2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film Pendek “Can You Hear Me?” : Saat Wi-Fi Putus, Luka Lama Tersambung

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 18, 2025
in Ulas Film
Film Pendek “Can You Hear Me?” : Saat Wi-Fi Putus, Luka Lama Tersambung

Film Pendek "Can You Hear Me?" diputar di Minikino Film Week 2025

FILM pendek Can You Hear Me karya Anastazja Naumenko berdiri di antara dua ranah yang kerap kita anggap terpisah. Teknologi yang dekat dan luka batin keluarga yang nyaris tak pernah selesai.

Dengan premis sederhana—Natasia yang sedang memberi pelajaran via Zoom kepada ibunya tentang cara menggunakan laptop, lalu terganggu oleh internet yang tidak stabil—film ini justru menyingkap sesuatu yang jauh lebih pelik. Trauma keluarga yang diam-diam terselip di balik layar, muncul tanpa aba-aba, dan mengacaukan ritme hidup layaknya koneksi Wi-Fi yang suka putus-nyambung.

Bagi banyak orang, Zoom identik dengan kerja jarak jauh, kuliah online, atau sekadar obrolan kaku yang penuh “halo, suaranya putus-putus tuh.” Naumenko menjadikan aplikasi ini sebagai panggung intim, seakan ruang keluarga virtual bisa menjelma jadi kursi terapi kolektif.

Pertanyaan Natasia yang mestinya teknis—“klik di sini, Ma, jangan di situ”—berbelok menjadi pemicu percakapan yang lebih personal. Gangguan jaringan bukan lagi sekadar masalah teknis, melainkan metafora tentang komunikasi keluarga sering terdistorsi, tersendat, atau bahkan hilang sama sekali.

Zoom yang semula instrumen netral mendadak tampil sebagai cermin rapuh. Kamera laptop menangkap wajah, tapi tak mampu menangkap luka. Mikrofon mengirim suara, tapi tidak menjamin maksud tersampaikan. Dan di sinilah film ini bersinar. Teknologi jadi alat dramatisasi, bukan sekadar latar.

Film Pendek “Can You Hear Me?” saat diputar dalam MFW11

Unstable connection adalah jargon digital paling membosankan yang kita dengar saban hari. Namun dalam film ini, ketidakstabilan itu diterjemahkan menjadi kondisi emosional. Putusnya suara, delay gambar, hingga layar yang membeku, semuanya paralel dengan ketegangan antara ibu dan anak. Trauma lama—yang entah berupa konflik masa kecil, kekecewaan, atau ketidakmampuan saling memahami—ikut terpotong-potong seperti suara robotik di Zoom.

Naumenko seakan ingin berkata, komunikasi keluarga tak kalah rentan dari koneksi internet. Perbedaan generasi, bahasa, hingga luka yang tak pernah tuntas membuat percakapan tersendat. Lucunya, Natasia bisa mengajari sang ibu cara menggunakan laptop, tapi apakah ia bisa “menginstal ulang” cara berhubungan dengan ibunya sendiri? Pertanyaan ini menggantung, tak pernah dijawab tuntas, dan justru membuat film terasa relevan.

Di balik cerita personal, film ini juga memotret realitas lebih luas. Pandemi, misalnya, mengubah cara kita berhubungan. Orang tua yang gagap teknologi dipaksa belajar cepat, sementara anak-anak jadi tutor dadakan. Ketegangan tak terelakkan. Naumenko menangkap kondisi ini dengan jenaka sekaligus getir.

Kita diajak tertawa melihat ibu yang salah klik tombol, lalu tiba-tiba hening karena Zoom freeze. Tapi tawa itu segera tercekik saat percakapan meluncur ke trauma keluarga. Perpindahan nada ini luwes, tidak terasa dipaksakan. Di sinilah kepekaan sutradara diuji. Mengolah hal yang biasa-biasa saja menjadi refleksi sosial.

Internet tak stabil bukan hanya soal kabel atau provider, melainkan simbol betapa rapuhnya fondasi komunikasi manusia modern. Film ini mengingatkan bahwa di balik layar komputer, ada manusia yang membawa luka bertahun-tahun.

