12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kemungkinan-Kemungkinan Baik Setelah STAHN Mpu Kuturan Singaraja Berubah Jadi Institut

Son Lomri by Son Lomri
September 22, 2025
in Khas
Kemungkinan-Kemungkinan Baik Setelah STAHN Mpu Kuturan Singaraja Berubah Jadi Institut

Mahasiswa IAHN Mpu Kuturan

SEBAGAI Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan, Ketut Sintia Devi ketiban hari baik, juga hari sibuk dan perpanjangan jabatan.

“Harusnya saya tahun ini lengser, tapi karena ada transformasi lembaga, saya jadi dilantik kembali menjadi ketua BEM, dan tahun depan baru selesai,” kata Sintia.

Transformasi lembaga yang dimaksud Sintia adalah perubahan status Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) menjadi Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan. Saat berstatus sekolah tinggi, Sintia menjadi ketua BEM. Dan setelah naik status menjajdi institut, Sintia harus meneruskan tugasnya jadi ketua BEM. Kini ia Ketua BEM IAHN Mpu Kuturan, padahal seharusnya ia sudah menyelesaikan masa jabatannya.

Untuk itulah Sintia Devi bisa dianggap menjadi saksi penting atas transformasi kampusnya itu, yang sekaligus juga membuatnya harus berbenah secara tata kelola organisasi dan tata kerja.

“Ini pengalaman berarti bagi saya, karena menjadi saksi sejarah transformasi kampus sendiri, apalagi saya sebagai perempuan,” kata Sintia.

Ketut Sintia Devi

Secara keorganisasian, IAHN Mpu Kuturan mengalami transformasi yang besar untuk Organisasi Kemahasiswaan. Berubahnya status dari sekolah tinggi ke institut, membuat organisasi dan tata kerjanya harus menyesuaikan dengan Keputusan Presiden (Kepres) tentang transformasi itu.

Apalagi IAHN Mpu Kuturan memiliki empat fakultas sekarang, yang sebelumnya hanya ada istilah jurusan untuk menaungi program studi mereka. Setelah transformasi itu, ada beberapa perubahan dalam aturan organisasi terutama di bagian struktural.

Misalnya, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), kini berubah namanya menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas—yang akan diawasi secara langsung oleh Dewan Pengawas Mahasiswa (DPM), yang sebelumnya juga tidak ada. Sekarang sudah diadakan.

Kemudian, HMJ akan dihilangkan, diganti dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HIMA Prodi).  Hal itu juga membuat Badan Eksekutif Mahasiswa di lembaga, mesti merombak isitilah Bidang-bidang, menjadi Kabinet—dengan jangkauan hubungan kerja yang lebih luas setelah diberlakukannya BEM Fakultas.

“Dan itulah yang membuat masa jabatan mesti diperpanjang. Karena sekarang setelah transformasi itu jauh lebih kompleks lagi,” tambah I Gusti Ajeng Bintang Lestarizky, Ketua Umum DPM IAHN Mpu Kuturan.

Di acara launching Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan di Lapangan Terbuka, di Kampus IAHN Mpu Kuturan, Singaraja, Sabtu, 20 September 2025. Sintia agaknya masih sibuk mempersiapkan ini dan itu sebagai ketua BEM, bahkan sedari bulan Agustus.

Di acara itu ia mengerahkan ratusan mahasiswa dalam menyambut baik Menteri Agama RI Nasaruddin Umar yang akan meresmikan status baru kampusnya.

Ratusan mahasiswa berderet panjang, tumpah, menyambut hangat sang menteri datang di pagar-pintu masuk menuju panggung utama. Yel-yel dan suara tetabuhan menjadi satu, juga tarian-tarian penyambutan yang artistik. Pak Menteri pun melambaikan tangan dan sesekali berjalan sambil melempar seyum—membalas sambutan ramah mereka.

Ketika di atas panggung utama, Rektor IAHN Mpu Kuturan Singaraja I Gede Suwindia, menanggapi itu adalah sebuah keramahan yang penting untuk menyambut kedatangan menteri yang ditunggunya sejak lama untuk tinjauan secara langsung.

Ia juga mengatakan sudah menjadi tugas utama Institut Pendidikan hari Ini untuk melahirkan generasi-generasi emas yang cerdas secara akal, namun tidak lemah dalam konteks etik moral di masyarakat.

Rektor IAHN Mpu Kuturan Singaraja I Gede Suwindia dan Menteri Agama RI Nasaruddin Umar di IAHN Mpu Kuturan

“Di hari suci ini [Tumpek Landep] adalah satu pertanda peneguh, Bapak Menteri. Penguat kami bahwa kampus Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan, yang sudah membawa nama orang suci, tokoh suci Ida Betara Lelangit Mpu Kuturan. Itu merupakan sejarah historis yang tidak bisa kami lupakan,” kata Gede Suwindia.

