2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kemungkinan-Kemungkinan Baik Setelah STAHN Mpu Kuturan Singaraja Berubah Jadi Institut

Son Lomri by Son Lomri
September 22, 2025
in Khas
Kemungkinan-Kemungkinan Baik Setelah STAHN Mpu Kuturan Singaraja Berubah Jadi Institut

Mahasiswa IAHN Mpu Kuturan

SEBAGAI Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan, Ketut Sintia Devi ketiban hari baik, juga hari sibuk dan perpanjangan jabatan.

“Harusnya saya tahun ini lengser, tapi karena ada transformasi lembaga, saya jadi dilantik kembali menjadi ketua BEM, dan tahun depan baru selesai,” kata Sintia.

Transformasi lembaga yang dimaksud Sintia adalah perubahan status Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) menjadi Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan. Saat berstatus sekolah tinggi, Sintia menjadi ketua BEM. Dan setelah naik status menjajdi institut, Sintia harus meneruskan tugasnya jadi ketua BEM. Kini ia Ketua BEM IAHN Mpu Kuturan, padahal seharusnya ia sudah menyelesaikan masa jabatannya.

Untuk itulah Sintia Devi bisa dianggap menjadi saksi penting atas transformasi kampusnya itu, yang sekaligus juga membuatnya harus berbenah secara tata kelola organisasi dan tata kerja.

“Ini pengalaman berarti bagi saya, karena menjadi saksi sejarah transformasi kampus sendiri, apalagi saya sebagai perempuan,” kata Sintia.

Ketut Sintia Devi

Secara keorganisasian, IAHN Mpu Kuturan mengalami transformasi yang besar untuk Organisasi Kemahasiswaan. Berubahnya status dari sekolah tinggi ke institut, membuat organisasi dan tata kerjanya harus menyesuaikan dengan Keputusan Presiden (Kepres) tentang transformasi itu.

Apalagi IAHN Mpu Kuturan memiliki empat fakultas sekarang, yang sebelumnya hanya ada istilah jurusan untuk menaungi program studi mereka. Setelah transformasi itu, ada beberapa perubahan dalam aturan organisasi terutama di bagian struktural.

Misalnya, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), kini berubah namanya menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas—yang akan diawasi secara langsung oleh Dewan Pengawas Mahasiswa (DPM), yang sebelumnya juga tidak ada. Sekarang sudah diadakan.

Kemudian, HMJ akan dihilangkan, diganti dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HIMA Prodi).  Hal itu juga membuat Badan Eksekutif Mahasiswa di lembaga, mesti merombak isitilah Bidang-bidang, menjadi Kabinet—dengan jangkauan hubungan kerja yang lebih luas setelah diberlakukannya BEM Fakultas.

“Dan itulah yang membuat masa jabatan mesti diperpanjang. Karena sekarang setelah transformasi itu jauh lebih kompleks lagi,” tambah I Gusti Ajeng Bintang Lestarizky, Ketua Umum DPM IAHN Mpu Kuturan.

Di acara launching Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan di Lapangan Terbuka, di Kampus IAHN Mpu Kuturan, Singaraja, Sabtu, 20 September 2025. Sintia agaknya masih sibuk mempersiapkan ini dan itu sebagai ketua BEM, bahkan sedari bulan Agustus.

Di acara itu ia mengerahkan ratusan mahasiswa dalam menyambut baik Menteri Agama RI Nasaruddin Umar yang akan meresmikan status baru kampusnya.

Ratusan mahasiswa berderet panjang, tumpah, menyambut hangat sang menteri datang di pagar-pintu masuk menuju panggung utama. Yel-yel dan suara tetabuhan menjadi satu, juga tarian-tarian penyambutan yang artistik. Pak Menteri pun melambaikan tangan dan sesekali berjalan sambil melempar seyum—membalas sambutan ramah mereka.

Ketika di atas panggung utama, Rektor IAHN Mpu Kuturan Singaraja I Gede Suwindia, menanggapi itu adalah sebuah keramahan yang penting untuk menyambut kedatangan menteri yang ditunggunya sejak lama untuk tinjauan secara langsung.

Ia juga mengatakan sudah menjadi tugas utama Institut Pendidikan hari Ini untuk melahirkan generasi-generasi emas yang cerdas secara akal, namun tidak lemah dalam konteks etik moral di masyarakat.

Rektor IAHN Mpu Kuturan Singaraja I Gede Suwindia dan Menteri Agama RI Nasaruddin Umar di IAHN Mpu Kuturan

“Di hari suci ini [Tumpek Landep] adalah satu pertanda peneguh, Bapak Menteri. Penguat kami bahwa kampus Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan, yang sudah membawa nama orang suci, tokoh suci Ida Betara Lelangit Mpu Kuturan. Itu merupakan sejarah historis yang tidak bisa kami lupakan,” kata Gede Suwindia.

