23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gasing Penghapus, Imajinasi Anak, dan Senang-Cemas Orang Tua

Ni Wayan Suwini by Ni Wayan Suwini
September 20, 2025
in Khas
Gasing Penghapus, Imajinasi Anak, dan Senang-Cemas Orang Tua

Anak-anak bermain gasing penghapus | Foto: Suwini

SIAPA sangka, sebuah penghapus kecil yang biasanya hanya menjadi alat hapus coretan pensil, kini menjelma jadi bahan baku permainan yang sedang naik daun. Setiap anak-anak yang terlihat pasti memiliki kesibukan yang sama, yaitu merakit tumpukan penghapus dengan isi staples dan juga paku payung. Hasilnya? Tentu saja gasing buatan tangan yang unik, berputar lincah dengan penuh rasa kebanggan dari sang pemilik.

Fenomena ini merebak dengan cepat, terutama setelah video-video gasing penghapus ramai tersebar di media sosial. Hal itu juga tampak jelas di sekitaran Desa Sumerta Kaja, Denpasar Timur, di mana sekelompok anak yang bertetangga kini ramai-ramai menggeluti permainan ini.

Salah satunya, I Kadek Agus Susila Putra (11), siswa kelas 6 di sebuah SD di Sumerta, atau akrab dipanggil Dek Agus. Ia mengaku mengetahui tentang permainan ini dari TikTok. “Awalnya liat di TikTok, eh abis itu pengen nyoba buat deh,” katanya dengan semangat.

Rasa penasaran itu kemudian berubah menjadi sebuah kebiasaan, setiap kali melihat penghapus baru, imajinasinya langsung bekerja dan langsung berpikir, bisa jadi apa bentuknya kali ini?

Anak lainnya juga tak kalah kreatif, Gede Bima Saputra Setiawan (9), siswa kelas 3 di sebuah SD di Tonja, atau biasa dipanggil Bimbim. Bimbum ternyata lebih suka bermain dengan warna,

“Pertama biasanya aku milih warna yang selang-seling, kayak putih sama hitam, pokoknya aku campur. Abistu aku biasanya buat yang bentuk spinner,” jawab Bimbim tampak serius ketika ditanya mengenai kriteria penghapus yang biasa ia gunakan.

Anak-anak asyik bermain gasing dari penghapus | Foto: Suwini

Bagi anak-anak itu, memilih penghapus bukan sekedar fungsi, tapi juga soal estetika. Campuran warna dianggap menambah keren penampilan gasing.

Namun, merakit gasing penghapus bukan perkara gampang. Dek Agus mengaku bagian tersulit adalah ketika memasang paku payung di tengah penghapus agar gasing bisa berputar dengan sempurna. Ya betul, rakitan penghapus didukung oleh paku payung atau bisa juga dengan isi staples sebagai alat perekat agar penghapus menyatu satu sama lain, dan paku payung biasanya berfungsi sebagai alat penggerak gasing, lebih tepatnya ada pada moncong paku payung. Gagal? Sudah pasti pernah.

Tapi justru lewat kegagalan tersebut muncul semangat ingin mencoba lagi. Di sisi lain, I Komang Bagus Yasa (8) atau akrab dipanggil Omang, siswa kelas 2 di sebuah SD di Sumerta yang kebetulan merupakan adik kelas dari Dek Agus. Ia menceritakan kesulitan lainnya, ia justru mengaku paling sulit saat menyatukan penghapus dengan isi staples. “Kalau nggak pas tuh penghapusnya jadi gampang lepas,” katanya dengan bersungguh-sungguh.

Gasing penghapus yang dirancang anak-anak | Foto: Suwini

Meski mendapatkan beberapa kesulitan, semua itu terbayar ketika gasing mereka akhirnya berputar dengan mulus. Bahkan beberapa anak sampai memberi nama gasing buatan mereka. “Kalau gasingku namanya Pemadam Gasing,” ucap Dek Agus dengan semangat.

