14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kemungkinan-Kemungkinan Baik Setelah STAHN Mpu Kuturan Singaraja Berubah Jadi Institut

Son Lomri by Son Lomri
September 22, 2025
in Khas
Kemungkinan-Kemungkinan Baik Setelah STAHN Mpu Kuturan Singaraja Berubah Jadi Institut

Mahasiswa IAHN Mpu Kuturan

SEBAGAI Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan, Ketut Sintia Devi ketiban hari baik, juga hari sibuk dan perpanjangan jabatan.

“Harusnya saya tahun ini lengser, tapi karena ada transformasi lembaga, saya jadi dilantik kembali menjadi ketua BEM, dan tahun depan baru selesai,” kata Sintia.

Transformasi lembaga yang dimaksud Sintia adalah perubahan status Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) menjadi Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan. Saat berstatus sekolah tinggi, Sintia menjadi ketua BEM. Dan setelah naik status menjajdi institut, Sintia harus meneruskan tugasnya jadi ketua BEM. Kini ia Ketua BEM IAHN Mpu Kuturan, padahal seharusnya ia sudah menyelesaikan masa jabatannya.

Untuk itulah Sintia Devi bisa dianggap menjadi saksi penting atas transformasi kampusnya itu, yang sekaligus juga membuatnya harus berbenah secara tata kelola organisasi dan tata kerja.

“Ini pengalaman berarti bagi saya, karena menjadi saksi sejarah transformasi kampus sendiri, apalagi saya sebagai perempuan,” kata Sintia.

Ketut Sintia Devi

Secara keorganisasian, IAHN Mpu Kuturan mengalami transformasi yang besar untuk Organisasi Kemahasiswaan. Berubahnya status dari sekolah tinggi ke institut, membuat organisasi dan tata kerjanya harus menyesuaikan dengan Keputusan Presiden (Kepres) tentang transformasi itu.

Apalagi IAHN Mpu Kuturan memiliki empat fakultas sekarang, yang sebelumnya hanya ada istilah jurusan untuk menaungi program studi mereka. Setelah transformasi itu, ada beberapa perubahan dalam aturan organisasi terutama di bagian struktural.

Misalnya, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), kini berubah namanya menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas—yang akan diawasi secara langsung oleh Dewan Pengawas Mahasiswa (DPM), yang sebelumnya juga tidak ada. Sekarang sudah diadakan.

Kemudian, HMJ akan dihilangkan, diganti dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HIMA Prodi).  Hal itu juga membuat Badan Eksekutif Mahasiswa di lembaga, mesti merombak isitilah Bidang-bidang, menjadi Kabinet—dengan jangkauan hubungan kerja yang lebih luas setelah diberlakukannya BEM Fakultas.

“Dan itulah yang membuat masa jabatan mesti diperpanjang. Karena sekarang setelah transformasi itu jauh lebih kompleks lagi,” tambah I Gusti Ajeng Bintang Lestarizky, Ketua Umum DPM IAHN Mpu Kuturan.

Di acara launching Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan di Lapangan Terbuka, di Kampus IAHN Mpu Kuturan, Singaraja, Sabtu, 20 September 2025. Sintia agaknya masih sibuk mempersiapkan ini dan itu sebagai ketua BEM, bahkan sedari bulan Agustus.

Di acara itu ia mengerahkan ratusan mahasiswa dalam menyambut baik Menteri Agama RI Nasaruddin Umar yang akan meresmikan status baru kampusnya.

Ratusan mahasiswa berderet panjang, tumpah, menyambut hangat sang menteri datang di pagar-pintu masuk menuju panggung utama. Yel-yel dan suara tetabuhan menjadi satu, juga tarian-tarian penyambutan yang artistik. Pak Menteri pun melambaikan tangan dan sesekali berjalan sambil melempar seyum—membalas sambutan ramah mereka.

Ketika di atas panggung utama, Rektor IAHN Mpu Kuturan Singaraja I Gede Suwindia, menanggapi itu adalah sebuah keramahan yang penting untuk menyambut kedatangan menteri yang ditunggunya sejak lama untuk tinjauan secara langsung.

Ia juga mengatakan sudah menjadi tugas utama Institut Pendidikan hari Ini untuk melahirkan generasi-generasi emas yang cerdas secara akal, namun tidak lemah dalam konteks etik moral di masyarakat.

Rektor IAHN Mpu Kuturan Singaraja I Gede Suwindia dan Menteri Agama RI Nasaruddin Umar di IAHN Mpu Kuturan

“Di hari suci ini [Tumpek Landep] adalah satu pertanda peneguh, Bapak Menteri. Penguat kami bahwa kampus Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan, yang sudah membawa nama orang suci, tokoh suci Ida Betara Lelangit Mpu Kuturan. Itu merupakan sejarah historis yang tidak bisa kami lupakan,” kata Gede Suwindia.

