14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kota Itu Bernama Kesunyian  |  Cerpen Fahrus Refendi

Fahrus Refendi by Fahrus Refendi
September 27, 2025
in Cerpen
Kota Itu Bernama Kesunyian  |  Cerpen Fahrus Refendi

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

AKU selalu terpukau saat engkau menuturkan cerita di rumah sebelah. Cerita yang selalu ditunggu anak-anak kampung. Tak terkecuali aku, yang selalu mendekatkan telinga di pintu bila suaramu menggema. Ia baru saja selesai dengan ceritanya, anak-anak segera turun dari teras, mengambil sandal, lalu pulang ke rumahnya masing-masing.  Ia turun, dan aku lekas mengikutinya dari belakang.

“Hey tunggu … aku suka tiap kamu bercerita, jika berkenan kutunggu kau nanti malam, aku mau mendengar ceritamu.” 

Suaraku kupelankan, takut ada orang lain yang mendengar, dan kutunjuk arah sebuah pintu dimana aku akan menantinya nanti malam. Kau hanya melempar senyum tipis, dan mengangguk pelan atas tawaranku. Entah akan datang memenuhi tawaranku atau tidak, akan kutunggu saja.

Ramlan, begitulah sebutan namanya. Nama yang cukup bagus untuk seorang pemuda yang mahir bercerita. Selain lihai bercerita ia juga mahir baca puisi. Suaranya yang lantang sangat pas ketika membawakan puisi Chairil Anwar. Aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang, mendengar gema suaranya, lekas-lekas kubuka pintu belakang, dan mengamatinya dari kejauhan. Semenjak itu, aku takjub pada pemuda yang punya bakat seperti Ramlan.

Malam Jumat yang hening. Tidak ada suara anak-anak bergurau, pemilik odong-odong sementara waktu juga parkir dari pekerjaannya. Penjual jajanan tutup lebih awal. Tak ada orang lalu lalang lantaran guyuran hujan melanda semenjak tadi sore.

Gema ikamah Isyak baru saja usai dikumandangkan, hujan mulai mereda. Jalan di gang sempit tertutupi air. Seketika semua lampu mati, padam. Memang, jika musim hujan tiba, apalagi ditambah dengan hujan deras dan angin kencang, mesti listrik bakalan mati. Biasanya baru keesokan harinya baru hidup kembali.

Tiba-tiba saja Ramlan sudah berada di pintu belakang.

 “Mana sandalmu?” Kubilang.

“Kutinggal di luar!”

“Ambil cepet ….!”

Lekas Ramlan keluar kembali dengan sebuah senter hp yang masih menyala. Setelah ia ambil sandalnya, kutarik cepat-cepat, dan segera menutup pintu. “Nggak ada orang melihat kamu masuk ke sini kan?”

Ramlan tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya.

Kilat guntur sesekali membuat pandanganku terhadap Ramlan sangat jelas. Kusilakan ia duduk di samping tempat tidur.

“Kau sendirian?” ucap Ramlan.

Dan aku hanya menganggukkan kepalaku.

“Semenjak lulus kuliah, aku memutuskan nggak pulang ke kampung halaman. Aku jatuh cinta pada kota ini. Kota yang telah memberikanku banyak pengalaman. Aku suka pantainya yang rindang, tambak garamnya yang begitu luas, mitos-mitos yang berkembang, sejarahnya juga. Pokoknya, semua tentang kota ini aku suka semuanya. Cuma satu yang nggak kusuka!”

“Apa?”

“Kesunyiaannya ketika malam datang! Tapi itu nggak penting, sudahlah.”

“Apa kota ini pernah memberikan luka padamu?”

“Semacam meninggalkan rasa sakit!”

Dan kami pun sama-sama terdiam. Kunyalakan sebatang lilin tepat antara aku dan Ramlan. Ramlan menatap mataku dengan sangat tajam, seolah-olah aku adalah binatang buruan yang siap  diterkam.

“Aku bahkan tidak mengenalmu!” sahut Ramlan setelah aku selesai menyalakan satu batang lilin.

“Lalu kenapa kau mau datang ke sini?”

Ramlan terdiam … lalu menoleh ke arahku. Dan kami sama-sama tertawa.

“Ssssttt … jangan terlalu keras, nanti tetangga pada tahu kita di sini!” ucapku lirih.

 Kubilang, pertama melihatnya bersama anak-anak di rumah sebelah, aku sama sekali tidak tertarik. Akan tetapi suaranya yang lantang memaksaku mendengarkan cerita-ceritanya. Tapi semakin ke belakang ceritanya seru juga jika didengarkan. Kubuka jendela sedikit, dan mendengarkan dari kamar tanpa sepengetahuan Ramlan dan anak-anak desa yang lain. Dari sekian cerita yang disampaikan Ramlan, cerita yang paling aku senangi yaitu tentang hikayat seribu satu malam.

Selain itu, cerita tentang asal-usul Madura juga tak kalah serunya untuk dinikmati. Kadang, ketika aku baru pulang kerja dan mendapati Ramlan beserta anak-anak di teras samping rumah, aku buru-buru mandi dan lekas berada di samping jendela.

“Dasar maling cerita … nggak pamit kalo mau dengerin ceritaku!”

“Bukan maling … lebih tepatnya penggemar bualan-bualanmu itu. Mari, berceritalah padaku, buat aku takjub oleh cerita-ceritamu, tapi syaratnya, jangan mengulang cerita yang sudah kamu sampaikan pada anak-anak. Aku mau sesuatu yang baru, yang lebih menarik dari apa yang sudah kau ceritakan pada anak-anak!”

