13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kemungkinan-Kemungkinan Baik Setelah STAHN Mpu Kuturan Singaraja Berubah Jadi Institut

Son Lomri by Son Lomri
September 22, 2025
in Khas
Kemungkinan-Kemungkinan Baik Setelah STAHN Mpu Kuturan Singaraja Berubah Jadi Institut

Mahasiswa IAHN Mpu Kuturan

SEBAGAI Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan, Ketut Sintia Devi ketiban hari baik, juga hari sibuk dan perpanjangan jabatan.

“Harusnya saya tahun ini lengser, tapi karena ada transformasi lembaga, saya jadi dilantik kembali menjadi ketua BEM, dan tahun depan baru selesai,” kata Sintia.

Transformasi lembaga yang dimaksud Sintia adalah perubahan status Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) menjadi Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan. Saat berstatus sekolah tinggi, Sintia menjadi ketua BEM. Dan setelah naik status menjajdi institut, Sintia harus meneruskan tugasnya jadi ketua BEM. Kini ia Ketua BEM IAHN Mpu Kuturan, padahal seharusnya ia sudah menyelesaikan masa jabatannya.

Untuk itulah Sintia Devi bisa dianggap menjadi saksi penting atas transformasi kampusnya itu, yang sekaligus juga membuatnya harus berbenah secara tata kelola organisasi dan tata kerja.

“Ini pengalaman berarti bagi saya, karena menjadi saksi sejarah transformasi kampus sendiri, apalagi saya sebagai perempuan,” kata Sintia.

Ketut Sintia Devi

Secara keorganisasian, IAHN Mpu Kuturan mengalami transformasi yang besar untuk Organisasi Kemahasiswaan. Berubahnya status dari sekolah tinggi ke institut, membuat organisasi dan tata kerjanya harus menyesuaikan dengan Keputusan Presiden (Kepres) tentang transformasi itu.

Apalagi IAHN Mpu Kuturan memiliki empat fakultas sekarang, yang sebelumnya hanya ada istilah jurusan untuk menaungi program studi mereka. Setelah transformasi itu, ada beberapa perubahan dalam aturan organisasi terutama di bagian struktural.

Misalnya, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), kini berubah namanya menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas—yang akan diawasi secara langsung oleh Dewan Pengawas Mahasiswa (DPM), yang sebelumnya juga tidak ada. Sekarang sudah diadakan.

Kemudian, HMJ akan dihilangkan, diganti dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HIMA Prodi).  Hal itu juga membuat Badan Eksekutif Mahasiswa di lembaga, mesti merombak isitilah Bidang-bidang, menjadi Kabinet—dengan jangkauan hubungan kerja yang lebih luas setelah diberlakukannya BEM Fakultas.

“Dan itulah yang membuat masa jabatan mesti diperpanjang. Karena sekarang setelah transformasi itu jauh lebih kompleks lagi,” tambah I Gusti Ajeng Bintang Lestarizky, Ketua Umum DPM IAHN Mpu Kuturan.

Di acara launching Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan di Lapangan Terbuka, di Kampus IAHN Mpu Kuturan, Singaraja, Sabtu, 20 September 2025. Sintia agaknya masih sibuk mempersiapkan ini dan itu sebagai ketua BEM, bahkan sedari bulan Agustus.

Di acara itu ia mengerahkan ratusan mahasiswa dalam menyambut baik Menteri Agama RI Nasaruddin Umar yang akan meresmikan status baru kampusnya.

Ratusan mahasiswa berderet panjang, tumpah, menyambut hangat sang menteri datang di pagar-pintu masuk menuju panggung utama. Yel-yel dan suara tetabuhan menjadi satu, juga tarian-tarian penyambutan yang artistik. Pak Menteri pun melambaikan tangan dan sesekali berjalan sambil melempar seyum—membalas sambutan ramah mereka.

Ketika di atas panggung utama, Rektor IAHN Mpu Kuturan Singaraja I Gede Suwindia, menanggapi itu adalah sebuah keramahan yang penting untuk menyambut kedatangan menteri yang ditunggunya sejak lama untuk tinjauan secara langsung.

Ia juga mengatakan sudah menjadi tugas utama Institut Pendidikan hari Ini untuk melahirkan generasi-generasi emas yang cerdas secara akal, namun tidak lemah dalam konteks etik moral di masyarakat.

Rektor IAHN Mpu Kuturan Singaraja I Gede Suwindia dan Menteri Agama RI Nasaruddin Umar di IAHN Mpu Kuturan

“Di hari suci ini [Tumpek Landep] adalah satu pertanda peneguh, Bapak Menteri. Penguat kami bahwa kampus Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan, yang sudah membawa nama orang suci, tokoh suci Ida Betara Lelangit Mpu Kuturan. Itu merupakan sejarah historis yang tidak bisa kami lupakan,” kata Gede Suwindia.

