23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Betutu, Sapuh Leger, Gamelan Selonding dan Kain Tenun Gringsing Menjadi Topik Seminar “Future of Intangible Cultural Heritage” di ISI Bali

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
September 8, 2025
in Khas
Betutu, Sapuh Leger, Gamelan Selonding dan Kain Tenun Gringsing Menjadi Topik Seminar “Future of Intangible Cultural Heritage” di ISI Bali

Seminar Future of Intangible Cultural Heritage di ISI Bali

MENIKMATI hidangan betutu, orang seringkali terpukau pada kelezatan rasanya saja. Enak, lalu ketagihan. Padahal hidangan yang biasanya menggunakan bahan dari ayam kampung itu sangat kaya akan sejarah dan budaya. Terlebih penggunaan bumbu base genep, merupakan ciri khas Bali memiliki simbol keseimbangan alam dan merupakan simbol penghormatan terhadap dewa-dewa Bali. Empat unsur utama rempah (jahe, isen/lengkuas, kencur, dan kunyit) melambangkan arah mata angin dan dewa-dewa yang menguasai setiap penjuru.

Filosofi hidangan betutu dengan base genepnya itulah diperkenalkan kepada para delegasi forum internasional Culture, Heritage, Art, Narratives, Diplomacy, and Innovation (CHANDI) 2025 di Gedung Citta Kelangen, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat 5 September 2025. Seminar bertajuk “Future of Intangible Cultural Heritage” itu mempertemukan akademisi dan pemangku kebudayaan yang membahas strategi pelestarian warisan budaya takbenda, mulai dari musik, tari, kuliner, hingga ritual, yang menjadi identitas penting bangsa.

Prof. Dr. A.A. Gde Bagus Udayana yang memaparkan tentang kuliner tradisional Bali, yakni hidangan Betutu itu. Konon hidangan itu disebut di dalam Lontar Dharma Caruban. Setiap bahan masakan Betutu memiliki keterkaitan dengan arah mata angin dan manifestasi dewa dalam konsep delapan penjuru, serta panca Pandawa dalam pewayangan. Dengan demikian, masakan Bali memadukan unsur rasa sekaligus nilai spiritual. Bahan bumbu jahe, isen/lengkuas, kencur, dan kunyit melambangkan Dewa Wisnu (utara), Dewa Brahma (selatan), Dewa Iswara (timur), dan Dewa Mahadewa (barat).

“Implementasi filosofi Dharma Caruban tampak jelas dalam Betutu. Jadi Betutu sering muncul dalam upacara adat, sesajian dan pesta khusus. Jadi fungsi budaya, keseimbangan rasa, bahasa genap dalam Betutu melambangkan keseimbangan, ini mencerminkan filosofi hidup masyarakat Bali yang menekankan keharmonisan atau Tri Hita Karana,” jelasnya.

Diskusi yang dimoderatori oleh Pengajar Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Bali, I Made Jodog ini juga menghadrikan narasumber Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI Bali, Prof. Dr I Komang Sudirga, memaparkan materi tentang Sapuh Leger, Ritual Ruwatan Jiwa. “Tujuan ruwatan adalah untuk membersihkan jiwa dari pengaruh jahat yang ada di dalam jiwa manusia. Salah satu ritual pembersihan jiwa yang ada di Bali adalah Wayang Sapuh Leger,” ujarnya.

Wayang Sapuh Leger berarti upacara adat untuk membersihkan jiwa dan ditujukan untuk melindungi anak-anak yang lahir pada Minggu Wayang. “Wayang Sapuh Leger adalah warisan budaya takbenda yang membutuhkan perlindungan,” ungkap Prof. Sudirga.

Sementara itu, Kandidat Profesor ISI Bali, Dr. I Gede Yudarta, dalam paparannya menyampaikan peran penting Gamelan Selonding sebagai sumber inspirasi estetika sekaligus peneguh identitas budaya bagi seniman muda Bali di era global. “Gamelan Selonding memiliki sejarah panjang lebih dari delapan abad. Sejak dahulu, gamelan Selonding dipandang sakral dalam upacara besar dan berfungsi sebagai medium penghubung manusia dengan dimensi transendental, sekaligus memperkuat identitas komunal masyarakat,” jelasnya.

“Transformasi selonding dalam bingkai revitalisasi memastikan gamelan selonding tetap menjadi bagian integral kehidupan budaya Bali, sekaligus simbol identitas budaya yang mampu berdialog dengan dunia,” ucap Yudarta.

Suasana diskusi ini semakin diperkaya dengan gagasan dari Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Beijing, Yudil Chatim. Yudil Chatim memaparkan pandangannya, masa depan warisan budaya takbenda tidak hanya ditentukan oleh tradisi itu sendiri, melainkan kemampuan masyarakat untuk memahami. Bagi Indonesia, warisan budaya adalah jembatan penting yang memperkuat diplomasi kebudayaan sekaligus mempererat hubungan baik antarbangsa.

