23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Persoalan Anarko dan Lima Ancaman yang Lebih Berbahaya Darinya

Mansurni Abadi by Mansurni Abadi
September 20, 2025
in Esai
Persoalan Anarko dan Lima Ancaman yang Lebih Berbahaya Darinya

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

JIKA pada tahun 1965 kita seakan digiring untuk mewaspadai komunisme, maka pada tahun 2025 kita sepertinya diminta untuk mewaspadai gerakan yang bernama anarkisme dengan pengikutnya yang disebut anarko. Menurut keterangan dari pihak kepolisian, persoalan anarko berkontribusi besar terhadap banyak kerusuhan yang melanda Tanah Air pada akhir bulan Agustus hingga awal September, yang dampaknya bahkan terasa hingga kaki Gunung Himalaya.

Kepolisian di Bandung menyatakan, “Mereka didanai asing melalui PayPal,” sambil menunjukkan barang bukti berupa senjata dan buku-buku tanpa menjelaskan isinya. Barang bukti ini diduga memicu demonstrasi yang berujung pada pembakaran fasilitas umum dan gedung DPR. Namun, ironisnya, penanganan anarko justru menciptakan stigma baru, seolah menggantikan ketakutan terhadap komunisme atau radikalis

Saya menyebutnya metamorfosis fobia,  dari komunisme ke radikalisme, lalu menjadi anarko yang menjadi objek pengkambinghitaman ketika terjadi gejolak. Menurut Eric Brahm, asisten profesor politik dari Universitas Nevada, kambing hitam selalu diperlukan dalam konflik sebagai mekanisme pertahanan psikologis. Lalu, siapa sebenarnya yang disebut anarko?

Apa itu anarkis dan anarko, dan bagaimana ajarannya?

Seperti dijelaskan pada paragraf pembuka, anarko adalah mereka yang menganut dan mempraktikkan ideologi anarkisme. Anarkisme, yang selama ini dikenal sebagai kekacauan, sebenarnya merupakan ideologi yang menolak segala bentuk otoritas hierarkis yang dianggap tidak sah, seperti negara, institusi agama, atau sistem kapitalisme, karena dianggap membatasi kebebasan individu dan menciptakan ketimpangan sosial.

Inti dari anarkisme adalah pembentukan masyarakat yang egaliter, di mana individu bebas mengatur diri sendiri melalui kerjasama sukarela, demokrasi langsung, dan struktur komunitas yang terdesentralisasi. Anarkisme menekankan pentingnya otonomi pribadi, solidaritas sosial, dan penolakan terhadap eksploitasi, baik melalui kepemilikan pribadi yang berlebihan maupun kekuasaan politik yang terpusat.

Sebagaimana ideologi pada umumnya tentu ada  berbagai aliran dalam  anarkisme, seperti anarko-komunisme, anarko-sindikalisme, dan anarko-individualisme, yang memiliki pendekatan yang berbeda namun berbagi visi umum tentang masyarakat tanpa hierarki. Sejarah anarkisme dipengaruhi oleh pemikir seperti Pierre-Joseph Proudhon, Mikhail Bakunin, dan Peter Kropotkin, yang mengembangkan gagasan tentang mutualisme, kolektivisme, dan komunisme anarkis.

Saat menulis artikel ini saya tengah membaca dua buku penting anarkis yang pertama buku berjudul  Anarchism and Other Essays karya Emma Goldman (1910) yang mengartikulasikan anarkisme sebagai perjuangan untuk kebebasan individu dan kritik terhadap kapitalisme, patriarki, serta militerisme dan The Conquest of Bread karya Peter Kropotkin (1892) yang menawarkan visi praktis tentang masyarakat anarko-komunis, di mana kebutuhan dasar dipenuhi melalui produksi kolektif dan distribusi yang adil tanpa campur tangan negara.

Perbedaan anarko dengan spekturm ideologi kiri lainnya seperti komunisme dan sosialisme menurut Alexander Berkman (1929) dalam What Is Anarchism?  terletak pada cara pandang terkait otoritas, peran negara, dan cara mencapai masyarakat yang ideal. Anarkisme menolak segala bentuk otoritas hierarkis, termasuk negara, dan mengusung masyarakat yang terdesentralisasi, egaliter, dan berdasarkan kerjasama sukarela serta otonomi individu.

Anarkis percaya bahwa negara, bahkan dalam bentuk transisi sekalipun adalah entitas yang hirarkis  akan menghasilkan penindasan baru, sehingga mereka lebih menekankan aksi langsung, seperti pembentukan komune atau serikat pekerja yang disebut anarko-sindikalis, untuk mewujudkan kebebasan total.