Sampai di situ, Gede Suwindia juga menjelaskan keramahan yang dilemparkan oleh mahasiswanya dalam penyambutan, ada kaitannya dengan ajaran Hindu, yaitu catur guru—yang sudah diajarkan di kampusnya.

Agama Hindu memiliki konsep empat orang guru yang harus dihormati, atau yang disebut pula sebagai catur guru. Di antaranya, Tuhan Maha Pencipta (Guru Swadhyaya), Orang tua (Guru Rupaka), Guru yang mendidik (guru pengajian), dan Pemerintah atau pemimpin (Guru Wisesa).

“Bapak Menteri semakin meneguhkan, memberikan restu sebagai orang tua, sebagai Guru Wisesa kami, pemerintah kami, sehingga menjadikan semua ini [kampus] semakin lengkap,” lanjutnya.

IAHN Mpu Kuturan Untuk Peradaban

Sebagai kampus yang berkomitmen untuk unggul, bermartabat, dan berkarakter. IAHN Mpu Kuturan juga tebarkan Moto berartinya, yaitu Cahaya Ilmu Menerangi Peradaban. Hal itu telah dirumuskan bersama civitas kampus.

Apa yang disebut cahaya ilmu, bagi Gede Suwindia hanya ilmu yang benar-benar bercahaya. Yang mampu menunjukkan arah masa depan dalam menerangi peradaban dunia.

“Bahwa ilmu pengetahuan saja tidak cukup, tapi harus ada nilai-nilai spiritual, nilai-nilai etika di mana kami usung dengan tema Green Art Smart and Spiritual Campus, atau kami sebut Gas Gas Gas,” jelas Gede Suwindia.

Menanggapi keramahan dan kebaikan yang berarti itu, sebelum Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mendatangani Prasasti IMK, Gedung Pelayanan Akademik, dan Gedung Pasca Sarjana sebagai tanda transformasi.

Ketika sambutan, ia mengatakan—lebih jauh tentang kampus yang didatanginya itu, sebenarnya tidak cocok menjadi Institut, cocoknya jadi Universitas.

“Kalau bisa, kedatangan kami nanti berikutnya, kami resmikan menjadi universitas,” kata Nasaruddin Umar, Menteri Agama RI—mengusahakan IAHN Mpu Kuturan menjadi universitas.

Mahasiswa IAHN Mpu Kuturan

Karena ia sangat yakin bahwa Agama Hindu itu ajarannya sangat universal. Sehingga universitas Ajaran agama Hindu itu tidak bisa diwadahi oleh Sekolah Tinggi atau Institut, tapi harus diwadahi oleh universitas.

“Mpu Kuturan bukan orang sembarangan [menjelaskan sekilas sosok Mpu Kuturan]. Dia orang yang istilahnya itu mewakafkan sepanjang hidupnya untuk keluhuran anak manusia,” jelasnya.

Sebab itu perguruan tinggi ini paling tidak juga akan mewarisi suasana kebatinan, suasana psikologis Mpu Kuturan. Sehingga apa yang disampaikan tadi oleh Gede Suwindia secara filosofis, sangat betul ilmu adalah cahaya. Dan kampus ini sangat penting untuk peradaban.

“Karena itu, ya, IAHN ini bukan perguruan tinggi sembarangan. Kalau perguruan tinggi di sana [luar negeri] yang orang lain menyebutnya sekuler mungkin, ya, tentu tidak bisa disamakan dengan IAHN. Saya yakin betul bahwa sumber pembelajaran di dalam perguruan tinggi sekuler itu hanya satu, yaitu melalui deduksi-deduksi akal,” kata Nasaruddin Umar.

Tetapi perguruan tinggi agama seperti IAHN Mpu Kuturan ini sumber pengetahuannya itu bukan hanya logika tapi juga ada sumber-sumber lain yang spiritualis.

“Wangsit itu tidak ada di dalam metodologi modern barat. Dari mana kamu dapat sumber ini? Wah, tadi malam saya dapat wangsit di hasil persemedian saya,” kata Nasaruddin Umar tentang wangsit tidak ada dalam pengetahuan modern.

Tapi ini kita tidak bisa mengingkari bahwa ada konsep divine knowledge (pengetahuan ilahi). Konsep wangsit, pengetahuan yang acquired dari Tuhan. Ada bisikan-bisikan kalbu, bisikan nurani. Itu sangat penting. Dan terbukti sekarang ini kita bisa lihat dalam bukunya The Sacred Nature karya Karsen Armstrong yang sangat terkenal di Amerika sebagai penulis produktif itu.

