14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film Pendek “Can You Hear Me?” : Saat Wi-Fi Putus, Luka Lama Tersambung

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 18, 2025
in Ulas Film
Film Pendek “Can You Hear Me?” : Saat Wi-Fi Putus, Luka Lama Tersambung

Film Pendek "Can You Hear Me?" diputar di Minikino Film Week 2025

FILM pendek Can You Hear Me karya Anastazja Naumenko berdiri di antara dua ranah yang kerap kita anggap terpisah. Teknologi yang dekat dan luka batin keluarga yang nyaris tak pernah selesai.

Dengan premis sederhana—Natasia yang sedang memberi pelajaran via Zoom kepada ibunya tentang cara menggunakan laptop, lalu terganggu oleh internet yang tidak stabil—film ini justru menyingkap sesuatu yang jauh lebih pelik. Trauma keluarga yang diam-diam terselip di balik layar, muncul tanpa aba-aba, dan mengacaukan ritme hidup layaknya koneksi Wi-Fi yang suka putus-nyambung.

Bagi banyak orang, Zoom identik dengan kerja jarak jauh, kuliah online, atau sekadar obrolan kaku yang penuh “halo, suaranya putus-putus tuh.” Naumenko menjadikan aplikasi ini sebagai panggung intim, seakan ruang keluarga virtual bisa menjelma jadi kursi terapi kolektif.

Pertanyaan Natasia yang mestinya teknis—“klik di sini, Ma, jangan di situ”—berbelok menjadi pemicu percakapan yang lebih personal. Gangguan jaringan bukan lagi sekadar masalah teknis, melainkan metafora tentang komunikasi keluarga sering terdistorsi, tersendat, atau bahkan hilang sama sekali.

Zoom yang semula instrumen netral mendadak tampil sebagai cermin rapuh. Kamera laptop menangkap wajah, tapi tak mampu menangkap luka. Mikrofon mengirim suara, tapi tidak menjamin maksud tersampaikan. Dan di sinilah film ini bersinar. Teknologi jadi alat dramatisasi, bukan sekadar latar.

Film Pendek “Can You Hear Me?” saat diputar dalam MFW11

Unstable connection adalah jargon digital paling membosankan yang kita dengar saban hari. Namun dalam film ini, ketidakstabilan itu diterjemahkan menjadi kondisi emosional. Putusnya suara, delay gambar, hingga layar yang membeku, semuanya paralel dengan ketegangan antara ibu dan anak. Trauma lama—yang entah berupa konflik masa kecil, kekecewaan, atau ketidakmampuan saling memahami—ikut terpotong-potong seperti suara robotik di Zoom.

Naumenko seakan ingin berkata, komunikasi keluarga tak kalah rentan dari koneksi internet. Perbedaan generasi, bahasa, hingga luka yang tak pernah tuntas membuat percakapan tersendat. Lucunya, Natasia bisa mengajari sang ibu cara menggunakan laptop, tapi apakah ia bisa “menginstal ulang” cara berhubungan dengan ibunya sendiri? Pertanyaan ini menggantung, tak pernah dijawab tuntas, dan justru membuat film terasa relevan.

Di balik cerita personal, film ini juga memotret realitas lebih luas. Pandemi, misalnya, mengubah cara kita berhubungan. Orang tua yang gagap teknologi dipaksa belajar cepat, sementara anak-anak jadi tutor dadakan. Ketegangan tak terelakkan. Naumenko menangkap kondisi ini dengan jenaka sekaligus getir.

Kita diajak tertawa melihat ibu yang salah klik tombol, lalu tiba-tiba hening karena Zoom freeze. Tapi tawa itu segera tercekik saat percakapan meluncur ke trauma keluarga. Perpindahan nada ini luwes, tidak terasa dipaksakan. Di sinilah kepekaan sutradara diuji. Mengolah hal yang biasa-biasa saja menjadi refleksi sosial.

Internet tak stabil bukan hanya soal kabel atau provider, melainkan simbol betapa rapuhnya fondasi komunikasi manusia modern. Film ini mengingatkan bahwa di balik layar komputer, ada manusia yang membawa luka bertahun-tahun.

