26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kota Itu Bernama Kesunyian  |  Cerpen Fahrus Refendi

Fahrus Refendi by Fahrus Refendi
September 27, 2025
in Cerpen
Kota Itu Bernama Kesunyian  |  Cerpen Fahrus Refendi

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

AKU selalu terpukau saat engkau menuturkan cerita di rumah sebelah. Cerita yang selalu ditunggu anak-anak kampung. Tak terkecuali aku, yang selalu mendekatkan telinga di pintu bila suaramu menggema. Ia baru saja selesai dengan ceritanya, anak-anak segera turun dari teras, mengambil sandal, lalu pulang ke rumahnya masing-masing.  Ia turun, dan aku lekas mengikutinya dari belakang.

“Hey tunggu … aku suka tiap kamu bercerita, jika berkenan kutunggu kau nanti malam, aku mau mendengar ceritamu.” 

Suaraku kupelankan, takut ada orang lain yang mendengar, dan kutunjuk arah sebuah pintu dimana aku akan menantinya nanti malam. Kau hanya melempar senyum tipis, dan mengangguk pelan atas tawaranku. Entah akan datang memenuhi tawaranku atau tidak, akan kutunggu saja.

Ramlan, begitulah sebutan namanya. Nama yang cukup bagus untuk seorang pemuda yang mahir bercerita. Selain lihai bercerita ia juga mahir baca puisi. Suaranya yang lantang sangat pas ketika membawakan puisi Chairil Anwar. Aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang, mendengar gema suaranya, lekas-lekas kubuka pintu belakang, dan mengamatinya dari kejauhan. Semenjak itu, aku takjub pada pemuda yang punya bakat seperti Ramlan.

Malam Jumat yang hening. Tidak ada suara anak-anak bergurau, pemilik odong-odong sementara waktu juga parkir dari pekerjaannya. Penjual jajanan tutup lebih awal. Tak ada orang lalu lalang lantaran guyuran hujan melanda semenjak tadi sore.

Gema ikamah Isyak baru saja usai dikumandangkan, hujan mulai mereda. Jalan di gang sempit tertutupi air. Seketika semua lampu mati, padam. Memang, jika musim hujan tiba, apalagi ditambah dengan hujan deras dan angin kencang, mesti listrik bakalan mati. Biasanya baru keesokan harinya baru hidup kembali.

Tiba-tiba saja Ramlan sudah berada di pintu belakang.

 “Mana sandalmu?” Kubilang.

“Kutinggal di luar!”

“Ambil cepet ….!”

Lekas Ramlan keluar kembali dengan sebuah senter hp yang masih menyala. Setelah ia ambil sandalnya, kutarik cepat-cepat, dan segera menutup pintu. “Nggak ada orang melihat kamu masuk ke sini kan?”

Ramlan tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya.

Kilat guntur sesekali membuat pandanganku terhadap Ramlan sangat jelas. Kusilakan ia duduk di samping tempat tidur.

“Kau sendirian?” ucap Ramlan.

Dan aku hanya menganggukkan kepalaku.

“Semenjak lulus kuliah, aku memutuskan nggak pulang ke kampung halaman. Aku jatuh cinta pada kota ini. Kota yang telah memberikanku banyak pengalaman. Aku suka pantainya yang rindang, tambak garamnya yang begitu luas, mitos-mitos yang berkembang, sejarahnya juga. Pokoknya, semua tentang kota ini aku suka semuanya. Cuma satu yang nggak kusuka!”

“Apa?”

“Kesunyiaannya ketika malam datang! Tapi itu nggak penting, sudahlah.”

“Apa kota ini pernah memberikan luka padamu?”

“Semacam meninggalkan rasa sakit!”

Dan kami pun sama-sama terdiam. Kunyalakan sebatang lilin tepat antara aku dan Ramlan. Ramlan menatap mataku dengan sangat tajam, seolah-olah aku adalah binatang buruan yang siap  diterkam.

“Aku bahkan tidak mengenalmu!” sahut Ramlan setelah aku selesai menyalakan satu batang lilin.

“Lalu kenapa kau mau datang ke sini?”

Ramlan terdiam … lalu menoleh ke arahku. Dan kami sama-sama tertawa.

“Ssssttt … jangan terlalu keras, nanti tetangga pada tahu kita di sini!” ucapku lirih.

 Kubilang, pertama melihatnya bersama anak-anak di rumah sebelah, aku sama sekali tidak tertarik. Akan tetapi suaranya yang lantang memaksaku mendengarkan cerita-ceritanya. Tapi semakin ke belakang ceritanya seru juga jika didengarkan. Kubuka jendela sedikit, dan mendengarkan dari kamar tanpa sepengetahuan Ramlan dan anak-anak desa yang lain. Dari sekian cerita yang disampaikan Ramlan, cerita yang paling aku senangi yaitu tentang hikayat seribu satu malam.

Selain itu, cerita tentang asal-usul Madura juga tak kalah serunya untuk dinikmati. Kadang, ketika aku baru pulang kerja dan mendapati Ramlan beserta anak-anak di teras samping rumah, aku buru-buru mandi dan lekas berada di samping jendela.

“Dasar maling cerita … nggak pamit kalo mau dengerin ceritaku!”

“Bukan maling … lebih tepatnya penggemar bualan-bualanmu itu. Mari, berceritalah padaku, buat aku takjub oleh cerita-ceritamu, tapi syaratnya, jangan mengulang cerita yang sudah kamu sampaikan pada anak-anak. Aku mau sesuatu yang baru, yang lebih menarik dari apa yang sudah kau ceritakan pada anak-anak!”