Salah satu daya tarik Can You Hear Me adalah cara Naumenko meramu humor gelap. Situasi absurd—anak mengajari ibu Zoom sambil bersitegang soal masa lalu—terasa ironis sekaligus realistis. Kita mungkin tertawa saat melihat Natasia kehilangan kesabaran, tapi tawa itu pahit, karena kita tahu betapa dekatnya adegan ini dengan pengalaman sehari-hari.

Humor di sini bukan sekadar bumbu, melainkan pintu masuk agar penonton berani menyentuh isu berat. Trauma keluarga yang kerap disembunyikan. Seperti halnya meme tentang internet putus di tengah meeting, film ini memanfaatkan “kekonyolan” digital untuk mengupas kegagapan emosional manusia.

Sekilas, film ini tentang anak muda yang sabar (atau tidak sabar) mengajari ibunya menggunakan teknologi. Namun semakin jauh, justru sebaliknya. Sang ibu tanpa sadar “mengajari” anaknya soal keberanian menghadapi luka lama. Ada semacam pertukaran peran. Natasia yang merasa paling paham, ternyata justru kewalahan ketika percakapan keluar jalur.

Relasi ibu-anak dalam film ini tak dibungkus manis. Tidak ada pelukan haru di akhir, tidak ada resolusi utuh. Yang tersisa hanya fragmen komunikasi yang tersendat, sama seperti jaringan internet. Dan justru di situlah kekuatannya. Kejujuran bahwa hubungan keluarga seringkali berakhir di tengah kalimat, tanpa tanda titik.

Namun tentu saja, film ini tidak tanpa kelemahan. Ada risiko bahwa penggunaan Zoom sebagai medium cerita bisa terasa gimmicky. Jika tidak ditopang naskah yang kuat, penonton mungkin hanya melihat, “Oh, ini film eksperimen gaya pandemi lagi.” Untungnya, Naumenko menghindari jebakan itu dengan menghadirkan lapisan emosional.

Yang membuat Can You Hear Me menggoda adalah kedekatannya dengan keseharian kita. Hampir semua orang pernah kesal karena internet lemot. Hampir semua anak pernah frustrasi mengajari orang tua soal teknologi. Dan hampir semua keluarga punya trauma yang lebih mudah disembunyikan ketimbang diucapkan.

Film Pendek “Can You Hear Me?” saat diputar dalam MFW11

Film ini menggabungkan tiga hal itu menjadi satu paket yang singkat, tajam, dan menggelitik. Tidak butuh efek spesial, tidak butuh lokasi megah, cukup satu laptop, koneksi internet, dan keberanian membuka luka lama.

Pada akhirnya, judul Can You Hear Me bukan sekadar tentang suara yang terputus di Zoom. Itu pertanyaan eksistensial. Bisakah kita benar-benar mendengar satu sama lain? Bisakah seorang anak mendengar ibunya, bukan hanya instruksi klik tombol? Bisakah seorang ibu mendengar anaknya, bukan hanya suara kesal yang keluar dari headset?

Naumenko meninggalkan kita dengan kegelisahan. Film ini tidak menjanjikan rekonsiliasi, tapi menghadirkan kejujuran. Bahwa mendengar—baik lewat internet maupun hati—selalu sulit, rentan putus, dan kadang menyakitkan.

Dengan durasi singkat, Can You Hear Me berhasil menancapkan ironi. Di zaman ketika semua orang bisa terhubung, justru komunikasi paling intim sering gagal tersambung. Dan mungkin, kita semua adalah Natasia, berteriak ke layar, “Can you hear me?”—sambil diam-diam berharap ada yang benar-benar menjawab. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: film pendekMinikinoMinikino Film WeekMinikino Film Week 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Bawah Dukungan Sang Ibu, Oky Septiani Sabet Medali Emas Woodball Porprov Bali 2025

Next Post

Film Pendek “Passarinho” (2024): Darah Pertama, Rencana Pertama, dan Impian yang Hampir Terlunta

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Film Pendek “Passarinho” (2024): Darah Pertama, Rencana Pertama, dan Impian yang Hampir Terlunta

Film Pendek "Passarinho" (2024): Darah Pertama, Rencana Pertama, dan Impian yang Hampir Terlunta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co