14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cinta Kuda Liar | Cerpen Kind Shella

Kind Shella by Kind Shella
September 14, 2025
in Cerpen
Cinta Kuda Liar  |  Cerpen Kind Shella

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

RONA, perempuan yang terlalu cermat untuk tertawa sembarangan, tapi juga terlalu rawan untuk menyembunyikan tawa sepenuhnya. Dan Amor, lelaki yang lebih mudah mengingat nama-nama hewan ketimbang menebak kapan perasaannya harus diucapkan.

Tidak ada yang lebih lucu dari dua orang peneliti jatuh cinta di atas kapal Pelni yang mengangkut truk, anak-anak rewel, dan beberapa orang yang tak tahu ke mana arah berlayar. Tapi di situlah Rona dan Amor duduk: berdebat soal kuda liar Sumbawa ketimbang memikirkan nasib hati mereka sendiri. Seolah cinta bisa ditakar dengan parameter, dan rindu bisa didefinisikan lewat perilaku hewan.

Mereka hendak meneliti kuda-kuda Sumbawa yang bertahan hidup setelah letusan Tambora 1815—populasi terakhir yang mengembangkan adaptasi unik terhadap tanah vulkanis. Generasi ke-200 ini menunjukkan perilaku migrasi yang aneh. Kuda-kuda itu, berkumpul setiap sore di area bekas aliran lahar. Seolah melakukan ritual kolektif. Kalau kata Rona, “memori genetik trauma geologis”. Amor lebih sederhana, “mungkin mereka cuma kangen leluhurnya.”

Namun di tengah laut inilah, sebelum kaki mereka menginjak tanah Sumbawa, percakapan-percakapan konyol yang tak bisa dimasukkan ke jurnal ilmiah itu muncul. Jangan harap ada kesimpulan akademik dari cerita ini. Bahkan mungkin, tak ada kesimpulan sama sekali. Yang ada hanya dua orang dengan rasa ingin tahu yang kelewat serius, dan iman yang kadang bolong seperti jala tua yang mencoba merangkul laut.

“Jangan duduk di situ, Mas,” kata Rona sambil menunjuk bagian kapal yang berkarat.

“Kenapa? Biar kalau kapalnya tenggelam aku langsung masuk surga?” jawab Amor, mengedipkan mata.

“Masuk surga kepalamu. Paling juga diseret malaikat, terus dikirim ke barak.”

Laut mendengus menertawakan mereka. Kapal Pelni itu menderu pelan, menelan matahari yang condong di ufuk barat.

“Aku mimpi kuda semalam,” kata Rona. “Kepalanya manusia, tapi tetap suka makan rumput.”

“Berarti itu aku. Aku manusia, tapi suka ngunyah daun kemangi.”

“Bukan kamu. Kuda itu lebih gendut.”

Amor tertawa keras. Angin mengibarkan kerudung Rona hingga menampar wajahnya sendiri.

“Kau serius soal proposal itu?” tanya Rona. “Kuda, ruang liarnya, dan sisa trauma letusan Tambora?”

“Kalau nggak serius, mana mungkin aku puasa anime tiga bulan untuk garap revisi latar belakang teoritis.”

“Dan kamu pakai Foucault segala.”

Amor menoleh, menahan senyum. “Trauma itu kan warisan juga. Di tubuh, di habitat, di ingatan. Foucault bilang, tubuh makhluk hidup menyimpan jejak kekuasaan.”

Rona mengangkat alis, menatapnya curiga, “Kamu beneran baca Foucault, atau biar terlihat seperti ilmuwan yang pernah makan buku, bukan cuma nasi padang?”

“Serius, dong. Aku bahkan pernah mimpi debat sama Foucault di terminal Bungurasih. Dia kalah telak karena nggak bisa jawab kenapa cinta bikin orang lupa teori.”

Rona terkekeh. Amor melanjutkan dengan wajah meyakinkan.

***

Di pertengahan jalan, sekitar selat Bali, dari jauh, lampu-lampu pulau dinyalakan. Satu-dua kecil-kecil seperti kunang. Dari langit, adzan Maghrib memantul di tubuh air. Rona diam. Tangannya menyentuh pagar dek kapal. Ia menatap laut seolah mencari sesuatu yang lebih dahsyat dari pusaran ombak.

“Kalau kita mati di sini, kamu pikir Tuhan bakal pisahkan kita?” tanyanya tiba-tiba.

“Kita mati pas Maghrib?” Amor membalikkan badan, menatap mata Rona yang meredup. “Berarti kita bisa minta pengantar khusus.”

“Pengantar?”