Sampai di situ, Gede Suwindia juga menjelaskan keramahan yang dilemparkan oleh mahasiswanya dalam penyambutan, ada kaitannya dengan ajaran Hindu, yaitu catur guru—yang sudah diajarkan di kampusnya.

Agama Hindu memiliki konsep empat orang guru yang harus dihormati, atau yang disebut pula sebagai catur guru. Di antaranya, Tuhan Maha Pencipta (Guru Swadhyaya), Orang tua (Guru Rupaka), Guru yang mendidik (guru pengajian), dan Pemerintah atau pemimpin (Guru Wisesa).

“Bapak Menteri semakin meneguhkan, memberikan restu sebagai orang tua, sebagai Guru Wisesa kami, pemerintah kami, sehingga menjadikan semua ini [kampus] semakin lengkap,” lanjutnya.

IAHN Mpu Kuturan Untuk Peradaban

Sebagai kampus yang berkomitmen untuk unggul, bermartabat, dan berkarakter. IAHN Mpu Kuturan juga tebarkan Moto berartinya, yaitu Cahaya Ilmu Menerangi Peradaban. Hal itu telah dirumuskan bersama civitas kampus.

Apa yang disebut cahaya ilmu, bagi Gede Suwindia hanya ilmu yang benar-benar bercahaya. Yang mampu menunjukkan arah masa depan dalam menerangi peradaban dunia.

“Bahwa ilmu pengetahuan saja tidak cukup, tapi harus ada nilai-nilai spiritual, nilai-nilai etika di mana kami usung dengan tema Green Art Smart and Spiritual Campus, atau kami sebut Gas Gas Gas,” jelas Gede Suwindia.

Menanggapi keramahan dan kebaikan yang berarti itu, sebelum Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mendatangani Prasasti IMK, Gedung Pelayanan Akademik, dan Gedung Pasca Sarjana sebagai tanda transformasi.

Ketika sambutan, ia mengatakan—lebih jauh tentang kampus yang didatanginya itu, sebenarnya tidak cocok menjadi Institut, cocoknya jadi Universitas.

“Kalau bisa, kedatangan kami nanti berikutnya, kami resmikan menjadi universitas,” kata Nasaruddin Umar, Menteri Agama RI—mengusahakan IAHN Mpu Kuturan menjadi universitas.

Mahasiswa IAHN Mpu Kuturan

Karena ia sangat yakin bahwa Agama Hindu itu ajarannya sangat universal. Sehingga universitas Ajaran agama Hindu itu tidak bisa diwadahi oleh Sekolah Tinggi atau Institut, tapi harus diwadahi oleh universitas.

“Mpu Kuturan bukan orang sembarangan [menjelaskan sekilas sosok Mpu Kuturan]. Dia orang yang istilahnya itu mewakafkan sepanjang hidupnya untuk keluhuran anak manusia,” jelasnya.

Sebab itu perguruan tinggi ini paling tidak juga akan mewarisi suasana kebatinan, suasana psikologis Mpu Kuturan. Sehingga apa yang disampaikan tadi oleh Gede Suwindia secara filosofis, sangat betul ilmu adalah cahaya. Dan kampus ini sangat penting untuk peradaban.

“Karena itu, ya, IAHN ini bukan perguruan tinggi sembarangan. Kalau perguruan tinggi di sana [luar negeri] yang orang lain menyebutnya sekuler mungkin, ya, tentu tidak bisa disamakan dengan IAHN. Saya yakin betul bahwa sumber pembelajaran di dalam perguruan tinggi sekuler itu hanya satu, yaitu melalui deduksi-deduksi akal,” kata Nasaruddin Umar.

Tetapi perguruan tinggi agama seperti IAHN Mpu Kuturan ini sumber pengetahuannya itu bukan hanya logika tapi juga ada sumber-sumber lain yang spiritualis.

“Wangsit itu tidak ada di dalam metodologi modern barat. Dari mana kamu dapat sumber ini? Wah, tadi malam saya dapat wangsit di hasil persemedian saya,” kata Nasaruddin Umar tentang wangsit tidak ada dalam pengetahuan modern.

Tapi ini kita tidak bisa mengingkari bahwa ada konsep divine knowledge (pengetahuan ilahi). Konsep wangsit, pengetahuan yang acquired dari Tuhan. Ada bisikan-bisikan kalbu, bisikan nurani. Itu sangat penting. Dan terbukti sekarang ini kita bisa lihat dalam bukunya The Sacred Nature karya Karsen Armstrong yang sangat terkenal di Amerika sebagai penulis produktif itu.

