14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Diksi Tak Melulu Batu Karang, Ada Juga Tower Internet | Dari Lokakarya Menulis Puisi di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
October 4, 2025
in Khas
Diksi Tak Melulu Batu Karang, Ada Juga Tower Internet | Dari Lokakarya Menulis Puisi di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Nanoq da Kansas dan Pranita Dewi dalam Lokakarya Menulis Puisi, Rabu Puisi, KLomunitas Mahima, di Singaraja

MENULIS puisi, berarti kita telah memandang sesuatu hal punya nilai puitik. Dan, mendiamkan teks puisi usai ditulis, berarti kita telah mengkristalkannya menjadi satu bahasa, selain indah, juga bernilai, lalu jadilah ia puisi seutuhnya.

Demikianlah pelajaran penting yang dapat dipetik dari Lokakarya Menulis Puisi di acara Rabu Puisi Komunitas Mahima, di Sasana Budaya, Singaraja, Rabu, 1 Oktober 2025.

Penyair Pranita Dewi dan Nanoq da Kansas menjadi narasumber di acara itu. Mereka lebih dulu menjelaskan apa itu—dan bagaimana menulis puisi, juga penyair melihat sesuatu yang bernilai puitik.

Atau Soebagio Sastrowardoyo menyebutnya—dengan matanya ia menyerbu rahasia dunia.

Selain permainan kata, kekuatan puisi ada pada cara seorang penyair dalam menangkap dan menginterpretasikan dunia.

“Dalam sesi ini, kita akan mengeksplorasi bagaimana mata penyair bekerja—menangkap realitas, menyaringnya melalui sensibilitas kreatif, dan menuliskannya dalam bentuk puisi,” kata Pranita Dewi memulai lokakarya.

Ketakjuban-ketakjuban dalam melihat sesuatu, bisa menjadi satu modal untuk ditulis ke dalam puisi. Penyair biasa menuliskan itu bahkan menjadi visi yang akan dituliskannya pada puisinya.

Proses menulis puisi menjadikan seorang penyair memiliki cara pandang lain, dalam hal ini lebih terbuka dalam melihat dunia; antara realitas dan imajinasi tentu saja.

Penyair memiliki cara pandang unik terhadap dunia. Mereka tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan, menghubungkan, dan memaknai. Seperti dalam puisi “Mata Penyair” karya Subagio Sastrowardoyo, dapat ditemukan sebuah kritik dan refleksi, selain sudut pandang yang mendalam.

Pranita Dewi

Ketika itu, Pranita menyilakan salah satu peserta untuk membacakan puisi karya Subagio Sastrowardoyo berjudul Mata Penyair. Di baris kedua tempat duduk peserta, atas nama Wulan maju ke depan dan membacakannya.

Berikut puisi yang dibacakan Wulan;

Ketika terbuka jendela, terdengar hiruk-pikuk kota. “Apa saja yang sudah kuberikan padamu,” kata penyair, “kecuali nyawaku ini yang teraniaya.”

Rakyat yang miskin merangsak ke muka. “Kami ingin matamu!” teriak mereka. “Kami ingin matamu, yang bisa merobah butir pasir yang tercecer dari karung menjadi emas di jalan. Beri matamu, matamu!”

Ada yang masih mau membela penyair itu. “Ingat, tanpa mata penyair menjadi buta!”

Tetapi rakyat yang putus asa tidak peduli. Mereka renggut mata penyair dari lubang matanya, dan lewat kedua bola matanya mereka melihat dunia sekelilingnya. Tetapi pasir yang tercecer tidak menjadi emas. Mereka menjadi kecewa dan merebus dan melahap kedua bola mata itu. Dan tidak terjadi apa-apa.

Penyair yang buta itu duduk di jendela dan tertawa menghadap ke kota. Tanpa mata dilihatnya semua begitu indahnya. Begitu indahnya!

Pembacaan Wulan cukup baik, ia dibalas tepuk tangan oleh peserta lain. Dan usai reda sorak tepuk-tepuk, Pranita tunggangi puisi itu untuk menjelaskan bagaimana mata penyair bekerja.

Puisi ini mengajarkan bahwa “mata penyair” bukan soal organ tubuh, melainkan cara pandang. Bahkan ketika matanya hilang, penyair tetap melihat dunia indah.

“Jadi tugas kita adalah membuka mata batin itu, agar bisa menafsir realitas dengan kedalaman,” lanjut Pranita Dewi.

Dan di bagian penting dari proses melihat—dari cara si penyair memandang, Pranita juga menjelaskan meditasi visual yang dapat membuka kepekaan, itu perlu diterapkan.

“Meditasi visual adalah latihan membuka kepekaan,” lanjutnya.

Nanoq da Kansas

Dengan menutup mata, kita membayangkan satu objek sederhana. Kita tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan: bagaimana suaranya, aromanya, warnanya, bahkan teksturnya. Semua kata/frasa yang muncul bisa menjadi bahan puisi.