Dalam kamar yang tidak terlalu luas itu kami berdua berada. Malam tanpa cahaya lampu, hanya sinar lilin mungil yang mampu menerangi paras kami berdua. Ramlan mulai menghela napas dan semakin mendekatkan diri pada sumber cahaya, aku pun melalukan hal yang sama, hingga aku melihat keseluruhan paras Ramlan yang eksotis.

***

  Dahulu, lahir seorang pemuda tangguh, ia dikenal bijaksana. Hingga suatu hari, Tuhan memanggilnya untuk menawarkan sesuatu atas apa yang telah ia kerjakan. Mendapat panggilan dari Rab-Nya lantas membuat perasaannya bertanya-tanya. Apa aku telah melakukan kesalahan? Atau, Tuhan murka padaku sehingga aku dipanggil untuk menghadapnya?

“Engkau telah berbuat baik pada semua yang kucipta. Sekarang aku mau menawarkan sesuatu padamu atas apa yang telah engkau lakukan, hambaku. Tapi syaratnya kau harus memilih salah satu di antara keduanya!”

Pemuda tampan itu menganggukkan kepalanya, tanda ia menyetujui tawaran yang diajukan.

“Jabatan, kekayaan, atau ilmu? Pilihlah!”

Memilih satu di antara keduanya bukan sesuatu yang mudah. Andai saja bisa memilih semuanya, maka akan sangat nyaman. Barangkali kehidupan memang begitu, penuh dengan pilihan-pilihan yang sulit.

Sebagai pemuda, semua yang ditawarkan memang sangat menggiurkan,  tapi ada pilihan yang harus ditempuh. Barangkali, hidup memang seputar memilih di antara yang terbaik. Memili berarti menjauhkan diri dari sifat ketamakan. Dan ketamakan barangkali awal dari suatu kemudaratan.

Masih soal penawaran, selang beberapa waktu pemuda itu memilih pilihan yang ketiga, yaitu ilmu.

“Kau yakin?”

Pemuda itu pun mengangguk dengan yakin.

“Jika kau jadi pemuda itu, kau akan memilih yang mana?” ucapku, memotong pembicaraan Ramlan.

“Aku juga tidak tahu … bingung juga jika harus berhadapan dengan sesuatu yang tidak seharusnya menjadi pilihan. Tapi tunggu dulu, aku belum selesai bercerita!” balas Ramlan.

Pemuda itu mantap dengan pilihannya, memilih ilmu di antara jabatan dan uang, hingga pada kemudian hari, ia mendapat kemuliaan dari ilmu yang didapatkannya. Ia memahami semua bahasa, sampai dengan bahasa binatang sekalipun. Ia menjadi kaya raya atas ilmu yang bersarang di tubuhnya.

Jam dinding kamarmu berbunyi.

 “Jangan khawatir, kita masih punya banyak waktu, masih jam satu dinihari … lanjutkan ceritamu, aku masih kuat menahan kantuk.”

“Aku mau pulang, sudah larut malam … nggak enak ke tetangga!”

“Hanya kita dan kesunyian yang ada di kamar ini. Tenanglah, orang lain gabakalan tahu, kecuali kau teriak! Mulailah bercerita kembali.”

Ramlan mengangkat tangan kanannya dan memberikan pesan simbolik, satu cerita lagi. Dan aku hanya mengangguk tanda setuju dengan pesannya itu. Ia mulai bercerita kembali bahwa pada saat panembahan Ronggosukowati memimpin, Pamekasan pernah terjadi kemarau panjang selama tiga tahun berturut-turut.

Kemudian, pada suatu malam sang raja bermimpi dan para ahli nujum menaksirkan mimpinya itu sebagai akhir dari musim kemarau yang berkepanjangan. Kenapa Pamekasan bisa kemarau? Tak lain karena ada seorang wali yang tengah bertapa di tengah rawa. Hujan akan mengguyur langit Pamekasan apabila, wali yang tengah bertapa diberikan tempat berteduh.

 Pangeran Ronggosukowati kemudian mendatangi hutan rawa itu dan benar saja, seorang pertapa tengah bersemedi di tempat yang banyak dihuni mambang dan berbagai macam hewan buas. Pangeran Ronggosukowati meminta izin untuk membuat gubuk pertapaan. Selang beberapa waktu, langit berubah mendung dan hujan datang sejadi-jadinya mengguyur kota Pamekasan. Pertapa itu hendak diboyong pangeran ke keraton, tapi pertapa itu menolak dengan alasan, hidup di keraton khawatir akan membuatnya lupa kepada Sang Pencipta.

Ramlan mengakhiri cerita karena keburu pagi, ia berjanji akan sering-sering balik ke kamar itu lagi, kamar yang damai tanpa banyak kekhawatiran. [T]

Penulis: Fahrus Refendi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Wahyu Mahaputra | Hantu-Hantu Asia Afrika

Next Post

Wisata Kesehatan Jamu Kalibakung: Inovasi Edukatif dalam Berwisata

Fahrus Refendi

Fahrus Refendi

Alumnus Universitas Madura prodi Bahasa & Sastra Indonesia. Bergiat di Sivitas Kothѐka, LESBUMI dan menjadi salah satu tenaga pengajar di SDI Mabdaul Falah Sumenep Madura.

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Wisata Kesehatan Jamu Kalibakung: Inovasi Edukatif dalam Berwisata

Wisata Kesehatan Jamu Kalibakung: Inovasi Edukatif dalam Berwisata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co