“Ya, malaikat yang jaga jam Maghrib, mungkin lebih romantis daripada yang jaga jam Zuhur. Zuhur itu pasti serius. Nggak bisa diajak bercanda.”

Rona tertawa. Tawanya ringan, seperti buih-buih kecil yang menari di ujung kapal.

***

Isya’ di laut datang diam-diam. Langit gelap, basah. Seolah baru selesai menangis.

“Kamu ingat cara salat?” tanya Rona, setengah bercanda, setengah takut.

Amor mengangguk. “Seingatku, cukup berdiri dan merasa malu.”

Rona tertawa, lalu diam. “Malu sama Tuhan?”

“Malu karena kita cuma mendekat kalau merasa kehilangan.”

Hening. Hanya percik air di sisi kapal, dan suara azan dari radio milik awak kapal.

“Mereka bilang salat itu mi’raj,” gumam Amor. “Tapi kadang kita hanya naik turun, tanpa tahu sedang ke mana.”

“Kita semua peneliti,” balas Rona, “Tapi tak ada yang benar-benar teliti soal diri sendiri.”

“Pintarnnya gadis ini, Ya Allah,”  jawab Amor, lalu menatap ke arah langit. Udara dingin mencolek ujung hidungnya. “Kadang aku pikir, kamu itu bukan ilmuwan. Tapi pelawak yang nyasar ke dunia biologi,” katanya.

“Dan kamu dosen gagal yang terlalu tampan untuk jadi serius.”

“Ngaku,” bisik Amor, “Kamu naksir aku pertama kali gara-gara aku presentasi pakai batik printing, kan?”

Rona tertawa keras memukuli pundak Amor. Mereka saling tatap. Saling melempar masa silam. Mata mereka berkaca, suatu tanda cinta yang amat berlapis.

“Kalau kamu mau salat isya,” bisik Rona. “Bilang ke Tuhan, aku ingin selamanya dengar kamu bercanda.”

***

Angin subuh datang dengan napas asin. Laut menggelinjang pelan, seolah sedang menggeliat dari tidur panjangnya. Burung-burung terbang rendah. Di atas kepala mereka, cahaya pertama menyala seperti lilin dinyalakan. Ombak tenang. Tanpa tawa. Tanpa prasangka. Rona menunduk. Amor diam.

Rona menarik syal ke leher. “Doamu tadi apa?” tanya Rona, pelan, setelah diam cukup lama.

“Doaku?” Amor menoleh. “Aku bilang ke Tuhan: terima kasih sudah kasih laut yang segini luas, walau aku cuma berani berenang di matamu.”

“Cheesy sekali kamu, Mas.” Rona tersenyum. Tipis. Seperti garis cahaya yang mulai menjilat tiang-tiang kapal.

“Ya. Tapi kamu enggak kabur juga.” Amor menoleh. “Berarti doa itu dikabulkan.”

“Kalau kamu, Ron,” tanya Amor. “Doa subuhmu apa?”

Rona menghela napas, pelan. “Aku bilang ke Tuhan, tolong jangan bikin aku jatuh cinta lagi.”

“Lho?” Amor mengangkat alis. “Terus kenapa sekarang kamu duduk di sebelahku?”

Rona terkekeh. “Mungkin karena Tuhan suka bercanda.”

“Ah. Kami cocok berarti,” kata Amor. “Tuhan suka bercanda, aku suka kamu.”

Rona menutup wajahnya dengan syal. “Tuh, kan. Masih ngantuk ini, gombal terus.”

“Ini bukan gombal. Ini ekspresi biologis dari hati yang mengalami osmosis cinta.”

“Apaan itu, Mas?”

“Cinta, Ron. Cinta itu cairan. Dia merembes masuk ke dalam celah paling sempit, kayak cipratan air di celana yang belum kering.”

Rona tertawa geli, lalu menggigit bibir menahan dingin. “Kamu tuh, ya. Ilmuwan yang gagal romantis atau penyair yang gagal paham anatomi?”

“Dua-duanya gagal, tapi kamu tetap di sini. Jadi siapa sebenarnya yang harus dievaluasi?”

Mereka tertawa, lepas, lepas.

“Kamu ini ya, Mas… kadang bikin aku nyaman. Kadang juga bikin aku pengen nyemplung ke laut.”

“Pilih yang pertama, Ron. Lautnya dingin, hatiku hangat. Prioritaskan keselamatan.”

***

Menjelang Zuhur, kapal melamban. Matahari jadi dewa pemarah yang menembak ubun-ubun dengan tombak panasnya.

“Kuda-kuda di Sumbawa itu bisa tidur sambil berdiri,” kata Rona, menyeka keringat.

“Kayak dosen pas presentasi materi.”

