26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kepanikan Elite Politik: Belajar dari Sandiwara Orson Welles

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
September 8, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

Kepanikan adalah separuh penyakit, Ketenangan adalah separuh obat,
dan kesabaran adalah langkah awal kesembuhan.
– Ibnu Sina.

PADA malam tanggal 30 Oktober 1938, ribuan orang Amerika panik karena siaran radio yang menggambarkan serangan mahluk Mars yang mengancam seluruh peradaban manusia. “Barangkali tidak pernah terjadi sebelumnya, begitu banyak orang dari berbagai lapisan dan di berbagai tempat di Amerika secara begitu mendadak dan begitu tegang tergoncangkan oleh apa yang terjadi waktu itu,” frasa tentang The Invasion of Mars (Schramm, 1977:579).

Sebuah pemancar radio menyiarkan sandiwara Orson Welles. Sandiwara ini begitu hidup sehingga orang menduga bahwa yang terjadi adalah laporan pandangan mata, bahwa mahluk Mars akan  mengancam seluruh peradaban manusia.

Peristiwa itu menarik berberapa orang peneliti sosial, suatu peristiwa langka telah terjadi. Peristiwa ini juga menarik karena menggambarkan keperkasaan media massa dalam mempengaruhi khalayaknya. Di Jerman, orang melihat bagaimana sebuah bangsa beradab diseret pada kegilaan massa yang mengerikan, mengikuti kata, kalimat, dan perintah “sang Fuhrer” Adolf Hitler ( https://suakaonline.com/sejarah-penelitian-efek-komunikasi-massa/).

Pada tanggal 30-31 Agustus 2025 terjadi “serangan” pada rumah-rumah politisi, elite politik kita, disiarkan oleh berbagai saluran komunikasi media sosial dan media massa. Serangan yang begitu tiba-tiba dari massa membuat panik semua elite saat itu. Kepanikan yang melanda elite politik saat ini nampak jelas gugup, “tiba-tiba demam panggung”, yang awalnya penuh percaya diri kalau di depan kamera (media), kini mereka sangat panik.

Khawatir salah bicara, salah memilih kata, diksi dan kalimatnya, ketika diminta komentar pada isu yang sedang hangat diperbincangkan publik. Setelah kejadian peristiwa ratusan massa menggeruduk rumah para politisi dan seorang menteri baru-baru ini.

Kepanikan yang melanda elite politik dirasakan juga oleh mereka yang tidak tertangkap kamera saat “flexing joget ria”, khawatir rekam jejak digital mereka diunggah publik ke media sosial.  “Mahkamah warganet” bertindak pada elite, langsung menghukum mereka tanpa pandang bulu, terjadi proses penghukuman yang dilakukan warganet lewat  “mahkamah dunia maya”.

Rekam jejak digital kaum elite mana pun selalu terekam, baik yang sedang maupun sudah purna tugas, Ketika jejak rekamnya dianggap pernah melakukan kekeliruan di masa lalu, atau 2-3 tahun ke belakang banyak bermunculan, seperti jejak rekam mantan Capres kemarin sering muncul di platform media sosial, atas keputusan atau kebijakannya yang dianggap keliru dan ada hubungan dengan isu saat ini, diangkat ke media dengan komentar-komentar publik yang tajam.

Seperti kejadian khalayak sandiwara Orson Welles 85 tahun lalu, saya juga tidak tahu seperti apa kejadiannya saat itu. Banyak buku komunikasi massa menggambarkan kepanikan khalayak oleh sebuah pesan media yang dikemas dengan berbagai bentuk sound effect, narasi pada masanya mampu menggemparkan seolah ini nyata, padahal fiksi. Seperti film 2012 yang menggambarakan akan terjadi kiamat dalam perhitungan usia bumi menurut suku Maya, yang dikemas oleh berbagai media dalam memasarkan film tersebut juga pernah terjadi keguncangan dan kepanikan khalayak, seolah-olah akan terjadi kiamat 2012.

