengan menutup mata, kita membayangkan satu objek sederhana. Kita tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan: bagaimana suaranya, aromanya, warnanya, bahkan teksturnya. Semua kata/frasa yang muncul bisa menjadi bahan puisi.

Hal itu bisa menjadi salah satu cara dalam mendekati realitas dan menjaring makna. Ya, dalam mengamati dunia dengan empati, penuh kesadaran, dan kepekaan mendalam.

Misalnya, membayangkan satu objek, seperti laut, pohon, tubuh, atau ritual juga bisa.

Setelah itu, merasakannya dengan semua indera. Suara, aroma, warna, tekstur, bisa dirasakan kemudian dicatat apa yang dirasakan itu, tanpa harus menyensornya. Catatlah secara jujur.

Dan yang lebih penting dari puisi, juga bagian fragmen. Secara umum, fragmen berarti potongan kecil dari sesuatu yang lebih besar. Dalam konteks sastra, fragmen adalah bagian dari sebuah teks atau gagasan yang belum utuh—semacam serpihan.

Ia bisa berupa potongan kalimat, citraan, atau bahkan hanya satu kata yang berdiri sendiri tapi menyimpan energi untuk berkembang.

Sebagai potongan kecil yang memiliki kualitas puitis, fragmen puitik mengandung imaji, rasa, atau metafora yang kuat meskipun singkat.

Misalnya, Langit Jatuh di Matamu, atau Suara Ibu Tersisa di Bantal.

“Fragmen puitik tersebut biasanya lahir dari momen spontan, observasi, atau catatan kecil penyair sebelum menjadi puisi penuh, dengan fokus pada spontanitas,” jelas Pranita Dewi.

Dalam praktek membuat fragmen, Pranita menyarankan fragmen yang ditulis hari ini akan tumbuh menjadi puisi utuh.

Kembangkan menjadi 10–12 baris. Jangan khawatir dengan hasilnya, yang penting biarkan ia lahir. Besok, baru memperdalam dengan teknik dan tema.

Selain itu, dalam puisi juga ada metafora untuk menguatkan bahasa.

Lokakarya Menulis Puisi di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Metafora di sini memiliki fungsi untuk menghubungkan realitas dengan makna baru. Benda sehari-hari bisa dilihat sebagai sesuatu yang lain. Pohon bukan hanya pohon, ia bisa menjadi tubuh yang menopang kehidupan. Laut bisa menjadi rahim, dan jalan raya bisa menjadi doa yang panjang. Metafora membuka hubungan yang tak terduga.

Di bagian ini, Nanoq da Kansas, menyarankan setiap peserta, menyudahi mengambil diksi tentang laut—seperti; ala batu karang, laut bergelora, awan berarak, matahari.

“Karena semua itu sekarang pada fakta bisa tersaingi oleh ciptaan kita sendiri,” jelas Nanoq da Kansas, atau biasa disapa Om Nanoq.

Untuk mengungkapkan perasaan pada orang terkasih, lanjut Om Nanoq, bisa dicoba dengan sautu benda, seperti ; tower internet yang bergelut di barat itu. Itu bisa. Fakta.

Karena tower internet, tiap hari kehujanan, kena angin, kena panas, bahkan rasa dingin malam sunyi. Belum lagi, terkenal anak-anak nakal diketok-ketok, dikencingi anjing. Tapi tower internet tetap tegar berdiri.

Itu bisa diandaikan—sebagai perjuangan seseorang dalam mengejar cintanya—begitu menderitanya ia berjuang untuk tetap terhubung, ya, seperti tower internet itu.

“Capek kita mendengar cintaku atau hatiku seperti batu karang. Ayo, itu aku ingin kalian, kalian anak-anak modern, milenial, bisa mengeksplor yang lain. yang lebih segar,” lanjutnya.

Karena membuat puisi adalah latihan keberanian. Tidak ada benar atau salah, karena setiap suara sah. Dengan berbagi—mengeksplor, berarti belajar mendengar cara orang lain melihat dunia, dan itu memperluas mata penyair kita.

Namun dalam puisi, juga ada batas atau chiffer yang mesti diingat.

Karl Jaspers, filsuf eksistensialis, menyebut chiffer sebagai tanda atau situasi batas. Saat manusia berhadapan dengan penderitaan, kematian, kesalahan, cinta, atau keilahian, hidup terasa retak. Tapi justru di sanalah puisi bisa lahir. Fragmen hidup yang rapuh itu menjadi pintu menuju pengalaman transendental.

“Jika kita memahami apa yang dimaksud dengan chiffer-chiffer atau situasi-situasi batas dalam hidup manusia, maka kita akan memahami dengan baik tema-tema dasar apa yang akan menggugah “rasa” terdalam dari jiwa manusia,” kata Pranita Dewi.

Chiffer atau batas dalam puisi, memiliki fungsi agar puisi dapat dipahami, tidak abstrak. Sehingga dalam menulis puisi, mesti ditentukan—akan dibawa kearah seperti apa puisi itu, atau dalam hal ini; cerita dan citra.

Selamat mencoba menulis puisi…[T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: Komunitas MahimaNanoq da KansasPranita DewiPuisiRabu Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali, Eksistensi, Kepercayaan Diri, dan Over Confident

Next Post

Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co