“Kalau kamu kuda, kamu pasti yang tidur sambil jalan.”

“Kalau kamu kuda, kamu pasti yang naksir penjaganya.”

Mereka tergelak. Anak kapal melirik sekilas. Tertawa diam-diam.

“Zuhur tuh waktunya manusia mikir dosa, kamu tahu?” kata Rona, duduk di lantai dek.

“Tapi kita malah mikirin kuda.”

“Karena kuda nggak berdosa.”

“Hm, salah. Kuda bisa zinah. Kamu pikir kuda ngapain malam-malam di padang?”

Rona meninju lengan Amor.

Rona menatap ke langit yang putih dan panas. Dalam hatinya mungkin, ada sepotong doa yang ia selipkan tanpa suara.

***

Ashar jatuh seperti kelopak bunga yang luruh. Ombak mulai malas bergulung. Matahari perlahan melelehkan emasnya pada laut yang lelah.

“Pernah bayangin nggak,” kata Amor, “Kalau Tuhan duduk di antara awan pas Ashar, sambil nonton kita dari jauh?”

“Dan Tuhan mikir, ‘Duh, dua orang ini kapan dewasa?”

“Tepat sekali.”

Rona duduk dengan kepala bersandar ke pundak Amor. Kali ini tidak ada lelucon. Hanya desir angin. Waktu menguap dari tubuh mereka, dan laut, tampak seperti kaca yang pecah. Rona bicara perlahan:

“Kalau ternyata ini semua cuma fase, Mas… kamu dan aku… laut dan tawa… cuma sebentar, kamu takut nggak?”

Lama. Amor diam. Menghela napas, menatap jauh ke ujung horison.

“Takut, Ron” katanya pelan.

Rona menunduk. Angin menyibak anak rambutnya yang lepas dari kerudung.

“Aku pernah jatuh cinta sebelumnya,” kata Rona. “Dan yang paling kutakutkan… bukan patahnya. Tapi betapa cepat aku bisa lupa.”

Amor mengangguk pelan.

“Kamu tahu, Ron,” bisiknya, “Kalau cinta kita ini memang akan hilang, hanya satu permintaanku.”

“Apa?”

“Biarkan aku yang mengingat paling akhir.”

***

Maghrib turun seperti air mengalir dari langit. Sunyi menggantung seperti tirai. Amor memejamkan mata. Rona memeluk lutut.

“Kamu tahu,” kata Amor perlahan, “kalau semua waktu salat itu punya simbol?”

“Simbol?”

“Isya itu berani. Subuh itu harap. Zuhur itu fokus. Ashar itu pulang. Maghrib itu… rindu.”

Rona menoleh. Di matanya, warna jingga menari. “Kamu rindu siapa?” katanya.

“Diriku sendiri,” kata Amor. “Yang nggak takut kehilangan kamu.”

Dan di tengah laut, dengan langit yang membelah antara siang dan malam, mereka saling diam dalam pelukan laut.  Di kapal ini, waktu tunduk pada percakapan. Waktu Zuhur bisa tiba lebih cepat bila Rona sedang serius. Waktu Maghrib bisa molor bila Amor menatap Rona terlalu lama. Dan Subuh—entah kenapa—selalu terasa seperti hari pertama mereka saling mengenal: hening, gugup, dan terlalu jujur untuk disembunyikan.

***

Pelabuhan Pato Tano sudah tampak di cakrawala. Sumbawa di ujung dermaga, siluet para kuda samar-samar di kejauhan.

“Lihat.” bisik Amor, “Mereka sudah menunggu kita.”

Rona tersenyum, indah sekali. “Jangan-jangan kuda-kuda itu yang bakal meneliti kita, siapa tahu, mereka lebih paham tentang cinta,” katanya.

Di geladak belakang, dua peneliti masih menggenggam satu sama lain, menunggu turunnya jangkar, sambil memikirkan kuda-kuda liar dan Tuhan yang barangkali sedang mengamati, tertawa kecil, lalu melanjutkan pekerjaan-Nya yang lain. [T]

Penulis: Kind Shella
Editor: Adnyana Ole

Sekali Pakai | Cerpen Yuditeha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

5 Puisi Yuditeha | Remah Roti di Lantai Kamar Mandi

Next Post

Boneka itu Bernama Elite yang Haus Kekuasaan

Kind Shella

Kind Shella

Seorang buruh yang kelewat batas mencintai keindahan. Aktivitas selain bekerja ialah belajar semesta redaksi di Penerbit Kobuku. Jika membutuhkan komunikasi, dengan senang hati kontak saja: Instagram: @kindshella

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Boneka itu Bernama Elite yang Haus Kekuasaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co