Masa depan diplomasi budaya di Beijing ditunjukkan dalam Rumah Budaya Indonesia di
Tianjin. RBI dirancang sebagai pusat studi Indonesia di Tiongkok Utara dengan misi utama, yakni untuk mempromosikan bahasa, seni, dan warisan melalui kelas serta pertunjukan.

Yudil Chatim juga memperkenalkan konsep Academy, Business, Government, Community, and Media (ABGCM). “Konsep ini menempatkan universitas sebagai pusat akademik dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Indonesia sebagai wajah inovasi bisnis melalui e-commerce Tiongkok. Dengan lebih dari 25 universitas di Tiongkok yang telah membuka program studi Bahasa Indonesia, RBI memiliki potensi besar untuk direplikasi menjadi jaringan pusat budaya dan ekonomi yang kuat,” jelasnya.

Narasumber terakhir, Direktur Program Pascasarjana ISI Bali, Ni Nyoman Febriani, Ph.D memaparkan tentang kain tenun gringsing. Febriani menjelaskan kain gringsing berasal dari Desa Tenganan, Karangasem, merupakan satu-satunya kain di Indonesia yang dibuat dengan teknik tenun ikat ganda. Teknik langka ini di dunia hanya ditemukan di dua tempat lain, yakni Jepang dan India.

Nama Gringsing, lanjutnya berasal dari kata gring (sakit) dan sing (tidak), yang berarti “tidak sakit” atau perlindungan dari penyakit. Filosofi perlindungan ini melekat dalam proses pembuatan kain, yang diwariskan turun-temurun. Masyarakat Tenganan percaya keseimbangan unsur, pola benang lungsi dan pakan, pemilihan waktu, hingga tampilan warna, menjadi kunci agar kain Gringsing memiliki kekuatan sakral.

“Konsep perlindungan dalam proses pembuatan kain Gringsing sudah diwariskan secara turuntemurun di Desa Tenganan. Masyarakat Tenganan percaya bahwa perlindungan dapat tercapai apabila unsur-unsur yang mendukung proses pembuatan kain Gringsing seimbang dan selaras, yaitu pada pola benang lungsi dan benang pakan, pemilihan waktu, serta tampilan warna,” jelasnya.

Sebelum seminar di mulai, Rektor ISI Bali, Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana, S.Sn., M.Sn menyambut para peserta seminar dengan ramah. Melalui forum ini, para pembicara akan memperkaya pemahaman kita dan memperkuat upaya dalam melestarikan warisan budaya, mendorong inovasi seni, serta menempatkan budaya sebagai pilar penting pembangunan masa depan. “Semoga CHANDI 2025 dapat memberikan dampak berarti untuk kebudayaan Indonesia dan global,” ucapnya.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon memberikan sambutan dalam Seminar bertajuk “Future of Intangible Cultural Heritage” di ISI Bali | Foto: Ist

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon dalam sambutannya menekankan, warisan budaya takbenda bukan hanya peninggalan masa lalu, melainkan juga fondasi masa depan. Tradisi lisan, seni pertunjukan, ritual, pengetahuan tradisional, hingga kerajinan tangan, menurutnya, adalah identitas dan kearifan lokal yang telah terbukti mampu bertahan dan beradaptasi berabad-abad lamanya.

Namun, Menbud Fadli mengingatkan bahwa arus globalisasi, modernisasi, dan perubahan iklim menghadirkan tantangan serius terhadap keberlangsungan warisan budaya. “Oleh karena itu, seminar ini menjadi penting sebagai ruang kolaborasi untuk berbagi pengetahuan, memperkuat kerja sama lintas negara, serta merumuskan strategi pelestarian yang relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.

Hadir sebagai pembicara kunci, Section Chief and Programme Specialist for Culture at UNESCO Office Jakarta, Moe Chiba, menyampaikan gagasan mengenai warisan budaya ttak benda yang disebut rapuh. Tiga faktor utama untuk meraih kesuksesan dalam meneruskan warisan budaya adalah pengetahuan mendalam, keinginan generasi muda, serta dorongan publik untuk mendukung keberlanjutan. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: CHANDI 2025ISI BaliISI DenpasarMenteri Kebudayaan Fadli Zon
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kepanikan Elite Politik: Belajar dari Sandiwara Orson Welles

Next Post

Menjahit Luka, Membaca Sunyi : Refleksi Emi Suy Lewat Mata Riri Satria, Imam Ma’arif, dan Helvy Tiana Rosa

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Menjahit Luka, Membaca Sunyi : Refleksi Emi Suy Lewat Mata Riri Satria, Imam Ma’arif, dan Helvy Tiana Rosa

Menjahit Luka, Membaca Sunyi : Refleksi Emi Suy Lewat Mata Riri Satria, Imam Ma’arif, dan Helvy Tiana Rosa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co