Bagi para anarkis atau anarko,  penolakan   terhadap negara berangkat dari sifat negara yang sarat akan kontrol dan penaklukan (arki). Menurut Johann Most dalam esainya berjudul Anarchy (1888), negara selalu muncul sebagai perpanjangan tangan kaum kuat untuk menindas kaum lemah. Hingga hari ini, dalam bentuk apa pun, penindasan selalu menjadi tujuan negara.

Johann Most (1888) menegaskan juga kontrol dan penaklukan selalu menjadi alat kaum pemilik properti untuk terus-menerus menekan mereka yang tidak memiliki properti. Semakin barbar masyarakat, semakin keras dan terang-terangan cara negara untuk mengontrol dan menaklukkan mereka. Namun, semakin tinggi peradaban, semakin halus pula kecerdikan negara sebagai entitas  penakluk dan pengontrol tadi dalam menyembunyikan perampasan kekuasaan tanpa melemahkan pelaksanaan kekuasaan tersebut.

Kemuakan terhadap entitas negara yang bersifat arki, juga ditegaskan oleh dalam kata pengantar untuk karya Rudolf Rocker berjudul Anarko-Sindikalisme: Filsafat Radikal Kaum Pekerja (2020). Dalam buku ini disebutkan bahwa diperintah berarti diawasi, diperiksa, dimata-matai, diarahkan, diatur berdasarkan undang-undang, diberi nomor, didaftarkan, diindoktrinasi, diceramahi, dikendalikan, dinilai, diberi harga, dikecam, dan diperintah oleh makhluk yang tidak memiliki hak, kearifan, maupun kebajikan untuk melakukannya. Diperintah berarti setiap operasi dicatat, setiap transaksi didaftarkan, dihitung, dikenai pajak, dicap, diukur, diberi nomor, dinilai, diberi lisensi, dinasihati, dicegah, dilarang, direformasi, diperbaiki, dihukum.

Dengan dalih kepentingan publik, rakyat harus memberi kontribusi, dilatih, ditipu, dieksploitasi, dimonopoli, diperas, diremas, dikaburkan, dan dirampok. Jika mereka melawan sekecil apa pun, hanya dengan mengeluh, mereka akan ditindas, didenda, difitnah, dilecehkan, diburu, dipukuli, dilucuti, diikat, dicekik, dipenjara, dihukum, dikutuk, ditembak, dideportasi, dikorbankan, dijual, dikhianati, diejek, dibodohi, ditertawakan, dimarahi, dan disakiti hatinya. Inilah pemerintahan; inilah bentuk keadilan dan moralitasnya.

Sebaliknya, komunisme, sebagaimana diuraikan dalam teori Marxis, mendukung fase transisi “diktatur proletariat” di mana negara mengendalikan alat produksi untuk menghapus kelas sosial sebelum mencapai masyarakat komunis tanpa negara. Sementara Sosialisme, meskipun lebih beragam spektrumnya, sering kali tetap mempertahankan negara sebagai alat untuk mendistribusikan kekayaan secara adil, bahan sebagian besar  dari aliran sosialisme justru menerima peran negara dalam jangka pendek atau panjang.

Baik sosialisme dan Komunisme menerima entitas negara karena menganggapnya sebagai alat yang penting untuk mencapai tujuan masyarakat tanpa kelas dan mengatasi ketimpangan yang dihasilkan oleh kapitalisme.

Sebagaimana diuraikan dalam tiga karya berpengaruh dari mulai The Communist Manifesto karya Karl Marx dan Friedrich Engels (1848), yang menuliskan negara diperlukan untuk mengendalikan alat produksi, menghapus kepemilikan pribadi, dan mencegah kontra-revolusi borjuis sebelum akhirnya memudar menuju komunisme tanpa negara; ataupun The State and Revolution karya Vladimir Lenin (1917)  yang juga memandang kegunaan negara sebagai sarana untuk melindungi kepentingan kelas pekerja dan mendistribusikan sumber daya secara merata, sembari mempertahankan struktur pemerintahan untuk stabilitas dan reformasi bertahap.

Ciri-ciri anarko

 Menurut laporan Lokataru pada tahun 2020 berjudul Kaos Hitam dan Paranoia Negara: Stigmatisasi dan Pelanggaran Hak Kelompok Anarko-Sindikalis, anarko dicirikan sebagai segerombolan orang yang berpakaian serba hitam, membawa bendera dengan simbol A atau bendera merah dan hitam, memiliki kebencian terhadap negara yang menurut mereka harus dibubarkan, serta menghalalkan penghancuran dalam setiap aksi massa alih-alih mendemonstrasikan secara damai.

