25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kota Itu Bernama Kesunyian  |  Cerpen Fahrus Refendi

Fahrus Refendi by Fahrus Refendi
September 27, 2025
in Cerpen
Kota Itu Bernama Kesunyian  |  Cerpen Fahrus Refendi

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

AKU selalu terpukau saat engkau menuturkan cerita di rumah sebelah. Cerita yang selalu ditunggu anak-anak kampung. Tak terkecuali aku, yang selalu mendekatkan telinga di pintu bila suaramu menggema. Ia baru saja selesai dengan ceritanya, anak-anak segera turun dari teras, mengambil sandal, lalu pulang ke rumahnya masing-masing.  Ia turun, dan aku lekas mengikutinya dari belakang.

“Hey tunggu … aku suka tiap kamu bercerita, jika berkenan kutunggu kau nanti malam, aku mau mendengar ceritamu.” 

Suaraku kupelankan, takut ada orang lain yang mendengar, dan kutunjuk arah sebuah pintu dimana aku akan menantinya nanti malam. Kau hanya melempar senyum tipis, dan mengangguk pelan atas tawaranku. Entah akan datang memenuhi tawaranku atau tidak, akan kutunggu saja.

Ramlan, begitulah sebutan namanya. Nama yang cukup bagus untuk seorang pemuda yang mahir bercerita. Selain lihai bercerita ia juga mahir baca puisi. Suaranya yang lantang sangat pas ketika membawakan puisi Chairil Anwar. Aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang, mendengar gema suaranya, lekas-lekas kubuka pintu belakang, dan mengamatinya dari kejauhan. Semenjak itu, aku takjub pada pemuda yang punya bakat seperti Ramlan.

Malam Jumat yang hening. Tidak ada suara anak-anak bergurau, pemilik odong-odong sementara waktu juga parkir dari pekerjaannya. Penjual jajanan tutup lebih awal. Tak ada orang lalu lalang lantaran guyuran hujan melanda semenjak tadi sore.

Gema ikamah Isyak baru saja usai dikumandangkan, hujan mulai mereda. Jalan di gang sempit tertutupi air. Seketika semua lampu mati, padam. Memang, jika musim hujan tiba, apalagi ditambah dengan hujan deras dan angin kencang, mesti listrik bakalan mati. Biasanya baru keesokan harinya baru hidup kembali.

Tiba-tiba saja Ramlan sudah berada di pintu belakang.

 “Mana sandalmu?” Kubilang.

“Kutinggal di luar!”

“Ambil cepet ….!”

Lekas Ramlan keluar kembali dengan sebuah senter hp yang masih menyala. Setelah ia ambil sandalnya, kutarik cepat-cepat, dan segera menutup pintu. “Nggak ada orang melihat kamu masuk ke sini kan?”

Ramlan tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya.

Kilat guntur sesekali membuat pandanganku terhadap Ramlan sangat jelas. Kusilakan ia duduk di samping tempat tidur.

“Kau sendirian?” ucap Ramlan.

Dan aku hanya menganggukkan kepalaku.

“Semenjak lulus kuliah, aku memutuskan nggak pulang ke kampung halaman. Aku jatuh cinta pada kota ini. Kota yang telah memberikanku banyak pengalaman. Aku suka pantainya yang rindang, tambak garamnya yang begitu luas, mitos-mitos yang berkembang, sejarahnya juga. Pokoknya, semua tentang kota ini aku suka semuanya. Cuma satu yang nggak kusuka!”

“Apa?”

“Kesunyiaannya ketika malam datang! Tapi itu nggak penting, sudahlah.”

“Apa kota ini pernah memberikan luka padamu?”

“Semacam meninggalkan rasa sakit!”

Dan kami pun sama-sama terdiam. Kunyalakan sebatang lilin tepat antara aku dan Ramlan. Ramlan menatap mataku dengan sangat tajam, seolah-olah aku adalah binatang buruan yang siap  diterkam.

“Aku bahkan tidak mengenalmu!” sahut Ramlan setelah aku selesai menyalakan satu batang lilin.

“Lalu kenapa kau mau datang ke sini?”

Ramlan terdiam … lalu menoleh ke arahku. Dan kami sama-sama tertawa.

“Ssssttt … jangan terlalu keras, nanti tetangga pada tahu kita di sini!” ucapku lirih.

 Kubilang, pertama melihatnya bersama anak-anak di rumah sebelah, aku sama sekali tidak tertarik. Akan tetapi suaranya yang lantang memaksaku mendengarkan cerita-ceritanya. Tapi semakin ke belakang ceritanya seru juga jika didengarkan. Kubuka jendela sedikit, dan mendengarkan dari kamar tanpa sepengetahuan Ramlan dan anak-anak desa yang lain. Dari sekian cerita yang disampaikan Ramlan, cerita yang paling aku senangi yaitu tentang hikayat seribu satu malam.

Selain itu, cerita tentang asal-usul Madura juga tak kalah serunya untuk dinikmati. Kadang, ketika aku baru pulang kerja dan mendapati Ramlan beserta anak-anak di teras samping rumah, aku buru-buru mandi dan lekas berada di samping jendela.

“Dasar maling cerita … nggak pamit kalo mau dengerin ceritaku!”

“Bukan maling … lebih tepatnya penggemar bualan-bualanmu itu. Mari, berceritalah padaku, buat aku takjub oleh cerita-ceritamu, tapi syaratnya, jangan mengulang cerita yang sudah kamu sampaikan pada anak-anak. Aku mau sesuatu yang baru, yang lebih menarik dari apa yang sudah kau ceritakan pada anak-anak!”