Sampai di situ, Gede Suwindia juga menjelaskan keramahan yang dilemparkan oleh mahasiswanya dalam penyambutan, ada kaitannya dengan ajaran Hindu, yaitu catur guru—yang sudah diajarkan di kampusnya.

Agama Hindu memiliki konsep empat orang guru yang harus dihormati, atau yang disebut pula sebagai catur guru. Di antaranya, Tuhan Maha Pencipta (Guru Swadhyaya), Orang tua (Guru Rupaka), Guru yang mendidik (guru pengajian), dan Pemerintah atau pemimpin (Guru Wisesa).

“Bapak Menteri semakin meneguhkan, memberikan restu sebagai orang tua, sebagai Guru Wisesa kami, pemerintah kami, sehingga menjadikan semua ini [kampus] semakin lengkap,” lanjutnya.

IAHN Mpu Kuturan Untuk Peradaban

Sebagai kampus yang berkomitmen untuk unggul, bermartabat, dan berkarakter. IAHN Mpu Kuturan juga tebarkan Moto berartinya, yaitu Cahaya Ilmu Menerangi Peradaban. Hal itu telah dirumuskan bersama civitas kampus.

Apa yang disebut cahaya ilmu, bagi Gede Suwindia hanya ilmu yang benar-benar bercahaya. Yang mampu menunjukkan arah masa depan dalam menerangi peradaban dunia.

“Bahwa ilmu pengetahuan saja tidak cukup, tapi harus ada nilai-nilai spiritual, nilai-nilai etika di mana kami usung dengan tema Green Art Smart and Spiritual Campus, atau kami sebut Gas Gas Gas,” jelas Gede Suwindia.

Menanggapi keramahan dan kebaikan yang berarti itu, sebelum Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mendatangani Prasasti IMK, Gedung Pelayanan Akademik, dan Gedung Pasca Sarjana sebagai tanda transformasi.

Ketika sambutan, ia mengatakan—lebih jauh tentang kampus yang didatanginya itu, sebenarnya tidak cocok menjadi Institut, cocoknya jadi Universitas.

“Kalau bisa, kedatangan kami nanti berikutnya, kami resmikan menjadi universitas,” kata Nasaruddin Umar, Menteri Agama RI—mengusahakan IAHN Mpu Kuturan menjadi universitas.

Mahasiswa IAHN Mpu Kuturan

Karena ia sangat yakin bahwa Agama Hindu itu ajarannya sangat universal. Sehingga universitas Ajaran agama Hindu itu tidak bisa diwadahi oleh Sekolah Tinggi atau Institut, tapi harus diwadahi oleh universitas.

“Mpu Kuturan bukan orang sembarangan [menjelaskan sekilas sosok Mpu Kuturan]. Dia orang yang istilahnya itu mewakafkan sepanjang hidupnya untuk keluhuran anak manusia,” jelasnya.

Sebab itu perguruan tinggi ini paling tidak juga akan mewarisi suasana kebatinan, suasana psikologis Mpu Kuturan. Sehingga apa yang disampaikan tadi oleh Gede Suwindia secara filosofis, sangat betul ilmu adalah cahaya. Dan kampus ini sangat penting untuk peradaban.

“Karena itu, ya, IAHN ini bukan perguruan tinggi sembarangan. Kalau perguruan tinggi di sana [luar negeri] yang orang lain menyebutnya sekuler mungkin, ya, tentu tidak bisa disamakan dengan IAHN. Saya yakin betul bahwa sumber pembelajaran di dalam perguruan tinggi sekuler itu hanya satu, yaitu melalui deduksi-deduksi akal,” kata Nasaruddin Umar.

Tetapi perguruan tinggi agama seperti IAHN Mpu Kuturan ini sumber pengetahuannya itu bukan hanya logika tapi juga ada sumber-sumber lain yang spiritualis.

“Wangsit itu tidak ada di dalam metodologi modern barat. Dari mana kamu dapat sumber ini? Wah, tadi malam saya dapat wangsit di hasil persemedian saya,” kata Nasaruddin Umar tentang wangsit tidak ada dalam pengetahuan modern.

Tapi ini kita tidak bisa mengingkari bahwa ada konsep divine knowledge (pengetahuan ilahi). Konsep wangsit, pengetahuan yang acquired dari Tuhan. Ada bisikan-bisikan kalbu, bisikan nurani. Itu sangat penting. Dan terbukti sekarang ini kita bisa lihat dalam bukunya The Sacred Nature karya Karsen Armstrong yang sangat terkenal di Amerika sebagai penulis produktif itu.