Mereka mengajak kepada para ilmuwan barat Amerika, terutama—supaya kembali memperhatikan sumber-sumber keilmuan yang lain. Jangan latah dan jangan sombong, hanya menjadikan akal-akal dan akal sebagai sumber pembelajaran, padahal lebih dari itu.

“Ada the power of external knowledge juga, ada power di luar diri kita sendiri yang juga merupakan sumber kebenaran, sumber pencerahan,” jelas Nasaruddin Umar sekilas tentang buku itu.

Dan ia juga sangat yakin bahwa di dalam Agama Hindu itu punya banyak persamaan dengan Agama Islam. Sumber pembelajaran dalam Islam bukan hanya guru, bukan hanya dosen, tapi juga dikenal apa yang disebut dengan impersonal lecture.

Sehingga, menurut Menteri Agama RI Nasaruddin Umar itu, para mahasiswa yang berkuliah di IAHN Mpu Kuturan, sangatlah beruntung. Karena di situ tidak hanya akan dilahirkan seorang ilmuwan, tetapi juga seorang cendikia.

“Menjadi ilmuwan itu gampang. Tetapi menjadi intelektual itu lebih sulit. Dan di atas intelektual itu masih ada apa yang kita istilahkan dengan cendekia,” lanjut Nasaruddin Umar.

Kedatangan Menag Nasaruddin di kampus IAHN Mpu Kuturan

Ia menjelaskan tentang intelektual, bahwa semua intelektual itu murid. Tapi tidak semua murid itu adalah intelektual. Dan cendekiawan itu the high level. Karena cendekiawan itu intelektual. Tapi tidak semua intelektual itu cendekiawan.

“Apa bedanya? Kalau ilmuwan ada di mana-mana Bapak Ibu sekalian. Apa bedanya ilmuwan, intelektual dan cendekiawan? Kalau ilmuwan scientist bahasa Inggrisnya. Menguasai satu disiplin ilmu tertentu. Tetapi belum tentu dia mengamalkan ilmunya. Sebagai knowledge dia paham betul, tapi dia tidak mengamalkan apa yang dia ketahuinya,” kata Nasaruddin Umar.

Di dalam agama Hindu disebut hipokrit. Orang yang tahu tapi tidak mengamalkan itu munafik. Nah, Kita tidak akan melahirkan orang-orang munafik di IAHN ini. Bukan hanya tahu tetapi tidak mengamalkan. Orang yang tahu tapi tidak konsisten untuk mengamalkannya itu hanya ilmuwan.

Tapi kalau sudah mulai mengamalkan ilmunya apa yang dia ketahuinya, itulah dia menjadi seorang intelektual. Dan seorang intelektual itu hanya mengamalkan apa yang dia ketahui dan mengetahui apa yang diamalkan, tapi belum tentu orang lain merasakannya.

Resonansinya ke dalam masyarakat itu belum mungkin terasakan. Tapi kalau dia pintar, dia mengamalkan pengetahuannya dan juga berdampak terhadap masyarakat sekitarnya, maka itulah yang disebut dengan cendekia.

“Karena itu yang kita akan lahirkan di IAHN ini adalah bukan ilmuwan saja bukan intelektual saja, tapi juga kecendekiawanan. Jadi, para mahasiswa IAHN ini berbahagia, berbanggalah tidak salah memilih kampus IAHN ini,” tancap gas Pak Menteri.

Karena akan diajar bukan saja oleh pengajar, atau oleh dosen. Tapi juga akan diajar oleh pendidik, bahkan guru. Ada tiga level dalam tingkatan guru; pemberi, pencerahan, pengajar. Level yang paling dangkal adalah pengajar.

“Apa itu pengajar? Melakukan transformasi ilmu kepada mahasiswanya. Lulus dalam ujian. Oh, ujiannya hukum laut. Tapi mereka tidak peduli. boleh minta enggak? Apakah orang itu berakhlak atau tidak? Apakah mengamalkan ilmunya itu atau tidak? Itu enggak ada urusan. Itu adalah pengajar. Tapi yang lebih tinggi dari sekadar pengajar ialah pendidik,” jelas Pak Menteri.

Pendidik itu dia ingin menyaksikan anak muridnya, mahasiswanya mengamalkan apa yang dia ketahui. Kalau pengajar tidak ada urusan. Jangan-jangan dianya juga tidak mengamalkan apa yang dia ketahui. Maka itu yang dibutuhkan IAHN Mpu Kuturan ini bukan saja pengajar, tapi juga seorang pendidik.

“Tanggung jawabnya tidak hanya sampai mentransformasikan kurikulumnya apa tahun ini, semester ini. Tetapi secara moral, spiritual, seorang pendidik harus melihat muridnya mengamalkan apa yang dia ketahui,” lanjutnya.