Sampai di situ, Gede Suwindia juga menjelaskan keramahan yang dilemparkan oleh mahasiswanya dalam penyambutan, ada kaitannya dengan ajaran Hindu, yaitu catur guru—yang sudah diajarkan di kampusnya.

Agama Hindu memiliki konsep empat orang guru yang harus dihormati, atau yang disebut pula sebagai catur guru. Di antaranya, Tuhan Maha Pencipta (Guru Swadhyaya), Orang tua (Guru Rupaka), Guru yang mendidik (guru pengajian), dan Pemerintah atau pemimpin (Guru Wisesa).

“Bapak Menteri semakin meneguhkan, memberikan restu sebagai orang tua, sebagai Guru Wisesa kami, pemerintah kami, sehingga menjadikan semua ini [kampus] semakin lengkap,” lanjutnya.

IAHN Mpu Kuturan Untuk Peradaban

Sebagai kampus yang berkomitmen untuk unggul, bermartabat, dan berkarakter. IAHN Mpu Kuturan juga tebarkan Moto berartinya, yaitu Cahaya Ilmu Menerangi Peradaban. Hal itu telah dirumuskan bersama civitas kampus.

Apa yang disebut cahaya ilmu, bagi Gede Suwindia hanya ilmu yang benar-benar bercahaya. Yang mampu menunjukkan arah masa depan dalam menerangi peradaban dunia.

“Bahwa ilmu pengetahuan saja tidak cukup, tapi harus ada nilai-nilai spiritual, nilai-nilai etika di mana kami usung dengan tema Green Art Smart and Spiritual Campus, atau kami sebut Gas Gas Gas,” jelas Gede Suwindia.

Menanggapi keramahan dan kebaikan yang berarti itu, sebelum Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mendatangani Prasasti IMK, Gedung Pelayanan Akademik, dan Gedung Pasca Sarjana sebagai tanda transformasi.

Ketika sambutan, ia mengatakan—lebih jauh tentang kampus yang didatanginya itu, sebenarnya tidak cocok menjadi Institut, cocoknya jadi Universitas.

“Kalau bisa, kedatangan kami nanti berikutnya, kami resmikan menjadi universitas,” kata Nasaruddin Umar, Menteri Agama RI—mengusahakan IAHN Mpu Kuturan menjadi universitas.

Mahasiswa IAHN Mpu Kuturan

Karena ia sangat yakin bahwa Agama Hindu itu ajarannya sangat universal. Sehingga universitas Ajaran agama Hindu itu tidak bisa diwadahi oleh Sekolah Tinggi atau Institut, tapi harus diwadahi oleh universitas.

“Mpu Kuturan bukan orang sembarangan [menjelaskan sekilas sosok Mpu Kuturan]. Dia orang yang istilahnya itu mewakafkan sepanjang hidupnya untuk keluhuran anak manusia,” jelasnya.

Sebab itu perguruan tinggi ini paling tidak juga akan mewarisi suasana kebatinan, suasana psikologis Mpu Kuturan. Sehingga apa yang disampaikan tadi oleh Gede Suwindia secara filosofis, sangat betul ilmu adalah cahaya. Dan kampus ini sangat penting untuk peradaban.

“Karena itu, ya, IAHN ini bukan perguruan tinggi sembarangan. Kalau perguruan tinggi di sana [luar negeri] yang orang lain menyebutnya sekuler mungkin, ya, tentu tidak bisa disamakan dengan IAHN. Saya yakin betul bahwa sumber pembelajaran di dalam perguruan tinggi sekuler itu hanya satu, yaitu melalui deduksi-deduksi akal,” kata Nasaruddin Umar.

Tetapi perguruan tinggi agama seperti IAHN Mpu Kuturan ini sumber pengetahuannya itu bukan hanya logika tapi juga ada sumber-sumber lain yang spiritualis.

“Wangsit itu tidak ada di dalam metodologi modern barat. Dari mana kamu dapat sumber ini? Wah, tadi malam saya dapat wangsit di hasil persemedian saya,” kata Nasaruddin Umar tentang wangsit tidak ada dalam pengetahuan modern.

Tapi ini kita tidak bisa mengingkari bahwa ada konsep divine knowledge (pengetahuan ilahi). Konsep wangsit, pengetahuan yang acquired dari Tuhan. Ada bisikan-bisikan kalbu, bisikan nurani. Itu sangat penting. Dan terbukti sekarang ini kita bisa lihat dalam bukunya The Sacred Nature karya Karsen Armstrong yang sangat terkenal di Amerika sebagai penulis produktif itu.