Hal itu bisa menjadi salah satu cara dalam mendekati realitas dan menjaring makna. Ya, dalam mengamati dunia dengan empati, penuh kesadaran, dan kepekaan mendalam.

Misalnya, membayangkan satu objek, seperti laut, pohon, tubuh, atau ritual juga bisa.

Setelah itu, merasakannya dengan semua indera. Suara, aroma, warna, tekstur, bisa dirasakan kemudian dicatat apa yang dirasakan itu, tanpa harus menyensornya. Catatlah secara jujur.

Dan yang lebih penting dari puisi, juga bagian fragmen. Secara umum, fragmen berarti potongan kecil dari sesuatu yang lebih besar. Dalam konteks sastra, fragmen adalah bagian dari sebuah teks atau gagasan yang belum utuh—semacam serpihan.

Ia bisa berupa potongan kalimat, citraan, atau bahkan hanya satu kata yang berdiri sendiri tapi menyimpan energi untuk berkembang.

Sebagai potongan kecil yang memiliki kualitas puitis, fragmen puitik mengandung imaji, rasa, atau metafora yang kuat meskipun singkat.

Misalnya, Langit Jatuh di Matamu, atau Suara Ibu Tersisa di Bantal.

“Fragmen puitik tersebut biasanya lahir dari momen spontan, observasi, atau catatan kecil penyair sebelum menjadi puisi penuh, dengan fokus pada spontanitas,” jelas Pranita Dewi.

Dalam praktek membuat fragmen, Pranita menyarankan fragmen yang ditulis hari ini akan tumbuh menjadi puisi utuh.

Kembangkan menjadi 10–12 baris. Jangan khawatir dengan hasilnya, yang penting biarkan ia lahir. Besok, baru memperdalam dengan teknik dan tema.

Selain itu, dalam puisi juga ada metafora untuk menguatkan bahasa.

Lokakarya Menulis Puisi di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Metafora di sini memiliki fungsi untuk menghubungkan realitas dengan makna baru. Benda sehari-hari bisa dilihat sebagai sesuatu yang lain. Pohon bukan hanya pohon, ia bisa menjadi tubuh yang menopang kehidupan. Laut bisa menjadi rahim, dan jalan raya bisa menjadi doa yang panjang. Metafora membuka hubungan yang tak terduga.

Di bagian ini, Nanoq da Kansas, menyarankan setiap peserta, menyudahi mengambil diksi tentang laut—seperti; ala batu karang, laut bergelora, awan berarak, matahari.

“Karena semua itu sekarang pada fakta bisa tersaingi oleh ciptaan kita sendiri,” jelas Nanoq da Kansas, atau biasa disapa Om Nanoq.

Untuk mengungkapkan perasaan pada orang terkasih, lanjut Om Nanoq, bisa dicoba dengan sautu benda, seperti ; tower internet yang bergelut di barat itu. Itu bisa. Fakta.

Karena tower internet, tiap hari kehujanan, kena angin, kena panas, bahkan rasa dingin malam sunyi. Belum lagi, terkenal anak-anak nakal diketok-ketok, dikencingi anjing. Tapi tower internet tetap tegar berdiri.

Itu bisa diandaikan—sebagai perjuangan seseorang dalam mengejar cintanya—begitu menderitanya ia berjuang untuk tetap terhubung, ya, seperti tower internet itu.

“Capek kita mendengar cintaku atau hatiku seperti batu karang. Ayo, itu aku ingin kalian, kalian anak-anak modern, milenial, bisa mengeksplor yang lain. yang lebih segar,” lanjutnya.

Karena membuat puisi adalah latihan keberanian. Tidak ada benar atau salah, karena setiap suara sah. Dengan berbagi—mengeksplor, berarti belajar mendengar cara orang lain melihat dunia, dan itu memperluas mata penyair kita.

Namun dalam puisi, juga ada batas atau chiffer yang mesti diingat.

Karl Jaspers, filsuf eksistensialis, menyebut chiffer sebagai tanda atau situasi batas. Saat manusia berhadapan dengan penderitaan, kematian, kesalahan, cinta, atau keilahian, hidup terasa retak. Tapi justru di sanalah puisi bisa lahir. Fragmen hidup yang rapuh itu menjadi pintu menuju pengalaman transendental.

“Jika kita memahami apa yang dimaksud dengan chiffer-chiffer atau situasi-situasi batas dalam hidup manusia, maka kita akan memahami dengan baik tema-tema dasar apa yang akan menggugah “rasa” terdalam dari jiwa manusia,” kata Pranita Dewi.

Chiffer atau batas dalam puisi, memiliki fungsi agar puisi dapat dipahami, tidak abstrak. Sehingga dalam menulis puisi, mesti ditentukan—akan dibawa kearah seperti apa puisi itu, atau dalam hal ini; cerita dan citra.

Selamat mencoba menulis puisi…[T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: Komunitas MahimaNanoq da KansasPranita DewiPuisiRabu Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali, Eksistensi, Kepercayaan Diri, dan Over Confident

Next Post

Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co