23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gede Buda, Sosok di Balik Enam Medali Emas Muay Thai Buleleng di Porprov Bali 2025

Son Lomri by Son Lomri
September 12, 2025
in Persona
Gede Buda, Sosok di Balik Enam Medali Emas Muay Thai Buleleng di Porprov Bali 2025

Gede Buda, pelatih Tim Muay Thai Buleleng di Porprov Bali 2025 | Foto: tatkala.co/Son

TIM Muay Thai Buleleng angkut 6 medali emas, 7 perak, dan 2 medali perunggu pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali 2025.

Di balik perolehan yang gemilang itu, tentu, tidak lepas dari tangan sosok yang melatih, bagaimana ia melatih, juga bagaimana ia meyakinkan, memotivasi, para atlet supaya bermental juara. Itu semua adalah kunci—selain kegigihan para atlet tentu saja.

Sosok pelatih itu ialah Gede Sudarma, atau lebih dikenal Gede Buda. Buda adalah pelatih yang berhasil membawa Muay Thai Buleleng ke ladang juara.

Lelaki kelahiran Kalibukbuk, 19 April 1974 itu, memiliki beragam akar beladiri tradisional yang kental. Sehingga mampu menjadikan murid-muridnya sebagai atlet dengan rasa kepercayaan diri yang kuat.

“Saya tidak memandang siapa pun ketika belajar beladiri. Mau anak saya atau anak siapa pun, saya akan berikan yang terbaik sampai siap tampil. Saya gembleng mereka dengan kerja keras saat latihan, tanpa ampun. Haha,” kata Gede Buda.

Gede Buda, pelatih Tim Muay Thai Buleleng di Porprov Bali 2025 | Foto: tatkala.co/Son

Tapi itu masih belum seberapa, Gede Buda masih menakar kemampuan para atletnya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Berbeda dengan nasibnya dulu ketika dilatih oleh sang ayah.

“Saya belajar silat Cimande dari bapak, dari kecil, umur delapan tahun. Dan itu wajib hukumnya saya belajar silat, dipaksa bapak,” ujarnya.

Sebagai seorang pendekar, Gede Buda belajar silat pada ayahnya, Wayan Mustara, yang disebutnya sebagai maha guru.

Semua keluarganya pesilat. Gede Buda memiliki 13 saudara tiri dari 13 ibu tiri. Ia anak tunggal dari ibu kandungnya. Semua keluarganya adalah pendekar. Ayahnya memiliki 14 istri dengan 14 anak (termasuk dia di dalamnya).

“Bapak saya keras dalam mendidik saya di silat, dulu. Kami, semua anak-anaknya, dipaksa untuk belajar, hukumnya wajib. Kalau tidak, bapak bisa marah,” kisah Buda. “Bapak memang dikenal sebagai jawara silat Cimande, dulu. Keras,” sanbungnya.

Sewaktu kecil, di umur delapan tahun, Gede Buda belajar silat Cimande Tari Kolot Kebun Djeruk Hilir (KESTI TTKKDH), sebuah beladiri asli Jawa Barat, sekali lagi, pada sang ayah.

Semua jusrus dikuasai oleh Gede Buda, kemudian sang ayah mengajarinya silat Walet Putih yang dibuat ayahnya, juga dikuasai Gede Buda dengan baik.

Di antara sanak-keluarganya, Gede Buda menjadi generasi terakhir yang masih mendedikasikan hidupnya pada ranah kependekaran.  “Meneruskan warisan leluhur. Kalau tidak, saya kuwalat nanti,” kata Gede Buda.

Wayan Mustara, Maha Guru Silat Walet Putih atau guru Gede Buda | Foto: Istimewa

Tak hanya dua aliran silat itu yang ia kuasai dari sang ayah, dengan latihan yang keras tentunya, aliran silat Sitembak Tujuh Harian (silat Bali), Silat Depok, terus Silat Harimau Putih, juga diberikan sang ayah padanya. Kemudian dikuasainya juga.

Sekitar tahun 1998, Gede Buda kemudian membuka padepokan Walet Putih di rumahnya, di Kalibukbuk, Lovina, Buleleng, dengan nyambi menjadi atlet yang juga sering ikut lomba selain melatih orang lain untuk lomba.