Salah satu daya tarik Can You Hear Me adalah cara Naumenko meramu humor gelap. Situasi absurd—anak mengajari ibu Zoom sambil bersitegang soal masa lalu—terasa ironis sekaligus realistis. Kita mungkin tertawa saat melihat Natasia kehilangan kesabaran, tapi tawa itu pahit, karena kita tahu betapa dekatnya adegan ini dengan pengalaman sehari-hari.

Humor di sini bukan sekadar bumbu, melainkan pintu masuk agar penonton berani menyentuh isu berat. Trauma keluarga yang kerap disembunyikan. Seperti halnya meme tentang internet putus di tengah meeting, film ini memanfaatkan “kekonyolan” digital untuk mengupas kegagapan emosional manusia.

Sekilas, film ini tentang anak muda yang sabar (atau tidak sabar) mengajari ibunya menggunakan teknologi. Namun semakin jauh, justru sebaliknya. Sang ibu tanpa sadar “mengajari” anaknya soal keberanian menghadapi luka lama. Ada semacam pertukaran peran. Natasia yang merasa paling paham, ternyata justru kewalahan ketika percakapan keluar jalur.

Relasi ibu-anak dalam film ini tak dibungkus manis. Tidak ada pelukan haru di akhir, tidak ada resolusi utuh. Yang tersisa hanya fragmen komunikasi yang tersendat, sama seperti jaringan internet. Dan justru di situlah kekuatannya. Kejujuran bahwa hubungan keluarga seringkali berakhir di tengah kalimat, tanpa tanda titik.

Namun tentu saja, film ini tidak tanpa kelemahan. Ada risiko bahwa penggunaan Zoom sebagai medium cerita bisa terasa gimmicky. Jika tidak ditopang naskah yang kuat, penonton mungkin hanya melihat, “Oh, ini film eksperimen gaya pandemi lagi.” Untungnya, Naumenko menghindari jebakan itu dengan menghadirkan lapisan emosional.

Yang membuat Can You Hear Me menggoda adalah kedekatannya dengan keseharian kita. Hampir semua orang pernah kesal karena internet lemot. Hampir semua anak pernah frustrasi mengajari orang tua soal teknologi. Dan hampir semua keluarga punya trauma yang lebih mudah disembunyikan ketimbang diucapkan.

Film Pendek “Can You Hear Me?” saat diputar dalam MFW11

Film ini menggabungkan tiga hal itu menjadi satu paket yang singkat, tajam, dan menggelitik. Tidak butuh efek spesial, tidak butuh lokasi megah, cukup satu laptop, koneksi internet, dan keberanian membuka luka lama.

Pada akhirnya, judul Can You Hear Me bukan sekadar tentang suara yang terputus di Zoom. Itu pertanyaan eksistensial. Bisakah kita benar-benar mendengar satu sama lain? Bisakah seorang anak mendengar ibunya, bukan hanya instruksi klik tombol? Bisakah seorang ibu mendengar anaknya, bukan hanya suara kesal yang keluar dari headset?

Naumenko meninggalkan kita dengan kegelisahan. Film ini tidak menjanjikan rekonsiliasi, tapi menghadirkan kejujuran. Bahwa mendengar—baik lewat internet maupun hati—selalu sulit, rentan putus, dan kadang menyakitkan.

Dengan durasi singkat, Can You Hear Me berhasil menancapkan ironi. Di zaman ketika semua orang bisa terhubung, justru komunikasi paling intim sering gagal tersambung. Dan mungkin, kita semua adalah Natasia, berteriak ke layar, “Can you hear me?”—sambil diam-diam berharap ada yang benar-benar menjawab. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: film pendekMinikinoMinikino Film WeekMinikino Film Week 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Bawah Dukungan Sang Ibu, Oky Septiani Sabet Medali Emas Woodball Porprov Bali 2025

Next Post

Film Pendek “Passarinho” (2024): Darah Pertama, Rencana Pertama, dan Impian yang Hampir Terlunta

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Film Pendek “Passarinho” (2024): Darah Pertama, Rencana Pertama, dan Impian yang Hampir Terlunta

Film Pendek "Passarinho" (2024): Darah Pertama, Rencana Pertama, dan Impian yang Hampir Terlunta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co