Mereka mengajak kepada para ilmuwan barat Amerika, terutama—supaya kembali memperhatikan sumber-sumber keilmuan yang lain. Jangan latah dan jangan sombong, hanya menjadikan akal-akal dan akal sebagai sumber pembelajaran, padahal lebih dari itu.

“Ada the power of external knowledge juga, ada power di luar diri kita sendiri yang juga merupakan sumber kebenaran, sumber pencerahan,” jelas Nasaruddin Umar sekilas tentang buku itu.

Dan ia juga sangat yakin bahwa di dalam Agama Hindu itu punya banyak persamaan dengan Agama Islam. Sumber pembelajaran dalam Islam bukan hanya guru, bukan hanya dosen, tapi juga dikenal apa yang disebut dengan impersonal lecture.

Sehingga, menurut Menteri Agama RI Nasaruddin Umar itu, para mahasiswa yang berkuliah di IAHN Mpu Kuturan, sangatlah beruntung. Karena di situ tidak hanya akan dilahirkan seorang ilmuwan, tetapi juga seorang cendikia.

“Menjadi ilmuwan itu gampang. Tetapi menjadi intelektual itu lebih sulit. Dan di atas intelektual itu masih ada apa yang kita istilahkan dengan cendekia,” lanjut Nasaruddin Umar.

Kedatangan Menag Nasaruddin di kampus IAHN Mpu Kuturan

Ia menjelaskan tentang intelektual, bahwa semua intelektual itu murid. Tapi tidak semua murid itu adalah intelektual. Dan cendekiawan itu the high level. Karena cendekiawan itu intelektual. Tapi tidak semua intelektual itu cendekiawan.

“Apa bedanya? Kalau ilmuwan ada di mana-mana Bapak Ibu sekalian. Apa bedanya ilmuwan, intelektual dan cendekiawan? Kalau ilmuwan scientist bahasa Inggrisnya. Menguasai satu disiplin ilmu tertentu. Tetapi belum tentu dia mengamalkan ilmunya. Sebagai knowledge dia paham betul, tapi dia tidak mengamalkan apa yang dia ketahuinya,” kata Nasaruddin Umar.

Di dalam agama Hindu disebut hipokrit. Orang yang tahu tapi tidak mengamalkan itu munafik. Nah, Kita tidak akan melahirkan orang-orang munafik di IAHN ini. Bukan hanya tahu tetapi tidak mengamalkan. Orang yang tahu tapi tidak konsisten untuk mengamalkannya itu hanya ilmuwan.

Tapi kalau sudah mulai mengamalkan ilmunya apa yang dia ketahuinya, itulah dia menjadi seorang intelektual. Dan seorang intelektual itu hanya mengamalkan apa yang dia ketahui dan mengetahui apa yang diamalkan, tapi belum tentu orang lain merasakannya.

Resonansinya ke dalam masyarakat itu belum mungkin terasakan. Tapi kalau dia pintar, dia mengamalkan pengetahuannya dan juga berdampak terhadap masyarakat sekitarnya, maka itulah yang disebut dengan cendekia.

“Karena itu yang kita akan lahirkan di IAHN ini adalah bukan ilmuwan saja bukan intelektual saja, tapi juga kecendekiawanan. Jadi, para mahasiswa IAHN ini berbahagia, berbanggalah tidak salah memilih kampus IAHN ini,” tancap gas Pak Menteri.

Karena akan diajar bukan saja oleh pengajar, atau oleh dosen. Tapi juga akan diajar oleh pendidik, bahkan guru. Ada tiga level dalam tingkatan guru; pemberi, pencerahan, pengajar. Level yang paling dangkal adalah pengajar.

“Apa itu pengajar? Melakukan transformasi ilmu kepada mahasiswanya. Lulus dalam ujian. Oh, ujiannya hukum laut. Tapi mereka tidak peduli. boleh minta enggak? Apakah orang itu berakhlak atau tidak? Apakah mengamalkan ilmunya itu atau tidak? Itu enggak ada urusan. Itu adalah pengajar. Tapi yang lebih tinggi dari sekadar pengajar ialah pendidik,” jelas Pak Menteri.

Pendidik itu dia ingin menyaksikan anak muridnya, mahasiswanya mengamalkan apa yang dia ketahui. Kalau pengajar tidak ada urusan. Jangan-jangan dianya juga tidak mengamalkan apa yang dia ketahui. Maka itu yang dibutuhkan IAHN Mpu Kuturan ini bukan saja pengajar, tapi juga seorang pendidik.

“Tanggung jawabnya tidak hanya sampai mentransformasikan kurikulumnya apa tahun ini, semester ini. Tetapi secara moral, spiritual, seorang pendidik harus melihat muridnya mengamalkan apa yang dia ketahui,” lanjutnya.