Mereka mengajak kepada para ilmuwan barat Amerika, terutama—supaya kembali memperhatikan sumber-sumber keilmuan yang lain. Jangan latah dan jangan sombong, hanya menjadikan akal-akal dan akal sebagai sumber pembelajaran, padahal lebih dari itu.

“Ada the power of external knowledge juga, ada power di luar diri kita sendiri yang juga merupakan sumber kebenaran, sumber pencerahan,” jelas Nasaruddin Umar sekilas tentang buku itu.

Dan ia juga sangat yakin bahwa di dalam Agama Hindu itu punya banyak persamaan dengan Agama Islam. Sumber pembelajaran dalam Islam bukan hanya guru, bukan hanya dosen, tapi juga dikenal apa yang disebut dengan impersonal lecture.

Sehingga, menurut Menteri Agama RI Nasaruddin Umar itu, para mahasiswa yang berkuliah di IAHN Mpu Kuturan, sangatlah beruntung. Karena di situ tidak hanya akan dilahirkan seorang ilmuwan, tetapi juga seorang cendikia.

“Menjadi ilmuwan itu gampang. Tetapi menjadi intelektual itu lebih sulit. Dan di atas intelektual itu masih ada apa yang kita istilahkan dengan cendekia,” lanjut Nasaruddin Umar.

Kedatangan Menag Nasaruddin di kampus IAHN Mpu Kuturan

Ia menjelaskan tentang intelektual, bahwa semua intelektual itu murid. Tapi tidak semua murid itu adalah intelektual. Dan cendekiawan itu the high level. Karena cendekiawan itu intelektual. Tapi tidak semua intelektual itu cendekiawan.

“Apa bedanya? Kalau ilmuwan ada di mana-mana Bapak Ibu sekalian. Apa bedanya ilmuwan, intelektual dan cendekiawan? Kalau ilmuwan scientist bahasa Inggrisnya. Menguasai satu disiplin ilmu tertentu. Tetapi belum tentu dia mengamalkan ilmunya. Sebagai knowledge dia paham betul, tapi dia tidak mengamalkan apa yang dia ketahuinya,” kata Nasaruddin Umar.

Di dalam agama Hindu disebut hipokrit. Orang yang tahu tapi tidak mengamalkan itu munafik. Nah, Kita tidak akan melahirkan orang-orang munafik di IAHN ini. Bukan hanya tahu tetapi tidak mengamalkan. Orang yang tahu tapi tidak konsisten untuk mengamalkannya itu hanya ilmuwan.

Tapi kalau sudah mulai mengamalkan ilmunya apa yang dia ketahuinya, itulah dia menjadi seorang intelektual. Dan seorang intelektual itu hanya mengamalkan apa yang dia ketahui dan mengetahui apa yang diamalkan, tapi belum tentu orang lain merasakannya.

Resonansinya ke dalam masyarakat itu belum mungkin terasakan. Tapi kalau dia pintar, dia mengamalkan pengetahuannya dan juga berdampak terhadap masyarakat sekitarnya, maka itulah yang disebut dengan cendekia.

“Karena itu yang kita akan lahirkan di IAHN ini adalah bukan ilmuwan saja bukan intelektual saja, tapi juga kecendekiawanan. Jadi, para mahasiswa IAHN ini berbahagia, berbanggalah tidak salah memilih kampus IAHN ini,” tancap gas Pak Menteri.

Karena akan diajar bukan saja oleh pengajar, atau oleh dosen. Tapi juga akan diajar oleh pendidik, bahkan guru. Ada tiga level dalam tingkatan guru; pemberi, pencerahan, pengajar. Level yang paling dangkal adalah pengajar.

“Apa itu pengajar? Melakukan transformasi ilmu kepada mahasiswanya. Lulus dalam ujian. Oh, ujiannya hukum laut. Tapi mereka tidak peduli. boleh minta enggak? Apakah orang itu berakhlak atau tidak? Apakah mengamalkan ilmunya itu atau tidak? Itu enggak ada urusan. Itu adalah pengajar. Tapi yang lebih tinggi dari sekadar pengajar ialah pendidik,” jelas Pak Menteri.

Pendidik itu dia ingin menyaksikan anak muridnya, mahasiswanya mengamalkan apa yang dia ketahui. Kalau pengajar tidak ada urusan. Jangan-jangan dianya juga tidak mengamalkan apa yang dia ketahui. Maka itu yang dibutuhkan IAHN Mpu Kuturan ini bukan saja pengajar, tapi juga seorang pendidik.

“Tanggung jawabnya tidak hanya sampai mentransformasikan kurikulumnya apa tahun ini, semester ini. Tetapi secara moral, spiritual, seorang pendidik harus melihat muridnya mengamalkan apa yang dia ketahui,” lanjutnya.