Mereka mengajak kepada para ilmuwan barat Amerika, terutama—supaya kembali memperhatikan sumber-sumber keilmuan yang lain. Jangan latah dan jangan sombong, hanya menjadikan akal-akal dan akal sebagai sumber pembelajaran, padahal lebih dari itu.

“Ada the power of external knowledge juga, ada power di luar diri kita sendiri yang juga merupakan sumber kebenaran, sumber pencerahan,” jelas Nasaruddin Umar sekilas tentang buku itu.

Dan ia juga sangat yakin bahwa di dalam Agama Hindu itu punya banyak persamaan dengan Agama Islam. Sumber pembelajaran dalam Islam bukan hanya guru, bukan hanya dosen, tapi juga dikenal apa yang disebut dengan impersonal lecture.

Sehingga, menurut Menteri Agama RI Nasaruddin Umar itu, para mahasiswa yang berkuliah di IAHN Mpu Kuturan, sangatlah beruntung. Karena di situ tidak hanya akan dilahirkan seorang ilmuwan, tetapi juga seorang cendikia.

“Menjadi ilmuwan itu gampang. Tetapi menjadi intelektual itu lebih sulit. Dan di atas intelektual itu masih ada apa yang kita istilahkan dengan cendekia,” lanjut Nasaruddin Umar.

Kedatangan Menag Nasaruddin di kampus IAHN Mpu Kuturan

Ia menjelaskan tentang intelektual, bahwa semua intelektual itu murid. Tapi tidak semua murid itu adalah intelektual. Dan cendekiawan itu the high level. Karena cendekiawan itu intelektual. Tapi tidak semua intelektual itu cendekiawan.

“Apa bedanya? Kalau ilmuwan ada di mana-mana Bapak Ibu sekalian. Apa bedanya ilmuwan, intelektual dan cendekiawan? Kalau ilmuwan scientist bahasa Inggrisnya. Menguasai satu disiplin ilmu tertentu. Tetapi belum tentu dia mengamalkan ilmunya. Sebagai knowledge dia paham betul, tapi dia tidak mengamalkan apa yang dia ketahuinya,” kata Nasaruddin Umar.

Di dalam agama Hindu disebut hipokrit. Orang yang tahu tapi tidak mengamalkan itu munafik. Nah, Kita tidak akan melahirkan orang-orang munafik di IAHN ini. Bukan hanya tahu tetapi tidak mengamalkan. Orang yang tahu tapi tidak konsisten untuk mengamalkannya itu hanya ilmuwan.

Tapi kalau sudah mulai mengamalkan ilmunya apa yang dia ketahuinya, itulah dia menjadi seorang intelektual. Dan seorang intelektual itu hanya mengamalkan apa yang dia ketahui dan mengetahui apa yang diamalkan, tapi belum tentu orang lain merasakannya.

Resonansinya ke dalam masyarakat itu belum mungkin terasakan. Tapi kalau dia pintar, dia mengamalkan pengetahuannya dan juga berdampak terhadap masyarakat sekitarnya, maka itulah yang disebut dengan cendekia.

“Karena itu yang kita akan lahirkan di IAHN ini adalah bukan ilmuwan saja bukan intelektual saja, tapi juga kecendekiawanan. Jadi, para mahasiswa IAHN ini berbahagia, berbanggalah tidak salah memilih kampus IAHN ini,” tancap gas Pak Menteri.

Karena akan diajar bukan saja oleh pengajar, atau oleh dosen. Tapi juga akan diajar oleh pendidik, bahkan guru. Ada tiga level dalam tingkatan guru; pemberi, pencerahan, pengajar. Level yang paling dangkal adalah pengajar.

“Apa itu pengajar? Melakukan transformasi ilmu kepada mahasiswanya. Lulus dalam ujian. Oh, ujiannya hukum laut. Tapi mereka tidak peduli. boleh minta enggak? Apakah orang itu berakhlak atau tidak? Apakah mengamalkan ilmunya itu atau tidak? Itu enggak ada urusan. Itu adalah pengajar. Tapi yang lebih tinggi dari sekadar pengajar ialah pendidik,” jelas Pak Menteri.

Pendidik itu dia ingin menyaksikan anak muridnya, mahasiswanya mengamalkan apa yang dia ketahui. Kalau pengajar tidak ada urusan. Jangan-jangan dianya juga tidak mengamalkan apa yang dia ketahui. Maka itu yang dibutuhkan IAHN Mpu Kuturan ini bukan saja pengajar, tapi juga seorang pendidik.

“Tanggung jawabnya tidak hanya sampai mentransformasikan kurikulumnya apa tahun ini, semester ini. Tetapi secara moral, spiritual, seorang pendidik harus melihat muridnya mengamalkan apa yang dia ketahui,” lanjutnya.