Yang mesti memiliki perasaan kuat, bagaimana seorang pendidik harus kecewa melihat anak muridnya lain yang dia pelajari, dan lain yang diamalkan.

Peluang Baik Setelah Menjadi Institut

Sebagai perguruan tinggi, IAHN Mpu Kuturan sudah menjadi institut yang lengkap selain cakep. Ia sudah ada gedung baru, yaitu Gedung Pasca Sarjana, dan Gedung Layanan Akademik, dan beberapa gedung renovasi dengan tampilan yang bagus.

Dan secara kegiatan belajar mengajar pun, sudah sangat baik dalam pelayanannya. Seperti kata salah satu dosen IAHN Mpu Kuturan Putu Ardiyasa, kampus tempatnya mengajar mendapatkan fasilitas pendanaan lebih besar dari sebelumnya, terutama untuk kegiatan belajar mengajar.

“Secara pengembangan keilmuan bisa lebih luas setelah menjadi Institut, sehingga dalam mengembangkan Tri Dharma Perguruan Tinggi bisa semakin mendalam,” kata Putu Ardiyasa, dosen teater tradisional, juga seorang dalang.

Pose kegembiraan mahasiswa IAHN Mpu Kuturan Singaraja

IAHN Mpu Kuturan memiliki 13 program studi (prodi) dari empat fakultas. Yaitu, prodi Penerangan agama hindu, Ilmu komunikasi hindu, Pariwisata budaya dan keagamaan, dan Menejemen ekonomi dihimpun oleh fakultas Dharma Duta.

Kemudian yang dihimpun oleh fakultas Dharma Acarya, antara lain; Prodi Pendidikan guru sekolah dasar, Pendidikan guru pendidikan anak usia dini, Pendidikan Agama Hindu, Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali, dan Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu.

Terus ada Prodi Hukum Adat dan Hukum Hindu dari Fakultas Dharma Sastra. Kemudian Teologi Hindu dan Filsafat Hindu dalam Fakultas Brahma Widya.

Dari 13 program studi itu, setelah menjadi IAHN Mpu Kuturan tidak menutup kemungkinan bisa menambah program studi lain.

“Itu peluang lebihnya setelah kami menjadi institut, bisa menambah prodi dari fakultas yang masih memerlukan,” lanjut Ardiyasa.

Selain dosen, salah satu mahasiswa jurusan Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu I Komang Trisna Satria Pradnya, atau biasa disapa Pradnya itu, juga merasakan kesan positif atas transformasi ini.

Ia merasa gembira, sebab setelah tamat atau diwisuda nanti, kemungkinan untuk dipandang oleh lembaga kerja saat melamar pekerjaan, bisa sangat membuka kemungkinan baik untuk diterima.

“Saya lebih bergairah setelah banyak fasilitas kegiatan belajar mengajar yang baru. Di Jalan Kresna, misalnya, IHN Mpu Kuturan di sana sudah ada gedung yang direnovasi dengan kenyamanan kelas yang nyaman,” kata Pradnya, mahaiswa semester 5, prodi Pendidikan Seni Budaya dan Keagamaan Hindu.

Prof. Suwindia, Prof. Nasaruddin, dan Prof. Duija

Usai Prasasti IAHN Mpu Kuturan, Gedung Pelayanan Akademik, dan Gedung Pasca Sarjana itu ditanda tangani oleh Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija, dan Rektor IAHN Mpu Kuturan Singaraja I Gede Suwindia. Pradnya pulang ke Desa Menyali dengan membawa harapan bisa lebih baik lagi kampusnya setelah transformasi itu. Semoga.

Sementara Ketut Sintia Devi—sebagai Ketua BEM lembaga IAHN Mpu Kuturan, akan berfokus pada perbaikan organisasinya untuk segera memiliki kabinet-kabinet dengan semangat lebih baru.

Apalagi dirinya sebagai ketua perempuan pertama dalam sejarah transformasi kampusnya, yang bisa menjadi satu dongkrakan secara nyata jika perempuan mampu berkecimpung dalam ranah politik di kampus melalui Organisasi Mahasiswa.

Hidup perempuan. Merdeka. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Resmikan Transformasi Institut Mpu Kuturan, Menag Nasaruddin: “Kampus Seindah ini Kenapa Tidak Menjadi Universitas?”
Tags: IAHN Mpu Kuturankampus hinduPendidikanSTAHN Mpu Kuturan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

IKN Ibu Kota Politik Simbolisme Besar Substansi Rapuh

Next Post

Petenis Meja Sisca Pratiwi, Dari Lomba ke Lomba, Dari Medali ke Medali

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Petenis Meja Sisca Pratiwi, Dari Lomba ke Lomba, Dari Medali ke Medali

Petenis Meja Sisca Pratiwi, Dari Lomba ke Lomba, Dari Medali ke Medali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co