3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Boneka itu Bernama Elite yang Haus Kekuasaan

Chusmeru by Chusmeru
September 14, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

DUNIA politik Tanah Air sempat diramaikan dengan sebutan boneka partai terhadap beberapa elite dan tokoh politik. Bukan hanya itu, mantan Presiden Joko Widodo dan Presiden Prabowo Subianto juga sempat mendapat julukan boneka asing. Lantas apa sebenarnya makna sebutan boneka itu?

Boneka partai merujuk pada orang-orang yang menduduki jabatan politik maupun jabatan publik, seperti kepala daerah, menteri, anggota legislatif, maupun presiden yang masih dikendalikan oleh partai politik yang mengusungnya. Dominasi partai politik masih sangat kuat pada orang-orang tersebut. Dalam beberapa kasus, boneka partai membuat orang tidak memiliki independensi ketika menjabat. Kebijakan yang dibuat bukan atas aspirasi dan kepentingan rakyat, tetapi untuk partai politik.

Senada dengan boneka partai, presiden boneka asing ditujukan untuk menggambarkan seorang pemimpin negara yang dianggap sebagai alat bagi kekuatan asing. Setiap kebijakan yang dibuatnya mesti sesuai dengan kepentingan negara asing yang dimaksud. Kepentingan nasional bisa diabaikan jika tak sejalan dengan kemauan negara asing.

Implikasi dari boneka asing tentu saja berurusan dengan kedaulatan negara. Presiden boneka asing akan sangat tergantung pada negara asing, baik secara ekonomi, politik, maupun militer. Independensi seorang pemimpin sulit diperoleh, lantaran ia hanya bagian dari agenda besar negara lain yang punya kepentingan terhadap sumber daya manusia dan alam suatu negara.

Boneka partai maupun boneka asing sama-sama kurang menguntungkan bagi perkembangan demokrasi suatu negara. Persoalan serius yang semestinya bisa diputuskan oleh seorang pemimpin, baik di pusat maupun di daerah; harus tergantung pada kesepakatan elite partai maupun kekuatan negara asing.

Bisa dibayangkan, bila seorang bupati atau pun gubernur di suatu daerah akan mengambil kebijakan yang strategis harus menunggu restu dari elite maupun pimpinan partai yang mendukungnya. Rakyat sudah menjerit akibat hidup yang sulit, namun pemimpin belum mengambil kebijakan karena partai politik belum memberi arahan.

Presiden yang menjadi boneka asing akan mendahulukan kepentingan negara asing ketimbang kepentingan sendiri. Investasi asing akan disambut dengan begitu terbuka, sementara bangsa sendiri yang hendak berinvestasi terbentur oleh birokrasi pemerintahan yang begitu ruwet. Akan menjadi masalah yang gawat dan serius bila hal ini menyasar kebutuhan dasar rakyat. Ketika rakyat kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok, pemerintah yang menjadi boneka itu justru melakukan ekspor bahan pokok itu ke negara asing.

Komunikasi Publik yang Buruk

Tidak semua elite kekuasaan tunduk begitu saja disebut boneka partai atau boneka asing. Mahfud MD, misalnya. Ia tak ingin disebut sebagai boneka partai ketika maju sebagai calon wakil presiden. Mahfud MD mempersilakan masyarakat untuk melihat rekam jejaknya selama ini yang tak pernah melanggar prinsip, taat pada konstitusi.

Tentu tidak banyak orang seperti Mahfud MD. Banyak elite yang ketika berada di lingkaran kekuasaan kemudian menjadi boneka, entah boneka partai, boneka asing, atau boneka rezim. Itu semua dilakukan karena memang haus pada kekuasaan. Independensi harus digadaikan demi kekuasaan yang mengantarkannya pada kesejahteraan dirinya.