Gede Buda pernah mendapatkan Juara 1 Piala Tetap IPSI Buleleng (2006), Juara Umum 3 Bupati Cup III Antar Perguruan Se-Kabupaten Buleleng (2010), dan Juara 2 Piala Bupati Cup III (2012).

Namun, melihat perkembangan kompetisi dunia persilatan telah banyak mengalami perubahan, Gede Buda akhirnya berdialog dengan keadaan, untuk mencoba aliran silat lain yang berasal dari luar, yaitu Muay Thai dan Wushu.

“Yang mengarahkan saya ke Muayhtai itu teman, Wayan Suwita dan Gede Betran sekitar tahun 2014,” kata Gede Buda.

Dua aliran beladiri itu juga dikuasainya dengan baik. Dengan begitu, padepokannya berubah nama menjadi Walet Fight Club sejak tahun 2015.

“Tapi sekarang lebih fokus untuk Muayhthai daripada Wushu. Tapi di Wushu juga beberapa kali murid saya sabet juara. Anak saya yang pertama, itu raih medali emas beberapa tahun lalu,” kata Gede Buda.

Sampai di situ, Gede Buda juga menjelaskan, melihat kemampuan para muridnya yang kurang mendapatkan tempat untuk bersaing secara kompetitif di silat tradisional, dialihkan pada Muay Thai—dengan silat lokal sebagai akarnya.

Gede Buda dan tim Muay Thai Buleleng di Porprov Bali 2025 | Foto: KONI Buleleng

“Sebenarnya, tidak terlalu jauh berbeda antara silat tradisional dengan Muay Thai itu. Tinggal kita memperdalam apa yang beda, dan silat tradisional juga masih kami gunakan sebagai dasar,” jelas Gede Buda.

Di arena perlombaan, pertandingan silat cenderung memiliki aturan yang lebih ketat. Berbeda dengan Muay Thai, beladiri asal Thailand itu, justru terkesan lebih terbuka, alias boleh memukul daerah apa saja kecuali kemaluan, mata, kepala bagian belakang, dan yang paling penting jangan menggigit area tubuh mana pun.

Seni beladiri Muay Thai juga kerap disebut sebagai seni beladiri delapan tungkai. Yang menggunakan delapan titik kontak tubuh untuk menyerang. Antara lain, kedua kaki (tulang kering), kedua siku, dan kedua tinju.

“Sehingga, di Muay Thai bisa lebih ngeri ketika di pertandingan,” kata Gede Buda.

Sampai di situ, ia juga menjelaskan apa yang biasa terjadi di pertarungan Muay Thai adalah luka berat. Mata bisa keluar oleh sabetan kaki, hidung bisa pecah, bahkan kepala bisa bocor oleh elbow atau dihantam dengan lutut.

Oleh karena itu, ia menekankan kepada setiap muridnya agar fokus pada ketahanan fisik supaya memiliki pertahanan bagus selain menyerang dalam persiapan Porprov Bali tahun ini.

“Satu hari, mereka disesuaikan kemampuannya untuk berlari 15 km,” Buda menjelaskan. “Latihan fisik lainnya seperti dipukul perut dengan tebu, mereka juga mesti menjaga pola makan dengan baik. Harus tahan dengan godaan makanan,” lanjutnya.

Apa yang dikatakan Gede Buda kepada atlet Muay Thai Buleleng ternyata betul. Kekuatan tubuh memang menjadi modal utama selain penguasaan teknik. Emas, perak, perunggu, adalah hasil gemblengannya selama empat bulan. Terima kasih Gede Buda. Terima kasih para atlet. Panjang umur. Merdeka.[T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

Tags: Gede BudaKONI BulelengMuay ThaiPekan Olahraga Provinsi (Porprov) BaliPorprov BaliPorprov Bali 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seruan Introspeksi Politik

Next Post

Refleksi Banjir, Hilmar Farid: Bali Harus Kembali ke Akar Melalui Humaniora

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Banjir, Hilmar Farid: Bali Harus Kembali ke Akar Melalui Humaniora

Refleksi Banjir, Hilmar Farid: Bali Harus Kembali ke Akar Melalui Humaniora

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co