Yang mesti memiliki perasaan kuat, bagaimana seorang pendidik harus kecewa melihat anak muridnya lain yang dia pelajari, dan lain yang diamalkan.

Peluang Baik Setelah Menjadi Institut

Sebagai perguruan tinggi, IAHN Mpu Kuturan sudah menjadi institut yang lengkap selain cakep. Ia sudah ada gedung baru, yaitu Gedung Pasca Sarjana, dan Gedung Layanan Akademik, dan beberapa gedung renovasi dengan tampilan yang bagus.

Dan secara kegiatan belajar mengajar pun, sudah sangat baik dalam pelayanannya. Seperti kata salah satu dosen IAHN Mpu Kuturan Putu Ardiyasa, kampus tempatnya mengajar mendapatkan fasilitas pendanaan lebih besar dari sebelumnya, terutama untuk kegiatan belajar mengajar.

“Secara pengembangan keilmuan bisa lebih luas setelah menjadi Institut, sehingga dalam mengembangkan Tri Dharma Perguruan Tinggi bisa semakin mendalam,” kata Putu Ardiyasa, dosen teater tradisional, juga seorang dalang.

Pose kegembiraan mahasiswa IAHN Mpu Kuturan Singaraja

IAHN Mpu Kuturan memiliki 13 program studi (prodi) dari empat fakultas. Yaitu, prodi Penerangan agama hindu, Ilmu komunikasi hindu, Pariwisata budaya dan keagamaan, dan Menejemen ekonomi dihimpun oleh fakultas Dharma Duta.

Kemudian yang dihimpun oleh fakultas Dharma Acarya, antara lain; Prodi Pendidikan guru sekolah dasar, Pendidikan guru pendidikan anak usia dini, Pendidikan Agama Hindu, Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali, dan Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu.

Terus ada Prodi Hukum Adat dan Hukum Hindu dari Fakultas Dharma Sastra. Kemudian Teologi Hindu dan Filsafat Hindu dalam Fakultas Brahma Widya.

Dari 13 program studi itu, setelah menjadi IAHN Mpu Kuturan tidak menutup kemungkinan bisa menambah program studi lain.

“Itu peluang lebihnya setelah kami menjadi institut, bisa menambah prodi dari fakultas yang masih memerlukan,” lanjut Ardiyasa.

Selain dosen, salah satu mahasiswa jurusan Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu I Komang Trisna Satria Pradnya, atau biasa disapa Pradnya itu, juga merasakan kesan positif atas transformasi ini.

Ia merasa gembira, sebab setelah tamat atau diwisuda nanti, kemungkinan untuk dipandang oleh lembaga kerja saat melamar pekerjaan, bisa sangat membuka kemungkinan baik untuk diterima.

“Saya lebih bergairah setelah banyak fasilitas kegiatan belajar mengajar yang baru. Di Jalan Kresna, misalnya, IHN Mpu Kuturan di sana sudah ada gedung yang direnovasi dengan kenyamanan kelas yang nyaman,” kata Pradnya, mahaiswa semester 5, prodi Pendidikan Seni Budaya dan Keagamaan Hindu.

Prof. Suwindia, Prof. Nasaruddin, dan Prof. Duija

Usai Prasasti IAHN Mpu Kuturan, Gedung Pelayanan Akademik, dan Gedung Pasca Sarjana itu ditanda tangani oleh Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija, dan Rektor IAHN Mpu Kuturan Singaraja I Gede Suwindia. Pradnya pulang ke Desa Menyali dengan membawa harapan bisa lebih baik lagi kampusnya setelah transformasi itu. Semoga.

Sementara Ketut Sintia Devi—sebagai Ketua BEM lembaga IAHN Mpu Kuturan, akan berfokus pada perbaikan organisasinya untuk segera memiliki kabinet-kabinet dengan semangat lebih baru.

Apalagi dirinya sebagai ketua perempuan pertama dalam sejarah transformasi kampusnya, yang bisa menjadi satu dongkrakan secara nyata jika perempuan mampu berkecimpung dalam ranah politik di kampus melalui Organisasi Mahasiswa.

Hidup perempuan. Merdeka. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Resmikan Transformasi Institut Mpu Kuturan, Menag Nasaruddin: “Kampus Seindah ini Kenapa Tidak Menjadi Universitas?”
Tags: IAHN Mpu Kuturankampus hinduPendidikanSTAHN Mpu Kuturan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

IKN Ibu Kota Politik Simbolisme Besar Substansi Rapuh

Next Post

Petenis Meja Sisca Pratiwi, Dari Lomba ke Lomba, Dari Medali ke Medali

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Petenis Meja Sisca Pratiwi, Dari Lomba ke Lomba, Dari Medali ke Medali

Petenis Meja Sisca Pratiwi, Dari Lomba ke Lomba, Dari Medali ke Medali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co