Yang mesti memiliki perasaan kuat, bagaimana seorang pendidik harus kecewa melihat anak muridnya lain yang dia pelajari, dan lain yang diamalkan.

Peluang Baik Setelah Menjadi Institut

Sebagai perguruan tinggi, IAHN Mpu Kuturan sudah menjadi institut yang lengkap selain cakep. Ia sudah ada gedung baru, yaitu Gedung Pasca Sarjana, dan Gedung Layanan Akademik, dan beberapa gedung renovasi dengan tampilan yang bagus.

Dan secara kegiatan belajar mengajar pun, sudah sangat baik dalam pelayanannya. Seperti kata salah satu dosen IAHN Mpu Kuturan Putu Ardiyasa, kampus tempatnya mengajar mendapatkan fasilitas pendanaan lebih besar dari sebelumnya, terutama untuk kegiatan belajar mengajar.

“Secara pengembangan keilmuan bisa lebih luas setelah menjadi Institut, sehingga dalam mengembangkan Tri Dharma Perguruan Tinggi bisa semakin mendalam,” kata Putu Ardiyasa, dosen teater tradisional, juga seorang dalang.

Pose kegembiraan mahasiswa IAHN Mpu Kuturan Singaraja

IAHN Mpu Kuturan memiliki 13 program studi (prodi) dari empat fakultas. Yaitu, prodi Penerangan agama hindu, Ilmu komunikasi hindu, Pariwisata budaya dan keagamaan, dan Menejemen ekonomi dihimpun oleh fakultas Dharma Duta.

Kemudian yang dihimpun oleh fakultas Dharma Acarya, antara lain; Prodi Pendidikan guru sekolah dasar, Pendidikan guru pendidikan anak usia dini, Pendidikan Agama Hindu, Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali, dan Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu.

Terus ada Prodi Hukum Adat dan Hukum Hindu dari Fakultas Dharma Sastra. Kemudian Teologi Hindu dan Filsafat Hindu dalam Fakultas Brahma Widya.

Dari 13 program studi itu, setelah menjadi IAHN Mpu Kuturan tidak menutup kemungkinan bisa menambah program studi lain.

“Itu peluang lebihnya setelah kami menjadi institut, bisa menambah prodi dari fakultas yang masih memerlukan,” lanjut Ardiyasa.

Selain dosen, salah satu mahasiswa jurusan Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu I Komang Trisna Satria Pradnya, atau biasa disapa Pradnya itu, juga merasakan kesan positif atas transformasi ini.

Ia merasa gembira, sebab setelah tamat atau diwisuda nanti, kemungkinan untuk dipandang oleh lembaga kerja saat melamar pekerjaan, bisa sangat membuka kemungkinan baik untuk diterima.

“Saya lebih bergairah setelah banyak fasilitas kegiatan belajar mengajar yang baru. Di Jalan Kresna, misalnya, IHN Mpu Kuturan di sana sudah ada gedung yang direnovasi dengan kenyamanan kelas yang nyaman,” kata Pradnya, mahaiswa semester 5, prodi Pendidikan Seni Budaya dan Keagamaan Hindu.

Prof. Suwindia, Prof. Nasaruddin, dan Prof. Duija

Usai Prasasti IAHN Mpu Kuturan, Gedung Pelayanan Akademik, dan Gedung Pasca Sarjana itu ditanda tangani oleh Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija, dan Rektor IAHN Mpu Kuturan Singaraja I Gede Suwindia. Pradnya pulang ke Desa Menyali dengan membawa harapan bisa lebih baik lagi kampusnya setelah transformasi itu. Semoga.

Sementara Ketut Sintia Devi—sebagai Ketua BEM lembaga IAHN Mpu Kuturan, akan berfokus pada perbaikan organisasinya untuk segera memiliki kabinet-kabinet dengan semangat lebih baru.

Apalagi dirinya sebagai ketua perempuan pertama dalam sejarah transformasi kampusnya, yang bisa menjadi satu dongkrakan secara nyata jika perempuan mampu berkecimpung dalam ranah politik di kampus melalui Organisasi Mahasiswa.

Hidup perempuan. Merdeka. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Resmikan Transformasi Institut Mpu Kuturan, Menag Nasaruddin: “Kampus Seindah ini Kenapa Tidak Menjadi Universitas?”
Tags: IAHN Mpu Kuturankampus hinduPendidikanSTAHN Mpu Kuturan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

IKN Ibu Kota Politik Simbolisme Besar Substansi Rapuh

Next Post

Petenis Meja Sisca Pratiwi, Dari Lomba ke Lomba, Dari Medali ke Medali

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Petenis Meja Sisca Pratiwi, Dari Lomba ke Lomba, Dari Medali ke Medali

Petenis Meja Sisca Pratiwi, Dari Lomba ke Lomba, Dari Medali ke Medali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co