Dalam kamar yang tidak terlalu luas itu kami berdua berada. Malam tanpa cahaya lampu, hanya sinar lilin mungil yang mampu menerangi paras kami berdua. Ramlan mulai menghela napas dan semakin mendekatkan diri pada sumber cahaya, aku pun melalukan hal yang sama, hingga aku melihat keseluruhan paras Ramlan yang eksotis.

***

  Dahulu, lahir seorang pemuda tangguh, ia dikenal bijaksana. Hingga suatu hari, Tuhan memanggilnya untuk menawarkan sesuatu atas apa yang telah ia kerjakan. Mendapat panggilan dari Rab-Nya lantas membuat perasaannya bertanya-tanya. Apa aku telah melakukan kesalahan? Atau, Tuhan murka padaku sehingga aku dipanggil untuk menghadapnya?

“Engkau telah berbuat baik pada semua yang kucipta. Sekarang aku mau menawarkan sesuatu padamu atas apa yang telah engkau lakukan, hambaku. Tapi syaratnya kau harus memilih salah satu di antara keduanya!”

Pemuda tampan itu menganggukkan kepalanya, tanda ia menyetujui tawaran yang diajukan.

“Jabatan, kekayaan, atau ilmu? Pilihlah!”

Memilih satu di antara keduanya bukan sesuatu yang mudah. Andai saja bisa memilih semuanya, maka akan sangat nyaman. Barangkali kehidupan memang begitu, penuh dengan pilihan-pilihan yang sulit.

Sebagai pemuda, semua yang ditawarkan memang sangat menggiurkan,  tapi ada pilihan yang harus ditempuh. Barangkali, hidup memang seputar memilih di antara yang terbaik. Memili berarti menjauhkan diri dari sifat ketamakan. Dan ketamakan barangkali awal dari suatu kemudaratan.

Masih soal penawaran, selang beberapa waktu pemuda itu memilih pilihan yang ketiga, yaitu ilmu.

“Kau yakin?”

Pemuda itu pun mengangguk dengan yakin.

“Jika kau jadi pemuda itu, kau akan memilih yang mana?” ucapku, memotong pembicaraan Ramlan.

“Aku juga tidak tahu … bingung juga jika harus berhadapan dengan sesuatu yang tidak seharusnya menjadi pilihan. Tapi tunggu dulu, aku belum selesai bercerita!” balas Ramlan.

Pemuda itu mantap dengan pilihannya, memilih ilmu di antara jabatan dan uang, hingga pada kemudian hari, ia mendapat kemuliaan dari ilmu yang didapatkannya. Ia memahami semua bahasa, sampai dengan bahasa binatang sekalipun. Ia menjadi kaya raya atas ilmu yang bersarang di tubuhnya.

Jam dinding kamarmu berbunyi.

 “Jangan khawatir, kita masih punya banyak waktu, masih jam satu dinihari … lanjutkan ceritamu, aku masih kuat menahan kantuk.”

“Aku mau pulang, sudah larut malam … nggak enak ke tetangga!”

“Hanya kita dan kesunyian yang ada di kamar ini. Tenanglah, orang lain gabakalan tahu, kecuali kau teriak! Mulailah bercerita kembali.”

Ramlan mengangkat tangan kanannya dan memberikan pesan simbolik, satu cerita lagi. Dan aku hanya mengangguk tanda setuju dengan pesannya itu. Ia mulai bercerita kembali bahwa pada saat panembahan Ronggosukowati memimpin, Pamekasan pernah terjadi kemarau panjang selama tiga tahun berturut-turut.

Kemudian, pada suatu malam sang raja bermimpi dan para ahli nujum menaksirkan mimpinya itu sebagai akhir dari musim kemarau yang berkepanjangan. Kenapa Pamekasan bisa kemarau? Tak lain karena ada seorang wali yang tengah bertapa di tengah rawa. Hujan akan mengguyur langit Pamekasan apabila, wali yang tengah bertapa diberikan tempat berteduh.

 Pangeran Ronggosukowati kemudian mendatangi hutan rawa itu dan benar saja, seorang pertapa tengah bersemedi di tempat yang banyak dihuni mambang dan berbagai macam hewan buas. Pangeran Ronggosukowati meminta izin untuk membuat gubuk pertapaan. Selang beberapa waktu, langit berubah mendung dan hujan datang sejadi-jadinya mengguyur kota Pamekasan. Pertapa itu hendak diboyong pangeran ke keraton, tapi pertapa itu menolak dengan alasan, hidup di keraton khawatir akan membuatnya lupa kepada Sang Pencipta.

Ramlan mengakhiri cerita karena keburu pagi, ia berjanji akan sering-sering balik ke kamar itu lagi, kamar yang damai tanpa banyak kekhawatiran. [T]

Penulis: Fahrus Refendi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Wahyu Mahaputra | Hantu-Hantu Asia Afrika

Next Post

Wisata Kesehatan Jamu Kalibakung: Inovasi Edukatif dalam Berwisata

Fahrus Refendi

Fahrus Refendi

Alumnus Universitas Madura prodi Bahasa & Sastra Indonesia. Bergiat di Sivitas Kothѐka, LESBUMI dan menjadi salah satu tenaga pengajar di SDI Mabdaul Falah Sumenep Madura.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Wisata Kesehatan Jamu Kalibakung: Inovasi Edukatif dalam Berwisata

Wisata Kesehatan Jamu Kalibakung: Inovasi Edukatif dalam Berwisata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co