 ***

Informasi dan berita yang “bombastis” perihal penyerangan warga pada rumah para elite di Jakarta dan sekitarnya ini membuat  elite terguncang jiwanya. Ada rasa panik para elite saat berhadapan dengan media dan massa. “Pelit” bicara, berbeda dengan sebelumnya, mereka akan langsung banyak bicara agar tampak cerdas dan berwibawa dengan gayanya masing-masing. Kini mereka seperti kerupuk di siram air, lembek.

Pemerintah dan pimpinan DPR juga langsung mengadakan pertemuan, yang kemudian   membatalkan beberapa keputusan yang sudah mereka putuskan terkait tunjangan anggota DPR. Geruduk massa, dengan merusak dan menjarah semua barang mewah para elite ini, sebetulnya bukan hanya kerugian pribadi para politisi ini, tetapi simbol dari runtuhnya kepercayaan masyarakat terhadap wakil rakyat. “Rakyat sudah capek”, begitu kira-kira kata rakyat. Rakyat merasa tidak didengar, hanya dijadikan alat politik, dan tukang dorong saat pemilu.

Peristiwa itu semakin dramatis karena disiarkan langsung melalui akun TikTok @cukupsatu_selamanya. Tayangan tersebut ditonton lebih dari 1,5 juta kali hanya dalam hitungan jam, menjadikannya bukan sekadar aksi jalanan, melainkan tontonan publik yang membetot atensi nasional. “Lagi nyerang rumah Syahroni di Tanjung Priok,” ujar pemilik akun, sambil menunjukkan warga berbondong-bondong membawa televisi dan perabot dari rumah tersebut ( https://katasulsel.com/2025/08/30/massa-geruduk-rumah-sahroni-aksi-politik-bergeser-ke-ranah-pribadi/).

Dengan terlibat dalam produksi pesan media, dan dengan mengembangkan jaringan komunikasi horisontal yang otonom, saat ini masyarakat menjadi mampu menciptakan sebuah program dengan bahan daripenderitaan, ketakutan, mimpi dan harapan mereka. Mereka menciptakan pesan, mengatasi ketidakberdayaan keputusasaan soliter dengan jaringan yang diinginkan. Mereka melawan kekuasaan yang ada dengan mengidentifikasi jaringan yang digunakan, seperti yang dilakukan akun TikTok-nya.

Belajar dari drama yang disajikan Orson Welles, masyarakat marah karena telah mencoba membodohi mereka. Banyak orang menggugat, yang lain bertanya-tanya apakah Welles sengaja menyebabkan kepanikan. Kekuatan radio telah menipu para pendengar. Mereka terbiasa mempercayai semua yang mereka dengar di radio, tanpa mempertanyakannya.

Drama geruduk rumah politisi adalah nyata, dirasakan langsung paniknya oleh elite, dengan menonaktifkan para senator yang dianggap biang kerok kemarahan publik pada lembaga legislatif yang terhormat. Semoga kita dapat menjaga lisan, dan tidak melakukan penghakiman sendiri, karena semua ada konsekuensi hukumnya. Jagalah persatuan dan kesatuan, tidak mudah diadu domba dan dihasut. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
“Taxman” dan Sindiran bagi Elite yang Berhidup Megah

Tags: Orson WellesPolitikpolitisisandiwara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rumah, Luka, Jalan Kembali – Tentang Psikologi Pulang

Next Post

Betutu, Sapuh Leger, Gamelan Selonding dan Kain Tenun Gringsing Menjadi Topik Seminar “Future of Intangible Cultural Heritage” di ISI Bali

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Betutu, Sapuh Leger, Gamelan Selonding dan Kain Tenun Gringsing Menjadi Topik Seminar “Future of Intangible Cultural Heritage” di ISI Bali

Betutu, Sapuh Leger, Gamelan Selonding dan Kain Tenun Gringsing Menjadi Topik Seminar "Future of Intangible Cultural Heritage" di ISI Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co