Dalam kamar yang tidak terlalu luas itu kami berdua berada. Malam tanpa cahaya lampu, hanya sinar lilin mungil yang mampu menerangi paras kami berdua. Ramlan mulai menghela napas dan semakin mendekatkan diri pada sumber cahaya, aku pun melalukan hal yang sama, hingga aku melihat keseluruhan paras Ramlan yang eksotis.

***

  Dahulu, lahir seorang pemuda tangguh, ia dikenal bijaksana. Hingga suatu hari, Tuhan memanggilnya untuk menawarkan sesuatu atas apa yang telah ia kerjakan. Mendapat panggilan dari Rab-Nya lantas membuat perasaannya bertanya-tanya. Apa aku telah melakukan kesalahan? Atau, Tuhan murka padaku sehingga aku dipanggil untuk menghadapnya?

“Engkau telah berbuat baik pada semua yang kucipta. Sekarang aku mau menawarkan sesuatu padamu atas apa yang telah engkau lakukan, hambaku. Tapi syaratnya kau harus memilih salah satu di antara keduanya!”

Pemuda tampan itu menganggukkan kepalanya, tanda ia menyetujui tawaran yang diajukan.

“Jabatan, kekayaan, atau ilmu? Pilihlah!”

Memilih satu di antara keduanya bukan sesuatu yang mudah. Andai saja bisa memilih semuanya, maka akan sangat nyaman. Barangkali kehidupan memang begitu, penuh dengan pilihan-pilihan yang sulit.

Sebagai pemuda, semua yang ditawarkan memang sangat menggiurkan,  tapi ada pilihan yang harus ditempuh. Barangkali, hidup memang seputar memilih di antara yang terbaik. Memili berarti menjauhkan diri dari sifat ketamakan. Dan ketamakan barangkali awal dari suatu kemudaratan.

Masih soal penawaran, selang beberapa waktu pemuda itu memilih pilihan yang ketiga, yaitu ilmu.

“Kau yakin?”

Pemuda itu pun mengangguk dengan yakin.

“Jika kau jadi pemuda itu, kau akan memilih yang mana?” ucapku, memotong pembicaraan Ramlan.

“Aku juga tidak tahu … bingung juga jika harus berhadapan dengan sesuatu yang tidak seharusnya menjadi pilihan. Tapi tunggu dulu, aku belum selesai bercerita!” balas Ramlan.

Pemuda itu mantap dengan pilihannya, memilih ilmu di antara jabatan dan uang, hingga pada kemudian hari, ia mendapat kemuliaan dari ilmu yang didapatkannya. Ia memahami semua bahasa, sampai dengan bahasa binatang sekalipun. Ia menjadi kaya raya atas ilmu yang bersarang di tubuhnya.

Jam dinding kamarmu berbunyi.

 “Jangan khawatir, kita masih punya banyak waktu, masih jam satu dinihari … lanjutkan ceritamu, aku masih kuat menahan kantuk.”

“Aku mau pulang, sudah larut malam … nggak enak ke tetangga!”

“Hanya kita dan kesunyian yang ada di kamar ini. Tenanglah, orang lain gabakalan tahu, kecuali kau teriak! Mulailah bercerita kembali.”

Ramlan mengangkat tangan kanannya dan memberikan pesan simbolik, satu cerita lagi. Dan aku hanya mengangguk tanda setuju dengan pesannya itu. Ia mulai bercerita kembali bahwa pada saat panembahan Ronggosukowati memimpin, Pamekasan pernah terjadi kemarau panjang selama tiga tahun berturut-turut.

Kemudian, pada suatu malam sang raja bermimpi dan para ahli nujum menaksirkan mimpinya itu sebagai akhir dari musim kemarau yang berkepanjangan. Kenapa Pamekasan bisa kemarau? Tak lain karena ada seorang wali yang tengah bertapa di tengah rawa. Hujan akan mengguyur langit Pamekasan apabila, wali yang tengah bertapa diberikan tempat berteduh.

 Pangeran Ronggosukowati kemudian mendatangi hutan rawa itu dan benar saja, seorang pertapa tengah bersemedi di tempat yang banyak dihuni mambang dan berbagai macam hewan buas. Pangeran Ronggosukowati meminta izin untuk membuat gubuk pertapaan. Selang beberapa waktu, langit berubah mendung dan hujan datang sejadi-jadinya mengguyur kota Pamekasan. Pertapa itu hendak diboyong pangeran ke keraton, tapi pertapa itu menolak dengan alasan, hidup di keraton khawatir akan membuatnya lupa kepada Sang Pencipta.

Ramlan mengakhiri cerita karena keburu pagi, ia berjanji akan sering-sering balik ke kamar itu lagi, kamar yang damai tanpa banyak kekhawatiran. [T]

Penulis: Fahrus Refendi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Wahyu Mahaputra | Hantu-Hantu Asia Afrika

Next Post

Wisata Kesehatan Jamu Kalibakung: Inovasi Edukatif dalam Berwisata

Fahrus Refendi

Fahrus Refendi

Alumnus Universitas Madura prodi Bahasa & Sastra Indonesia. Bergiat di Sivitas Kothѐka, LESBUMI dan menjadi salah satu tenaga pengajar di SDI Mabdaul Falah Sumenep Madura.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Wisata Kesehatan Jamu Kalibakung: Inovasi Edukatif dalam Berwisata

Wisata Kesehatan Jamu Kalibakung: Inovasi Edukatif dalam Berwisata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co