Meskipun demikian, ada pula anarko yang lepas dari simbolisme serba hitam dan lebih fokus menjalankan proyek sosial positif, seperti pasar gratis, perpustakaan jalanan, dapur jalanan, rumah aman untuk gelandangan, atau ruang bebas uang. Namun, ini tidak bisa dijadikan patokan bahwa kelompok anarko ada sisi positifnya karena bagi penguasa, persoalan  anarko jelas merupakan ancaman.

Lalu, apakah anarko seberbahaya itu?Jawabannya belum tentu.  Anarko menjadi berbahaya ketika mereka melakukan gerakan kekerasan sporadis  yang justru merugikan rakyat. Namun, anarko juga bisa menjadi positif ketika terlibat dalam gerakan sipil dengan prinsip anarkisme yang progresif, taktis, dan inklusif. Akan tetapi, sebenarnya ada hal lain yang jauh lebih berbahaya dari anarko.

Lima Hal yang Lebih Berbahaya daripada Anarko

Sekali lagi, anarko memang berbahaya, tetapi tidak seberbahaya lima hal berikut.

Pertama, rakyat kehilangan atau kesulitan mengidentifikasi identitas, ideologi, dan situasi politiknya, ditambah dengan ketidakpercayaan terhadap pemerintah yang semakin menunjukkan ketidakbecusan. Tanpa adanya anarko pun, persoalan ini akan menghancurkan kekuasaan rakyat, yang justru termanipulasi oleh elit.

Kedua, rakyat kehilangan ruang argumen dan perdebatan di ruang publik karena aktor politik, baik pemerintah maupun lembaga politik, berkomunikasi dengan cara-cara pemasaran politik seperti iklan yang menawarkan produk tanpa substansi dan cenderung tidak berempati.

Ketiga, semakin kuatnya budaya dan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme di semua bidang, disertai dengan upaya pelemahan hukum, kriminalisasi, dan intimidasi terhadap mereka yang melawan praktik ini.Ketika budaya KKN semakin menguat, bukan tidak mungkin negara yang kita harapkan kuat selamanya ini rapuh dengan sendirinya, bukan karena ulah anarko.

Keempat, menguatnya demokrasi liberal yang disertai dengan privatisasi dan intervensi modal asing, yang justru berdampak pada hilangnya kekayaan negeri. Sejak lama, negeri yang kaya ini menjadi hamba bagi kapitalis internasional.

Dari masa Tanam Paksa hingga saat ini, Indonesia hanyalah sapi perah yang membuat bangsa-bangsa Utara bersuka cita. Sumber daya alam dari Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua disalurkan ke luar, sementara penduduk aslinya didesak untuk pergi karena tempat mereka diubah menjadi kawasan pertambangan atau pengolahan.

Ironisnya, mereka yang dipinggirkan dari proses pembangunan semakin tak menentu nasibnya, menjadi paria di negeri sendiri. Ditambah lagi kerusakan ekosistem yang belum pernah terjadi sebelumnya, bekas pertambangan dibiarkan begitu saja, hutan semakin gundul, tanah longsor, dan banjir bandang merusak segalanya, termasuk manusia. Hal keempat ini jauh lebih berbahaya daripada anarko.

Kelima, masalah ekonomi yang tak kunjung terselesaikan, upah murah, harga barang naik, lapangan pekerjaan menyempit, dan badai PHK yang justru direspons pemerintah dengan kenaikan tunjangan wakil rakyat serta berbagai pajak yang mencekik.

Setiap revolusi selalu dipicu oleh krisis ekonomi.  Jika ekonomi dibiarkan memburuk dengan kesenjangan semakin melebar, sementara elit memamerkan kemewahan, hal ini justru jauh lebih berbahaya daripada segerombolan anarko.[T]

Penulis: Mansurni Abadi
Editor:Adnyana Ole

Tags: anarkismeanarkodemokrasinegara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gasing Penghapus, Imajinasi Anak, dan Senang-Cemas Orang Tua

Next Post

Video Musik “Manusia” dari BSAR, Suarakan Keserakahan Manusia

Mansurni Abadi

Mansurni Abadi

Mantan pengurus divisi riset Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia 2021-2022 dan pengurus divisi riset Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malaysia 2021-2023, Saat ini berkerja sebagai relasi publik di NGO SMT di Malaysia

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Video Musik “Manusia” dari BSAR, Suarakan Keserakahan Manusia

Video Musik “Manusia” dari BSAR, Suarakan Keserakahan Manusia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co