Sedangkan Omang memilih nama yang lebih unik dan terkesan Garang. “Kalau gitu nama gasingku Naga Api aja biar mantep,” kata Omang sambil tertawa.

Fenomena gasing penghapus tak hanya berhenti pada proses pembuatan saja, ada pula cerita-cerita seru dan lucu yang mereka alami ketika memainkannya. Misalnya Dek Agus, ia dengan bangga membawa gasingnya ke sekolah dan memainkannya bersama teman-temannya. Sementara Bimbim malah terkekeh ketika mengingat pengalamannya. “Pernah bawa ke sekolah, eh malah disita,” ucapnya sambil cengengesan.

Lain halnya dengan Omang ketika ditanyai keseruan bermain gasing bersama temannya. “Serunya tuh pas temen kalah lawan gasingku, ya udah deh gasing punya dia jadi dikasih ke aku,” jawab Omang dengan semangat.

Kalau dipikir kembali, permainan ini terbilang sederhana, hanya membutuhkan penghapus, isi staples, dan paku payung. Tapi justru hal sederhana itu juga yang mempertemukan anak-anak dengan kebahagiaan. Mereka belajar berkreasi, merasakan tantangan, hingga menikmati kemenangan kecil yang terasa begitu berarti.

Dari sisi orang tua, fenomena ini menghadirkan perasaan campur aduk. Kadek Weri (49) merupakan ibu dari Omang, mengaku kadang heran sekaligus kesal. “Satu sisi kesal, karena uangnya dipakai buat beli penghapus terus. Tapi di sisi lain senang juga, soalnya anak jadi lebih banyak main di luar, nggak cuma nonton TV terus-terusan di kamar,” ujarnya.

Kotak wadah penghapus | Foto: Suwini

Ia menambahkan, meski anaknya jarang minta uang tambahan, tetap saja ia menyadari bahwa uang bekal yang seharusnya untuk jajan sering dialihkan untuk membeli penghapus. Namun, ada rasa bangga tersendiri ketika melihat anak-anak lebih kreatif.

Tak hanya orang tua, pedagang alat tulis pun ikut merasakan dampaknya. Kadek Devi (39) sebagai pemilik toko ATK mengaku beberapa minggu terakhir stok penghapusnya selalu ludes. “Seneng sih, dagangan jadi laku. Tapi kadang kasihan juga, anak-anak habisin uang jajannya buat beli penghapus, bukan buat jajan,” ujarnya.

Meski begitu, ia tak bisa menutup rasa salut terhadap anak-anak. Baginya, ada nilai positif ketika anak-anak rela menyisihkan uang jajannya demi sesuatu yang akan mereka buat sendiri, bukan sekedar membeli mainan jadi.

Gasing penghapus mungkin hanya tren kecil yang tentu saja sewaktu-waktu akan meredup. Tapi dari fenomena ini, kita bisa melihat sesuatu yang cukup bermanfaat. Di tengah derasnya gadget dan game digital, muncul kreativitas yang menjadi sebuah alternatif bermain sederhana tetapi memicu imajinasi.

Dari penghapus seharga seribuan, mereka bisa merakit sebuah permainan yang melibatkan keterampilan, kesabaran, bahkan sedikit strategi dari pikiran kecil mereka. Kini, dalam setiap putaran gasing telah tersimpan berbagai cerita masa kecil yang riuh, sederhana, namun penuh tantangan yang akan tersampaikan di kemudian hari. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Wayan Suwini
Editor: Adnyana Ole

Tags: anak-anakpermainan anak-anak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Ide ke Aksi, Dari Aksi Jadi Pasti: Merayakan Ujian dengan Ekshibisi Scrapbook

Next Post

Persoalan Anarko dan Lima Ancaman yang Lebih Berbahaya Darinya

Ni Wayan Suwini

Ni Wayan Suwini

Lahir 04 Februari 2005. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Persoalan Anarko dan Lima Ancaman yang Lebih Berbahaya Darinya

Persoalan Anarko dan Lima Ancaman yang Lebih Berbahaya Darinya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co