Yang mesti memiliki perasaan kuat, bagaimana seorang pendidik harus kecewa melihat anak muridnya lain yang dia pelajari, dan lain yang diamalkan.

Peluang Baik Setelah Menjadi Institut

Sebagai perguruan tinggi, IAHN Mpu Kuturan sudah menjadi institut yang lengkap selain cakep. Ia sudah ada gedung baru, yaitu Gedung Pasca Sarjana, dan Gedung Layanan Akademik, dan beberapa gedung renovasi dengan tampilan yang bagus.

Dan secara kegiatan belajar mengajar pun, sudah sangat baik dalam pelayanannya. Seperti kata salah satu dosen IAHN Mpu Kuturan Putu Ardiyasa, kampus tempatnya mengajar mendapatkan fasilitas pendanaan lebih besar dari sebelumnya, terutama untuk kegiatan belajar mengajar.

“Secara pengembangan keilmuan bisa lebih luas setelah menjadi Institut, sehingga dalam mengembangkan Tri Dharma Perguruan Tinggi bisa semakin mendalam,” kata Putu Ardiyasa, dosen teater tradisional, juga seorang dalang.

Pose kegembiraan mahasiswa IAHN Mpu Kuturan Singaraja

IAHN Mpu Kuturan memiliki 13 program studi (prodi) dari empat fakultas. Yaitu, prodi Penerangan agama hindu, Ilmu komunikasi hindu, Pariwisata budaya dan keagamaan, dan Menejemen ekonomi dihimpun oleh fakultas Dharma Duta.

Kemudian yang dihimpun oleh fakultas Dharma Acarya, antara lain; Prodi Pendidikan guru sekolah dasar, Pendidikan guru pendidikan anak usia dini, Pendidikan Agama Hindu, Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali, dan Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu.

Terus ada Prodi Hukum Adat dan Hukum Hindu dari Fakultas Dharma Sastra. Kemudian Teologi Hindu dan Filsafat Hindu dalam Fakultas Brahma Widya.

Dari 13 program studi itu, setelah menjadi IAHN Mpu Kuturan tidak menutup kemungkinan bisa menambah program studi lain.

“Itu peluang lebihnya setelah kami menjadi institut, bisa menambah prodi dari fakultas yang masih memerlukan,” lanjut Ardiyasa.

Selain dosen, salah satu mahasiswa jurusan Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu I Komang Trisna Satria Pradnya, atau biasa disapa Pradnya itu, juga merasakan kesan positif atas transformasi ini.

Ia merasa gembira, sebab setelah tamat atau diwisuda nanti, kemungkinan untuk dipandang oleh lembaga kerja saat melamar pekerjaan, bisa sangat membuka kemungkinan baik untuk diterima.

“Saya lebih bergairah setelah banyak fasilitas kegiatan belajar mengajar yang baru. Di Jalan Kresna, misalnya, IHN Mpu Kuturan di sana sudah ada gedung yang direnovasi dengan kenyamanan kelas yang nyaman,” kata Pradnya, mahaiswa semester 5, prodi Pendidikan Seni Budaya dan Keagamaan Hindu.

Prof. Suwindia, Prof. Nasaruddin, dan Prof. Duija

Usai Prasasti IAHN Mpu Kuturan, Gedung Pelayanan Akademik, dan Gedung Pasca Sarjana itu ditanda tangani oleh Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija, dan Rektor IAHN Mpu Kuturan Singaraja I Gede Suwindia. Pradnya pulang ke Desa Menyali dengan membawa harapan bisa lebih baik lagi kampusnya setelah transformasi itu. Semoga.

Sementara Ketut Sintia Devi—sebagai Ketua BEM lembaga IAHN Mpu Kuturan, akan berfokus pada perbaikan organisasinya untuk segera memiliki kabinet-kabinet dengan semangat lebih baru.

Apalagi dirinya sebagai ketua perempuan pertama dalam sejarah transformasi kampusnya, yang bisa menjadi satu dongkrakan secara nyata jika perempuan mampu berkecimpung dalam ranah politik di kampus melalui Organisasi Mahasiswa.

Hidup perempuan. Merdeka. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Resmikan Transformasi Institut Mpu Kuturan, Menag Nasaruddin: “Kampus Seindah ini Kenapa Tidak Menjadi Universitas?”
Tags: IAHN Mpu Kuturankampus hinduPendidikanSTAHN Mpu Kuturan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

IKN Ibu Kota Politik Simbolisme Besar Substansi Rapuh

Next Post

Petenis Meja Sisca Pratiwi, Dari Lomba ke Lomba, Dari Medali ke Medali

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Petenis Meja Sisca Pratiwi, Dari Lomba ke Lomba, Dari Medali ke Medali

Petenis Meja Sisca Pratiwi, Dari Lomba ke Lomba, Dari Medali ke Medali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co