Lalu bagaimana dengan pemerintahan saat ini? Terlepas dari tudingan boneka partai, boneka asing, maupun boneka rezim, elite kekuasaan saat ini menunjukkan komunikasi publik yang buruk. Ketika elite melakukan komunikasi publik yang buruk, perilaku politik dan kebijakan yang diambilnya pun dapat berdampak buruk bagi rakyat.

Dalam perspektif komunikasi, buruknya komunikasi publik elite dapat disebabkan oleh faktor homopili dan heteropili dalam berkomunikasi. Homopili merujuk pada kecenderungan elite untuk berkomunikasi dengan orang lain yang memiliki karakteristik yang sama, baik dari latar belakang politik maupun kepentingan ekonomi.

Kecenderungan homopili dapat dilihat pada seringnya elite berkumpul di antara elite. Komunikasi hanya terjadi di pusaran mereka. Ketika rakyat berteriak harga-harga selalu melonjak, mereka seolah tak mendengar. Bisa dipastikan, ketika elite berkomunikasi hanya dengan sesama elite, maka yang diperjuangkan adalah kepentingan elite.

Sama halnya ketika tikus berkumpul dengan tikus, maka banyak makanan yang digerogoti. Saat koruptor berkumpul dengan koruptor, yang terjadi adalah korupsi berjamaah. Homopili menghambat inovasi dan demokrasi yang berkeadilan. Seolah semua yang dimiliki negara adalah milik mereka.

Sedangkan heteropili merupakan kencenderungan elite untuk berkomunikasi dengan orang lain yang memiliki karakteristik yang berbeda. Berbicara dan mendengar keluhan rakyat adalah komunikasi heteropili yang diperlukan elite. Ini penting untuk evaluasi dan inovasi kebijakan yang telah dibuat elite. Tidak mudah menjadi heteropili. Dibutuhkan empati elite pada semua derita rakyat. Sayangnya, ketika elite itu menjadi boneka, tumpul nurani. Yang ada hanyalah boneka yang haus kekuasaan.

Boneka partai, boneka asing, maupun boneka rezim tampak dari gaya komunikasinya. Mereka cenderung berbicara talk down kepada rakyat. Gaya bicara yang menyakitkan, merendahkan, dan menjadikan rakyat inferior. Tampak dari ucapan anggota DPR, menteri, maupun kepala daerah yang mendegradasi rakyat dengan pilihan diksi: ”rakyat tolol, belum pernah naik angkutan umum, silakan 50.000 massa demo saya tak akan mundur”. Diksi semacam itu adalah komunikasi talk down, merendahkan rakyat.

Semua Orang adalah Boneka

Setiap orang pada dasarnya adalah boneka. Begitu kira-kira yang ingin dikatakan Michael Kaye (1994) dalam Communication Management (lihat juga Kuswarno, 1996). Setiap orang bertanggung jawab untuk mengelola komunikasi dengan orang lain, karena pesan yang disampaikan akan dimaknai orang lain.

Tak terkecuali elite politik. Mengacu pada manajemen komunikasi Michael Kaye, pesan yang disampaikan seorang menteri atau anggota DPR akan dimaknai oleh rakyat, sehingga jantung komunikasi adalah adalah interpretasi rakyat terhadap pesan elite kekuasaan itu.

Interpretasi rakyat terhadap pesan mestinya bisa dipahami elite, karena akan menjadi pola dasar tindakannya terhadap rakyat. Inilah yang disebut pilihan strategis dalam berkomunikasi. Nyatanya, banyak elite politik yang gagal dalam dua hal: gagal menyampaikan pesan dan gagal memahami interpretasi pesan yang diberikan rakyat.

Model manajemen komunikasi yang digambarkan Michael Kaye adalah Boneka Matouschka Rusia (Russian Matouschka Dolls). Setiap orang berkomunikasi seperti Boneka Rusia. Manajemen komunikasi Boneka Rusia ini dapat dugunakan untuk melihat gaya komunikasi dan tindakan elite politik.  Menteri, anggota DPR, bupati, gubernur, bahkan presiden adalah boneka yang berkomunikasi. Boneka itu terdiri dari empat lapisan yang akan menentukan sejauh mana komunikasi mereka.

Lapisan pertama, boneka terkecil yang disebut diri (self). Pengelolaan diri dan kesadaran diri merupakan hal penting ketika elite politik hendak berkomunikasi dengan rakyat. Boneka ini bersifat intrapersonal. Artinya, ketika elite politik akan berkata maupun bertindak semestinya berpikir bagaimana pengaruhnya terhadap rakyat. Ucapan elite yang menyakitkan rakyat dapat bersumber dari kegagalan mengelola dan menyadari diri sendiri, lantaran haus dan hanyut dalam kekuasaan.

Lapisan kedua adalah boneka interpersonal, yang menggambarkan bagaimana elite politik berhubungan dengan rakyatnya. Manajemen komunikasi bisa menghasilkan hubungan buruk bila elite terlalu sibuk dalam urusan kekuasaan, membangun koalisi, berbagi jatah menteri; sementara jeritan rakyat tidak mendapatkan perhatian serius. Maka, rakyat memilih cara sendiri agar suaranya terdengar, melalui aksi massa maupun luapan kemarahan di media sosial.

Boneka yang berada di lapisan ketiga adalah masyarakat dalam sistem (people in system). Boneka ini menjelaskan bagaimana manusia atau organisasi mempengaruhi orang dalam berkomunikasi. Mestinya elite politik memahami keberadaannya di tengah rakyat. Bahwa ia adalah bagian dari rakyat. Namun pemhamannya menjadi keliru ketika ia lebih banyak berada di pusaran kekuasaan. Pada saat seperti ini, maka elite politik menjadi boneka bagi kekuasaan, bukan boneka yang berada di tengah rakyat.

Keempat, boneka yang merangkum ketiga boneka sebelumnya, yaitu boneka kompeten (competence dolls). Bukan sekadar merangkum, boneka keempat ini menunjukkan sejauh mana elite politik kompeten dalam berkomunikasi dan bertindak. Elite politik disebut kompeten bila mampu mengembangkan dan mengelola diri. Elite politik mampu memberikan makna bagi kehadirannya di tengah rakyat.

Entah apa yang dimaksud dengan ucapan Menteri Keuangan hasil reshuffle yang baru, Purbaya Yudhi Sadewa. Ia mengatakan belum mempelajari Tuntutan 17+8 yang disampaikan rakyat dan mahasiswa. Bahkan ia menyatakan, bahwa itu hanya suara sebagian kecil rakyat yang sebagian terganggu karena hidupnya masih kurang. Apakah ucapan menteri itu menunjukkan ia tak kompeten, atau ia hanya akan menjadi boneka baru yang haus kekuasaan? Entah boneka rezim, boneka Amerika, Rusia, atau China.

Terpenting, elite politik yang kompeten akan dapat memahami dan memiliki kecakapan untuk memberikan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini yang rupanya sulit dimiliki elite. Perubahan yang ditunggu-tunggu rakyat tak kunjung datang. Justru perubahan untuk kesejahteraan elite yang kemarin ramai dipertontonkan.

Elite politik yang gagal menjelaskan kepada rakyat mengapa sebuah kebijakan diambil adalah boneka yang gagal. Ringkas cerita, anggota DPR yang hanya bangga memamerkan lencana tanpa menunjukkan kinerja, dan menteri yang gemar memberi sanjung puji kepada presiden tanpa memberi empati pada derita rakyat adalah boneka yang haus pada kekuasaan. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
Kekerasan: Tatkala Aspirasi Berujung Tragedi
Tags: kekuasaankomunikasikomunikasi politikPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cinta Kuda Liar | Cerpen Kind Shella

Next Post

“Gelis Diksi” Dibedah dengan “Gelis”

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
“Gelis Diksi” Dibedah dengan “Gelis”

"Gelis Diksi" Dibedah dengan "Gelis"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co